Tampilkan postingan dengan label IbuAnak. Tampilkan semua postingan
Tips Tidur Nyenyak Saat Hamil
09:48
Khaidirmuhaj.blogspot.com - Antusius, semangat dan bisa jadi kecapaian menantikan saat-saat kelahiran sang buah hati mungkin membuat Ibu jadi sulit tidur.
Namun, hal itu janganlah dibiarkan. Saat hamil, para ibu kerap kebingungan menentukan posisi tidur agar tak memengaruhi janin. Padahal sebenarnya itu tak perlu karena tubuh perempuan diciptakan begitu unik sehingga dapat memberikan perlindungan terhadap janin dalam kandungan. Untuk itu, Anda pun dapat menciptakan suasana lain agar tidur lebih nyaman bagi tubuh. Berikut beberapa tips yang Anda dapat aplikasikan agar tidur semasa kehamilan lebih nyenyak.(Yulia Permata Sari)
1. Ciptakan suasana nyaman
Sebelum tidur, ciptakanlah suasana yang nyaman. Tempat tidur yang empuk tentu akan membuat tubuh lebih relaks. Selain, itu jaga suhu kamar agar tetap sejuk karena suhu tubuh saat hamil cenderung lebih tinggi. Untuk itu, sediakanlah kipas angin atau pendingin udara yang membantu menyejukkan suhu kamar.
2. Tentukan posisi tidur
Menemukan posisi tidur yang nyaman merupakan masalah terbesar saat hamil. Anda tentu tak mungkin tidur dalam posisi tengkurap dan memasuki bulan keempat juga tak dimungkinkan untuk tidur terlentang. Tidur terlentang dapat mempersempit pembuluh darah utama dan menekan usus sehingga menyebabkan sembelit atau wasir. Untuk itu, Anda pun harus tidur menyamping. Gunakanlah bantal di antara kaki atau di bawah perut supaya tidur menyamping lebih nyaman. Merentangkan kaki juga dapat membuat tidur lebih nyaman.
3. Batasi konsumsi cairan sebelum tidur
Hal yang cukup mengganggu saat tidur pada masa hamil yakni harus kerap terbangun pada malam hari untuk buang air kecil. Itu tentu tak dapat dihindari, tapi bila Anda membatasi konsumsi cairan beberapa jam sebelum tidur, tentu akan megurangi intensitas ke kamar kecil. Tetapi, jangan sampai Anda mengalami dehidrasi. Untuk itu, pastikan untuk mengonsumsi banyak cairan keesokan harinya.
4. Atur cahaya kamar
Cahaya temaram membuat Anda tak harus menyalakan lampu saat terbangun untuk ke kamar kecil pada tengah malam. Cahaya temaram, juga menjaga kantuk sehingga Anda tak kesulitan tidur saat kembali ke tempat tidur.
5. Relaksasikan pikiran
Bila Anda sulit tidur karena selalu memikirkan kondisi bayi dan segala perubahan yang segera terjadi pada hidup Anda, cobalah berlatih beberapa teknik relaksasi tubuh
Sebelum tidur. Makanan ringan, mandi air hangat, atau sedikit gerakan yoga dapat membantu relaksasikan pikiran sehingga dapat tidur lebih tidur.
6. Jangan paksakan tidur
Jika merasa sulit tidur, bangun dan lakukan sesuatu selain membolak-balikkan badan di tempat tidur. Biarkan tubuh merasa letih dengan sendirinya hingga mengantuk. Semoga beberapa tips di atas berhasil membantu Anda tidur saat hamil!
Source: MediaIndonesia
Namun, hal itu janganlah dibiarkan. Saat hamil, para ibu kerap kebingungan menentukan posisi tidur agar tak memengaruhi janin. Padahal sebenarnya itu tak perlu karena tubuh perempuan diciptakan begitu unik sehingga dapat memberikan perlindungan terhadap janin dalam kandungan. Untuk itu, Anda pun dapat menciptakan suasana lain agar tidur lebih nyaman bagi tubuh. Berikut beberapa tips yang Anda dapat aplikasikan agar tidur semasa kehamilan lebih nyenyak.(Yulia Permata Sari)
1. Ciptakan suasana nyaman
Sebelum tidur, ciptakanlah suasana yang nyaman. Tempat tidur yang empuk tentu akan membuat tubuh lebih relaks. Selain, itu jaga suhu kamar agar tetap sejuk karena suhu tubuh saat hamil cenderung lebih tinggi. Untuk itu, sediakanlah kipas angin atau pendingin udara yang membantu menyejukkan suhu kamar.
2. Tentukan posisi tidur
Menemukan posisi tidur yang nyaman merupakan masalah terbesar saat hamil. Anda tentu tak mungkin tidur dalam posisi tengkurap dan memasuki bulan keempat juga tak dimungkinkan untuk tidur terlentang. Tidur terlentang dapat mempersempit pembuluh darah utama dan menekan usus sehingga menyebabkan sembelit atau wasir. Untuk itu, Anda pun harus tidur menyamping. Gunakanlah bantal di antara kaki atau di bawah perut supaya tidur menyamping lebih nyaman. Merentangkan kaki juga dapat membuat tidur lebih nyaman.
3. Batasi konsumsi cairan sebelum tidur
Hal yang cukup mengganggu saat tidur pada masa hamil yakni harus kerap terbangun pada malam hari untuk buang air kecil. Itu tentu tak dapat dihindari, tapi bila Anda membatasi konsumsi cairan beberapa jam sebelum tidur, tentu akan megurangi intensitas ke kamar kecil. Tetapi, jangan sampai Anda mengalami dehidrasi. Untuk itu, pastikan untuk mengonsumsi banyak cairan keesokan harinya.
4. Atur cahaya kamar
Cahaya temaram membuat Anda tak harus menyalakan lampu saat terbangun untuk ke kamar kecil pada tengah malam. Cahaya temaram, juga menjaga kantuk sehingga Anda tak kesulitan tidur saat kembali ke tempat tidur.
5. Relaksasikan pikiran
Bila Anda sulit tidur karena selalu memikirkan kondisi bayi dan segala perubahan yang segera terjadi pada hidup Anda, cobalah berlatih beberapa teknik relaksasi tubuh
Sebelum tidur. Makanan ringan, mandi air hangat, atau sedikit gerakan yoga dapat membantu relaksasikan pikiran sehingga dapat tidur lebih tidur.
6. Jangan paksakan tidur
Jika merasa sulit tidur, bangun dan lakukan sesuatu selain membolak-balikkan badan di tempat tidur. Biarkan tubuh merasa letih dengan sendirinya hingga mengantuk. Semoga beberapa tips di atas berhasil membantu Anda tidur saat hamil!
Source: MediaIndonesia
Bikin Anak Tahan Stress Dengan Akrab bersama Ayahnya
13:03
Khaidirmuhaj.blogspot.com — Cara seorang pria menghadapi stres rutin, seperti kemacetan dan tengat pekerjaan, ternyata bergantung pada pola hubungannya dengan sang ayah di masa kanak-kanak. Ini merupakan salah satu hasil penelitian yang dipublikasikan dalam pertemuan American Psychological Association.
Beberapa waktu lalu, sebuah penelitian menunjukkan bahwa ibu yang kurang menunjukkan kasih sayang berpengaruh besar pada kestabilan emosi seorang anak. Sementara itu, hanya sedikit studi yang terkait dengan hubungan antara ayah dan anak laki-lakinya.
"Hubungan ayah dan anak laki-lakinya memiliki pengaruh yang luar biasa dalam hidup seseorang. Bila hubungan itu sehat, pengaruhnya akan sangat positif pada si anak," kata Melanie Mallers, peneliti dari California State University, AS.
Dalam risetnya, Mallers dan timnya melakukan survei terhadap 912 pria dan wanita berusia 25-74 tahun mengenai kadar stres mereka selama 8 hari terakhir. Para responden juga ditanya mengenai hubungan mereka dengan orangtuanya pada masa kecil.
Mayoritas responden menjawab bahwa mereka memiliki hubungan yang lebih manis dengan ibu mereka ketimbang dengan ayah. Kebanyakan anak laki-laki mengaku mereka lebih dekat dengan ibunya dibandingkan dengan anak perempuan.
"Ibu memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam kestabilan emosi seorang anak, baik pada pria maupun wanita. Anak yang punya hubungan buruk dengan ibunya cenderung memiliki emosi yang negatif pada masa dewasa," kata Mallers.
Namun, bagaimana dengan pihak ayah? Tim peneliti menemukan bahwa pria yang memiliki hubungan kurang hangat dengan ayahnya cenderung lebih sulit dalam menghadapi stres sehari-hari. Mereka juga relatif lebih mudah tertekan, mudah marah, dan gampang sakit akibat stres yang mereka hadapi.
Sumber: Kompas.com
Beberapa waktu lalu, sebuah penelitian menunjukkan bahwa ibu yang kurang menunjukkan kasih sayang berpengaruh besar pada kestabilan emosi seorang anak. Sementara itu, hanya sedikit studi yang terkait dengan hubungan antara ayah dan anak laki-lakinya.
"Hubungan ayah dan anak laki-lakinya memiliki pengaruh yang luar biasa dalam hidup seseorang. Bila hubungan itu sehat, pengaruhnya akan sangat positif pada si anak," kata Melanie Mallers, peneliti dari California State University, AS.
Dalam risetnya, Mallers dan timnya melakukan survei terhadap 912 pria dan wanita berusia 25-74 tahun mengenai kadar stres mereka selama 8 hari terakhir. Para responden juga ditanya mengenai hubungan mereka dengan orangtuanya pada masa kecil.
Mayoritas responden menjawab bahwa mereka memiliki hubungan yang lebih manis dengan ibu mereka ketimbang dengan ayah. Kebanyakan anak laki-laki mengaku mereka lebih dekat dengan ibunya dibandingkan dengan anak perempuan.
"Ibu memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam kestabilan emosi seorang anak, baik pada pria maupun wanita. Anak yang punya hubungan buruk dengan ibunya cenderung memiliki emosi yang negatif pada masa dewasa," kata Mallers.
Namun, bagaimana dengan pihak ayah? Tim peneliti menemukan bahwa pria yang memiliki hubungan kurang hangat dengan ayahnya cenderung lebih sulit dalam menghadapi stres sehari-hari. Mereka juga relatif lebih mudah tertekan, mudah marah, dan gampang sakit akibat stres yang mereka hadapi.
Sumber: Kompas.com
Bayi 6-12 Bulan Jangan Diberi Garam, Gula dan Buah Manis
23:27
Khaidirmuhaj.blogspot.com - Setelah si kecil berusia 6 bulan, maka asupan nutrisinya tidak hanya dari ASI tapi juga ditambah dengan makanan pendamping ASI (MPASI). Tapi sebaikya ibu tidak memberikan gula, garam dan buah yang terlalu manis pada bayi usia 6 bulan sampai 1 tahun.
Makanan yang sehat penting untuk pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak, karena itu asupan makanan ini harus sesuai dalam hal kualitas dan kuantitasnya.
Untuk memenuhi nutrisi anak, maka sebaiknya ibu menggunakan bahan yang segar sehingga anak mendapatkan vitamin dan mineral yang optimal. Jangan anggap enteng bayi usia 6-12 bulan karena itu adalah masa kritis yang menentukan kebiasaan makan seterusnya hingga dewasa.
"Usia 6-12 tahun adalah masa kritis dalam menentukan pola makan anak nantinya. Karena itu sebaiknya orangtua memberikan makan pada anaknya secara bervariasi, tanpa paksaan, tidak terlalu manis dan jangan ditambahkan garam," ujar Dr. Fiastuti Witjaksono, MSc, MS, SpGK dalam acara 'Temu Media Philips Avent' dengan tema berbagai tips menjadi orangtua sukses dalam kesibukan sehari-hari di Hotel Gran Melia, Jakarta, Rabu (7/7/2010).
Dr Fiastuti menambahkan tidak ada satu makanan pun yang sempurna, dalam arti mencukupi semua kebutuhan nutrisi anak. Sehingga jika anak ingin mendapatkan asupan nutrisi yang tepat, makanan yang diberikan juga harus bervariasi.
Kenapa bayi jangan diberi garam, gula dan buah yang terlalu manis?
"Jika bayi sudah diberi garam dan gula dalam makanannya, maka bayi akan terbiasa mendapatkan rasa yang lebih enak dibandingkan dengan makanan murni lainnya. Efeknya, bayi tidak mau makan kalau makanan tersebut tidak manis atau gurih," ungkap dokter kelahiran Jogjakarta 56 tahun silam.
Maka itu bayi berusia di bawah 1 tahun, sebaiknya tidak diberikan buah yang terlalu manis, seperti sawo atau nangka karena rasa manisnya yang terlalu tinggi. Tapi berikan buah apel, pir, pepaya atau buah lain yang tidak terlalu manis.
Karena jika anak sudah biasa diberikan makanan manis, nantinya anak hanya mau makan makanan yang manis. Sehingga akan susah menyuruhnya mengonsumsi sayur karena sayuran cenderung memiliki rasa hambar.
"Ada yang bilang sebaiknya memberi sayuran dulu baru buah, tapi kalau menurut saya dikombinasikan antara buah dan sayur juga bisa," ujar dokter dari 3 orang anak ini.
Anak usia di bawah 1 tahun adalah masa untuk mengenal berbagai macam rasa dari buah, sayur dan makanan lainnya. Sehingga jika dari kecil anak sudah diberi makanan yang gurih dan manis, maka nantinya anak punya kebiasaan memilih-milih makanan yang dikonsumsinya, rasa manis dan gurihlah yang jadi pilihan.
"Kunci untuk menentukan pola makan anak adalah pada usia 6-12 bulan. Kalau sejak usia tersebut sudah diberi Nugget, makanan yang gurih dan kaya lemak, maka sudah pasti anak tersebut tidak akan suka dengan sayur dan buah," imbuhnya.
Selain garam dan gula, bayi di bawah usia 1 tahun juga sebaiknya tidak diberikan madu, karena berisiko mengandung bakteri Clostridium yang bisa menyebabkan botulisme. Makanan lain yang dihindari adalah kacang-kacangan dan juga susu sapi, hal ini karena bisa memicu timbulnya alergi.
Usahakan untuk menunggu hasilnya hingga 4 hari ketika memperkenalkan makanan baru pada bayi. Hal ini untuk memudahkan orangtua melihat apakah bayi memiliki reaksi alergi tertentu terhadap makanan tersebut atau tidak.
Selain untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi, makanan pendamping ASI ini juga memiliki tujuan merangsang keterampilan makan anak terutama keterampilan motorik oral serta merangsang rasa percaya diri anak karena tidak mungkin anak menyusu terus sampai besar.
Tapi sekali lagi berikan makanan yang bervariasi seperti buah-buahan yang tidak terlalu manis, sayuran, dan masakan yang tidak terlalu banyak garam.
Semoga Bermanfaat !
Sumber: DetikHealth
Makanan yang sehat penting untuk pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak, karena itu asupan makanan ini harus sesuai dalam hal kualitas dan kuantitasnya.
Untuk memenuhi nutrisi anak, maka sebaiknya ibu menggunakan bahan yang segar sehingga anak mendapatkan vitamin dan mineral yang optimal. Jangan anggap enteng bayi usia 6-12 bulan karena itu adalah masa kritis yang menentukan kebiasaan makan seterusnya hingga dewasa.
"Usia 6-12 tahun adalah masa kritis dalam menentukan pola makan anak nantinya. Karena itu sebaiknya orangtua memberikan makan pada anaknya secara bervariasi, tanpa paksaan, tidak terlalu manis dan jangan ditambahkan garam," ujar Dr. Fiastuti Witjaksono, MSc, MS, SpGK dalam acara 'Temu Media Philips Avent' dengan tema berbagai tips menjadi orangtua sukses dalam kesibukan sehari-hari di Hotel Gran Melia, Jakarta, Rabu (7/7/2010).
Dr Fiastuti menambahkan tidak ada satu makanan pun yang sempurna, dalam arti mencukupi semua kebutuhan nutrisi anak. Sehingga jika anak ingin mendapatkan asupan nutrisi yang tepat, makanan yang diberikan juga harus bervariasi.
Kenapa bayi jangan diberi garam, gula dan buah yang terlalu manis?
"Jika bayi sudah diberi garam dan gula dalam makanannya, maka bayi akan terbiasa mendapatkan rasa yang lebih enak dibandingkan dengan makanan murni lainnya. Efeknya, bayi tidak mau makan kalau makanan tersebut tidak manis atau gurih," ungkap dokter kelahiran Jogjakarta 56 tahun silam.
Maka itu bayi berusia di bawah 1 tahun, sebaiknya tidak diberikan buah yang terlalu manis, seperti sawo atau nangka karena rasa manisnya yang terlalu tinggi. Tapi berikan buah apel, pir, pepaya atau buah lain yang tidak terlalu manis.
Karena jika anak sudah biasa diberikan makanan manis, nantinya anak hanya mau makan makanan yang manis. Sehingga akan susah menyuruhnya mengonsumsi sayur karena sayuran cenderung memiliki rasa hambar.
"Ada yang bilang sebaiknya memberi sayuran dulu baru buah, tapi kalau menurut saya dikombinasikan antara buah dan sayur juga bisa," ujar dokter dari 3 orang anak ini.
Anak usia di bawah 1 tahun adalah masa untuk mengenal berbagai macam rasa dari buah, sayur dan makanan lainnya. Sehingga jika dari kecil anak sudah diberi makanan yang gurih dan manis, maka nantinya anak punya kebiasaan memilih-milih makanan yang dikonsumsinya, rasa manis dan gurihlah yang jadi pilihan.
"Kunci untuk menentukan pola makan anak adalah pada usia 6-12 bulan. Kalau sejak usia tersebut sudah diberi Nugget, makanan yang gurih dan kaya lemak, maka sudah pasti anak tersebut tidak akan suka dengan sayur dan buah," imbuhnya.
Selain garam dan gula, bayi di bawah usia 1 tahun juga sebaiknya tidak diberikan madu, karena berisiko mengandung bakteri Clostridium yang bisa menyebabkan botulisme. Makanan lain yang dihindari adalah kacang-kacangan dan juga susu sapi, hal ini karena bisa memicu timbulnya alergi.
Usahakan untuk menunggu hasilnya hingga 4 hari ketika memperkenalkan makanan baru pada bayi. Hal ini untuk memudahkan orangtua melihat apakah bayi memiliki reaksi alergi tertentu terhadap makanan tersebut atau tidak.
Selain untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi, makanan pendamping ASI ini juga memiliki tujuan merangsang keterampilan makan anak terutama keterampilan motorik oral serta merangsang rasa percaya diri anak karena tidak mungkin anak menyusu terus sampai besar.
Tapi sekali lagi berikan makanan yang bervariasi seperti buah-buahan yang tidak terlalu manis, sayuran, dan masakan yang tidak terlalu banyak garam.
Semoga Bermanfaat !
Sumber: DetikHealth
Kenali Gejala Depresi Pada Anak
22:51Khaidirmuhaj.blogspot.com - Depresi kerap terjadi pada orang dewasa yang mengalami tekanan atau beban pikiran berlebih. Tapi bukan berarti depresi tak bisa terjadi pada anak-anak. Apa saja gejala depresi pada anak?
"Depresi bukanlah penyakit normal yang terjadi pada anak-anak, tetapi memang bisa saja terjadi," ujar Robert L. Hendren, D.O., mantan presiden American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP), seperti dilansir dari CNN, Rabu (7/7/2010).
AACAP memperkirakan depresi terjadi pada sekitar 1 dari 20 anak-anak dan remaja. Paling tidak, dalam sebuah kelas di sekolah ada sekitar 1 atau 2 anak yang mengalami depresi.
"Depresi klinis seperti awan gelap yang berkumpul di atas kepala anak, dan sering menimbulkan perasaan yang murung, lekas marah, dan kehilangan minat," jelas Dr Hendren, yang juga direktur psikiatri anak dan remaja di University of California, San Francisco.
Sebuah studi menunjukkan bahwa 25 persen dari anak-anak yang memiliki orangtua yang menderita depresi, juga akan mengalami depresi. Jika kedua orangtuanya (ayah dan ibu) mengalami depresi, maka risiko akan meningkat menjadi sekitar 75 persen.
Ilmuwan tidak benar-benar percaya dengan alasan ini, tapi salah satu teori berpendapat bahwa anak-anak memiliki kerentanan genetik, yang kemudian diperburuk oleh stres lingkungan.
"Sekitar 40 persen anak-anak dan remaja dengan depresi juga memiliki gangguan kecemasan seperti gangguan obsesif-kompulsif (OCD), dan sekitar 1 dari 4 memiliki gangguan hiperaktif (ADHD)," ujar Dr Fassler, profesor psikiatri klinis di Universitas Vermont.
Menurut Fassler, gejala-gejala depresi pada anak adalah sebagai berikut:
- Merasa bosan, tidak berenergi dan mengalami masalah konsentrasi
- Kehilangan minat dan ketertarikan pada kegiatan yang biasa disukainya
- Mudah tersinggung dan cenderung untuk mengamuk
- Mengalami masalah di sekolah atau sering bolos
- Sering mengeluh sakit kepala, sakit perut atau sakit lainnya
- Kurang nafsu makan karena merasa semua makanan tidak enak, atau makan berlebihan karena mencoba menenangkan diri
- Mengalami gangguan tidur atau tidur terlalu banyak, yang terjadi setiap hari
- Mengalami kesulitan menjalin hubungan dengan orang lain
- Tertarik dengan kematian yang tidak biasa
Tips mengatasi anak yang suka kekerasan
22:23
Khaidirmuhaj.blogspot.com - Saat sedang bermain si kecil kadang suka memukul atau menyerang teman bermainnya. Kondisi ini membuat orangtua panik dan kaget. Bagaimana mengatasi kelakuan anak seperti ini?
Sifat agresif atau suka menyerang adalah bagian yang normal dari perkembangan anak. Hal ini dikarenakan keterampilan berbicaranya yang belum sempurna serta keinginan kuat untuk mandiri, membuat anak menggunakan tindakan fisik untuk mengungkapkan perasaannya.
"Beberapa tingkatan memukul dan menggigit masih menjadi hal yang normal, tapi orangtua harus memberitahu bahwa tindakan tersebut salah dan mengajarinya cara lain untuk mengungkapkan perasaannya," ujar Nadine Block, direktur eksekutif Center for Effective Discipline di Columbus, Ohio, seperti dikutip dari Babycenter, Kamis (8/7/2010).
Orangtua harus membantu anak mengendalikan dirinya agar bisa belajar bergaul atau bersosialisasi dengan yang lain.
Jika anak memukul atau menggigit anak lain, ada beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua untuk mengatasinya:
Merespons dengan cepat
Cobalah untuk merespons langsung ketika melihat anak semakin agresif, lalu ajaklah ia keluar dari situasi tersebut.
Cobalah untuk memberitahunya dengan cara menghubungkan perilaku tersebut dengan konsekuensi yang harus diterimanya, misalnya jika ia memukul maka ia akan kehilangan kesenangan dan waktu bermainnya.
Menindaklanjuti tindakan anak
Setelah membawa anak keluar dari tempat bermain, duduklah dan ajak ia menonton anak-anak lainnya bermain. Jelaskan padanya bahwa ia boleh bermain kembali kalau sudah siap untuk bergabung tanpa menyakiti anak-anak lainnya.
Tapi usahakan untuk tidak marah dan tidak berteriak, karena anak akan berpikir salah satu cara untuk terlepas dari agresif fisik adalah melalui agresif verbal.
Memberikan konsekuensi yang sama
Sebanyak apapun anak melakukan tindakan agresif, sebaiknya orangtua tetap memberikan konsekuensi yang sama. Hal ini mengajarkan pada anak jika ia melakukan sesuatu yang menyakiti anak atau orang lain, maka ia akan menerima konsekuensi yang sama dari orangtuanya.
Mengajarkan cara lebih baik untuk mengungkapkan perasaannya
Setelah anak mulai mereda emosinya, tanyakan padanya dengan lembut apa yang terjadi sehingga emosinya meledak. Setelah itu, orangtua bisa memberitahu cara untuk meluapkan emosinya dengan tidak menyakiti orang lain.
Mengajarkannya untuk minta maaf
Pastikan anak-anak memahami bahwa ia harus menyesal setelah melakukan kesalahan dan menuntunnya mendekati anak yang disakiti untuk minta maaf. Mungkin awalnya anak akan meminta maaf secara tidak tulus, tapi hal ini akan menjadi proses pembelajaran bagi anak.
Memberikan hadiah untuk perilaku baiknya
Jika anak dapat mengendalikan atau menahan rasa amarahnya, maka orangtua bisa memberinya pujian atas sikapnya tersebut. Hal ini akan memicu anak untuk berusaha mengendalikan amarahnya dan melampiaskannya dengan cara lain yang tidak menyakiti teman-temannya.
Membatasi waktu menonton televisi
Beberapa tayangan televisi seringkali menunjukkan adegan berteriak, mengancam, mendorong atau memukul, meskipun tayangan ini untuk anak-anak.
Karena itu mulailah untuk memantau acara yang ditonton oleh anak dan membatasi waktu menonton televisinya, sehingga anak-anak tidak melihat adegan tersebut. Sebagai konsekuensinya cobalah menyediakan waktu bermain yang lebih banyak dengan anak.
Sumber : DetikHealth
Sifat agresif atau suka menyerang adalah bagian yang normal dari perkembangan anak. Hal ini dikarenakan keterampilan berbicaranya yang belum sempurna serta keinginan kuat untuk mandiri, membuat anak menggunakan tindakan fisik untuk mengungkapkan perasaannya.
"Beberapa tingkatan memukul dan menggigit masih menjadi hal yang normal, tapi orangtua harus memberitahu bahwa tindakan tersebut salah dan mengajarinya cara lain untuk mengungkapkan perasaannya," ujar Nadine Block, direktur eksekutif Center for Effective Discipline di Columbus, Ohio, seperti dikutip dari Babycenter, Kamis (8/7/2010).
Orangtua harus membantu anak mengendalikan dirinya agar bisa belajar bergaul atau bersosialisasi dengan yang lain.
Jika anak memukul atau menggigit anak lain, ada beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua untuk mengatasinya:
Merespons dengan cepat
Cobalah untuk merespons langsung ketika melihat anak semakin agresif, lalu ajaklah ia keluar dari situasi tersebut.
Cobalah untuk memberitahunya dengan cara menghubungkan perilaku tersebut dengan konsekuensi yang harus diterimanya, misalnya jika ia memukul maka ia akan kehilangan kesenangan dan waktu bermainnya.
Menindaklanjuti tindakan anak
Setelah membawa anak keluar dari tempat bermain, duduklah dan ajak ia menonton anak-anak lainnya bermain. Jelaskan padanya bahwa ia boleh bermain kembali kalau sudah siap untuk bergabung tanpa menyakiti anak-anak lainnya.
Tapi usahakan untuk tidak marah dan tidak berteriak, karena anak akan berpikir salah satu cara untuk terlepas dari agresif fisik adalah melalui agresif verbal.
Memberikan konsekuensi yang sama
Sebanyak apapun anak melakukan tindakan agresif, sebaiknya orangtua tetap memberikan konsekuensi yang sama. Hal ini mengajarkan pada anak jika ia melakukan sesuatu yang menyakiti anak atau orang lain, maka ia akan menerima konsekuensi yang sama dari orangtuanya.
Mengajarkan cara lebih baik untuk mengungkapkan perasaannya
Setelah anak mulai mereda emosinya, tanyakan padanya dengan lembut apa yang terjadi sehingga emosinya meledak. Setelah itu, orangtua bisa memberitahu cara untuk meluapkan emosinya dengan tidak menyakiti orang lain.
Mengajarkannya untuk minta maaf
Pastikan anak-anak memahami bahwa ia harus menyesal setelah melakukan kesalahan dan menuntunnya mendekati anak yang disakiti untuk minta maaf. Mungkin awalnya anak akan meminta maaf secara tidak tulus, tapi hal ini akan menjadi proses pembelajaran bagi anak.
Memberikan hadiah untuk perilaku baiknya
Jika anak dapat mengendalikan atau menahan rasa amarahnya, maka orangtua bisa memberinya pujian atas sikapnya tersebut. Hal ini akan memicu anak untuk berusaha mengendalikan amarahnya dan melampiaskannya dengan cara lain yang tidak menyakiti teman-temannya.
Membatasi waktu menonton televisi
Beberapa tayangan televisi seringkali menunjukkan adegan berteriak, mengancam, mendorong atau memukul, meskipun tayangan ini untuk anak-anak.
Karena itu mulailah untuk memantau acara yang ditonton oleh anak dan membatasi waktu menonton televisinya, sehingga anak-anak tidak melihat adegan tersebut. Sebagai konsekuensinya cobalah menyediakan waktu bermain yang lebih banyak dengan anak.
Sumber : DetikHealth
Arti Bahasa Tubuh Bayi
22:15Khaidirmuhaj.blogspot.com - Bayi yang berusia beberapa bulan memang belum bisa berbicara, sehingga salah satu komunikasinya hanya melalui tangisan dan bahasa tubuh. Tapi orangtua bisa mempelajari bahasa tubuh si bayi untuk mengetahui keinginannya.
Bayi memang memiliki cara berkomunikasi yang unik dengan orangtua atau orang-orang disekitarnya. Dikutip dari Parenting, Jumat (9/7/2010) orangtua bisa mempelajari bahasa tubuh dari si mungil, yaitu:
Menendang kakinya
Kondisi ini berarti bayi terkesima atau tertarik dengan sesuatu, misalnya ketika ia melihat sesuatu yang menakjubkan atau mecipratkan air di bak mandinya.
Bahasa tubuh ini juga bisa berarti bayi mengungkapkan kata 'Wow'. Atau bisa juga bayi ingin sesuatu yang lebih, misalnya mengajaknya bermain atau ia ingin bergerak tapi tempatnya sempit.
Cara meresponsnya adalah dengan berbagi semangat dengannya atau memangkunya sambil diajak bermain. Karena menendangkan kakinya juga membantu mengembangkan otot yang dibutuhkan saat merangkak.
Memalingkan mukanya
Kondisi ini bisa berarti bayi membutuhkan sedikit waktu untuk mengetahui apa yang terjadi, terutama sesuatu yang dilihatnya. Atau bisa juga bayi membutuhkan waktu untuk ruang pribadinya.
Cara meresponsnya adalah biarkan ia memeriksa sekelilingnya, bahkan jika untuk melihat bayangan dicerminnya atau bisa juga dengan memberinya waktu untuk bersantai. Tapi jika bayi terlalu lama berpaling, cobalah untuk menarik perhatiannya lagi.
Mengucek atau menutup matanya
Kondisi ini bisa berarti ia berusaha untuk bermain 'ciluk ba' atau permainan lain untuk memikat orang lain. Hal lainnya adalah bayi bersiap untuk pergi tidur ketika ia sudah merasa lelah.
Cara meresponsnya adalah menanggapi minatnya dengan cara mengajaknya bermain, misalnya dengan cara melemparkan selimut tipis sehingga ia akan berusaha untuk menarik selimut tersebut. Tapi jika ia mengantuk, gendonglah ia sambil dinyanyikan atau dibacakan cerita pendek sambil diayun-ayunkan.
Memilin-milin rambutnya
Kondisi ini bisa berarti ia sedang berusaha membuat dirinya merasa lebih baik. Selain itu melakukan gerakan berulang juga bisa berarti untuk menutupi rasa gugupnya, seperti karena ada pengasuh baru atau dilingkungan baru yang terlalu bising untuknya.
Cara meresponsnya adalah membiarkan ia melakukan hal tersebut, karena itu bukan suatu hal yang harus dicegah. Bisa juga mengajaknya berbicara dengan nada suara yang menenangkan atau mengajaknya bermain untuk melupakan kegugupannya.
Bayi melengkungkan punggungnya
Kondisi ini bisa berarti ia sedang marah, rewel, kesal dengan suatu hal atau mengalami sakit yang belum bisa diungkapkannya.
Cara meresponsnya adalah cobalah untuk menenangkannya, biasanya membutuhkan waktu lebih lama karena bayi yang melengkungkan punggungnya merupakan akumulasi dari rasa tidak nyamannya.
Jika disertai dengan gejala lain seperti muntah atau demam, maka segera periksakan ke dokter agar tidak terjadi kesalahan diagnosis dan bayi kembali merasa nyaman.
Meregangkan lengan atau tangannya
Kondisi ini berarti bayi dalam suasana hati yang baik, santai dan bersiap untuk melihat sekelilingnya, tapi sebaiknya tetap perhatikan ekspresi wajahnya.
Selain itu juga bisa berarti bayi sedang belajar untuk duduk yang mana ia butuh sesuatu untuk menjaga keseimbangannya.
Cara meresponsnya adalah jika bayi menunjukkan wajah ceria, maka manfaatkan suasana optimisnya untuk memberikan rangsangan positif. Tapi jika ia sedang belajar untuk duduk berikan bantuan saat ia membutuhkan, jika tidak perlu bantuan biarkan ia membangun otot perutnya untuk membantunya duduk tegak.
Menarik-narik telinganya
Kondisi ini berarti ia mengalami kesulitan dalam melakukan sesuatu, misalnya sebagai tanda susunya terlalu panas, perutnya kembung atau ia perlu bersendawa. Arti lainnya adalah ia merasa tidak nyaman akibat sakit seperti infeksi telinga, sakit tenggorokan atau gangguan di hidungnya.
Cara meresponsnya adalah cobalah untuk menenangkannya misalnya dengan membuatnya bersendawa, jika belum tenang juga cobalah untuk menutup tirai, pindah ke ruang lain atau mematikan televisi.
Selain itu juga periksa tanda-tanda lain yang membuatnya tidak nyaman, misalnya memeriksa telinga, hidung dan tenggorokannya.
Sumber: DetikHealth
Metamorfosa Psikologis Ibu Hamil
21:57Khaidirmuhaj.blogspot.com - saat hamil, kondisi psikologis wanita tidak menentu. Perhatian khusus dari pasangan dan keluarga membantu Anda melewati masa kelahiran dengan sempurna.
Kehamilan merupakan episode perubahan kondisi fisik dan psikologis yang kompleks bagi seorang wanita yang pernah mengalaminya. Untuk itu, wanita yang sedang mengalami fase kehamilan perlu ”adaptasi” terhadap penyesuaian pola makan dengan proses kehamilan yang terjadi.
Menurut psikologi ternama, Dr Rose Mini AP MPsi, tugas ibu pada masa kehamilan memang tidak sedikit. Ibu harus menerima kehamilannya, membina hubungan dengan janin, menyesuaikan perubahan fisik, menyesuaikan perubahan hubungan suami istri, dan melakukan persiapan melahirkan menjadi orangtua.
Perempuan bersahaja ini pun mengelompokan kondisi psikologis (metamorfosa) ibu hamil menjadi tiga, yaitu pada trisemester pertama, trisemester kedua, dan trisemester ketiga.
”Pada trisemester pertama, timbul kecemasan, kebahagiaan bercampur keraguan dengan kehamilannya antara ya atau tidak, sering terjadi fluktuasi emosi sehingga periode ini mempunyai risiko tinggi untuk terjadinya pertengkaran atau rasa tidak nyaman, adanya perubahan hormonal, dan morning sickness,” ulas psikolog yang sering dipanggil Mbak Romi ini saat mengisi acara “Lactamil with You in Your Motherhood Journey” di Balai Kartini, Jakarta, baru-baru ini.
Untuk trisemester kedua, tambahnya, psikologi ibu hamil lebih tenang dan mulai dapat beradaptasi, perhatian mulai beralih pada perubahan bentuk tubuh, kehidupan seksual, keluarga dan hubungan batiniah dengan bayi yang di kandungnya, serta peningkatan kebutuhan untuk dekat dengan figur ibu, melihat, dan meniru peran ibu. Selain itu, ketergantungan kepada pasangan juga semakin meningkat.
Bagaimana psikologis ibu hamil saat trisemester ketiga? Menurut Rose Mini, stres akan meningkat kembali pada fase ini. Hal itu dapat terjadi dikarenakan kondisi kehamilan semakin membesar. Kondisi itu tidak jarang memunculkan masalah seperti posisi tidur yang kurang nyaman dan mudah terserang rasa lelah.
”Emosi kembali fluktuatif berkaitan dengan bayangan risiko kehamilan dan proses persalinan trimester ketiga,” jelasnya.
Untuk menyikapi masalah ini, tambahnya, carilah informasi sebanyak-banyaknya dari lingkungan terkait dengan kehamilan, diskusikan perasaan Anda dengan pasangan atau orangtua, dorong pasangan untuk menunjukkan sikap positif terhadap kehamilan Anda, dan ajak pasangan untuk menemani Anda saat memeriksakan kondisi dan janin Anda.
Tidak berhenti di situ saja, Rose Mini juga menyarankan kepada ibu hamil untuk rajin memerhatikan gerak janin, ajak komunikasi, ajak pasangan untuk ikut berinteraksi
dengan janin Anda, dan lakukan berbagai aktivitas yang dapat menunjang kehamilan Anda, seperti senam hamil, latihan pernafasan, dan lain-lain.
Sumber: okezone.com
Vaksin Balita di Indonesia Aman
20:00
Khaidirmuhaj.blogspot.com - Banyak orangtua yang masih takut melakukan imunisasi anaknya karena beredar kabar vaksin yang digunakan tidak aman. Hal ini tidaklah benar, karena vaksin yang digunakan pemerintah aman dan dipakai di beberapa negara lain.
Vaksin dibutuhkan untuk menurunkan angka kematian bayi dan balita terutama penyakit menular. Pencegahan yang bisa dilakukan adalah pemberian vaksin. Selain itu usaha ini juga termasuk dalam memenuhi hak dari anak yaitu memberikan perlindungan.
"Vaksin yang selama ini digunakan untuk vaksin masal adalah vaksin buatan Indoensia yang juga diekspor ke beberapa negara. Tapi kenapa justru orang Indonesia sendiri yang tidak percaya," ujar Dr Soedjatmiko, SpA(K), MSi, dalam acara Pfizer Journalist Class dengan tema Hak Anak Untuk Sehat dan Cerdas di wisma GKBI, Jakarta, Rabu (30/6/2010).
Dr Soedjatmiko menuturkan sebelum vaksin tersebut digunakan secara luas, telah dilakukan penelitian bertahap selama 10-15 tahun. Awalnya vaksin ini dirancang oleh sekelompok ahli, lalu diujikan pada hewan percobaan, diuji pada manusia dengan 3 tahap yaitu keamanan, daya kekebalan serta perlindungan. Selain itu vaksin ini juga diawasi dan telah disetujui oleh Badan kesehatan dunia (WHO).
"Kalau vaksin ini dipakai di negara-negara lain, maka sudah pasti vaksin ini aman untuk digunakan," ungkap dokter yang menjadi Satgas Imunisasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).
Vaksinasi atau imunisasi yang diberikan pada anak merupakan pencegahan yang spesifik, efisien dan juga efektif terhadap penyakit menular dan berbahaya, seperti tuberkulosis, polio, difteri, pertusis, tetanus, campak dan penyakit lainnya. Biasanya 2-4 minggu setelah anak diimunisasi, maka sudah tumbuh kekebalan di dalam diri si kecil.
Vaksin yang diberikan bisa berisi bakteri yang dilemahkan (vaksin BCG, tifoid oral), bakteri mati (DPT, Hib, penumokokus, tifoid), virus yang dilemahkan (polio, campak, cacar, MMR, rotavirus), virus yang mati (hepatitis A dan B, influenza, kanker leher rahim, rabies) atau toksoid (racun yang dilemahkan untuk vaksin tetanus dan difteri).
Cara kerja dari vaksin ini adalah merangsang sistem kekebalan tubuh yaitu limfosit (sel darah putih) T untuk kekebalan seluler dan limfosit B untuk menghasilkan antibodi. Bila ada infeksi dari bakteri atau virus, maka limfosit T dan B ini akan bekerja sama, antibodi akan mengikat bakteri atau virus dan sel pengingat akan merangsang pembentukan antibodi. Selanjutnya limfosit T aktif akan menyerang bakteri atau virus tersebut.
"Imunisasi ini terbukti bermanfaat karena bisa memberikan perlindungan sekitar 85-95 persen. Jadi kalaupun si anak terkena infeksi tersebut, tidak akan terlalu parah. Tapi kalau tidak diimunisasi risiko kematian atau kecacatannya akan lebih tinggi," ujar konsultan tumbuh kembang, pediatri sosial.
Tak ada salahnya bagi orangtua untuk memberikan imunisasi bagi anaknya. Kalaupun terlambat atau lupa, maka tidak perlu mengulang vaksinasi tapi cukup melanjutkan seusai urutan yang ada.
Sumber: DetikHealth
Vaksin dibutuhkan untuk menurunkan angka kematian bayi dan balita terutama penyakit menular. Pencegahan yang bisa dilakukan adalah pemberian vaksin. Selain itu usaha ini juga termasuk dalam memenuhi hak dari anak yaitu memberikan perlindungan.
"Vaksin yang selama ini digunakan untuk vaksin masal adalah vaksin buatan Indoensia yang juga diekspor ke beberapa negara. Tapi kenapa justru orang Indonesia sendiri yang tidak percaya," ujar Dr Soedjatmiko, SpA(K), MSi, dalam acara Pfizer Journalist Class dengan tema Hak Anak Untuk Sehat dan Cerdas di wisma GKBI, Jakarta, Rabu (30/6/2010).
Dr Soedjatmiko menuturkan sebelum vaksin tersebut digunakan secara luas, telah dilakukan penelitian bertahap selama 10-15 tahun. Awalnya vaksin ini dirancang oleh sekelompok ahli, lalu diujikan pada hewan percobaan, diuji pada manusia dengan 3 tahap yaitu keamanan, daya kekebalan serta perlindungan. Selain itu vaksin ini juga diawasi dan telah disetujui oleh Badan kesehatan dunia (WHO).
"Kalau vaksin ini dipakai di negara-negara lain, maka sudah pasti vaksin ini aman untuk digunakan," ungkap dokter yang menjadi Satgas Imunisasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).
Vaksinasi atau imunisasi yang diberikan pada anak merupakan pencegahan yang spesifik, efisien dan juga efektif terhadap penyakit menular dan berbahaya, seperti tuberkulosis, polio, difteri, pertusis, tetanus, campak dan penyakit lainnya. Biasanya 2-4 minggu setelah anak diimunisasi, maka sudah tumbuh kekebalan di dalam diri si kecil.
Vaksin yang diberikan bisa berisi bakteri yang dilemahkan (vaksin BCG, tifoid oral), bakteri mati (DPT, Hib, penumokokus, tifoid), virus yang dilemahkan (polio, campak, cacar, MMR, rotavirus), virus yang mati (hepatitis A dan B, influenza, kanker leher rahim, rabies) atau toksoid (racun yang dilemahkan untuk vaksin tetanus dan difteri).
Cara kerja dari vaksin ini adalah merangsang sistem kekebalan tubuh yaitu limfosit (sel darah putih) T untuk kekebalan seluler dan limfosit B untuk menghasilkan antibodi. Bila ada infeksi dari bakteri atau virus, maka limfosit T dan B ini akan bekerja sama, antibodi akan mengikat bakteri atau virus dan sel pengingat akan merangsang pembentukan antibodi. Selanjutnya limfosit T aktif akan menyerang bakteri atau virus tersebut.
"Imunisasi ini terbukti bermanfaat karena bisa memberikan perlindungan sekitar 85-95 persen. Jadi kalaupun si anak terkena infeksi tersebut, tidak akan terlalu parah. Tapi kalau tidak diimunisasi risiko kematian atau kecacatannya akan lebih tinggi," ujar konsultan tumbuh kembang, pediatri sosial.
Tak ada salahnya bagi orangtua untuk memberikan imunisasi bagi anaknya. Kalaupun terlambat atau lupa, maka tidak perlu mengulang vaksinasi tapi cukup melanjutkan seusai urutan yang ada.
Sumber: DetikHealth
CARA AGAR ANAK MAU MANDI
06:41
Khaidirmuhaj.blogspot.com - Biasanya anak akan sulit sekali disuruh mandi pada pagi hari dengan alasan udaranya masih dingin. Saat sore hari pun anak kadang malas mandi karena masih asyik bermain dengan teman-temannya.
Ada banyak alasan yang dikemukakan si kecil agar terhindar dari kewajiban mandi. Bagaimana menyuruh agar anak mau mandi?
Kondisi ini kadang membuat orangtua marah, sehingga memaksa anak untuk mandi misalnya dengan mengambil mainan yang digunakannya. Hal tersebut bukanlah solusi yang tepat, karena anak akan semakin tidak mau untuk mandi.
Namun bukan berarti orangtua boleh membiarkannya untuk tidak mandi, karena anak juga harus diajarkan mengenai kebersihan diri sejak kecil.
Seperti dikutip dari Keepkidshealth, Jumat (2/7/2010) salah satu cara menyuruh anak agar mau mandi adalah menggunakan mainan atau mencoba hal-hal baru seperti bermain gelembung, mainan atau bermain dan menyanyikan musik kesukaannya.
Selain itu ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar anak mau mandi tanpa harus berteriak-teriak terlebih dahulu, yaitu:
Sebaiknya sejak anak berusia 4-5 tahun, orangtua sudah mengajarkan anak untuk mandi sendiri. Secara bertahap orangtua bisa mulai mengajarkan bagaimana cara menggunakan sabun dan sampo yang benar, terutama di daerah-daerah tertentu yang bisa menjadi sarang bakteri.
Memberi pengertian pada si kecil secara perlahan-lahan. Katakan jika tidak mau mandi maka kotoran di tubuhnya akan menumpuk dan bisa menjadi sumber penyakit serta membuat ia dijauhi oleh teman-temannya.
Sumber: DetikHealth
Ada banyak alasan yang dikemukakan si kecil agar terhindar dari kewajiban mandi. Bagaimana menyuruh agar anak mau mandi?
Kondisi ini kadang membuat orangtua marah, sehingga memaksa anak untuk mandi misalnya dengan mengambil mainan yang digunakannya. Hal tersebut bukanlah solusi yang tepat, karena anak akan semakin tidak mau untuk mandi.
Namun bukan berarti orangtua boleh membiarkannya untuk tidak mandi, karena anak juga harus diajarkan mengenai kebersihan diri sejak kecil.
Seperti dikutip dari Keepkidshealth, Jumat (2/7/2010) salah satu cara menyuruh anak agar mau mandi adalah menggunakan mainan atau mencoba hal-hal baru seperti bermain gelembung, mainan atau bermain dan menyanyikan musik kesukaannya.
Selain itu ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar anak mau mandi tanpa harus berteriak-teriak terlebih dahulu, yaitu:
- Bujuklah anak agar mau mandi dengan menggunakan sesuatu yang disukainya, bisa dengan mainan atau lagu.
- Jangan merampas mainan anak atau menggendong anak secara paksa ke kamar mandi, hal ini akan membuat anak semakin takut dan tidak mau untuk mandi.
- Buatlah suasana mandi menjadi hal yang menyenangkan bagi anak, misalnya biarkan anak membantu membilas sabun atau sampo dari tubuhnya.
- Jangan memarahi anak jika ia ingin membawa mainannya saat mandi, karena mainan bisa memberinya pengetahuan serta membuat anak merasa nyaman saat mandi.
- Mengatur kegiatan khusus seperti menonton video kesukaannya atau membaca buku cerita setelah mandi, sehingga anak memiliki sesuatu yang diharapkan setelah ia mau mandi.
- Jangan lupa untuk selalu mengawasi saat si kecil sedang mandi, karena biasanya lantai kamar mandi licin sehingga anak berisiko terjatuh.
Sebaiknya sejak anak berusia 4-5 tahun, orangtua sudah mengajarkan anak untuk mandi sendiri. Secara bertahap orangtua bisa mulai mengajarkan bagaimana cara menggunakan sabun dan sampo yang benar, terutama di daerah-daerah tertentu yang bisa menjadi sarang bakteri.
Memberi pengertian pada si kecil secara perlahan-lahan. Katakan jika tidak mau mandi maka kotoran di tubuhnya akan menumpuk dan bisa menjadi sumber penyakit serta membuat ia dijauhi oleh teman-temannya.
Sumber: DetikHealth
Agar si Kecil Tak Cemburu dengan Adik Baru
06:48
Khaidirmuhaj.blogspot.com - Menyiapkan si kecil yang usianya kurang dari 18 bulan untuk menerima kehadiran adik baru kadang agak sulit. Berbeda dengan balita yang berusia lebih dari 2 tahun yang bisa diberi pengertian mengenai kehadiran adik baru selama masa kehamilan.
Untuk mengatasi kecemburuan balita terhadap adik baru hal cobalah buat rencana praktis untuk si bayi sejak jauh-jauh hari, sehingga anak Anda terbiasa dengan perubahan ketika adik bayi mereka lahir.
Persaingan antar saudara, atau yang lebih dikenal sebagai sibling rivalry merupakan masalah yang biasa terjadi, khususnya diantara anak-anak yang berdekatan usia dan berjenis kelamin sama.
Kehadiran saudara baru bisa membuat anak-anak merasa terancam dan cemburu. Perhatian orangtua yang semula diberikan hanya untuk dirinya, kini dibagi dengan yang lain.
Seperti dilansir dari Better Health Channel, Rabu (30/6/2010), berikut tips yang dapat dilakukan untuk menyiapkan si kecil menerima adik baru:
1. Jika balita Anda masih menggunakan ranjang bayi, pertimbangkan untuk memindahkan mereka ke ranjang secepat mungkin.
Jika Anda menunggu hingga bayi lahir, anak balita Anda akan merasa tersinggung dan marah pada si adik bayi karena telah 'mencuri' ranjang bayinya.
2. Tak ada alasan untuk menghentikan ASI pada si kecil jika masih minum ASI. Walaupun begitu, penting untuk memberikan ASI padi si bayi baru terlebih dahulu.
3. Jika Anda akan meninggalkan rumah bersalin atau merekrut babysitter, cobalah untuk memulai rencana ini beberapa minggu sebelumnya. Hal ini memberikan kesempatan pada si kecil untuk menyesuaikan diri.
4. Pastikan si kecil memiliki kegiatan familiar di luar rumah, misalnya pertimbangkan untuk memasukkan mereka ke playgroup atau kegiatan-kegiatan sejenisnya.
5. Libatkan si kecil sebelum kelahiran adik barunya. Misalnya, bicarakan tentang nama untuk si bayi, tunjukkan foto-foto mereka ketika baru lahir dan jelaskan kalau si bayi memerlukan banyak bantuan.
Jika si Kecil Cemburu
Si kecil mungkin marah pada si bayi baru karena mengambil banyak waktu Anda dan tak cukup banyak bermain dengannya. Jika ada kesempatan, beberapa balita bahkan menjadi kasar dengan adik barunya.
Tips untuk mencegah si kecil cemburu adalah:
Untuk mengatasi kecemburuan balita terhadap adik baru hal cobalah buat rencana praktis untuk si bayi sejak jauh-jauh hari, sehingga anak Anda terbiasa dengan perubahan ketika adik bayi mereka lahir.
Persaingan antar saudara, atau yang lebih dikenal sebagai sibling rivalry merupakan masalah yang biasa terjadi, khususnya diantara anak-anak yang berdekatan usia dan berjenis kelamin sama.
Kehadiran saudara baru bisa membuat anak-anak merasa terancam dan cemburu. Perhatian orangtua yang semula diberikan hanya untuk dirinya, kini dibagi dengan yang lain.
Seperti dilansir dari Better Health Channel, Rabu (30/6/2010), berikut tips yang dapat dilakukan untuk menyiapkan si kecil menerima adik baru:
1. Jika balita Anda masih menggunakan ranjang bayi, pertimbangkan untuk memindahkan mereka ke ranjang secepat mungkin.
Jika Anda menunggu hingga bayi lahir, anak balita Anda akan merasa tersinggung dan marah pada si adik bayi karena telah 'mencuri' ranjang bayinya.
2. Tak ada alasan untuk menghentikan ASI pada si kecil jika masih minum ASI. Walaupun begitu, penting untuk memberikan ASI padi si bayi baru terlebih dahulu.
3. Jika Anda akan meninggalkan rumah bersalin atau merekrut babysitter, cobalah untuk memulai rencana ini beberapa minggu sebelumnya. Hal ini memberikan kesempatan pada si kecil untuk menyesuaikan diri.
4. Pastikan si kecil memiliki kegiatan familiar di luar rumah, misalnya pertimbangkan untuk memasukkan mereka ke playgroup atau kegiatan-kegiatan sejenisnya.
5. Libatkan si kecil sebelum kelahiran adik barunya. Misalnya, bicarakan tentang nama untuk si bayi, tunjukkan foto-foto mereka ketika baru lahir dan jelaskan kalau si bayi memerlukan banyak bantuan.
Jika si Kecil Cemburu
Si kecil mungkin marah pada si bayi baru karena mengambil banyak waktu Anda dan tak cukup banyak bermain dengannya. Jika ada kesempatan, beberapa balita bahkan menjadi kasar dengan adik barunya.
Tips untuk mencegah si kecil cemburu adalah:
- Beri pujian secara lembut untuk perilaku antara si kecil dan si adik bayi.
- Jelaskan secara pasti pada si kecil bahwa semua anggota keluarga perlu berlemah lembut pada si bayi.
- Tunjukkan pada si kecil bagaimana Anda ingin mereka berperilaku.
- Terima kenyataan bahwa si kecil mungkin mengalami kemunduran perilaku sebagai usaha mencari perhatian lebih. Beri pujian lebih pada perilaku yang semestinya akan membantu hilangnya kemunduran perilaku ini seiring waktu.
- Tawarkan beberapa hadiah dan jalan-jalan ke luar, sehingga si kecil menyadari ada beberapa keuntungan menjadi seorang kakak.

.jpg)













