KHAIDIR MUHAJ BLOG'SITE
Tempat Asuhan Keperawatan dan Materi Kuliah Keperawatan

PEMERINTAH DIMINTA PRODUKSI VAKSIN MENINGITIS

10:06
Majelis Ulama Indonesia (MUI ) mendorong pemerintah untuk dapat membuat vaksin Maningitis sendiri. Hal ini dilakukan agar musim haji tahun depan jemaah haji Indonesia tidak lagi menggunakan vaksin yang bercampur enzim babi.

"Kita sudah mendorong pemerintah," ujar Ketua Majelis Fatwa MUI KH Ma'ruf Amin saat berbincang dengan okezone melalui telepon, Jumat (24/7/2009).

Mengenai masih digunakannya vaksin maningitis yang jelas-jelas mengandung unsur babi bagi jamaah haji tahun ini, Ma'ruf mengaku menyerahkan semuanya kepada yang maha kuasa.

"Soal diterima atau tidak itu urusan allah, karena enzim babi memang haram," imbuhnya.

Sebelumnya, MUI memperbolehkan vaksin meningitis digunakan oleh jamaah haji dan umrah dengan catatan mereka adalah jamaah haji wajib, yang baru pertama kali melakukan haji. Bagi yang tidak, terpaksa harus menunda perjalanan hajinya.(ded)

K. Yudha Wirakusuma - Okezone
Read On 1 komentar

TIPS CARA MEMPERBESAR PENIS

09:54
Artikel ini saya ambil dari postingan blogdokter dan mungkin bermanfaat...

Sering kita baca di majalah atau koran iklan yang katanya mampu untuk memperbesar alat kelamin pria. Dengan tanpa operasi mereka bisa membuat burung anda beberapa kali lipat lebih besar dari sebelumnya. Maestro di bidang ini pun bermunculan, salah satu yang paling terkenal adalah alm. Mak Erot.

Memang di kalangan pria ada anggapan bahwa mereka belum menjadi seorang pria bila burungnya kecil. Kejantanan seorang pria diukur salah satunya dari panjang dan besarnya penis. Para laki laki juga menganggap bahwa perempuan tidak menyukai laki laki yang burungnya kecil. Oleh karena itu mereka berusaha untuk melakukan segala upaya agar alat kejantannya besar dan panjang.

Sayangnya tidak sedikit yang kemudian menyesal akibat kesalahan memilih metode memperbesar penis. Bukannya tambah berkicau, sang burung malah ogah untuk bangun. Yang lebih parah lagi, burungnya tidak hanya ogah berdiri tetapi harus diamputasi akibat dari kerusakan yang susah diperbaiki.

Berikut beberapa tips yang bisa anda pegang sebelum memutuskan untuk memperbesar burung anda :

Pilihlah metode yang tidak menganggu kehidupan seksual anda. Anda bisa saja mendapatkan burung yang besar sekali tapi tidak akan ada gunanya bila pasangan anda ketakutan melihat burung itu dan kehidupan seksual anda menjadi terganggu. Tanamkan dalam diri anda bahwa upaya anda memperbesar alat kelamin memang bertujuan untuk melakukan hubungan seksual dan bukan untuk sekedar dipamerkan.

Hati hati terhadap penipuan yang marak terjadi belakangan ini. Pilihlah metode yang hasilnya sesuai dengan duit yang anda keluarkan. Tidak ada salahnya anda mendengarkan testimoni teman teman anda terkait dengan metode yang mau anda pilih. Ingat bahwa metode pembesaran penis memerlukan biaya yang besar sehingga anda harus bijak menentukannya.

Pilihlah metode yang lebih banyak melatih otot otot penis bila dibandingkan dengan metode instan dengan memasang alat pada penis atau dengan obat obatan. Ingat membesarkan penis butuh waktu dan hal ini sangat menuntut kesabaran anda.

Bergabunglah dengan forum forum yang memiliki interes yang sama dengan anda sehingga anda bisa membaca testimoni atau pengalaman dari mereka yang sudah mencoba beberapa metode.

Terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah jagalah kesehatan penis anda dengan cara menjaga kebersihannya sehingga walaupun nantinya anda gagal melakukan pembesaran penis tetapi anda masih memiliki penis yang sehat.

sumber :klik disini
Read On 0 komentar

Tips Mengatasi Susah Tidur

10:34
Insomnia dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang mana seseorang mengalami kesulitan untuk tidur atau tidak dapat tidur dengan nyenyak. Rata rata setiap orang pernah mengalami insomnia sekali dalam hidupnya. Bahkan ada yang lebih ekstrim menyebutkan 30 – 50% populasi mengalami insomnia.

Insomnia dapat menyerang semua golongan usia. Meskipun demikian, angka kejadian insomnia akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Hal ini mungkin disebabkan oleh stress yang sering menghinggapi orang yang berusia lebih tua. Disamping itu, perempuan dikatakan lebih sering menderita insomnia bila dibandingkan laki laki.

Berikut beberapa tips yang bisa anda lakukan untuk mengurangi serangan insomnia.

1.
Berolah raga teratur. Beberapa penelitian menyebutkan berolah raga yang teratur dapat membantu orang yang mengalami masalah dengan tidur. Olah raga sebaiknya dilakukan pada pagi hari dan bukan beberapa menit menjelang tidur. Dengan berolah raga, kesehatan anda menjadi lebih optimal sehingga tubuh dapat melawan stress yang muncul dengan lebih baik.
2.
Hindari makan dan minum terlalu banyak menjelang tidur. Makanan yang terlalu banyak akan menyebabkan perut menjadi tidak nyaman, sementara minum yang terlalu banyak akan menyebabkan anda sering ke belakang untuk buang air kecil. Sudah tentu kedua keadaan ini akan menganggu kenyenyakan tidur anda.
3.
Tidurlah dalam lingkungan yang nyaman. Saat tidur, matikan lampu, matikan hal hal yang menimbulan suara, pastikan anda nyaman dengan suhu ruangan tidur anda. Jauhkan jam meja dari pandangan anda karena benda itu dapat membuat anda cemas karena belum dapat terlelap sementara jarum jam kian larut.
4.
Kurangi mengkonsumsi minuman yang bersifat stimulan atau yang membuat anda terjaga seperti teh, kopi. alkohol dan rokok. Minuman ini akan menyebabkan anda terjaga yang tentu saja tidak anda perlukan bila anda ingin tidur.
5.
Makananlah makanan ringan yang mengandung sedikit karbohidrat menjelang tidur, bila tersedia, tambahkan dengan segelas susu hangat.
6.
Mandilah dengan air hangat 30 menit atau sejam sebelum tidur. Mandi air hangat akan menyebabkan efek sedasi atau merangsang tidur. Selain itu, mandi air hangat juga mengurangi ketengangan tubuh.
7.
Hentikan menonton TV, membaca buku, setidaknya sejam sebelum tidur.
8.
Gunakanlah tempat tidur anda khusus untuk tidur. Hal ini akan membantu tubuh anda menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tidur. Saat anda berbaring di tempat tidur, maka akan timbul rangsangan untuk tidur.
9.
Lakukan aktivitas relaksasi secara rutin. Mendengarkan musik, melatih pernafasan, meditasi dan lain lain akan membantu memperlambat proses yang terjadi dalam tubuh sehingga tubuh anda menjadi lebih santai. Keadaan ini akan mempemudah anda untuk tidur.
10.
Jernihkan pikiran anda. Enyahkan segala kekhawatiran yang menghinggapi pikiran anda. Salah satu cara untuk ini adalah menuliskan semua pikiran anda lewat media blog.
11.
Tidur dan bangunlah dalam periode waktu yang teratur setiap hari. Waktu tidur yang kacau akan mengacaukan waktu tidur anda selanjutnya.

Demikianlah tips mengurangi masalah tidur anda. Selalulah ingat bahwa tidur merupakan kebutuhan pokok tubuh untuk pertumbuhan dan memperbaiki fungsi organ yang terganggu. Insomnia bukan merupakan penyakit bawaan dan dengan demikian tentu akan mudah disembuhkan.

Jika dengan langkah diatas anda masih merasa gagal mengatasi masalah tidur, segeralah berkonsultasi ke dokter untuk mencari jalan keluar.

Sumber:
http://www.blogdokter.net/2008/07/23/tips-mengatasi-susah-tidur-insomnia/
Read On 1 komentar

2 CARA SADAP TELEPON SELULER

10:30

Penyadapan terhadap telepon seluler merupakan salah satu penemuan penting. Meningkatnya jumlah pelanggan ponsel di banding pengguna telepon kabel biasa membuat teknologi ini berguna bagi penegak hukum untuk mengusut berbagai kejahatan.

Namun di sisi lain, teknologi ini juga menjadi ancaman pelanggaran hak pribadi para pelanggan selular. Lalu, bagaimana sebenarnya cara kerja sebuah penyadap telepon selular?
Ada dua macam teknologi penyadapan ponsel. Yang pertama adalah penyadapan menggunakan alat tertentu, dan yang kedua adalah penyadapan menggunakan software tertentu.

Penyadapan menggunakan alat biasanya memanfaatkan teknologi bernama interceptor. Sebuah interceptor bekerja dengan cara menangkap dan memproses sinyal yang terdeteksi oleh sebuah ponsel.

Ia juga dilengkapi dengan Radio Frequency triangulation locator yang berfungsi untuk menangkap sinyal secara akurat. Ia juga dilengkapi dengan sebuah software Digital Signal Processing yang membuat pemrosesan algoritma bisa berjalan cepat dan mudah.

Sehingga, pengguna alat ini dapat menangkap sinyal dan trafik selular dan mengincar spesifikasi target tertentu. Jadi, alat ini bisa menyadap berbagai pembicaraan di ponsel-ponsel yang sinyalnya masih tertangkap di dalam jangkauannya.

Cara penyadapan lain bisa dilakukan melalui sebuah software mata-mata (spyware). Seperti halnya sebuah program jahat semacam trojan dan malware, spyware mampu melacak aktivitas ponsel dan mengirimkan informasi tersebut kepada pihak ketiga, dalam hal ini adalah si penyadap.

Oleh karenanya, aplikasi spyware menyebabkan baterai dan pulsa ponsel bakal cepat terkuras. Program ini dapat menonaktifkan program tertentu di dalam ponsel, bahkan menghapus informasi yang tersimpan dalam ponsel tanpa sepengetahuan pemilik ponsel.

PDA dan ponsel pintar merupakan sasaran empuk penyadapan, karena ia memiliki kemampuan untuk menerima informasi penting seperti e-mail informasi dari internet, pesan instan dan lain-lain. Apalagi, informasi-informasi penting seperti akun bank biasanya disimpan disini.

Tak hanya itu, konektivitas PDA dan ponsel pintar juga menyebabkannya lebih terbuka dari serangan trojan atau spyware. Oleh karenanya, perlakukanlah ponsel cerdas Anda seperti komputer. Pastikan ia memiliki antivirus. Jangan membuka pesan atau file yang dikirim oleh orang yang tak dikenal. (vivanews)
Read On 0 komentar

FLU BABI

10:23

Flu babi (swine flu) merupakan penyakit saluran pernafasan yang disebabkan oleh virus influenza. Penyakit ini sebenarnya jamak menyerang ternak babi, namun kini telah mengalami perubahan yang drastis dan mampu untuk menginfeksi manusia. Gejala yang timbul pada manusia pun mirip dengan apa yang terjadi pada babi.

Flu babi pertama kali diisolasi dari seekor babi yang terinfeksi pada tahun 1930 di Amerika Serikat. Pada perkembangannya, penyakit ini dapat berpindah ke manusia terutama menyerang mereka yang kontak dekat dengan babi. Lama tidak terdengar lagi kabarnya ternyata virus ini mengalami serangkaian mutasi sehingga muncul varian baru yang pertama kali menyerang manusia di Meksiko pada awal tahun 2009. Varian baru ini dikenal dengan nama virus H1N1 yang merupakan singkatan dari dua antigen utama virus yaitu hemagglutinin tipe 1 dan neuraminidase tipe 1.

Apa saja gejala flu babi?

Gejala utama flu babi mirip dengan gejala influenza pada umumnya seperti : demam, batuk, pilek, letih dan sakit kepala. Beberapa pasien dapat mengalami mual, muntah dan diare.

Penyakit ini dapat jatuh ke arah yang lebih buruk sehingga pasien mengalami kesulitan untuk bernafas dan memerlukan alat bantu nafas (ventilator). Bila ada bakteri yang ikut ikutan menginfeksi paru paru maka pasien dapat mengalami radang paru paru atau pneumonia. Beberapa diantaranya dapat mengalami gejala kejang kejang. Kematian umumnya terjadi karena adanya infeksi sekunder bakteri pada paru paru sehingga diperlukan antibiotika yang pas untuk mengatasi infeksi tersebut.

Bagaimana mendiagnosa flu babi?

Diagnosa flu babi ditegakan berdasarkan gejala klinis pasien dan riwayat kontak dengan mereka meraka yang memiliki gejala seperti diatas. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan lendir atau dahak yang berasal dari tenggorokan pasien. Pemeriksaan ini gunanya untuk membedakan apakah virus yang menginfeksi penderita tersebut termasuk virus tipe A atau B. Bila ternyata hasilnya adalah virus tipe B maka dapat dipastikan bahwa pasien tersebut bukan terinfeksi flu babi. Namun bila ternyata hasilnya adalah virus tipe A maka ada kemungkinan penderita tersebut menderita flu babi atau terinfeksi virus H1N1. Sampel ini selanjutnya dikirim ke laboratorium yang lebih lengkap untuk memastikan adanya antigen virus flu babi sehingga diagnosa flu babi dapat ditegakan dengan pasti.

Seberapa lama masa penularan virus flu babi?

Orang yang menderita flu babi A (H1N1) menurut para ahli akan tetap menularkan penyakitnya sampai hari ketujuh. Jika sampai hari ketujuh ternyata penyakitnya belum membaik maka dianggap orang tersebut masih dapat menularkan penyakitnya sampai gejala flu benar benar hilang. Anak anak khususnya balita memiliki potensi waktu penularan yang lebih panjang.

Periode penularan penyakit flu babi masih terggantung lagi pada jenis atau strain dari virus H1N1. Jika pasien di rawat di rumah maka dianjurkan untuk tidak keluar rumah dahulu sampai penyakit yang diderita benar benar sembuh kecuali yang bersangkutan segera ke dokter atau ke rumah sakit.

Bagaimana mengobati flu babi?

Meskipun telah lama ditemukan vaksin untuk mencegah penularan virus influenza, namun vaksin untuk virus flu babi (H1N1) sampai saat ini belum ada. Saat ini beberapa laboratorium pemerintah yang dibiayai oleh WHO sedang mengembangkan penelitian untuk menemukan vaksin virus flu babi.

Dua obat anti virus yang dipercaya mampu mencegah bertambah parahnya flu babi adalah zanamivir (Relenza) dan oseltamivir (Tamiflu). Penggunaan obat ini tidak boleh sembarangan karena ditakutkan akan terjadi resistensi virus terhadap kedua obat tersebut. Obat ini juga tidak direkomendasikan untuk gejala flu yang telah muncul lebih dari 48 jam. Pada keadaan yang berat, pasien mungkin membutuhkan penanganan intensif lebih lanjut di rumah sakit.

Bagaimana cara mencegah penularan flu babi?

Cara paling ampuh untuk mencegah penularan virus flu babi pada prinsipnya sama dengan cara mencegah penularan virus influenza yang lain yaitu vaksinasi. Sayangnya vaksin untuk flu babi sampai saat ini belum ditemukan.

Cara lain untuk mencegah penularan virus ini adalah dengan meminimalisir kontak dengan virus seperti mencuci tangan sesering mungkin, jangan menyentuh wajah anda terutama hidung dan mulut serta menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang menderita flu.

Pencegahan penularan juga bisa dilakukan oleh mereka yang telah terinfeksi dengan cara : menghindari keramaian dan selalu tinggal di rumah. Jangan bekerja dan bersekolah dahulu sampai keadaan membaik. Hindari bersin, batuk dan berbicara terlalu dekat dengan orang lain.

Sumber:
http://www.blogdokter.net/2009/06/27/flu-babi-swine-flu/
Read On 0 komentar

Facebook Jadi Sarana Hacker Menyebarkan Virus

09:59

Sebagai situs jejaring sosial paling populer di jagad maya, maka tidak mengherankan kalau Facebook menjadi sasaran empuk peretas.

Salah satunya adalah Lisa Severens, manajer salah satu perusahaan. Dia mengungkapkan kalau laptopnya langsung mati karena virus yang dikirimkan melalui pesan yang berisi foto porno di akun Facebooknya. Padahal dia mengira selama ini Facebook, sebagai tempat yang aman.

Keluhan yang dirasakan Lisa tentunya juga dirasakan 200 juta lebih pengguna Facebook yang merasa akunnya diintai oleh sejumlah penjahat di dunia maya. Melihat itu, juru bicara Facebook mengakui kalau kemungkinan tersebut tetap ada. Akan tetapi, mereka tetap terus mempebaiki sistem keamanannya.
“Membuat sistem keamanan di internet seperti perlombaan senjata. Facebook akan terus memperbaiki sistem keamanannya, agar pengguna tetap merasa aman,” tukas juru bicara Facebook Simon Axten.

Di Amerika Serikat sendiri, kejahatan dunia maya atau cyber crime telah membuat kerugian cukup parah. Akibat cyber crime, mereka harus kehilangan miliaran dolar pertahun. Biasanya, kejahatan dilakukan melalui aksi penipuan, hingga penyusupan virus. (TheGlobalAndMail/okezone)
Read On 0 komentar

UPAYA KESEHATAN REMAJA DI PUSKESMAS

09:27
A. Tujuan

1. Umum
Meningkatnya kemampuan hidup remaja guna membina kesehatan diri dan lingkungannya dalam rangka meningkatkan ketahanan diri, prestasi dan peran aktifnya dalam pembangunan nasional.

2. Khusus.
a. Meningkatnya kemampuan anak untuk menolong dirinya sendiri melalui :
1. Penajaman kepekaan terhadap masalah kesehatan pada dirinya, keluargamya dan lingkungannya.
2. Peningkatan kemampuan berpikir yang berorientasi kepada pemecahan masalah kesehatan yang dihadapi.
3. Peningkatan kemampuan untuk mengendalikan diri, sehingga mampu mengatur dirinya untuk berperilaku hidup sehat.

b. Meningkatkan kemampuan anggota keluarga, khususnya ibu, dalam melaksanakan pengasuhan yang mendorong terbentuknya perilaku hidup sehat dari remaja keluarga tersebut.

B. sasaran
Sasaran pembinaan anak remaja dibagi menjadi :
1. Sasaran langsung.
a. Remaja.
b. Orang tua dari anak remaja.
2. Sasaran penunjang
a. Unsur diluar lingkungan keluarga yang mempunyai nilai strategik dalam upaya pembinaan anak remaja, diantaranya guru, kader pembangunan bidang kesehatan, pemuka masyarakat dan tokoh agama, pembina organisasi pemuda.
b. Kelompok khusus dimasyarakat yang tergabung didalam Lembaga Swadaya Masyarakat.

C. Kebijakan Operasional

Pembinaan kesehatan remaja didasarkan atas kebijaksanaan operasional berikut ini :
1. pembinaan diselenggarakan dengan paket program yang disesuaikan dengan kebutuhan tahapan proses tumbuh kembangnya.
2. Pembinaan peran serta ibu dan unsur potensial diluar lingkungan keluarga melalui Komunikasi Informasi dan Motivasi ( KIM ) maupun pendekatan edukatif dalam rangka kelola dan alih tehnologi.
3. Untuk mencapai sasaran upaya pembinaan kesehatan remaja dikembangkan empat daerah tangkapan ( Catchment areas) :
a. Dirumah.
b. Disekolah atau institusi pendidikan formal dan diinstitusi pendidikan non formal.
c. Dimasyarakat, melalui kelompok khusus seperti paguyuban sepuluh keluarga, organisasi wanita, organisasi pemuda, serta bentuk lain lembaga swadaya masyarakat.
d. Disasaran pelayanan kesehatan profesional.
4. Mutu penyelenggaraan upaya pembinaan kesehatan remaja secara bertahap dikembangkan melalui pembinaan dan pengembangan teknologitepat guna.

D. Strategi.

Strategi yang dilakukan dalam pembinaan kesehatan remaja adalah sebagai berikut :
1. meningkatkan kemampuan setiap Puskesmas dalam pembinaan ketrampilan kesehatan remaja dengan menggunakan berbagai jalur, baik keluarga, sekolah maupun masyarakat serta organisasi remaja seperti OSIS, Karang Taruna, Pramuka, Palang Merah Remaja dan lain sebagainya.
2. Menyelenggarakan pertolongan dan pengayoman bagi remaja terhadap gangguan kesehatan spesifik antara lain gangguan kesehatan fisik, gangguan kesehatan reproduksi, gangguan kesehatan mental dan penyalahgunaan obat/ zat adiktif
3. Meningkatkan peran serta aktif remaja untuk memecahkan masalah kesehatan diri dan lingkungannya.
4. Melaksanakan fungsi rujukan dalam menanggulangi masalah kesehatan remaja mulai dari tingkat keluarga, kelompok perpuluhan ( masyarakat ), kader, puskesmas, Rumah sakit.

Sesuai strategi yang ditentukan tersebut, langkah dalam pembinaan kesehatan remaja adalah :
1. Mengupayakan dukungan politis baik pemerintah maupun dari instansi terkait dengan pembinaan kesehatan remaja mulai dari tingkat Kecamatan sampai ke pedesaan.
2. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan remaja bagi para pengelola program, petugas pelayanan, masyarakat umum dan remaja pada khususnya.
3. Menciptakan standarisasi pelayanan kesehatan remaja mulai dari tingkat Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dasar yang ditunjang Rumah sakit sebagai tempat rujukannya.
4. Menjalin kerjasama yang erat dengan berbagai disiplin ilmu didalam upaya meningkatkan pelayanan kesehatan remaja.
5. Meningkatkan peran serta generasi muda, keluarga dan masyarakat dalam berbagai kegiatan yang menunjang upaya pembinaan kesehatan remaja.

E. Kegiatan.

1. Dukungan Politis.
Dukungan politis ini diperlukan agar supaya pembinaan kesehatan remaja dapat dilaksanakan secara berkesinambungan mulai dari tingkat pusat sampai kedaerah serta terkordinasi dengan baik antara berbagai instansi pemerintah atau swasta yang melaksanakan pembinaan remaja.
Perlu pula diterbitkannya peraturan-peraturan yang diperlukan yang menunjang pelaksanaan kegiatan berbagai disiplin yang didukung oleh semua pihak seperti halnya upaya pemerintah yang dituangkan dalam Surat KeputusanMenteri dalam Negeri No. 27 tahun 1983 yang ditujukan kepada para pejabat Pemerintah di daerah yang menganjurkan agar perkawinan dapat dilaksanakan pada usia sedikitnya 20 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria.

2. Dalam rangka meningkatkan pengetahuan ketrampilan dilaksanakan kegiatan :
a. Komunikasi, Informasi dan Edukasi ( KIE)
Kegiatan ini diarahkan kepada para petugas kesehatan maupun masyakarakat umum termasuk para remaja dan bertujuan untuk memberikan informasi yang benar tentang masalah kesehatan remaja dari berbagai aspek, baik medis maupun non medis yang terkait dengan kesehatan.

Aspek medis meliputi penyuluhan tentang :
- Penyakit / gangguan kesehatan fisik secara umum dan khusus seperti masalah kesehatan reproduksi, penyakit karena hubungan seksual, akibat penggunaan obat/zat adiktif.
- Masalah kesegaran/kebugaran jasmani beserta faktor-faktor yang mempengaruhi.
- Masalah kesehatan jiwa remaja serta faktor-faktor yang mungkin timbul akibat perkembangan jiwa remaja.

Aspek non medis meliputi penyuluhan tentang :
- Masalah psikososial seperti masalah penyalahgunaan seks, kenakalan/perkelahian antar remaja.
- Masalah agama sebagai salah satu upaya pencegahan terjadinya kelainan kesehatan remaja dan mengembangkan minat, bakat serta kreativitas remaja/ generasi muda dalam bidang agama.

Informasi ataupun penyuluhan ini dapat diberikan baik secara perorangan maupun kelompok/organisasi dengan memanfaatkan semua media komunikasi yang ada antara lain media cetak, media elektonika, penunjukan tradisional dan lain sebagainya.

b. Pendidikan dan latihan.

Kegiatan ini dilaksanakan secara berkesinambungan agar tenaga profesional semakin terampil dan dapat meningkatkan mutu pelayanan, kegiatan ini ditujukan pula pada masyarakat, keluarga dan kepada remaja itu sendiri agar mereka dapat mencegah masalah kesehatan dan lingkungan secara mandiri.

3. Pelayanan kesehatan.
Pelayanan kesehatan bagi remaja dapat dilaksanakan dalam beberapa jenis antara lain :
- Konseling ramaja.
- Pelayanan kesehatan yang meliputi upaya pencegahan, penyembuhan, pemulihan dan rehabilitasi.
- Rujukan yang berjenjang.

Pelayanan konseling bagi remaja diperl;ukan karena remaja dapat diberi kesempatan untuk mengungkapkan masalah secara terbuka yang akan mengarah pada tindakan pengobatan yang tepat. Dalam kegiatan ini diperlukan persyaratan yang tertentu antara lain ;

- Petugas dapat dipercaya oleh remaja menganai kerahasian.
- Petugas cukup berwibawa.
- Adanya suatu “ privacy”

Pelayanan kesehatan bagi remaja dapat dilaksanakan dipuskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dasar yang mencakup upaya peningkatan pencegahan, pengobatan dan pemulihan yang dilaksanakan secara terpadu dan ditunjang dengan pelayanan di Rumah Sakit sebagai tempat rujukan. Jenis pelayanan kesehatan yang diberikan bagi remaja merupakan suatu standar pelayanan kesehatan dasar disetiap Puskesmas.

Pelayanan di Rumah sakit meliputi pelayanan penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara terpadu dengan upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. Pelayan tersebut dilaksanakan dengan melakukan pendekatan secara holistik dan juga mencakup keluarga dan masyarakat sehingga dapat dicapai taraf kesehatan remaja yang optimal.

4. Kerja Sama Lintas Sektoral.

Telah diketahui bahwa pembinaan kesehatan remaja ini telah banyak diselenggarakan oleh berbagai instansi sesuai dengan bidang masing-masing. Kemajuan upaya pembinaan kesehatan remaja dipengaruhi pula oleh kemajuan upaya pembinaan yang dilaksanakan sektor lain. Oleh karena itu yang menyelenggarakan pembinaan kesehatan remaja merupakan hal mutlak diperlukan dan harus diatur dengan sebaik-baiknya . Kegiatan ini dapat dicapai dengan berbagai cara antara lain menyelengarakan pertemuan berkala antara semua sektor baik dilingkungan kesehatan yang mempunyai program pembinaan remaja dengan tujuan agar dapat terjadi suatu kerjasama yang terpadu dan dapat mencapai hasil yang optimal.

5. Peran Serta Masyarakat

Peran serta masyarakat memainkan peranan penting untuk keberhasilan pelbagai upaya pembangunan kesehatan. Salahsatu tuijuan pembangunan kesehatan telah ditegaskan dalam sistem kesehatan nasional yaitu untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat setiap penduduk.

Peran serta masyarakat termasuk swasta mempunyai peranan dalam penyelenggaraan upaya kesehatan yang dapat dicerminkan dalam beberapa bentuk :
- Ikut seta dalam penelaahan masalah.
- Ikut serta dalam menyusun perencanaan pelaksanaan.
- Turut serta menjalankan perilaku hidup sehat.

Berdasarkan hal ini peran pemerintah dimasa yang akan datang menjadi berkurang dalam hal pelayanan kesehatan. Apabila masyarakat khususnya dalam kegiatan pembinaan kesehatan remaja telah mempunyai bekal pengetahuan yang minimal mengenai permasalahan, penanggulangan masalah kesehatan remaja, diharapkan bahwa nantinya akan terbentuk kelompok masyarakat yang akan menangani sendiri masalah kesehatan remaja sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat.

6. Penelitian dan Pengembangan

Penelitian dalam pelaksanaan program pembinaan kesehatan remaja perlu dilaksanakan dalam rangka penyesuaian program dengan perkembangan situasi remaja yang sangat dinamis.

Hasil evaluasi penelitian dapat dijadikan dasar untuk pengembangan kegiatan selanjutnya, peningkatan mutu pelayanan termasuk sistem rujukan sehingga dapat memberikan hasil yang optimal.

F. Indikator Keberhasilan.

Untuk mengetahui sampai berapa jauh keberhasilan program pembinaan kesehatan remaja dilaksanakan, ada beberapa patokan yang dapat dipantau dengan melalui sistem pencatatan dan pelaporan yang dapat meliput dan memberikan masukan dalam upaya penilaian keberhasilan program.
Indikator keberhasilan kegiatan kesehatan remaja antara lain adalah :
a. Menurunnya angka kehamilan wanita pada usia remaja.
b. Menurunnya angka kematian bayi dan ibu sebagai akibat kehamilan pada usia remaja muda.
c. Meningkatnya status kesehatan remaja dengan menurunnya gangguan kesehatan reproduksi, gangguan kesehatan mental dan penyalahgunaan obat/ zat adiktif.
d. Meningkatnya pelayanan kesehatan remaja mulai dari tingkat keluarga sampai ketingkat profesional baik oleh pemerintah maupun swasta dan masyarakat.
e. Meningkatnya peran serta masyarakat secara aktif dan para remaja upaya memecahkan masalah kesehatan dirinya maupun lingkungannya.

G. penutup.

Pembinaan kesehatan remaja akan berdaya ungkit terhadap kesehatan kelompok dewasa muda maupun pada kelompok dewasa usia lanjut. Karena itu pembinaan kesehatan remaja mempunyai nilai strategis dalam pembinaan bangsa.

Keberhasilan pembinaan kesehatan remaja sangat ditentukan oleh berbagai faktor dan perilaku, didukung oleh kerja sama lintas program dan lintas sektoral yang baik dan berkesinambungan serta ditunjang leh peran serta masyarakat yang aktif dalam berbagai kegiatan pembinaan.

Perlu dilakukan upaya-upaya pengembangan program dengan melakukan penelitian-penelitian untuk memahami lebih lanjut mengenai dunia remaja, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan remaja yang optimal yang juga akan meningkatkan derajat kesehatan keluarga menuju keluarga sehat sejahtera.


Daftar kepustakaan :

• SKN
• Pola Pembinaan Kesehatan Keluarga
Read On 0 komentar

UPAYA KESEHATAN USIA LANJUT DI PUSKESMAS

09:24
Pengertian

Upaya kesehatan usia lanjut dipuskesmas adalah upaya kesehatan paripurna di bidang kesehatan usia lanjut, yang dilaksanakan ditingkat puskesmas serta diselenggarakan secara khusus maupun umum yang terintegrasi dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya.

Upaya tersebut dilaksanakan oleh petugas kesehatan puskesmas dengan dukungan peran serta masyarakat baik didalam gedung maupun diluar gedung puskesmas. Sasarannya ditujukan pada kelompok usia lanjut dengan resiko tinggi tanpa mengabaikan kelompok lainnya, dengan menggunakan tehnologi tepat guna yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.

Yang termasuk pasien geriatri adalah :
- pasien dengan usia 55-70 tahun yang mengalami lebih dari satu kondisi patologik.
- Pasien dengan usia lebih dari 70 tahun walaupun dengan hanya satu kondisi.

Uapaya kesehatan paripurna dasar dibidang kesehatanusia lanjut adalah suatu upaya yang menyeluruh pada usia lanjut meliputi peningkatan, pencegahan, pengobatan dan pemulihan.
Kegiatan upaya kesehatan usia lanjut ditingkat puskesmas secara khusus ialah penyuluhan, deteksi dan diagnosa dini usia lanjut, diagnosa kelainan usia lanjut, proteksi dan tindakan khusus pada usia lanjut dan pemulihan. Sedangkan secara umum dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya yang terkait.
Teknologi tepat guna dalam upaya kesehatan usia lanjut ialah : teknologi yang mengacu pada masalah usia lanjut setempat, didukung sumber daya yang tersedia dimasyarakat, terjangkau oleh masyarakat, diterima oleh masyarakat, sesuai dengan azas manfaat.
Peran serta masyarakat dalam upaya kesehatan usia lanjut ialah peran serta masyarakat baik sebagai pemberi pelayanan maupun penerima pelayanan yang berkaitan dengan mobilisasi sumber daya, dalam pemecahan masalah usia lanjut, dalam bentuk : pelaksanaan, pembinaan dan pengembangan uapay kesehatan usia lanjut.

TUJUAN DAN SASARAN

a. Tujuan :

1) Tujuan umum :

Meningkatnya derajat kesehatan usia lanjut untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berdaya guna dalm kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan eksistensinya dalam strata kemasyarakatan dalam mencapai mutu kehidupan usia lanjut yang optimal.

2) Tujuan khusus

a. Meningkatnya kesadaran pada usia lanjut untuk membina sendiri kesehatannya.
b. Meningkatnya kemampuan dan peran serta masyarakat dalam menghayati dan mengatasi masalah kesehatan usia lanjut secara optimal.
c. Meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan usia lanjut.
d. Meningfkatnya jenis dan mutu pelayanan kesehatan usia lanjut.

b. sasaran

1) sasaran langsung.

a. Kelompok usia menjelang usia lanjut ( 45-54 tahun ) atau dalam masa virilitas, didalam keluarga maupun masyarakat luas dengan paket pembinaan yang meliputi KIE dan pelayanan kesehatan fisik, gizi agar dapat mempersiapkan diri mengahadapi masa tua.
b. Kelompok usia lanjut dalam masa prasenium ( 55- 64 tahun ) dalm keluarga, organisasi masyarakat usia lanjut dan masyarakat pada umumnya, dengan paket pembinaan yang meliputi KIE dan pelayanan agar dapat mempertahankan kondisi kesehatannya dan tetap produktif.
c. Kelompok usia lanjut dalam masa senescens ( > 65 tahun ) dan usia lanjut dan resiko tinggi ( > dari 70 tahun ), hidup sendiri, terpencil, menderita penyakit berat, cacad dan lain-lain, dengan paket pembinaan yang meliputi KIE dan pelayanan kesehatan agar dapat selama mungkin mempertahankan kemandiriannya.

2) Sasaran tidak langsung.

a. Keluarga dimana usia lanjut berada.
b. Organisasi sosial yang berkaitan dengan pembinaan usia lanjut.
c. Institusi pelayanan kesehatan dan non kesehatan yang berkaitan dengan pelayanan dasar dan pelayanan rujukan.
d. Masyarakat luas.

KEGIATAN USIA LANJUT

a. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut.

1) Upaya Peningkatan.

Yaitu upaya menggairahkan semangat hidup bagi usia lanjut agar mereka tetap dihargai dan tetap berguna baik bagi dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakat.
Upaya peningkatan dapat berupa kegiatan penyuluhan tentang :

a) Kesehatan dan pemeliharaan kebersihan diri.
b) Makanan dengan menu yang mengandung gizi seimbang.
c) Kesegaran jasmani yang dilakukan secara teratur dan disesuaikan dengan kemampuan usia lanjut agar tetap merasa sehat dan segar.
d) Pembinaan mental dalam meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang maha esa.
e) Membina ketrampilan agar dapat mengembangkan kegemaran sesuai dengan kemampuan.
f) Meningkatkan kegiatan sosial dimasyarakat.

2) Upaya Pencegahan

yaitu pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya penyakit maupun komplikasi penyakit yang disebabkan oleh proses ketuaan.
Upaya pencegahan dapat berupa kegiatan antara lain :

a) Pemeriksaan kesehatan secara berkala dan teratur untuk menemukan secara dini penyakit-penyakit usia lanjut.
b) Kesegaran jasmani yang dilakukan secara teratur dan disesuaikan dengan kemampuan usia lanjut agar tetap merasa sehat dan segar.
c) Penyuluhan tentang penggunaan berbagai alat bantu misalnya : kacamata, alat bantu dengar dan lain-lain agar usia lanjut tetap dapat memberikan karya dan tetap merasa berguna.
d) Penyuluhan untuk mencegah terhadap kemungkinan terjadinya kecelakaan pada usia lanjut.
e) Pembinaan mental dalam meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang maha esa.

3) Upaya Pengobatan

Yaitu uapaya pengobatan bagi usia lanjut.
Upaya pengobatan dapat berupa kegiatan sebagai berikut :
a) Pelayanan kesehatan dasar.
b) Pelayanan kesehatan spesialistik melalui sistim rujukan.

4) Upaya Pemulihan

Yaitu uapaya mengembalikan fungsi organ yang telah menurun.
Upaya pemulihan dapat berupa kegiatan antara lain ;
a) Memberiakn informasi,pengetahuan dan pelayanan tentang penggunaan berbagai alat bantu misalnya : kacamata, alat bantu dengar dan lain-lain agar usia lanjut tetap dapat memberikan karya dan tetap merasa berguna sesuai kebutuhan dan kemampuan.
b) Mengembalikan kepercayaan pada diri sendiri dan memperkuat mental penderita.
c) Pembinaan usia lanjut dalam hal pemenuhan kebutuhan pribadi, aktivitas di dalam maupun diluar rumah.
d) Nasihat cara hidup yang sesuai dengan penyakit yang diderita.
e) Perawatan fisioterapi.

b. Peningkatan Peran serta Masyarakat

Dilaksanakan dalam bentuk penyuluhan kesehatan yangmelibatkan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian upaya kesehatan usia lanjut, dalam rangka menciptakan kemandirian masyarakat.


c. Pengembangan Upaya Kesehatan Usia Lanjut.

Pengembangan upaya kesehatan usia lanjut di Puskesmas adalah suatu upaya dalam menggunakan data yang diperoleh dari survei, studi, SP2TP, untuk mengembangkan peran serta masyarakat dan pelayanan dibidang upaya kesehatan usia lanjut.
Pengembangan ini dilaksanakan melalui forum mini lokakarya, mikro planing dan stratifikasi Puskesmas dalam rangka mencapai derajat kesehatan usia lanjut secara optimal.

e. Pencatatan dan Pelaporan.

Diintegrasikan kedalam sistem pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas


Daftar Pustaka :
Pedoman kerja Puskesmas
Jilid IV
Depkes RI 1991/1992
Jakarta
Read On 0 komentar

ASKEP PEMASANGAN CVP

09:21
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN PEMASANGAN CVP

I. PENGERTIAN
Tekanan vena central (central venous pressure) adalah tekanan darah di AKa atau vena kava. Ini memberikan informasi tentang tiga parameter volume darah, keefektifan jantung sebagai pompa, dan tonus vaskular. Tekanan vena central dibedakan dari tekanan vena perifer, yang dapat merefleksikan hanya tekanan lokal.

I. LOKASI PEMANTAUAN
• Vena Jugularis interna kanan atau kiri (lebih umum pada kanan)
• Vena subklavia kanan atau kiri, tetapi duktus toraks rendah pada kanan
• Vena brakialis, yang mungkin tertekuk dan berkembang menjadi phlebitis
• Lumen proksimal kateter arteri pulmonalis, di atrium kanan atau tepat di atas vena kava superior

II. INDIKASI DAN PENGGUNAAN
• Pengukuran tekanan vena sentral (CVP).
• Pengambilan darah untuk pemeriksaan laboratorium.
• Pengukuran oksigenasi vena sentral.
• Nutrisi parenteral dan pemberian cairan hipertonik atau cairan yang mengiritasi yang perlu pengenceran segera dalam sistem sirkulasi.
• Pemberian obat vasoaktif per drip (tetesan) dan obat inotropik.
• Sebagai jalan masuk vena bila semua tempat IV lainnya telah lemah.

III. KOMPLIKASI
Adapun komplikasi dari pemasangan kanulasi CVP antara lain :
• Nyeri dan inflamasi pada lokasi penusukan.
• Bekuan darah karena tertekuknya kateter.
• Perdarahan : ekimosis atau perdarahan besar bila jarum terlepas.
• Tromboplebitis (emboli thrombus,emboli udara, sepsis).
• Microshock.
• Disritmia jantung

III. PENGKAJIAN
Yang perlu dikaji pada pasien yang terpasang CVP adalah tanda-tanda komplikasi yang ditimbulkan oleh pemasangan alat.
• Keluhan nyeri, napas sesak, rasa tidak nyaman.
• Keluhan verbal adanya kelelahan atau kelemahan.
• Frekuensi napas, suara napas
• Tanda kemerahan / pus pada lokasi pemasangan.
• Adanya gumpalan darah / gelembung udara pada cateter
• Kesesuaian posisi jalur infus set
• Tanda-tanda vital, perfusi
• Tekanan CVP
• Intake dan out put
• ECG Monitor

IV. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan aktivitas berhubungan dengan pemasangan kateter vena central
Kriteria pengkajian focus :
• Kelemahan, kelelahan.
• Perubahan tanda vital, adanya disritmia.
• Dispnea.
• Pucat
• Berkeringat.

V. TUJUAN ASUHAN KEPERAWATAN
Pasien akan mencapai peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur, dibuktikan oleh menurunnya kelemahan dan kelelahan dan tanda vital DBN selama aktivitas.

VI. INTERVENSI
• Periksa tanda vital sebelum dan segera setelah aktivitas.
Rasionalisasi : Hipotensi ortostatik dapat terjadi dengan aktivitas.
• Catat respons kardiopulmonal terhadap aktivitas, catat takikardi, disritmia, dispnea, berkeringat, pucat.
Rasionalisasi : penurunan/ketidakmampuan miokardium untuk meningkatkan volume sekuncup selama aktivitas, dapat menyebabkan peningkatan segera pada frekuensi jantung dan kebutuhan oksigen, juga peningkatan kelelahan dan kelemahan.
• Kaji presipitator/penyebab kelemahan contoh nyeri.
Rasionalisasi : Nyeri dan program penuh stres jugas memerlukan energi dan menyebabkan kelemahan.
• Anjurkan latihan ROM aktif atau bila pasien tidak dapat memenuhinya lakukan ROM pasif setiap 6 jam.
Rasionalisasi : ROM dapat meningkatkan kekuatan otot, memperbaiki sirkulasi dan mengurangi rasa tidak nyaman.
• Jelaskan bahwa gangguan aktivitas adalah kondisi sementara yang diharuskan hanya selama waktu pemantauan sementara.
Rasionalisasi : Penjelasan dapat mengurangi anxietas karena rasa takut terhadap pemasangan CVP.
• Berikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri sesuai indikasi.
• Rasionalisasi : Pemenuhan kebutuhan perawatan diri pasien tanpa mempengaruhi pemasangan CVP.

DAFTER PUSTAKA

Anna Owen, 1997. Pemantauan Perawatan Kritis. EGC. Jakarta.

Carpenito, Lynda Juall, 2000. Diagnosa Keperawatan .EGC. Jakarta.

Doenges M.E. at all, 1993. Rencana Asuhan Keperwatan. Edisi 3. EGC. Jakarta

Hudak & Gallo, 1997. Keperawatan Kritis Edisi VI Volume I. EGC. Jakarta.
Read On 1 komentar

ASKEP KERACUNAN

09:16
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN INTOKSIKASI INSEKTISIDA

A. Pengertian.
Intoksikasi atau keracunan adalah masuknya zat atau senyawa kimia dalam tubuh manusia yang menimbulkan efek merugikan pada yang menggunakannya.
Istilah peptisida pada umumnya dipakai untuk semua bahan yang dipakai manusia untuk membasmi hama yang merugikan manusia.Termasuk peptisida ini adalah insektisida. Ada 2 macam insektisuda yang paling benyak digunakan dalam pertanian :
1. Insektisida hidrokarbon khorin ( IHK=Chlorinated Hydrocarbon )
2. Isektida fosfat organic ( IFO =Organo Phosphatase insectisida )
Yang paling sering digunakan adalah IFO yang pemakaiannya terus menerus meningkat. Sifat dari IFO adalah insektisida poten yang paling banyak digunakan dalam pertanian dengan toksisitas yang tinggi. Salah satu derivatnya adalah Tabun dan Sarin. Bahan ini dapat menembusi kulit yang normal (intact) juga dapaat diserap diparu dan saluran makanan,namun tidak berakumulasi dalam jaringan tubuh seperti golongan IHK.
Macam-macam IFO adalah malathion ( Tolly ) Paraathion,diazinon,Basudin,Paraoxon dan lain-lain. IFO ada 2 macam adalah IFO Murni dan golongan carbamate.Salah satu contoh gol.carbamate adalah baygon.

B. Patogenesis.
IFO bekerja dengan cara menghabat ( inaktivasi ) enzim asetikolinesterase tubuh ( KhE).Dalam keadaan normal enzim KhE bekerja untuk menghidrolisis arakhnoid( AKH ) dengan jalan mengikat Akh –KhE yang bersifat inaktif.Bila konsentrasi racun lebih tinggi dengan ikatan IFO- KhE lebih banyak terjadi. Akibatnya akan terjadi penumpukan Akh ditempat-tempat tertentu, sehingga timbul gejala gejal;a ransangan Akh yang berlebihan ,yang akan menimbulkan efek muscarinik, nikotinik dan SSP ( menimbulkan stimulasi kemudian depresi SSP )
Pada keracunan IFO ,ikatan Ikatan IFO – KhE bersifat menetap (ireversibel ) ,sedangkan keracunan carbamate ikatan ini bersifat sementara (reversible ).Secara farmakologis efek Akh dapat dibagi 3 golongan :
1. Muskarini,terutama pada saluran pencernaan,kelenjar ludah dan keringat,pupil,bronkus dan jantung.
2. Nikotinik,terutama pada otot-otot skeletal,bola mata,lidah,kelopak mata dan otot pernafasan.
3. SSP, menimbulkan nyeri kepala,perubahan emosi,kejang-kejang(Konvulsi ) sampai koma.
C. Gambaran Klinik.
Yang paling menonjol adalah kelainan visus,hiperaktifitas kelenjar ludah,keringat dan ggn saluran pencernaan,serta kesukaran bernafas.
Gejala ringan meliputi : Anoreksia, nyeri kepala, rasa lemah,rasa takut, tremor pada lidah,kelopak mata,pupil miosis.
Keracunan sedang : nausea, muntah-muntah, kejang atau kram perut, hipersaliva, hiperhidrosis,fasikulasi otot dan bradikardi.
Keracunan berat : diare, pupil pi- poin, reaksi cahaya negatif ,sesak nafas, sianosis, edema paru .inkontenesia urine dan feces, kovulsi,koma, blokade jantung akhirnya meningal.

D. Pemeriksaan.
1. Laboratorik.
Pengukuran kadar KhE dengan sel darah merah dan plasma, penting untuk memastikan diagnosis keracunan IFO akut maupun kronik (Menurun sekian % dari harga normal ).
Kercunan akut : Ringan : 40 - 70 %
Sedang : 20 - 40 %
Berat : < 20 %
Keracunan kronik bila kadar KhE menurun sampai 25 - 50 % setiap individu yang berhubungan dengan insektisida ini harus segara disingkirkan dan baru diizinkan bekerja kemballi kadar KhE telah meningkat > 75 % N
2. Patologi Anatomi ( PA ).
Pada keracunan acut,hasil pemeriksaan patologi biasanya tidak khas.sering hanya ditemukan edema paru,dilatsi kapiler,hiperemi paru,otak dan organ-oragan lainnya.

E. Penatalaksanaan.
1. Resusitasi.
Setelah jalan nafas dibebaskan dan dibersihkan,periksa pernafasan dan nadi.Infus dextrose 5 % kec. 15- 20 tts/menit .,nafas buatan,oksigen,hisap lendir dalam saluran pernafasan,hindari obat-obatan depresan saluran nafas,kalu perlu respirator pada kegagalan nafas berat.Hindari pernafasan buatan dari mulut kemulut, sebab racun organo fhosfat akan meracuni lewat mlut penolong.Pernafasan buatan hanya dilakukan dengan meniup face mask atau menggunakan alat bag – valve – mask.
2. Eliminasi.
Emesis, merangsang penderita supaya muntah pada penderita yang sadar atau dengan pemeberian sirup ipecac 15 - 30 ml. Dapat diulang setelah 20 menit bila tidak berhasil.
Katarsis,( intestinal lavage ), dengan pemberian laksan bila diduga racun telah sampai diusus halus dan besar.
Kumbah lambung atau gastric lavage, pada penderita yang kesadarannya menurun,atau pada penderita yang tidak kooperatif.Hasil paling efektif bila kumbah lambung dikerjakan dalam 4 jam setelah keracunan.
Keramas rambut dan memandikan seluruh tubuh dengan sabun.
Emesis,katarsis dan kumbah lambung sebaiknya hanya dilakukan bila keracunan terjadi kurang dari 4 – 6 jam . pada koma derajat sedang hingga berat tindakan kumbah lambung sebaiknya dukerjakan dengan bantuan pemasangan pipa endotrakeal berbalon,untuk mencegah aspirasi pnemonia.

3. Anti dotum.
Atropin sulfat ( SA ) bekerja dengan menghambat efek akumulasi Akh pada tempat penumpukan.
a. Mula-mula diberikan bolus IV 1 - 2,5 mg
b. Dilanjutkan dengan 0,5 – 1 mg setiap 5 - 10 - 15 menitsamapi timbulk gejala-gejala atropinisasi ( muka merah,mulut kering,takikardi,midriasis,febris dan psikosis).
c. Kemudian interval diperpanjang setiap 15 – 30 - 60 menit selanjutnya setiap 2 – 4 –6 – 8 dan 12 jam.
d. Pemberian SA dihentikan minimal setelaj 2 x 24 jam. Penghentian yang mendadak dapat menimbulkan rebound effect berupa edema paru dan kegagalan pernafasan akut yang sering fatal.

ASUHAN KEPERAWATAN.

A. Pengkajian.
Pengkajian difokusakan padfa masalah yang mendesak seperti jalan nafas dan sirkulasi yang mengancam jiwa,adanya gangguan asam basa,keadaan status jantung,status kesadran.
Riwayat kesadaran : riwayat keracunan,bahan racun yang digunakan,berapa lama diketahui setelah keracunan,ada masalah lain sebagi pencetus keracunan dan sindroma toksis yang ditimbulkan dan kapan terjadinya.

B. Masalah keperawatan. Yang mungkin timbul adalah :
• Tidak efektifnya pola nafas
• Resiko tinggi kekurangan cairan tubuh.
• Gangguan kesadaran
• Tidak efektifnya koping individu.

C. Intervensi.
• Pertolongan pertama yang dilakukan meliputi : tindakan umum yang bertujuan untuk keselamatan hidup,mencegah penyerapan dan penawar racun ( antidotum ) yan meliputi resusitasi, : Air way, breathing, circulasi eliminasi untuk menghambat absorsi melalui pencernaaan dengan cara kumbah lambung,emesis, ata katarsis dan kerammas rambut.
• Berikan anti dotum sesuai advis dokter minimal 2 x 24 jam yaitu pemberian SA.
• Perawatan suportif; meliputi mempertahankan agar pasien tidak samapi demamatau mengigil,monitor perubahan-perubahan fisik seperti perubahan nadi yang cepat,distress pernafasan, sianosis, diaphoresis, dan tanda-tanda lain kolaps pembuluh darah dan kemungkinan fatal atau kematian.Monitir vital sign setiap 15 menit untuk bebrapa jam dan laporkan perubahan segera kepada dokter.Catat tanda-tanda seperti muntah,mual,dan nyeri abdomen serta monotor semua muntah akan adanya darah. Observasi fese dan urine serta pertahankan cairan intravenous sesuai pesanan dokter.
• Jika pernafasan depresi ,berikan oksigen dan lakukan suction. Ventilator mungkin bisa diperlukan.
• Jika keracunan sebagai uasaha untuk mebunuh diri maka lakukan safety precautions . Konsultasi psikiatri atau perawat psikiatri klinis. Pertimbangkan juga masalah kelainan kepribadian,reaksi depresi,psikosis .neurosis, mental retardasi dan lain-lain.

SUMBER.

Emerton, D M ( 1989 ) Principle And Practise Of nursing , University of Quennsland Press, Australia.

Departemen kesehatan RI, ( 2000 ) Resusitasi jantung, paru otak Bantuan hidup lanjut ( Advanced Life Support ) Jakarta.

La/UPF Ilmu Penyakit Dalam RSUD Dr.Soetomo Surabaya,( 1994 ) Pedoman Diagnosis dan Terapi, Surabaya.

Phipps , ect, ( 1999 ) Medikal Surgical Nursing : Consept dan Clinical Pratise, Mosby Year Book, Toronto.
Read On 0 komentar

ASKEP STRAIN DAN SPRAIN

09:10
STRAIN ( KRAM )
A. PENGERTIAN.
Adalah tarikan pada otot, ligament atau tendon yang disebabkan oleh regangan (streech) yang berlebihan.

B. PATOFISIOLOGI.
Adalah daya yang tidak semestinya yang diterapkan pada otot, ligament atau tendon. Daya (force) tersebut akan meregangkan serabut-serabut tersebut dan menyebabkan kelemahan dan mati rasa temporer serta perdarahan jika pembuluh darah dan kapiler dalam jaringan yang sakit tersebut mengalami regangan yang berlebihan.

C. TANDA DAN GEJALA.
 Kelemahan
 Mati rasa
 Perdarahan yang ditandai dengan :
 Perubahan warna
 Bukaan pada kulit
 Perubahan mobilitas, stabilitas dan kelonggaran sendi.
 Nyeri
 Odema

D. PENANGANAN.
Kelemahan biasanya berakhir sekitar 24 – 72 jam sedangkan mati rasa biasanya menghilang dalam 1 jam. Perdarahan biasanya berlangsung selama 30 menit atau lebih kecuali jika diterapkan tekanan atau dingin untuk menghentikannya. Otot, ligament atau tendon yang kram akan memperoleh kembali fungsinya secara penuh setelah diberikan perawatan konservatif.

E. RENCANA PERAWATAN.
1. Kemotherapi.
Dengan analgetik seperti Aspirin (300 – 600 mg/hari) atau Acetaminofen (300 – 600 mg/hari).
2. Elektromekanis.
 Penerapan dingin.
Dengan kantong es 24 0C
 Pembalutan atau wrapping eksternal.
Dengan pembalutan atau pengendongan bagian yang sakit.
 Posisi ditinggikan atau diangkat.
Dengan ditinggikan jika yang sakit adalah ekstremitas.
 Latihan ROM.
Latihan pelan-pelan dan penggunaan semampunya sesudah 48 jam.
 Penyangga beban.
Semampunya dilakukan penggunaan secara penuh.


SPRAIN (KESELEO )

A. PENGERTIAN.
Adalah kekoyakan pada otot, ligament atau tendon yang dapat bersifat sedang atau parah.

B. PATOFISIOLOGI.
Adalah kekoyakan ( avulsion ) seluruh atau sebagian dari dan disekeliling sendi, yang disebabkan oleh daya yang tidak semestinya, pemelintiran atau mendorong / mendesak pada saat berolah raga atau aktivitas kerja.
Kebanyakan keseleo terjadi pada pergelangan tangan dan kaki, jari-jari tangan dan kaki. Pada trauma olah raga (sepak bola) sering terjadi robekan ligament pada sendi lutut. Sendi-sendi lain juga dapat terkilir jika diterapkan daya tekanan atau tarikan yang tidak semestinya tanpa diselingi peredaan.

C. TANDA DAN GEJALA.
o Sama dengan strain (kram) tetapi lebih parah.
o Edema, perdarahan dan perubahan warna yang lebih nyata.
o Ketidakmampuan untuk menggunakan sendi, otot dan tendon.
o Tidak dapat menyangga beban, nyeri lebih hebat dan konstan.

D. RENCANA PERAWATAN.
1. Pembedahan.
Mungkin diperlukan agar sendi dapat berfungsi sepenuhnya; pengurangan-pengurangan perbaikan terbuka terhadap jaringan yang terkoyak.
2. Kemotherapi.
Dengan analgetik Aspirin (100-300 mg setiap 4 jam) untuk meredakan nyeri dan peradangan. Kadang diperlukan Narkotik (codeine 30-60 mg peroral setiap 4 jam) untuk nyeri hebat.
3. Elektromekanis.
 Penerapan dingin  dengan kantong es 24 0C
 Pembalutan / wrapping eksternal.
Dengan pembalutan, cast atau pengendongan (sung).
 Posisi ditinggikan.
Jika yang sakit adalah bagian ekstremitas.
 Latihan ROM.
Tidak dilakukan latihan pada saat terjadi nyeri hebat dan perdarahan. Latihan pelan-pelan dimulai setelah 7-10 hari tergantung jaringan yang sakit.
 Penyangga beban.
Menghentikan penyangga beban dengan penggunaan kruk selama 7 hari atau lebih tergantung jaringan yang sakit.

STUDI DIAGNOSTIK.
a. Riwayat :
o Tekanan
o Tarikan tanpa peredaan
o Daya yang tidak semestinya
b. Pemeriksaan Fisik :
Tanda-tanda pada kulit, sistem sirkulasi dan muskuloskeletal .


ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN
STRAIN DAN SPRAIN

I. PENGKAJIAN.
1. Identitas pasien.
2. Keluhan Utama.
Nyeri, kelemahan, mati rasa, edema, perdarahan, perubahan mobilitas / ketidakmampuan untuk menggunakan sendi, otot dan tendon.
3. Riwayat Kesehatan.
a. Riwayat Penyakit Sekarang.
o Kapan keluhan dirasakan, apakah sesudah beraktivitas kerja atau setelah berolah raga.
o Daerah mana yang mengalami trauma.
o Bagaimana karakteristik nyeri yang dirasakan.
b. Riwayat Penyakit Dahulu.
Apakah klien sebelumnya pernah mengalami sakit seperti ini atau mengalami trauma pada sistem muskuloskeletal lainnya.
c. Riwayat Penyakit Keluarga.
Apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini.
4. Pemeriksaan Fisik.
a. Inspeksi :
o Kelemahan
o Edema
o Perdarahan  perubahan warna kulit
o Ketidakmampuan menggunakan sendi
b. Palpasi :
o Mati rasa
c. Auskultasi
d. Perkusi.
5. Pemeriksaan Penunjang.
Pada sprain untuk diagnosis perlu dilaksanakan rontgen untuk membedakan dengan patah tulang.


II. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL.
1. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri / ketidakmampuan, ditandai dengan ketidakmampuan untuk mempergunakan sendi, otot dan tendon.
Tujuan :
o Meningkatkan / mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin.
o Menunjukkan teknik memampukan melaksanakan aktivitas ( ROM aktif dan pasif ).
Intervensi :
 Kaji derajat mobilitas yang dihasilkan oleh cedera / pengobatan dan perhatikan persepsi pasien terhadap mobilisasi.
 Ajarkan untuk melaksanakan latihan rentang gerak pasien / aktif pada ekstremitas yang sehat dan latihan rentang gerak pasif pada ekstremitas yang sakit.
 Berikan pembalutan, pembebatan yang sesuai.
2. Nyeri akut berhubungan dengan peregangan atau kekoyakan pada otot, ligament atau tendon ditandai dengan kelemahan, mati rasa, perdarahan, edema, nyeri.
Tujuan :
o Menyatakan nyeri hilang.
Intervensi :
 Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips dan pembalutan.
 Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena.
 Pemberian kompres dingin dengan kantong es 24 0C.
 Ajarkan metode distraksi dan relaksasi selama nyeri akut.
 Berikan individu pereda rasa sakit yang optimal dengan analgesik.

3. Gangguan konsep diri berhubungan dengan kehilangan fungsi tubuh.
Tujuan :
o Mendemonstrasikan adaptasi kesehatan, penanganan keterampilan.
Intervensi :
 Dorong individu untuk mengekspresikan perasaan khususnya mengenai pandangan pemikiran perasaan seseorang.
 Dorong individu untuk bertanya mengenai masalah, penanganan, perkembangan, dan prognosa kesehatan.
 Berikan informasi yang dapat dipercaya dan perkuat informasi yang sudah diberikan.
 Hindari kritik negatif.
 Beri privasi dan suatu keamanan lingkungan.


Daftar Pustaka

Rachmadi, Agus. 1993. Perawatan Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Penerbit : AKPER Depkes, Banjarbaru.

Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan ; Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Penerbit : EGC, Jakarta.

Nurachman, Elly. 1989. Buku Saku Prosedur Keperawatan Medical Bedah. Penerbit : EGC, Jakarta.

Carpenito, Lynda Juall. 1999. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8 . Penerbit : EGC, Jakarta.
Read On 0 komentar

ASKEP OTITIS EXTERNA

09:04
A. ANATOMI TELINGA
Anatomi telinga terdiri dari :
 Telinga bagian luar
- Aurikula
- Meatus Akustikus Eksterna
Batas antara telinga luar dan telinga tengah adalah membran timpany

 Telinga bagian tengah
- Kavum Timpany
- Antrum Timpany
- Tuba Auditiva Eustaki

 Telinga bagian dalam
- Labirintus Osseus
- Labirintus Membranosus

B. KONSEP DASAR
 Definisi
Otitis eksterna ialah radang liang telinga akut maupun kronis yang disebabkan oleh bakteri, sulit dibedakan dengan radang yang disebabkan oleh jamur, alergi atau virus.

 Faktor predisposisi
- PH (PH yang basa akan menurunkan proteksi terhadap infeksi).
- Udara yang hangat dan lembab, kuman dan jamur mudah tumbuh.
- Trauma ringan (ketika mengorek telinga) atau karena berenang yang menyebabkan perubahan kulit karena kena air.
 Jenis-jenisnya
Otitis eksterna dibagi 3 jenis :
- Otitis eksterna sirkumsripta
- Otitis eksterna difus
- Otomikosis

1. Otitis Eksterna Sirkumskripta
 Etiologi
Staphylococus aureus, staphylococus albus.

 Patofisiologi
Infeksi oleh kuman pada kulit disepertiga luar liang telinga yang mengandung adneksa kulit, seperti folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar serumen membentuk furunkel.

 Gejala
 Nyeri yang hebat, apalagi bila daun telinga disentuh, nyeri tidak sesuai dengan besarnya bisul. Hal ini disebabkan karena kulit liang telinga tidak mengandung jaringan longgar dibawahnya.
 Rasa nyeri dapat juga timbul spontan pada waktu membuka mulut.
 Gangguan pendengaran bila furunkel besar dan menyumbat liang telinga.

 Penatalaksanaan
 Antibiotik dalam bentuk salep (neomisin, Polimiksin B atau Basitrasin).
 Antiseptik (asam asestat 2-5% dalam alkohol 2%) atau tampon iktiol dalam liang telinga selama 2 hari.
 Bila furunkel menjadi abses, diaspirasi secara steril untuk mengeluarkan nanahnya.
 Insisi bila dinding furunkel tebal, kemudian kemudian dipasang drain untuk mengalirkan nanah.
 Obat simptomatik : analgetik, obat penenang.

2. Otitis Eeksterna Difus
 Etiologi
Pseudomonas, Staphylococus Albus, Eschericia coli dan Enterobacter Aerogenes. Otitis eksterna difus dapat juga terjadi sekunder pada otitis media supuratif kronis.

 Gejala
 Sama dengan otitis eksterna sirkumsripta.

 Tampak 2/3 dalam kulit liang telinga sempit, hyperemesis dan edema tanpa batas.
 Tidak ditemukan furunkel.
 Kadang-kadang terdapat sekret yang bau (tidak mengandung lendir).
 Dapat disertai demam dan pembesaran kelenjar getah bening regional.

 Penatalaksanaan
 Tampon yang mengandung antibiotika (kompres rivanol 1/1000 selama 2 hari).
 Antibiotik dalam bentuk tetes telinga.
 Antibiotik sistemik

3. Otomikosis
 Etiologi
Jamur Aspergillus, Candida Albican dan jamur lainnya.

 Patofisiologi
Kelembaban yang tinggi di liang telinga menyebabkan pertumbuhan jamur di liang telinga. Diambang batas normal dan menyebabkan infeksi di liang telinga.

 Gejala
 Rasa gatal di liang telinga.
 Rasa penuh di liang telinga.
Tetapi sering pula tanpa keluhan.

 Penatalaksanaan
 Asam asetat 2-5% dalam alkohol yang diteteskan ke liang telinga.
 Bersihkan liang telinga.
 Salep anti fungi (Nistatin atau Klotrimazol).


C. OTITIS EKSTERNA JENIS LAIN
 Otitis Eksterna Maligna

 Infeksi Kronis Liang Telinga
1. Otitis Eksterna Maligna
 Etiologi
Pseudomonas.

 Faktor Predisposisi
Riwayat DM dalam keluarga khususnya orang tua.
 Patofisiologi
Peradangan yang meluas secara progresif ke lapisan subkutis dan organ sekitar.

 Gejala
 Gatal di liang telinga, unilateral.
 Nyeri hebat, liang telinga tertutup jaringan granulasi yang subur.
 Sekret yang banyak.
 Pembengkakan liang telinga.

 Komplikasi
Osteomielitis tulang temporal dan basis kranii ------ kelumpuhan syaraf fasial serta syaraf otak lain ------ kematian.

 Penatalaksanaan
 Antibiotik dosis tinggi terhadap pseudomonas selama 6 minggu.
 Eksisi luas.
 Gula darah harus dikontrol.

2. Infeksi Kronis Liang Telinga
 Etiologi
 Infeksi bakteri atau jamur yang tidak diobati dengan baik.
 Trauma berulang.
 Benda asing.
 Gejala
 Adanya peradangan pada liang telinga.
 Terjadinya penyempitan liang telinga oleh pembentukan jaringan parut.


 Penatalaksanaan
Rekonstruksi liang telinga.


ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN OTITIS EKSTERNA

A. PENGKAJIAN
 Identitas klien
 Keluhan utama
Biasanya klien mengeluh adanya nyeri hebat, apalagi jika daun telinga disentuh. Adanya sekret yang keluar dari telinga, kadang-kadang disertai bau yang tidak sedap. Terjadi pembengkakan pada liang telinga. Terjadi gangguan pendengaran dan kadang-kadang disertai demam. Telinga juga terasa gatal.

 Riwayat penyakit sekarang
Tanyakan sejak kapan keluhan dirasakan, apakah tiba-tiba atau perlahan-lahan, sejauh mana keluhan dirasakan, apa yang memperberat dan memperingan keluhan dan apa usaha yang telah dilakukan untuk mengurangi keluhan.

 Riwayat penyakit dahulu
Tanyakan pada klien dan keluarganya ; apakah klien dahulu pernah menderita sakit seperti ini ?, apakah sebelumnya pernah menderita penyakit lain, seperti panas tinggi, kejang ?, apakah klien sering mengorek-ngorek telinga sehingga terjadi trauma ?, apakah klien sering berenang ?, Apakah klien saat dilahirkan cukup bulan, BBLR, apakah ibu saat hamil mengalami infeksi, dll.

 Riwayat penyakit keluarga
Apakah ada diantara anggota keluarga klien yang menderita penyakit seperti klien saat ini dan apakah keluarga pernah menderita penyakit DM.

B. PEMERIKSAAN FISIK
 Inspeksi
Inspeksi liang telinga, perhatikan adanya cairan atau bau, pembengkakan pada MAE, warna kulit telinga, apakah terdapat benda asing, peradangan, tumor.

Inspeksi dapat menggunakan alat otoskopik (untuk melihat MAE sampai ke membran timpany). Apakah suhu tubuh klien meningkat.

 Palpasi
Lakukan penekanan ringan pada daun telinga, jika terjadi respon nyeri dari klien, maka dapat dipastikan klien menderita otitis eksterna sirkumskripta.

C. DATA SUBJEKTIF DAN OBJEKTIF
 Data subjektif
 Klien mengeluh pendengarannya berkurang, sering keluar sekret yang berbau.
 Klien mengeluh telinganya sakit/nyeri atau terasa gatal.
 Klien mengatakan terjadi trauma pada telinganya (karena jatuh, berolahraga, dll).
 Klien sering berenang dan mengorek telinganya.

 Data objektif
 Klien berespons kesakitan saat daun telinganya disentuh.
 Klien tampak menggaruk-garuk telinganya atau meringis kesakitan.
 Klien sering mendekatkan telinganya kepada perawat saat perawat berbicara.
 Tampak sekret yang berbau.
 Adanya benjolan atau furunkel pada telinga atau filamen jamur yang berwarna keputih-putihan.
 Liang telinga tampak sempit, hyperemesis dan edema tanpa batas yang jelas.

D. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
 Nyeri (akut/kronis) yang berhubungan dengan trauma, infeksi atau demam sekunder terhadap kecelakaan, infeksi oleh jamur / virus / bakteri , ditandai dengan :
 Klien mengeluh telinganya sakit / nyeri / gatal.
 Klien tampak menggaruk-garuk telinganya/meringis kesakitan.
 Klien berespon kesakitan saat telinganya disentuh.
 Terdapat benjolan/edema/furunkel/filamen jamur pada telinga.
 Klien demam ( pada OED ).

Intervensi Keperawatan :
 Kaji tingkat nyeri klien / demam klien.
 Lakukan pembersihan telinga secara teratur dan hati-hati.
 Beri penyuluhan kepada klien tentang penyebab nyeri dan penyakit yang dideritanya / demamnya.
 Lakukan aspirasi secara steril (bila terjadi abses) untuk mengeluarkan nanahnya, jika dinding furunkelnya tebal, dilakukan insisi kemudian dipasang drainage untuk mengalirkan nanah.
 Berikan kompres dingin bila demam.
 Kolaborasi dalam pemberian obat analgetik dan antibiotik dosis tinggi (pada OEM).

 Gangguan pendengaran berhubungan dengan penyumbatan pada liang telinga sekunder terhadap pembesaranfurunkel, jaringan granulasi yang subur, penumpukkan sekret pada liang telinga, telinga rasa penuh/nyeri ditandai dengan :
 Klien mengeluh pendengarannya berkurang.
 Liang telinga tampak sempit, hyperemesis dan edema tanpa batas yang jelas.

Intervensi Keperawatan :
 Kaji kemampuan mendengar klien.
 Masukkan tampon yang mengandung antibiotik kedalam liang telinga (untuk OED).
 Berikan kompres rivanol 1/1000 selama 2 hari (OED).
 Lakukan irigasi telinga dan keluarkan serumen atau sekret.
 Lakukan aspirasi secara steril (bila terjadi abses) untuk mengeluarkan nanahnya. Jika dinding furunkelnya tebal lakukan insisi, kemudian dipasang drainage untuk mengeluarkan nanah.

 Gangguan komunikasi verbal yang berhubungan dengan kesukaran memahami orang lain (kurangnya pendengaran), sekunder terhadap penumpukkan serumen/sekret pada liang telinga, jaringan granulasi yang subur, edema pada liang telinga, ditandai dengan :
 Klien mengeluh pendengarannya berkurang.


 Liang telinga tampak sempit, hyperemesis dan edema tanpa batas yang jelas.

Intervensi Keperawatan :
 Identifikasi metode alternatif dan efektif untuk berkomunikasi, menggunakan tulisan atau isyarat tangan dengan cara menunjuk (gerakan pantomin).
 Kurangi kebisingan lingkungan.
 Perawat atau keluarga berbicara lebih keras serta menggunakan gerak tubuh.
 Usahakan saat berbicara selalu berhadapan dengan klien.

 Resiko gangguan konsep diri berhubungan dengan terjadinya ketulian, pengeluaran sekret yang banyak dan berbau, sekunder terhadap tanda-tanda infeksi : jamur, bakteri, virus, alergi, penumpukkan serumen, penutupan liang telinga oleh jaringan granulasi yang subur atau furunkel yang membesar.

Intervensi Keperawatan :
 Dorong individu untuk mengekspresikan perasaan, khususnya mengenai pandangan, pemikiran dan perasaan sesesorang.
 Dorong individu untuk bertanya mengenai masalah, penanganan, perkembangan dan prognosa kesehatan.
 Berikan informasi yang akurat kepada klien dan perkuat informasi yang sudah ada.
 Berikan dorongan untuk pilihan pemecahan masalah.
 Perjelas berbagai kesalahan konsep individu mengenai diri, perawatan atau pemberi perawatan.
 Hindari kritik negatif.
 Beri privacy dan suatu keamanan lingkungan.
 Bersihkan dan keluarkan serumen/sekret.
 Pasang tampon yang mengandung antibiotik.


DAFTAR PUSTAKA

Potter Patricia A.,1996, Pengkajian Kesehatan, Penerbit Buku Kedokteran EGC,Jakarta
Cowan, L. David, 1997. Mengenal Penyakit Telinga, Arcan, Jakarta.
Carpenito, Lynda Juall, 2000, Buku saku Diagnosa Keperawatan Edisi VIII, EGC, Jakarta.
Soepardi, Efiaty Arsyah, 1995, Buku Ajar Telinga hidung Tenggorok, FKUI, Jakarta.
Read On 0 komentar

ASKEP DERMATITIS

08:57
Pengertian:
dermatitis adalah peradangan pada kulit.

Terbagi Atas :
DERMATITIS KONTAK
Sinonim :
Dermatitis venenata, dermatitis industri, dan lain-lain.
Penyebab :
a. Zat iritan misalnya asam atau alkali.
b. Alergen misalnya tumbuh-tumbuhan, kosmetik atau nikel.
Perjalanan Penyakit Dan Gejala Klinis :
Terdapat 2 tipe dermatitis kontak yang disebabkan oleh zat yang berkontak dengan kulit yaitu dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergik.
Dermaitis Kontak Iritan :
Kulit berkontak dengan zat iritan dalam waktu dan konsentrasi cukup, umumnya berbatas relatif tegas.
Paparan ulang akan menyebabkan proses menjadi kronik dan kulit menebal disebut skin hardering.
Gejala klinis dipengaruhi keadaan kulit pada waktu kontak antara lain, faktor kelembaban, paparan dengan air, panas dingin, tekanan atau gesekan. Kulit kering lebih kurang bereaksi.
Dermatitis Kontak Alergik :
Batas tak tegas. Proses yang mendasarinya ialah reaksi hipersensitivitas. Lokalisasi daerah terpapar, tapi tidak tertutup kemungkinan di daerah lain.


Diagnosis banding :
Dermatitis numularis, dermatitis seboroika, dermatitis atopik.
Pengobatan :
 Menghindari penyebab.
 Simtomatik
 Topikal :
o Apabila basah : kompres PK 1/10.000
o Apabila kering : Kortikosteroid
 Pada keadaan berat – per oral :
o Antihistamin
o Kortikosteroid


DERMATITIS ATOPIK
Sinonim :
Neurodermatitis disseminata; prurigo diathesique Besnier.
Penyebab :
a. Gangguan fungsi sel limfosit T dan peningkatan kadar Ig E
b. Blokade reseptor beta adrenergik pada kulit.
Perjalanan Penyakit Dan Gejala Klinis :
Bersifat kronis dengan eksaserbasi akut, dapat terjadi infeksi sekunder. Riwayat stigmata atopik pada penderita atau keluarganya. Gejala klinis edema, vesikel sampai bula, dapat pula disertai ekskoriasi. Keadaan kronik terdapat penebalan kulit, likenifikasi dan hyperpigmentasi. Gatal dari ringan sampai berat, disertai rasa terbakar. Keadaan akut disertai rasa tidak enak badan
Lokalisasi sesuai umur penderita dibagi:
 Tipe infantil : muka, terutama kedua pipi (disebut milk eczema), kepala, ekstremitas, badan dan bokong. Biasanya usia 2 bulan – 2 tahun.
 Tipe anak-anak : muka, tengkuk, lipat siku dan pergelangan tangan. Lesi bersifat sub-akut.
 Tipe dewasa : fosa poplitea, lipat siku dan tengkuk, dahi, daerah yang terpapar matahari. Lesi bersifat kronis.
Diagnosis Banding :
Dermatitis seboroika, dermatitis herpetiformis dan keratosis folikularis (penyakit Darier)

Pengobatan :
 Keadaan ringan diberikan pengobatan topikal.
 Sistemik : Antihistamin. Keadaan sangat eksudativ, diberikan kortikosteroid jangka pendek.
 Topikal : Keadaan akut dan basah diberi kompres. Kronik  salep kortikosteroid. Keadaan infeksi dikombinasi dengan antibiotika. Bila diduga mengalami infeksi dengan kandidosis dapat diberikan campuran kortikosteroid dan anti kandida.
Tanda Diagnostik :
o Lokalisasi – daerah lipatan flexor ekstremitas.
o Terdapat stigmata atopik
o Gatal


DERMATITIS NUMULARIS
Sinonim :
Dermatitis Diskoid, Neurodermatitis Numularis.
Penyebab :
Tidak pasti. Diduga stress emosi, alkohol dapat memperburuk keadaan.
Perjalanan Penyakit Dan Gejala Klinis :
Kelainan terdiri dari eritema, edema, papel, vesikel, bentuk numuler, dengan diameter bervariasi 5 – 40 mm. Bersifat membasah (oozing), batas relatif jelas, bila kering membentuk krusta. Gejala biasanya hebat dan hilang timbul, bila digaruk dapat terjadi fenomena Koebner.
Lokalisasi di ekstremitas atas dan bawah bagian ekstensor, tetapi dapat berlokasi diseluruh bagian tubuh.
Diagnosis Banding :
Dermatitis atopik, neurodermatitis.
Pengobatan :
Topikal tidak mencukupi, perlu pengobatan sistemik berupa anti histamin.
 Lesi basah kompres larutan Permanganas Kalikus 1 : 10.000
 Lesi kering : salep kortikosteroid.
Bila ada infeksi sekunder ditambahkan antibiotika sistemik.
Tanda Diagnostik :
 Bentuk lesi numuler
 Sifat lesi membasah
 Gatal


NEURODERMITIS SIRKUMSKRIPTA
Sinonim :
Liken Simpleks Kronis
Penyebab :
Tidak pasti.
Perjalanan Penyakit Dan Gejala Klinis :
Penderita umumnya orang dewasa atau orang tua. Mungkin suatu tempat gatal kemudian digaruk berulang-ulang, maka akan timbul papel, likenifikasi dan kulit menjadi tebal yang menimbulkan hyperpigmentasi. Lesi berupa papel besar, gatal disebut prurigo nodularis.
Tempat di tengkuk, di punggung kaki, punggung tangan, lengan bawah dekat siku, tungkai bawah bagian lateral, perianal, scrotum dan vulva atau di scalp. Prurigo nodularis sering ditemukan di lengan dan tungkai. Kelainan menipis bila tidak digaruk.
Pengobatan :
Diberitahukan kepada penderita : kelainan kulit menipis dan kemudian menghilang bila tidak digaruk.
õ Sistemik : Sedativa atau Antihistaminika untuk mengurangi rasa gatal.
õ Topikal : Salep Kortikosteroid.
Bila kurang berhasil dibantu dengan cara oklusi (ditutup dengan bahan impermeabel misalnya bungkus plastik). Kalau belum berhasil juga disuntik dengan kortikosteroid intra lesi, misalnya triamsinolon.

Prognosis :
Baik, tetapi sering pula residif.

DERMATITIS STATIS
Sinonim :
Dermatitis Hemostatika.
Penyebab :
Gangguan aliran darah pembuluh vena di tungkai. Berupa bendungan di luar pembuluh darah; misalnya tumor di abdomen sumbatan thrombus di tungkai bawah, atau kerusakan katup vena setelah thrombophlebitis.
Insidens :
Orang dewasa dan orang tua.
Perjalanan Penyakit Dan Gejala Klinis :
Akibat bendungan, tekanan vena makin meningkat sehingga memanjang dan melebar. Terlihat berkelok-kelok seperti cacing (varises). Cairan intravaskuler masuk ke jaringan dan terjadilah edema. Timbul keluhan rasa berat bila lama berdiri dan rasa kesemutan atau seperti ditusuk-tusuk. Terjadi ekstravasasi eritrosit dan timbul purpura. Bercak-bercak semula tampak merah berubah menjadi hemosiderin. Akibat garukan menimbulkan erosi, skuama. Bila berlangsung lama, edema diganti jaringan ikat sehingga kulit teraba kaku, warna kulit lebih hitam.
Komplikasi :
Timbul ulkus, disebut ulkus varikosum atau ulkus venosum.
Diagnosis :
Lokalisasi ditungkai bawah, dimulai di atas maleous internus sampai di bawah lutut. Kelainan berupa hyperpigmentasi, skuama, erosi, papel, kadang-kadang eksudasi. Batas tidak jelas. Udema terutama di pergelangan kaki.
Diagnosis Banding :
Dermatitis kontak.
Pengobatan :
õ Dermatitis akut dikompres dengan larutan Permanganas Kalikus 1/10.000, atau larutan perak nitrat 0,25 % - 0,5 %.
õ Obat topikal : Ichtyol 2 % dalam salep zink-oksid.
õ Bila eksudatif , diberi kortikosteroid dalam jangka pendek (7-10 hari).
õ Bila ada infeksi sekunder diberi antibiotika.
Prognosis :
Residif..

DERMATITIS SEBOROIKA
Sinonim :
Seborrheic Eczema, Dermatitis Seborrhoides, Seborrhoide.
Penyebab :
Tidak diketahui.
Faktor yang mempengaruhi / memperburuk :
 Jenis makanan berlemak
 Banyaknya keringat
 Stress emosi
Insidens :
Daerah dingin insidennya lebih tinggi. Umumnya bayi dan anak umur 6 – 10 tahun, serta orang dewasa umur 18 – 40 tahun.
Perjalanan Penyakit Dan Gejala Klinis :
Merupakan penyakit kronik, residif, dan gatal. Kelainan berupa skuama kering, basah atau kasar; krusta kekuningan dengan bentuk dan besar bervariasi.
Tempat kulit kepala, alis, daerah nasolabial belakang telinga, lipatan mammae, presternal, ketiak, umbilikus, lipat bokong, lipat paha dan skrotum.
Pada kulit kepala terdapat skuama kering dikenal sebagai dandruff dan bila basah disebut pytiriasis steatoides ; disertai kerontokan rambut.

Lesi dapat menjalar ke dahi, belakang telinga, tengkuk, serta oozing (membasah), dan menjadi keadaan eksfoliatif generalisata. Pada bayi dapat terjadi eritroderma deskuamativa atau disebut penyakit Leiner.
Diagnosis Banding :
Psoriasis, Pitiriasis Rosea, Dermatofitosis.
Pengobatan :
 Umum : diet rendah lemak.
 Sistemik : antihistamin, pada kasus berat, kortikosteroid.
 Lokal : preparat sulfur, tar, kortikosteroid. Shampo dapat dipakai selenium sulfida.
Prognosis :
Kronik residif.








ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN DERMATITIS

I. PENGKAJIAN.
a. Identitas Pasien.
b. Keluhan Utama.
Biasanya pasien mengeluh gatal, rambut rontok.
c. Riwayat Kesehatan.
1. Riwayat Penyakit Sekarang :
Tanyakan sejak kapan pasien merasakan keluhan seperti yang ada pada keluhan utama dan tindakan apa saja yang dilakukan pasien untuk menanggulanginya.
2. Riwayat Penyakit Dahulu :
Apakah pasien dulu pernah menderita penyakit seperti ini atau penyakit kulit lainnya.
3. Riwayat Penyakit Keluarga :
Apakah ada keluarga yang pernah menderita penyakit seperti ini atau penyakit kulit lainnya.
4. Riwayat Psikososial :
Apakah pasien merasakan kecemasan yang berlebihan. Apakah sedang mengalami stress yang berkepanjangan.
5. Riwayat Pemakaian Obat :
Apakah pasien pernah menggunakan obat-obatan yang dipakai pada kulit, atau pernahkah pasien tidak tahan (alergi) terhadap sesuatu obat.

II. PEMERIKSAAN FISIK.
a. Subjektif :
Gatal
b. Objektif :
 Skuama kering, basah atau kasar.
 Krusta kekuningan dengan bentuk dan besar bervariasi.
( Yang sering ditemui pada kulit kepala, alis, daerah nasolabial belakang telinga, lipatan mammae, presternal, ketiak, umbilikus, lipat bokong, lipat paha dan skrotum ).
 Kerontokan rambut.

III. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI.
1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Inflamasi dermatitis, ditandai dengan :
 Adanya skuama kering, basah atau kasar.
 Adanya krusta kekuningan dengan bentuk dan besar bervariasi.
Intervensi :
 Kaji / catat ukuran dari krusta, bentuk dan warnanya, perhatikan apakah skuama kering, basah atau kasar.
 Anjurkan klien untuk tidak menggaruk daerah yang terasa gatal.
 Kolaborasi dalam pemberian pengobatan :
 Sistemik : Antihistamin, Kortikosteroid.
 Lokal : Preparat Sulfur, Tar, Kortikosteroid, Shampo (Selenium Sulfida)

2. Ansietas berhubungan dengan ancaman integritas biologis aktual atau yang dirasa sekunder akibat penyakit, ditandai dengan :
(Kemungkinan yang terjadi)
 Insomnia
 Keletihan dan kelemahan
 Gelisah
 Anoreksia
 Ketakutan
 Kurang percaya diri
 Merasa dikucilkan
 Menangis.
Intervensi :
 Kaji tingkat ansietas: ringan, sedang, berat, panik.
 Berikan kenyamanan dan ketentraman hati :
 Tinggal bersama pasien.
 Tekankan bahwa semua orang merasakan cemas dari waktu ke waktu.
 Bicara dengan perlahan dan tenang, gunakan kalimat pendek dan sederhana.
 Perlihatkan rasa empati.
 Singkirkan stimulasi yang berlebihan (ruangan lebih tenang), batasi kontak dengan orang lain – klien atau keluaraga yang juga mengalami cemas.
 Anjurkan intervensi yang menurunkan ansietas (misal : teknik relaksasi, imajinasi terbimbing, terapi aroma).
 Identifikasi mekanisme koping yang pernah digunakan untuk mengatasi stress yang lalu.

3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan dalam penampilan sekunder akibat penyakit, ditandai dengan :
 Klien mungkin merasa malu.
 Tidak melihat / menyentuh bagian tubuh yang terganggu.
 Menyembunyikan bagian tubuh secara berlebihan.
 Perubahan dalam keterlibatan sosial.
Intervensi :
 Dorong klien untuk mengekspresikan perasaannya.
 Dorong klien untuk bertanya mengenai masalah, penanganan, perkembangan dan prognosa penyakit.
 Berikan informasi yang dapat dipercaya dan perkuat informasi yang telah diberikan.
 Perjelas berbagai kesalahan konsep individu / klien terhadap penyakit, perawatan dan pengobatan.
 Dorong kunjungan / kontak keluarga, teman sebaya dan orang terdekat.

4. Kurang pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurangnya sumber informasi, ditandai dengan :
 Pasien sering bertanya / minta informasi, pernyataan salah konsep.
Intervensi :
 Jelaskan konsep dasar penyakitnya secara umum.
 Jelaskan / ajarkan nama obat-obatan, dosis, waktu dan metode pemberian, tujuan, efek samping dan toksik.
 Anjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang rendah lemak.
 Tekankan pentingnya personal hygiene.


DAFTAR PUSTAKA


1. Sularsito, Dr. Sri Adi, Et all. 1986. Dermatologi Praktis. Edisi I. Penerbit: Perkumpulan Ahli Dermato-Venereologi Indonesia, Jakarta.

2. Doenges, Marilynn E, et all. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Penerbit: EGC, Jakarta.

3. Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Penerbit: EGC, Jakarta.
Read On 0 komentar

ASKEP KONJUNGTIVITIS

08:51
A PENGERTIAN.
Suatu peradangan konjungtiva yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, clamida, alergi atau iritasi dengan bahan-bahan kimia.

B PATOFISIOLOGI.
Konjungtiva berhubungan dengan dunia luar kemungkinan konjungtiva terinfeksi dengan mikro organisme sangat besar. Pertahanan konjungtiva terutama oleh karena adanya tear film, pada permukaan konjungtiva yang berfungsi melarutkan kotoran dan bahan-bahan yang toksik kemudian mengalirkan melalui saluran lakrimalis ke meatus nasi inferior. Tear film mengandung beta lysine, lysozyne, Ig A, Ig G yang berfungsi menghambat pertumbuhan kuman. Apabila ada kuman pathogen yang dapat menembus pertahanan tersebut sehingga terjadi infeksi konjungtiva yang disebut konjungtivitis.

C PEMBAGIAN / KLASIFIKASI MENURUT GAMBARAN KLINIK.
1. Konjungtivitis Kataral.
 Konjungtivitis Kataral Akut.
Disebut juga konjungtivitis mukopurulenta, konjungtivitis akut simplek, “pink eyes”.
Penyebab:
Koch Weeks, stafilokok aureus, streptokok viridan, pneukok, dan lain-lain.

Tanda klinik:
Pada palpebra edema, konjungtiva palpebra merah kasar, seperti beledru karena ada edema dan infiltrasi. Konjungtiva bulbi injeksi konjungtival banyak, kemosis dapat ditemukan pseudomembran pada infeksi pneumokok.
 Konjungtivitis Kataral Sub Akut.

Penyebab:
Sebagai lanjutan konjungtivitis akut atau oleh virus hemofilus influenza.

Tanda klinik:
Palpebra edema. Konjungtiva palpebra hiperemi tak begitu infiltratif. Konjungtiva bulbi injeksi konjungtiva positif, tak ada blefarospasme dan secret cair.
 Konjungtivitis Katarak Kronik.
Sebagai lanjutan konjungtivitis kataral akut atau disebabkan kuman koch weeks, stafilokok aureus, morax axenfeld, E. Colli atau disebabkan juga obstruksi duktus naso lakrimal.

Tanda klinik:
Palpebra tak bengkak, margo palpebra bleparitis dengan segala akibatnya. Konjungtiva palpebra sedikit merah, licin, kadang-kadang hypertropis seperti beledru. Konjungtiva bulbi injeksi konjungtiva ringan.

2. Konjungtivitis Purulen.
Dapat Disebabkan :
Gonorrhoe dan Nongonorrhoe akibat pneumokok, streptokok, meningokok, stafilokok, dsb.

Tanda Klinik :
Konjungtivitis akut, disertai dengan sekret yang purulen.
Pengertian :
Konjungtivitis yang hiperakut dengan sekret purulen yang disebabkan oleh Neisseria Gonorrhoika.

Patofisiologi :
Proses peradangan hiperakut konjungtiva dapat disebabkan oleh Neisseria Gonorrhoika, yaitu kuman bukan yang berbentuk kokkus, gram ngatif yang sering menjadi penyebab uretritis, pada pria dan vaginitis atau bartolinitis pada wanita. Infeksi ini dapat terjadi karena adanya kontak langsung antara Neisseria Gonorrhoika dengan konjungtiva.

Dibedakan Atas 3 Stadium, Yaitu :

 Stadium Infiltrat.
Berlangsung selama 1-3 hari. Dimana palpebra bengkak, hiperemi, tegang, bleparospasme. Konjungtiva palpebra hiperemi, bengkak, infiltrat mungkin terdapat pseudomembran diatasnya. Pada Konjungtiva bulbi terdapat injeksi konjungtiva yang hebat, kemotik, sekret sereus kadang-kadang beradarah.

 Stadium Supuratif atau Purulenta.
Berlangsung selama 2-3 minggu. Gejala-gejala tak begitu hebat lagi. Palpebra masih bengkak, hiperemis, tetapi tak begitu tegang. Bleparospasme masih ada. Sekret campur darah, keluar terus menerus apabila palpebra dibuka yang khas adalah sekret akan keluar dengan mendadak (memancar muncrat) oleh karena itu harus hati-hati bila membuka palpebra, jangan sampai mengenai mata pemeriksa.

 Stadium Konvalesen (Penyembuhan) Hypertropi Papil.
Berlangsung 2-3 minggu. Gejala tak begitu hebat lagi. Palpebra sedikit bengkak, konjungtiva palpebra hiperemi, tidak infiltrat. Injeksi konjungtiva bulbi, injeksi konjungtiva masih nyata, tidak kemotik, sekret jauh berkurang.
Gejala / Gambaran Klinis :
Penyakit gonoblenore dapat terjadi secara mendadak. Masa inkubasi dapat terjadi beberapa jam sampai 3 hari.
Keluhan utama : mata merah, bengkak dengan sekret seperti nanah yang kadang-kadang bercampur darah.
Pemeriksaan Laboratorium :
Kerokan konjungtiva atau getah mata yang purulen dicat dengan pengecatan gram dan diperiksa dibawah mikroskop. Didapatkan sel-sel polimorfonuklear dalam jumlah banyak sekali. Kokus gram negatif yang berpasang-pasangan seperti biji kopi yang tersebar diluar dan didalam sel.

Diagnosis :
Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan klinik.
Pengobatan :
 Gonoblenore Tanpa Penyulit Pada Kornea.
Topikal :
Salep mata Tetrasiklin HCl 1 % atau Basitrasin yang diberikan minimal 4 kali sehari pada neonatus dan diberikan sedikitnya tiap 2 jam pada penderita dewasa, dilanjutkan sampai 5 kali sehari sampai terjadinya resolusi. Sebelum memberikan salep mata, mata harus dibersihkan terlebih dahulu.
Sistemik :
Pada orang dewasa diberikan Penisillin G 4,8 juta IU intra muskuler dalam dosis tunggal ditambah dengan Probenesid 1 gram per-oral, atau Ampisillin dalam dosis tunggal 3,5 gram per-oral. Pada neonatus dan anak-anak diberikan injeksi Penisillin dengan dosis 50.0000 – 100.0000 IU/Kg BB.
 Gonoblenore Dengan Penyulit Pada Kornea.
Topikal :
Dapat dimulai dengan salep mata Basitrasin setiap jam atau Sulbenisillin tetes mata, disamping itu diberikan juga Penisillin konjungtiva.
Sistemik :
Pengobatan sistemik diberikan seperti pada gonoblenore tanpa ulkus kornea.
3. Konjungtivitis Flikten.
Merupakan peradangan terbatas dari konjungtiva dengan pembentukan satu atau lebih dari satu tonjolan kecil, berwarna kemerahan yang disebut flikten.
Penyebab : alergi terhadap
o Tuberkulo protein, pada penyakit TBC.
o Infeksi bakteri : koch weeks, pneumokok, stafilokok, streptokok.
o Virus : herpes simpleks.
o Toksin dari moluskum kontagiosum yang terdapat pada margo palpebra.
o Jamur pada kandida albikans.
o Cacing : ascaris, tripanosomiasis.
o Infeksi fokal : gigi, hidung, telinga, tenggorokan dan traktus urogenital.

Konjungtivitis 2 macam :

 Konjungtivitis Flikten.
Tanda radang tak jelas, hanya terbatas pada tempat flikten, sekret hampir tak ada
.
 Konjungtivitis Kum Flikten.
Tanda radang jelas, sekret mukos, mukopurulen, biasanya karena infeksi sekunder pada konjungtivitis flikten.
Keluhan :
Lakrimasi, fotofobia, bleparospasme. Oleh karena dasarnya alergi, maka cepat sembuh tetapi cepat kambuh kembali, selama penyebabnya masih ada di dalam tubuh.

4. Konjungtivitis Membran / Pseudo Membrane.
Ditandai dengan adanya masa putih atau kekuning-kuningan, yang menutupi konjungtiva palpebra bahkan konjungtiva bulbi.
Didapat pada :
• Difteri primer atau sekunder dari nasopharynx.
• Streptokokus beta hemolitik eksogen maupun endogen.
• Steven Johnson Syndrome.

Gejala klinik :
Palpebra bengkak. Konjungtiva palpebra : hiperemi dengan membrane diatasnya. Konjungtiva bulbi : injeksi konjungtiva (+), mungkin ada membrane. Kadang-kadang ada ulkus kornea. Konjungtivitis pseudomembrane umumnya terdapat pada semua konjungtivitis yang bersifat hiperakut atau purulen seperti konjungtivitis gonore, akibat gonokok, epidemik keratokonjungtivitis, inclusion konjungtivitis.

5. Konjungtivitis Vernal.
Dinamakan psring catarh karena banyak ditemukan pada musim bunga di daerah yang mempunyai empat musim.
Keluhannya mata sangat gatal, terutama berada pada lapangan terbuka yang panas terik. Sering menunjukkan alergi terhadap tepung sari dan rumput-rumputan.

6. Konjungtivitis Folikularis Nontrakoma.
Dibagi lagi menjadi :
 Konjungtivitis folikularis akut, yang disebabkan oleh virus termasuk golongan ini adalah :
o Inclusion konjungtivitis.
o Keratokonjungtivitis epidemika.
o Demam faringokonjungtiva.
o Keratokonjungtivitis herpetika.
o Konjungtivitis new castle.
o Konjungtivits hemoragik akut.
 Konjungtiva folikularis kronika.
 Konjungtiva folikularis toksika / alergika.
 Folikulosis.

7. Konjungtivitis Folikularis Trakoma.
Penyebab virus dari golongan P.L.T (Psittacosis Lympogranuloma Tracoma)

D PEMERIKSAAN LABORATORIUM.
Pemeriksaan secara langsung dari kerokan atau getah mata setelah bahan tersebut dibuat sediaan yang dicat dengan pengecatan gram atau giemsa dapat dijumpai sel-sel radang polimorfonuklear. Pada konjungtivitis yang disebabkan alergi pada pengecatan dengan giemsa akan didapatkan sel-sel eosinofil.

E DIAGNOSIS.
Ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan laboratorium. Pada pemeriksasan klinik di dapat adanya hiperemia konjungtiva, sekret atau getah mata dan edema konjungtiva.
F PENGOBATAN.
Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab. Konjungtivitis karena bakteri dapat diobati dengan sulfonamide (sulfacetamide 15 %) atau antibiotika (Gentamycine 0,3 %; chlorampenicol 0,5 %). Konjungtivitis karena jamur sangat jarang sedangkan konjungtivitis karena virus pengobatan terutama ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, konjungtivitis karena alergi di obati dengan antihistamin (antazidine 0,5 %, rapazoline 0,05 %) atau kortikosteroid (misalnya dexametazone 0,1 %).



ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN KONJUNGTIVITIS

A. BIODATA.
Tanggal wawancara, tanggal MRS, No. RMK. Nama, umur, jenis kelamin, suku / bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, status perkawinana, alamat, penanggung jawab.

B. RIWAYAT KESEHATAN .
1. Riwayat Kesehatan Sekarang.
 Keluhan Utama :
Nyeri, rasa ngeres (seperti ada pasir dalam mata), gatal, panas dan kemerahan disekitar mata, epipora mata dan sekret, banyak keluar terutama pada konjungtiva, purulen / Gonoblenorroe.
 Sifat Keluhan :
Keluhan terus menerus; hal yang dapat memperberat keluhan, nyeri daerah meradang menjalar ke daerah mana, waktu keluhan timbul pada siang malam, tidur tentu keluhan timbul.
 Keluhan Yang Menyertai :
Apakah pandangan menjadi kabur terutama pada kasus Gonoblenorroe.

2. Riwayat Kesehatan Yang Lalu.
Klien pernah menderita penyakit yang sama, trauma mata, alergi obat, riwayat operasi mata.


3. Riwayat Kesehatan Keluarga.
Dalam keluarga terdapat penderita penyakit menular (konjungtivitis).

C. PEMERIKSAAN FISIK.
Data Fokus :
Objektif : VOS dan VOD kurang dari 6/6.
Mata merah, edema konjungtiva, epipora, sekret banyak keluar terutama pada konjungtivitis purulen (Gonoblenorroe).
Subjektif : Nyeri, rasa ngeres (seperti ada pasir dalam mata) gatal, panas.

D. DIAGNOSA KEPERAWATAN.
1. Perubahan kenyamanan (nyeri) berhubungan dengan peradangan konjungtiva, ditandai dengan :
 Klien mengatakan ketidaknyamanan (nyeri) yang dirasakan.
 Raut muka /wajah klien terlihat kesakitan (ekspresi nyeri).
Kriteria hasil:
Nyeri berkurang atau terkontrol.
Intervensi :
 Kaji tingkat nyeri yang dialami oleh klien.
 Ajarkan kepada klien metode distraksi selama nyeri, seperti nafas dalam dan teratur.
 Berikan kompres hangat pada mata yang nyeri.
 Ciptakan lingkungan tidur yang nyaman, aman dan tenang.
 Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesic.
Rasionalisasi :
o Dengan penjelasan maka klien diharapkan akan mengerti.
o Berguna dalam intervensi selanjutnya.
o Merupakan suatu cara pemenuhan rasa nyaman kepada klien dengan mengurangi stressor yang berupa kebisingan.
o Menghilangkan nyeri, karena memblokir syaraf penghantar nyeri.
Evaluasi :
 Mendemonstrasikan pengetahuan akan penilaian pengontrolan nyeri.
 Mengalami dan mendemonstrasikan periode tidur yang tidak terganggu.
 Menunjukkan perasaan rileks.

2. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya, ditandai dengan :
 Klien mengatakan tentang kecemasannya.
 Klien terlihat cemas dan gelisah.
Kriteria hasil :
Klien mengatakan pemahaman tentang proses penyakitnya dan tenang.
Intervensi :
 Kaji tingkat ansietas / kecemasan.
 Beri penjelasan tentang proses penyakitnya.
 Beri dukungan moril berupa do’a untuk klien.
Rasionalisasi :
o Bermanfaat dalam penentuan intervensi.
o Meningkatkan pemahaman klien tentang proses penyakitnya
o Memberikan perasaan tenang kepada klien.


Evaluasi :
 Mendemonstrasikan penilaian penanganan adaptif untuk mengurangi ansietas.
 Mendemonstrasikan pemahamaan proses penyakit.

3. Resiko terjadi penyebaran infeksi berhubungan dengan proses peradangan.
Kriteria hasil :
Penyebaran infeksi tidak terjadi.
Intervensi :
 Bersihkan kelopak mata dari dalam ke arah luar (k/p lakukan irigasi).
 Berikan antibiotika sesuai dosis dan umur.
 Pertahankan tindakan septik dan aseptik.
Rasionalisasi :
o Dengan membersihkan mata dan irigasi mata, maka mata menjadi bersih.
o Pemberian antibiotik diharapkan penyebaran infeksi tidak terjadi.
o Diharapkan tidak terjadi penularan baik dari pasien ke perawat atau perawat ke pasien.
Evaluasi :
 Tidak terdapat tanda-tanda dini dari penyebaran penyakit.

4. Gangguan konsep diri (body image menurun) berhubungan dengan adanya perubahan pada kelopak mata (bengkak / edema).
Intervensi :
 Kaji tingkat penerimaan klien.
 Ajak klien mendiskusikan keadaan.
 Catat jika ada tingkah laku yang menyimpang.
 Jelaskan perubahan yang terjadi.
 Berikan kesempatan klien untuk menentukan keputusan tindakan yang dilakukan.
Evaluasi :
 Mendemonstrasikan respon adaptif perubahan konsep diri.
 Mengekspresikan kesadaran tentang perubahan dan perkembangan ke arah penerimaan.

5. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan keterbatasan penglihatan.
Kriteria hasil :
Cedera tidak terjadi.
Intervensi :
 Batasi aktivitas seperti menggerakkan kepala tiba-tiba, menggaruk mata, membungkuk.
 Orientasikan pasien terhadap lingkungan, dekatkan alat yang dibutuhkan pasien ke tubuhnya.
 Atur lingkungan sekitar pasien, jauhkan benda-benda yang dapat menimbulkan kecelakaan.
 Awasi / temani pasien saat melakukan aktivitas.
Rasionalisasi :
o Menurunkan resiko jatuh (cedera).
o Mencegah cedera, meningkatkan kemandirian.
o Meminimalkan resiko cedera, memberikan perasaan aman bagi pasien.
o Mengontrol kegiatan pasien dan menurunkan bahaya keamanan.


Evaluasi :
 Menyatakan pemahaman faktor yang terlibat dalam kemungkinan cedera.
 Menunjukkan perubahan prilaku, pola hidup untuk menurunkan faktor resiko dan melindungi diri dari cedera.
 Mengubah lingkungan sesuai indikasi untuk meningkatkan keamanan.



SUMBER

1. Wijana, Nana. 1990. Ilmu Penyakit mata. Cetakan V. Jakarta.

2. Pedoman Diagnosis dan Terapi, Lab / UPF Ilmu Penyakit Mata. RSU Sutomo. 1994. Surabaya.

3. Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Penerbit: EGC, Jakarta.
Read On 0 komentar

EPITAKSIS

08:42
I. PENGERTIAN
Epitaksis adalah perdarahan dari bagian bawah hidung dapat primer maupun skunder, spontan atau akibat rangsangan dan berlokasi sebelah posterior atau anterior.

II. ETIOLOGI
 Idiopatik, penyebab yang paling umum Lokal:
1. Trauma
a. Mengorek hidung
b. Benda asing
c. Pembedahan di hidung
d. Fraktur : Tulang hidung
Sinus paranasal
Dasar tengkorak
2. Peradangan
a. Rhinitis infeksi
b. Rhinitis alergi
c. Sinusitis
3. Tumor
a. Hidung – polip septum yang berdarah, karsinoma sel skuamosa.
b. Sinus, Karsinoma sel skuamosa.
c. Nasofaring – angiofinroma juvenile

 Penyebab yang paling umum:
1. Hipertensi sistemik
2. Pelebaran vena
- Obstruksi sinus vena kevernosus
- Gagal jantung kanan
3. Hematologik dan vaskuler
- Aterosklerosis
- Kelainan koagulasi
- Trombositopenia
- Haemofilia
- Leukemia
4. Obat-obatan
- Antikoagulan.
- Salisilat.

 Bentuk epitaksis yang paling umum :
1. Lokal
Epitaksis spontan diarea little pada anak dan remaja ----->Perdarahan hidung anterior

2. Umum
Hipertensi pada orang tua------>Perdarahan hidung posterior


III. PATOFISIOLOGI
Pembuluh darah mukosa hidung yang berhubungan dengan dunia luar dan tidak terlindung mudah rupture dan menyebabkan perdarahan, terutama pembuluh darah septum, kurang ditunjang atau dilindungi dari rangsangan luar, letaknya dekat tulang atau kartilago, hanya terlindung oleh mukosa yang tipis, karena lukanya ringan atau erosi saja sudah dapat menyebabkan terjadinya perdarahan hidung yang hebat,
Tempat sumber perdarahan umumnya te4rdapat dua sumber anterior dan posterior.
 Epitaksis Anterior
Perdarahan be4rsal dari fleksus – klesselbach yang pecah atau dari arteri etmodalis anterior. Jika lokasi perdarahan sudah diketahui pembuluh darah dapat dikontrol dengan menekan atau merusaknya dengan mengunakan kateterisasi kimia atau elektrodeksikasi. Penekanan dengan pemasangan tampon kapas kering.
 Epitaksis Posterior
Perdarahan berasal dari arteri sfelopalatina, arteri etmodalis posterior’ sering terjadi pada penderita usia lanjut yang disertai dengan hipertensi, arteosklerosis atau penyakit kardiovaskuler. Perdarahannya jarang berhenti spontan dan sulit dihentikan, karena itu paling penting umtuk menetukan sumber perdarahan guna tindakan selanjutnya.

IV. PENATALAKSANAAN
Tiga prinsip umum dalam menanggulangi Epitaksis adalah :
1. menghentikan perdarahan
2. mencegah komplikasi
3. mencegah berulangnya epitaksis

V. OBAT-OBATAN
1. Asam aminokopruat secara topical spray, berfungsi menghambat fibrinolisis
2. obat – obatan hemostatika vitamin K, korba zokrum.

VI. KOMPLIKASI
Komplikasi dapat terjadi sebagai akibat langsung dari epitaksis sendiri atau sebagai usaha untuk menanggulangi epitaksis.
1) Akibat perdarahan
a. Shock dan anemia
b. Tekanan darah yang turun dapat menimbulkan ischemia otak, insufiensi koroner dengan infark miokard
2) Akibat pemasangan tampon
a. Pemasangan tampon yang menimbulkan sinusitis, otitis media dan septikimia, oleh karena itu setiap pemasangan tanmpon harus diberikan antibiotik.
b. Sebagai akibat mengalirnya darah secara retrograde melalui tuba eustachi’I dapat terjadi hemotimpanium.
c. Pada waktu pemasangan tampon dapat terjadi laserasi palatum mole dan sudut bibir.


DAFTAR PUSTAKA
- Aesculapius Media fakultas Kedokteran UI 1982, Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 2, 1982

- Bollonger Jacob John, “Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorokan, Kepala, dan Leher”. Edisi 13, Jilid 1, Penerbit Bina putra Aksara, 1994

- Gillon Moore Victona, Nicholas Stafford, “Segi Praktis Telinga, Hidung, Tenggorokan”, Penerbit Bina Rupa Aksara, 1991.
Read On 0 komentar
[Make Your Own] by Khaidir Muhaj | [Close]

Selamat Datang !!

selamat berkunjung di blog saya yang sederhana ini, semoga yang teman cari ada disini, silahkan copy paste artikel dalam blog ini, dgn menyertakan atau tdk menyertakan sumbernya, dan jangan lupa sebagai tanda persahabatan & terimakasih isilah buku tamu.

My Family

My Family
Alumni SPK Kesdam VI/TPR Banjarmasin. Alumnus Politeknik kesehatan Banjarmasin program khusus PKM Rantau. Seorang PNS PemKab. Tapin, Unit Kerja Puskesmas Lokpaikat - Rantau - Kalsel .

Yang Sedang Berkunjung

Anda Pengunjung Yang Ke

TERIMA KASIH

Telah berkunjung, mohon maaf jika terdapat kekurangan dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dan tidak dapat memenuhi permintaan & pertanyaan teman teman, karena saya juga dalam proses pembelajaran dan terus akan belajar. dan seandainya artikel ini bermanfaat itu semata-mata hanya karena Allah SWT guna tercapainya keperawatan yang profesional. serta jangan lupa isi buku tamu, semoga sukses!

Pengikut