KHAIDIR MUHAJ BLOG'SITE
Tempat Asuhan Keperawatan dan Materi Kuliah Keperawatan
Tampilkan postingan dengan label Maternitas. Tampilkan semua postingan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU DENGAN MOLA HIDATIDOSA

15:54
A. PENGERTIAN.
 Mola Hidatidosa adalah kehamilan abnormal di mana seluruh villi korialisnya mengalami perubahan hidrofik.
 Jonjot-jonjot khorion (chorionic villi) tumbuh berganda merupakan gelembung-gelembung kecil mengandung banyak cairan menyerupai buah anggur atau mata ikan.

B. ETIOLOGI.
Belum diketahui dengan pasti, ada yang mengatakan akibat infeksi, defisiensi makanan dan genetik. Yang paling cocok adalah teori Acosta Sison yaitu defesiensi protein dan faktor resiko pada golongan ekonomi rendah, usia dibawah 20 tahun dan paritas tinggi.

C. PATOGENESIS.
Ada beberapa teori menerangkan patogenesis dari penyakit tropoblas. Teori Missed abortion, mudigah mati pada kehamilan 3 – 5 minggu karena itu terjadi gangguan peredaran darah sehingga terjadi penimbunan cairan dalam jaringan mesenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah gelembung-gelembung.
Menurut Reynolds kematian mudigah itu disebabkan kekurangan gizi berupa asam folik dan histidine pada kehamilan hari 13 – 21.
Teori neoplasma dari Park mengatakan bahwa yang abnormal adalah sel-sel tropoblas yang mempunyai fungsi abnormal pula dimana terjadi reabsorpi cairan yang berlebihan kedalam villi sehingga menimbulkan gelembung-gelembung. Hal ini menyebabkan gangguan peredaran darah dan kematian mudigah.

D. KLASIFIKASI.
Mola hidatidosa terbagi menjadi:
a. Mola Hidatidosa Komplit (Klasik), jika tidak ditemukan janin.
b. Mola Hidatidosa Inkomplit (Parsial), jika disertai janin / bagian janin.

Secara makroskopik mola hidatidosa mudah dikenal yaitu berupa gelembung-gelembung putih, tembus pandang, berisi cairan jernih dengan ukuran bervariasi dari beberapa milimeter sampai satu atau dua centimeter. Gambaran histopatologik yang khas dari mola hidati dosa ialah edema stoma villi, tidak ada pembuluh darah pada villi dan proliferasi sel-sel tropoblas sedangkan gambaran sitogenetiknya pada umumnya xx 46.
Sedangkan pada mola hidatidosa parsialis. Secara makroskopik tampak gelembung mola disertai janin atau bagian dari janin. Pada pemeriksaan histopatologik tampak dibeberpa tempat villi yang edema dengan sel-sel tropoblas yang tidak begitu berfroliferasi, sedangkan pada tempat lain masih tampak villi yang normal.

Untuk Selngkapnya silahkan Download disini Format Pdf
Read On 1 komentar

Metamorfosa Psikologis Ibu Hamil

21:57

Khaidirmuhaj.blogspot.com - saat hamil, kondisi psikologis wanita tidak menentu. Perhatian khusus dari pasangan dan keluarga membantu Anda melewati masa kelahiran dengan sempurna.

Kehamilan merupakan episode perubahan kondisi fisik dan psikologis yang kompleks bagi seorang wanita yang pernah mengalaminya. Untuk itu, wanita yang sedang mengalami fase kehamilan perlu ”adaptasi” terhadap penyesuaian pola makan dengan proses kehamilan yang terjadi.

Menurut psikologi ternama, Dr Rose Mini AP MPsi, tugas ibu pada masa kehamilan memang tidak sedikit. Ibu harus menerima kehamilannya, membina hubungan dengan janin, menyesuaikan perubahan fisik, menyesuaikan perubahan hubungan suami istri, dan melakukan persiapan melahirkan menjadi orangtua.

Perempuan bersahaja ini pun mengelompokan kondisi psikologis (metamorfosa) ibu hamil menjadi tiga, yaitu pada trisemester pertama, trisemester kedua, dan trisemester ketiga.

”Pada trisemester pertama, timbul kecemasan, kebahagiaan bercampur keraguan dengan kehamilannya antara ya atau tidak, sering terjadi fluktuasi emosi sehingga periode ini mempunyai risiko tinggi untuk terjadinya pertengkaran atau rasa tidak nyaman, adanya perubahan hormonal, dan morning sickness,” ulas psikolog yang sering dipanggil Mbak Romi ini saat mengisi acara “Lactamil with You in Your Motherhood Journey” di Balai Kartini, Jakarta, baru-baru ini.

Untuk trisemester kedua, tambahnya, psikologi ibu hamil lebih tenang dan mulai dapat beradaptasi, perhatian mulai beralih pada perubahan bentuk tubuh, kehidupan seksual, keluarga dan hubungan batiniah dengan bayi yang di kandungnya, serta peningkatan kebutuhan untuk dekat dengan figur ibu, melihat, dan meniru peran ibu. Selain itu, ketergantungan kepada pasangan juga semakin meningkat.

Bagaimana psikologis ibu hamil saat trisemester ketiga? Menurut Rose Mini, stres akan meningkat kembali pada fase ini. Hal itu dapat terjadi dikarenakan kondisi kehamilan semakin membesar. Kondisi itu tidak jarang memunculkan masalah seperti posisi tidur yang kurang nyaman dan mudah terserang rasa lelah.

”Emosi kembali fluktuatif berkaitan dengan bayangan risiko kehamilan dan proses persalinan trimester ketiga,” jelasnya.

Untuk menyikapi masalah ini, tambahnya, carilah informasi sebanyak-banyaknya dari lingkungan terkait dengan kehamilan, diskusikan perasaan Anda dengan pasangan atau orangtua, dorong pasangan untuk menunjukkan sikap positif terhadap kehamilan Anda, dan ajak pasangan untuk menemani Anda saat memeriksakan kondisi dan janin Anda.


Tidak berhenti di situ saja, Rose Mini juga menyarankan kepada ibu hamil untuk rajin memerhatikan gerak janin, ajak komunikasi, ajak pasangan untuk ikut berinteraksi

dengan janin Anda, dan lakukan berbagai aktivitas yang dapat menunjang kehamilan Anda, seperti senam hamil, latihan pernafasan, dan lain-lain.
Sumber: okezone.com
Read On 0 komentar

CACAT PADA JANIN DAPAT DICEGAH

17:09
Khaidirmuhaj.blogspot.com — Rasanya tak ada yang lebih menakutkan bagi para ibu hamil selain mengetahui kemungkinan bayi yang akan dilahirkannya mengalami cacat atau meninggal. Namun, para ilmuwan di era modern ini yakin sebenarnya banyak yang bisa dilakukan para ibu sebelum dan selama kehamilan untuk mengurangi risiko cacat janin.

Beberapa tindakan pencegahan itu bahkan sederhana dan bisa dilakukan siapa saja yang ingin menjalani hidup sehat. "Tiap wanita dalam usia produktif harusnya menyadari apa yang perlu dilakukan agar tetap sehat," kata Dr Michael Kartz, profesor bidang kesehatan anak dari Columbia University, AS.

Hampir satu dari 33 anak yang lahir di AS dilaporkan memiliki cacat lahir. Menurut data Center for Disease Control and Prevention (CDC), kebanyakan cacat lahir itu terjadi selama tiga bulan pertama kehamilan dan melibatkan faktor struktural, fungsional, dan ketidaknormalan biokemikal yang berakibat pada kematian atau kecacatan.

Kelainan jantung merupakan jenis cacat lahir yang paling sering terjadi. Diperkirakan 1 dari 100 atau 200 bayi yang lahir membawa kelainan ini.

Dr Adolfo Correa, pengawas medis dari CDC, menunjuk dua faktor yang berperan dalam terjadinya kelainan jantung, yakni obesitas dan diabetes. "Menjaga berat badan dan kadar gula darah adalah kunci penting untuk melindungi kesehatan calon bayi," katanya.

Para wanita juga bisa mencegah terjadinya cacat lahir dengan pengaturan pola makan dan memerhatikan asupan gizi dan nutrisi. Pastikan kadar asam folat terpenuhi, baik dari makanan sehari-hari maupun suplemen asam folat.

Baik Correa maupun Katz sama-sama berpendapat bahwa yang perlu diubah adalah gaya hidup sebelum seorang wanita hamil. Hal ini penting mengingat kelainan pada tumbuh kembang janin sering kali terjadi di masa awal kehamilan, bahkan sebelum seorang wanita menyadari dirinya hamil.

Untuk melahirkan bayi sehat tanpa komplikasi, setiap wanita disarankan untuk menjaga kebugaran dan memenuhi gizi yang baik, bahkan sebelum terjadinya konsepsi.

Tindakan pencegahan lain bisa dilakukan selama kehamilan. Hal pertama adalah menganalisis kembali semua obat, baik resep maupun obat bebas, yang dikonsumsi. Tanyakan pada dokter, obat apa yang harus dihindari karena berbahaya bagi janin.

Para ibu hamil juga sebaiknya melindungi diri dari kemungkinan penularan penyakit. Hindari bepergian jauh untuk mencegah penularan penyakit. Atau, jika tak bisa dihindari, lakukan tindakan pencegahan, seperti mengonsumsi obat antimalaria atau mendapatkan vaksin tertentu sebelum bepergian.

Sumber: Kompas.Com
Read On 0 komentar

Selaput Dara Bukan Ukuran Virginitas

16:06

Khaidirmuhaj.blogspot.com — Diceritakan oleh Prof Dr Junizaf, SpOG(K), pernah ada pria memeriksakan istri yang baru beberapa hari dinikahi karena di malam pertama mereka tidak setetes darah pun keluar dari vagina. la merasa tertipu dan mengira keperawanan sang istri sudah hilang sebelum ia menikahinya.

Melalui pemeriksaan, uroginekolog dari FKUI RSCM ini justru mendapati yang sebaliknya. "Selaput dara wanita sangat liat sehingga belum berhasil ditembus di malam pertama mereka," tuturnya. Dan setelah mendapat penjelasan yang benar, pria itu pun memahami kekeliruannya dan mengurungkan niat menceraikan istri barunya itu.

Ketidaktahuan soal keperawanan dan organ reproduksi tak hanya terjadi pada pria. Banyak wanita juga masih memiliki pengetahuan yang sangat minim. Tak heran, redaksi kerap menerima pertanyaan, "Apa berhubungan seks sekali saja, keperawanan bisa hilang?", "Bisakah hamil kalau hubungan intim hanya satu kali?", "Apakah memasukkan jari ke vagina bisa merusak selaput dara?", "Mengapa tidak keluar darah waktu pertama kali berhubungan?" Dan ada banyak pertanyaan serupa.

Bisa robek tanpa seks
Memang tidak mudah menilai keperawanan karena banyak hal yang bisa ikut memengaruhi. Ditegaskan oleh Dr Budi ML, SpOG, dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Jatisampurna, virginitas tak bisa diukur dari robeknya selaput dara. Tak bisa juga dilihat secara kasat mata melalui ciri-ciri fisik seperti payudara turun atau pinggul yang mengendur.
"Keperawanan harus dilihat dan diperiksa melalui tes medis yang dilakukan oleh dokter ahli. Tidak bisa dilihat dari fisik saja," ucapnya kepada GHS.
Memang masih terus beredar mitos di kalangan remaja maupun orang dewasa bahwa wanita yang sudah tidak perawan dapat diketahui dari tanda-tanda fisiknya, seperti pantat turun, payudara mengendur, atau cara berjalan yang tidak lagi lurus.

Menurut Dr Budi, mitos tersebut sebenarnya keliru, tetapi karena telanjur diyakini oleh sebagian masyarakat, seolah-olah benar. Begitu juga dengan mitos keperawanan yang diukur dari perdarahan yang timbul akibat pecahnya selaput dara.
"Selama ini masyarakat berpendapat bahwa keperawanan seseorang akan hilang ketika berhubungan seksual, yang menyebabkan pecahnya selaput dara. Padahal, selaput dara kondisinya berbeda antara satu wanita dengan lainnya," ujarnya.
Ada selaput dara yang tipis sehingga lebih mudah robek atau pecah. Ada pula selaput dara yang sangat kuat atau liat sehingga tidak mudah pecah. Yang perlu dipahami juga, pecahnya selaput dara tidak harus melalui hubungan seksual saja.
"Aktivitas olahraga seperti senam, benturan karena jatuh, dan lainnya juga bisa menyebabkan selaput dara sobek," tuturnya. Penggunaan tampon saat menstruasi juga dapat menyebabkan selaput dara robek.

Elastisitasnya berbeda
Jenis selaput dara juga beragam. Jika selaput dara kaya akan pembuluh darah, otomatis ketika pecah akan terjadi perdarahan cukup banyak. "Sebaliknya, jika selaput dara tersebut tidak memiliki pembuluh darah, otomatis ketika pecah juga tidak berdarah," ucap Dr Budi.
Jadi, perdarahan pada saat hubungan seksual tidak bisa dijadikan tolok ukur menilai keperawanan seorang wanita. Justru perdarahan bisa saja terjadi karena pengencangan atau ketegangan pada vagina, yang sering disebut kelainan vaginismus, pada saat hubungan seksual. Kondisi ini menandakan si wanita tidak bisa menikmati hubungan intim, malah bisa saja ia merasa sakit dan tersiksa.

Bila kedua pasangan dapat menikmati hubungan seksual dengan baik sehingga tidak menimbulkan ketegangan pada vagina, kemungkinan terjadi perdarahan sangat kecil, malah mungkin sama sekali tidak terjadi. Itu artinya, tambah Dr Budi, tak hanya suami yang menikmati hubungan seksual tersebut, tetapi istri juga bisa menikmatinya.

Selaput dara, lanjutnya, berupa lipatan mukosa tipis yang mengelilingi jalan masuk vagina. Terdapat beberapa bentuk dan berbeda pada tiap wanita, serta memiliki elastisitas yang berlainan pula.
Itu sebabnya tidak semua wanita mengeluarkan darah pada saat hubungan seksual pertama. Ada yang baru keluar setelah beberapa kali berhubungan, bahkan ada yang tidak keluar darah sama sekali.
"Jangan heran jika ada wanita yang telah berulang kali melakukan hubungan seksual, namun sama sekali tidak pernah keluar darah," tutur dokter spesialis kebidanan dan kandungan ini. (GHS/put/rin)

Sumber: Kompas.com
Read On 0 komentar

PERAWATAN BUAH DADA PD IBU HAMIL & IBU SESUDAH MELAHIRKAN

22:27
Pengertian:
Perawatan payudara saat hamil adl merawat sedini mgkn payudara ibu pd saat kehamilan u/ m’persiapk’ payudara sbg penghasil ASI serta kebersihannya & tehnik perawatannya

Tujuan :
  • Memelihara kebersihan payudara.
  • Melenturkan & menguatkan puting.
  • Mengatasi puting susu datar/ terbenam.
  • Memperlancar pengeluaran ASI.

Untuk selengkapnya silahkan Download
Format Pdf
Format Ppt
Read On 0 komentar

NIFAS DAN KOMPLIKASINYA

22:12
Masa Nifas:
  1. Masa pemulihan
  2. Pasca persalinan sampai alat kandungan kembali seperti pra-hamil
  3. Lamanya 6 – 8 minggu
  4. Involusi → pulihnya kembali alat genetalia interna dan eksterna
  5. Timbulnya masa laktasi oleh pengaruh hormon laktogen dari hipofisis.

Perawatan Nifas:
  • Pengawasan 2 jam post partum
  • Post partum hari ke-5
Untuk selengkapnya silahkan  Download
Format Pdf
Format Ppt
Read On 0 komentar

KEHAMILAN

13:59
KONSEP DASAR
A. PENGERTIAN
1. Kehamilan adalah proses mata rantai yang berkesinambungan terdiri dari ovulasi (pelepasan Ovum) terjadi migrasi spermatozoa dari ovum. Terjadinya konsepsi dan pertumbuhan zigot terjadi nidasi (implantasi) pada uterus, pembentukan plasenta dan tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm (Manuaba, Ida Bagus Gede, 1998).
2. Kehamilan adalah masa dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin (Saifudin, Abdul Bani,dkk.2001).
3. Menurut Mochtar Rustam, 1998, kehamilan adalah periode dimana ovum yang telah dibuahi berkembang sampai bisa menunjang sendiri kehidupan di luar uterus. Kehamilan trimester I adalah kehamilan dengan usia 0 – 12 minggu, trimester II adalah usia kehamilan 12 – 28 minggu dan trimester III adalah usia kehamilan 28 – 4 minggu.

B. TUJUAN ASUHAN ANTENATAL
1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayinya.
2. Meningkatkan dan memepertahankan kesehatan ibu dan bayinya secara fisik, mental dan social.
3. Mengenal secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat openyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan.
4. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI ekslusif.
5. Memepersiapkan peran ibu dan keluarga dalam penerimaan kelahiran bayinya agar dapat tumbuh kembang secara normal.
(saefudin, Abdul Bari dkk. 2001).

C. TANDA DAN GEJALA KEHAMILAN YANG LAZIM TERJADI PADA KEHAMILAN TRIMESTER II DAN PENATA LAKSANAANNYA.
1. Pusing
Pusing yang dialami oleh ibu hamil adalah normal dan bisa diatasi dengan minum air putih hangat, pijatan ringan pada leher dan otot bahu, teknik relaksasi (menarik napas dalam), jangan langsung bangun dari tempat tidur, dan hindari berdiri terlalu lama dalam lingkungan yang hangat dan sesak.
2. Perubahan Kulit
Beritahukan pada ibu bahwa perubahan warna kulit lazim terjadi pada wanita hamil normal, umumnya terjadi pada bagian wajah dan areal mammae. Pada kulit terjadi perubahan deposit pigmen dan hiperpigmentasi karena pengaruh melanophore stimulating hormone dan pengaruh kelenjar suprarenalis. Perubahan kulit ini dapat diatasi dengan menghindari sinar matahari berlebihan, dan mengunakan bahan pelindung non-alergis. Perubahan ini akan hilang setelah berakhirnya kehamilan.
3. Sakit Punggung
Jelaskan kepada ibu bahwa kerangka janin berkembang dengan cepat hal ini menyebabkan bagian kalsium dari ibu digunakan untuk pembentukannya. Anjurkan pada ibu untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung kalsium seperti susu, menghindari pekerjaan berat dan jangan membungkuk ketika mengangkat suatu benda maupun mengambil benda dilantai.
4. Konstipasi
Dapat diatasi dengan :
a) Konsumsi makanan yang berserta seperti sayur, buah-buahan, biji-bijian, dan kacang-kacangan.
b) Banyak minum air putih agar buang air besar teratur.
c) Latihan atau olah raga teratur seperti senam hamil atau jalan-jalan.
d) Istirahat yang cukup
e) Buang air besar secara teratur
f) Buang air besar segera setelah ada dorongan.
5. Sekresi Vagina meningkat
Jelaskan pada ibu bahwa hal itu normal, kecuali jika gatal, iritasi dan berbau busuk, maka ibu harus segera berobat. Anjurkan untuk menjaga hygiene dan pakaian dalam harus sering diganti.
6. Varices pada tungkai
Jangan terlalu lama berdiri, tidak terlalu kencang memakai ikat pinggang, mengenakan kaos kaki elastic, jangan mengunakan kaos kaki dengan tumit yang tinggi, meninggikan posisi kaki selama tidur dan jangan duduk bersilang.
7. Kram pada Kaki
Akibat pembentukan uterus yang makin bertambah menyebabkan sirkulasi darah kekaki terganggu, sehingga kaki terasa kram. Anjurkan ibu untuk tidak berdiri terlalu lama, atur posisi dengan meninggikan kaki waktu istirahat.


D. PENATALAKSANAAN KEHAMILAN TRIMESTER II.
1. Nasihat yang diberikan pada ibu hamil antara lain :
a) Nutrisi
Anjurkan untuk makan-makanan yang yang mengandung unsur-unsur yang diperlukan untuk pertumbuhan janin berat badan yang bertambah terlalu besar atau kurang, perlu mendapat perhatian khusus karena kemungkinan terjadi penyulit kehamilan. Kenaikan berat badan tidak boleh lebih dari ½ kg/minggu.
b) Olah raga ringan
Berguna untuk mempersiapkan tubuh bagi persiapan persalinan yakni meliputi teknik pernapasan dan relaksasi selama proses persalinan berlangsung. Anjurkan untuk jalan-jalan pada pagi hari untuk ketenangan dan mendapatkan udara segar.

c) Istirahat
Ibu hamil perlu istirahat paling sedikit 1 jam pada siang hari. Tidur, istirahat dan bersantai sangat bermanfaat bagi ibu hamil agar tetap kuat dan tidak mudah terkena penyakit, selain itu juga untuk menjaga keseimbangan ibu hamil, diharapkan ibu jangan bekerja terlalu berat yang menguras tenaga.
d) Kebersihan
Mandi diperlukan untuk kesehatan / hygiene terutama perawatan kulit, karena fungsi eksresi dan keringat bertambah. Anjurkan untuk selalu menjaga personal hygiene terutama kebersihan vulva dan tubuh. Selain itu juga diperhatikan kebersihan kuku. Wanita hamil kuku harus pendek dan tidak boleh panjang. Karena kuman penyakit sering hidup bersembunyi pada kuku yang panjang, serta untuk persiapan perawatan bayinya kelak.
e) Hubungan Seksual
Hamil bukan merupakan halangan melakukan hubungan seksual. Hubungan seksual diharapkan untuk dihentikan bila :
1) Terdapat tanda infeksi dengan pengeluaran cairan disertai rasa nyeri atau panas.
2) Terjadi pendarahan saat hubungan seksual
3) Terjadi pengeluaran cairan (air) yang mendadak
4) Hentikan hubungan seksual pada mereka yang sering mengalami keguguran, persalinan sebelum waktunya, kematian dalam kandungan 2 minggu menjelang persalinan.
f) Pakaian Hamil
Pakaian yang dikenakan harus nyaman tanpa sabuk/pita yang menekan pada perut/ pergelangan tangan. Pakaian juga harus tidak boleh terlalu ketat terutama bagian leher, harus ringan, dan menarik. Hal ini penting karena tubuh mengalami perubahan dan enak dipakai serat menyerap mudah keringat. Pakaian dalam atas (BH) dianjurkan tali lebar agar tidak merasa menekan dan bahan yang dianjurkan dari katun untuk menghindari iritasi dan mempunyai kemampuan untuk menjaga payudara, pakaian dalam sering diganti untuk menjaga kebersihan. (Manuaba, 1998).

2. Terapi

a) Memberikan Zat Besi
Dimulai dengan memberikan satu bablet sehari segera mungkin setelah rasa mual hilang. Tiap tablet mengandung FeSO4 320 mg (zat besi 60 mg) dan asam folat 500 mg. minimal masing-masing 90 tablet. Bila ibu merasa mual, konstipasi atau diare akibat zat besi dimakan bersama buah-buahan yang mengandung vitamin C, karena akan menambah penyerapan. Tablet besi sebaiknya tidak diminum bersama the atau kopi karena akan mengganggu penyerapannya. Tablet zat besi dapat diminum separo pada pagi hari dan separo pada malam hari, untuk megurangi efek sampingnya.

b) Memberikan Imunisasi Tetanus Toxoid

SUMBER:
Manuaba, Ida Bagus Gede, 1998
Saifudin, Abdul Bani,dkk.2001
Read On 0 komentar

PERSALINAN

13:45
KONSEP DASAR PERSALINAN
A. PENGERTIAN
1. Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin + uri) yang dapat hidup didunia luar dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain (Sinopsis Obstetri, Rustam Mochtar).
2. Persalinan adalah proses alamiah dimana terjadi dilatasi servik, lahirnya bayi dan plasenta dari rahim ibu (APN, 2004).
3. Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin +uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri).
4. (Ilmu kebidanan, penyakit kandungan & KB untuk pendididkan Bidan, Ida Bagus Gde Manuaba).
5. Persalinan normal adalah persalinan yang di mulai secara spontan beresiko rendah pada awal persalinan dan ttetap demikian selama proses persalinan.
6. Bayi dilahirkan secara spontan dalam presentasi belakang kepala pada usia kehamilan antara 37 – 42 minggu lengkap setelah persalinan ibu maupun bayi berada dalam kondisi sehat (WHO).


B. TUJUAN
Tujuan Asuhan Persalinan adalah :
1. Mendukung ibu, pasangan dan keluarga selama persalinan dan periodenya.
2. Member reaksi terhadap kebutuhan ibu, pasangan dan keluarga
3. Mencegah, mendeteksi dan menangani komplikasi dengan tepat.
4. Mengantisipasi masalah potensial.

Tujuan Asuhan persalinan normal (APN,2004)
Adalah mengupayakan kelangsungan hidup dan mencapai derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui berbagai upaya yang terintegrasi dan lengkap serta intervensi minimal sehingga prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang paling optimal.

C. PENYEBAB
Penyebab terjadinya persalinan belum diketahui benar, yang ada hanyalah merupakan teori-teori yang kompleks antara lain :
1. Teori Penurunan Hormon
1 – 2 minggu sebelum partus mulai terjadi penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron. Progesteron bekerja sebagai penenang otot-otot polos rahim dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his, bila kadar progesterone menurun.
2. Teori Placenta menjadi tua
Menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesterone sehingga pembuluh darah kejang dan akan menimbulkan kontraksi rahim.
3. Teori Distensi Rahim
Rahim yang menjadi besar dan meregang menyebabkan iskemia otot-otot rahim, sehingga mengganggu sirkulasi uterus plasenter.
4. Teori Iritasi Mekanik
Adanya geser dan tekanan misalnya oleh kepala janin, terhadap ganglia servik ( fleksus frankenhauser ) yang terletak di belakang sevik, akan menimbulkan kontraksi uterus.
5. Indukasi Partus ( Inductiom of labour )
Partus dapat di timbulkan dengan jalan :
- Gagang laminaria
Beberapa laminaria dimasukan dalam kanalis servikalis dengan tujuan merangsang pleksus frankenhauser.
- Amniotomi : Pemecahan ketuban
- Oksitoksin drips : Pemberian oksitoksin menurut tetesan per infuse.

D. TANDA-TANDA
Tanda-tanda permulaan persalinan dan yang disebut kala pendahuluan (prepatory stage of labor).
1. Lightening atau setting atau dropping yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul terutama pada primigravida. Pada multipara tidak begitu kentara.
2. Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun
3. Perasaan sering kencing atau susah kencing (polakisuria) karena kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.
4. Perasaan sakit diperut dan pinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah dari uterus, kadang-kadang disebut “false labor pains”.
5. Serfiks menjadi lembek mulai mendatar dan sekresinya bertambah bisa bercampur darah (bloody show).

Tanda tanda inpartu :
1. Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur.
2. Keluar lender bercampur darah yang lebih banyak karena robekan-robekan kecil pada servik.
3. Kadang -kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
4. Pada pemeriksaan dalam, serviks mendatar dan pembukaan telah ada.

E. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya persalinan adalah :
1. Kekuatan mendorong janin keluar (power)
a. His (kontraksi Uterus)
b. Kontraksi otot-otot dinding perut
c. Kontraksi diafragma
d. Aksi dar ligmentum (ligamentous action) terutama legamentum rotondum.
2. Factor Janin (passenger)
a. Sikap (habitus)
b. Letak janin
c. Presentasi
d. Posisi
3. Factor Jalan lahir (passage), jalan lahir terdiri dari 2 bagian
a. Bagian keras tulang panggul
 Distansia Spinarum (24 – 26 cm)
 Distansia Cristarum (28 – 30 cm)
 Konjungata Eksterna (Boudelogue : 18 – 20 cm)
 Lingkar Panggul (80 – 90 cm)
 Distansia Tuberum (10,5 cm)
b. Bagian lunak tulang panggul
 PAP dibentuk oleh promontorium, linea innominata dan pinggir atas simfisis.
 PBP (konjungata diagonalis, 12,5 cm).


F. KALA PERSALINAN
Proses persalinan terdiri dari 4 kala, yaitu :
1. Kala I
Pembukaan serviks sampai menjadi pembukaan lengkap 10 cm.
2. Kala II
Kala pengeluaran janin, waktu uterus dengan kekuatan his diditambah kekuatan mengedan mendorong janin keluar hingga lahir.
3. Kala III
Waktu untuk pelepasan dan pengeluaran uri.
4. Kala IV
Mulai dari lahirnya uri selama 1 – 2 jam.


G. PENANGANAN PERSALINAN

1. Kala I (pembukaan)
a. Bantu ibu dalam persalinan jika ia tampak gelisah, kekuatan dan kesakitan.
b. Penolong tetap menjaga hak privasi ibu dalam persalinan
c. Mejelaskan kemajuan persalinan dan perubahan yang terjadi serta prosedur yang akan dilaksanakan dan hasil-hasil pemeriksaan.
d. Menjaga rasa nyaman ibu
e. Memenuhi kebutuhan energy dan mencegah dehidrasi
f. Menyarankan ibu BAK sesering mungkin
g. Memantau tanda-tanda vital dan kemajuan persalianan

2. Kala II (kala pengeluaran janin)
Member dukungan terus kepada ibu dengan cara :
a. Mendampingi ibu agar merasa nyaman
b. Menawarkan minuman, memijat dan lain-lain
c. Menjaga kebersihan diri
d. Member dukungan moral untuk mengurangi kecemasan ibu
e. Mengatur posisi senyaman mungkin
f. Menjaga kantong kencing tetap kosong
g. Member cukup minum untuk mencegah dehidrasi
h. Menolong persalianan.

3. Kala III (kala pengeluaran uri)
a. Memberikan oksitoksin/ uterustonika lain untuk merangsang uterus berkontraksi.
b. Lakukan penanganan tali pusat terkendali, dilakukan saat uterus berkontraksi.
c. Apabila plasenta tetap lepas, keluarkan plasenta dengan gerakan kebawah dan keatas sesuai dengan jalan lahir, kedua tangan meregang plasenta dan perlahan memutar plasenta dengan arah jarum jam.
d. Segera setelah plasenta dan selaputnya lahir, massage fundus.
e. Periksa ibu secara seksama dan jahit kalau ada robekan pada serviks, vagina dan prineum.

4. Kala IV (kala pengawasan)
a. Periksa fundus tiap 15 menit pada jam pertama dan 20 – 30 menit pada jam kedua.
b. Memeriksa tanda vital, kandung kemih, perdarahan.
c. Menganjurkan ibu makan dan minum
d. Bersihkan perineum dan kenakan pakaian ibu yang bersih dan kering
e. Menganjurkan ibu beristirahat
f. Meningkatkan hubungan ibu dan bayi
g. Memberikan ASI segera setelah lahir
h. Mengajarkan pada ibu dan keluarga tentang bagaimana memeriksa fundus dan menimbulkan kontraksi, tanda-tanda bahaya ibu dan anak serta perawatan luka jahitan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Asuhan Persalinan Normal tahun 2001 - 2004
2. Muchtar R, 1998 Sinopsis Obsteri jilid I, Jakarta: EGC
3. Munuaba, Ida Bagus Gde, 1998, Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan, Jakarta : EGC.
Read On 0 komentar

MECONIUM ASPIRATION SYNDROME

16:39
DEFINISI
Aspirasi dari cairan amnion yang berisi mekonium pada trakhea janin atau bayi baru lahir saat di dalam uterus atau saat bernafas pertamakali.

PATOFISIOLOGI
Sindroma ini biasanya terjadi pada infant full-term. Mekonium ditemukan pada cairan amnion dari 10% dari keseluruhan neonatus, mengindikasikan beberapa tingkatan aspiksia dalam kandungan. Aspiksia mengakibatkan peningkatan peristaltik intestinal karena kurangnya oksigenasi aliran darah membuat relaksasi otot spincter anal sehingga mekonium keluar. Mekonium tersebut terhisap saat janin dalam kandungan.

Aspirasi mekonium menyebabkan obstruksi jalan nafas komplit atau partial dan vasospasme pulmonary. Partikel garam dalam mekonium bekerja seperti detergen, mengakibatkan luka bakar kimia pada jaringan paru. Jika kondisi berkelanjutan akan terjadi pneumothoraks, hipertensi pulmonal persisten dan pneumonia karena bakteri.

Dengan intervensi yang adekuat, gangguan ini akan membaik dalam beberapa hari, tetapi angka kematian mencapai 28% dari seluruh kejadian. Prognosis tergantung dari jumlah mekonium yang teraspirasi, derajat infiltrasi paru dan tindakan suctioning yang cukup. Suctioning termasuk aspirasi dari nasofaring selama kelahiran dan juga suctioning langsung pada trachea melalui selang endotracheal setelah kelahiran jika mekonium ditemukan.

Perencanaan berikut difokuskan pada perawatan infant yang mengalami aspirasi mekonium dan yang berresiko mengalami komplikasi pulmonary.

ETIOLOGI DAN FAKTOR PENCETUS
• Asfiksia fetal
• Prolonged labour

MANIFESTASI SPESIFIK
• Noda mekonium saat lahir
• Takipnea
• Hipoksia
• Hipoventilasi

PENANGANAN
• Suction secara adekuat pada hipopharing saat kelahiran
• Intubasi dan suction pada trachea
• Tangani dengan penanganan distress pernafasan
• Cegah hipoksia dan acidosis

PENGKAJIAN FISIK
Riwayat antenatal ibu
• Stress intra uterin

Status infant saat lahir
• Full-term, preterm, atau kecil masa kehamilan
• Apgar skor dibawah 5
• Terdapat mekonium pada cairan amnion
• Suctioning, rescucitasi atau pemberian therapi oksigen

Pulmonarry
• Disstress pernafasan dengan gasping, takipnea (lebih dari 60 x pernafasan per menit), grunting, retraksi, dan nasal flaring
• Peningkatan suara nafas dengan crakles, tergantung dari jumlah mekonium dalam paru
• Cyanosis
• Barrel chest dengan peningkatan dengan peningkatan diameter antero posterior (AP)

PENGKAJIAN BEHAVIORAL
• Disminished activity

STUDY DIAGNOSTIK
• Rontqen dada untuk menemukan adanya atelektasis, peningkatan diameter antero posterior, hiperinflation, flatened diaphragma dan terdapatnya pneumothorax

DATA LABORATORIUM
• Analisa gas darah untuk mengidentifikasi acidosis metabolik atau respiratorik dengan penurunan PO2 dan peningkatan tingkat PCO2

DIAGNOSA KEPERAWATAN
(1) Resiko tingi insufisiensi pernafasan berhubungan dengan aspirasi mekonium

Tujuan 1. Mencegah dan mengeluarkan mekonium yang teraspirasi pada saat lahir atau setelahnya

Intervensi :
• Observasi kebutuhan akan suctioning nasofaring saat kepala bayi lahir. Mekonium dalam cairan amnion merupakan indikasi dilakukan suction sebelum bayi baru lahir bernafas
• Lakukan suction pada trakhea infant dengan selang endotrakheal setelah kelahiran. Prosedur ini dilakukan sebelum menstimulasi infant jika ditemukan mekonium untuk mencegah aspirasi lebih lanjut
• Lanjutkan suction pada mulut bayi untuk mengeluarkan partikel mekonium yang lebih besar. Infant yang teraspirasi mekonium memerlukan resusitasi, khususnya infant yang mengalami disstress pernafasan
• Berikan istirahat dan ketenangan pada infant. Menangis atau agitasi dapat meningkatkan tekanan intra thorakal, menyebabkan pneumothorax

Tujuan 2. Identifikasi dan minimalkan kegagalan pernafasan setelah kelahiran

Intervensi :
• Kaji status respirasi yang mengindikasikan aspirasi mekonium dan memerlukan tindakan segera seperti :
- Frekuensi, kedalaman dan takipnea ( frekuensi nafas lebih dari 60 x/menit). Peningkatan frekuensi nafas menentukan peningkatan kebutuhan oksigen
- Grunting. Suara grunting terjadi karena penutupan glottis untuk menghentikan ekshalasi udara dengan desakan udara ke pita suara
- Nasal flaring.
- Retraksi dengan penggunaan otot bantu nafas. Retraksi mengindikasikan distensi paru yang tidak adekuat selama inspirasi
- Cyanosis. Cyanosis terjadi karena penurunan kadar oksigen dalam tubuh.
- Analisa gas darah menunjukkan peningkatan PCO2 dan penurunan PO2. Nilai tersebut mengindikasikan adanya acidosis
- Hasil serial ronqen dada. Dapat mengindikasikan atelektasis, hiperinflasi atau pneumothoraks
• Berikan therapi oksigen dan ventilasi mekanik dengan tekanan positif. Ventilasi mekanik kadang diperlukan kadang tidak. Tekanan positif diberikan setelah therapy bronkoskopi atau laringotrakheal untuk mencegah masuknya mekonium ke jalan nafas yang lebih kecil.
• Set ventilator mekanik untuk memberikan tekanan yang lebih tinggi dengan frekuensi nafas pendek (60 – 70 x /menit. Setting ini diperlukan untuk memberikan ventilasi alveoli bagian distal pada infant dengan aspirasi mekonium berat
• Pertahankan hiperoksigenasi dan nilai pH/AGD pada 7,45 – 7,55 dengan PCO2 22 – 30 mmHg. Hiperoksigenasi mencegah sirkulasi fetal persisten. Keadaan alkalosis respiratorik membentu menurunkan vasokontriksi paru pada infant dengan aspirasi mekonium.
• Berikan fisiotherapi dengan perkusi dan vibrasi setiap 1 – 2 jam. Gunakan percussor atau vibrator jika infant dapat mentoleransi treatment. Prosedur ini membantu mengeluarkan sekresi tapi prosedur ini dilakukan tergantung pada kondisi infant
• Cegah komplikasi infeksi (pneumonitis) dengan pemberian antibiotik IV sesuai pesanan (seperti ampicillin). Antibiotik menghancurkan bakteri dengan memecah dinding sel bakteri sehingga sel bakteri mati.
• Berikan aminoglycosides sesuai pesanan seperti kanamisin. Monitor kadar serum bayi. Aminoglycosides menghancurkan bakteri dengan menghambat sintesis protein sehingga sel bakteri mati. Berikan secara pelahan untuk mencegah toksisitas ginjal. Memonitor level serum memaksimalkan efeltifitas therapi obat.
• Jika dipesankan, berikan steroid untuk menurunkan respon inflamasi mekonium. Walaupun obat hidrokortison merupakan pilihan tetapi penggunaannya masih diperdebatkan.
• Siapkan infant untuk pembedahan dan pemasangan Extracorporeal Membrane Oksigenation (ECMO) Pump jika infant mengalami kerusakan fungsi paru yang berat. CCMD mempertahankan pertukaran dan perfusi gas. Pembedahan dilakukan untuk menanam dua tube kecil di leher dan menghubungkannnya dengan mesin ECMO yang memompakan darah melalui paru artificial. Prosedur ini memepertahankan infant tetap hidup sampai paru dapat didukung dengan ventilasi mekanik. Jika ECMO digunakan :
- Kaji intake dan output cairan infant. Mempertahankan keseimbangan cairan penting untuk mencegah overload cairan.
- Monitor PO2 atau nilai oksimetri. Nilai tersebut untuk mengevalusi oksigenasi jaringan
- Kaji status neurologik infant. Tanda neurologik menunjukkan perubahan status oksigenasi
- Suction saluran endotrakheal sesuai pesanan. Suctioning mempertahankan patensi jalan nafas dan membantu treatment.

Koping keluarga yang tidak efektif berhubungan dengan kecemasan, rasa bersalah dan kemungkinan perawatan jangka panjang

Tujuan : Meminimalkan kecemasan, rasa bersalah dan memberikan dukungan selama krisis situasi.

Intervensi :
• Kaji ekpressi verbal dan non verbal, perasaan dan penggunaan koping mekanisme. Data tersebut diperlukan untuk membantu perawat untuk membangun koping yang konstruktif pada keluarga
• Anjurkan orangtua mengungkapkan perasaannya tentang keadaan sakit anaknya, perawatan yang lama, dan prosedur yang dilakukan pada anaknya. Verbalisasi membantu mempertahankan rasa percaya, menurunkan tingkat kecemasan orangtua dan meningkatkan keterlibatan orangtua
• Berikan informasi yang konsisten dan akurat tetang kondisi dan perkembangan bayinya, perawatan di masa yang akan datang, dan potensial problem pernafasan. Informasi akan menurunkan kecemasan terhadap keadaan bayinya.
• Anjurkan keluarga berkunjung, ikut memberikan perawatan bila mungkin. Kunjungan, komunikasi dan partisipasi pada perawatan infant membantu proses bounding
• Informasikan kepada orangtua tentang kebutuhan setelah pulang dan intruksikan prosedur yang penting saat di rumah. Beberapa infant membutuhkan bantuan ventilator setelah pulang ke rumah.
• Rujuk orangtua pada perawat komunitas dan informasikan tentang fasilitas kesehatan yang bisa dihubungi. Rujukan memberikan support kepada keluarga untuk terus mengontrol keadaan bayinya.

b) DIAGNOSA KEPERAWATAN LAIN YANG MUNGKIN
• Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan kalori.
• Kecemasan orangtua berhubungan dengan kemungkinan kematian pada infant, respon terhadap perawatan yang lama, dan pemberian bantuan ventilator di rumah
• Resiko tinggi deficit volume cairan berhubungan dengan IWL dari peningkatan pernafasan
• Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pneumonia sebagai akibat mekonium pada paru
• Resiko tinggi injury berhubungan dengan komplikasi pneumothoraks, atelektasis
• Kegagalan pertukaran gas berhubungan dengan pneumonitis chemical dan kegagalan fungsi paru akibat aspirasi mekonium
• Inefektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan aspirasi mekonium
• Deficit pengetahuan orangtua berhubungan dengan perawatan jangka panjang setelah kepulangan.


DAFTAR PUSTAKA
Melson, Kathryn A. & Marie S. Jaffe, Maternal Infant Health Care Palnning, Second Edition, Springhouse Corporation, Springhouse, 1994
Wong, Donna L., Clinical Manual of Pediatric Nursing, Fourth Edition, Mosby Year Book Inc, Missouri 1996.
Read On 0 komentar

PARTOGRAF

10:02
1. Suatu grafik yang menggambarkan kemajuan persalianan dan merekam keadaan ibu dan janin.
2. Bekerja secara system monitor dini dan memutuskan kapan pasien harus dirujuk, dibantu atau diselesaikan persalinannya.

TUJUAN MEMPELAJARI PARTOGRAF
1. Memahami konsep partograf
2. Dapat mencatat pengamatan dalam grafik dengan tepat
3. Dapat memahami beda fase laten dengan fase aktif
4. Dapat menafsirkan partograf yang telah diisi dan mengenal kelainan
5. Dapat memantau kemajuan, mengenal kebbutuhan, tindakan pada waktu yuang tepat dan memutuskan saat merujuk.
6. Dapat menjelaskan menfaat partofraf pada anggota masyarakat lain.

PRINSIF PARTOGRAF
1. Fase aktif dimulai pada pembukaan 3 cm
2. Fase laten tidak melebihi 8 cm
3. Fase aktif kecepatan pembukaan tidak boleh kurang dari 1 cm / jam.
4. Periksa dalam sejarang mungkin ==> 4 jam 1 kali.
5. Untuk mempermudah partograf dilengkap;i dengan garis waspada dan garis tindakan.

FUNGSI FARTOGRAF
1. Dilaksanakan untuk pelayanan persalinan atau rawat inap
2. Lanjutan pertolongan persalinan normal
3. Dapat mengganti status ibu mencakup semua perjalanan persalinan
4. Untuk mengetahui kemajuan persalinan
5. Untuk menentukan tindakan dalam menyelesaikan persalinan
6. Untuk menurunkan mortalitas ibu dan anak

Untuk selengkapnya silahkan download
Read On 0 komentar
blog-indonesia.com
Health Blogs
SANG JUARA PERINGKAT WEBLOGS INDONESIA
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
blogarama - the blog directory
[Make Your Own] by Khaidir Muhaj | [Close]

Selamat Datang !!

selamat berkunjung di blog saya yang sederhana ini, semoga yang teman cari ada disini, silahkan copy paste artikel dalam blog ini, dgn menyertakan atau tdk menyertakan sumbernya, dan jangan lupa sebagai tanda persahabatan & terimakasih isilah buku tamu.

My Family

My Family
Alumni SPK Kesdam VI/TPR Banjarmasin. Alumnus Politeknik kesehatan Banjarmasin program khusus PKM Rantau. Seorang PNS PemKab. Tapin, Unit Kerja Puskesmas Lokpaikat - Rantau - Kalsel .

Yang Sedang Berkunjung

Anda Pengunjung Yang Ke

TERIMA KASIH

Telah berkunjung, mohon maaf jika terdapat kekurangan dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dan tidak dapat memenuhi permintaan & pertanyaan teman teman, karena saya juga dalam proses pembelajaran dan terus akan belajar. dan seandainya artikel ini bermanfaat itu semata-mata hanya karena Allah SWT guna tercapainya keperawatan yang profesional. serta jangan lupa isi buku tamu, semoga sukses!

Pengikut