KHAIDIR MUHAJ BLOG'SITE
Tempat Asuhan Keperawatan dan Materi Kuliah Keperawatan

ASKEP ALDOSTERONISME

A. Pengertian
Aldosteronisme adalah keadaan klinis yang diakibatkan oleh produksi aldosteron “suatu hormon steroid mineralokortikoid korteks adrenal “ secara berlebih. Efek metabolik aldosteron berkaitan dengan keseimbangan elektrolit dan cairan. Aldosteron meningkatkan reabsorsi natrium tubulus proksimal ginjal dan menyebabkan ekskresi kalium dan ion hidrogen. Konsekuensi klinis kelebihan aldosteron adalah retensi natrium dan air.
 Aldosteronisme Primer yaitu keadaan klinis yang disebabkan oleh produksi aldosteron (hormon steroid mineralokortikoid korteks adrenal ) secara berlebihan sebagai akibat dari adenoma/tumor/hiperplasia pada kortek adrenal.
 Aldosteronisme Sekunder yaitu pengeluaran aldosteron oleh karena rangsangan dari sistem renin angiotensin

B. Etiologi
1. Aldosteronisme Primer
 Adenoma adrenal (sindroma conu)
 Hiperplasia adrenal
 Karsinoma adrenal
2. Aldosteronisme Skunder
 Hipertensi
- Esensiel
- “Accelerated”
 Terapi Diuretik
 Sindroma Nefrotik
 Sirosis
 Gagal Jantung Kongestif
 “Salt – Losing Nephropathy”
 Asidosis Tubular Ginjal
 Sindroma Bartter
 Hipersekresi Renin
 Tumor Ginjal
 Hipokalemi

C. Patofisiologi
Peningkatan aldosteron menyebabkan peningkatan reabsorbsi natrium, jumlah total natrium dalam tubuh dan hiperpolemia. Edema jarang ditemukan karena adanya mekanisme pengalihan, dimana terjadi reabsorbsi natrium pada tubulus proksimal terhalang dengan adanya sitem regulator ginjal.
Hipertensi arteri terjadi karena peningkatan volume cairan, kadar natrium pada arterior dan pembuluh darah serta reaktifitas simfatis penurunan kalium pada intra dan ekstra seluler terjadai karena peningkatan ekresi kalium pada tubulus ginjal. Hipokalemiaberakibat kelemahan otot, patique. Polinuktoria (karena peningkatan konsentrasi urin). Perubahan konduktifitas elektrik pada miokard dan penurunan toleeransi glukosa. Sekresi ion hiidrogen meningkat dengan adanya hiper aldosteronisme sehingga mengakibatkan alkalosis metabolik. Alkalosis berhubungan dengan derajat hipokalemia. Alkalosis ditunjukan dengan tanda chvostek dan trousseav (+), aktivitas renin plasma ditekan. Pemeriksaan lab akan menunjukan derajat penurunan renin setelah pasien berada pada kondisi hiperaldosteronisme. Peningkatan serentak dari sekresi aldosteron juga dapat terlihat pada pasien ini :

D. Tanda dan Gejala
 Hipertensi dengan tekanan diastolik antara 100-130 mmHg
 Hipokalemia
 Alkalosis Metabolik
 Nyeri Kepala, Edema
 Kelemahan Otot Berat
 Polinukturia, Haus
 Tampak bingung dan sering kesemutan

II. Asuhan Keperawatan dengan pasien/klien aldosteronisme
A. Keluhan Utama
Klien dengan aldosteronisme biasanya mengeluh badan terasa lemah, banyak minum, banyak kencing, sering kencing malam, sakit kepala.
B. Riwayat kesehatan
 Riwayat kesehatan sekarang
Tanyakan sejak kapan klien merasakan keluhan seperti yang ada pada keluhan utama dan tindakan yang dilakukan untuk menanggulanginya.

 Riwayat penyakit dahulu
Tanyakan tentang adanya riwayat penyakit atau pemakai obat-obatan bebas yang bisa mempengaruhi.


 Riwayat kesehatan keluarga
Tanyakan apakah ada keluarga yang pernah menderita penyakit yang sama (aldosteronisme)
C. Pengkajian
1. Observasi atau temuan
Neurologis
 Kelemahan otot
 Keletihan
 Parestesi
 Paravisis lengan dan tungkai
 Tanda chvestek (+)
 Tetani dan disfungsi autoimun

Kardiovasculer
 Hipertensi
 Hipotensi postural tanpa reflek tachicardi
 Peningkatan nadi ketika berjongkok
 Cardiomegali
 Penurunan konduksi melalui myocardium

Ginjal
 Poliuri
 Polidipsi
 Azotemia
2. Pemeriksaan diagnostik atau laboratorium
 Peningakata aldosteron plasma
 Aktivitas renin plasma ditekan atau tidak dapt dirangsang
 Gagal untuk menekan aldosteron dengan manuver biasa
 Hipernatremia (normal : 135 – 150 mEg/L)
 Hipokalemia (normal : 3,5 –5 mEg/L)
 Hiperpolemia
 Alkolosis metabolik
 Eksresi urine (24 jam) 18 – glukoronid
 EKG
♦ Segmen ST dan gelombang T tertekan, terlihat gelombang U
♦ Kontraksi ventrikel prematur
 Scan lodokolesterol
 Scan CT kelenjar adrenal untuk menentukan letak adenoma atau untuk membedakan hiperplasia dari adenoma
 Kateterisasi vena adrenal


D. Diagnosa keperawatan
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan hipernatremia sekunder terhadap hiperaldosteronisme.

Intervensi
♦ Timbang pasien tiap hari pada waktu yang sama, timbangan pakaian yang sama, laporkan bila terjadi penambahan berat badan > 0,5 kg / hari.
♦ Ukur intake dan output setiap 8 jam.
♦ Pertahankan diet rendah natrium.
♦ Pantau kadar natrium serum setiap 8 jam.
♦ Pantau tanda dan gejala kelebihan cairan, edema pulmoner (dipsnea, ortopnea, krekels pada lapang paru).
♦ Pantau hasil pemeriksaan sinar X dada.
♦ Pantau tanda vital setiap 4 jam, observasi peningkatan nadi, perkembangan gallop S3 dn pernapasan labored.
♦ Pantau efektivitas dan efek samping diuretic.

Rasional
 Untuk mengetahui adanya penambahan berat badan karena udema
 Mengetahui apakah masukan dan keluaran cairan seimbang
 Menghindari terjadinya hipernatremia
 Mengetahui keseimbangan kadar natrium di dalam tubuh
 Mengetahui apakah ada udema pulmoner
 Mengetahui apakah ada kelainan pada daerah dada
 Memastikan tanda vital stabil
 Mengetahui apakah ada efek tertentu dari diuretik
Evaluasi
Dalam waktu 2 x 24 jam kelebihan volume cairan teratasi dengan kriteria :
 Edema berkurang
 Intake dan output seimbang
 Tanda-tanda vital stabil
 Hasil penyinaran sinar X dada tidak ada kelainan.

2. Perubahan kenyamanan yang berhubungan dengan ekskresi urine berlebih dan polidipsia.

Intervensi
♦ Ukur intake dan output setiap 8 jam
♦ Anjurkan klien untuk miksi dalam 1 jam sekali
♦ Anjurkan klien untuk makan dengan pola seimbang
♦ Berikan susana senyaman mungkin pada klien pada saat miksi


Rasionalisasi
 Mengetahui apakah masukan dan keluaran cairan seimbang
 Memastikan pola nutrisi klien teratur untuk kenyamanan
 Menghindari terjadinya obesitas pada klien
 Memberi rasa nyaman pada klien

Evaluasi
Dalam waktu 2 x 24 jam perubahan kenyamana dapat teratasi dengan kriteria :
 Intake dan output seimbang
 Klien miksi dalam 1 jam sekali
 Klien dapat makan dengan pola seimbang
 Klien merasakan kenyamanan saat miksi

3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi mengenai proses penyakit, pengobatan dan perawatan diri.

Intervensi
♦ Jelaskan konsep dasar proses penyakit
♦ Jelaskan mengenai obat-obatan
♦ Jelaskan perlunya untuk menghindari obat-obatan yang dijual bebas
♦ Berikan pendidikan kesehatan yang berhubungan dengan proses penyakit.

Rasional
 Agar klien mengetahui proses dan penyebab terjadinya penyakit
 Agar klien mengetahui jenis obat yang boleh di konsumsi dan tidak untuk penyakitnya
 agar klien tidak menemukan masalah yang berhubungan dengan pemberian obat yang salah
 klien dapat memahami pentingnya penkes bagi kesembuhannya

Evaluasi
 Klien dapat mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit
 Klien mengetahui jenis obat-obatan yang baik untuk penyakit yang diderita

4. Resiko terhadap perubahan perfusi jaringan, kardiovaskuler berhubungan dengan disritmia karena hipokalemia.

Intervensi
♦ Pertahankan diet tinggi kalium
♦ Berikan kalium dan suplemen sesuai pesanan
♦ Pantau kadar kalium serum setiap 8 jam
♦ Pantau terhadap tanda dan gejala hipokalemia
♦ Antisipasi kebutuhan untuk memberikan bantuan saat melakukan aktivitas
♦ Bantu saat melakukan latihan rentang gerak setiap 8 jam sekali bila pasien menjalani tirah baring

Rasional
 Agar kadar kalium dalam tubuh normal
 Untuk menambah masuk kalium yang tidak di dapatkan
 Mengetahui kadar kalium normal
 Mengetahui adanya gejala hipokalemia
 Agar klien tidak mengalami kerusakan jaringan tubuh karenatirah baring yang lama.

Evaluasi
 Kadar kalium dalam tubuh normal
 Tidak ada tanda dan gejala hipokalemia
 Terpenuhinya diet tinggi kalium

5. Resiko terhadap cedera berhubungan dengan kelemahan otot, parestesi, disfungsi autonomik dan tetani.



Intervensi
♦ Kaji fungsi neuromuskular setiap 4 – 8 jam, laporkan perubahan yang menandakan potensial terjadinya tetani, peningkatan kelamahan / parastesi
♦ Bantu dan berikan dorongan untuk melakukan ambulasi bila pasien mampu
♦ Berikan bantuan untuk memberikan ambulasi
♦ Pertahankan tempat tidur dalam posisi rendah dan pagar tempat tidur tetap terpasang
♦ Singkirkan benda-benda dan objek lain yang secara potensial membahayakan diri lingkungan pasien

Rasional
 Agar mengetahui lebih awal terhadap terjadinya kelemahan otot
 Agar klien tidaak merasa lelah daaan bosan dalam posisi yang sama pada proses penyembuhan
 Untik menghindari terjadinya cedera atau trauma yang akan terjadi saat klien menjalani proses penyembuhan
 Menjaga agar terjadi hal-hal yang membahayakan bagi klien

Evaluasi
 Tidak terjadi cedera yang berhubungan dengan kelemahan otot
 Mobilitas terpenuhi
 Tidak terjadi intoleren aktivitas

6. Resiko terhadap katidak efektifan penata laksanaan program terapeutik berhubungn dengan ketidakcukupan pengetahuan tentang kondisi tindakan bedah dan efek terapi.

Intervensi
♦ Tekankan pentingnya latihan secara teratur dibarengi dengan waktu istirahat
♦ Ajarkan nama-nama obat-obatan, dosis, waktu dan cara pemberian
♦ Berikan informasi diet terapeutik rendah natrium, tinggi kalium.

Rasional
 Agar tidak terjadi kelemahan otot yang berakibat terbatas ruang geraknya
 Agar klien dapat memahami dosis, waktu dan cara pemberian obat.
Evaluasi
 Klien mengetahui pentingnya latihan secara teratur
 Klien mengetahui tentang diet terapeutik
 Klien dapat memahami dan mengerti jenis obat-obatan, dosis, waktu dan cara pemberian.

DAFTAR PUSTAKA

C.Long, Barbara . 1996 . Perawatan Medikal Bedah . Bandung : I APK
Pajajaran Bandung.
Carpenito, Lynda Juall . 2001 . Diagnosa Keperawatan Edisi 8 . Jakarta : EGC
C. Pearce, Evelyn . 2002 . Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis .
Jakarta : Gramedia.
Effendi, Dr. Harjim . 1981 . Fisiologi Sistem Hormonal dan Reproduksi dengan Patofisiologinya . Bandung : Alumni.
S Teverson, John c . dan Pripal Chahal . 1993 . Segi Praktis Endokrinologi . Jakarta : Bina Rupa Aksara.
Price, Sylvia A . dan Lorrane M. Wilson . 1995 . Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit . Jakarta : EGC.
0 komentar:
[Make Your Own] by Khaidir Muhaj | [Close]

Selamat Datang !!

selamat berkunjung di blog saya yang sederhana ini, semoga yang teman cari ada disini, silahkan copy paste artikel dalam blog ini, dgn menyertakan atau tdk menyertakan sumbernya, dan jangan lupa sebagai tanda persahabatan & terimakasih isilah buku tamu.

My Family

My Family
Alumni SPK Kesdam VI/TPR Banjarmasin. Alumnus Politeknik kesehatan Banjarmasin program khusus PKM Rantau. Seorang PNS PemKab. Tapin, Unit Kerja Puskesmas Lokpaikat - Rantau - Kalsel .

Yang Sedang Berkunjung

Anda Pengunjung Yang Ke

TERIMA KASIH

Telah berkunjung, mohon maaf jika terdapat kekurangan dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dan tidak dapat memenuhi permintaan & pertanyaan teman teman, karena saya juga dalam proses pembelajaran dan terus akan belajar. dan seandainya artikel ini bermanfaat itu semata-mata hanya karena Allah SWT guna tercapainya keperawatan yang profesional. serta jangan lupa isi buku tamu, semoga sukses!

Pengikut