KHAIDIR MUHAJ BLOG'SITE
Tempat Asuhan Keperawatan dan Materi Kuliah Keperawatan

ASKEP EPILEPSY

1. Pengertian
Epilepsy adalah merupakan sindrom yang ditandai oleh kejang yang terjadi berulang-ulang. Diagnosa ditegakkan paling tidak dua kali kejang tanpa penyebab (Jastremski, 1988).
Bangkitan epilepsi adalah manifestasi gangguan otak dengan berbagai gejala klinis, disebabkan oleh lepasnya muatan listrik dari neuron-neuron otak secara berlebihan dan berkala tetapi reversibel dengan berbagai etiologi.
Ada dua klasifikasi kejang: umum dan parsial (atau juga disebut fokal) masing-masing ditandai oleh jenis kejang yang berbeda.

Kejang Umum
Kejang grand mal ditandai oleh empat fase:
1. Fase aura, seseorang mengalami berbagai sensasi sebelum kejadian kejang klonik. Sensasi ini merupakan tanda akan datangnya kejang. Sensasi mungkin merupakan penciuman, pusing, cahaya, rasa tertentu, baal atau getaran pada tangan.
2. Fase tonik, ditandai oleh hilangnya kesadaran, jeritan (suara bernada tinggi disebabkan lewatnya udara melalui laring yang menutup disertai kontraksi maksimal otot-otot dan perut), tubuh kaku karena kontraksi yang tiba-tiba dari seluruh otot volunter (tangan fleksi, kaki ekstensi dan gigi rapat).
3. Fase klonik, ditandai oleh gerakan-gerakan kejang agitasi seluruh tubuh karena pergantian relaksasi dan kontraksi yang cepat dari seluruh otot volunter. Pernafasan terhenti dan terjadi sianosis. Mungkin disertai mulut berbusa karena banyaknya saliva yang mungkin berwarna merah bila terjadi perdarahan karena tergigitnya lidah.
4. Fase pemulihan atau postiktal, ditandai oleh berhentinya gerakan – gerakan kejang. Individu tidak sadar. Kesadaran dan semua gerakan volunter perlahan kembali. Kebingungan, agitasi dan peka rangsang mungkin muncul. Individu akan merasa lelah. Mungkin mengalami inkontinensia urine. Individu juga lupa akan kejang yang dialaminya.
Kejang petit-mal (juga disebut takada kejang) ditandai hilangnya kesadaran singkat yang terjadi tiba-tiba tanpa disertai hilangnya tonus otot. Selama serangan, mungkin muncul lip smacking, pandangan kosong dan lurus ke depan, atau kelopak mata berkedip secara ritmis.

Kejang Parsia atau fokal
Kejang fokal sederhana ditandai dengan kejang pada bagian tubuh tertentu yang merupakan tempat di mana konduksi neural abnormal terjadi guncangan pada satu sisi wajah meluas kepada otot-otot tubuh pada sisi yang sama. Gejala somatosensori bisa terjadi misalnya kesemutan, rasa logam, halusinasi visual; gejala otonom juga dapat terjadi seperti mual, berkeringat, individu tidak mengalami kehilangan kesadaran.
Kejang fokal kompleks ditandai oleh adanya kehilangan kesadaran, disertai tingkah laku kacau seperti lip smacking, menarik-narik pakaian, atau menunjukkan jari. Kemudian kacau mental dan peka rangsang terjadi kemudian. Kejang parsial dapat berkembang menjadi kejang umum. Dengan kejang pertama, seseorang dirawat dan mengalami pemeriksaan diagnostik lengkap untuk menentukan penyebab kejang.

2. Patogenesis
sampai saat ini patofisiologi epileptik diketahui dengan jelas. Ada hipotesis yang menduga bahwa suatu epileptogenesis dapat terjadi karena adanya sekelompok neuron yang secara intriksik mempunyai kelainan pada membrannya, ini bisa didapat atau diturunkan. Neuron abnormal tersebut akan menunjukkan depolarisasi berkelanjutan dan sangat besar, kemudian melalui hubungan yang efisien akan mengimbas depolarisasi pada sebagian besar neuron-neuron karena suatu cedera, hipotesis iskemia atau genesis akibat gangguan mutasi, maka kumpulan neuron abnormal yang di imbasnya melepaskan potensial aksinya, sehingga terjadilah sawan.

3. Etiologi
Etiologi epilepsi dapat dibagi atas 2 kelompok:
a. Epilepsi idiopatik yang penyebabnya tidak diketahui meliputi  505 dari penderita epilepsi anak, awitan biasanya pada usia lebih dari 3 tahun. Dengan perkembangan ilmu dan ditemukannya alat-alat diagnostik yang canggih, kelompok ini makin kecil.
b. Epilepsi simtomatik yang penyebabnya sangat bervariasi, tergantung pada usia awitan.
Secara umum penyebab utama dari kejang ini dapat dibagi menjadi enam kelompok besar, yaitu:
Obat-obatan; racun, alkohol, obat yang diminum berlebihan (tapak lajak) baik yang diresepkan maupun obat yang dibeli sendiri. Obat terjadi terbesar sebagai penyebab kejang.
Ketidakseimbangan kimia; hiperkalemia, hipoglikemia, dan asidosis.
Demam; paling sering terjadi pada usia anak-anak (balita)
Patologis otak; sebagai akibat dari cedera kepala, trauma, infeksi, peningkatan tekanan intra kranial
Eklamsia; hipertensi pranatal/toksemia saat kehamilan.
Idiopatik; penyebabnya tidak diketahui.

4. Gejala-Gejala Klinik
Flasid, simetris paralisis asending dengan cepat berkembang. Otot pernapasan dapat saja terkena; mengakibatkan insufisiensi pernafasan.
Gangguan otonomi seperti retensi urin dan hipotensi postural kadang terjadi. Reflek-reflek superfisial dan tendon dalam dapat hilang. Biasanya tidak terjadi kehilangan massa otot karena paralisis flasid terjadi dengan cepat. Ada pasien yang mengalami nyeri tekan dan nyeri pada tekanan dalam atau gerakkan beberapa otot.
Gejala-gejala parestesia termasuk semutan “jarum dan peniti” dan kebas dapat terjadi secara sementara. Jika saraf kranial terkena, maka saraf fasial (VII) lebih sering terkena. Tanda dan gejala disfungsi saraf facial termasuk ketidakmampuan untuk tersenyum, bersiul, dan cemberut. Guillain-Barre tidak mengenai LOC (tingkat kesadaran), tanda-tanda pupil, atau fungsi serebral.
Gejala biasanya memuncak dalam satu minggu, tetapi dapat berkembang selama beberapa minggu. Tingkat paralisis dapat saja terhenti setiap saat. Fungsi motorik kembali dalam gaya desending. Demielinisasi terjadi dengan cepat, tetapi kecepatan remielinisasi hanya sekitar satu sampai dua jam per hari.

5. Pemeriksaan laboratorium/ diagnostik
• EEG
• Scan CT atau MRI (magnetic resonance imaging)
• Pemeriksaan metabolisme menggambarkan kondisi keadaan patologis
Kadar antikonvulsan serum (bila digunakan) diperiksa untuk menentukan adekuat-tidaknya terapi obat.

6. Penatalaksanaan / Therapy
a. Antikonvulsan
- Untuk kejang umum: karbamazepin (tegretol), fenitoin (dilantin), fenobarbital.
- Untuk kejang fokal : atosuksimid (zarontin) atau valproik aid (depakene)
b. Bedah saraf (reseksi lobus temporal atau mengangkat jaringan otak yang merupakan asal kejang) untuk orang-orang yang tidak puas dengan terapi obat.

7. Pengkajian
Observasi/ temuan
• Riwayat adanya faktor-faktor penyebab :
- Idiopatik-tidak ada penyebab yang dapat diidentifikasi.
- Pasca trauma-cedera kepala, lesi otak yang menyebabkan desak ruang (tumor, aneurisma, hematoma), inflamasi selaput otak, demam tinggi, dan gangguan metabolik.
• Dapatkan riwayat kejang. Pasien mungkin tidak dapat memberikan informasi tentang perilakunya selama atau setelah kejang kecuali ada saksi yang memberitahu pasien. Bila mungkin, bicaralah dengan orang yang menyaksikan. Tanya pasien hal-hal berikut:
- Berkaitan dengan kejang:
• Pernahkah anda mengalami kejang? Jika Ya apa yang terjadi selama kejang dan berapa lama berakhir?
• Apakah anda mengalami aura (sensasi atau tingkah laku yang tidak biasa) sebelum kejang?
• Apakah yang terjadi setelah kejang?
• Seberapa seringkah anda mengalami kejang?
• Adakah sesuatu yang khusus yang menyebabkan kejang?
• Kapan kejang terakhir yang anda alami?
• Apakah setelah kejang berakhir, anda menyadari kalau baru saja mengalami kejang?
• Apakah anda juga rasakan setelah kejang?
- Berkaitan dengan obat-obatan:
• Obat apakah yang anda gunakan untuk mengontrol aktivitas kejang?
• Kapan obat terakhir digunakan untuk mengontrol aktivitas kejang?
• Apakah anda juga menggunakan obat-obatan yang lain?
• Gali informasi tentang perubahan gaya hidup yang mungkin mencetuskan kejang / serangan.
• Kaji pemahamannya tentang kondisi, pengobatan dan kemandirian-nya setelah pulang.
• Kaji perasaan tentang kondisinya dan dampaknya terhadap gaya hidup.

8. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko tinggi terhadap cedera
Berhubungan dengan faktor; aktivitas kejang
Batasan karakteristik; laporan jatuh pada saat kejang terjadi, memar, aktivitas jejak keras saat kejang.
Kriteria evaluasi; tidak memar, tidak jatuh
Intervensi
1. Pantau:
- Hasil darah menunjukkan terapi antikonvulsan
- Status neurologis setiap 8 jam.
2. Lakukan kewaspadaan yang tepat bila terjadi kejang.
- Kaji fungsi saluran pernafasan. Gunakan ambu-bag bila perlu sebagai ventilasi. Masukan alat untuk pernafasan mulut hanya bila serangan dengan status epileptikus reda sejenak. Lakukan penghisapan bila perlu.
- Pasang infus untuk sarana pengobatan, berikan antikonvulsan sesuai program.
3. Segera beritahu dokter bila kejang melebihi 10 menit dan individu tak sadar.
4. Apabila kejang berakhir:
- Catat lamanya kejang, uraikan pergerakan tubuh selama kejang, dan perilaku pasien setelah kejang.
- Ukur tanda vital.
- Berikan kesempatan pada pasien untuk istirahat, khususnya setelah kejang umum.
- Tanyakan pasien bila ada perasaan yang tidak biasa yang dialami beberapa saat sebelum kejang.
- Beri tahu pasien tentang kejadian kejang.
5. Bila pasien dirawat di rumah sakit dengan kejang yang tidak terkontrol;
- Pasang penghalang tempat tidur.
- Tempelkan tulisan pada tempat tidur “kewaspadaan kejang “.
- Pastikan alat penghisap lendir siap dipergunakan bila pasien mengalami serangan grand-mal.
- Pastikan bahwa infus terpasang atau heparin-lok terpasang.
- Siapkan spatel lidah atau mayo di samping tempat tidur.
6. Bila pasien dirawat dengan serangan kejang berikan pada kardex atau status, pastikan pasien mendapatkan program pengobatan untuk mengontrol kejang bila individu sudah berobat sebelum dirawat.
7. Berikan antikonvulsan sesuai program. Beritahu dokter bila aktivitas kejang masih tetap atau memburuk.

2. Resiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan di rumah.
Berhubungan dengan faktor: kurangnya pengetahuan tentang kondisi dan rencana penanganannya, tidak efektifnya koping terhadap kondisi kroniknya.
Batasan karakteristik: ungkapan kurangnya pemahaman, keluhan, tidak mampu mengatasi masalah-masalah pada saat yang lalu, mengungkapkan kesulitan koping terhadap kondisi kronisnya.
Hasil yang diharapkan: mengungkapkan pemahaman terhadap kondisinya, pengobatan, tindakan pencegahan; mengungkapkan kepuasannya dengan rencana terapi; mengungkapkan rencana yang realistis.

Intervensi
1. Berikan informasi tentang:
• Mekanisme patologi yang mengakibatkan aktivitas kejang.
• Tujuan dari program penanganan.
• Program pengobatan termasuk Nama, dosis, jadwal, tujuan dan kemungkinan, efek samping.
• Pemeriksaan diagnostik termasuk:
- Uraian singkat.
- Tujuan pemeriksaan.
- Persiapan sebelum pemeriksaan.
- Perawatan sebelum pemeriksaan.
2. Ajarkan pada pasien untuk perawatan mandiri terhadap kejang.
• Pada saat akan terjadi serangan cari tempat yang man dan berbaring.
• Gunakan obat sesuai program.
• Pakai gelang dan kalung Waspada Medis.
• Hindari konsumsi alkohol, sementara sedang dalam pengobatan antikonvulsan.
• Pekerjaan tetap dilakukan apabila keamanannya terjamin. Hindari pekerjaan-pekerjaan yang berada di tempat ketinggian atau air.
• Taati peraturan mengemudi di banyak daerah mengharuskan seseorang bebas dari serangan kejang paling tidak dalam dua tahun terakhir untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi.
3. Ajarkan kepada anggota keluarga apa yang harus dilakukan bila terjadi kejang. Jelaskan bahwa perlu untuk mencari bantuan darurat setiap serangan karena polanya selalu sama. Anjurkan untuk menghubungi dokter bila kejang menjadi lebih kuat dan sering.
4. Berikan kesempatan pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya tentang perawatan kejang. Koreksi bila ada kekeliruan konsep


Daftar Pustaka

Doengoes, Marilynn E. Et al. 1999, Rencana Asuhan Keperawatan. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta
Engram, Barbara.1998, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Volume 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta
Hudak & Gallo, 1996, Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik Vol 2 EdisiVI, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta
0 komentar:
[Make Your Own] by Khaidir Muhaj | [Close]

Selamat Datang !!

selamat berkunjung di blog saya yang sederhana ini, semoga yang teman cari ada disini, silahkan copy paste artikel dalam blog ini, dgn menyertakan atau tdk menyertakan sumbernya, dan jangan lupa sebagai tanda persahabatan & terimakasih isilah buku tamu.

My Family

My Family
Alumni SPK Kesdam VI/TPR Banjarmasin. Alumnus Politeknik kesehatan Banjarmasin program khusus PKM Rantau. Seorang PNS PemKab. Tapin, Unit Kerja Puskesmas Lokpaikat - Rantau - Kalsel .

Yang Sedang Berkunjung

Anda Pengunjung Yang Ke

TERIMA KASIH

Telah berkunjung, mohon maaf jika terdapat kekurangan dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dan tidak dapat memenuhi permintaan & pertanyaan teman teman, karena saya juga dalam proses pembelajaran dan terus akan belajar. dan seandainya artikel ini bermanfaat itu semata-mata hanya karena Allah SWT guna tercapainya keperawatan yang profesional. serta jangan lupa isi buku tamu, semoga sukses!

Pengikut