IMUNISASI
23:51
A. Pengertian Dasar Imunisasi
Dalam bidang imunologi kuman atau racun kuman (toksin) disebut sebagai antigen. Secara khusus antigen tersebut merupakan bagian protein kuman atau protein racunya. Bilan antigen untuk pertama kali masuk kedalam tubuh manusia, maka sebagai reaksinya tubuh akan membentuk zat anti. Bila antigen itu kuman, zat anti yang dibuat tubuh disebut antibody. Zat anti terhadap racun disebut antitoksin. Berhasil tidaknya tubuh anak memusnahkan antigen atau kuman itu bergantung kepada junlah anti zat yang dibentuk.
Pada tempat-tempat yang strategis terdapat alat tubuh yang dapat memproduksi zat anti. Tempat itu adalah hati, limpa dan kelenjar getah bening. Kelenjar getah bening misalnya, tersebar luas diseluruh jaringan tubuh, seperti disekitar rongga hidung dan mulut, leher, ketiak, selangkangan, rongga perut “amandel” atau tonsil merupakan kelenjar getah bening yang terdapat pada rongga mulut sebelah dalam. Bebagai alat tubuh yang disebutkan tadi merupakan pusat jaringan terbentuknya kekebalan pada manusia. Kerusakan pada alat ini akan menyebabkan seringnya anak terserang berbagai penyakit infeksi; lazimnya dikatakan “daya tahan tubuh anak menurun”.
Pada umumnya tubuh anak tidak mampu melawan antigen yang kuat. Antigen yang kuat adalah jenis kuman yang ganas / virulen. Karena itu anak akan menjadi sakit bila terjangkit kuman ganas.
Jadi pada dasarnya reaksi pertama tubuh anak untuk membentuk antibody/toksin terhadap antigen tidaklah terlalu kuat. Tubuh belum mempunyai ”pengalaman” untuk mengatasinya. Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan berikutnya, tubuh anak sudah pandai membuat zat anti. Pembentukannya pun sangat cepat. Dalam waktu yang singkat setelah antigen atau kuman masuk kedalam tubuh, akan dibentuk jumlah anti yang cukup tinggi. Dengan cara reaksi antigen-antibody, tubuh anak dengan kekuatan zat antinya dapat menghancurkan antigen atau kuman: berarti bahwa anak telah menjadi kebal (imun) terhadap penyakit tersebut.
Ada 2 jenis kekebalan yang bekerja dalam tubuh bayi/anak :
1) Kekebalan Aktif
Ada kekebalan yang dibuat sendiri oleh tubuh untuk menolak terhadap suatu penyakit tertentu dimana prosesnya lambat tetapi dapat bertahan lama.
Kekebalan aktif dapat dibagi dalam 2 jenis :
a) Kekebalan aktif alamiah, dimana tubuh anak membuat kekebalan sendiri setelah mengalami/sembuh dari suatu penyakit. Misalnya anak yang telah menderita campak setelah sembuh tidak akan terserang campak lagi karena dalam tubuhnya telah terbentuk zat kebal atau antobody terhadap campak.
b) Kekebalan aktif buatan, yaitu kekebalan yang dibuat oleh tubuh setelah mendapat vaksin (imunisasi), misalnya anak diberi vaksinasi BCG, DPT, Polio, dan lainnya.
2) Kekebalan Pasif
Yaitu tubuh anak tidak membuat zat antibodi sendiri, tetapi kekebalan tersebut diperoleh dari luar setelah memperoleh zat penolak,sehingga proses cepat tetapi tidak bertahan lama.
Kekebalan pasif ini dapat terjadi dengan 2 cara :
a) Kekebalan pasif alamiah atau kekebalan pasif bawaan, yaitu kekebalan yang diperoleh bayi sejak lahir dari ibunya. Kekebalan ini tidak berlangsung lama (kira-kira hanya sekitar 5 bulan setelah bayi lahir) misalnya defteri, morbili,tetanus.
b) Kekebalan pasif buatan, dimana kekebalan ini diperoleh setelah mendapat suntikan zat penolak. Misalnya pemberian vaksinasi ATS (anti tetanus serum). Pada anak yang mengalami luka kecelakaan (serum adalah zat kebal/antibody yang dibuat oleh tubuh orang lain atau dari tubuh binatang).
Imunisasi adalah suatu usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak terhadap penyakit tertentu, imunisasi memberikan perlindungan pada tubuh manusia agar tidak mudah terserang penyakit. Cara pemberian imunisasi adalah dengan memasukan vaksin kedalam tubuh kita, melalui suntikan atau obat tetes yang diminumkan, karenanya imunisasi sering disebut juga Vaksinasi.
Dengan dasar reaksi antigen-antibody ini tubuh akan memberikan reaksi perlawanan terhadap benda-benda asing dari luar(kuman, virus, racun, bahan kimia) yang mungkin akan merusak tubuh. Dengan demikian anak terhindar dari ancaman luar. Akan tetapi setelah beberapa bulan/tahun jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang karena dirombak oleh tubuh, sehingga imunitas tubuh pun akan menurun. Agar tubuh tetap kebal akan dilakukan perangsangan kembali oleh antigen, artinya anak tersebut harus mendapat suntikan/imunisasi ulang.
Satu macam zat kebal atau antibody terbentuk dari satu macam kuman penyakit yang sudah dilemahkan atau dimatikan (vaksin). Karenanya satu macam zat kebal hanya ampuh terhadap satu macam jenis penyakit. Jadi untuk berbagai penyakit diperlukan berbagai macam zat kebal.
Pada dasarnya vaksin dibuat dari :
(1) Kuman yang telak dimatikan,
(2) Zat racun kuman (toksin) yang telah dilemahkan,
(3) Bagian kuman tertentu/komponen kuman yang biasanya berupa protein khusus.
-Contoh vaksin yang terbuat dari kuman yang dimatikan : vaksin batuk rejan, vaksin polio jenis salk.
-Contoh vaksin yang terbuat dari kuman hidup yang dilemahkan : vaksin BCG, vaksin polio jenis sabin, vaksin campak.
-Contoh vaksin yang dibuat dari racun/toksin kuman yang dilemahkan (disebut pula toksoid) : toksoid tetanus, dan toksoid difteria.
-Contoh vaksin yang dibuat dari protein khusus kuman : vaksin Hepatitis B
B. Tujuan Dari Imunisasi
a. Untuk mencegah terjadinya infeksi tertentu
b. Apabila terjadi penyakit, tidak terlalu parah dan dapat mencegah gejala yang dapat menimbulkan cacat/kematian
C. Persyaratan Pemberian Imunisasi
Untuk mempergunakan vaksin, beberapa hal yang harus diperhatikan sbb:
1) Pada bayi dan anak yang sehat
2) Dilarang pada bayi yang sedang sakit
a) Sakit keras
b) Dalam masa tunas suatu penyakit
c) Defesiensi immunologi
3) Vaksin harus baik, disimpan dalam lemari es dan belum lewat masa berlakunya
4) Pemberian imunisasi dengan cara yang tepat
5) Mengetahui jadwal, vaksinasi dengan melihat umur dan jenis imunisasi yang telah diberikan
6) Meneliti jenis vaksin yang akan diberikan
7) Memperhatikan dosis yang akan diberikan
D. Reaksi Pada Tubuh Bayi dan Anak Setelah Imunisasi
Reaksi yang mungkin terjadi setelah imunisasi adalah
1) Reaksi Lokal
Biasanya terlihat pada tempat penyuntikan, misalnya terjadi pembengkakan yang kadang-kadang disertai demam, agak sakit.
2) Reaksi Umum
Dapat terjadi kejang-kejang, shock,dll
Pada keadaan pertama (reaksi lokal) ibu tak usah panik sebab panas akan sembuh (1-2 hari) dan itu berarti kekebalan sudah dimiliki oleh bayi. Tetapi pada keadaan kedua (reaksi umum) sebaiknya ibu konsultasi pada dokter/bidan.
E. Jenis Vaksin Dan Imunisasi
Sesuai dengan program pemerintah (Departemen Kesehatan) tentang Program Pengembangan Imunisasi (PPI), maka anak diharuskan mendapat perlindungan terhadap 7 jenis penyakit utama, yaitu : Penyakit TBC, difteria, tetanus, batuk rejan (pertusis), poliomyelitis, campak, dan hepatitis.B.
Harus menjadi perhatian dan kewajiban orang tua untuk memberi kesempatan kepada anaknya untuk mendapat imunisasi lengkap, sehingga sasaran pemerintah agar setiap anak mendapat imunisasi dasar terhadap 7 penyakit utama yang dapat dicegah dengan imunisasi.
1) Vaksin BCG
a. Vaksinasi dan Jenis Vaksin
Pemberian imunisasi BCG bertujuan untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberculosis (TBC). Vaksin TBC mengandung kuman BCG (bacillus calmette-guerin) yang dibuat dari bibit penyakit/kuman hidup yang sudah dilemahkan.
b. Penjelasan Penyakit
Seseorang anak akan menderita TBC karena terhisapnya percikan udara yang mengandung kuman TBC, yang berasal dari orang dewasa berpenyakit TBC atau karena minum susu segar yang belum disucihamakan (tidak direbus dulu)
Pada anak yang terinfeksi, kuman TBC dapat menyerang berbagai alat tubuh, yang diserangnya adalah paru (paling sering), kelenjar getah bening, tulang, sendi, ginjal, hati, atau selaput otak. TBC selaput otak merupakan TBC yang paling berat. Penyakit TBC membuat anak sangat menderita serta merongrong kehidupannya, sehingga menyebabkan anak lesu, tidak bergairah dan pertumbuhan terhambat seperti tubuh kecil/kurus, lamban atau bodoh.
c. Cara Imunisasi
Pemberian Imunisasi BCG sebaiknya dilakukan ketika bayi baru lahir sampai berumur 12 bulan, tetapi sebaiknya pada umur 0-2 bulan. Hasil yang memuaskan terlihat apabila diberikan menjelang umur 2 bulan. Imunisasi BCG cukup diberikan 1 kali saja. Pada anak yang berumur lebih dari 2 bulan, dianjurkan untuk melakukan uji mantoux positif, anak tersebut layaknya tidak mendapatkan imunisasi BCG. Imunisasi ulang pada anak umur 5 tahun.
Sebelum menyuntikan vaksin ini harus dilarutkan terlebih dahulu dengan 4 cc pelarut/Nacl 0,9%, vaksin yang sudah dilarutkan harus digunakan dalam waktu 3 jam. Dosis yang digunakan sebanyak 0,05 cc. Sesuai kesepakatan maka biasanya penyuntikan BCG dilakukan secara intracutan pada lengan atas. Karena luka suntikan meninggalkan bekas dan mengingat segi kosmetiknya, pada bayi perempuan dapat diminta suntikan dipaha kanan atas.
Bila imunisasi ”berhasil”, setelah beberapa minggu ditempat suntikan akan terdapat suatu benjolan kecil, tempat suntikan itu kemudian berbekas, kadang-kadang benjolan tersebut merah dan akan menjadi abses kecil dengan garis tengah ± 10 mm. Luka ini akan sembuh sendiri dan meninggalkan jaringan parut (scar) bergaris tengah 3-7 mm.
d. Kekebalan
Kekebalan yang diperoleh anak tidak mutlak 100%, seandainya bayi yang telah diimunisasi terjangkit juga penyakit TBC, maka ia akan menderita penyakit TBC dalam bentuk yang ringan. Ia pun akan terhindar dari kemungkinan mendapat TBC yang berat, seperti TBC paru yang parah, TBC tulang atau TBC selaput otak yang dapat mengakibatkan cacat seumur hidup dan dapat membahayakan jiwa anak.
e. Reaksi Imunisasi
Biasanya setelah disuntikan BCG bayi yang tidak akan menderita demam . Bila ia demam setelah imunisasi BCG umumnya disebabkan oleh keadaan lain. Untuk hal ini dianjurkan agar anda berkonsultasi.
f. Efek Samping
Umumnya pada imunisasi BCG jarang dijumpai akibat samping. Mungkin terjadi pembengkakan kelenjar getah bening setempat yang terbatas dan biasanya sembuh sendiri walaupun lambat. Bila suntikan BCG dilakukan dilengan atas, pembengkakan kelenjar terdapat diketiak atauleher bagian bawah. Suntikan dipaha dapat menimbulkan pembengkakan kelenjar diselangkangan. Komplikasi pembengkakan kelenjar ini biasanya disebabkan karena teknik penyuntikan yang kurang tepat, yaitu penyuntikan terlalu dalam.
Tindakan untuk mengatasinya : jagalah agar peradangan tersebut tetap bersih dan tidak infeksi dengan cara membalut dengan kasa steril.
g. Kontra Indikasi
Adapun kontra indikasi imunisasi BCG diantaranya :
1. Anak yang sakit kulit/infeksi kulit ditempat penyuntikan
2. Anak yang telah terjangkit penyakit TBC
3. Anak yang menunjukan mantoux positif
2) Vaksin DPT
a. Vaksinasi dan Jenis Vaksin
Manfaat pemberian imunisasi ini ialah untuk menimbulkan kekebalan aktif dalam waktu yang bersamaan terhadap penyakit difteria, pertusis (batuk rejan) dan tetanus.
• Vaksin difteria terbuat dari toksin kuman difteria yang telah dilemahkan (toksoid). Biasanya diolah dan dikemas bersama dengan vaksin tetanus dalam bentuk vaksin DT, atau dengan vaksin tetanus dan pertusis (DPT)
• Vaksin terhadap pertusis terbuat dari kuman Bordetella Pertussis yang telah dimatikan. Selanjutnya dikemas bersama dengan vaksin difteria dan tetanus (DPT,vaksin tripe)
• Vaksin tetanus yang digunakan untuk imunisasi aktif adalah toksoid tetanus, yaitu toksin kuman tetanus yang telah dilemahkan dan kemudian dimurnikan. Ada 3 macam kemasan vaksin tetanus, yaitu :
1. Bentuk kemasan tunggal (TT)
2. Kombinasi dengan vaksin difteria (DT)
3. Kombinasi dengan vaksin difteria dan pertusis (DPT)
b. Penjelasan Penyakit
1) Difteria : penyakit difteria disebabkan oleh sejenis bakteri yang disebut corynebacterium diphtheriae. Sifatnya sangat ganas dan mudah menular, penularannya terjadi melalui udara yang tercemar bakteri dari ingus dan lendir yang keluar dari tenggorokan penderita difteria atau oleh pembawa kuman (karier)
Seorang karier akan tetap berkeliaran dan bermain dengan temannya karena ia sendiri memang tidak sakit. Anak yang tejangkit difteria akan menderita demam tinggi, batuk dan pilek disertai sukar menelan dan sukar bernapas. Hal ini disebabkan oleh bakteri yang membentuk selaput putih ditenggorokan pada saluran nafas. Penderita penyakit ini sering mengeluarkan ingus yang bercampur darah. Racun difteria juga dapat menyerang otot jantung, ginjal, dan beberapa serabut syaraf.
2) Pertusis : pertusis atau batuk rejan, atau lebih dikenal dengan batuk 100 hari, disebabkan oleh kuman bordetella pertusis. Penyakit ini cukup parah bila diderita oleh anak balita. Bahkan dapat menyebabkan kematian pada bayi yang berumur kurang dari 1 tahun. Gejalanya sangat khas, yaitu anak tiba-tiba batuk keras secara terus menerus, sukar berhenti, muka menjadi merah atau kebiruan, keluar air mata dan kadang-kadang sampai muntah. Karena batuk sangat keras, mungkin akan disertai dengan keluarnya sedikit darah. Batuk akan berhenti setelah ada suara melengking pada waktu menarik nafas. Kemudian anak nampak letih dan wajah yang lesu. Batuk semacam ini terutama terjadi pada malam hari. Komplikasi yang sering terjadi adalah kejang, kerusakan otak, atau radang paru.
3) Tetanus : Penyebab penyakit tetanus adalah kuman clostridium tetani yang banyak tersebar ditanah. Kuman tetanus masuk kedalam tubuh melalui beberapa cara :
a. Tali pusar yang dipotong dengan alat yang tidak steril (bebas kuman)
b. Luka tusuk yang dalam dan kotor
c. Tali pusar bayi yang tidak dirawat dengan baik dan sehat
d. Luka kecelakaan lalulintas atau jatuh tersungkur di aspal, terkena pecahan kaca,dll.
Penyakit ini ditandai dengan gejala-gejala : penderita panas tinggi dan kaku kuduk, kaku tulang belakang atau kaku rahang bawah dan dapat menjadi kejang-kejang terutama bila kena rangsangan cahaya, sentuhan, ataupun suara, sehingga penderita tidak buka mulut, tidak bisa makan dan bernafas. Anak yang terserang tetanus dapat meninggal dunia.
c. Cara Imunisasi
1) Pada bayi 2-11 bulan sebanyak 3 kali suntikan dengan selang 4 minggu dengan cara IM (intra muskuler) atau subcutan. Diberikan 3 kali karena suntikan pertama tidak memberikan apa-apa dan baru akan memberikan perlindungan terhadap serangan penyakit apabila telah mendapat suntikan vaksin DPT sebanyak 3 kali.
2) Imunisasi ulang pertama dilakukan pada usia 1,5-2 tahun atau kurang lebih 1 tahun setelah imunisasi dasar ke-3
3) Diulang lagi dengan vaksin DT pada usia 5-6 tahun (kelas 1 SD) vaksin pertusis tidak dianjurkan untuk anak berusia lebih dari 5 tahun karena reaksi yang timbul dapat lebih hebat selain itu perjalanan penyakit pada usia > 5 tahun tidak parah.
4) Diulang lagi pada usia 12 tahun (menjelang tamat SD). Anak yang mendapat DPT pada waktu bayi diberikan DT 1 kali saja dengan dosis 0,5 cc dengan cara IM, dan yang tidak mendapatkan DPT pada waktu bayi diberikan DT sebanyak 2 kali dengan interval 4 minggu dengan dosis 0,5 cc secara IM, apabila hal ini meragukan tentang vaksinasi yang didapat pada waktu bayi maka tetap diberikan 2 kali suntikan. Bila bayi mempunyai riwayat kejang sebaiknya DPT diganti dengan DT dengan cara yang sama dengan DPT.
d. Kekebalan
Kekebalan yang diperoleh dari vaksinasi DPT adalah :
1) Vaksinasi difteri 80-90 %
2) Vaksinasi pertusis 50-60 %
3) Vaksinasi tetanus 90-95 %
e. Reaksi Imunisasi
Reaksi yang mungkin terjadi biasanya demam ringan, pembengkakan dan rasa nyeri ditempat suntikan selama 1-2 hari.
f. Efek Samping
Kadang-kadang terdapat akibat efek samping yang lebih berat seperti demam tinggi atau kejang, yang biasanya disebabkan oleh unsur pertusisnya. Bila hanya diberikan DT (difteri dan tetanus) tidak akan menimbulkan akibat samping demikian.
Tindakan untuk mengatasinya :
a. Mengatasi panas dengan memberikan obat penurun panas (¼ tablet)
b. Anak diberi minum dan dikompres air dingin
c. Anak jangan dimandikan, dilap saja dengan handuk yang sudah hangat
d. Peradangan bawalah ke petugas medis yang merawatnya
e. Bila anak kejang (stuip) segera dibawa ke dokter/puskesmas terdekat. Selama dalam perjalanan diberi kompres air dingin. Perhatian jangan sampai lidah tergigit bila perlu beri ganjal sapu tangan yang digulung antara gigi.
f. Pembengkakan dikompres dengan air dingin.
g. Kontra Indikasi
Imunisasi DPT tidak boleh diberikan pada anak :
1. Anak yang sedang sakit parah
2. Riwayat kejang bila demam
3. Panas tinggi lebih dari 38OC
4. Penyakit gangguan kekebalan (defesiensi imunologik)
5. Anak dengan batuk yang diduga mungkin sedang mengalami batuk rejan pada tahap awal.
3) Vaksin DT (Difteria,Tetanus)
a. Jenis Vaksin
Vaksin ini dibuat untuk keperluan khusus, misalnya anak anda tidak diperbolehkan/tidak lagi memerlukan imunisasi pertusis, tetapi masih memerlukan imunisasi difteri dan tetanus.
b. Cara Imunisasi
Diberikan sebanyak 2 kali dengan selang pemberian selama 4 minggu. DT ini diberikan kepada anak usia 7-11 tahun (anak kelas 1 SD) berupa suntikan dilengan atas.
c. Efek Samping
Biasanya tidak ada atau hanya berupa demam ringan dan pembengkakan lokal ditempat suntikan selama 1-2 hari.
d. Kontra Indikasi
Imunisasi DPT hanya tidak boleh diberikan pada anak yang sakit parah atau sedang menderita demam tinggi. Dengan pengawasan dokter, anak yang pernah kejang masih bisa diberikan imunisasi DT.
4) Vaksin Tetanus
a. Vaksinasi dan Jenis Vaksin
Seperti yang telah dikemukakan, terhadap penyakit tetanus dikenal 2 jenis imunisasi :
1. Imunisasi aktif : vaksin yang digunakan adalah toksoid tetanus, yaitu toksin kuman tetanus yang telah dilemahkan dan kemudian dimurnikan. 3 macam kemasan vaksin tetanus yaitu : bentuk kemasana tunggal (TT), kombinasi dengan difteria (DT), kombinasi dengan vaksin difteria dan pertusis (DPT)
2. Imunisasi pasif : ATS (anti tetanus serum) dapat dipakai untuk pencegahan dan pengobatan penyakit tetanus
b. Penjelasan Penyakit
Lihat pada penyakit tetahus pada vaksin DPT
c. Cara Imunisasi
Imunisasi dasar dan ulang pada anak diberikan dengan imunisasi DPT/DT. Sampai saat ini pada ibu hamil pemberian imunisasi tetanusdiberikan sebanyak 2 kali, masing-masing pada bulan ke-7 dan ke-8. Tetapi dimasa mendatang diharapkan semua perempuan telah mendapatkan imunisasi tetanus minimal 5 kali sehingga memiliki daya perlindungan terhadap tetanus seumur hidup. Dengan demikian bayi yang dikandungnya kelak akan terlindung dari penyakit tetanus neonatorum yang mematikan. Imunisasi dilakukan pada lengan atas.
Selain luka, di Indonesia sumber utama lain tempat masuknya kuman clostrium tetani pada anak adalah radang telinga (otitis media) atau disebut juga ”kongean”. Gejalanya berupa keluarnya cairan berbau dari liang telinga.
d. Kekebalan
Daya proteksi vaksin tetanus sangat baik, yaitu sebesar 90-95 %.
e. Reaksi Imunisasi
Reaksi akibat imunisasi aktif tetanus biasanya tidak ada. Mungkin terdapat demam ringan atau rasa nyeri. Rasa gatal dan pembengkakan ringan ditempat suntikan yang berlangsung selama 1-2 hari.
f. Efek Samping
Pada imunisasi aktif dengan toksoid tetanus hampir tidak ada efek samping, pada pemberian imunisasi pasif dengan ATS mungkin terjadi reaksi yang lebih serius, seperti gatal seluruh tubuh, nyeri kepala bahkan renjatan (shock). Oleh karena itu penyuntikan ATS sebaiknya dibawah pengawasan dokter.
g. Kontra Indikasi
Tidak ada, kecuali pada anak yang sakit parah.
5) Vaksin Poliomielitis
a. Vaksinasi dan Jenis Vaksin
Vaksin polio terdapat dalam 2 kemasan
1. Vaksin yang mengandung virus polio tipe I,II dan III yang sudah dimatikan (vaksin salk), cara pemberian dengan penyuntikan
2. Vaksin yang mengandung virus polio tipe I,II dan III yang masih hidup tetapi telah dilemahkan (vaksin sabin), cara pemberiannya melalui mulut dalam bentuk pil atau cairan
b. Penjelasan Penyakit
Poliomielitis ialah penyakit infeksi akut yang disesabkan oleh virus polio. Telah dikenal 3 jenis virus polio yaitu tipe I,II dan III. Virus polio ini akan merusak bagian anterior (bagian muka) susunan syaraf pusat tulang belakang. Gejala penyakit ini sangat bervariasi, dari gejala ringan sampai timbul kelumpuhan, cacat seumur hidup bahkan mungkin kematian. Gejala umum yang mudah dikenal ialah anak mendadak menjadi lumpuh pada salah satu anggota geraknya, setelah ia menderita demam selama 2-5 hari. Bila kelumpuhan ini terjadi pada otot pernafasan, mungkin anak akan meninggal karena sukar bernafas. Penyakit ini dapat langsung menular dari seorang penderita polio atau dengan melalui makanan.
c. Cara Imunisasi
Di Indonesia dipakai vaksin sabin yang diberikan melalui mulut dengan dosis 2 tetes. Imunisasi dasar diberikan sejak anak baru lahir atau berumur beberapa hari, dan selanjutnya setiap 4-6 minggu. Vaksin polio dilakukan sampai 4 kali. Pemberian vaksin polio dapat dilakukan bersamaan dengan BCG, vaksin hepatitis.B, dan DPT. Bagi bayi yang sedang menetek maka ASI diberikan seperti biasa karena ASI tidak berpengaruh terhadap vaksin polio. Imunisasi ulangan diberikan bersamaan dengan imunisasi ulang DPT dengan interval 2 jam.
Imunisasi ulang masih diperlukan walaupun seorang anak pernah terjangkit polio. Alasannya adalah mungkin anak yang menderita polio itu hanya terjangkit oleh virus polio tipel. Artinya, bila penyakitnya telah menyembuh ia hanya mempunyai kekebalan terhadap virus polio tipe I. Tetapi tidak mempunyai kekebalan terhadap jenis virus polio tipe II dan III.
Karena itu untuk mendapat kekebalan terhadap ke-3 jenis virus tersebut perlu diberikan imunisasi ulang polio.
d. Kekebalan
Daya proteksi polio sangat baik, yaitu sebesar 95-100 %
e. Reaksi Imunisasi
Biasanya tidak ada, walaupun ada pada bayi akan terdapat berak-berak ringan.
f. Efek Samping
Pada imunisasi polio hampir tidak ada efek samping. Bila ada, mungkin berupa kelumpuhan anggota gerak seperti pada penyakit polio sebenarnya.
g. Kontra Indikasi
Pada anak dengan diare berat atau yang sedang sakit parah, imunisasi polio sebaiknya ditangguhkan, demikian juga pada anak yang menderita penyakit gangguan kekebalan (difisiensi imun). Alasan untuk tidak memberikan vaksin polio pada keadaan diare berat adalah kemungkinan terjadinya diare yang lebih parah. Pada anak dengan penyakit batuk, pilek, demam, atau diare ringan imunisasi polio dapat diberikan seperti biasanya.
6) Vaksin Campak (Morbili)
a. Vaksinasi dan Jenis Vaksin
Imunisasi diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit campak secara aktif. Vaksin campak mengandung virus campak hidup yang telah dilemahkan. Vaksin campak yang beredar di Indonesia dapat diperoleh dalam bentuk kemasan kering tunggal atau dalam kemasan kering kombinasi dengan vaksin gondong/bengok (mumps) dan rubella (campak jerman). Di Amerika Serikat kemasan terakhir ini dikenal dengan nama vaksin MMR (measles-mumps-rubella vaccine)
b. Penjelasan Penyakit
Penyakit ini sangat mudah menular, penularannya dapat terjadi melalui persinggungan (kontak) dengan penderita atau percikan liur penderita, dan melalui udara (air bone). Kuman penyebabnya ialah sejenis virus yang termasuk kedalam golongan paramiksovirus. Gejala yang khas yaitu timbulnya bercak-bercak merah dikulit (eksantem), 3-5 hari setelah anak menderita demam, batuk, atau pilek. Bercak merah ini semula timbul pada pipi dibawah terlinga.
Kemudian menjalar kemuka, tubuh, dan anggota gerak. Pada stadium berikutnya bercak merah tersebut akan berwarna coklat kehitaman dan akan menghilang dalam waktu 7-10 hari kemudian. Tahap penyakit ketika timbul gejala disebut stadium kataral. Tahap penyakit ketika kemudian timbul bercak merah dikulit disebut stadium eksantem. Pada stadium kataral penyakit campak sangat mudah menular kepada anak lain. Daya tular ini akan berkurang pada stadium eksantem.
Pada waktu stadium kataral dan stadium eksantem anak tampak sakit berat, lesu, dan tidak ada nafsu makan. Sebenarnya penyakit campak sendiri merupakan penyakit yang terbatas dan dapat sembuh sendiri, tetapi sering diikuti oleh komplikasi yang cukup berat. Komplikasi penyakit campak yang berat ialah radang otak (ensefalitis atau ensefalopati), radang paru, radang saluran kemih, dan menurunnya keadaan gizi anak. Terutama pada anak yang kurang gizi, sering terdapat komplikasi radang paru yang mungkin dapat mengakibatkan kematian.
c. Cara Imunisasi
Menurut WHO imunisasi campak dapat dilakukan dengan 1 kali suntikan setelah bayi berumur 9 bulan. Lebih baik lagi setelah bayi berumur lebih dari 1 tahun. Karena kekebalan yang diperoleh langsung seumur hidup, maka tidak perlu revaksinasi (imunisasi ulang) lagi. Di Indonesia keadaannya berlainan, kejadian campak masih tinggi dan sering dijumpai bayi menderita penyakit campak ketika ia berumur 6-9 bulan, jadi pada saat sebelum ketentuan batas umur 9 bulan untuk mendapat vaksin campak seperti yang dianjurkan WHO.
Dengan memperhatikan kejadian ini, sebenarnya imunisasi campak dapat diberikan sebelum bayi berumur 9 bulan, misalnya pada umur 6-7 bulan ketika kekebalan pasifdiperoleh dari ibu mulai menghilang akan tetapi ia harus mendapatkan 1 kali suntikan ulang setelah berumur 15 tahun.
Pemberian vaksin campak melalui suntikan subcutan (pada paha didaerah ⅓ sisi atas luar) dengan dosis 0,5 ml.
d. Kekebalan
Daya proteksi imunisasi campak sangat tinggi yaitu 96-99 %, menurut penelitian, kekebalan ini berlangsung seumur hidup. Sama dengan kekebalan yang diperoleh bila anak terjangkit campak secara alamiah.
e. Reaksi Imunisasi
Biasanya tidak terdapat reaksi akibat imunisasi. Mungkin terjadi demam ringan dan tampak sedikit bercak merah pada pipi dibawah telinga pada hari ke 7-8 setelah penyuntikan. Mungkin pula terdapat pembengkakan pada tempat suntikan.
f. Efek Samping
Efek samping sangat jarang, mungkin terjadi kejang yang ringan dan tidak berbahaya pada hari ke 10-12 setelah penyuntikan. Dapat terjadi radang otak (ensefalitis/ensefalopati) dalam 30 hari setelah penyuntikan tetapi kejadian ini jarang terjadi (1:1.000.000)
g. Kontra Indikasi
Kontra indikasi pada pemberian vaksinasi campak adalah :
1. Anak yang sakit parah
2. Anak yang menderita TBC tanpa pengobatan
3. Anak yang menderita kurang gizi dalam derajat berat
4. Anak dengan penyakit difisiensi imun
5. Anak yang menderita penyakit keganasan (leukemia,limpoma)
6. pada anak yang pernah menderita kejang, imunisasi campak dapat diberikan seperti biasanya, asalkan dalam pengawasan dokter.
7) Vaksin Hepatitis.B
a. Vaksinasi dan Jenis Vaksin
Vaksinasi dimaksudkan untuk mendapatkan kekebalan aktif terhadap penyakit hepatitis.B. vaksin terbuat dari bagian virus hepatitis.B yang dinamakan HbsAg, yang dapat menimbulkan kekebalan tetapi tidak menimbulkan penyakit. HbsAg ini dapat diperoleh dari serum manusia atau dengan cara rekayasa genetic dengan bantuan sel ragi.
b. Penjelasan Penyakit
Penyakit hepatitis.B adalah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis.B diantara 10 % pengindap hepatitis.B akan menjadi karier menahun, yang setelah beberapa tahun kemudian dapat menunjukan gejala kanker hati atau serosis hati.
Cara penularan hepatitis.B dapat melalui mulut, tranfusi darah, dan jarum suntik yang tercemar. Pada bayi cara penularannya adalah dari ibu melalui plasenta (uri) semasa dalam kandungan atau pada saat kelahiran.
Kelainan utama pada penyakit ini disebabkan oleh kerusakan pada hati. Virus hepatitis.B yang masuk dalam tubuh akan berkembang biak dalam jaringan hati dan kemudian merusaknya. Gejala yang timbul dapat bervariasi dari tanpa gejala sampai kelainan hati yang berat atau penyakit yang berjalan menahun (kronis). Biasanya gejala penyakit hepatitis ialah kekuningan pada mata, rasa lemah, mual, muntah, tidak nafsu makan, dan demam. Mereka yang menderita penyakit infeksi kronis ini merupakan sumber untuk penularan penyakit hepatitis.B
c. Cara Imunisasi
Imunisasi aktif dilakukan dengan cara pemberian suntikan dasar sebanyak 3 kali dan jarak 1 bulan antara suntikan 1 dan 2, dan 5 bulan antara suntikan 2 dan 3. imunisasi ulang diberikan 5 tahun setelah imunisasi dasar.
Khusus bayi yang baru lahir dari seorang ibu yang mengindap virus hepatitis.B, harus dilakukan imunisasi pasif memakai imunoglobulin khusus anti hepatitis.B dalam waktu 24 jam setelah kelahiran. Berikutnya bayi tersebut harus pula mendapat imunisasi aktif 24 jam setelah lahir, dengan penyuntikan vaksin hepatitis.B dengan cara pemberian yang sama seperti biasa.
d. Kekebalan
Daya proteksi vaksin hepatitis.B cukup tingi, yaitu berkisar antara 94-96 %
e. Reaksi Imunisasi
Reaksi imunisasi yang terjadi biasanya berupa nyeri pada tempat suntikan, yang mungkin disertai dengan timbulnya rasa panas atau pembengkakan. Reaksi ini akan menghilang selama 2 hari. Reaksi lain yang mungkin terjadi ialah demam ringan.
f. Efek Samping
Selama ini tidak pernah dilaporkan adanya efeksamping.
g. Kontra Indikasi
Imunisasi tidak dapat diberikan kepada anak yang menderita sakit berat. Vaksinasi hepatitis.B dapat diberikan kepada ibu hamil dengan aman dan tidak akan membahayakan janin. Bahkan akan memberikan perlindungan kepada janin selama dalam kandungan ibu maupun kepada bayi selama beberapa bulan setelah lahir.
DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI.1992. Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. Jakarta : Depkes.
Kusumawati, Tuty, dkk. 1990. Buku Pegangan Kader Seri Imunisasi. Jakarta :
Perdhaki-PPA.
Makrum,AH. 1997. Imunisasi. Jakarta : FKUI.
Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatric. Jakarta : FKUI.
Dalam bidang imunologi kuman atau racun kuman (toksin) disebut sebagai antigen. Secara khusus antigen tersebut merupakan bagian protein kuman atau protein racunya. Bilan antigen untuk pertama kali masuk kedalam tubuh manusia, maka sebagai reaksinya tubuh akan membentuk zat anti. Bila antigen itu kuman, zat anti yang dibuat tubuh disebut antibody. Zat anti terhadap racun disebut antitoksin. Berhasil tidaknya tubuh anak memusnahkan antigen atau kuman itu bergantung kepada junlah anti zat yang dibentuk.
Pada tempat-tempat yang strategis terdapat alat tubuh yang dapat memproduksi zat anti. Tempat itu adalah hati, limpa dan kelenjar getah bening. Kelenjar getah bening misalnya, tersebar luas diseluruh jaringan tubuh, seperti disekitar rongga hidung dan mulut, leher, ketiak, selangkangan, rongga perut “amandel” atau tonsil merupakan kelenjar getah bening yang terdapat pada rongga mulut sebelah dalam. Bebagai alat tubuh yang disebutkan tadi merupakan pusat jaringan terbentuknya kekebalan pada manusia. Kerusakan pada alat ini akan menyebabkan seringnya anak terserang berbagai penyakit infeksi; lazimnya dikatakan “daya tahan tubuh anak menurun”.
Pada umumnya tubuh anak tidak mampu melawan antigen yang kuat. Antigen yang kuat adalah jenis kuman yang ganas / virulen. Karena itu anak akan menjadi sakit bila terjangkit kuman ganas.
Jadi pada dasarnya reaksi pertama tubuh anak untuk membentuk antibody/toksin terhadap antigen tidaklah terlalu kuat. Tubuh belum mempunyai ”pengalaman” untuk mengatasinya. Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan berikutnya, tubuh anak sudah pandai membuat zat anti. Pembentukannya pun sangat cepat. Dalam waktu yang singkat setelah antigen atau kuman masuk kedalam tubuh, akan dibentuk jumlah anti yang cukup tinggi. Dengan cara reaksi antigen-antibody, tubuh anak dengan kekuatan zat antinya dapat menghancurkan antigen atau kuman: berarti bahwa anak telah menjadi kebal (imun) terhadap penyakit tersebut.
Ada 2 jenis kekebalan yang bekerja dalam tubuh bayi/anak :
1) Kekebalan Aktif
Ada kekebalan yang dibuat sendiri oleh tubuh untuk menolak terhadap suatu penyakit tertentu dimana prosesnya lambat tetapi dapat bertahan lama.
Kekebalan aktif dapat dibagi dalam 2 jenis :
a) Kekebalan aktif alamiah, dimana tubuh anak membuat kekebalan sendiri setelah mengalami/sembuh dari suatu penyakit. Misalnya anak yang telah menderita campak setelah sembuh tidak akan terserang campak lagi karena dalam tubuhnya telah terbentuk zat kebal atau antobody terhadap campak.
b) Kekebalan aktif buatan, yaitu kekebalan yang dibuat oleh tubuh setelah mendapat vaksin (imunisasi), misalnya anak diberi vaksinasi BCG, DPT, Polio, dan lainnya.
2) Kekebalan Pasif
Yaitu tubuh anak tidak membuat zat antibodi sendiri, tetapi kekebalan tersebut diperoleh dari luar setelah memperoleh zat penolak,sehingga proses cepat tetapi tidak bertahan lama.
Kekebalan pasif ini dapat terjadi dengan 2 cara :
a) Kekebalan pasif alamiah atau kekebalan pasif bawaan, yaitu kekebalan yang diperoleh bayi sejak lahir dari ibunya. Kekebalan ini tidak berlangsung lama (kira-kira hanya sekitar 5 bulan setelah bayi lahir) misalnya defteri, morbili,tetanus.
b) Kekebalan pasif buatan, dimana kekebalan ini diperoleh setelah mendapat suntikan zat penolak. Misalnya pemberian vaksinasi ATS (anti tetanus serum). Pada anak yang mengalami luka kecelakaan (serum adalah zat kebal/antibody yang dibuat oleh tubuh orang lain atau dari tubuh binatang).
Imunisasi adalah suatu usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak terhadap penyakit tertentu, imunisasi memberikan perlindungan pada tubuh manusia agar tidak mudah terserang penyakit. Cara pemberian imunisasi adalah dengan memasukan vaksin kedalam tubuh kita, melalui suntikan atau obat tetes yang diminumkan, karenanya imunisasi sering disebut juga Vaksinasi.
Dengan dasar reaksi antigen-antibody ini tubuh akan memberikan reaksi perlawanan terhadap benda-benda asing dari luar(kuman, virus, racun, bahan kimia) yang mungkin akan merusak tubuh. Dengan demikian anak terhindar dari ancaman luar. Akan tetapi setelah beberapa bulan/tahun jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang karena dirombak oleh tubuh, sehingga imunitas tubuh pun akan menurun. Agar tubuh tetap kebal akan dilakukan perangsangan kembali oleh antigen, artinya anak tersebut harus mendapat suntikan/imunisasi ulang.
Satu macam zat kebal atau antibody terbentuk dari satu macam kuman penyakit yang sudah dilemahkan atau dimatikan (vaksin). Karenanya satu macam zat kebal hanya ampuh terhadap satu macam jenis penyakit. Jadi untuk berbagai penyakit diperlukan berbagai macam zat kebal.
Pada dasarnya vaksin dibuat dari :
(1) Kuman yang telak dimatikan,
(2) Zat racun kuman (toksin) yang telah dilemahkan,
(3) Bagian kuman tertentu/komponen kuman yang biasanya berupa protein khusus.
-Contoh vaksin yang terbuat dari kuman yang dimatikan : vaksin batuk rejan, vaksin polio jenis salk.
-Contoh vaksin yang terbuat dari kuman hidup yang dilemahkan : vaksin BCG, vaksin polio jenis sabin, vaksin campak.
-Contoh vaksin yang dibuat dari racun/toksin kuman yang dilemahkan (disebut pula toksoid) : toksoid tetanus, dan toksoid difteria.
-Contoh vaksin yang dibuat dari protein khusus kuman : vaksin Hepatitis B
B. Tujuan Dari Imunisasi
a. Untuk mencegah terjadinya infeksi tertentu
b. Apabila terjadi penyakit, tidak terlalu parah dan dapat mencegah gejala yang dapat menimbulkan cacat/kematian
C. Persyaratan Pemberian Imunisasi
Untuk mempergunakan vaksin, beberapa hal yang harus diperhatikan sbb:
1) Pada bayi dan anak yang sehat
2) Dilarang pada bayi yang sedang sakit
a) Sakit keras
b) Dalam masa tunas suatu penyakit
c) Defesiensi immunologi
3) Vaksin harus baik, disimpan dalam lemari es dan belum lewat masa berlakunya
4) Pemberian imunisasi dengan cara yang tepat
5) Mengetahui jadwal, vaksinasi dengan melihat umur dan jenis imunisasi yang telah diberikan
6) Meneliti jenis vaksin yang akan diberikan
7) Memperhatikan dosis yang akan diberikan
D. Reaksi Pada Tubuh Bayi dan Anak Setelah Imunisasi
Reaksi yang mungkin terjadi setelah imunisasi adalah
1) Reaksi Lokal
Biasanya terlihat pada tempat penyuntikan, misalnya terjadi pembengkakan yang kadang-kadang disertai demam, agak sakit.
2) Reaksi Umum
Dapat terjadi kejang-kejang, shock,dll
Pada keadaan pertama (reaksi lokal) ibu tak usah panik sebab panas akan sembuh (1-2 hari) dan itu berarti kekebalan sudah dimiliki oleh bayi. Tetapi pada keadaan kedua (reaksi umum) sebaiknya ibu konsultasi pada dokter/bidan.
E. Jenis Vaksin Dan Imunisasi
Sesuai dengan program pemerintah (Departemen Kesehatan) tentang Program Pengembangan Imunisasi (PPI), maka anak diharuskan mendapat perlindungan terhadap 7 jenis penyakit utama, yaitu : Penyakit TBC, difteria, tetanus, batuk rejan (pertusis), poliomyelitis, campak, dan hepatitis.B.
Harus menjadi perhatian dan kewajiban orang tua untuk memberi kesempatan kepada anaknya untuk mendapat imunisasi lengkap, sehingga sasaran pemerintah agar setiap anak mendapat imunisasi dasar terhadap 7 penyakit utama yang dapat dicegah dengan imunisasi.
1) Vaksin BCG
a. Vaksinasi dan Jenis Vaksin
Pemberian imunisasi BCG bertujuan untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberculosis (TBC). Vaksin TBC mengandung kuman BCG (bacillus calmette-guerin) yang dibuat dari bibit penyakit/kuman hidup yang sudah dilemahkan.
b. Penjelasan Penyakit
Seseorang anak akan menderita TBC karena terhisapnya percikan udara yang mengandung kuman TBC, yang berasal dari orang dewasa berpenyakit TBC atau karena minum susu segar yang belum disucihamakan (tidak direbus dulu)
Pada anak yang terinfeksi, kuman TBC dapat menyerang berbagai alat tubuh, yang diserangnya adalah paru (paling sering), kelenjar getah bening, tulang, sendi, ginjal, hati, atau selaput otak. TBC selaput otak merupakan TBC yang paling berat. Penyakit TBC membuat anak sangat menderita serta merongrong kehidupannya, sehingga menyebabkan anak lesu, tidak bergairah dan pertumbuhan terhambat seperti tubuh kecil/kurus, lamban atau bodoh.
c. Cara Imunisasi
Pemberian Imunisasi BCG sebaiknya dilakukan ketika bayi baru lahir sampai berumur 12 bulan, tetapi sebaiknya pada umur 0-2 bulan. Hasil yang memuaskan terlihat apabila diberikan menjelang umur 2 bulan. Imunisasi BCG cukup diberikan 1 kali saja. Pada anak yang berumur lebih dari 2 bulan, dianjurkan untuk melakukan uji mantoux positif, anak tersebut layaknya tidak mendapatkan imunisasi BCG. Imunisasi ulang pada anak umur 5 tahun.
Sebelum menyuntikan vaksin ini harus dilarutkan terlebih dahulu dengan 4 cc pelarut/Nacl 0,9%, vaksin yang sudah dilarutkan harus digunakan dalam waktu 3 jam. Dosis yang digunakan sebanyak 0,05 cc. Sesuai kesepakatan maka biasanya penyuntikan BCG dilakukan secara intracutan pada lengan atas. Karena luka suntikan meninggalkan bekas dan mengingat segi kosmetiknya, pada bayi perempuan dapat diminta suntikan dipaha kanan atas.
Bila imunisasi ”berhasil”, setelah beberapa minggu ditempat suntikan akan terdapat suatu benjolan kecil, tempat suntikan itu kemudian berbekas, kadang-kadang benjolan tersebut merah dan akan menjadi abses kecil dengan garis tengah ± 10 mm. Luka ini akan sembuh sendiri dan meninggalkan jaringan parut (scar) bergaris tengah 3-7 mm.
d. Kekebalan
Kekebalan yang diperoleh anak tidak mutlak 100%, seandainya bayi yang telah diimunisasi terjangkit juga penyakit TBC, maka ia akan menderita penyakit TBC dalam bentuk yang ringan. Ia pun akan terhindar dari kemungkinan mendapat TBC yang berat, seperti TBC paru yang parah, TBC tulang atau TBC selaput otak yang dapat mengakibatkan cacat seumur hidup dan dapat membahayakan jiwa anak.
e. Reaksi Imunisasi
Biasanya setelah disuntikan BCG bayi yang tidak akan menderita demam . Bila ia demam setelah imunisasi BCG umumnya disebabkan oleh keadaan lain. Untuk hal ini dianjurkan agar anda berkonsultasi.
f. Efek Samping
Umumnya pada imunisasi BCG jarang dijumpai akibat samping. Mungkin terjadi pembengkakan kelenjar getah bening setempat yang terbatas dan biasanya sembuh sendiri walaupun lambat. Bila suntikan BCG dilakukan dilengan atas, pembengkakan kelenjar terdapat diketiak atauleher bagian bawah. Suntikan dipaha dapat menimbulkan pembengkakan kelenjar diselangkangan. Komplikasi pembengkakan kelenjar ini biasanya disebabkan karena teknik penyuntikan yang kurang tepat, yaitu penyuntikan terlalu dalam.
Tindakan untuk mengatasinya : jagalah agar peradangan tersebut tetap bersih dan tidak infeksi dengan cara membalut dengan kasa steril.
g. Kontra Indikasi
Adapun kontra indikasi imunisasi BCG diantaranya :
1. Anak yang sakit kulit/infeksi kulit ditempat penyuntikan
2. Anak yang telah terjangkit penyakit TBC
3. Anak yang menunjukan mantoux positif
2) Vaksin DPT
a. Vaksinasi dan Jenis Vaksin
Manfaat pemberian imunisasi ini ialah untuk menimbulkan kekebalan aktif dalam waktu yang bersamaan terhadap penyakit difteria, pertusis (batuk rejan) dan tetanus.
• Vaksin difteria terbuat dari toksin kuman difteria yang telah dilemahkan (toksoid). Biasanya diolah dan dikemas bersama dengan vaksin tetanus dalam bentuk vaksin DT, atau dengan vaksin tetanus dan pertusis (DPT)
• Vaksin terhadap pertusis terbuat dari kuman Bordetella Pertussis yang telah dimatikan. Selanjutnya dikemas bersama dengan vaksin difteria dan tetanus (DPT,vaksin tripe)
• Vaksin tetanus yang digunakan untuk imunisasi aktif adalah toksoid tetanus, yaitu toksin kuman tetanus yang telah dilemahkan dan kemudian dimurnikan. Ada 3 macam kemasan vaksin tetanus, yaitu :
1. Bentuk kemasan tunggal (TT)
2. Kombinasi dengan vaksin difteria (DT)
3. Kombinasi dengan vaksin difteria dan pertusis (DPT)
b. Penjelasan Penyakit
1) Difteria : penyakit difteria disebabkan oleh sejenis bakteri yang disebut corynebacterium diphtheriae. Sifatnya sangat ganas dan mudah menular, penularannya terjadi melalui udara yang tercemar bakteri dari ingus dan lendir yang keluar dari tenggorokan penderita difteria atau oleh pembawa kuman (karier)
Seorang karier akan tetap berkeliaran dan bermain dengan temannya karena ia sendiri memang tidak sakit. Anak yang tejangkit difteria akan menderita demam tinggi, batuk dan pilek disertai sukar menelan dan sukar bernapas. Hal ini disebabkan oleh bakteri yang membentuk selaput putih ditenggorokan pada saluran nafas. Penderita penyakit ini sering mengeluarkan ingus yang bercampur darah. Racun difteria juga dapat menyerang otot jantung, ginjal, dan beberapa serabut syaraf.
2) Pertusis : pertusis atau batuk rejan, atau lebih dikenal dengan batuk 100 hari, disebabkan oleh kuman bordetella pertusis. Penyakit ini cukup parah bila diderita oleh anak balita. Bahkan dapat menyebabkan kematian pada bayi yang berumur kurang dari 1 tahun. Gejalanya sangat khas, yaitu anak tiba-tiba batuk keras secara terus menerus, sukar berhenti, muka menjadi merah atau kebiruan, keluar air mata dan kadang-kadang sampai muntah. Karena batuk sangat keras, mungkin akan disertai dengan keluarnya sedikit darah. Batuk akan berhenti setelah ada suara melengking pada waktu menarik nafas. Kemudian anak nampak letih dan wajah yang lesu. Batuk semacam ini terutama terjadi pada malam hari. Komplikasi yang sering terjadi adalah kejang, kerusakan otak, atau radang paru.
3) Tetanus : Penyebab penyakit tetanus adalah kuman clostridium tetani yang banyak tersebar ditanah. Kuman tetanus masuk kedalam tubuh melalui beberapa cara :
a. Tali pusar yang dipotong dengan alat yang tidak steril (bebas kuman)
b. Luka tusuk yang dalam dan kotor
c. Tali pusar bayi yang tidak dirawat dengan baik dan sehat
d. Luka kecelakaan lalulintas atau jatuh tersungkur di aspal, terkena pecahan kaca,dll.
Penyakit ini ditandai dengan gejala-gejala : penderita panas tinggi dan kaku kuduk, kaku tulang belakang atau kaku rahang bawah dan dapat menjadi kejang-kejang terutama bila kena rangsangan cahaya, sentuhan, ataupun suara, sehingga penderita tidak buka mulut, tidak bisa makan dan bernafas. Anak yang terserang tetanus dapat meninggal dunia.
c. Cara Imunisasi
1) Pada bayi 2-11 bulan sebanyak 3 kali suntikan dengan selang 4 minggu dengan cara IM (intra muskuler) atau subcutan. Diberikan 3 kali karena suntikan pertama tidak memberikan apa-apa dan baru akan memberikan perlindungan terhadap serangan penyakit apabila telah mendapat suntikan vaksin DPT sebanyak 3 kali.
2) Imunisasi ulang pertama dilakukan pada usia 1,5-2 tahun atau kurang lebih 1 tahun setelah imunisasi dasar ke-3
3) Diulang lagi dengan vaksin DT pada usia 5-6 tahun (kelas 1 SD) vaksin pertusis tidak dianjurkan untuk anak berusia lebih dari 5 tahun karena reaksi yang timbul dapat lebih hebat selain itu perjalanan penyakit pada usia > 5 tahun tidak parah.
4) Diulang lagi pada usia 12 tahun (menjelang tamat SD). Anak yang mendapat DPT pada waktu bayi diberikan DT 1 kali saja dengan dosis 0,5 cc dengan cara IM, dan yang tidak mendapatkan DPT pada waktu bayi diberikan DT sebanyak 2 kali dengan interval 4 minggu dengan dosis 0,5 cc secara IM, apabila hal ini meragukan tentang vaksinasi yang didapat pada waktu bayi maka tetap diberikan 2 kali suntikan. Bila bayi mempunyai riwayat kejang sebaiknya DPT diganti dengan DT dengan cara yang sama dengan DPT.
d. Kekebalan
Kekebalan yang diperoleh dari vaksinasi DPT adalah :
1) Vaksinasi difteri 80-90 %
2) Vaksinasi pertusis 50-60 %
3) Vaksinasi tetanus 90-95 %
e. Reaksi Imunisasi
Reaksi yang mungkin terjadi biasanya demam ringan, pembengkakan dan rasa nyeri ditempat suntikan selama 1-2 hari.
f. Efek Samping
Kadang-kadang terdapat akibat efek samping yang lebih berat seperti demam tinggi atau kejang, yang biasanya disebabkan oleh unsur pertusisnya. Bila hanya diberikan DT (difteri dan tetanus) tidak akan menimbulkan akibat samping demikian.
Tindakan untuk mengatasinya :
a. Mengatasi panas dengan memberikan obat penurun panas (¼ tablet)
b. Anak diberi minum dan dikompres air dingin
c. Anak jangan dimandikan, dilap saja dengan handuk yang sudah hangat
d. Peradangan bawalah ke petugas medis yang merawatnya
e. Bila anak kejang (stuip) segera dibawa ke dokter/puskesmas terdekat. Selama dalam perjalanan diberi kompres air dingin. Perhatian jangan sampai lidah tergigit bila perlu beri ganjal sapu tangan yang digulung antara gigi.
f. Pembengkakan dikompres dengan air dingin.
g. Kontra Indikasi
Imunisasi DPT tidak boleh diberikan pada anak :
1. Anak yang sedang sakit parah
2. Riwayat kejang bila demam
3. Panas tinggi lebih dari 38OC
4. Penyakit gangguan kekebalan (defesiensi imunologik)
5. Anak dengan batuk yang diduga mungkin sedang mengalami batuk rejan pada tahap awal.
3) Vaksin DT (Difteria,Tetanus)
a. Jenis Vaksin
Vaksin ini dibuat untuk keperluan khusus, misalnya anak anda tidak diperbolehkan/tidak lagi memerlukan imunisasi pertusis, tetapi masih memerlukan imunisasi difteri dan tetanus.
b. Cara Imunisasi
Diberikan sebanyak 2 kali dengan selang pemberian selama 4 minggu. DT ini diberikan kepada anak usia 7-11 tahun (anak kelas 1 SD) berupa suntikan dilengan atas.
c. Efek Samping
Biasanya tidak ada atau hanya berupa demam ringan dan pembengkakan lokal ditempat suntikan selama 1-2 hari.
d. Kontra Indikasi
Imunisasi DPT hanya tidak boleh diberikan pada anak yang sakit parah atau sedang menderita demam tinggi. Dengan pengawasan dokter, anak yang pernah kejang masih bisa diberikan imunisasi DT.
4) Vaksin Tetanus
a. Vaksinasi dan Jenis Vaksin
Seperti yang telah dikemukakan, terhadap penyakit tetanus dikenal 2 jenis imunisasi :
1. Imunisasi aktif : vaksin yang digunakan adalah toksoid tetanus, yaitu toksin kuman tetanus yang telah dilemahkan dan kemudian dimurnikan. 3 macam kemasan vaksin tetanus yaitu : bentuk kemasana tunggal (TT), kombinasi dengan difteria (DT), kombinasi dengan vaksin difteria dan pertusis (DPT)
2. Imunisasi pasif : ATS (anti tetanus serum) dapat dipakai untuk pencegahan dan pengobatan penyakit tetanus
b. Penjelasan Penyakit
Lihat pada penyakit tetahus pada vaksin DPT
c. Cara Imunisasi
Imunisasi dasar dan ulang pada anak diberikan dengan imunisasi DPT/DT. Sampai saat ini pada ibu hamil pemberian imunisasi tetanusdiberikan sebanyak 2 kali, masing-masing pada bulan ke-7 dan ke-8. Tetapi dimasa mendatang diharapkan semua perempuan telah mendapatkan imunisasi tetanus minimal 5 kali sehingga memiliki daya perlindungan terhadap tetanus seumur hidup. Dengan demikian bayi yang dikandungnya kelak akan terlindung dari penyakit tetanus neonatorum yang mematikan. Imunisasi dilakukan pada lengan atas.
Selain luka, di Indonesia sumber utama lain tempat masuknya kuman clostrium tetani pada anak adalah radang telinga (otitis media) atau disebut juga ”kongean”. Gejalanya berupa keluarnya cairan berbau dari liang telinga.
d. Kekebalan
Daya proteksi vaksin tetanus sangat baik, yaitu sebesar 90-95 %.
e. Reaksi Imunisasi
Reaksi akibat imunisasi aktif tetanus biasanya tidak ada. Mungkin terdapat demam ringan atau rasa nyeri. Rasa gatal dan pembengkakan ringan ditempat suntikan yang berlangsung selama 1-2 hari.
f. Efek Samping
Pada imunisasi aktif dengan toksoid tetanus hampir tidak ada efek samping, pada pemberian imunisasi pasif dengan ATS mungkin terjadi reaksi yang lebih serius, seperti gatal seluruh tubuh, nyeri kepala bahkan renjatan (shock). Oleh karena itu penyuntikan ATS sebaiknya dibawah pengawasan dokter.
g. Kontra Indikasi
Tidak ada, kecuali pada anak yang sakit parah.
5) Vaksin Poliomielitis
a. Vaksinasi dan Jenis Vaksin
Vaksin polio terdapat dalam 2 kemasan
1. Vaksin yang mengandung virus polio tipe I,II dan III yang sudah dimatikan (vaksin salk), cara pemberian dengan penyuntikan
2. Vaksin yang mengandung virus polio tipe I,II dan III yang masih hidup tetapi telah dilemahkan (vaksin sabin), cara pemberiannya melalui mulut dalam bentuk pil atau cairan
b. Penjelasan Penyakit
Poliomielitis ialah penyakit infeksi akut yang disesabkan oleh virus polio. Telah dikenal 3 jenis virus polio yaitu tipe I,II dan III. Virus polio ini akan merusak bagian anterior (bagian muka) susunan syaraf pusat tulang belakang. Gejala penyakit ini sangat bervariasi, dari gejala ringan sampai timbul kelumpuhan, cacat seumur hidup bahkan mungkin kematian. Gejala umum yang mudah dikenal ialah anak mendadak menjadi lumpuh pada salah satu anggota geraknya, setelah ia menderita demam selama 2-5 hari. Bila kelumpuhan ini terjadi pada otot pernafasan, mungkin anak akan meninggal karena sukar bernafas. Penyakit ini dapat langsung menular dari seorang penderita polio atau dengan melalui makanan.
c. Cara Imunisasi
Di Indonesia dipakai vaksin sabin yang diberikan melalui mulut dengan dosis 2 tetes. Imunisasi dasar diberikan sejak anak baru lahir atau berumur beberapa hari, dan selanjutnya setiap 4-6 minggu. Vaksin polio dilakukan sampai 4 kali. Pemberian vaksin polio dapat dilakukan bersamaan dengan BCG, vaksin hepatitis.B, dan DPT. Bagi bayi yang sedang menetek maka ASI diberikan seperti biasa karena ASI tidak berpengaruh terhadap vaksin polio. Imunisasi ulangan diberikan bersamaan dengan imunisasi ulang DPT dengan interval 2 jam.
Imunisasi ulang masih diperlukan walaupun seorang anak pernah terjangkit polio. Alasannya adalah mungkin anak yang menderita polio itu hanya terjangkit oleh virus polio tipel. Artinya, bila penyakitnya telah menyembuh ia hanya mempunyai kekebalan terhadap virus polio tipe I. Tetapi tidak mempunyai kekebalan terhadap jenis virus polio tipe II dan III.
Karena itu untuk mendapat kekebalan terhadap ke-3 jenis virus tersebut perlu diberikan imunisasi ulang polio.
d. Kekebalan
Daya proteksi polio sangat baik, yaitu sebesar 95-100 %
e. Reaksi Imunisasi
Biasanya tidak ada, walaupun ada pada bayi akan terdapat berak-berak ringan.
f. Efek Samping
Pada imunisasi polio hampir tidak ada efek samping. Bila ada, mungkin berupa kelumpuhan anggota gerak seperti pada penyakit polio sebenarnya.
g. Kontra Indikasi
Pada anak dengan diare berat atau yang sedang sakit parah, imunisasi polio sebaiknya ditangguhkan, demikian juga pada anak yang menderita penyakit gangguan kekebalan (difisiensi imun). Alasan untuk tidak memberikan vaksin polio pada keadaan diare berat adalah kemungkinan terjadinya diare yang lebih parah. Pada anak dengan penyakit batuk, pilek, demam, atau diare ringan imunisasi polio dapat diberikan seperti biasanya.
6) Vaksin Campak (Morbili)
a. Vaksinasi dan Jenis Vaksin
Imunisasi diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit campak secara aktif. Vaksin campak mengandung virus campak hidup yang telah dilemahkan. Vaksin campak yang beredar di Indonesia dapat diperoleh dalam bentuk kemasan kering tunggal atau dalam kemasan kering kombinasi dengan vaksin gondong/bengok (mumps) dan rubella (campak jerman). Di Amerika Serikat kemasan terakhir ini dikenal dengan nama vaksin MMR (measles-mumps-rubella vaccine)
b. Penjelasan Penyakit
Penyakit ini sangat mudah menular, penularannya dapat terjadi melalui persinggungan (kontak) dengan penderita atau percikan liur penderita, dan melalui udara (air bone). Kuman penyebabnya ialah sejenis virus yang termasuk kedalam golongan paramiksovirus. Gejala yang khas yaitu timbulnya bercak-bercak merah dikulit (eksantem), 3-5 hari setelah anak menderita demam, batuk, atau pilek. Bercak merah ini semula timbul pada pipi dibawah terlinga.
Kemudian menjalar kemuka, tubuh, dan anggota gerak. Pada stadium berikutnya bercak merah tersebut akan berwarna coklat kehitaman dan akan menghilang dalam waktu 7-10 hari kemudian. Tahap penyakit ketika timbul gejala disebut stadium kataral. Tahap penyakit ketika kemudian timbul bercak merah dikulit disebut stadium eksantem. Pada stadium kataral penyakit campak sangat mudah menular kepada anak lain. Daya tular ini akan berkurang pada stadium eksantem.
Pada waktu stadium kataral dan stadium eksantem anak tampak sakit berat, lesu, dan tidak ada nafsu makan. Sebenarnya penyakit campak sendiri merupakan penyakit yang terbatas dan dapat sembuh sendiri, tetapi sering diikuti oleh komplikasi yang cukup berat. Komplikasi penyakit campak yang berat ialah radang otak (ensefalitis atau ensefalopati), radang paru, radang saluran kemih, dan menurunnya keadaan gizi anak. Terutama pada anak yang kurang gizi, sering terdapat komplikasi radang paru yang mungkin dapat mengakibatkan kematian.
c. Cara Imunisasi
Menurut WHO imunisasi campak dapat dilakukan dengan 1 kali suntikan setelah bayi berumur 9 bulan. Lebih baik lagi setelah bayi berumur lebih dari 1 tahun. Karena kekebalan yang diperoleh langsung seumur hidup, maka tidak perlu revaksinasi (imunisasi ulang) lagi. Di Indonesia keadaannya berlainan, kejadian campak masih tinggi dan sering dijumpai bayi menderita penyakit campak ketika ia berumur 6-9 bulan, jadi pada saat sebelum ketentuan batas umur 9 bulan untuk mendapat vaksin campak seperti yang dianjurkan WHO.
Dengan memperhatikan kejadian ini, sebenarnya imunisasi campak dapat diberikan sebelum bayi berumur 9 bulan, misalnya pada umur 6-7 bulan ketika kekebalan pasifdiperoleh dari ibu mulai menghilang akan tetapi ia harus mendapatkan 1 kali suntikan ulang setelah berumur 15 tahun.
Pemberian vaksin campak melalui suntikan subcutan (pada paha didaerah ⅓ sisi atas luar) dengan dosis 0,5 ml.
d. Kekebalan
Daya proteksi imunisasi campak sangat tinggi yaitu 96-99 %, menurut penelitian, kekebalan ini berlangsung seumur hidup. Sama dengan kekebalan yang diperoleh bila anak terjangkit campak secara alamiah.
e. Reaksi Imunisasi
Biasanya tidak terdapat reaksi akibat imunisasi. Mungkin terjadi demam ringan dan tampak sedikit bercak merah pada pipi dibawah telinga pada hari ke 7-8 setelah penyuntikan. Mungkin pula terdapat pembengkakan pada tempat suntikan.
f. Efek Samping
Efek samping sangat jarang, mungkin terjadi kejang yang ringan dan tidak berbahaya pada hari ke 10-12 setelah penyuntikan. Dapat terjadi radang otak (ensefalitis/ensefalopati) dalam 30 hari setelah penyuntikan tetapi kejadian ini jarang terjadi (1:1.000.000)
g. Kontra Indikasi
Kontra indikasi pada pemberian vaksinasi campak adalah :
1. Anak yang sakit parah
2. Anak yang menderita TBC tanpa pengobatan
3. Anak yang menderita kurang gizi dalam derajat berat
4. Anak dengan penyakit difisiensi imun
5. Anak yang menderita penyakit keganasan (leukemia,limpoma)
6. pada anak yang pernah menderita kejang, imunisasi campak dapat diberikan seperti biasanya, asalkan dalam pengawasan dokter.
7) Vaksin Hepatitis.B
a. Vaksinasi dan Jenis Vaksin
Vaksinasi dimaksudkan untuk mendapatkan kekebalan aktif terhadap penyakit hepatitis.B. vaksin terbuat dari bagian virus hepatitis.B yang dinamakan HbsAg, yang dapat menimbulkan kekebalan tetapi tidak menimbulkan penyakit. HbsAg ini dapat diperoleh dari serum manusia atau dengan cara rekayasa genetic dengan bantuan sel ragi.
b. Penjelasan Penyakit
Penyakit hepatitis.B adalah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis.B diantara 10 % pengindap hepatitis.B akan menjadi karier menahun, yang setelah beberapa tahun kemudian dapat menunjukan gejala kanker hati atau serosis hati.
Cara penularan hepatitis.B dapat melalui mulut, tranfusi darah, dan jarum suntik yang tercemar. Pada bayi cara penularannya adalah dari ibu melalui plasenta (uri) semasa dalam kandungan atau pada saat kelahiran.
Kelainan utama pada penyakit ini disebabkan oleh kerusakan pada hati. Virus hepatitis.B yang masuk dalam tubuh akan berkembang biak dalam jaringan hati dan kemudian merusaknya. Gejala yang timbul dapat bervariasi dari tanpa gejala sampai kelainan hati yang berat atau penyakit yang berjalan menahun (kronis). Biasanya gejala penyakit hepatitis ialah kekuningan pada mata, rasa lemah, mual, muntah, tidak nafsu makan, dan demam. Mereka yang menderita penyakit infeksi kronis ini merupakan sumber untuk penularan penyakit hepatitis.B
c. Cara Imunisasi
Imunisasi aktif dilakukan dengan cara pemberian suntikan dasar sebanyak 3 kali dan jarak 1 bulan antara suntikan 1 dan 2, dan 5 bulan antara suntikan 2 dan 3. imunisasi ulang diberikan 5 tahun setelah imunisasi dasar.
Khusus bayi yang baru lahir dari seorang ibu yang mengindap virus hepatitis.B, harus dilakukan imunisasi pasif memakai imunoglobulin khusus anti hepatitis.B dalam waktu 24 jam setelah kelahiran. Berikutnya bayi tersebut harus pula mendapat imunisasi aktif 24 jam setelah lahir, dengan penyuntikan vaksin hepatitis.B dengan cara pemberian yang sama seperti biasa.
d. Kekebalan
Daya proteksi vaksin hepatitis.B cukup tingi, yaitu berkisar antara 94-96 %
e. Reaksi Imunisasi
Reaksi imunisasi yang terjadi biasanya berupa nyeri pada tempat suntikan, yang mungkin disertai dengan timbulnya rasa panas atau pembengkakan. Reaksi ini akan menghilang selama 2 hari. Reaksi lain yang mungkin terjadi ialah demam ringan.
f. Efek Samping
Selama ini tidak pernah dilaporkan adanya efeksamping.
g. Kontra Indikasi
Imunisasi tidak dapat diberikan kepada anak yang menderita sakit berat. Vaksinasi hepatitis.B dapat diberikan kepada ibu hamil dengan aman dan tidak akan membahayakan janin. Bahkan akan memberikan perlindungan kepada janin selama dalam kandungan ibu maupun kepada bayi selama beberapa bulan setelah lahir.
DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI.1992. Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. Jakarta : Depkes.
Kusumawati, Tuty, dkk. 1990. Buku Pegangan Kader Seri Imunisasi. Jakarta :
Perdhaki-PPA.
Makrum,AH. 1997. Imunisasi. Jakarta : FKUI.
Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatric. Jakarta : FKUI.
PENGARUH KELUARGA TERHADAP KESEHATAN ANAK
23:45
A. KONSEP
Anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah kawin. Batasan umur ini ditetapkan oleh karena berdasarkan pertimbangan usaha kesejahteran social, kematangan pribadi dan kematangan mental seorang anak yang dicapai pada umur 21 tahun . Anak merupakan potensi penerus cita-cita bangsa yang dasar-dasarnya telah diletakkan oleh generasi sebelumnya.
Oleh karena itu anak harus mendapatkan perhatian yang sempurna dalam memenuhi perkembangan dan pertumbuhan baik fisik maupun mental sejak dini.
Telah kita yakini bahwa anak adalah sosok individu yang merupakan satu kesatuan yang utuh yang terdiri dari biopsikososialkultural adalah bagian dari keluarga dan masyarakat. Pemberian asuhan kesehatan pada anak yang baik adalah berpusat pada keluarga. Karena anak merupakan nggota yang tidak terpisahkan dari keluarga dan masyarakat. Anak adalah potensi serta penerus cita-cita bangsa yang dasar-dasarnya telah diletakkan oleh generasi sebelumnya.
Kebutuhan fisik, social dan emosional dari anak perlu disesuaikan dengan tingkat pertumbuhn anak dan perkembangannya sera mempertimbangkan latar belakang budaya dan keluarga.
Pendekatan asuhan kesehatan anak dalam konteks keluarga menggunakan pendekatan proses perawatan melalui langkah-langkah pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan dokumentasi. Perawat anak tidak hanya ditujukan semata-mata merawat anak selama sakit tetapi bertanggungjawab secara komprehensif memberikan perwatan yang memungkinkan pemenuhan kebutuhan bagi anak dan keluarganya.
B. PENGARUH KELARGA TERHADAP KESEHATAN ANAK
Keluarga adalah unit terkecil dan masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal disatu tempat (dibawah satu atap) dalm keadaan saling ketergantungan. Keluarga merupakan suatu system terbuka, yang terdiri dari semua unsur dalam system, mempunyai struktur tujuan / fungsi dan mempunyai organisasi internal, seperti system yang lain. Bila salah satu dari komponen (seorang anggota keluarga ) mengalami gangguan, hal ini akan mempengaruhi keseluruhan anggota keluarga.
Konsep ini harus diketahui oleh orang tua yag secara terus menerus berhadapan / berhubungan dengan anak dan keluarganya. Dalam mengkaji dan menganalisa masalah kesehatan, petugas kesehatan harus melibatkan semua anggota keluarga serta memperhatikan factor-faktor yang mempengaruhi baik dalam keluarga itu sendiri maupun yang diluar yang dapat mengganggu kesehatan anak dan keluarganya.
1. Struktur Keluarga
Struktur keluarga dapat dijelaskan dengan isilah- istilah berikut :
a. Struktur keluarga atau susunan keluarga, terdiri dari anggota keluarga berdasrkan pertalian sedarah atu perkawinan.
b. Patrilineal : Keluarga sedarah yang terdiri dari anak saudara sedarah dla beberapa generasi dimana hubungan itu disusun jalur melalui garis lelaki.
c. Matrilineal : Dimana hbungan keluarga sedarah melalui garis perempuan.
d. Matrilokal : sepasang suami istri dapat tinggal bersama keluarga sedarah istri.
e. Patrilokal : sepasang suami istri dapat tinggal bersama keluarga sedarah suami
f. Keluarga Kawin : Hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga, dan beberapa anak saudara yng menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau isteri.
g. Anak : adalah milik keluarga terdekat, yaitu keluarga kawin terdiri dari ibu bapak mereka, dan sanak saudara lain yang dianggap mempunyai hubungan darah dekat misalnya : kakek dan neneknya, dari kedua belah pihak (ayah dan ibunya).
Keluarga sedarah inilah mengakibatkan keadaanya menjadi keluarga generasi, sedangkan keluarga kawinan akan berubah dengan terjadinya perkawinan.
h. Sistem Kekeluargaan : Sistem dimana seseorang dikatakan mempunyai hubungan melalui nenek moyang yang sama atau perkaitan social (suami isteri) atau pengambiln anak angkat.
i. Keluarga Tiri
Dalam keluarga yang orang tuanya bercerai, sekitar 90 % anak tinggal dengan ibu mereka. Karena angka perceraian meningkat maka tingkat pernikahan ulang pun demikian. Akibatnya, lebih banyak anak yang tinggal bersama orang tua tiri (biasanya ayah tiri, dan mereka juga mungkin mempunyai orang tua tiri yang tidak tinggal bersama (misalnya, istri ayah untuk anak yang tinggal bersama ibu mereka). Bila orang tua yang bercerai kemudian menikah lagi, anak kadang mengalami jaringan hubungan keluarga yang rumit yang tidak hanya melibatkan orang tua tiri, tetapi juga saudara tiri saudara setengah tiri dan tambahan pasangan kakek nenek, bibi, paman, dan saudara sepupu.
j. Keluarga Orang Tua Tunggal
Pengaruh perkembangan anak dalam kelurga yang hanya memiliki ibu tergntung pad jenis kelamin anak. Anak laki-laki lebih banyak terpengaruh oleh ketidakhadiran ayah disbanding anak wanita. Anak dalam keluarga tanpa ayah sering kurang tertarik pada mainan dan aktifitas “maskulin” dibandingkan mereka yang memiliki ayah-ibu, tetapi umumnya tidk berbeda jauh dalam hal ketergantungan. Anak laki-laki yang tinggal dengan ibu yang menjanda menjadi lebih tergantung , lebih was-was terhadap perpisahan, lebih agresif dan kurang otonom disbanding anak laki-laki yang memiliki ayah.
Anak wanita yang dibesarkan dalam keluarga yang hanya memiliki ibu menunjukkan sedikit perbedaan kepribadian dan prilaku dibanding mereka dari kelurga dengan orang tua lengkap, kemampuan intelektual khususnya keterampilan kuantitatif anak laki-laki maupun anak wanita tampak terpengaruh. Anak tanpa ayah sering tampak kurang mampu disekolah dan pada pengukuran keterampilan kognitif dibanding anak yang berayah, tetapi pola ini sebagian mungkn disebabkan perbedaan penghasilan dn tingkat social.
k) Keluarga Inti (Nuclear Family)
Keluarga inti adalah anggot keluarga terdiri dari suami istri dan anak-anaknya.
l) Keluarga Besar (Extended Family)
Keluarga besar yaitu keluarga inti dengan tambahan anak saudara, misalnya ayah atau ibu dari suami isteri, paman dan bibi dari suami dan isteri.
2. Prinsip Fungsi Keluarga
Tiga prinsip fungsi keluarga sehubungan dengan pemeliharaan anak :
a. Untuk merawat fisik anak
Keluarga bertanggung jawab menyediakan kebutuhan dasar anak sweperti makan, pakaian tempat tinggal (rumah), pencegahan penyakit dan perawatan kesehatan.
b. Mendidik anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan (kultur)
Salah satu fungsi pokok keluarga adalah untuk mensosialisasikan anak seperti mengajar anak bahasa, peran/tingkah laku yang sesuai dengan nilai dan standart etik dan kultur, setelah itu disekolah, dilingkungan bermain, kawan dan orang lain akan mempengaruhi, akan tetapi keluarga tetap merupakan titik sentral dalam membina sosialisasi anak secara terus menerus semasa anak-anak.
c. Bertanggung jawab untuk kesejahteran anak secara psikologis dan emosional.
Pentingnya hubungan psikologis secara antara anak dan orang tua melalui hubungan anggota keluarga, anak dapat pula belajar tingkah laku dn berlanjut kepada hubungan dengan orang lain. Dasar kepribadian seseorang anak terbentuk dari keluarga dan lingkungan.
3. Tugas Keluarga Dalam Pemeliharaan Kesehatan
Dalam pemeliharaan kesehatan anggota keluarga saling mempengaruhi dalam keyakinannya terhadap kesehatan, tentang status kesehatan dan cara-cara memelihara kesehatan. Prilaku sehat ditanamkan sejak kecil oleh orang tua hingga dewasa. Pengaruh keluarga sehat ini juga meliputi persepsi tentang kesehatan dan masalah kesehatan. Orang tua sangat berpartisipasi aktif dalam pemeliharaan kesehatan keluarga yang ditujukan dengan cara-cara peningkatan kesehatan keluarga.
Pengaruh anggota keluarga terhadap kesehatan tidak hanya dari orang tua kepada anak-anaknya, tetapi juga pengaruh persepsi orang tua kepada kesehatan anaknya, dan pengaruh bagaimana orang tua mempersepsi/menanggapi kesehatan anaknya sendiri.
Pada keluarga dengan anak yang dilahirkan dengan masalah kesehatan, misalnya cacat bawaan kdang-kadang orang tua merasa dirinya rendah. Semua anggota keluarga pada umumnya memandang kesehatannya sendiri dalam kontek kesehatan anggota kelurga. Karena perasaan loyalitas, solidaritas antar anggota keluarga, maka setiap anggota keluarga merasa memiliki kewajiban untuk saling menjaga, memelihara, memberi bantuan untuk peningkatan kesehatan keluarga.
“Raeeman” mengemukakan tugas-tugas keluarga dalam upaya pemeliharan kesehatan sebagai berikut :
a. Mengenal gangguan perkembangan / masalah kesehatan pada setiap anggota keluarga
b. Mengambil keputusan yang tepat atas tindakan / upaya kesehatan yang akan dilaksanakan terhadap masalah kesehatan yang timbul pada keluarga.
c. Memberikan asuhan keperawatan (sesuai dengan kemempuannya) kepada anggota keluarga yang sakit, tidak dapat menolong dirinya sendiri karena ketidakmampuan, cacat, atau usia terlalu muda.
d. Menciptakan, mempertahankan suasana rumah dan lingkungan yang dapat menunjang tumbuh kembang anggota keluarga , perkembangan kepribadian yang menguntungkan.
e. Memelihara / mempertahankan hubungan timbal balik antar keluarga dan fasilitas kesehatan yang ada.
Tingkat kemampuan keluarga dalam melaksanakan tugas-tugas tersebut diatas akan menentukan intensitas perawat kesehatan / petugas kesehatan dalam melaksanakan upaya perawatan kesehatan ditingkat keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
Mussen, Henry Paul. 1989. Perkembangan dan Kepribadian Anak, Edisi 6. Jakarta :
Penerbit Arcan
Pusdiknas. 1992. Asuhan Keperawatan Dalam Konteks Keluarga. Jakarta : DEPKES RI
Pusdiknas. 1990. Perawatan Kebidanan yang Berorientasi Pada Keluarga (perawatan III)
jilid I. Jakarta : DEPKES RI.
Anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah kawin. Batasan umur ini ditetapkan oleh karena berdasarkan pertimbangan usaha kesejahteran social, kematangan pribadi dan kematangan mental seorang anak yang dicapai pada umur 21 tahun . Anak merupakan potensi penerus cita-cita bangsa yang dasar-dasarnya telah diletakkan oleh generasi sebelumnya.
Oleh karena itu anak harus mendapatkan perhatian yang sempurna dalam memenuhi perkembangan dan pertumbuhan baik fisik maupun mental sejak dini.
Telah kita yakini bahwa anak adalah sosok individu yang merupakan satu kesatuan yang utuh yang terdiri dari biopsikososialkultural adalah bagian dari keluarga dan masyarakat. Pemberian asuhan kesehatan pada anak yang baik adalah berpusat pada keluarga. Karena anak merupakan nggota yang tidak terpisahkan dari keluarga dan masyarakat. Anak adalah potensi serta penerus cita-cita bangsa yang dasar-dasarnya telah diletakkan oleh generasi sebelumnya.
Kebutuhan fisik, social dan emosional dari anak perlu disesuaikan dengan tingkat pertumbuhn anak dan perkembangannya sera mempertimbangkan latar belakang budaya dan keluarga.
Pendekatan asuhan kesehatan anak dalam konteks keluarga menggunakan pendekatan proses perawatan melalui langkah-langkah pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan dokumentasi. Perawat anak tidak hanya ditujukan semata-mata merawat anak selama sakit tetapi bertanggungjawab secara komprehensif memberikan perwatan yang memungkinkan pemenuhan kebutuhan bagi anak dan keluarganya.
B. PENGARUH KELARGA TERHADAP KESEHATAN ANAK
Keluarga adalah unit terkecil dan masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal disatu tempat (dibawah satu atap) dalm keadaan saling ketergantungan. Keluarga merupakan suatu system terbuka, yang terdiri dari semua unsur dalam system, mempunyai struktur tujuan / fungsi dan mempunyai organisasi internal, seperti system yang lain. Bila salah satu dari komponen (seorang anggota keluarga ) mengalami gangguan, hal ini akan mempengaruhi keseluruhan anggota keluarga.
Konsep ini harus diketahui oleh orang tua yag secara terus menerus berhadapan / berhubungan dengan anak dan keluarganya. Dalam mengkaji dan menganalisa masalah kesehatan, petugas kesehatan harus melibatkan semua anggota keluarga serta memperhatikan factor-faktor yang mempengaruhi baik dalam keluarga itu sendiri maupun yang diluar yang dapat mengganggu kesehatan anak dan keluarganya.
1. Struktur Keluarga
Struktur keluarga dapat dijelaskan dengan isilah- istilah berikut :
a. Struktur keluarga atau susunan keluarga, terdiri dari anggota keluarga berdasrkan pertalian sedarah atu perkawinan.
b. Patrilineal : Keluarga sedarah yang terdiri dari anak saudara sedarah dla beberapa generasi dimana hubungan itu disusun jalur melalui garis lelaki.
c. Matrilineal : Dimana hbungan keluarga sedarah melalui garis perempuan.
d. Matrilokal : sepasang suami istri dapat tinggal bersama keluarga sedarah istri.
e. Patrilokal : sepasang suami istri dapat tinggal bersama keluarga sedarah suami
f. Keluarga Kawin : Hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga, dan beberapa anak saudara yng menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau isteri.
g. Anak : adalah milik keluarga terdekat, yaitu keluarga kawin terdiri dari ibu bapak mereka, dan sanak saudara lain yang dianggap mempunyai hubungan darah dekat misalnya : kakek dan neneknya, dari kedua belah pihak (ayah dan ibunya).
Keluarga sedarah inilah mengakibatkan keadaanya menjadi keluarga generasi, sedangkan keluarga kawinan akan berubah dengan terjadinya perkawinan.
h. Sistem Kekeluargaan : Sistem dimana seseorang dikatakan mempunyai hubungan melalui nenek moyang yang sama atau perkaitan social (suami isteri) atau pengambiln anak angkat.
i. Keluarga Tiri
Dalam keluarga yang orang tuanya bercerai, sekitar 90 % anak tinggal dengan ibu mereka. Karena angka perceraian meningkat maka tingkat pernikahan ulang pun demikian. Akibatnya, lebih banyak anak yang tinggal bersama orang tua tiri (biasanya ayah tiri, dan mereka juga mungkin mempunyai orang tua tiri yang tidak tinggal bersama (misalnya, istri ayah untuk anak yang tinggal bersama ibu mereka). Bila orang tua yang bercerai kemudian menikah lagi, anak kadang mengalami jaringan hubungan keluarga yang rumit yang tidak hanya melibatkan orang tua tiri, tetapi juga saudara tiri saudara setengah tiri dan tambahan pasangan kakek nenek, bibi, paman, dan saudara sepupu.
j. Keluarga Orang Tua Tunggal
Pengaruh perkembangan anak dalam kelurga yang hanya memiliki ibu tergntung pad jenis kelamin anak. Anak laki-laki lebih banyak terpengaruh oleh ketidakhadiran ayah disbanding anak wanita. Anak dalam keluarga tanpa ayah sering kurang tertarik pada mainan dan aktifitas “maskulin” dibandingkan mereka yang memiliki ayah-ibu, tetapi umumnya tidk berbeda jauh dalam hal ketergantungan. Anak laki-laki yang tinggal dengan ibu yang menjanda menjadi lebih tergantung , lebih was-was terhadap perpisahan, lebih agresif dan kurang otonom disbanding anak laki-laki yang memiliki ayah.
Anak wanita yang dibesarkan dalam keluarga yang hanya memiliki ibu menunjukkan sedikit perbedaan kepribadian dan prilaku dibanding mereka dari kelurga dengan orang tua lengkap, kemampuan intelektual khususnya keterampilan kuantitatif anak laki-laki maupun anak wanita tampak terpengaruh. Anak tanpa ayah sering tampak kurang mampu disekolah dan pada pengukuran keterampilan kognitif dibanding anak yang berayah, tetapi pola ini sebagian mungkn disebabkan perbedaan penghasilan dn tingkat social.
k) Keluarga Inti (Nuclear Family)
Keluarga inti adalah anggot keluarga terdiri dari suami istri dan anak-anaknya.
l) Keluarga Besar (Extended Family)
Keluarga besar yaitu keluarga inti dengan tambahan anak saudara, misalnya ayah atau ibu dari suami isteri, paman dan bibi dari suami dan isteri.
2. Prinsip Fungsi Keluarga
Tiga prinsip fungsi keluarga sehubungan dengan pemeliharaan anak :
a. Untuk merawat fisik anak
Keluarga bertanggung jawab menyediakan kebutuhan dasar anak sweperti makan, pakaian tempat tinggal (rumah), pencegahan penyakit dan perawatan kesehatan.
b. Mendidik anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan (kultur)
Salah satu fungsi pokok keluarga adalah untuk mensosialisasikan anak seperti mengajar anak bahasa, peran/tingkah laku yang sesuai dengan nilai dan standart etik dan kultur, setelah itu disekolah, dilingkungan bermain, kawan dan orang lain akan mempengaruhi, akan tetapi keluarga tetap merupakan titik sentral dalam membina sosialisasi anak secara terus menerus semasa anak-anak.
c. Bertanggung jawab untuk kesejahteran anak secara psikologis dan emosional.
Pentingnya hubungan psikologis secara antara anak dan orang tua melalui hubungan anggota keluarga, anak dapat pula belajar tingkah laku dn berlanjut kepada hubungan dengan orang lain. Dasar kepribadian seseorang anak terbentuk dari keluarga dan lingkungan.
3. Tugas Keluarga Dalam Pemeliharaan Kesehatan
Dalam pemeliharaan kesehatan anggota keluarga saling mempengaruhi dalam keyakinannya terhadap kesehatan, tentang status kesehatan dan cara-cara memelihara kesehatan. Prilaku sehat ditanamkan sejak kecil oleh orang tua hingga dewasa. Pengaruh keluarga sehat ini juga meliputi persepsi tentang kesehatan dan masalah kesehatan. Orang tua sangat berpartisipasi aktif dalam pemeliharaan kesehatan keluarga yang ditujukan dengan cara-cara peningkatan kesehatan keluarga.
Pengaruh anggota keluarga terhadap kesehatan tidak hanya dari orang tua kepada anak-anaknya, tetapi juga pengaruh persepsi orang tua kepada kesehatan anaknya, dan pengaruh bagaimana orang tua mempersepsi/menanggapi kesehatan anaknya sendiri.
Pada keluarga dengan anak yang dilahirkan dengan masalah kesehatan, misalnya cacat bawaan kdang-kadang orang tua merasa dirinya rendah. Semua anggota keluarga pada umumnya memandang kesehatannya sendiri dalam kontek kesehatan anggota kelurga. Karena perasaan loyalitas, solidaritas antar anggota keluarga, maka setiap anggota keluarga merasa memiliki kewajiban untuk saling menjaga, memelihara, memberi bantuan untuk peningkatan kesehatan keluarga.
“Raeeman” mengemukakan tugas-tugas keluarga dalam upaya pemeliharan kesehatan sebagai berikut :
a. Mengenal gangguan perkembangan / masalah kesehatan pada setiap anggota keluarga
b. Mengambil keputusan yang tepat atas tindakan / upaya kesehatan yang akan dilaksanakan terhadap masalah kesehatan yang timbul pada keluarga.
c. Memberikan asuhan keperawatan (sesuai dengan kemempuannya) kepada anggota keluarga yang sakit, tidak dapat menolong dirinya sendiri karena ketidakmampuan, cacat, atau usia terlalu muda.
d. Menciptakan, mempertahankan suasana rumah dan lingkungan yang dapat menunjang tumbuh kembang anggota keluarga , perkembangan kepribadian yang menguntungkan.
e. Memelihara / mempertahankan hubungan timbal balik antar keluarga dan fasilitas kesehatan yang ada.
Tingkat kemampuan keluarga dalam melaksanakan tugas-tugas tersebut diatas akan menentukan intensitas perawat kesehatan / petugas kesehatan dalam melaksanakan upaya perawatan kesehatan ditingkat keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
Mussen, Henry Paul. 1989. Perkembangan dan Kepribadian Anak, Edisi 6. Jakarta :
Penerbit Arcan
Pusdiknas. 1992. Asuhan Keperawatan Dalam Konteks Keluarga. Jakarta : DEPKES RI
Pusdiknas. 1990. Perawatan Kebidanan yang Berorientasi Pada Keluarga (perawatan III)
jilid I. Jakarta : DEPKES RI.
ASKEP GANGGUAN SISTEM KARDIOVASKULER
23:42
PENGKAJIAN
RIWAYAT KESEHATAN/KEPERAWATAN
Keluhan Utama :
• Nyeri dada
• Sesak nafas
• Edema
Riwayat Kesehatan :
Digunakan untuk mengumpulkan data tentang kebiasaan yang mencerminkan refleksi perubahan dan sirkulasi oksigen.
• Nyeri ---- lokasi, durasi, awal pencetus, kwalitas, kuantitas, factor yang memperberat/memperingan, tipe nyeri.
• Integritas neurovaskuler ---- mengalami panas, mati rasa, dan perasaan geli.
• Status pernafasan ---- sukar bernafas, nafas pendek, orthopnoe, paroxysmal nocturnal dyspnoe dan efek latihan pada pernafasan.
• Ganngguan sirkulasi ---- peningkatan berat badan, perdarahan, pasien sudah lelah.
• Riwayat kesehatan sebelumnya ---- penyekit yang pernah diderita, obat-obat yang digunakan dan potensial penyakit keturunan.
• Kebiasaan pasien ---- diet, latihan, merokok dan minuman.
Riwayat Perkembangan :
Struktur system kardiovaskuler berubah sesuai usia.
• Efek perkembangan fisik denyut jantung.
• Produksi zat dalam darah.
• Tekanan darah.
Riwayat Sosial :
• Cara hidup pasien.
• Latar belakang pendidikan
• Sumber-sumber ekonomi.
• Agama.
• Kebudayaan dan etnik.
Riwayat Psikologis :
Informasi tentang status psikologis penting untuk mengembangkan rencana asuhan keperawatan.
• Mengidentifikasi stress/sumber stress.
• Mengidentifikasi cara koping, mekanisme dan sumber-sumber coping.
PENGKAJIAN FISIK
JANTUNG
Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan fisik umum dan khusus pada jantung. Sebelum melakukan pemeriksaan fisik khusus pada jantung, maka penting terlebih dahulu melihat pasien secara keseluruhan/keadaan umum termasuk mengukur tekanan darah, denyut nadi, suhu badan dan frekuensi pernafasan.
Keadaan umum secara keseluruhan yang perlu dilihat adalah :
• Bentuk tubuh gemuk/kurus
• Anemis
• Sianosis
• Sesak nafas
• Keringat dingin
• Muka sembab
• Oedem kelopak mata
• Asites
• Bengkak tungkai/pergelangan kaki
• Clubbing ujung jari-jari tangan
Pada pasien khususnya penyakit jantung amat penting melakukan pemeriksaan nadi adalah :
• Kecepatan/menit
• Kuat/lemah (besar/kecil)
• Teratur atau tidak
• Isi setiap denyut sama kuat atau tidak.
INSPEKSI
Lihat dan perhatikan impuls dari iktus kordis
Mudah terlihat pada pasien yang kurus dan tidak terlihat pada pasien yang gemuk atau emfisema pulmonum. Yang perlu diperhatikan adalah Titik Impuls Maksimum (Point of Maximum Impulse). Normalnya berada pada ruang intercostals V pada garis midklavikular kiri. Apabila impuls maksimum ini bergeser ke kiri berarti ada pembesaran jantung kiri atau jantung terdorong atau tertarik kekiri.
Toraks/dada
Pasien berbaring dengan dasar yang rata. Pada bentuk dada “Veussure Cardiac” dinding totaks di bagian jantung menonjolm menandakan penyekit jantung congenital. Benjolan ini dapat dipastikan dengan perabaan.
Vena Jugularis Eksterna (dileher kiri dan kanan)
Teknik :
• Posisi pasien setengah duduk dengan kemiringan ± 45º
• Leher diluruskan dan kepala menoleh sedikit kekiri pemeriksa di kanan pasien
• Perhatikan vena jugularis eksterna yang terletak di leher ; apakah terisi penuh/sebagian, di mana batas atasnya bergerak naik turun.
• Dalam keadaan normal vena jugularis eksterna tersebut kosong/kolaps.
• Vena jugularis yang terisi dapat disebabkan oleh :
- Payah jantung kanan (dengan atau tanpa jantung kiri).
- Tekanan intra toraks yang meninggi.
- Tamponade jantung.
- Tumor mediastinum yang menekan vena cava superior.
PALPASI
Palpasi dapat mengetahui dan mengenal ukuran jantung dan denyut jantung. Point of Maximum Impuls dipalpasi untuk mengetahui getaran yang terjadi ketika darah mengalir melalui katup yang menyempit atau mengalami gangguan.
Dengan posisi pasien tetap terlentang kita raba iktus kordis yang kita amati pada inspeksi. Perabaan dilakukan dengan 2 jari (telunjuk dan jari tengah) atau dengan telapak tangan.
Yang perlu dinilai adalah :
• Lebar impuls iktus kordis
• Kekuatan angkatnya
Normal lebar iktus kordis tidak melebihi 2 jari. Selain itu perlu pula dirasakan (dengan telapak tangan) :
• Bising jantung yang keras (thrill)
• Apakah bising sistolik atau diastolic
• Bunyi murmur
• Friction rub (gesekan pericardium dengan pleura)
Iktus kordis yang kuat dan melebar tanda dari pembesaran/hipertropi otot jantung akibat latihan/atlit, hipertensi, hipertiroid atau kelainan katup jantung.
PERKUSI
Dengan posisi pasien tetap berbaring/terlentang kita lakukan pemeriksaan perkusi. Tujuannya adalah untuk menentukan batas jantung (batas atas kanan kiri). Teknik perkusi menuntut penguasaan teknik dan pengalaman, diperlukan keterampilan khusus. Pemeriksa harus mengetahui tentang apa yang disebut sonor, redup dan timpani.
AUSKULTASI
Pemeriksaan auskultasi untuk menentukan denyut jantung, irama jantung, bunyi jantung, murmur dan gesekan (rub).
Bunyi jantung perlu dinilai kualitas dan frekuensinya. Bunyi jantung merupakan refleksi dari membuka dan menutupnya katup dan terdengar di titik spesifik dari dinding dada.
Bunyi jantung I (S1) dihasilkan oleh penutupan katup atrioventrikuler (mitral dan trikuspidalis).
Bunyi jantung II (S2) disebabkan oleh penutupan katup semilunar (aorta dan pulmonal).
Bunyi jantung III (S3) merupakan pantulan vibrasi ventrikuler dihasilkan oleh pengisian ventrikel ketika diastole dan mengikuti S2.
Bunyi jantung IV (S4) disebabkan oleh tahanan untuk mengisi ventrikel pada diastole yang lambat karena meningkatnya tekanan diastole ventrikel atau lemahnya penggelembungan ventrikel.
Bunyi bising jantung disebabkan oleh pembukaan dan penutupan katup jantung yang tidak sempurna. Yang perlu diperhatikan pada setiap bising jantung adalah :
• Apakah bising sistolik atau diastolic atau kedua-duanya.
• Kenyaringan (keras-lemah) bising.
• Lokasi bising (yang maksimal).
• Penyebaran bising.
Adapun derajat kenyaringan bising jantung dipengaruhi oleh :
• Kecepatan aliran darah yang melalui katup.
• Derajat kelainan/gangguan katup.
• Tebal tipisnya dinding toraks.
• Ada tidaknya emfisema paru.
Tingkat kenyaringan bising jantung meliputi :
• Tingkat I : sangat lemah, terdengar pada ruangan amat sunyi.
• Tingkat II : lemah, dapat didengar dengan ketelitian.
• Tingkat III : nyaring, segera dapat terdengar/mudah didengar.
• Tingkat IV : amat nyaring tanpa thrill.
• Tingkat V : amat nyaring dengan thrill (getaran teraba)
• Tingkat VI : dapat didengar tanpa stetoskop.
Murmur adalah bunyi hasil vibrasi dalam jantung dan pembuluh darah besar disebabkan oleh bertambahnya turbulensi aliran. Pada murmur dapat ditentukan :
• Lokasi : daerah tertentu/menyebar
• Waktu : setiap saat, ketika sistolik/diastolic.
• Intensitas :
Tingkat 1 : sangat redup.
Tingkat 2 : redup
Tingkat 3 : agak keras
Tingkat 4 : keras
Tingkat 5 : sangat keras
Tingkat 6 : kemungkinan paling keras.
• Puncak : kecepatan aliran darah melalui katup dapat berupa rendah, medium dan tinggi.
• Kualitas : mengalir, bersiul, keras/kasar, musical, gaduh atau serak.
Gesekan (rub) adalah bunyi yang dihasilkan oleh parietal dan visceral oleh perikarditis. Bunyi kasar, intensitas, durasi dan lokasi tergantung posisi klien.
PEMBULUH DARAH
INSPEKSI
Pada pemeriksaan ini untuk mengobservasi warna, ukuran dan sirkulasi perifer.
PALPASI
Untuk mengetahui suhu, edema dan denyutan. Pemeriksa dapat menekan tempat tersebut dengan ketentuan :
+ 1 = cekung sedikit yang cepat hilang.
+ 2 = cekung menghilang dalam waktu 10-15 detik.
+ 3 = cekung dalam yang menghilang dalam waktu 1-2 menit.
+ 4 = bebas cekungan hilang dalam waktu 5 menit atau lebih.
AUSKULTASI
Pada pemeriksaan ini dapat digunakan untuk mendengar bunyi arteri.
(MATERI KULIAH KMB II)
RIWAYAT KESEHATAN/KEPERAWATAN
Keluhan Utama :
• Nyeri dada
• Sesak nafas
• Edema
Riwayat Kesehatan :
Digunakan untuk mengumpulkan data tentang kebiasaan yang mencerminkan refleksi perubahan dan sirkulasi oksigen.
• Nyeri ---- lokasi, durasi, awal pencetus, kwalitas, kuantitas, factor yang memperberat/memperingan, tipe nyeri.
• Integritas neurovaskuler ---- mengalami panas, mati rasa, dan perasaan geli.
• Status pernafasan ---- sukar bernafas, nafas pendek, orthopnoe, paroxysmal nocturnal dyspnoe dan efek latihan pada pernafasan.
• Ganngguan sirkulasi ---- peningkatan berat badan, perdarahan, pasien sudah lelah.
• Riwayat kesehatan sebelumnya ---- penyekit yang pernah diderita, obat-obat yang digunakan dan potensial penyakit keturunan.
• Kebiasaan pasien ---- diet, latihan, merokok dan minuman.
Riwayat Perkembangan :
Struktur system kardiovaskuler berubah sesuai usia.
• Efek perkembangan fisik denyut jantung.
• Produksi zat dalam darah.
• Tekanan darah.
Riwayat Sosial :
• Cara hidup pasien.
• Latar belakang pendidikan
• Sumber-sumber ekonomi.
• Agama.
• Kebudayaan dan etnik.
Riwayat Psikologis :
Informasi tentang status psikologis penting untuk mengembangkan rencana asuhan keperawatan.
• Mengidentifikasi stress/sumber stress.
• Mengidentifikasi cara koping, mekanisme dan sumber-sumber coping.
PENGKAJIAN FISIK
JANTUNG
Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan fisik umum dan khusus pada jantung. Sebelum melakukan pemeriksaan fisik khusus pada jantung, maka penting terlebih dahulu melihat pasien secara keseluruhan/keadaan umum termasuk mengukur tekanan darah, denyut nadi, suhu badan dan frekuensi pernafasan.
Keadaan umum secara keseluruhan yang perlu dilihat adalah :
• Bentuk tubuh gemuk/kurus
• Anemis
• Sianosis
• Sesak nafas
• Keringat dingin
• Muka sembab
• Oedem kelopak mata
• Asites
• Bengkak tungkai/pergelangan kaki
• Clubbing ujung jari-jari tangan
Pada pasien khususnya penyakit jantung amat penting melakukan pemeriksaan nadi adalah :
• Kecepatan/menit
• Kuat/lemah (besar/kecil)
• Teratur atau tidak
• Isi setiap denyut sama kuat atau tidak.
INSPEKSI
Lihat dan perhatikan impuls dari iktus kordis
Mudah terlihat pada pasien yang kurus dan tidak terlihat pada pasien yang gemuk atau emfisema pulmonum. Yang perlu diperhatikan adalah Titik Impuls Maksimum (Point of Maximum Impulse). Normalnya berada pada ruang intercostals V pada garis midklavikular kiri. Apabila impuls maksimum ini bergeser ke kiri berarti ada pembesaran jantung kiri atau jantung terdorong atau tertarik kekiri.
Toraks/dada
Pasien berbaring dengan dasar yang rata. Pada bentuk dada “Veussure Cardiac” dinding totaks di bagian jantung menonjolm menandakan penyekit jantung congenital. Benjolan ini dapat dipastikan dengan perabaan.
Vena Jugularis Eksterna (dileher kiri dan kanan)
Teknik :
• Posisi pasien setengah duduk dengan kemiringan ± 45º
• Leher diluruskan dan kepala menoleh sedikit kekiri pemeriksa di kanan pasien
• Perhatikan vena jugularis eksterna yang terletak di leher ; apakah terisi penuh/sebagian, di mana batas atasnya bergerak naik turun.
• Dalam keadaan normal vena jugularis eksterna tersebut kosong/kolaps.
• Vena jugularis yang terisi dapat disebabkan oleh :
- Payah jantung kanan (dengan atau tanpa jantung kiri).
- Tekanan intra toraks yang meninggi.
- Tamponade jantung.
- Tumor mediastinum yang menekan vena cava superior.
PALPASI
Palpasi dapat mengetahui dan mengenal ukuran jantung dan denyut jantung. Point of Maximum Impuls dipalpasi untuk mengetahui getaran yang terjadi ketika darah mengalir melalui katup yang menyempit atau mengalami gangguan.
Dengan posisi pasien tetap terlentang kita raba iktus kordis yang kita amati pada inspeksi. Perabaan dilakukan dengan 2 jari (telunjuk dan jari tengah) atau dengan telapak tangan.
Yang perlu dinilai adalah :
• Lebar impuls iktus kordis
• Kekuatan angkatnya
Normal lebar iktus kordis tidak melebihi 2 jari. Selain itu perlu pula dirasakan (dengan telapak tangan) :
• Bising jantung yang keras (thrill)
• Apakah bising sistolik atau diastolic
• Bunyi murmur
• Friction rub (gesekan pericardium dengan pleura)
Iktus kordis yang kuat dan melebar tanda dari pembesaran/hipertropi otot jantung akibat latihan/atlit, hipertensi, hipertiroid atau kelainan katup jantung.
PERKUSI
Dengan posisi pasien tetap berbaring/terlentang kita lakukan pemeriksaan perkusi. Tujuannya adalah untuk menentukan batas jantung (batas atas kanan kiri). Teknik perkusi menuntut penguasaan teknik dan pengalaman, diperlukan keterampilan khusus. Pemeriksa harus mengetahui tentang apa yang disebut sonor, redup dan timpani.
AUSKULTASI
Pemeriksaan auskultasi untuk menentukan denyut jantung, irama jantung, bunyi jantung, murmur dan gesekan (rub).
Bunyi jantung perlu dinilai kualitas dan frekuensinya. Bunyi jantung merupakan refleksi dari membuka dan menutupnya katup dan terdengar di titik spesifik dari dinding dada.
Bunyi jantung I (S1) dihasilkan oleh penutupan katup atrioventrikuler (mitral dan trikuspidalis).
Bunyi jantung II (S2) disebabkan oleh penutupan katup semilunar (aorta dan pulmonal).
Bunyi jantung III (S3) merupakan pantulan vibrasi ventrikuler dihasilkan oleh pengisian ventrikel ketika diastole dan mengikuti S2.
Bunyi jantung IV (S4) disebabkan oleh tahanan untuk mengisi ventrikel pada diastole yang lambat karena meningkatnya tekanan diastole ventrikel atau lemahnya penggelembungan ventrikel.
Bunyi bising jantung disebabkan oleh pembukaan dan penutupan katup jantung yang tidak sempurna. Yang perlu diperhatikan pada setiap bising jantung adalah :
• Apakah bising sistolik atau diastolic atau kedua-duanya.
• Kenyaringan (keras-lemah) bising.
• Lokasi bising (yang maksimal).
• Penyebaran bising.
Adapun derajat kenyaringan bising jantung dipengaruhi oleh :
• Kecepatan aliran darah yang melalui katup.
• Derajat kelainan/gangguan katup.
• Tebal tipisnya dinding toraks.
• Ada tidaknya emfisema paru.
Tingkat kenyaringan bising jantung meliputi :
• Tingkat I : sangat lemah, terdengar pada ruangan amat sunyi.
• Tingkat II : lemah, dapat didengar dengan ketelitian.
• Tingkat III : nyaring, segera dapat terdengar/mudah didengar.
• Tingkat IV : amat nyaring tanpa thrill.
• Tingkat V : amat nyaring dengan thrill (getaran teraba)
• Tingkat VI : dapat didengar tanpa stetoskop.
Murmur adalah bunyi hasil vibrasi dalam jantung dan pembuluh darah besar disebabkan oleh bertambahnya turbulensi aliran. Pada murmur dapat ditentukan :
• Lokasi : daerah tertentu/menyebar
• Waktu : setiap saat, ketika sistolik/diastolic.
• Intensitas :
Tingkat 1 : sangat redup.
Tingkat 2 : redup
Tingkat 3 : agak keras
Tingkat 4 : keras
Tingkat 5 : sangat keras
Tingkat 6 : kemungkinan paling keras.
• Puncak : kecepatan aliran darah melalui katup dapat berupa rendah, medium dan tinggi.
• Kualitas : mengalir, bersiul, keras/kasar, musical, gaduh atau serak.
Gesekan (rub) adalah bunyi yang dihasilkan oleh parietal dan visceral oleh perikarditis. Bunyi kasar, intensitas, durasi dan lokasi tergantung posisi klien.
PEMBULUH DARAH
INSPEKSI
Pada pemeriksaan ini untuk mengobservasi warna, ukuran dan sirkulasi perifer.
PALPASI
Untuk mengetahui suhu, edema dan denyutan. Pemeriksa dapat menekan tempat tersebut dengan ketentuan :
+ 1 = cekung sedikit yang cepat hilang.
+ 2 = cekung menghilang dalam waktu 10-15 detik.
+ 3 = cekung dalam yang menghilang dalam waktu 1-2 menit.
+ 4 = bebas cekungan hilang dalam waktu 5 menit atau lebih.
AUSKULTASI
Pada pemeriksaan ini dapat digunakan untuk mendengar bunyi arteri.
(MATERI KULIAH KMB II)
ASKEP GAGAL JANTUNG
23:35
PENGERTIAN
Gagal jantung adalah suatu keadaan dimana jantung tidak mampu lagi memompakan darah secukupnya dalam memenuhi kebutuhan sirkulasi untuk metabolisme jaringan tubuh, sedangkan tekanan pengisian ke dalam jantung masih cukup tinggi.
PENYEBAB
Terjadinya gagal jantung dapat disebabkan :
1. Disfungsi miokard (kegagalan miokardial)
Ketidakmampuan miokard untuk berkontraksi dengan sempurna mengakibatkan isi sekuncup ( stroke volume) dan curah jantung (cardiac output) menurun.
2. Beban tekanan berlebihan-pembebanan sistolik (systolic overload)
Beban sistolik yangb berlebihan diluar kemampuan ventrikel (systolic overload) menyebabkan hambatan pada pengosongan ventrikel sehingga menurunkan curah ventrikel atau isi sekuncup.
3. Beban volum berlebihan-pembebanan diastolic (diastolic overload)
Preload yang berlebihan dan melampaui kapasitas ventrikel (diastolic overload) akan menyebabkan volum dan tekanan pada akhir diastolic dalam ventrikel meninggi. Prinsip Frank Starling ; curah jantung mula-mula akan meningkat sesuai dengan besarnya regangan otot jantung, tetapi bila beban terus bertambah sampai melampaui batas tertentu, maka curah jantung justru akan menurun kembali.
4. Peningkatan kebutuhan metabolic-peningkatan kebutuhan yang berlebihan (demand overload)
Beban kebutuhan metabolic meningkat melebihi kemampuan daya kerja jantung di mana jantung sudah bekerja maksimal, maka akan terjadi keadaan gagal jantung walaupun curah jantung sudah cukup tinggi tetapi tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan sirkulasi tubuh.
5. Gangguan pengisian (hambatan input).
Hambatan pada pengisian ventrikel karena gangguan aliran masuk ke dalam ventrikel atau pada aliran balik vena/venous return akan menyebabkan pengeluaran atau output ventrikel berkurang dan curah jantung menurun.
GAGAL JANTUNG KIRI
Gagal jantung kiri atau gagal jantung ventrikel kiri terjadi karena adanya gangguan pemompaan darah oleh ventrikel kiri sehingga curah jantung kiri menurun dengan akibat tekanan akhir diastolic dalam ventrikel kiri dan volum akhir diastolic dalam ventrikel kiri meningkat.
GEJALA :
• Perasaan badan lemah
• Cepatl lelah
• Berdebar-debar
• Sesak nafas
• Batuk Anoreksia
• Keringat dingin.
• Takhikardia
• Dispnea
• Paroxysmal nocturnal dyspnea
• Ronki basah paru dibagian basal
• Bunyi jantung III
GAGAL JANTUNG KANAN
Gagal jantung kanan karena gangguan atau hambatan pada daya pompa ventrikel kanan sehingga isi sekuncup ventrikel kanan menurun tanpa didahului oleh adanya gagal jantung kiri.
GEJALA :
• Edema tumit dan tungkai bawah
• Hati membesar, lunak dan nyeri tekan
• Bendungan pada vena perifer (jugularis)
• Gangguan gastrointestinal (perut kembung, anoreksia dan nausea) dan asites.
• Berat badan bertambah
• Penambahan cairan badan
• Kaki bengkak (edema tungkai)
• Perut membuncit
• Perasaan tidak enak pada epigastrium.
• Edema kaki
• Asites
• Vena jugularis yang terbendung
• Hepatomegali
GAGAL JANTUNG KONGESTIF
Bila gangguan jantung kiri dan jantung kanan terjadi bersamaan. Dalam keadaan gagal jantung kongestif, curah jantung menurun sedemikian rupa sehingga terjadi bendungan sistemik bersama dengan bendungan paru.
GEJALA :
• Kumpulan gejala gagal jantung kiri dan kanan.
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan gagal jantung kongestif dengan sasaran :
1. Untuk menurunkan kerja jantung
2. Untuk meningkatkan curah jantung dan kontraktilitas miokard
3. Untuk menurunkan retensi garam dan air.
TIRAH BARING
Tirah baring mengurangi kerja jantung, meningkatkan tenaga cadangan jantung dan menurunkan tekanan darah dengan menurunkan volume intra vaskuler melalui induksi diuresis berbaring..
OKSIGEN
Pemenuhan oksigen akan mengurangi demand miokard dan membantu memenuhi kebutuhan oksigen tubuh.
TERAPI NITRAT DAN VASODILATOR KORONER
Menyebabkan vasodilatasi perifer dan penurunan konsumsi oksigen miokard.
DIURETIK
Diuretik memiliki efek antihipertensi dengan meningkatkan pelepasan air dan garam natrium sehingga menyebabkan penurunan volume cairan dan merendahkan tekanan darah.
DIGITALIS
Digitalis memperlambat frekuensi ventrikel dan meningkatkan kekuatan kontraksi, peningkatan efisiensi jantung. Saat curah jantung meningkat, volume cairan lebih besar dikirim ke ginjal untuk filtrasi dan ekskresi dan volume intravascular menurun.
INOTROPIK POSITIF
Dobutamin adalah obat simpatomimetik dengan kerja beta 1 adrenergik. Efek beta 1 meningkatkan kekuatan kontraksi miokardium (efek inotropik positif) dan meningkatkan denyut jantung (efek kronotropik positif).
SEDATIF
Pemberian sedative untuk mengurangi kegelisahan bertujuan mengistirahatkan dan memberi relaksasi pada klien.
DIET
Pengaturan diet membuat kerja dan ketegangan otot jantung minimal. Selain itu pembatasan natrium ditujukan untuk mencegah, mengatur, atau mengurangi edema.
PENGKAJIAN
RIWAYAT KESEHATAN/KEPERAWATAN
Keluhan Utama :
• Lemah beraktifitas
• Sesak nafas
Riwayat Penyakit Sekarang :
• Penyebab kelemahan fisik setelah melakukan aktifitas ringan sampai berat.
• Seperti apa kelemahan melakukan aktifitas yang dirasakan, biasanya disertai sesak nafas.
• Apakah kelemahan fisik bersifat local atau keseluruhan system otot rangka dan apakah disertai ketidakmampuan dalam melakukan pergerakan.
• Bagaimana nilai rentang kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
• Kapan timbulnya keluhan kelemahan beraktifitas, seberapa lamanya kelemahan beraktifitas, apakah setiap waktu, saat istirahat ataupun saat beraktifitas.
Riwayat Penyakit Dahulu :
• Apakah sebelumnya pernah menderita nyeri dada, darah tinggi, DM, hiperlipidemia.
• Obat apa saja yang pernah diminum yang berhubungan dengan obat diuretic, nitrat, penghambat beta serta antihipertensi. Apakah ada efek samping dan alergi obat.
Riwayat Keluarga :
• Penyakit apa yang pernah dialami keluarga dan adakah anggota keluarga yang meninggal, apa penyebab kematiannya.
Riwayat Pekerjaan dan Kebiasaan :
• Situasi tempat kerja dan lingkungannya
• Kebiasaan dalam pola hidup pasien.
• Kebiasaan merokok
PEMERIKSAAN FISIK
KEADAAN UMUM
Didapatkan kesadaran baik atau compos mentis dan berubah sesuai tingkat gangguan yang melibatkan perfusi system saraf pusat
BREATHING
• Terlihat sesak
• Frekuensi nafas melebihi normal
BLEEDING
• Inspeksi : adanya parut, keluhan kelemahan fisik, edema ekstrimitas.
• Palpasi : denyut nadi perifer melemah, thrill
• Perkusi : Pergeseran batas jantung
• Auskultasi : Tekanan darah menurun, bunyi jantung tambahan
BRAIN
• Kesadaran biasnya compos mentis
• Sianosis perifer
• Wajah meringis, menangis, merintih, meregang dan menggeliat.
BLADDER
• Oliguria
• Edema ekstrimitas
BOWEL
• Mual
• Muntah
• Penurunan nafsu makan
• Penurunan berat badan
BONE
• Kelemahan
• Kelelahan
• Tidak dapat tidur
• Pola hidup menetap
• Jadwal olahraga tak teratur
PSIKOSOSIAL
• Integritas ego : menyangkal, takut mati, marah, kuatir.
• Interaksi social : stress karena keluarga, pekerjaan, kesulitan biaya ekonomi, kesulitan koping.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Penurunan kardiak output berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokard.
Rencana Intervensi :
• Kaji dan lapor tanda penurunan curah jantung.
• Periksa keadaan klien ; kaji frekuensi dan irama jantung.
• Catat bunyi jantung.
• Palpasi nadi perifer.
• Pantau dan catat haluaran urine.
• Pertahankan bedrest dengan kepala tempat tidur elevasi 30º
• Berikan istirahat dengan lingkungan yang tenang.
• Berikan oksigen tambahan
• Kolaborasi untuk pemberian obat
• Pemberian cairan IV, pembatasan jumlah total sesuai indikasi, hindari cairan garam.
• Pantau EKG dan perubahan foto dada.
2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti paru sekunder perubahan membrane kapiler alveoli dan retensi cairan interstitial.
Rencana Intervensi :
• Kaji frekuensi, irama, bunyi dan dalamnya pernafasan.
• Berikan tambahan oksigen
• Pantau saturasi oksigen
• Koreksi keseimbangan asam basa.
• Beri posisi yang memudahkan meningkatkan ekspansi paru.
• Latih batuk efektif dan nafas dalam.
• Kolaborasi pemberian obat.
3. Nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri koroner.
Rencana Intervensi :
• Catat karakteristik nyeri, lokasi, intensitas, lamanya dan penyebarannya
• Anjurkan untuk melaporkan nyeri dengan segera
• Berikan lingkungan yang tenang, aktifitas perlahan
• Bantu melakukan teknik relaksasi
• Berikan oksigen tambahan
• Kolaborasi pemberian obat anti nyeri.
4. Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan curah jantung.
Rencana Intervensi :
• Kaji status mental klien
• Kaji warna kulit, suhu, sianosis, nadi perifer dan diaforesis secara teratur
• Kaji kualitas peristaltic kapan perlu pasang sonde.
• Kaji adanya kongesti hepar pada abdomen kanan atas
• Ukur tanda vital dan periksa laboratorium.
5. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kongesti vaskuler pulmonalis dan perpindahan cairan ke ekstra vaskuler.
Rencana Intervensi :
• Kaji tekanan darah
• Kaji distensi vena jugularis
• Timbang BB
• Beri posisi yang membantu drainage ekstrimitas dan latihan gerak pasif.
• Periksa laboratorium
6. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplay dan demand oksigen.
• Catat frekuensi jantung, irama dan perubahan TD sebelum dan sesudah aktifitas
• Tingkatkan istirahat dan batasi aktifitas
• Anjurkan menghindari peningkatan tekanan abdomen
• Pertahankan klien tirah baring
• Evaluasi tanda vital saat aktifitas
• Pertahankan penambahan O2 sesuai pesanan
• Selama aktifitas kaji EKG, dispnoe, sianosis, frekuensi dan pola nafas.
• Rujuk program rehabilitasi jantung
7. Cemas berhubungan dengan hospitalisasi dan kurangnya pengetahuan tentang penyakit serta penanganan yang akan didapatkan.
• Kaji tanda dan ekspresi verbal kecemasan
• Temani klien selama periode cemas
• Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan aktifitas yang diharapkan
• Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan cemasnya
• Lakukan pendekatan dan komunikasi
• Berikan penjelasan tentang penyakit, penyebab dan penanganannya
• Kolaborasi pemberian obat anti cemas.
8. Risiko kambuh berhubungan dengan ketidaktahuan mengenai perawatan gagal jantung.
Rencana Intervensi :
• Diskusikan mengenai fungsi normal jantung.
• Jelaskan manfaat diet rendah garam, rendah lemak dan mempertahankan berat yang ideal.
• Jelaskan kepada klien dan keluarga mengenai factor-faktor yang dapat meningkatkan risiko kambuh.
• Jelaskan untuk memeriksa diri bila ada tanda-tanda kambuh.
• Menyarankan kepada keluarga untuk memanfaatkan sarana kesehatan dim masyarakat.
MATERI KULIAH KMB II
Gagal jantung adalah suatu keadaan dimana jantung tidak mampu lagi memompakan darah secukupnya dalam memenuhi kebutuhan sirkulasi untuk metabolisme jaringan tubuh, sedangkan tekanan pengisian ke dalam jantung masih cukup tinggi.
PENYEBAB
Terjadinya gagal jantung dapat disebabkan :
1. Disfungsi miokard (kegagalan miokardial)
Ketidakmampuan miokard untuk berkontraksi dengan sempurna mengakibatkan isi sekuncup ( stroke volume) dan curah jantung (cardiac output) menurun.
2. Beban tekanan berlebihan-pembebanan sistolik (systolic overload)
Beban sistolik yangb berlebihan diluar kemampuan ventrikel (systolic overload) menyebabkan hambatan pada pengosongan ventrikel sehingga menurunkan curah ventrikel atau isi sekuncup.
3. Beban volum berlebihan-pembebanan diastolic (diastolic overload)
Preload yang berlebihan dan melampaui kapasitas ventrikel (diastolic overload) akan menyebabkan volum dan tekanan pada akhir diastolic dalam ventrikel meninggi. Prinsip Frank Starling ; curah jantung mula-mula akan meningkat sesuai dengan besarnya regangan otot jantung, tetapi bila beban terus bertambah sampai melampaui batas tertentu, maka curah jantung justru akan menurun kembali.
4. Peningkatan kebutuhan metabolic-peningkatan kebutuhan yang berlebihan (demand overload)
Beban kebutuhan metabolic meningkat melebihi kemampuan daya kerja jantung di mana jantung sudah bekerja maksimal, maka akan terjadi keadaan gagal jantung walaupun curah jantung sudah cukup tinggi tetapi tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan sirkulasi tubuh.
5. Gangguan pengisian (hambatan input).
Hambatan pada pengisian ventrikel karena gangguan aliran masuk ke dalam ventrikel atau pada aliran balik vena/venous return akan menyebabkan pengeluaran atau output ventrikel berkurang dan curah jantung menurun.
GAGAL JANTUNG KIRI
Gagal jantung kiri atau gagal jantung ventrikel kiri terjadi karena adanya gangguan pemompaan darah oleh ventrikel kiri sehingga curah jantung kiri menurun dengan akibat tekanan akhir diastolic dalam ventrikel kiri dan volum akhir diastolic dalam ventrikel kiri meningkat.
GEJALA :
• Perasaan badan lemah
• Cepatl lelah
• Berdebar-debar
• Sesak nafas
• Batuk Anoreksia
• Keringat dingin.
• Takhikardia
• Dispnea
• Paroxysmal nocturnal dyspnea
• Ronki basah paru dibagian basal
• Bunyi jantung III
GAGAL JANTUNG KANAN
Gagal jantung kanan karena gangguan atau hambatan pada daya pompa ventrikel kanan sehingga isi sekuncup ventrikel kanan menurun tanpa didahului oleh adanya gagal jantung kiri.
GEJALA :
• Edema tumit dan tungkai bawah
• Hati membesar, lunak dan nyeri tekan
• Bendungan pada vena perifer (jugularis)
• Gangguan gastrointestinal (perut kembung, anoreksia dan nausea) dan asites.
• Berat badan bertambah
• Penambahan cairan badan
• Kaki bengkak (edema tungkai)
• Perut membuncit
• Perasaan tidak enak pada epigastrium.
• Edema kaki
• Asites
• Vena jugularis yang terbendung
• Hepatomegali
GAGAL JANTUNG KONGESTIF
Bila gangguan jantung kiri dan jantung kanan terjadi bersamaan. Dalam keadaan gagal jantung kongestif, curah jantung menurun sedemikian rupa sehingga terjadi bendungan sistemik bersama dengan bendungan paru.
GEJALA :
• Kumpulan gejala gagal jantung kiri dan kanan.
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan gagal jantung kongestif dengan sasaran :
1. Untuk menurunkan kerja jantung
2. Untuk meningkatkan curah jantung dan kontraktilitas miokard
3. Untuk menurunkan retensi garam dan air.
TIRAH BARING
Tirah baring mengurangi kerja jantung, meningkatkan tenaga cadangan jantung dan menurunkan tekanan darah dengan menurunkan volume intra vaskuler melalui induksi diuresis berbaring..
OKSIGEN
Pemenuhan oksigen akan mengurangi demand miokard dan membantu memenuhi kebutuhan oksigen tubuh.
TERAPI NITRAT DAN VASODILATOR KORONER
Menyebabkan vasodilatasi perifer dan penurunan konsumsi oksigen miokard.
DIURETIK
Diuretik memiliki efek antihipertensi dengan meningkatkan pelepasan air dan garam natrium sehingga menyebabkan penurunan volume cairan dan merendahkan tekanan darah.
DIGITALIS
Digitalis memperlambat frekuensi ventrikel dan meningkatkan kekuatan kontraksi, peningkatan efisiensi jantung. Saat curah jantung meningkat, volume cairan lebih besar dikirim ke ginjal untuk filtrasi dan ekskresi dan volume intravascular menurun.
INOTROPIK POSITIF
Dobutamin adalah obat simpatomimetik dengan kerja beta 1 adrenergik. Efek beta 1 meningkatkan kekuatan kontraksi miokardium (efek inotropik positif) dan meningkatkan denyut jantung (efek kronotropik positif).
SEDATIF
Pemberian sedative untuk mengurangi kegelisahan bertujuan mengistirahatkan dan memberi relaksasi pada klien.
DIET
Pengaturan diet membuat kerja dan ketegangan otot jantung minimal. Selain itu pembatasan natrium ditujukan untuk mencegah, mengatur, atau mengurangi edema.
PENGKAJIAN
RIWAYAT KESEHATAN/KEPERAWATAN
Keluhan Utama :
• Lemah beraktifitas
• Sesak nafas
Riwayat Penyakit Sekarang :
• Penyebab kelemahan fisik setelah melakukan aktifitas ringan sampai berat.
• Seperti apa kelemahan melakukan aktifitas yang dirasakan, biasanya disertai sesak nafas.
• Apakah kelemahan fisik bersifat local atau keseluruhan system otot rangka dan apakah disertai ketidakmampuan dalam melakukan pergerakan.
• Bagaimana nilai rentang kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
• Kapan timbulnya keluhan kelemahan beraktifitas, seberapa lamanya kelemahan beraktifitas, apakah setiap waktu, saat istirahat ataupun saat beraktifitas.
Riwayat Penyakit Dahulu :
• Apakah sebelumnya pernah menderita nyeri dada, darah tinggi, DM, hiperlipidemia.
• Obat apa saja yang pernah diminum yang berhubungan dengan obat diuretic, nitrat, penghambat beta serta antihipertensi. Apakah ada efek samping dan alergi obat.
Riwayat Keluarga :
• Penyakit apa yang pernah dialami keluarga dan adakah anggota keluarga yang meninggal, apa penyebab kematiannya.
Riwayat Pekerjaan dan Kebiasaan :
• Situasi tempat kerja dan lingkungannya
• Kebiasaan dalam pola hidup pasien.
• Kebiasaan merokok
PEMERIKSAAN FISIK
KEADAAN UMUM
Didapatkan kesadaran baik atau compos mentis dan berubah sesuai tingkat gangguan yang melibatkan perfusi system saraf pusat
BREATHING
• Terlihat sesak
• Frekuensi nafas melebihi normal
BLEEDING
• Inspeksi : adanya parut, keluhan kelemahan fisik, edema ekstrimitas.
• Palpasi : denyut nadi perifer melemah, thrill
• Perkusi : Pergeseran batas jantung
• Auskultasi : Tekanan darah menurun, bunyi jantung tambahan
BRAIN
• Kesadaran biasnya compos mentis
• Sianosis perifer
• Wajah meringis, menangis, merintih, meregang dan menggeliat.
BLADDER
• Oliguria
• Edema ekstrimitas
BOWEL
• Mual
• Muntah
• Penurunan nafsu makan
• Penurunan berat badan
BONE
• Kelemahan
• Kelelahan
• Tidak dapat tidur
• Pola hidup menetap
• Jadwal olahraga tak teratur
PSIKOSOSIAL
• Integritas ego : menyangkal, takut mati, marah, kuatir.
• Interaksi social : stress karena keluarga, pekerjaan, kesulitan biaya ekonomi, kesulitan koping.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Penurunan kardiak output berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokard.
Rencana Intervensi :
• Kaji dan lapor tanda penurunan curah jantung.
• Periksa keadaan klien ; kaji frekuensi dan irama jantung.
• Catat bunyi jantung.
• Palpasi nadi perifer.
• Pantau dan catat haluaran urine.
• Pertahankan bedrest dengan kepala tempat tidur elevasi 30º
• Berikan istirahat dengan lingkungan yang tenang.
• Berikan oksigen tambahan
• Kolaborasi untuk pemberian obat
• Pemberian cairan IV, pembatasan jumlah total sesuai indikasi, hindari cairan garam.
• Pantau EKG dan perubahan foto dada.
2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti paru sekunder perubahan membrane kapiler alveoli dan retensi cairan interstitial.
Rencana Intervensi :
• Kaji frekuensi, irama, bunyi dan dalamnya pernafasan.
• Berikan tambahan oksigen
• Pantau saturasi oksigen
• Koreksi keseimbangan asam basa.
• Beri posisi yang memudahkan meningkatkan ekspansi paru.
• Latih batuk efektif dan nafas dalam.
• Kolaborasi pemberian obat.
3. Nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri koroner.
Rencana Intervensi :
• Catat karakteristik nyeri, lokasi, intensitas, lamanya dan penyebarannya
• Anjurkan untuk melaporkan nyeri dengan segera
• Berikan lingkungan yang tenang, aktifitas perlahan
• Bantu melakukan teknik relaksasi
• Berikan oksigen tambahan
• Kolaborasi pemberian obat anti nyeri.
4. Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan curah jantung.
Rencana Intervensi :
• Kaji status mental klien
• Kaji warna kulit, suhu, sianosis, nadi perifer dan diaforesis secara teratur
• Kaji kualitas peristaltic kapan perlu pasang sonde.
• Kaji adanya kongesti hepar pada abdomen kanan atas
• Ukur tanda vital dan periksa laboratorium.
5. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kongesti vaskuler pulmonalis dan perpindahan cairan ke ekstra vaskuler.
Rencana Intervensi :
• Kaji tekanan darah
• Kaji distensi vena jugularis
• Timbang BB
• Beri posisi yang membantu drainage ekstrimitas dan latihan gerak pasif.
• Periksa laboratorium
6. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplay dan demand oksigen.
• Catat frekuensi jantung, irama dan perubahan TD sebelum dan sesudah aktifitas
• Tingkatkan istirahat dan batasi aktifitas
• Anjurkan menghindari peningkatan tekanan abdomen
• Pertahankan klien tirah baring
• Evaluasi tanda vital saat aktifitas
• Pertahankan penambahan O2 sesuai pesanan
• Selama aktifitas kaji EKG, dispnoe, sianosis, frekuensi dan pola nafas.
• Rujuk program rehabilitasi jantung
7. Cemas berhubungan dengan hospitalisasi dan kurangnya pengetahuan tentang penyakit serta penanganan yang akan didapatkan.
• Kaji tanda dan ekspresi verbal kecemasan
• Temani klien selama periode cemas
• Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan aktifitas yang diharapkan
• Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan cemasnya
• Lakukan pendekatan dan komunikasi
• Berikan penjelasan tentang penyakit, penyebab dan penanganannya
• Kolaborasi pemberian obat anti cemas.
8. Risiko kambuh berhubungan dengan ketidaktahuan mengenai perawatan gagal jantung.
Rencana Intervensi :
• Diskusikan mengenai fungsi normal jantung.
• Jelaskan manfaat diet rendah garam, rendah lemak dan mempertahankan berat yang ideal.
• Jelaskan kepada klien dan keluarga mengenai factor-faktor yang dapat meningkatkan risiko kambuh.
• Jelaskan untuk memeriksa diri bila ada tanda-tanda kambuh.
• Menyarankan kepada keluarga untuk memanfaatkan sarana kesehatan dim masyarakat.
MATERI KULIAH KMB II
ASKEP ANAK IKTERUS (HIPERBILIRUBIN)
23:05
I. PENDAHULUAN
Ikterus terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah. Pada sebagian neonatus, ikterus akan ditemukan dalam minggu pertama kehidupannya. Dikemukakan bahwa angka kejadian ikterus terdapat pada 60% bayi cukup bulan dan pada 80% bayi kurang bulan. Di Jakarta dilaporkan 32,19% menderita ikterus. Ikterus ini pada sebagian lagi mungkin bersifat patologik yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau menyebabkan kematian, karenanya setiap bayi dengan ikterus harus mendapat perhatian terutama apabila ikterus ditemukan dalam 24 jam pertama kehidupan bayi atau kadar bilirubin meningkat lebih dari 5 mg/dl dalam 24 jam. Proses hemolisis darah, infeksi berat, ikterus yang berlangsung lebih dari 1 minggu serta bilirubin direk lebih dari 1 mg/dl juga merupakan keadaan yang menunjukkan kemungkinan adanya ikterus patologik. Dalam keadaan tersebut penatalaksanaan ikterus harus dilakukan sebaik-baiknya agar akibat buruk ikterus dapat dihindarkan.
II. KONSEP DASAR
A. Pengertian
Ikterus fisiologik adalah ikterus yang timbul pada hari kedua dan ketiga yang tidak mempunyai dasar patologis, kadarnya tidak melewati kadar yang membahayakan atau mempunyai potensi menjadi “kernicterus” dan tidak menyebabkan suatu morbiditas pada bayi.
Ikterus patologik adalah ikterus yang mempunyai dasar patologis atau kadar bilirubinnya mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubin.
B. Metabolisme Bilirubin
Untuk mendapat pengertian yang cukup mengenai masalah ikterus pada neonatus, perlu diketahui sedikit tentang metabolisme bilirubin pada neonatus.
Bilirubin merupakan produk yang bersifat toksik dan harus dikeluarkan oleh tubuh. Sebagian besar bilirubin tersebut berasal dari degredasi hemoglobin darah dan sebagian lagi dari hem bebas atau eritropoesis yang tidak efektif. Pembentukan bilirubin tadi dimulai dengan proses oksidasi yang menghasilkan biliverdin serta beberapa zat lain. Biliverdin inilah yang mengalami reduksi dan menjadi bilirubin bebas atau bilirubin IX alfa. Zat ini sulit larut dalam air tetapi larut dalam lemak, karenanya mempunyai sifat lipofilik yang sulit diekskresi dan mudah melalui membran biologik seperti plasenta dan sawar darah otak. Bilirubin bebas tersebut kemudian bersenyawa dengan albumin dan dibawa ke hepar. Di dalam hepar terjadi mekanisme ambilan, sehingga bilirubin terikat oleh reseptor membran sel hati dan masuk ke dalam sel hati. Segera setelah ada dalam sel hati, terjadi persnyawaan dengan ligandin (protein-Y) protein Z dan glutation hati lain yang membawanya ke retikulum endoplasma hati, tempat terjadinya proses konjugasi.
Prosedur ini timbul berkat adanya enzim glukotonil transferase yang kemudian menghasilkan bentuk bilirubin indirek. Jenis bilirubin ini dapat larut dalam air dan pada kadar tertentu dapat diekskresikan melalui ginjal. Sebagian besar bilirubin yang terkonjugasi ini dikeskresi melalui duktus hepatikus ke dalam saluran pencernaan dan selanjutnya menjadi urobilinogen dan keluar dengan tinja sebagai sterkobilin. Dalam usus sebagian diabsorbsi kembali oleh mukosa usus dan terbentuklah proses absorbsi enterohepatik.
Sebagian besar neonatus mengalami peninggian kadar bilirubin indirek pada hari-hari pertama kehidupan. Hal ini terjadi karena terdapatnya proses fisiologik tertentu pada neonatus. Proses tersebut antara lain karena tingginya kadar eritrosit neonatus, masa hidup eritrosit yang lebih pendek (80-90 hari) dan belum matangnya fungsi hepar. Peninggian kadar bilirubin ini terjadi pada hari ke 2-3 dan mencapai puncaknya pada hari ke 5-7, kemudian akan menurun kembali pada hari ke 10-14 kadar bilirubin pun biasanya tidak melebihi 10 mg/dl pada bayi cukup bulan dan kurang dari 12 mg/dl pada bayi kurang bulan. Pada keadaan ini peninggian bilirubin masih dianggap normal dan karenanya disebut ikterus fisiologik.
Masalah akan timbul apabila produksi bilirubin ini terlalu berlebihan atau konjugasi hati menurun sehingga kumulasi di dalam darah. Peningkatan kadar bilirubin yang berlebihan dapat menimbulkan kerusakan sel tubuh t3, misal kerusakan sel otak yang akan mengakibatkan gejala sisa dihari kemudian.
C. Etiologi
Penyebab ikterus pada bayi baru lahir dapat berdiri sendiri ataupun dapat disebabkan oleh beberapa faktor:
1. Produksi yang berlebihan
Hal ini melebihi kemampuannya bayi untuk mengeluarkannya, misal pada hemolisis yang meningkat pada inkompabilitas darah Rh, ABO, golongan darah lain, defisiensi enzim G-6-PADA, piruvat kinase, perdarahan tertutup dan sepsis.
2. Gangguan proses “uptake” dan konjugasi hepar
Gangguan ini dapat disebabkan oleh immturitas hepar, kurangnya substrat untuk konjugasi bilirubin, gangguan fungsi hepar, akibat asidosis, hipoksia dan infeksi atau tidak terdapatnya enzim glukoronil transferase (sindrom Criggler-Najjar) penyebab lain atau defisiensi protein Y dalam hepar yang berperan penting dalam “uptake” bilirubin ke sel hepar.
3. Gangguan transportasi
Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian diangkat ke hepar. Ikatan bilirubin dengan albumin dapat dipengaruhi oleh obat misalnya salisilat, dan sulfaforazole. Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak terdapat bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat ke sel otak.
4. Gangguan dalam ekskresi
Gangguan ini dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau di luar hepar. Kelainan di luar hepar biasanya disebabkan oleh kelainan bawaan. Obstruksi dalam hepar biasanya akibat infeksi/kerusakan hepar oleh penyebab lain.
D. Patofisiologi
Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan bebab bilirubin pada streptucocus hepar yang terlalu berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit, polisitemia, memendeknya umur eritrosit janin/bayi, meningkatnya bilirubin dari sumber lain, atau terdapatnya peningkatan sirkulasi enterohepatik. Gangguan ambilan bilirubin plasma terjadi apabila kadar protein-Z dan protein-Y terikat oleh anion lain, misalnya pada bayi dengan asidosis atau dengan anoksia/hipoksia, ditentukan gangguan konjugasi hepar (defisiensi enzim glukuronii transferase) atau bayi menderita gangguan ekskresi, misalnya penderita hepatitis neonatal atau sumbatan saluran empedu intra/ekstra hepatika.
Pada derajat tertentu, bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusakan jaringan otak. Toksisitas ini terutama ditemukan pada bilirubin indirek. Sifat indirek ini yang memungkinkan efek patologik pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak ini disebut kernikterus atau ensefalopati biliaris. Mudah tidaknya bilirubin melalui sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung dari tingginya kadar bilirubin tetapi tergantung pula pada keadaan neonatus sendiri. Bilirubin indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila pada bayi terdapat keadaan imaturitas. Berat lahir rendah, hipoksia, hiperkarbia, hipoglikemia dan kelainan susunan saraf pusat yang karena trauma atau infeksi.
E. Tanda dan Gejala
♦ Kulit tampak berwarna kuning terang sampai jingga (pada bayi dengan bilirubin indirek).
♦ Anemia
♦ Petekie
♦ Perbesaran lien dan hepar
♦ Perdarahan tertutup
♦ Gangguan nafas
♦ Gangguan sirkulasi
♦ Gangguan saraf
F. Penatalaksanaan
Tujuan utama adalah untuk mengendalikan agar kadar bilirubin serum tidak mencapai nilai yang dapat menimbulkan kernikterus/ensefalopati biliaris, serta mengobati penyebab langsung ikterus. Konjugasi bilirubin dapat lebih cepat berlangsung ini dapat dilakukan dengan merangsang terbentuknya glukuronil transferase dengan pemberian obat seperti luminal atau agar. Pemberian substrat yang dapat menghambat metabolisme bilirubin (plasma atau albumin), mengurangi sirkulasi enterohepatik (pemberian kolesteramin), terapi sinar atau transfusi hikan, merupakan tindakan yang juga dapat mengendalikan kenaikan kadar bilirubin.
Penghentian atau peninjauan kembali penyinaran juga dilakukan apabila ditemukan efek samping terapi sinar, antara lain: enteritis, hipertermia, dehidrasi, kelainan kulit (ruam gigitan kutu), gangguan minum, letargi dan iritabilitas. Efek samping bersifat sementara dan kadang-kadang penyinaran dapat diteruskan sementara keadaan yang menyertainya diperbaiki.
G. Prognosis
Hiperbilirubin baru akan berpengaruh bentuk apabila bilirubin indirek telah melalui sawar otak, penderita mungkin menderita kernikterus atau ensefalopati biliaris, gejala ensefalopati pada neonatus mungkin sangat ringan dan hanya memperlihatkan gangguan minum, letargi dan hipotonia, selanjutnya bayi mungkin kejang, spastik dan ditemukan opistotonis. Pada stadium mungkin didapatkan adanya atitosis didan ditemukan opistotonis. Pada stadium mungkin didapatkan adanya atitosis ditai gangguan pendengaran atau retardasi mental di hari kemudian.
III. ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
a. Riwayat penyakit
Kekacauan/ gangguan hemolitik (Rh atau ABO incompabilitas), policitemia, infeksi, hematom, memar, liver atau gangguan metabolik, obstruksi menetap, ibu dengan diabetes.
b. Pemeriksaan fisik
- Kuning
- Pucat
- Urine pekat
- Letargi
- Penurunan kekuatan otot (hipotonia)
- Penurunan refleks menghisap
- Gatal
- Tremor
- Convulsio (kejang perut)
- Menangis dengan nada tinggi
c. Pemeriksaan psikologis
Efek dari sakit bayi; gelisah, tidak kooperatif/ sulit kooperatif, merasa asing.
d. Pengkajian pengetahuan keluarga dan pasien
Penyebab dan perawatan, tindak lanjut pengobatan, membina kekeluargaan dengan bayi yang lain yang menderita ikterus, tingkat pendidikan, kurang membaca dan kurangnya kemauan untuk belajar.
B. Diagnosa keperawatan
1. Resiko peningkatan kadar bilirubin dalam darah berhubungan dengan kondisi fisiologis/patologis
Tujuan/Kriteria
Tidak ada peningkatan hiperbilirubinemia
Rencana Tindakan
a.Monitor tanda-tanda vital
b.Monitor bilirubin serum
c.Monitor bila ada muntah, kaku otot atau tremor
d.Kolaborasi terapi dengan tim medis
e.Berikan minum ekstra
f.Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian fototerapi
2. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan malas menghisap
Tujuan/Kriteria
Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Rencana Tindakan
a.Berikan minum melalui sonde(ASI yang diperah atau PASI)
b.Lakukan oral hygiene dan olesi mulut dengan kapas basah
c.Monitor intake dan output
d.Monitor berat badan tiap hari
e.Observasi turgor dan membran mukosa
3. Resiko perubahan suhu Tubuh berhubungan dengan efek samping fototerapi
Tujuan/Kriteria:
Suhu tubuh tetap normal
Rencana Tindakan:
a.Monitor tanda-tanda vital tiap 4jam
b.Perhatikan suhu lingkungan dan gunakan isolasi
c.Berikan minum tambahan
4. Resiko terjadi trauma persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan efek samping fototerapi
Tujuan/Kriteria:
Tidak terjadi gangguan pada retina pada masa perkembangan
Rencana Tindakan:
1.Kaji efek samping fototerapi
2.Letakkan bayi 45 cm dari sumber cahaya/lampu
3.Selama dilakukan fototerapi tutup mata dan genital dengan bahan yang tidak tembus cahaya
4.Monitor reflek mata dengan senter pada saat bayi diistirahatkan dan kontrol keadaan mata setiap 8 jam
5.Buka tutup mata bila diberi minum atau saat tidak dibawah sinar
6.Observasi dan catat penggunaan lampu
5. Resiko terjadi gangguan integritas kulit berhubungan dengan efek samping
fototerapi
Tujuan/Kriteria:
Selama dalam perawatan kulit bayi tidak mengalami gangguan integritas kulit
Rencana Tindakan:
a.Observasi keadaan keutuhan kulit dan warnanya
b.Bersihkan segera bila bayi buang air besar atau buang air kecil
c.Gunakan lotion pada daerah bokong
d.Jaga alat tenun dalam keadaan bersih dan kering
e.Lakukan alih baring dan pemijatan
6. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang tujuan, prosedur pemasangan dan efek samping fototerapi
Tujuan/Kriteria:
Orang tua mengerti tujuan tujuan, prosedur dan efek samping fototerapi
Rencana Tindakan:
1.Beri penyuluhan pada orang tua tentang tujuan, prosedur dan efek samping fototerapi
2.Berikan support mental
3.Libatkan orang tua dalam prosedur fototerapi
materi kuliah keperawatan anak I
Ikterus terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah. Pada sebagian neonatus, ikterus akan ditemukan dalam minggu pertama kehidupannya. Dikemukakan bahwa angka kejadian ikterus terdapat pada 60% bayi cukup bulan dan pada 80% bayi kurang bulan. Di Jakarta dilaporkan 32,19% menderita ikterus. Ikterus ini pada sebagian lagi mungkin bersifat patologik yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau menyebabkan kematian, karenanya setiap bayi dengan ikterus harus mendapat perhatian terutama apabila ikterus ditemukan dalam 24 jam pertama kehidupan bayi atau kadar bilirubin meningkat lebih dari 5 mg/dl dalam 24 jam. Proses hemolisis darah, infeksi berat, ikterus yang berlangsung lebih dari 1 minggu serta bilirubin direk lebih dari 1 mg/dl juga merupakan keadaan yang menunjukkan kemungkinan adanya ikterus patologik. Dalam keadaan tersebut penatalaksanaan ikterus harus dilakukan sebaik-baiknya agar akibat buruk ikterus dapat dihindarkan.
II. KONSEP DASAR
A. Pengertian
Ikterus fisiologik adalah ikterus yang timbul pada hari kedua dan ketiga yang tidak mempunyai dasar patologis, kadarnya tidak melewati kadar yang membahayakan atau mempunyai potensi menjadi “kernicterus” dan tidak menyebabkan suatu morbiditas pada bayi.
Ikterus patologik adalah ikterus yang mempunyai dasar patologis atau kadar bilirubinnya mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubin.
B. Metabolisme Bilirubin
Untuk mendapat pengertian yang cukup mengenai masalah ikterus pada neonatus, perlu diketahui sedikit tentang metabolisme bilirubin pada neonatus.
Bilirubin merupakan produk yang bersifat toksik dan harus dikeluarkan oleh tubuh. Sebagian besar bilirubin tersebut berasal dari degredasi hemoglobin darah dan sebagian lagi dari hem bebas atau eritropoesis yang tidak efektif. Pembentukan bilirubin tadi dimulai dengan proses oksidasi yang menghasilkan biliverdin serta beberapa zat lain. Biliverdin inilah yang mengalami reduksi dan menjadi bilirubin bebas atau bilirubin IX alfa. Zat ini sulit larut dalam air tetapi larut dalam lemak, karenanya mempunyai sifat lipofilik yang sulit diekskresi dan mudah melalui membran biologik seperti plasenta dan sawar darah otak. Bilirubin bebas tersebut kemudian bersenyawa dengan albumin dan dibawa ke hepar. Di dalam hepar terjadi mekanisme ambilan, sehingga bilirubin terikat oleh reseptor membran sel hati dan masuk ke dalam sel hati. Segera setelah ada dalam sel hati, terjadi persnyawaan dengan ligandin (protein-Y) protein Z dan glutation hati lain yang membawanya ke retikulum endoplasma hati, tempat terjadinya proses konjugasi.
Prosedur ini timbul berkat adanya enzim glukotonil transferase yang kemudian menghasilkan bentuk bilirubin indirek. Jenis bilirubin ini dapat larut dalam air dan pada kadar tertentu dapat diekskresikan melalui ginjal. Sebagian besar bilirubin yang terkonjugasi ini dikeskresi melalui duktus hepatikus ke dalam saluran pencernaan dan selanjutnya menjadi urobilinogen dan keluar dengan tinja sebagai sterkobilin. Dalam usus sebagian diabsorbsi kembali oleh mukosa usus dan terbentuklah proses absorbsi enterohepatik.
Sebagian besar neonatus mengalami peninggian kadar bilirubin indirek pada hari-hari pertama kehidupan. Hal ini terjadi karena terdapatnya proses fisiologik tertentu pada neonatus. Proses tersebut antara lain karena tingginya kadar eritrosit neonatus, masa hidup eritrosit yang lebih pendek (80-90 hari) dan belum matangnya fungsi hepar. Peninggian kadar bilirubin ini terjadi pada hari ke 2-3 dan mencapai puncaknya pada hari ke 5-7, kemudian akan menurun kembali pada hari ke 10-14 kadar bilirubin pun biasanya tidak melebihi 10 mg/dl pada bayi cukup bulan dan kurang dari 12 mg/dl pada bayi kurang bulan. Pada keadaan ini peninggian bilirubin masih dianggap normal dan karenanya disebut ikterus fisiologik.
Masalah akan timbul apabila produksi bilirubin ini terlalu berlebihan atau konjugasi hati menurun sehingga kumulasi di dalam darah. Peningkatan kadar bilirubin yang berlebihan dapat menimbulkan kerusakan sel tubuh t3, misal kerusakan sel otak yang akan mengakibatkan gejala sisa dihari kemudian.
C. Etiologi
Penyebab ikterus pada bayi baru lahir dapat berdiri sendiri ataupun dapat disebabkan oleh beberapa faktor:
1. Produksi yang berlebihan
Hal ini melebihi kemampuannya bayi untuk mengeluarkannya, misal pada hemolisis yang meningkat pada inkompabilitas darah Rh, ABO, golongan darah lain, defisiensi enzim G-6-PADA, piruvat kinase, perdarahan tertutup dan sepsis.
2. Gangguan proses “uptake” dan konjugasi hepar
Gangguan ini dapat disebabkan oleh immturitas hepar, kurangnya substrat untuk konjugasi bilirubin, gangguan fungsi hepar, akibat asidosis, hipoksia dan infeksi atau tidak terdapatnya enzim glukoronil transferase (sindrom Criggler-Najjar) penyebab lain atau defisiensi protein Y dalam hepar yang berperan penting dalam “uptake” bilirubin ke sel hepar.
3. Gangguan transportasi
Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian diangkat ke hepar. Ikatan bilirubin dengan albumin dapat dipengaruhi oleh obat misalnya salisilat, dan sulfaforazole. Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak terdapat bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat ke sel otak.
4. Gangguan dalam ekskresi
Gangguan ini dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau di luar hepar. Kelainan di luar hepar biasanya disebabkan oleh kelainan bawaan. Obstruksi dalam hepar biasanya akibat infeksi/kerusakan hepar oleh penyebab lain.
D. Patofisiologi
Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan bebab bilirubin pada streptucocus hepar yang terlalu berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit, polisitemia, memendeknya umur eritrosit janin/bayi, meningkatnya bilirubin dari sumber lain, atau terdapatnya peningkatan sirkulasi enterohepatik. Gangguan ambilan bilirubin plasma terjadi apabila kadar protein-Z dan protein-Y terikat oleh anion lain, misalnya pada bayi dengan asidosis atau dengan anoksia/hipoksia, ditentukan gangguan konjugasi hepar (defisiensi enzim glukuronii transferase) atau bayi menderita gangguan ekskresi, misalnya penderita hepatitis neonatal atau sumbatan saluran empedu intra/ekstra hepatika.
Pada derajat tertentu, bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusakan jaringan otak. Toksisitas ini terutama ditemukan pada bilirubin indirek. Sifat indirek ini yang memungkinkan efek patologik pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak ini disebut kernikterus atau ensefalopati biliaris. Mudah tidaknya bilirubin melalui sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung dari tingginya kadar bilirubin tetapi tergantung pula pada keadaan neonatus sendiri. Bilirubin indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila pada bayi terdapat keadaan imaturitas. Berat lahir rendah, hipoksia, hiperkarbia, hipoglikemia dan kelainan susunan saraf pusat yang karena trauma atau infeksi.
E. Tanda dan Gejala
♦ Kulit tampak berwarna kuning terang sampai jingga (pada bayi dengan bilirubin indirek).
♦ Anemia
♦ Petekie
♦ Perbesaran lien dan hepar
♦ Perdarahan tertutup
♦ Gangguan nafas
♦ Gangguan sirkulasi
♦ Gangguan saraf
F. Penatalaksanaan
Tujuan utama adalah untuk mengendalikan agar kadar bilirubin serum tidak mencapai nilai yang dapat menimbulkan kernikterus/ensefalopati biliaris, serta mengobati penyebab langsung ikterus. Konjugasi bilirubin dapat lebih cepat berlangsung ini dapat dilakukan dengan merangsang terbentuknya glukuronil transferase dengan pemberian obat seperti luminal atau agar. Pemberian substrat yang dapat menghambat metabolisme bilirubin (plasma atau albumin), mengurangi sirkulasi enterohepatik (pemberian kolesteramin), terapi sinar atau transfusi hikan, merupakan tindakan yang juga dapat mengendalikan kenaikan kadar bilirubin.
Penghentian atau peninjauan kembali penyinaran juga dilakukan apabila ditemukan efek samping terapi sinar, antara lain: enteritis, hipertermia, dehidrasi, kelainan kulit (ruam gigitan kutu), gangguan minum, letargi dan iritabilitas. Efek samping bersifat sementara dan kadang-kadang penyinaran dapat diteruskan sementara keadaan yang menyertainya diperbaiki.
G. Prognosis
Hiperbilirubin baru akan berpengaruh bentuk apabila bilirubin indirek telah melalui sawar otak, penderita mungkin menderita kernikterus atau ensefalopati biliaris, gejala ensefalopati pada neonatus mungkin sangat ringan dan hanya memperlihatkan gangguan minum, letargi dan hipotonia, selanjutnya bayi mungkin kejang, spastik dan ditemukan opistotonis. Pada stadium mungkin didapatkan adanya atitosis didan ditemukan opistotonis. Pada stadium mungkin didapatkan adanya atitosis ditai gangguan pendengaran atau retardasi mental di hari kemudian.
III. ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
a. Riwayat penyakit
Kekacauan/ gangguan hemolitik (Rh atau ABO incompabilitas), policitemia, infeksi, hematom, memar, liver atau gangguan metabolik, obstruksi menetap, ibu dengan diabetes.
b. Pemeriksaan fisik
- Kuning
- Pucat
- Urine pekat
- Letargi
- Penurunan kekuatan otot (hipotonia)
- Penurunan refleks menghisap
- Gatal
- Tremor
- Convulsio (kejang perut)
- Menangis dengan nada tinggi
c. Pemeriksaan psikologis
Efek dari sakit bayi; gelisah, tidak kooperatif/ sulit kooperatif, merasa asing.
d. Pengkajian pengetahuan keluarga dan pasien
Penyebab dan perawatan, tindak lanjut pengobatan, membina kekeluargaan dengan bayi yang lain yang menderita ikterus, tingkat pendidikan, kurang membaca dan kurangnya kemauan untuk belajar.
B. Diagnosa keperawatan
1. Resiko peningkatan kadar bilirubin dalam darah berhubungan dengan kondisi fisiologis/patologis
Tujuan/Kriteria
Tidak ada peningkatan hiperbilirubinemia
Rencana Tindakan
a.Monitor tanda-tanda vital
b.Monitor bilirubin serum
c.Monitor bila ada muntah, kaku otot atau tremor
d.Kolaborasi terapi dengan tim medis
e.Berikan minum ekstra
f.Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian fototerapi
2. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan malas menghisap
Tujuan/Kriteria
Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Rencana Tindakan
a.Berikan minum melalui sonde(ASI yang diperah atau PASI)
b.Lakukan oral hygiene dan olesi mulut dengan kapas basah
c.Monitor intake dan output
d.Monitor berat badan tiap hari
e.Observasi turgor dan membran mukosa
3. Resiko perubahan suhu Tubuh berhubungan dengan efek samping fototerapi
Tujuan/Kriteria:
Suhu tubuh tetap normal
Rencana Tindakan:
a.Monitor tanda-tanda vital tiap 4jam
b.Perhatikan suhu lingkungan dan gunakan isolasi
c.Berikan minum tambahan
4. Resiko terjadi trauma persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan efek samping fototerapi
Tujuan/Kriteria:
Tidak terjadi gangguan pada retina pada masa perkembangan
Rencana Tindakan:
1.Kaji efek samping fototerapi
2.Letakkan bayi 45 cm dari sumber cahaya/lampu
3.Selama dilakukan fototerapi tutup mata dan genital dengan bahan yang tidak tembus cahaya
4.Monitor reflek mata dengan senter pada saat bayi diistirahatkan dan kontrol keadaan mata setiap 8 jam
5.Buka tutup mata bila diberi minum atau saat tidak dibawah sinar
6.Observasi dan catat penggunaan lampu
5. Resiko terjadi gangguan integritas kulit berhubungan dengan efek samping
fototerapi
Tujuan/Kriteria:
Selama dalam perawatan kulit bayi tidak mengalami gangguan integritas kulit
Rencana Tindakan:
a.Observasi keadaan keutuhan kulit dan warnanya
b.Bersihkan segera bila bayi buang air besar atau buang air kecil
c.Gunakan lotion pada daerah bokong
d.Jaga alat tenun dalam keadaan bersih dan kering
e.Lakukan alih baring dan pemijatan
6. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang tujuan, prosedur pemasangan dan efek samping fototerapi
Tujuan/Kriteria:
Orang tua mengerti tujuan tujuan, prosedur dan efek samping fototerapi
Rencana Tindakan:
1.Beri penyuluhan pada orang tua tentang tujuan, prosedur dan efek samping fototerapi
2.Berikan support mental
3.Libatkan orang tua dalam prosedur fototerapi
materi kuliah keperawatan anak I
ASKEP MENINGITIS
22:46
Definisi
Meningitis adalah radang umum araknoidia,leptomeningitis.(perawatan anak sakit,1984:232).
Meningitis adalah suatu peradangan selaput otak yang biasanya diikuti pula oleh peradangan otak.(penyakit dalam dan penanggulangan,1985).
Meningitis adalah infeksi cairan otak disertai radang yang mengenai piamater,araknoid dan dalam derajat yang lebih ringan mengenai jaringan otak dan medulla spinalis yang superficial.(neorologi kapita selekta,1996).
Patofisiologi
Otak dilapisi oleh tiga lapisan,yaitu:durameter, arachnoid,dan piameter.cairan otak dihasilkan didalam pleksus choroid ventrikel bergerak/mengalir melalui sub arachnoid dalam system ventrikuler seluruh otak dan sumsum tulang belakang, direabsorbsi melalui villi arachnoid yang berstruktur seperti jari jari didalam lapisan subarchnoid.
Organisme ( virus/ bakteri ) yang dapat menyebabkan meningitis, memasuki cairan otak melalui aliran darah didalam pembuluh darah otak. Cairan hidung ( secret hidung ) atau secret telinga yang disebabkan oleh fraktur tulang tengkorak dapat menyebabkan meningitis karena hubungan langsung antara cairan otak dengan lingkungan (dunia luar ), mikroorganisme yang masuk dapat berjalan kecairan otak melalui ruangan subarachnoid. Adanya mikroorganisme yang patologis merupakan penyebab peradangan pada piamater, arachnoid, cairan otak dan ventrikel. Eksudat yang dibentuk akan menyebar, baik kecranial maupun kesaraf spinal yang dapat menyebabkan kemunduran neurologis selanjutnya, dan eksudat ini dapat menyebabkan sumbatan aliran normal cairan otak dan dapat menyebabkan hydrocephalus.
Klasifikasi meningitis
1. Meningitis purulenta
adalah radang selaput otak ( aracnoid dan piamater ) yang menimbulkan eksudasi berupa pus, disebabkan oleh kuman non spesifik dan non virus. Penyakit ini lebih sering didapatkan pada anak daripada orang dewasa.
Meningitis purulenta pada umumnya sebagai akibat komplikasi penyakit lain. Kuman secara hematogen sampai keselaput otak; misalnya pada penyakit penyakit faringotonsilitis, pneumonia, bronchopneumonia, endokarditis dan lain lain. Dapat pula sebagai perluasan perkontinuitatum dari peradangan organ / jaringan didekat selaput otak, misalnya abses otak, otitis media, mastoiditis dan lain lain.
Penyebab meningitis purulenta adalah sejenis kuman pneomococcus, hemofilus influenza, stafhylococcus, streptococcus, E.coli, meningococcus, dan salmonella.
Komplikasi pada meningitis purulenta dapat terjadi sebagai akibat pengobatan yang tidak sempurna / pengobatan yang terlambat . pada permulaan gejala meningitis purulenta adalah panas, menggigil, nyeri kepala yang terus menerus, mual dan muntah, hilangnya napsu makan, kelemahan umum dan rasa nyeri pada punggung dan sendi, setelah 12 (dua belas ) sampai 24 (dua pulu empat ) jam timbul gambaran klinis meningitis yang lebih khas yaitu nyeri pada kuduk dan tanda tanda rangsangan selaput otak seperti kaku kuduk dan brudzinski. Bila terjadi koma yang dalam , tanda tanda selaput otak akan menghilang, penderita takut akan cahaya dan amat peka terhadap rangsangan, penderita sering gelisah, mudah terangsang dan menunjukan perubahan mental seperti bingung, hiperaktif dan halusinasi. Pada keadaan yang berat dapat terjadi herniasi otak sehingga terjadi dilatasi pupil dan koma.
2. Meningitis serosa ( tuberculosa )
Meningitis tuberculosa masih sering dijumpai di Indonesia, pada anak dan orang dewasa. Meningitis tuberculosa terjadi akibat komplikasi penyebab tuberculosis primer, biasanya dari paru paru. Meningitis bukan terjadi karena terinpeksi selaput otak langsung penyebaran hematogen, tetapi biasanya skunder melalui pembentukan tuberkel pada permukaan otak, sumsum tulang belakang atau vertebra yang kemudian pecah kedalam rongga archnoid.
Tuberkulosa ini timbul karena penyebaran mycobacterium tuberculosa. Pada meningitis tuberkulosa dapat terjadi pengobatan yang tidak sempurna atau pengobata yang terlambat. Dapat terjadi cacat neurologis berupa parase, paralysis sampai deserebrasi, hydrocephalus akibat sumbatan , reabsorbsi berkurang atau produksi berlebihan dari likour serebrospinal. Anak juga bias menjadi tuli atau buta dan kadang kadang menderita retardasi mental.
Gambaran klinik pada penyakit ini mulainya pelan. Terdapat panas yang tidak terlalu tinggi, nyeri kepala dan nyeri kuduk, terdapat rasa lemah, berat badan yang menurun, nyeri otot, nyeri punggung, kelainan jiwa seperti halusinasi. Pada pemeriksaan akan dijumpai tanda tanda rangsangan selaput otak seperti kaku kuduk dan brudzinski. Dapat terjadi hemipareses dan kerusakan saraf otak yaitu N III, N IV, N VI, N VII,N VIII sampai akhirnya kesadaran menurun.
Meningitis Bakteri
Bakteri yang paling sering menyebabkan meningitis adalah hemofilus influenza, diplococcus pneumonia, streptococcus grup A, stapilococcus aurens, E.coli, klebsiela, dan pseudomonas. Tubuh akan berespon terhadap bakteri sebagai benda asing dan berespon dengan terjadinya peradangan dengan adanya neutrofil, monosit dan limfosit. Cairan eksudat yang terdiri dari bakteri, fibrin dan leukosit terbentuk diruangan subarachnoid ini akan terkumpul didalam cairan otak sehingga dapat menyebabkan lapisan yang tadinya tipis menjadi tebal. Dan pengumpulan cairan ini akan menyebabkan peningkatan intra cranial. Hal ini akan menyebabkan jaringan otak
akan mengalami infark.
Meningitis virus
Tipe dari meningitis ini sering disebut aseptic meningitis. Ini biasanya disebabkan oleh berbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti :herpes simplek dan herpes zoster. Eksudat yang biasanya terjadi pada meningitis bakteri tidak terjadi pada meningitis virus dan tidak ditemukan organisme pada kultur cairan otak. Peradangan terjadi pada seluruh kortek serebri dan lapisan otak. Mekanisme atau respon dari jaringan otak terhadap virus bervariasi tergantung pada jenis sel yang terlibat.
pencegahan
Meningitis dapat dicegah dengan cara mengenali dan mengerti dengan baik factor predisposisi seperti otitis media atau infeksi saluran napas (seperti TBC ) dimana dapat menyebabkan meningitis serosa. Dalam hal ini yang paling penting adalah pengobatan tuntas (antibiotic) walau gejala gejala infeksi tersebut telah hilang.
Setelah terjadinya meningitis penanganan yang sesuai harus cepat diatasi. Untuk mengidentifikasi factor atau jenis organisme penyebab dan dengan cepat memberikan terapi sesuai dengan organisme penyebab untuk melindungi komplikasi yang serius.
Manifestasi Klinik
• Pada awal penyakit, kelelahan, perubahan daya mengingat, perubahan tingkah laku
• Sesuai dengan cepatnya perjalanan penyakit pasien menjadi stupor
• Sakit kepala
• Sakit sakit pada otot
• Reaksi pupil terhadap cahaya. Photofobia apabila cahaya diarahkan pada mata pasien.
• Adanya disfungsi pada saraf III, IV, VI
• Pergerakan motorik pada awal penyakit biasanya normal dan pada tahap lanjutan biasa terjadi hemiparesis, hemiplagia, dan penurunan tonus otot
• Reflex brudzinski dan reflex kernig positif
• Nausea
• Vomiting
• Takikardia
• Kejang
• Pasien merasa takut dan cemas
Pemeriksaan Diagnostic
1. analisa CSS dan fungsi lumbal
• Meningitis bacterial : tekanan meningkat, cairan keruh / berkabut, jumlah sel darah putih dan protein meningkat, glukosa menurun, kultur positif terhadap beberapa jenis bakteri
• Meningitis virus : tekanan bervariasi, CSS biasanya jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur biasanya negative, kultur virus biasanya hanya dengan prosedur khusus
2.Glukosa serum : meningkat
3. LDH serum : meningkat pada meningitis bakteri
• Sel darah putih : meningkat dengan peningkatan neotrofil (infeksi bakteri)
• Elektrolit darah : abnormal
4.LED : meningkat
Kultur darah / hidung / tenggorokan / urine dapat mengindikasikan daerah “pusat” infeksi /mengidentifikasikan tipe penyebab infeksi
5. MRI /CT Scan : dapat membantu melokalisasi lesi, melihat ukuran / letak ventrikel ; hematum daerah serebral, hemoragik maupun tumor
Penatalaksanaan
Pengobatan biasanya diberikan antibiotik :
ANTIBIOTIK:
Penicillin G
ORGANISME:
Pneumococci
Meningococci
Streptococci
ANTIBIOTIK:
Gentamycin
ORGANISME:
Klebsiella
Pseodomonas
Proleus
ANTIBIOTIK:
Chlorampenikol
ORGANISME:
Haemofilus influenza
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN MENINGITIS
PENGKAJIAN PASIEN DENGAN MENINGITIS :
Keluhan utama
Keluhan utama yang sering adalah panas badan tinggi, koma, kejang dan penurunan kesadaran.
Riwayat penyakit sekarang
Faktor riwayat penyakit sangat penting diketahui karena untuk mengetahui jenis kuman penyebab. Disini harus ditanya dengan jelas tetang gejala yang timbul seperti kapan mulai serangan, sembuh atau bertambah buruk. Pada pengkajian pasien meningitis biasanya didapatkan keluhan yang berhubungan dengan akibat dari infeksi dan peningkatan TIK. Keluhan tersebut diantaranya, sakit kepala dan demam adalah gejala awal yang sering. Sakit kepala berhubungan dengan meningitis yang selalu berat dan sebagai akibat iritasi meningen. Demam umumnya ada dan tetap tinggi selama perjalanan penyakit.
Keluhan kejang perlu mendapat perhatian untuk dilakukan pengkajian lebih mendalam, bagaimana sifat timbulnya kejang, stimulus apa yang sering menimbulkan kejang dan tindakan apa yang telah diberikan dalam upaya menurunkan keluhan kejang tersebut.
pengkajian lainnya yang perlu ditanyakan seperti riwayat selama menjalani perawatan di RS, pernahkah mengalami tindakan invasive yang memungkinkan masuknya kuman kemeningen terutama tindakan melalui pembuluh darah.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pengkajian penyakit yang pernah dialami pasien yang memungkinkan adanya hubungan atau menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi pernahkah pasien mengalami infeksi jalan napas bagian atas, otitis media, mastoiditis, tindakan bedah saraf, riwayat trauma kepala dan adanya pengaruh immunologis pada masa sebelumnya.
Riwayat sakit TB paru perlu ditanyakan pada pasien terutama apabila ada keluhan batuk produktif dan pernah menjalani pengobatan obat anti TB yang sangat berguna untuk mengidentifikasi meningitis tuberculosia.
Pengkajian pemakaian obat obat yang sering digunakan pasien, seperti pemakaian obat kortikostiroid, pemakaian jenis jenis antibiotic dan reaksinya (untuk menilai resistensi pemakaian antibiotic).
Pengkajian psikososial
Respon emosi pengkajian mekanisme koping yang digunakan pasien juga penting untuk menilai pasien terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran pasien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.
Pemeiksaan fisik
1. Aktivitas / istirahat
Gejala : perasaan tidak enak (malaise ), keterbatasan yang ditimbulkan kondisinya.
Tanda : Ataksia, masalah berjalan, kelumpuhan, gerakan involunter, kelemahan secara
Umum, keterbatasan dalam rentang gerak.
2. Sirkulasi
Gejala : adanya riwayat kardiologi, seperti endokarditis, beberapa penyakit jantung
Conginetal ( abses otak ).
Tanda : tekanan darah meningkat, nadi menurun dan tekanan nadi berat (berhubungan
Dengan peningkatan TIK dan pengaruh dari pusat vasomotor ). Takikardi, distritmia
( pada fase akut ) seperti distrimia sinus (pada meningitis )
3. Eleminasi
Tanda : Adanya inkotinensia dan retensi.
4. Makanan dan Cairan
Gejala : Kehilangan napsu makan, kesulitan menelan (pada periode akut )
Tanda : Anoreksia, muntah, turgor kulit jelek, membrane mukosa kering.
5. Hygiene
Tanda : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri ( pada periode akut )
6. Neurosensori
Gejala : sakit kepala ( mungkin merupan gejala pertama dan biasanya berat ) . Pareslisia,
Terasa kaku pada semua persarafan yang terkena, kehilangan sensasi ( kerusakan
Pada saraf cranial ). Hiperalgesia / meningkatnya sensitifitas ( minimitis ) . Timbul
Kejang ( minimitis bakteri atau abses otak ) gangguan dalam penglihatan, seperti
Diplopia ( fase awal dari beberapa infeksi ). Fotopobia ( pada minimtis ). Ketulian
( pada minimitis / encephalitis ) atau mungkin hipersensitifitas terhadap kebisingan,
Adanya hulusinasi penciuman / sentuhan.
Tanda : - status mental / tingkat kesadaran ; letargi sampai kebingungan yang berat hingga
Koma, delusi dan halusinasi / psikosis organic ( encephalitis ).
-Kehilangan memori, sulit mengambil keputusan ( dapat merupakan gejala
Berkembangnya hidrosephalus komunikan yang mengikuti meningitis bacterial )
-Afasia / kesulitan dalam berkomunikasi.
- Mata ( ukuran / reaksi pupil ) : unisokor atau tidak berespon terhadap cahaya
( peningkatan TIK ), nistagmus ( bola mata bergerak terus menerus ).
-Ptosis ( kelopak mata atas jatuh ) . Karakteristik fasial (wajah ) ; perubahan pada
Fungsi motorik da nsensorik ( saraf cranial V dan VII terkena )
-Kejang umum atau lokal ( pada abses otak ) . Kejang lobus temporal . Otot
Mengalami hipotonia /flaksid paralisis ( pada fase akut meningitis ). Spastik
( encephalitis).
-Hemiparese hemiplegic ( meningitis / encephalitis )
- Tanda brudzinski positif dan atau tanda kernig positif merupakan indikasi adanya
Iritasi meningeal ( fase akut )
-Regiditas muka ( iritasi meningeal )
- Refleks tendon dalam terganggu, brudzinski positif
- Refleks abdominal menurun.
7. Nyeri / Kenyamanan
Gejala : sakit kepala ( berdenyut dengan hebat, frontal ) mungkin akan diperburuk oleh
Ketegangan leher /punggung kaku ,nyeri pada gerakan ocular, tenggorokan nyeri
Tanda : Tampak terus terjaga, perilaku distraksi /gelisah menangis / mengeluh.
8. Pernapasan
Gejala : Adanya riwayat infeksi sinus atau paru
Tanda : Peningkatan kerja pernapasan (tahap awal ), perubahan mental ( letargi sampai
Koma ) dan gelisah.
9. Keamanan
Gejala : - Adanya riwayat infeksi saluran napas atas atau infeksi lain, meliputi mastoiditis
Telinga tengah sinus, abses gigi, abdomen atau kulit, fungsi lumbal, pembedahan,
Fraktur pada tengkorak / cedera kepala.
- Imunisasi yang baru saja berlangsung ; terpajan pada meningitis, terpajan oleh
Campak, herpes simplek, gigitan binatang, benda asing yang terbawa.
-Gangguan penglihatan atau pendengaran
Tanda : - suhu badan meningkat,diaphoresis, menggigil
-Kelemahan secara umum ; tonus otot flaksid atau plastic
- Gangguan sensoris
Diagnosa Keperawatan
1. Resiko tinggi terhadap ( penyebaran ) infeksi berhubungan dengan statis cairan tubuh.
Hasil yang diharapkan / criteria evaluasi pasien anak ; mencapai masa penyembuhan tepat waktu, tanpa penyebaran infeksi endogen atau keterlibatan orang lain
Intervensi
a. Pertahankan teknik aseptik dan cuci tangan baik pasien, pengunjung, maupun staf.
Rasional ; menurunkan resiko pasien terkena infeksi sekunder. Mengontrol penyebaran sumber infeksi, mencegah pemajanan pada individu terinfeksi ( mis : individu yang mengalami infeksi saluran napas atas )
b. Pantau dan catat secara teratur tanda-tanda klinis dari proses infeksi.
Rasional : Terapi obat akan diberikan terus menerus selama lebih 5 hari setelah suhu turun ( kembali normal ) dan tanda-tanda klinisnya jelas. Timbulnya tanda klinis terus menerus merupakan indikasi perkembangan dari meningokosemia akut yang dapat bertahan sampai berminggu minggu / berbulan bulan atau penyebaran pathogen secara hematogen / sepsis.
c. Ubah posisi pasien dengan teratur tiap 2 jam.
Rasionalisasi ; Mobilisasi secret dan meningkatkan kelancaran secret yang akan menurunkan resiko terjadinya komplikasi terhadap pernapasan.
d. Catat karakteristik urine, seperti warna, kejernihan dan bau
Rasionalisasi ; Urine statis, dehidrasi dan kelemahan umum meningkatkan resiko terhadap infeksi kandung kemih / ginjal / awitan sepsis.
e. Kolaborasi tim medis
Rasional : Obat yang dipilih tergantung pada infeksi dan sensitifitas individu. Catatan ; obat cranial mungkin diindikasikan untuk basilus gram negative, jamur, amoeba.
2. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral yang mengubah / menghentikan aliran darah arteri / vena.
Hasil yang diharapkan / kriteria pasien anak : mempertahankan tingkat kesadaran , mendemontrasikan tanda-tanda vital stabil, melaporkan tak adanya / menurunkan berat sakit kepala, mendemontrasikan adanya perbaikan kognitif dan tanda peningkatan TIK.
Intervensi
a. Perubahan tirah baring dengan posisi kepala datar dan pantau tanda vital sesuai indikasi setelah dilakukan fungsi lumbal.
Rasional : perubahan tekanan CSS mungkin merupakan adanya resiko herniasis batang otak yang memerlukan tindakan medis dengan segera.
b. Pantau / catat status neurologis dengan teratur dan bandingkan dengan keadaan normalnya, seperti GCS.
Rasional : pengkajian kecenderungan adanya perubahan tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK adalah sangat berguna dalam menntukan lokasi, penyebaran / luas dan perkembangan dari kerusakan serebral.
c. Pantau masukan dan keluaran . catat karakteristik urine, turgor kulit, dan keadaan membrane mukosa.
Rasional : hipertermia meningkatkan kehilangan air tak kasat mata dan meningkatkan resiko dehidrasi, terutama jika tingkat kesadaran menurun / munculnya mual menurunkan pemasukan melalui oral.
d. Berikantindakan yang memberikan rasa nyaman seperti massage punggung, lingkungan yang tenang, suara yang halus dan sentuhan yang lembut.
Rasional : meningkatkan istirahat dan menurunkan stimulasi sensori yang berlebihan.
e. Pantau gas darah arteri. Berikan terapi oksigen sesuai kebutuhan.
Rasional : terjadinya asidosis dapat menghambat masuknya oksigen pada tingkat sel yang memperburuk / meningkatkan iskemia serebral.
f. Berikan obat sesuai indikasi.
3. Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kelemahan umum.
Hasil yang diharapkan / kriteria evaluasi pasien anak : tidak mengalami kejang atau penyerta atau cedera lain.
Intervensi
a. Pantau adanya kejang / kedutan pada tangan, kaki dan mulut atau otot wajah yang lain.
Rasional : mencerminkan pada iritasi SSP secara umum yang memerlukan evaluasi segera dan intervensi yang mungkin untuk mencegah komplikasi.
b. Berikan keamanan pada pasien dengan memberi bantuan pada penghalang tempat tidur dan pertahankan tetap terpasang dan pasang jalan napas buatan plastik atau gulungan lunak dan alat penghisap.
Rasional : melindungi pasien jika kejang. Catatan ; masukan jalan napas bantuan / gulungan lunak jika hanya rahangnya relaksasi, jangan dipaksa memasukkan ketika giginya mengatup dan jaringan lunak akan rusak.
c. Pertahankan tirah baring selama fase akut. Pindahkan .gerakkan dengan bantuan sesuai membaiknya keadaan.
Rasional : menurunkan resiko terjatuh / trauma jika terjadi vertigo, sinkope atau ataksia.
d. Berikan obat sesuai indikasi seperti fenitoin ( dilantin ), diazepam , fenobarbital.
Rasional : merupakan indikasi untuk penanganan dan pencegahan kejang .catatan : fenobarbital dapat menyebabkan defresi pernapasan dan sedative serta menutupi tanda / gejala dari peningkatan TIK.
4. Nyeri ( akut ) berhubungan dengan adanya proses inflamasi / infeksi.
Hasil yang diharapkan / kriteria evaluasi pasien anak : melaporkan nyeri hilang / terkontrol, menunjukkan poster rileks dan mampu tidur / istirahat dengan tepat.
Intervensi
a. Berikan lingkungan yang tenang, ruangan agak gelap sesuai indikasi.
Rasional : menurunkan reaksi terhadap stimulasi dari luar atau sensitifitas pada cahaya dan meningkatkan istirahat / relaksasi.
b. Tingkatkan tirah baring, bantulah kebutuhan perawatan yang penting .
Rasional : menurunkan gerakan yang dapat meningkatkan nyeri.
c. Berikan latihan rentang gerak aktif / pasif secara aktif dan massage otot daerah leher /bahu.
Rasional : dapat membantu merelaksasikan ketegangan otot yang menimbulkan reduksi nyeri atau rasa tidak nyaman tersebut.
d. Berikan analgetik, seperti asetaminofen dan kodein
Rasional : mungkin diperlukan untuk menghilangkan nyeri yang berat.
Catatan : narkotik merupakan kontraindikasi sehingga menimbulkan ketidak akuratan dalam pemeriksaan neurologis.
5. Ansietas / ketakutan berhubungan dengan pemisahan dari system pendukung ( hospitalisasi ).
Hasil yang diharapkan / criteria evaluasi pasien anak : mengikuti dan mendiskusikan rasa takut, mengungkapkan kekurang pengetahuan tentang situasi, tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang sampai pada tingkat dapat diatasi.
Intervensi
a. Kaji status mental dan tingkat ansietas dari pasien / keluarga. Catat adanya tanda-tanda verbal atau non verbal.
Rasional : gangguan tingkat kesadaran dapat mempengaruhi ekspresi rasa takut tetapi tidak menyangkal keberadaannya. Derajat ansietas akan dipengaruhi bagaimana informasi tersebut diterima oleh individu.
b. Berikan penjelasan hubungan antara proses penyakit dan gejala.
Rasional : meningkatkan pemahaman, mengurangi rasa takut karena ketidaktahuan dan dapat membantu dan menurunkan ansietas.
c. Jawab setiap pertanyaan dengan penuh perhatian dan berikan informasi tentang prognosa penyakit.
Rasional : penting untuk menciptakan kepercayan karena diagnosa meningitis mungkin menakutkan, ketulusan dan informasi yang akurat dapat memberikan keyakinan pada pasien dan juga keluarga
d. Libatkan pasien / keluarga dalam perawatan, perencanaan kehidupan sehari-hari, membuat keputusan sebanyak mungkin.
Rasional : meningkatkan perasaan kontrol terhadap diri dan meningkatkan kemandirian.
e. Lindungi privasi pasien jika terjadi kejang.
Rasional : memperhatikan kebutuhan privasi pasien memberikan peningkatan akan harga diri pasien dan melindungi pasien dri rasa malu.
DAFTAR PUSTAKA
Behrman, Richard. E. 1992. Ilmu Kesehatan. Bagian 2. Jakarta : EGC
Carpebito,Lynda Juall. 2006. Diagnosa Keperawatan. Ed. 10. Jakarta : EGC
Nelson. 1992. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : EGC
Ngastiah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC
Wong, Donna. L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC
Meningitis adalah radang umum araknoidia,leptomeningitis.(perawatan anak sakit,1984:232).
Meningitis adalah suatu peradangan selaput otak yang biasanya diikuti pula oleh peradangan otak.(penyakit dalam dan penanggulangan,1985).
Meningitis adalah infeksi cairan otak disertai radang yang mengenai piamater,araknoid dan dalam derajat yang lebih ringan mengenai jaringan otak dan medulla spinalis yang superficial.(neorologi kapita selekta,1996).
Patofisiologi
Otak dilapisi oleh tiga lapisan,yaitu:durameter, arachnoid,dan piameter.cairan otak dihasilkan didalam pleksus choroid ventrikel bergerak/mengalir melalui sub arachnoid dalam system ventrikuler seluruh otak dan sumsum tulang belakang, direabsorbsi melalui villi arachnoid yang berstruktur seperti jari jari didalam lapisan subarchnoid.
Organisme ( virus/ bakteri ) yang dapat menyebabkan meningitis, memasuki cairan otak melalui aliran darah didalam pembuluh darah otak. Cairan hidung ( secret hidung ) atau secret telinga yang disebabkan oleh fraktur tulang tengkorak dapat menyebabkan meningitis karena hubungan langsung antara cairan otak dengan lingkungan (dunia luar ), mikroorganisme yang masuk dapat berjalan kecairan otak melalui ruangan subarachnoid. Adanya mikroorganisme yang patologis merupakan penyebab peradangan pada piamater, arachnoid, cairan otak dan ventrikel. Eksudat yang dibentuk akan menyebar, baik kecranial maupun kesaraf spinal yang dapat menyebabkan kemunduran neurologis selanjutnya, dan eksudat ini dapat menyebabkan sumbatan aliran normal cairan otak dan dapat menyebabkan hydrocephalus.
Klasifikasi meningitis
1. Meningitis purulenta
adalah radang selaput otak ( aracnoid dan piamater ) yang menimbulkan eksudasi berupa pus, disebabkan oleh kuman non spesifik dan non virus. Penyakit ini lebih sering didapatkan pada anak daripada orang dewasa.
Meningitis purulenta pada umumnya sebagai akibat komplikasi penyakit lain. Kuman secara hematogen sampai keselaput otak; misalnya pada penyakit penyakit faringotonsilitis, pneumonia, bronchopneumonia, endokarditis dan lain lain. Dapat pula sebagai perluasan perkontinuitatum dari peradangan organ / jaringan didekat selaput otak, misalnya abses otak, otitis media, mastoiditis dan lain lain.
Penyebab meningitis purulenta adalah sejenis kuman pneomococcus, hemofilus influenza, stafhylococcus, streptococcus, E.coli, meningococcus, dan salmonella.
Komplikasi pada meningitis purulenta dapat terjadi sebagai akibat pengobatan yang tidak sempurna / pengobatan yang terlambat . pada permulaan gejala meningitis purulenta adalah panas, menggigil, nyeri kepala yang terus menerus, mual dan muntah, hilangnya napsu makan, kelemahan umum dan rasa nyeri pada punggung dan sendi, setelah 12 (dua belas ) sampai 24 (dua pulu empat ) jam timbul gambaran klinis meningitis yang lebih khas yaitu nyeri pada kuduk dan tanda tanda rangsangan selaput otak seperti kaku kuduk dan brudzinski. Bila terjadi koma yang dalam , tanda tanda selaput otak akan menghilang, penderita takut akan cahaya dan amat peka terhadap rangsangan, penderita sering gelisah, mudah terangsang dan menunjukan perubahan mental seperti bingung, hiperaktif dan halusinasi. Pada keadaan yang berat dapat terjadi herniasi otak sehingga terjadi dilatasi pupil dan koma.
2. Meningitis serosa ( tuberculosa )
Meningitis tuberculosa masih sering dijumpai di Indonesia, pada anak dan orang dewasa. Meningitis tuberculosa terjadi akibat komplikasi penyebab tuberculosis primer, biasanya dari paru paru. Meningitis bukan terjadi karena terinpeksi selaput otak langsung penyebaran hematogen, tetapi biasanya skunder melalui pembentukan tuberkel pada permukaan otak, sumsum tulang belakang atau vertebra yang kemudian pecah kedalam rongga archnoid.
Tuberkulosa ini timbul karena penyebaran mycobacterium tuberculosa. Pada meningitis tuberkulosa dapat terjadi pengobatan yang tidak sempurna atau pengobata yang terlambat. Dapat terjadi cacat neurologis berupa parase, paralysis sampai deserebrasi, hydrocephalus akibat sumbatan , reabsorbsi berkurang atau produksi berlebihan dari likour serebrospinal. Anak juga bias menjadi tuli atau buta dan kadang kadang menderita retardasi mental.
Gambaran klinik pada penyakit ini mulainya pelan. Terdapat panas yang tidak terlalu tinggi, nyeri kepala dan nyeri kuduk, terdapat rasa lemah, berat badan yang menurun, nyeri otot, nyeri punggung, kelainan jiwa seperti halusinasi. Pada pemeriksaan akan dijumpai tanda tanda rangsangan selaput otak seperti kaku kuduk dan brudzinski. Dapat terjadi hemipareses dan kerusakan saraf otak yaitu N III, N IV, N VI, N VII,N VIII sampai akhirnya kesadaran menurun.
Meningitis Bakteri
Bakteri yang paling sering menyebabkan meningitis adalah hemofilus influenza, diplococcus pneumonia, streptococcus grup A, stapilococcus aurens, E.coli, klebsiela, dan pseudomonas. Tubuh akan berespon terhadap bakteri sebagai benda asing dan berespon dengan terjadinya peradangan dengan adanya neutrofil, monosit dan limfosit. Cairan eksudat yang terdiri dari bakteri, fibrin dan leukosit terbentuk diruangan subarachnoid ini akan terkumpul didalam cairan otak sehingga dapat menyebabkan lapisan yang tadinya tipis menjadi tebal. Dan pengumpulan cairan ini akan menyebabkan peningkatan intra cranial. Hal ini akan menyebabkan jaringan otak
akan mengalami infark.
Meningitis virus
Tipe dari meningitis ini sering disebut aseptic meningitis. Ini biasanya disebabkan oleh berbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti :herpes simplek dan herpes zoster. Eksudat yang biasanya terjadi pada meningitis bakteri tidak terjadi pada meningitis virus dan tidak ditemukan organisme pada kultur cairan otak. Peradangan terjadi pada seluruh kortek serebri dan lapisan otak. Mekanisme atau respon dari jaringan otak terhadap virus bervariasi tergantung pada jenis sel yang terlibat.
pencegahan
Meningitis dapat dicegah dengan cara mengenali dan mengerti dengan baik factor predisposisi seperti otitis media atau infeksi saluran napas (seperti TBC ) dimana dapat menyebabkan meningitis serosa. Dalam hal ini yang paling penting adalah pengobatan tuntas (antibiotic) walau gejala gejala infeksi tersebut telah hilang.
Setelah terjadinya meningitis penanganan yang sesuai harus cepat diatasi. Untuk mengidentifikasi factor atau jenis organisme penyebab dan dengan cepat memberikan terapi sesuai dengan organisme penyebab untuk melindungi komplikasi yang serius.
Manifestasi Klinik
• Pada awal penyakit, kelelahan, perubahan daya mengingat, perubahan tingkah laku
• Sesuai dengan cepatnya perjalanan penyakit pasien menjadi stupor
• Sakit kepala
• Sakit sakit pada otot
• Reaksi pupil terhadap cahaya. Photofobia apabila cahaya diarahkan pada mata pasien.
• Adanya disfungsi pada saraf III, IV, VI
• Pergerakan motorik pada awal penyakit biasanya normal dan pada tahap lanjutan biasa terjadi hemiparesis, hemiplagia, dan penurunan tonus otot
• Reflex brudzinski dan reflex kernig positif
• Nausea
• Vomiting
• Takikardia
• Kejang
• Pasien merasa takut dan cemas
Pemeriksaan Diagnostic
1. analisa CSS dan fungsi lumbal
• Meningitis bacterial : tekanan meningkat, cairan keruh / berkabut, jumlah sel darah putih dan protein meningkat, glukosa menurun, kultur positif terhadap beberapa jenis bakteri
• Meningitis virus : tekanan bervariasi, CSS biasanya jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur biasanya negative, kultur virus biasanya hanya dengan prosedur khusus
2.Glukosa serum : meningkat
3. LDH serum : meningkat pada meningitis bakteri
• Sel darah putih : meningkat dengan peningkatan neotrofil (infeksi bakteri)
• Elektrolit darah : abnormal
4.LED : meningkat
Kultur darah / hidung / tenggorokan / urine dapat mengindikasikan daerah “pusat” infeksi /mengidentifikasikan tipe penyebab infeksi
5. MRI /CT Scan : dapat membantu melokalisasi lesi, melihat ukuran / letak ventrikel ; hematum daerah serebral, hemoragik maupun tumor
Penatalaksanaan
Pengobatan biasanya diberikan antibiotik :
ANTIBIOTIK:
Penicillin G
ORGANISME:
Pneumococci
Meningococci
Streptococci
ANTIBIOTIK:
Gentamycin
ORGANISME:
Klebsiella
Pseodomonas
Proleus
ANTIBIOTIK:
Chlorampenikol
ORGANISME:
Haemofilus influenza
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN MENINGITIS
PENGKAJIAN PASIEN DENGAN MENINGITIS :
Keluhan utama
Keluhan utama yang sering adalah panas badan tinggi, koma, kejang dan penurunan kesadaran.
Riwayat penyakit sekarang
Faktor riwayat penyakit sangat penting diketahui karena untuk mengetahui jenis kuman penyebab. Disini harus ditanya dengan jelas tetang gejala yang timbul seperti kapan mulai serangan, sembuh atau bertambah buruk. Pada pengkajian pasien meningitis biasanya didapatkan keluhan yang berhubungan dengan akibat dari infeksi dan peningkatan TIK. Keluhan tersebut diantaranya, sakit kepala dan demam adalah gejala awal yang sering. Sakit kepala berhubungan dengan meningitis yang selalu berat dan sebagai akibat iritasi meningen. Demam umumnya ada dan tetap tinggi selama perjalanan penyakit.
Keluhan kejang perlu mendapat perhatian untuk dilakukan pengkajian lebih mendalam, bagaimana sifat timbulnya kejang, stimulus apa yang sering menimbulkan kejang dan tindakan apa yang telah diberikan dalam upaya menurunkan keluhan kejang tersebut.
pengkajian lainnya yang perlu ditanyakan seperti riwayat selama menjalani perawatan di RS, pernahkah mengalami tindakan invasive yang memungkinkan masuknya kuman kemeningen terutama tindakan melalui pembuluh darah.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pengkajian penyakit yang pernah dialami pasien yang memungkinkan adanya hubungan atau menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi pernahkah pasien mengalami infeksi jalan napas bagian atas, otitis media, mastoiditis, tindakan bedah saraf, riwayat trauma kepala dan adanya pengaruh immunologis pada masa sebelumnya.
Riwayat sakit TB paru perlu ditanyakan pada pasien terutama apabila ada keluhan batuk produktif dan pernah menjalani pengobatan obat anti TB yang sangat berguna untuk mengidentifikasi meningitis tuberculosia.
Pengkajian pemakaian obat obat yang sering digunakan pasien, seperti pemakaian obat kortikostiroid, pemakaian jenis jenis antibiotic dan reaksinya (untuk menilai resistensi pemakaian antibiotic).
Pengkajian psikososial
Respon emosi pengkajian mekanisme koping yang digunakan pasien juga penting untuk menilai pasien terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran pasien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.
Pemeiksaan fisik
1. Aktivitas / istirahat
Gejala : perasaan tidak enak (malaise ), keterbatasan yang ditimbulkan kondisinya.
Tanda : Ataksia, masalah berjalan, kelumpuhan, gerakan involunter, kelemahan secara
Umum, keterbatasan dalam rentang gerak.
2. Sirkulasi
Gejala : adanya riwayat kardiologi, seperti endokarditis, beberapa penyakit jantung
Conginetal ( abses otak ).
Tanda : tekanan darah meningkat, nadi menurun dan tekanan nadi berat (berhubungan
Dengan peningkatan TIK dan pengaruh dari pusat vasomotor ). Takikardi, distritmia
( pada fase akut ) seperti distrimia sinus (pada meningitis )
3. Eleminasi
Tanda : Adanya inkotinensia dan retensi.
4. Makanan dan Cairan
Gejala : Kehilangan napsu makan, kesulitan menelan (pada periode akut )
Tanda : Anoreksia, muntah, turgor kulit jelek, membrane mukosa kering.
5. Hygiene
Tanda : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri ( pada periode akut )
6. Neurosensori
Gejala : sakit kepala ( mungkin merupan gejala pertama dan biasanya berat ) . Pareslisia,
Terasa kaku pada semua persarafan yang terkena, kehilangan sensasi ( kerusakan
Pada saraf cranial ). Hiperalgesia / meningkatnya sensitifitas ( minimitis ) . Timbul
Kejang ( minimitis bakteri atau abses otak ) gangguan dalam penglihatan, seperti
Diplopia ( fase awal dari beberapa infeksi ). Fotopobia ( pada minimtis ). Ketulian
( pada minimitis / encephalitis ) atau mungkin hipersensitifitas terhadap kebisingan,
Adanya hulusinasi penciuman / sentuhan.
Tanda : - status mental / tingkat kesadaran ; letargi sampai kebingungan yang berat hingga
Koma, delusi dan halusinasi / psikosis organic ( encephalitis ).
-Kehilangan memori, sulit mengambil keputusan ( dapat merupakan gejala
Berkembangnya hidrosephalus komunikan yang mengikuti meningitis bacterial )
-Afasia / kesulitan dalam berkomunikasi.
- Mata ( ukuran / reaksi pupil ) : unisokor atau tidak berespon terhadap cahaya
( peningkatan TIK ), nistagmus ( bola mata bergerak terus menerus ).
-Ptosis ( kelopak mata atas jatuh ) . Karakteristik fasial (wajah ) ; perubahan pada
Fungsi motorik da nsensorik ( saraf cranial V dan VII terkena )
-Kejang umum atau lokal ( pada abses otak ) . Kejang lobus temporal . Otot
Mengalami hipotonia /flaksid paralisis ( pada fase akut meningitis ). Spastik
( encephalitis).
-Hemiparese hemiplegic ( meningitis / encephalitis )
- Tanda brudzinski positif dan atau tanda kernig positif merupakan indikasi adanya
Iritasi meningeal ( fase akut )
-Regiditas muka ( iritasi meningeal )
- Refleks tendon dalam terganggu, brudzinski positif
- Refleks abdominal menurun.
7. Nyeri / Kenyamanan
Gejala : sakit kepala ( berdenyut dengan hebat, frontal ) mungkin akan diperburuk oleh
Ketegangan leher /punggung kaku ,nyeri pada gerakan ocular, tenggorokan nyeri
Tanda : Tampak terus terjaga, perilaku distraksi /gelisah menangis / mengeluh.
8. Pernapasan
Gejala : Adanya riwayat infeksi sinus atau paru
Tanda : Peningkatan kerja pernapasan (tahap awal ), perubahan mental ( letargi sampai
Koma ) dan gelisah.
9. Keamanan
Gejala : - Adanya riwayat infeksi saluran napas atas atau infeksi lain, meliputi mastoiditis
Telinga tengah sinus, abses gigi, abdomen atau kulit, fungsi lumbal, pembedahan,
Fraktur pada tengkorak / cedera kepala.
- Imunisasi yang baru saja berlangsung ; terpajan pada meningitis, terpajan oleh
Campak, herpes simplek, gigitan binatang, benda asing yang terbawa.
-Gangguan penglihatan atau pendengaran
Tanda : - suhu badan meningkat,diaphoresis, menggigil
-Kelemahan secara umum ; tonus otot flaksid atau plastic
- Gangguan sensoris
Diagnosa Keperawatan
1. Resiko tinggi terhadap ( penyebaran ) infeksi berhubungan dengan statis cairan tubuh.
Hasil yang diharapkan / criteria evaluasi pasien anak ; mencapai masa penyembuhan tepat waktu, tanpa penyebaran infeksi endogen atau keterlibatan orang lain
Intervensi
a. Pertahankan teknik aseptik dan cuci tangan baik pasien, pengunjung, maupun staf.
Rasional ; menurunkan resiko pasien terkena infeksi sekunder. Mengontrol penyebaran sumber infeksi, mencegah pemajanan pada individu terinfeksi ( mis : individu yang mengalami infeksi saluran napas atas )
b. Pantau dan catat secara teratur tanda-tanda klinis dari proses infeksi.
Rasional : Terapi obat akan diberikan terus menerus selama lebih 5 hari setelah suhu turun ( kembali normal ) dan tanda-tanda klinisnya jelas. Timbulnya tanda klinis terus menerus merupakan indikasi perkembangan dari meningokosemia akut yang dapat bertahan sampai berminggu minggu / berbulan bulan atau penyebaran pathogen secara hematogen / sepsis.
c. Ubah posisi pasien dengan teratur tiap 2 jam.
Rasionalisasi ; Mobilisasi secret dan meningkatkan kelancaran secret yang akan menurunkan resiko terjadinya komplikasi terhadap pernapasan.
d. Catat karakteristik urine, seperti warna, kejernihan dan bau
Rasionalisasi ; Urine statis, dehidrasi dan kelemahan umum meningkatkan resiko terhadap infeksi kandung kemih / ginjal / awitan sepsis.
e. Kolaborasi tim medis
Rasional : Obat yang dipilih tergantung pada infeksi dan sensitifitas individu. Catatan ; obat cranial mungkin diindikasikan untuk basilus gram negative, jamur, amoeba.
2. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral yang mengubah / menghentikan aliran darah arteri / vena.
Hasil yang diharapkan / kriteria pasien anak : mempertahankan tingkat kesadaran , mendemontrasikan tanda-tanda vital stabil, melaporkan tak adanya / menurunkan berat sakit kepala, mendemontrasikan adanya perbaikan kognitif dan tanda peningkatan TIK.
Intervensi
a. Perubahan tirah baring dengan posisi kepala datar dan pantau tanda vital sesuai indikasi setelah dilakukan fungsi lumbal.
Rasional : perubahan tekanan CSS mungkin merupakan adanya resiko herniasis batang otak yang memerlukan tindakan medis dengan segera.
b. Pantau / catat status neurologis dengan teratur dan bandingkan dengan keadaan normalnya, seperti GCS.
Rasional : pengkajian kecenderungan adanya perubahan tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK adalah sangat berguna dalam menntukan lokasi, penyebaran / luas dan perkembangan dari kerusakan serebral.
c. Pantau masukan dan keluaran . catat karakteristik urine, turgor kulit, dan keadaan membrane mukosa.
Rasional : hipertermia meningkatkan kehilangan air tak kasat mata dan meningkatkan resiko dehidrasi, terutama jika tingkat kesadaran menurun / munculnya mual menurunkan pemasukan melalui oral.
d. Berikantindakan yang memberikan rasa nyaman seperti massage punggung, lingkungan yang tenang, suara yang halus dan sentuhan yang lembut.
Rasional : meningkatkan istirahat dan menurunkan stimulasi sensori yang berlebihan.
e. Pantau gas darah arteri. Berikan terapi oksigen sesuai kebutuhan.
Rasional : terjadinya asidosis dapat menghambat masuknya oksigen pada tingkat sel yang memperburuk / meningkatkan iskemia serebral.
f. Berikan obat sesuai indikasi.
3. Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kelemahan umum.
Hasil yang diharapkan / kriteria evaluasi pasien anak : tidak mengalami kejang atau penyerta atau cedera lain.
Intervensi
a. Pantau adanya kejang / kedutan pada tangan, kaki dan mulut atau otot wajah yang lain.
Rasional : mencerminkan pada iritasi SSP secara umum yang memerlukan evaluasi segera dan intervensi yang mungkin untuk mencegah komplikasi.
b. Berikan keamanan pada pasien dengan memberi bantuan pada penghalang tempat tidur dan pertahankan tetap terpasang dan pasang jalan napas buatan plastik atau gulungan lunak dan alat penghisap.
Rasional : melindungi pasien jika kejang. Catatan ; masukan jalan napas bantuan / gulungan lunak jika hanya rahangnya relaksasi, jangan dipaksa memasukkan ketika giginya mengatup dan jaringan lunak akan rusak.
c. Pertahankan tirah baring selama fase akut. Pindahkan .gerakkan dengan bantuan sesuai membaiknya keadaan.
Rasional : menurunkan resiko terjatuh / trauma jika terjadi vertigo, sinkope atau ataksia.
d. Berikan obat sesuai indikasi seperti fenitoin ( dilantin ), diazepam , fenobarbital.
Rasional : merupakan indikasi untuk penanganan dan pencegahan kejang .catatan : fenobarbital dapat menyebabkan defresi pernapasan dan sedative serta menutupi tanda / gejala dari peningkatan TIK.
4. Nyeri ( akut ) berhubungan dengan adanya proses inflamasi / infeksi.
Hasil yang diharapkan / kriteria evaluasi pasien anak : melaporkan nyeri hilang / terkontrol, menunjukkan poster rileks dan mampu tidur / istirahat dengan tepat.
Intervensi
a. Berikan lingkungan yang tenang, ruangan agak gelap sesuai indikasi.
Rasional : menurunkan reaksi terhadap stimulasi dari luar atau sensitifitas pada cahaya dan meningkatkan istirahat / relaksasi.
b. Tingkatkan tirah baring, bantulah kebutuhan perawatan yang penting .
Rasional : menurunkan gerakan yang dapat meningkatkan nyeri.
c. Berikan latihan rentang gerak aktif / pasif secara aktif dan massage otot daerah leher /bahu.
Rasional : dapat membantu merelaksasikan ketegangan otot yang menimbulkan reduksi nyeri atau rasa tidak nyaman tersebut.
d. Berikan analgetik, seperti asetaminofen dan kodein
Rasional : mungkin diperlukan untuk menghilangkan nyeri yang berat.
Catatan : narkotik merupakan kontraindikasi sehingga menimbulkan ketidak akuratan dalam pemeriksaan neurologis.
5. Ansietas / ketakutan berhubungan dengan pemisahan dari system pendukung ( hospitalisasi ).
Hasil yang diharapkan / criteria evaluasi pasien anak : mengikuti dan mendiskusikan rasa takut, mengungkapkan kekurang pengetahuan tentang situasi, tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang sampai pada tingkat dapat diatasi.
Intervensi
a. Kaji status mental dan tingkat ansietas dari pasien / keluarga. Catat adanya tanda-tanda verbal atau non verbal.
Rasional : gangguan tingkat kesadaran dapat mempengaruhi ekspresi rasa takut tetapi tidak menyangkal keberadaannya. Derajat ansietas akan dipengaruhi bagaimana informasi tersebut diterima oleh individu.
b. Berikan penjelasan hubungan antara proses penyakit dan gejala.
Rasional : meningkatkan pemahaman, mengurangi rasa takut karena ketidaktahuan dan dapat membantu dan menurunkan ansietas.
c. Jawab setiap pertanyaan dengan penuh perhatian dan berikan informasi tentang prognosa penyakit.
Rasional : penting untuk menciptakan kepercayan karena diagnosa meningitis mungkin menakutkan, ketulusan dan informasi yang akurat dapat memberikan keyakinan pada pasien dan juga keluarga
d. Libatkan pasien / keluarga dalam perawatan, perencanaan kehidupan sehari-hari, membuat keputusan sebanyak mungkin.
Rasional : meningkatkan perasaan kontrol terhadap diri dan meningkatkan kemandirian.
e. Lindungi privasi pasien jika terjadi kejang.
Rasional : memperhatikan kebutuhan privasi pasien memberikan peningkatan akan harga diri pasien dan melindungi pasien dri rasa malu.
DAFTAR PUSTAKA
Behrman, Richard. E. 1992. Ilmu Kesehatan. Bagian 2. Jakarta : EGC
Carpebito,Lynda Juall. 2006. Diagnosa Keperawatan. Ed. 10. Jakarta : EGC
Nelson. 1992. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : EGC
Ngastiah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC
Wong, Donna. L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC
ASKEP EFUSI PLEURA
22:42
PENGERTIAN
Efusi pleura adalah terdapatnya penumpukan cairan dalam pleura berupa transudat atau eksudat yang diakibatkan karena terjadinya ketidakseimbangan antara produksi dan absorpsi di kapiler dan pleura viseralis.
ETIOLOGI
1.Transudat, dapat disebabkan oleh kegagalan jantung kongestif, sindrom
nefrotik, asites.
2.Eksudat, dapat disebabkan oleh infeksi, TB, pnemonia, infark paru.
3.Effusi hemorragis, dapat disebabkan oleh adanya tumor, trauma, infark
paru, tuberkulosis.
PATOFISIOLOGI
Dalam keadaan normal terdapat 10-20 ml cairan di dalam rongga pleura. Jumlah cairan tetap dengan tekanan hidrostatis pleura parietal 9 cm H2O. Akumulasi cairan terjadi bila tekanan osmotik koloid menurun, misalnya hipoalbuminemia dan bertambahnya permeabilitas kapiler akibat proses peradangan atau neoplasma, bertambahnya tekanan hidrostatis akibat kegagalan jantung dan tekanan negatif intra pleura apabila terjadi atelektasis paru.
Penumpukan cairan pleura akibat proses :
Hambatan drainase limfatik dari rongga pleura
Gagal jantung menyebabkan tekanan kapiler paru perifer sangat tinggi
Menurunnya tekanan osmotik koloid plasma
Adanya proses infeksi pada permukaan pleura yang memecahkan membran kapiler dan pengaliran protein plasma secara cepat.
PENATALAKSANAAN MEDIKAL
Ditujukan pada pengobatan penyakit dasar dan pengosongan cairan (Torakosentesis) dengan indikasi : menghilangnya sesak nafas oleh akumulasi cairan, terapi sfesifik pada penyakit primer tidak efektif, dan reakumulasi cairan.
PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan :
1. Ketidakefektifan pola nafas bd menurunnyaekspansi paru sekunder terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura.
Tujuan :
Dalam 2 x 24 jam setelah tindakan pasien mampu mempertahankan fungsi paru normal, ditandai ; irama, frekuensi, kedalaman nafas batas normal, pemeriksaan sinar x tidak akumulasi cairan , bunyi nafas terdengar jelas.
Intervensi Keperawatan :
1. dentifikasi faktor penyebab
2. Kaji kualitas, frekuensi, kedalaman nafas dan laporkan setiap perubahan.
3. Baringkan posisi duduk atau miringkan ke arah sisi yang sakit.
4. Observasi tanda-tanda vital (nadi, RR).
5. Lakukan auskultasi suara nafas tiap 2-4 jam.
6. Bantu dan ajarkan pasien untuk batuk dan nafas dalam yang efektif.
7. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian O2 dan foto thorax
8. Kolaborasi untuk tindakan torakosintesis.
2.Ketidakefektifan bersihan jalan nafas bd sekresi mukus yang kental, kelemahan upaya batuk, edema trakeal/faringeal.
Tujuan :
Kebersihan jalan nafas kembali efektif, ditandai ; mampu batuk efektif, nafas 16-20 x/menit tanpa obat bantu, bunyi nafas normal, ronche negatif, gerak nafas normal.
Intervensi Keperawatan :
1. Kaji fungsi nafas (bunyi, kecepatan, irama, kedalaman).
2. Kaji kemampuan mengeluarkan sekresi, catat karakter dan volume sputum.
3. Berikan posisi semi fowler dan bantu latihan nafas dalam dan batuk efektif.
4. Pertahankan asupan cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali tidak diindikasikan.
5. Bersihkan sekret dari mulut dan trakhea, bila perlu lakukan penghisapan (suction).
6. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi ; antibiotik, agen mukolitik, bronkodilator, kortikosteroid.
Materi kuliah KMB II
Efusi pleura adalah terdapatnya penumpukan cairan dalam pleura berupa transudat atau eksudat yang diakibatkan karena terjadinya ketidakseimbangan antara produksi dan absorpsi di kapiler dan pleura viseralis.
ETIOLOGI
1.Transudat, dapat disebabkan oleh kegagalan jantung kongestif, sindrom
nefrotik, asites.
2.Eksudat, dapat disebabkan oleh infeksi, TB, pnemonia, infark paru.
3.Effusi hemorragis, dapat disebabkan oleh adanya tumor, trauma, infark
paru, tuberkulosis.
PATOFISIOLOGI
Dalam keadaan normal terdapat 10-20 ml cairan di dalam rongga pleura. Jumlah cairan tetap dengan tekanan hidrostatis pleura parietal 9 cm H2O. Akumulasi cairan terjadi bila tekanan osmotik koloid menurun, misalnya hipoalbuminemia dan bertambahnya permeabilitas kapiler akibat proses peradangan atau neoplasma, bertambahnya tekanan hidrostatis akibat kegagalan jantung dan tekanan negatif intra pleura apabila terjadi atelektasis paru.
Penumpukan cairan pleura akibat proses :
Hambatan drainase limfatik dari rongga pleura
Gagal jantung menyebabkan tekanan kapiler paru perifer sangat tinggi
Menurunnya tekanan osmotik koloid plasma
Adanya proses infeksi pada permukaan pleura yang memecahkan membran kapiler dan pengaliran protein plasma secara cepat.
PENATALAKSANAAN MEDIKAL
Ditujukan pada pengobatan penyakit dasar dan pengosongan cairan (Torakosentesis) dengan indikasi : menghilangnya sesak nafas oleh akumulasi cairan, terapi sfesifik pada penyakit primer tidak efektif, dan reakumulasi cairan.
PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan :
1. Ketidakefektifan pola nafas bd menurunnyaekspansi paru sekunder terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura.
Tujuan :
Dalam 2 x 24 jam setelah tindakan pasien mampu mempertahankan fungsi paru normal, ditandai ; irama, frekuensi, kedalaman nafas batas normal, pemeriksaan sinar x tidak akumulasi cairan , bunyi nafas terdengar jelas.
Intervensi Keperawatan :
1. dentifikasi faktor penyebab
2. Kaji kualitas, frekuensi, kedalaman nafas dan laporkan setiap perubahan.
3. Baringkan posisi duduk atau miringkan ke arah sisi yang sakit.
4. Observasi tanda-tanda vital (nadi, RR).
5. Lakukan auskultasi suara nafas tiap 2-4 jam.
6. Bantu dan ajarkan pasien untuk batuk dan nafas dalam yang efektif.
7. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian O2 dan foto thorax
8. Kolaborasi untuk tindakan torakosintesis.
2.Ketidakefektifan bersihan jalan nafas bd sekresi mukus yang kental, kelemahan upaya batuk, edema trakeal/faringeal.
Tujuan :
Kebersihan jalan nafas kembali efektif, ditandai ; mampu batuk efektif, nafas 16-20 x/menit tanpa obat bantu, bunyi nafas normal, ronche negatif, gerak nafas normal.
Intervensi Keperawatan :
1. Kaji fungsi nafas (bunyi, kecepatan, irama, kedalaman).
2. Kaji kemampuan mengeluarkan sekresi, catat karakter dan volume sputum.
3. Berikan posisi semi fowler dan bantu latihan nafas dalam dan batuk efektif.
4. Pertahankan asupan cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali tidak diindikasikan.
5. Bersihkan sekret dari mulut dan trakhea, bila perlu lakukan penghisapan (suction).
6. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi ; antibiotik, agen mukolitik, bronkodilator, kortikosteroid.
Materi kuliah KMB II
ASKEP CA LAMBUNG
22:38
PENGERTIAN
Ca lambung merupakan neoplasma maligna yang ditemukan dilambung.
PENYEBAB
• Tidak diketahui pasti
• Ada kaitannya dengan : diet, genetic, komposisi tanah, lambung kronis
PATOFISIOLOGI
• Ca lambung paling sering timbul dari lapisan mucus lambung. Ca lambung menyebar dengan cara :
-- Dengan ekstensi langsung ke dalam pancreas
-- Melalui limfatik
-- Melalui infiltrasi hematogen pada hati, paru dan tulang.
PENATALAKSANAAN MEDIKAL
• Kemoterapi dan terapi radiasi
• Reseksi bedah.
• Obat multiple (fluorosil, mitomisin C dan doksorubisin)
• Hiperalimentasi (nutrisi intravena).
PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan :
1. Ansietas berhubungan dengan penyakit dan pengobatan yang direncanakan.
Tujuan :
• Ansietas berkurang dan klien dapat memilih cara koping yang efektif.
Intervensi Keperawatan :
• Berikan relaksasi, suasana yang tidak mengancam.
• Dukung tindakan koping positif.
• Anjurkan dan diskusikan tentang adanya prosedur dan tindakan.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
Tujuan :
• Klien akan mempertahankan masukan nutrisi untuk kebutuhan metabolisme.
Intervensi Keperawatan :
• Dorong pemberian makan sedikit dan sering serta tidak mengiritasi.
• Menjamin makanan suplemen tinggi kalori, vitamin A, C dan besi.
• Berikan vitamin B12 parenteral secara pasti.
• Pantau kecepatan dan frekuensi terapi intravena.
• Catat masukan, haluaran dan BB setiap hari.
• Tinjau tanda dehidrasi.
• Tinjau ulang pemeriksaan laboratorium harian untuk memperhatikan
abnormalitas metabolic.
• Berikan antiemetik sesuai ketentuan.
3. Nyeri berhubungan dengan adanya sel-sel
epitel abnormal.
Tujuan :
• Klien mengalami nyeri terkontrol atau mengalami peredaan nyeri.
Intervensi Keperawatan :
• Berikan analgetik sesuai ketentuan.
• Kaji frekuensi, intensitas dan durasi nyeri.
• Kerja sama dengan klien untuk membantu mengatasi nyeri.
• Dorong periode istirahat dan relaksasi.
4. Berduka yang diantisipasi berhubungan dengan diagnosa kanker.
Tujuan :
• Klien mampu memahami dan mendiskusikan penyakit dan pilihan pengobatan.
Intervensi Keperawatan :
• Bantu mengekspresikan rasa takut dan masalah tentang diagnosis.
• Beri kebebasan untuk berduka ; jawab pertanyaan klien dengan jujur.
• Dorong berpartisipasi dalam keputusan pengobatan.
• Dukung ketidakyakinan dan waktu yang diperlukan untuk menerima diagnosis.
• Berikan dukungan emosional dan libatkan anggota keluarga dan orang terdekat.
• Berikan pelayanan professional sesuai kebutuhan.
Materi Kuliah KMB II
Ca lambung merupakan neoplasma maligna yang ditemukan dilambung.
PENYEBAB
• Tidak diketahui pasti
• Ada kaitannya dengan : diet, genetic, komposisi tanah, lambung kronis
PATOFISIOLOGI
• Ca lambung paling sering timbul dari lapisan mucus lambung. Ca lambung menyebar dengan cara :
-- Dengan ekstensi langsung ke dalam pancreas
-- Melalui limfatik
-- Melalui infiltrasi hematogen pada hati, paru dan tulang.
PENATALAKSANAAN MEDIKAL
• Kemoterapi dan terapi radiasi
• Reseksi bedah.
• Obat multiple (fluorosil, mitomisin C dan doksorubisin)
• Hiperalimentasi (nutrisi intravena).
PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan :
1. Ansietas berhubungan dengan penyakit dan pengobatan yang direncanakan.
Tujuan :
• Ansietas berkurang dan klien dapat memilih cara koping yang efektif.
Intervensi Keperawatan :
• Berikan relaksasi, suasana yang tidak mengancam.
• Dukung tindakan koping positif.
• Anjurkan dan diskusikan tentang adanya prosedur dan tindakan.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
Tujuan :
• Klien akan mempertahankan masukan nutrisi untuk kebutuhan metabolisme.
Intervensi Keperawatan :
• Dorong pemberian makan sedikit dan sering serta tidak mengiritasi.
• Menjamin makanan suplemen tinggi kalori, vitamin A, C dan besi.
• Berikan vitamin B12 parenteral secara pasti.
• Pantau kecepatan dan frekuensi terapi intravena.
• Catat masukan, haluaran dan BB setiap hari.
• Tinjau tanda dehidrasi.
• Tinjau ulang pemeriksaan laboratorium harian untuk memperhatikan
abnormalitas metabolic.
• Berikan antiemetik sesuai ketentuan.
3. Nyeri berhubungan dengan adanya sel-sel
epitel abnormal.
Tujuan :
• Klien mengalami nyeri terkontrol atau mengalami peredaan nyeri.
Intervensi Keperawatan :
• Berikan analgetik sesuai ketentuan.
• Kaji frekuensi, intensitas dan durasi nyeri.
• Kerja sama dengan klien untuk membantu mengatasi nyeri.
• Dorong periode istirahat dan relaksasi.
4. Berduka yang diantisipasi berhubungan dengan diagnosa kanker.
Tujuan :
• Klien mampu memahami dan mendiskusikan penyakit dan pilihan pengobatan.
Intervensi Keperawatan :
• Bantu mengekspresikan rasa takut dan masalah tentang diagnosis.
• Beri kebebasan untuk berduka ; jawab pertanyaan klien dengan jujur.
• Dorong berpartisipasi dalam keputusan pengobatan.
• Dukung ketidakyakinan dan waktu yang diperlukan untuk menerima diagnosis.
• Berikan dukungan emosional dan libatkan anggota keluarga dan orang terdekat.
• Berikan pelayanan professional sesuai kebutuhan.
Materi Kuliah KMB II
ASKEP ULKUS PEPTIKUM
22:34
PENGERTIAN
Ulserasi jaringan mukosa dan struktur dibawahnya disebabkan oleh getah asam pepsin lambung yang berlebihan.
PATOFISIOLOGI
ULKUS LAMBUNG
Terjadi pada bagian antrum dan lekukan dalam lambung. Daya tahan/barier pada mukosa lambung tidak ada sehingga terjadi destruksi mukosa lambung oleh asam pepsin mengakibatkan ulkus.
ULKUS DUODENUM
Terjadi pada bagian tonjolan duodenum dekat pylorus. Hiperasiditas tidak seimbang dengan daya tahan mukosa pada duodenum mengakibatkan iritasi mukosa.
ULKUS KARENA STRESS
Ulkus Curling, dialami oleh klien dengan luka baker, trauma atau sepsis yang menyerangmukosa sehingga penurunan produksi mukosa dan resistensi asam clorida akibatnya mukosa menjadi erosi.
Ulkus Cushing, pada klien traumaserebri yang merangsang nervus vagus sehingga menambah keasaman cairan lambung dan menyebabkan erosi mukosa.
GEJALA
ULKUS LAMBUNG
Nyeri epigastrium
Nyeri tambah berat dengan makan
Mual, muntah dan anoreksia
Berat badan cenderung turun.
ULKUS DUODENUM
Nyeri dapat hilang setelah makan
Nyeri dapat terjadi tengah malam
BB normal
Konstipasi
ULKUS KARENA STRESS
Nyeri epigastrium
Nausea
Vomitus.
ETIOLOGI
Ketidakseimbangan produksi asam pepsin dan resistensi mukosa
Iritasi
Suplai darah ke sel-sel mukosa tidak adekuat
Stress
Obat-obatan
Herediter
Inflamasi bakteri
PENATALAKSANAAN MEDIKAL
Pengobatan
Netralisir asam
Anti sekretoris :
Anti kolinergik
Atropine
Pirenzepin
Antagonis reseptor H2
Ranitidin
Meningkatkan up take O2 pada jaringan yang rusak
Solkoseril
Sitoprotektif
Menyembuhkan tukak : prostaglandin, sematidin.
Rontgen terapi
Terapi pembedahan
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman ; nyeri epigastrium bd adanya iritasi mukosa ditandai dengan nyeri epigastrium, nyeri setelah makan
Tujuan :
Gangguan rasa nyaman berkurang
Intervensi :
Beri kompres panas
Beri makanan porsi kecil sering dan tidak merangsang
Beri obat-obatan mengurangi rasa sakit dan mencegah iritasi.
2. Gangguan pola nutrisi bd rusaknya mukosa lambung ditandai dengan anoreksia dan BB menurun
Tujuan :
Kebutuhan nutrisi tercukupi
Intervensi :
Beri diet TKTP secara teratur
Beri makanan yang disukai dan tidak merangsang
Beri makanan lunak porsi kecil dan sering
Timbang BB klien
3. Gangguan pola istirahat bd adanya rasa nyeri ditandai
dengan rasa nyeri epigastrium, tegang pada lambung
dan duodenum, klien gelisah
Tujuan :
Gangguan pola istirahat teratasi
Intervensi :
Beri makan sebelum klien tidur
Beri posisi tubuh yang menyenangkan
Memijat punggung dan otot-otot untuk mengurangi ketegangan dan rasa sakit
Beri kesempatan klien untuk istirahat
Beri kompres hangat.
4. Intoleransi terhadap aktifitas bd adanya rasa nyeri
ditandai dengan klien selalu berbaring, klien tampak
lemah
Tujuan :
Gangguan toleransi terhadap aktifitas teratasi
Intervensi :
Anjurkan pada klien agar tetap istirahat dalam lingkungan yang tenang dan posisi yang menyenangkan klien
Beri pengertian pada klien agar tetap melaksanakan aktifitas sehari-hari yang tidak melelahkan
Berikan latihan aktif/pasif pada klien.
5. Resiko terjadi komplikasi bd rusaknya mukosa lambung
dan duodenum.
Tujuan :
Tercegah terjadinya komplikasi
Intervensi :
Observasi dan melaporkan tanda-tanda hematemesis, melena, pucat, TD menurun, sakit perut akut dan kekakuan.
Bantu klien dan keluarga mengambil keputusan untuk tidak merokok dan menghindari pekerjaan yang melelahkan.
Berikan penyuluhan agar klien menjaga kebiasaan hidup sehat seperti : program aktifitas/istirahat, makanan bergizi.
Materi Kuliah KMB II
Ulserasi jaringan mukosa dan struktur dibawahnya disebabkan oleh getah asam pepsin lambung yang berlebihan.
PATOFISIOLOGI
ULKUS LAMBUNG
Terjadi pada bagian antrum dan lekukan dalam lambung. Daya tahan/barier pada mukosa lambung tidak ada sehingga terjadi destruksi mukosa lambung oleh asam pepsin mengakibatkan ulkus.
ULKUS DUODENUM
Terjadi pada bagian tonjolan duodenum dekat pylorus. Hiperasiditas tidak seimbang dengan daya tahan mukosa pada duodenum mengakibatkan iritasi mukosa.
ULKUS KARENA STRESS
Ulkus Curling, dialami oleh klien dengan luka baker, trauma atau sepsis yang menyerangmukosa sehingga penurunan produksi mukosa dan resistensi asam clorida akibatnya mukosa menjadi erosi.
Ulkus Cushing, pada klien traumaserebri yang merangsang nervus vagus sehingga menambah keasaman cairan lambung dan menyebabkan erosi mukosa.
GEJALA
ULKUS LAMBUNG
Nyeri epigastrium
Nyeri tambah berat dengan makan
Mual, muntah dan anoreksia
Berat badan cenderung turun.
ULKUS DUODENUM
Nyeri dapat hilang setelah makan
Nyeri dapat terjadi tengah malam
BB normal
Konstipasi
ULKUS KARENA STRESS
Nyeri epigastrium
Nausea
Vomitus.
ETIOLOGI
Ketidakseimbangan produksi asam pepsin dan resistensi mukosa
Iritasi
Suplai darah ke sel-sel mukosa tidak adekuat
Stress
Obat-obatan
Herediter
Inflamasi bakteri
PENATALAKSANAAN MEDIKAL
Pengobatan
Netralisir asam
Anti sekretoris :
Anti kolinergik
Atropine
Pirenzepin
Antagonis reseptor H2
Ranitidin
Meningkatkan up take O2 pada jaringan yang rusak
Solkoseril
Sitoprotektif
Menyembuhkan tukak : prostaglandin, sematidin.
Rontgen terapi
Terapi pembedahan
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman ; nyeri epigastrium bd adanya iritasi mukosa ditandai dengan nyeri epigastrium, nyeri setelah makan
Tujuan :
Gangguan rasa nyaman berkurang
Intervensi :
Beri kompres panas
Beri makanan porsi kecil sering dan tidak merangsang
Beri obat-obatan mengurangi rasa sakit dan mencegah iritasi.
2. Gangguan pola nutrisi bd rusaknya mukosa lambung ditandai dengan anoreksia dan BB menurun
Tujuan :
Kebutuhan nutrisi tercukupi
Intervensi :
Beri diet TKTP secara teratur
Beri makanan yang disukai dan tidak merangsang
Beri makanan lunak porsi kecil dan sering
Timbang BB klien
3. Gangguan pola istirahat bd adanya rasa nyeri ditandai
dengan rasa nyeri epigastrium, tegang pada lambung
dan duodenum, klien gelisah
Tujuan :
Gangguan pola istirahat teratasi
Intervensi :
Beri makan sebelum klien tidur
Beri posisi tubuh yang menyenangkan
Memijat punggung dan otot-otot untuk mengurangi ketegangan dan rasa sakit
Beri kesempatan klien untuk istirahat
Beri kompres hangat.
4. Intoleransi terhadap aktifitas bd adanya rasa nyeri
ditandai dengan klien selalu berbaring, klien tampak
lemah
Tujuan :
Gangguan toleransi terhadap aktifitas teratasi
Intervensi :
Anjurkan pada klien agar tetap istirahat dalam lingkungan yang tenang dan posisi yang menyenangkan klien
Beri pengertian pada klien agar tetap melaksanakan aktifitas sehari-hari yang tidak melelahkan
Berikan latihan aktif/pasif pada klien.
5. Resiko terjadi komplikasi bd rusaknya mukosa lambung
dan duodenum.
Tujuan :
Tercegah terjadinya komplikasi
Intervensi :
Observasi dan melaporkan tanda-tanda hematemesis, melena, pucat, TD menurun, sakit perut akut dan kekakuan.
Bantu klien dan keluarga mengambil keputusan untuk tidak merokok dan menghindari pekerjaan yang melelahkan.
Berikan penyuluhan agar klien menjaga kebiasaan hidup sehat seperti : program aktifitas/istirahat, makanan bergizi.
Materi Kuliah KMB II
ASKEP PERITONITIS
22:28
PENGERTIAN
Inflamasi membran peritoneul Peritonium adalah kantung dua lapis semipermeabel sekitar 1500 ml cairan yang menutupi organ di dalam rongga abdomen. Dipersarafi oleh saraf somatik, maka stimulasi peritoneum parietal yang membatasi rongga abdomen dan pelvis menyebabkan nyeri tajam dan terlokalisasi.
PATOFISIOLOGI
Peritonitis menimbulkan efek sistemik. Perubahan sirkulasi, perpindahan cairan, masalah pernafasan menyebabkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Sistem sirkulasi mengalamin tekanan dari beberapa sumber. Respon inflamasi mengirimkan darah ekstra ke area usus yang terinflamasi. Cairan dan udara ditahan dalam lumen ini, meningkatkan tekanan dan sekresi cairan ke dalam usus. Sedangkan volume sirkulasi darah berkurang, meningkatkan kebutuhan oksigen, ventilasi berkurang dan meninggikan tekanan abdomen yang meninggikan diafragma.
PENATALAKSANAAN MEDIKAL
1. Bila peritonitis meluas dan pembedahan dikontraindikasikan karena syok dan kegagalan sirkulasi, maka cairan oral dihindari dan diberikan cairan vena untuk mengganti elektrolit dan kehilangan protein. Biasanya selang usus dimasukkan melalui hidung ke dalam usus untuk mengurangi tekanan dalam usus.
2. Bila infeksi mulai reda dan kondisi pasien membaik, drainase bedah dan perbaikan dapat diupayakan.
3. Pembedahan mungkin dilakukan untuk mencegah peritonitis, seperti apendiktomi. Bila perforasi tidak dicegah, intervensi pembedahan mayor adalah insisi dan drainase terhadap abses.
PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan :
1. Nyeri bd proses inflamasi, demam dan kerusakan jaringan.
Tujuan :
Persepsi klien tentang nyeri menurun, ditandai penurunan skala nyeri, dan tidak meringis.
Intervensi Keperawatan :
1. Kaji dan catat karakter dan beratnya nyeri setiap 1-2 jam
2. Setelah diagnosis, berikan narkotik, analgetik dan sedatif sesuai program untuk meningkatkan kenyamanan dan istirahat.
3. Pertahankan tirah baring ; istirahat, lingkungan yang tenang.
4. Pertahankan posisi nyaman ; semifowler.
2. Ketidakefektifan pola nafas bd penurunan kedalaman pernafasan sekunder distensi abdomen dan menghindari nyeri.
Tujuan :
Pola nafas efektif, ditandai bunyi nafas normal, tekanan O2 dan saturasi O2 normal, TD batas dalam rentang dasar.
Intervensi Keperawatan :
1. Pantau hasil analisa gas darah dan indikator hiposemia ; hipotensi, takhikardi, hiperventilasi, gelisah, depresi SSP, dan sianosis.
2. Auskultasi paru untuk mengkaji ventilasi dan mendeteksi komplikasin pulmoner.
3. Pertahankan pasien pada posisi semifowler.
4. Berikan O2 sesuai program.
3. Perubahan syok septik sekunder akibat proses inflamasi.
Tujuan :
Pasien bebas dari gejala peritonitis yang memburuk, ditandai normoterni, TD rentang normal, haluaran 30 ml/jam, CVP 2-6 mmHg, penurunan lingkar abdomen, nyeri tekan minimal pada palpasi.
Intervensi Keperawatan :
1. Kaji abdomen setiap 1-2 jam selama fase akut dan 4 jam bila stabil.
2. Bila diprogramkan, pasang selang gastrik dan sambungkan pada pengisap untuk mencegah atau menurunkan distensi.
3. Pantau tanda vital, waspadai tanda-tanda syok.
4. Berikan antibiotik sesuai program.
5. Pantau Pemeriksaan darah lengkap.
6. Pertahankan teknik steril pada penggantian balutan dan semua prosedur invasif.
7. Ajarkan tanda dan gejala berulangnya peritonitis ; demam, menggigil, muntah, nyeri abdomen, dan distensi.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh bd muntah dan penghisapan usus.
Tujuan :
Nutrisi pasien adekuat, ditandai BB stabil, albumin serum 3,5 s/d 5,5 g/dl.
Intervensi Keperawatan :
1. Pertahankan pasien puasa sesuai program selama fase akut.
2. Bila mengalami ileus, selang NG akan dipasang untuk dekompresi abdomen.
3. Berikan cairan secara bertahap bila motilitas telah kembali, dibuktikan bising usus, penurunan distensi dan pasase flatus.
4. Bila diprogramkan dukung pasien dengan nutrisi parenteral
5. Berikan pengganti cairan, elektrolit dan vitamin sesuai program.
Inflamasi membran peritoneul Peritonium adalah kantung dua lapis semipermeabel sekitar 1500 ml cairan yang menutupi organ di dalam rongga abdomen. Dipersarafi oleh saraf somatik, maka stimulasi peritoneum parietal yang membatasi rongga abdomen dan pelvis menyebabkan nyeri tajam dan terlokalisasi.
PATOFISIOLOGI
Peritonitis menimbulkan efek sistemik. Perubahan sirkulasi, perpindahan cairan, masalah pernafasan menyebabkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Sistem sirkulasi mengalamin tekanan dari beberapa sumber. Respon inflamasi mengirimkan darah ekstra ke area usus yang terinflamasi. Cairan dan udara ditahan dalam lumen ini, meningkatkan tekanan dan sekresi cairan ke dalam usus. Sedangkan volume sirkulasi darah berkurang, meningkatkan kebutuhan oksigen, ventilasi berkurang dan meninggikan tekanan abdomen yang meninggikan diafragma.
PENATALAKSANAAN MEDIKAL
1. Bila peritonitis meluas dan pembedahan dikontraindikasikan karena syok dan kegagalan sirkulasi, maka cairan oral dihindari dan diberikan cairan vena untuk mengganti elektrolit dan kehilangan protein. Biasanya selang usus dimasukkan melalui hidung ke dalam usus untuk mengurangi tekanan dalam usus.
2. Bila infeksi mulai reda dan kondisi pasien membaik, drainase bedah dan perbaikan dapat diupayakan.
3. Pembedahan mungkin dilakukan untuk mencegah peritonitis, seperti apendiktomi. Bila perforasi tidak dicegah, intervensi pembedahan mayor adalah insisi dan drainase terhadap abses.
PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan :
1. Nyeri bd proses inflamasi, demam dan kerusakan jaringan.
Tujuan :
Persepsi klien tentang nyeri menurun, ditandai penurunan skala nyeri, dan tidak meringis.
Intervensi Keperawatan :
1. Kaji dan catat karakter dan beratnya nyeri setiap 1-2 jam
2. Setelah diagnosis, berikan narkotik, analgetik dan sedatif sesuai program untuk meningkatkan kenyamanan dan istirahat.
3. Pertahankan tirah baring ; istirahat, lingkungan yang tenang.
4. Pertahankan posisi nyaman ; semifowler.
2. Ketidakefektifan pola nafas bd penurunan kedalaman pernafasan sekunder distensi abdomen dan menghindari nyeri.
Tujuan :
Pola nafas efektif, ditandai bunyi nafas normal, tekanan O2 dan saturasi O2 normal, TD batas dalam rentang dasar.
Intervensi Keperawatan :
1. Pantau hasil analisa gas darah dan indikator hiposemia ; hipotensi, takhikardi, hiperventilasi, gelisah, depresi SSP, dan sianosis.
2. Auskultasi paru untuk mengkaji ventilasi dan mendeteksi komplikasin pulmoner.
3. Pertahankan pasien pada posisi semifowler.
4. Berikan O2 sesuai program.
3. Perubahan syok septik sekunder akibat proses inflamasi.
Tujuan :
Pasien bebas dari gejala peritonitis yang memburuk, ditandai normoterni, TD rentang normal, haluaran 30 ml/jam, CVP 2-6 mmHg, penurunan lingkar abdomen, nyeri tekan minimal pada palpasi.
Intervensi Keperawatan :
1. Kaji abdomen setiap 1-2 jam selama fase akut dan 4 jam bila stabil.
2. Bila diprogramkan, pasang selang gastrik dan sambungkan pada pengisap untuk mencegah atau menurunkan distensi.
3. Pantau tanda vital, waspadai tanda-tanda syok.
4. Berikan antibiotik sesuai program.
5. Pantau Pemeriksaan darah lengkap.
6. Pertahankan teknik steril pada penggantian balutan dan semua prosedur invasif.
7. Ajarkan tanda dan gejala berulangnya peritonitis ; demam, menggigil, muntah, nyeri abdomen, dan distensi.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh bd muntah dan penghisapan usus.
Tujuan :
Nutrisi pasien adekuat, ditandai BB stabil, albumin serum 3,5 s/d 5,5 g/dl.
Intervensi Keperawatan :
1. Pertahankan pasien puasa sesuai program selama fase akut.
2. Bila mengalami ileus, selang NG akan dipasang untuk dekompresi abdomen.
3. Berikan cairan secara bertahap bila motilitas telah kembali, dibuktikan bising usus, penurunan distensi dan pasase flatus.
4. Bila diprogramkan dukung pasien dengan nutrisi parenteral
5. Berikan pengganti cairan, elektrolit dan vitamin sesuai program.
ASKEP APENDIKSITIS
13:49
A. PENGERTIAN
Appendiksitis adalah merupakan peradangan pada appendik periformil. yaitu saluran kecil yang mempunyai diameter sebesar pensil dengan panjang 2-6 inci. Lokasi appendik pada daerah illiaka kanan,dibawah katup illiocaecal,tepatnya pada dinding abdomen dibawah titik Mc burney.
B. B.ETIOLOGI
Appendiksitis disebabkan oleh penyumbatan lumen appendik oleh hyperplasia Folikel lympoid Fecalit, benda asingstriktur karena Fibrasi karena adanya peradangan sebelumnya atau neoplasma.Obstruksi tersebut menyebabkan mucus yang memproduksi mukosa mengalami bendungan.Namun elastisitas dinding appendik mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan tekanan intra lumen.Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang akan menyebabkan edema dan ulserasi mukosa.Pada saat inilah terjadi Appendiksitis akut local yang ditandai oleh adanya nyeri epigastrium.
1. Ulserasi pada mukosa.
2. Obstruksi pada kolon oleh Fekalit (feses yang mengeras)
3. Pemberian barium
4. Berbagai macam penyakit cacing.
5. Tumor.
6. Striktur karena Fibrosis pada dinding usus.
C. TANDA DAN GEJALA
Anoreksia biasanya tanda pertama
Nyeri, permulaan nyeri timbul pada daerah sentral (viseral) lalu kemudian
menjalar ketempat appendics yang meradang (parietal).
Retrosekal/nyeri punggung/pinggang.
postekal/nyeri terbuka → diare.
Muntah, demam → derajat rendah, kecuali ada perforasi.
Lekositosis → bervariasi, tidak mempengaruhi diagnosa/penatalaksanaan
D. DIAGNOSA BANDING
Adenisitis Mensentrik.
Kista ovari
Koletiasis
Batu ginjal/uretra.
Diverkulitis
E. KOMPLIKASI
Perforasi dengan pembentukan abses
Peritonitis generalisata
Pieloflebitis dan abses hati, tapi jarang.
F. PENATALAKSANAAN
Tidak ada penataksanaan appendicsitis, sampai pembedahan dapat di lakukan. Cairan intra vena dan antibiotik diberikan intervensi bedah meliputi pengangkatan appendics dalam 24 jam sampai 48 jam awitan manifestasi. Pembedahan dapat dilakukan melalui insisi kecil/laparoskop. Bila operasi dilakukan pada waktunya laju mortalitas kurang dari 0,5%. Penundaan selalu menyebabkan ruptur organ dan akhirnya peritonitis. Pembedahan sering ditunda namun karena dianggap sulit dibuat dan klien sering mencari bantuan medis tapi lambat. Bila terjadi perforasi klien memerlukan antibiotik dan drainase
G. PATOFISIOLOGI
Penyebab utama appendiksitis adalah obstuksi penyumbatan yang dapat disebabkan oleh hiperplasia dari polikel lympoid merupakan penyebab terbanyak adanya fekalit dalam lumen appendik.Adanya benda asing seperti : cacing,striktur karenan fibrosis akibat adanya peradangan sebelunnya.Sebab lain misalnya : keganasan ( Karsinoma Karsinoid )
Obsrtuksi apendiks itu menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa terbendung, makin lama mukus yang terbendung makin banyak dan menekan dinding appendiks oedem serta merangsang tunika serosa dan peritonium viseral. Oleh karena itu persarafan appendiks sama dengan usus yaitu torakal X maka rangsangan itu dirasakan sebagai rasa sakit disekitar umblikus.
Mukus yang terkumpul itu lalu terinfeksi oleh bakteri menjadi nanah, kemudian timbul gangguan aliran vena, sedangkan arteri belum terganggu, peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritomium parietal setempat, sehingga menimbulkan rasa sakit dikanan bawah, keadaan ini disebut dengan appendisitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu maka timbul alergen dan ini disebut dengan appendisitis gangrenosa. Bila dinding apendiks yang telah akut itu pecah, dinamakan appendisitis perforasi. Bila omentum usus yang berdekatan dapat mengelilingi apendiks yang meradang atau perforasi akan timbul suatu masa lokal, keadaan ini disebut sebagai appendisitis abses. Pada anak – anak karena omentum masih pendek dan tipis, apendiks yang relatif lebih panjang , dinding apendiks yang lebih tipis dan daya tahan tubuh yang masih kurang, demikian juga pada orang tua karena telah ada gangguan pembuluh darah, maka perforasi terjadi lebih cepat. Bila appendisitis infiltrat ini menyembuh dan kemudian gejalanya hilang timbul dikemudian hari maka terjadi appendisitis kronis (Junaidi ; 1982).
INSIDEN
Appendiksitis sering terjadi pada usia tertentu dengan range 20-30 tahun. Pada wanita dan laki-laki insidennya sama terjadi kecuali pada usia pubertas.Dan usia 25 tahun lebih banyak dari laki-laki dengan perbandingan 3 : 2.
PENCEGAHAN
Pencegahan pada appendiksitis yaitu dengan menurunkan resiko obstuksi dan peradangan pada lumen appendiks. Pola eliminasi klien harus dikaji,sebab obstruksi oleh fekalit dapat terjadi karena tidak ada kuatnya diit tinggi serat.Perawatan dan pengobatan penyakit cacing juga menimbulkan resiko. Pengenalan yang cepat terhadap gejala dan tanda appendiksitis menurunkan resiko terjadinya gangren,perforasi dan peritonitis.
PRIORITAS MASALAH
1.Nyeri berhubungan dengan luka insisi pada abdomen kuadran kanan bawah post operasi appenditomi
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan pembatasan gerak skunder terhadap nyeri
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasive appendiktomi.
4. Resiko kekurangan volume cairan sehubungan dengan pembatasan pemasukan cairan
secara oral
RENCANA KE PERAWATAN
1.Nyeri berhubungan dengan luka insisi pada daerah mesial abdomen post operasi appendiktomi
TUJUAN
Nyeri berkurang/hilang dengan kriteria :
-tampak rilek dan dapat tidur dengan tepat
1. Kaji skala nyeri lokasi, karakteristik dan laporkan perubahan nyeri dengan tepat
2. Pertahankan istirahat dengan posisi semi powler
3.Dorong ambulasi dini
4.Berikan aktivitas hiburan
5. Kolborasi tim dokter dalam pemberian analgetika
RASIONAL
1.Berguna dalam pengawasan dan keefesien obat, kemajuan penyembuhan,perubahan dan karakteristik nyeri.
2. Menghilangkan
tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi terlentang
3. Meningkatkan kormolisasi fungsi organ
4. meningkatkan relaksasi
5. Menghilangkan nyeri
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan pembatasan gerak skunder terhadap nyeri
TUJUAN
Toleransi aktivitas dengan kriteria :
-klien dapat bergerak tanpa pembatasan
-tidak berhati-hati dalam bergerak
INTERVENSI
1. catat respon emosi terhadap mobilitas
2.Berikan aktivitas sesuai dengan keadaan klien
3. Berikan klien untuk latihan gerakan gerak pasif dan aktif
4. Bantu klien dalam melakukan aktivitas yang memberatkan
RASIONAL
1.Immobilisasi yang dipaksakan akan memperbesar kegelisahan
2. Meningkatkan kormolitas organ sesuiai dengan yang diharapkan
3. Memperbaiki mekanika tubuh
4. Menghindari hal yang dapat memperparah keadaan.
3.Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasive appendiktomi
TUJUAN
Infeksi tidak terjadi dengan kriteria :
-tidak terdapat tanda-tanda infeksi dan peradangan
INTERVENSI
1. Ukur tanda-tanda vital
2. Observasi tanda-tanda infeksi
3. Lakukan perawatan luka dengan menggunakan teknik septik dan aseptik
4. Observasi luka insisi
RASIONAL
1. Untuk mendeteksi secara dini gejala awal terjadinya infeksi
2. Deteksi dini terhadap infeksi akan mempermudah dalam
3. Menurunkan terjadinya resiko infeksi dan penyebaran bakteri.
4. Memberikan deteksi dini terhadap infeksi dan perkembangan luka
4. Resiko kekurangan volume cairan berhubungna dengan pembatasan pemasuka n cairan secara oral
TUJUAN
Kekurangan volume cairan tidak terjadi
INTERVENSI
1.Ukur dan catat intake dan output cairan tubuh
2.Awasi vital sign: Evaluasi nadi, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa
3.Kolaborasi dengan tim dokter untuk pemberian cairan intra vena
RASIONAL
1.Dokumentasi yang akurat akan membantu dalam mengidentifikasi pengeluaran cairan atau kebutuhan pengganti.
2.Indikator hidrasi volume cairan sirkulasi dan kebutuhan intervensi
3.Mempertahankan volume sirkulasi bila pemasukan oral tidak cukup dan meningkatkan fungsi ginjal
Daftar Pustaka
1. Barbara Engram, Askep Medikal Bedah, Volume 2, EGC, Jakarta
2. Carpenito, Linda Jual, Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, EGC, 2000, Jakarta.
3. Doenges, Marlynn, E, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi III, EGC, 2000, Jakarta.
4. Elizabeth, J, Corwin, Biku saku Fatofisiologi, EGC, Jakarta.
5. Ester, Monica, SKp, Keperawatan Medikal Bedah (Pendekatan Gastrointestinal), EGC, Jakarta.
Peter, M, Nowschhenson, Segi Praktis Ilmu Bedah untuk Pemula. Bina Aksara Jakarta
Appendiksitis adalah merupakan peradangan pada appendik periformil. yaitu saluran kecil yang mempunyai diameter sebesar pensil dengan panjang 2-6 inci. Lokasi appendik pada daerah illiaka kanan,dibawah katup illiocaecal,tepatnya pada dinding abdomen dibawah titik Mc burney.
B. B.ETIOLOGI
Appendiksitis disebabkan oleh penyumbatan lumen appendik oleh hyperplasia Folikel lympoid Fecalit, benda asingstriktur karena Fibrasi karena adanya peradangan sebelumnya atau neoplasma.Obstruksi tersebut menyebabkan mucus yang memproduksi mukosa mengalami bendungan.Namun elastisitas dinding appendik mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan tekanan intra lumen.Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang akan menyebabkan edema dan ulserasi mukosa.Pada saat inilah terjadi Appendiksitis akut local yang ditandai oleh adanya nyeri epigastrium.
1. Ulserasi pada mukosa.
2. Obstruksi pada kolon oleh Fekalit (feses yang mengeras)
3. Pemberian barium
4. Berbagai macam penyakit cacing.
5. Tumor.
6. Striktur karena Fibrosis pada dinding usus.
C. TANDA DAN GEJALA
Anoreksia biasanya tanda pertama
Nyeri, permulaan nyeri timbul pada daerah sentral (viseral) lalu kemudian
menjalar ketempat appendics yang meradang (parietal).
Retrosekal/nyeri punggung/pinggang.
postekal/nyeri terbuka → diare.
Muntah, demam → derajat rendah, kecuali ada perforasi.
Lekositosis → bervariasi, tidak mempengaruhi diagnosa/penatalaksanaan
D. DIAGNOSA BANDING
Adenisitis Mensentrik.
Kista ovari
Koletiasis
Batu ginjal/uretra.
Diverkulitis
E. KOMPLIKASI
Perforasi dengan pembentukan abses
Peritonitis generalisata
Pieloflebitis dan abses hati, tapi jarang.
F. PENATALAKSANAAN
Tidak ada penataksanaan appendicsitis, sampai pembedahan dapat di lakukan. Cairan intra vena dan antibiotik diberikan intervensi bedah meliputi pengangkatan appendics dalam 24 jam sampai 48 jam awitan manifestasi. Pembedahan dapat dilakukan melalui insisi kecil/laparoskop. Bila operasi dilakukan pada waktunya laju mortalitas kurang dari 0,5%. Penundaan selalu menyebabkan ruptur organ dan akhirnya peritonitis. Pembedahan sering ditunda namun karena dianggap sulit dibuat dan klien sering mencari bantuan medis tapi lambat. Bila terjadi perforasi klien memerlukan antibiotik dan drainase
G. PATOFISIOLOGI
Penyebab utama appendiksitis adalah obstuksi penyumbatan yang dapat disebabkan oleh hiperplasia dari polikel lympoid merupakan penyebab terbanyak adanya fekalit dalam lumen appendik.Adanya benda asing seperti : cacing,striktur karenan fibrosis akibat adanya peradangan sebelunnya.Sebab lain misalnya : keganasan ( Karsinoma Karsinoid )
Obsrtuksi apendiks itu menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa terbendung, makin lama mukus yang terbendung makin banyak dan menekan dinding appendiks oedem serta merangsang tunika serosa dan peritonium viseral. Oleh karena itu persarafan appendiks sama dengan usus yaitu torakal X maka rangsangan itu dirasakan sebagai rasa sakit disekitar umblikus.
Mukus yang terkumpul itu lalu terinfeksi oleh bakteri menjadi nanah, kemudian timbul gangguan aliran vena, sedangkan arteri belum terganggu, peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritomium parietal setempat, sehingga menimbulkan rasa sakit dikanan bawah, keadaan ini disebut dengan appendisitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu maka timbul alergen dan ini disebut dengan appendisitis gangrenosa. Bila dinding apendiks yang telah akut itu pecah, dinamakan appendisitis perforasi. Bila omentum usus yang berdekatan dapat mengelilingi apendiks yang meradang atau perforasi akan timbul suatu masa lokal, keadaan ini disebut sebagai appendisitis abses. Pada anak – anak karena omentum masih pendek dan tipis, apendiks yang relatif lebih panjang , dinding apendiks yang lebih tipis dan daya tahan tubuh yang masih kurang, demikian juga pada orang tua karena telah ada gangguan pembuluh darah, maka perforasi terjadi lebih cepat. Bila appendisitis infiltrat ini menyembuh dan kemudian gejalanya hilang timbul dikemudian hari maka terjadi appendisitis kronis (Junaidi ; 1982).
INSIDEN
Appendiksitis sering terjadi pada usia tertentu dengan range 20-30 tahun. Pada wanita dan laki-laki insidennya sama terjadi kecuali pada usia pubertas.Dan usia 25 tahun lebih banyak dari laki-laki dengan perbandingan 3 : 2.
PENCEGAHAN
Pencegahan pada appendiksitis yaitu dengan menurunkan resiko obstuksi dan peradangan pada lumen appendiks. Pola eliminasi klien harus dikaji,sebab obstruksi oleh fekalit dapat terjadi karena tidak ada kuatnya diit tinggi serat.Perawatan dan pengobatan penyakit cacing juga menimbulkan resiko. Pengenalan yang cepat terhadap gejala dan tanda appendiksitis menurunkan resiko terjadinya gangren,perforasi dan peritonitis.
PRIORITAS MASALAH
1.Nyeri berhubungan dengan luka insisi pada abdomen kuadran kanan bawah post operasi appenditomi
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan pembatasan gerak skunder terhadap nyeri
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasive appendiktomi.
4. Resiko kekurangan volume cairan sehubungan dengan pembatasan pemasukan cairan
secara oral
RENCANA KE PERAWATAN
1.Nyeri berhubungan dengan luka insisi pada daerah mesial abdomen post operasi appendiktomi
TUJUAN
Nyeri berkurang/hilang dengan kriteria :
-tampak rilek dan dapat tidur dengan tepat
1. Kaji skala nyeri lokasi, karakteristik dan laporkan perubahan nyeri dengan tepat
2. Pertahankan istirahat dengan posisi semi powler
3.Dorong ambulasi dini
4.Berikan aktivitas hiburan
5. Kolborasi tim dokter dalam pemberian analgetika
RASIONAL
1.Berguna dalam pengawasan dan keefesien obat, kemajuan penyembuhan,perubahan dan karakteristik nyeri.
2. Menghilangkan
tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi terlentang
3. Meningkatkan kormolisasi fungsi organ
4. meningkatkan relaksasi
5. Menghilangkan nyeri
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan pembatasan gerak skunder terhadap nyeri
TUJUAN
Toleransi aktivitas dengan kriteria :
-klien dapat bergerak tanpa pembatasan
-tidak berhati-hati dalam bergerak
INTERVENSI
1. catat respon emosi terhadap mobilitas
2.Berikan aktivitas sesuai dengan keadaan klien
3. Berikan klien untuk latihan gerakan gerak pasif dan aktif
4. Bantu klien dalam melakukan aktivitas yang memberatkan
RASIONAL
1.Immobilisasi yang dipaksakan akan memperbesar kegelisahan
2. Meningkatkan kormolitas organ sesuiai dengan yang diharapkan
3. Memperbaiki mekanika tubuh
4. Menghindari hal yang dapat memperparah keadaan.
3.Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasive appendiktomi
TUJUAN
Infeksi tidak terjadi dengan kriteria :
-tidak terdapat tanda-tanda infeksi dan peradangan
INTERVENSI
1. Ukur tanda-tanda vital
2. Observasi tanda-tanda infeksi
3. Lakukan perawatan luka dengan menggunakan teknik septik dan aseptik
4. Observasi luka insisi
RASIONAL
1. Untuk mendeteksi secara dini gejala awal terjadinya infeksi
2. Deteksi dini terhadap infeksi akan mempermudah dalam
3. Menurunkan terjadinya resiko infeksi dan penyebaran bakteri.
4. Memberikan deteksi dini terhadap infeksi dan perkembangan luka
4. Resiko kekurangan volume cairan berhubungna dengan pembatasan pemasuka n cairan secara oral
TUJUAN
Kekurangan volume cairan tidak terjadi
INTERVENSI
1.Ukur dan catat intake dan output cairan tubuh
2.Awasi vital sign: Evaluasi nadi, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa
3.Kolaborasi dengan tim dokter untuk pemberian cairan intra vena
RASIONAL
1.Dokumentasi yang akurat akan membantu dalam mengidentifikasi pengeluaran cairan atau kebutuhan pengganti.
2.Indikator hidrasi volume cairan sirkulasi dan kebutuhan intervensi
3.Mempertahankan volume sirkulasi bila pemasukan oral tidak cukup dan meningkatkan fungsi ginjal
Daftar Pustaka
1. Barbara Engram, Askep Medikal Bedah, Volume 2, EGC, Jakarta
2. Carpenito, Linda Jual, Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, EGC, 2000, Jakarta.
3. Doenges, Marlynn, E, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi III, EGC, 2000, Jakarta.
4. Elizabeth, J, Corwin, Biku saku Fatofisiologi, EGC, Jakarta.
5. Ester, Monica, SKp, Keperawatan Medikal Bedah (Pendekatan Gastrointestinal), EGC, Jakarta.
Peter, M, Nowschhenson, Segi Praktis Ilmu Bedah untuk Pemula. Bina Aksara Jakarta



