KHAIDIR MUHAJ BLOG'SITE
Tempat Asuhan Keperawatan dan Materi Kuliah Keperawatan

ASKEP INKONTENINSIA URINE

A. Pengertian
 Inkonteninsia urine merupakan eliminasi urinedari kandung kemih yang tidak terkendali atau terjadi diluar keinginan
 Ketidak mampuan menahan urine dalam kandung kemih setelah usia dari toelit training

B. Etiologi
Penyebab utama dari inkonteninsia urine diantaranya:
- infeksi
- cerebral clauding
- gangguan jalur dari syaraf pusat(lesi kortek)
- lesi neuron atas
- lesi motor neuron bawah
- kerusakan jaringan

C. Manifestasi klinis
 Perkemihan diluar keinginan/inkonteninsia sebelum atau selama usaha mencapai toilet
 Kontraksi kandung kemih yang tidak di hambat
 Tidak mempunyai kontrol yang tinggi untuk mengeluarkan urine
 Peningkatan tekanan intra abdomen berhubungan inkonteninsia urine
 Kelemahan otot pelvis
 Disertai ketidakmampuan fisik
 Nokturia lebih dari 2x selama tidur


E. Bentuk-bentuk inkontinensia
Ada 5 tipe inkonteninsia urine, yaitu:
 Inkonteninsia stres yaitu kehilangan urine yang tidak disadari kurang dari 50 ml akibat dari peningkatan mendadak pada tekanan intra abdomen.
dengan Faktor yang berhubungan dengan inkonteninsia jenis ini adalah relaksasi otot pelvis yang berhubungan usia lanjut, kegemukan, ketidakmampuan jalan keluar dari kandung kemih.

 Inkonteninsia reflek yaitu kehilangan urine yang tidak disadari bila volumetertentu telah dicapai, terjadi pada interval yang diperkirakan.
Faktor yang mempengaruhinya yaitu gangguan neurologi seperti pada lesi sumsum tulang belakang.

 Inkonteninsia didesak (overflow) yaitu kehilangan urine yang tidakdisadari terjadi segera setelah terjadi desakan harus segera berkemih.
Faktor yang berhubungan yaitu penurunan kapasitas visica urinaria, infeksi kandung kemih, peningkatan intake cairan, peningkatan konsentrasi urine, distensi berlebihan dari kandung kemih.

 Inkonteninsia fungsional yaitu kehilangan yang tidak disadari dan tidak dapat diperkirakan dari urine.
Faktor yang ada hubungannya dengan inkonteninsia jenis ini adalah sensori koknitif atau defisit mobilitas.

 Inkonteninsia total yaitu kehilangan urine yang terus menerus dan tidak dapat diperkirakan.
Faktor yang berhubungan yaitu disfungsi neurologik, kontraksi independendari otot destresor sebagai akibat bedah, trauma atau penyakit yang mempengaruhi saraf sumsum belakang, berbagai fistula.

F. Penanganan/perawatan secara umum
Penanganan inkonteninsia urine bergantung pada faktor penyebab yang mandasarinya. Tindakan keperawatan yang dilakukan dan efektif sering hanya berupa tindakan sederhana, seperti:
♫ Beri dukungan klien secara rutin untuk membuat suatu usaha perkemihan yang singkat setelah minum cairan. Usaha-usaha yang disadari salah satunya mengontrol atau memulai kencing mungkin cukup.
♫ Menciptakan lingkungan yang memudahkan klien untuk kekamar mandi.
♫ Bantu klien inkonteninsia pada orang tua untuk menuju kamar mandi atau menawarkan sebuah pispot di tempat tidur atau urinal setiap 2-3 jam. Latihan ini kadang membantu memulai mengakhiri beberapa inkonteninsia yang kesulitan dikontrol.
♫ Menganjurkan kepada klien untuk membiarkan lampu menyala dikamar tidur yang gelap.
♫ Menasehati klien agar memilih pakaian yang mudah ditanggalkan ketika ingin menggunakan kloset.
♫ Gunakan bantalan penyerap atau kain penahan air (softek) untuk klien wanita. Bantalan penyerap atau kain penahan air sekarang tersedia untuk klien inkonteninsia dan terbukti berefek bagi klien wanita
♫ Latihan perineum dapat menolong pada inkonteninsia stres ringan, latihan ini terdiri dari mengencangkan dan mengendurkan perineum dan otot glotimus dan dapat dilakukan dalam berbagai cara:

 Kencangkan otot perineum seperti mencegah berkemih ,tahan dalam hitungan 10 kemudian kendurkan.
 Tarik nafas sambil bibir dilipat bagaikan dompet pada waktu mengencangkan otot-otot perineum.
 Berjongkok seperti akan BAB, kendurkan dan kemudian kencangkan otot perineum
 Letakkan sebuah pensil diantara lipatan paha dan pantat.
 Duduk pada toilet dengan dengkul direntangkan kesamping , alirkan dan hentikan berkemih.
♫ Mendorong klien untuk meningkatkan asupan cairan untuk mencegah konstipasi dan pengerasan feces yang sering menjadi factor penyebab inkonteninsia urine pada seorang klien yang sedenterik.
♫ Mengajarkan individu untuk mengidentifikasi otot dinding pelvis dan kekuatannya dengan latihan (latihan kegel)
 Untuk dinding pelvis posterior, bayangkan anda mencoba untuk menghentikan jalannya feces dan perkuat otot anal tanpa menguatkan pangkal bawah atau otot abdominal anda.
 Untuk otot dinding pelvis anterior, bayangkan anda mencoba untuk menghentikan jalannya urine, perkuat otot (belakang dan depan) selama 4 detik dan lepaskan, ulangi 10-4 x sehari dalam satu jam jika diindikasikan.
 Intruksikan individu untuk menghentikan dan memulai aliran urine beberapa kali selama berkemih.


ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
INKONTENINSIA URINE

I. PENGKAJIAN
a. Identitas klien
- Nama
- Umur
- Jenis kelamin
- Agama
- Pendidikan
- Pekerjaan
- Status perkawinan
- Alamat
b. Riwayat kesehatan
- Riwayat kesehatan keluarga
Tanyakan apakah ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit serupa dengan klien dan apakah ada riwayat penyakit bawaan atau keturunan, penyakit ginjal bawaan/bukan bawaan.
- Riwayat kesehatan klien
Tanyakan pada klien apakah klien pernah mengalami penyakit serupa sebelumnya, riwayat urinasi dan catatan eliminasi klien, apakah pernah terjadi trauma/cedera genitourinarius, pembedahan ginjal, infeksi saluran kemih dan apakah dirawat dirumah sakit.
- Riwayat kesehatan sekarang
Meliputi gangguan yang berhubungan dengan gangguan yang dirasakan saat ini.
Berapakah frekuensi inkonteninsianya, apakah ada sesuatu yang mendahului inkonteninsia(stres, ketakutan, tertawa, gerakan), masukan cairan, usia/kondisi fisik,kekuatan dorongan/aliran jumlah cairan berkenaan dengan waktu miksi. Apakah ada penggunaan diuretik, terasa ingin berkemih sebelumterjadi inkontenin, apakah terjadi ketidakmampuan.
c. Pengkajian fisik
- Ginjal(palpasi adanya massa perut, pinggul, nyeri tekan sudut koostovertebral)
- Kandung kemih(palpasi adanya nyeri, distensi)
- Uretra(drainase)infeksi adanya pemasangan drainase urine.
- Vagina(inflamasu, kemerahan)
- Genetalia eksterna(kemerahan, luka, ulkus/lesi, inflamasi, nyeri)
- Skrotum/testis(pembesaran, nyeri tekan, massa)
- Prostat melalui rectum(ukuran, konsistensi, indurasi)
- Perubahan warna kulit dan turgor kulit yang jelek untuk kemungkinan terjadinya ketidakseimbangan cairan dan elektolit akibat dari inkontenin.

d. Data penunjang
- Urinalisis dan kultur urine
- Elektrolit urine, urea, nitrogen darah.
- Keratin serum dan keratin clearen ct
- Sistem uretrogam
- Tes urodinamik
- IVP
- Uretrogramretrogat
- Sistokopi
- Biopsy kandung kemih
- Tes betside(volume urine dan sisa sesudah urinasi)manuper stress untuk menentukan tipe inkonteninsia.

II. ANALISA DATA
1. DS:
- Klien mengatakan bahwa dia sering kencing dan tidak mampu menahannya tanpa disadari.
DO:
- Urine involunter kurang dari 50 ml
Etiologi : kelemahan otot pelvis dan struktur dasar penyokong
Masalah : inkonteninsia stress
2. DS:
i. Klien mengatakan bingung dan tidak bisa mengatasi gangguan itu.
DO:
- wajah klien tampak bingung dan tegang.
Etiologi : kurang informasi tentang penatalaksanaan inkonteninsia.
Masalah : kurang pengetahuan.
3. DS:
ii. Klien mengatakan malu dengan keadaanya.
DO:
iii. Klien mengatakan malu dengan keadaanya.
Etiologi : inkonteninsia
Masalah : gangguan citra tubuh.
4. DS:
iv. Klien mengatakan malas beribadah.
DO: -
Etiologi : keadaan yang memalukan(inkonteninsia) pada saat melakukan ritual keagamaan.
Masalah : gangguan spiritual.


DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Inkonteninsia stress berhubungan dengan kelemahan otot pelvis dan struktur dasar penyokongnya.
Tujuan :
 Klien akan bisa melaporkan suatu pengurangan / penghilangan inkonteninsia stress.
 Klien dapat menjelaskan penyebab inkonteninsia dan rasional penatalaksanaan.
Intervensi :
 Kaji kebiasaan pola berkemih dan dan gunakan catatan berkemih sehari, pertahankan catatan harian untuk mengkaji efektifitas program yang direncanakan.
 Obserpasi meatus perkemihan untuk memeriksa kebocoran saat kandung kemih penuh
 Intruksikan klien batuk dalam posisi litotomi, jika tidak ada kebocoran , ulangi dengan posisi klien membentuk sudut 45, lanjutkan dengan klien berdiri jika tidak ada kebocoranyang lebih dulu.
 Pantau masukan dan pengeluaran, pastikan klien mendapat masukan cairan 2000 ml, kecuali harus dibatasi.
 Anjurkan klien bahwa mengurangi masukan cairan bukan untuk menurunkan inkonteninsia.
 Ajarkan klien untuk mengidentifikasi otot dinding pelvis dan kekuatannya dengan latihan
 Kolaborasi dengan dokter dalam mengkaji efek medikasi dan tentukan kemungkinan perubahan obat, dosis / jadwal pemberian obat untuk menurunkan frekuensi inkonteninsia.

2. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang pelaksanaan inkonteninsia.
Tujuan :
 Klien dapat mengetahui tentang inkonteninsia urine dan penatalaksanaanya.
 Klien dapat menjelaskan pengertian, penyebab inkonteninsia.
Intervensi :
 Diskusikan perlunya masukan cairan 2000-2500 ml/hari, dan tingkatkan jika klien dapat mengontrol berkemih dengan baik.
 Berikan fakta tentang inkonteninsia dan banyaknya orang-orang yang mengalami.
 Beri dorongan untuk komonikasi lanjutan dengan anggota keluarga, kegunaan kelompok pendukung dan profesi kesehatan lainnya.
 Diskusikan kebutuhan untuk melakukan aktifitas sehari-hari dan perawatan diri selama mungkin.
 Ajarkan nama obat, dosis, efek samping, dan toksik obat dan perlunya makan obat sesuai jadwal.
 Tekankan kebutuhan pemeriksaan secara teratur dan kontrol sesuai tujuan.
 Diskusikan tentang tersedianya pembalut, pempers, popok yang menyerap/ celana dalam.
 Ajarkan tanda kerusakan kulit, tindakan pertama yang harus dilakukan dan tanda yang harus dilaporkan.

3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan inkonteninsia.
Tujuan :
 Mengimplimasikan pola pengamanan baru.
 Mengawali/ memantapkan kembali pendukung yang ada.
 Mendemontrasikan keinginan dan kemampuan untuk mengambil perawatan diri/tanggung jawab peran.
Intervensi :
 Berikan situasi suasana yang menerima dan mendukung klien.
 Tentukan bagaimana inkonteninsia mempengaruhi aktifitas sehari-hari dan kehidupan seksual klien.
 Anjurkan untuk mengekpresikan perasaan ansietas, takut, bingung, marah, dan tak berdaya.
 Dukung perasaan positif klien.
 Kembangkan perasaan menghargai diri sendiri dengan menekankan segi positif dalam kehidupan klien.
 Jangan berkomen saat membantu membersihkan klien setelah terjadi inkonteninsia.
 Anjurkan klien berkomunikasi dengan anggota keluarga yang lain dengan minta bantuan dari profesi lain untuk membantu masalah pasien dengan perubahan emosi.

4. Gangguan spiritual berhubungan dengan keadaan yang memalukan(inkonteninsia urine)pada saat melakukan ritual keagamaan yang ditandai klien mengatakan malas beribadah.
Tujuan :
 Melanjutkan latihan spiritual yang tidak mengganggu kesehatan.
 Mengekpresikan pengurangan perasaan bersalah dan asietas.
 Mengekpresikan kepuasaan dengan kondisi spiritual.


Intervensi :
 Komonikasi penerimaan berbagai keyakinan spiritual dan praktisnya.
 Nyatakan pentingnya kebutuhan spiritual.
 Berikan privasi dan ketenangan seperti yang dibutuhkan untuk orang yang berdoa setiap hari, untuk kunjungan spiritual dan membaca buku spiritual.
 Hubungi pemimpin spiritual untuk mengklarifikasi praktis spiritual dan melaksanakan pelayanan keagamaan / jika diinginkan.
 Anjurkan klien ritual keagamaan yang tak merusak kesehatan.
 Selalu bersedia dan berkeinginan untuk mendengarkan sewaktu klien mengekpresikan keraguan diri, rasa bersalah, atau perasaan negatif lainnya.
 Berikan kesempatan individu berdoa dengan orang lain atau dibacakan doa oleh anggota kelompok keagamaan /anggota tim perawatan kesehatan yang dapat leluasa dengan aktifitas ini.

DAFTAR PUSTAKA

v. Bahasa Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan keperawatan, bandung, 1996

vi. Long, Barbara C, Perawatan Medikal Bedah edisi III, alih Carpenito, Lynda jual, Diagnosa Keperawatan edisi b, jakarta Egc, 1998

vii. Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner, Sudourth

viii. Puspenkes Asuhan keperawatan Urogenital, jilid I, jakarta Depkes Ri, 1990
0 komentar:
[Make Your Own] by Khaidir Muhaj | [Close]

Selamat Datang !!

selamat berkunjung di blog saya yang sederhana ini, semoga yang teman cari ada disini, silahkan copy paste artikel dalam blog ini, dgn menyertakan atau tdk menyertakan sumbernya, dan jangan lupa sebagai tanda persahabatan & terimakasih isilah buku tamu.

My Family

My Family
Alumni SPK Kesdam VI/TPR Banjarmasin. Alumnus Politeknik kesehatan Banjarmasin program khusus PKM Rantau. Seorang PNS PemKab. Tapin, Unit Kerja Puskesmas Lokpaikat - Rantau - Kalsel .

Yang Sedang Berkunjung

Anda Pengunjung Yang Ke

TERIMA KASIH

Telah berkunjung, mohon maaf jika terdapat kekurangan dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dan tidak dapat memenuhi permintaan & pertanyaan teman teman, karena saya juga dalam proses pembelajaran dan terus akan belajar. dan seandainya artikel ini bermanfaat itu semata-mata hanya karena Allah SWT guna tercapainya keperawatan yang profesional. serta jangan lupa isi buku tamu, semoga sukses!

Pengikut