KHAIDIR MUHAJ BLOG'SITE
Tempat Asuhan Keperawatan dan Materi Kuliah Keperawatan

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG PENYAKIT KUSTA DAN SIKAP MASYARAKAT TERHADAP PENDERITA KUSTA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kusta adalah penyakit yang masih banyak dijumpai pada masyarakat yang ekonominya menengah kebawah. Dengan pendidikan tentang kesehatan yang masih sangat kurang dan ekonomi keluarga yang sangat rendah. Permasalahan penyakit kusta ini bila dikaji secara mendalam merupakan masalah yang sangat kompleks dan merupakan permasalahan kemanusiaan seutuhnya (http://wardiatiyusuf.blogspot.com/2009/05/kusta.html Akses 15 Nopember 2009)

Dalam kenyataan sehari – hari kita bisa menyaksikan beragam tanggapan masyarakat tentang kusta. Ada yang biasa saja, namun lebih banyak yang takut, sinis, atau merasa jijik sehingga menghindarkan diri untuk bersinggungan dengan mereka. Kurangnya informasi yang benar tentang kusta turut membentuk persepsi keliru tentang mereka. Persepsi tersebut melahirkan stigma menyakitkan yang mengakibatkan terbentangnya jurang pemisah antara masyarakat umum dengan para penyandang kusta yang dipandang berbahaya. Padahal dari sisi medis penyakit kusta tidak lebih berbahaya daripada penyakit flu atau penyakit menular lainnya (Surbakti dkk, 2009)

Pandangan menyudutkan ini berdampak negatif bagi para penyandang kusta. Walaupun petugas kesehatan mengatakan seorang penderita kusta telah sembuh, tetapi masyarakat tetap menganggapnya sebagai penderita kusta. Bahkan penyandang kusta sendiri seringkali memandang cacat fisik permanen yang mereka alami sebagai tanda bahwa mereka memang mengidap penyakit kusta. Persepsi ini berlaku seumur hidup, sehingga kusta bukan semata – mata merupakan masalah kesehatan, melainkan juga masalah sosial (Surbakti dkk, 2009:43)

Masyarakat memahami bahwa para penyandang dan bekas penyandang kusta identik dengan golongan masyarakat miskin dan sebagian besar cacat fisik permanen. Kebanyakan anggota masyarakat masih mengalami ketakutan berinteraksi dengan mereka. Itulah sebabnya, mereka mengalami kesulitan ketika ingin bekerja secara mandiri. Banyak usaha pemerintah, lembaga sosial, maupun perorangan yang berupaya membantu mereka, misalnya menyediakan pelatihan atau dana untuk usaha. Tetapi umumnya upaya ini berakhir dengan kegagalan, karena para penyandang/bekas penyandang kusta tidak leluasa mengembangkan usaha, karena kesulitan mendapatkan konsumen. Oleh karena itu selama para penyandang/bekas penyandang kusta belum diterima masyarakat sama seperti warga lainnya, akan tetap sulit bagi mereka mendapatkan kehidupan sosial ekonomi yang baik.

Menurut Depkes RI (2005) Tujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dilakukan secara berkelanjutan. Salah satu upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dilakukan secara berkelanjutan adalah melalui pembangunan kesehatan. Upaya perbaikan kesehatan antara lain dilakukan melalui pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, penyehatan lingkungan pemukiman dan perbaikan gizi masyarakat. Berbagai upaya pembangunan kesehatan telah di upayakan oleh pemerintah bersama masyarakat, namun penyakit menular masih menjadi masalah kesehatan masyarakat termasuk penyakit kusta. Penyakit kusta tersebar diseluruh dunia dengan endemisitas yang berbeda-beda. Distribusi penyakit kusta dunia pada 2003 menunjukkan India sebagai negara dengan jumlah penderita terbesar, diikuti oleh Brasil dan Myanmar (http://syair79.wordpress.com/20/09/09/01/skrining-dan-studi-epidemiologi-penyakit-kusta-di-puskesmas-kulisusu-kabupaten-buton-utara-sulawesi-tenggara-tahun-2009/ Akses 24 Oktober 2009)

Menurut Depkes RI (2005) Pada tahun 2003, distribusi kusta menurut waktu yaitu Penderita terdaftar di Indonesia pada akhir tahun Desember 2003 sebanyak 18.312 penderita yang terdiri dari 2.814 tipe Paucibasillary (PB) dan 15.498 tipe Multibacillary (MB) dengan Prevalensi Rate 0,86 per 10.000 penduduk terdapat di 10 provinsi, yaitu : Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, NAD, Papua, DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, Maluku dan Nusa Tenggara Timur (http://syair79.wordpress.com/20/09/09/01/skrining-dan-studi-epidemiologi-penyakit-kusta-di-puskesmas-kulisusu-kabupaten-buton-utara-sulawesi-tenggara-tahun-2009/ Akses 24 Oktober 2009)

Dari hasil survei di Propinsi Kalimantan Selatan hingga Juni 2007, tercatat jumlah penderita kusta tipe Paucibasillary (PB) mencapai 24 orang dan penderita kusta tipe Multibacillary (MB) mencapai 281 orang. Secara keseluruhan, Prevalensi Kusta di Kalimantan Selatan tergolong rendah yakni kurang dari satu penderita per 10.000 penduduk. Namun di beberapa kabupaten seperti Hulu Sungai Tengah, Barito Kuala, Tapin dan Balangan, penyakit ini tergolong masih tinggi yakni lebih dari satu penderita per 10.000 penduduk (http://hasanzainuddin.wordpress.com/2008/03/02/kusta-masih-jadi-persoalan-serius-di-kalsel/)


Untuk Selengkapnya..DOWNLOAD Password khaidirmuhaj
SEMOGA BERMANFAAT!
0 komentar:
[Make Your Own] by Khaidir Muhaj | [Close]

Selamat Datang !!

selamat berkunjung di blog saya yang sederhana ini, semoga yang teman cari ada disini, silahkan copy paste artikel dalam blog ini, dgn menyertakan atau tdk menyertakan sumbernya, dan jangan lupa sebagai tanda persahabatan & terimakasih isilah buku tamu.

My Family

My Family
Alumni SPK Kesdam VI/TPR Banjarmasin. Alumnus Politeknik kesehatan Banjarmasin program khusus PKM Rantau. Seorang PNS PemKab. Tapin, Unit Kerja Puskesmas Lokpaikat - Rantau - Kalsel .

Yang Sedang Berkunjung

Anda Pengunjung Yang Ke

TERIMA KASIH

Telah berkunjung, mohon maaf jika terdapat kekurangan dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dan tidak dapat memenuhi permintaan & pertanyaan teman teman, karena saya juga dalam proses pembelajaran dan terus akan belajar. dan seandainya artikel ini bermanfaat itu semata-mata hanya karena Allah SWT guna tercapainya keperawatan yang profesional. serta jangan lupa isi buku tamu, semoga sukses!

Pengikut