ASKEP ULKUS PEPTIKUM
08:03
KONSEP DASAR
A. Pengertian
Ulkus peptikum adalah erosi mukosa gastro intestinal yang disebabkan oleh terlalu banyaknya asam hidroklorida dan pepsin. Meskipun ulkus dapat terjadi pada osofagus, lokasi paling umum adalah duodenum dan lambung (Wardell, 1990).
Ulkus kronis dapat menembus dinding muskular. Pemulihan mengakibatkan pembentukan jaringan fibrosa dan akhirnya jaringan parut permanen. Ulkus dapat pulih atau sembuh beberapa kali sepanjang hidup seseorang.
Komplikasi utama yang berkenaan dengan penyakit ulkus peptikum, pada umumnya adalah:
1. Hemoragi, dibuktikan oleh hematemesis dan guaiak fesses positif.
2. Perporasi, dibuktikan oleh awitan tiba-tiba nyeri hebat disertai dengan abdomen kaku seperti papan dan gejala syok.
3. Obstruksi. Komplikasi ini lebih umum pada ulkus duodenal yang terletak dekat pilorus. Ini disebabkan oleh kontriksi jalan keluar gastrik sebagai akibat dari edema dan jaringan parut dari ulkus yang berulang.
Pasien secara umum dapat rawat jalan. Perawatan di rumah sakit diperlukan untuk mengatasi komplikasi.
B. Etiologi
1. Meningkatnya produksi asam lambung.
2. Stres.
3. Golongan darah.
4. Asap rokok.
5. Daya tahan lambung yang rendah.
C. Patofisiologi
Asam lambung dalam kondisi yang normal akan membantu dalam pencernaan dengan produksi yang sesuai dengan keperluan sehingga akan berfungsi secara fisiologis tapi dalam keadaan sekresi yang berlebihan akan menjadikan lambung teriritasi atau walaupun sekresi asam lambung normal tapi daya tahan mukosa lambung rendah juga akan menyebabkan iritasi.
D. Tanda Dan Gejala
1. Nyeri yang dirasakan setelah makan.
2. Nyeri tengah malam.
3. Hilang setelah makan.
4. Adanya perdarahan bila ulkus aktif.
E. Penatalaksanaan
Farmakoterapi:
Antagonis reseptor histamin seperti simetidin (Tagamet), ranitidin (Zantac), famotidin (Pepcid), Nizatidin (Axid).
Antasida seperti antasida magnesium hidroksida (Maalox atau Mylanta), atau antasida aluminium hidroksida (Amphojel atau Alternangel).
Sukralfat (Carafate).
Antikolinergik seperti propantelin bromida (Pro-Banthinne).
Penurunan atau penghilangan faktor ulserogenik, seperti merokok penghentian obat ulserogenik sementara ulkus masih aktif.
Modifikasi diet.
Penatalaksanaan stres.
Pembedahan bila komplikasi terjadi:
Gastrektomi subtotal (pengangkatan bagian lambung).
Vagotomi (memotong saraf vagus untuk mengurangi sekresi asamhidroklorik) dengan piroloplasti (pembesaran bedah terhadap sphincter pilorik untuk memungkinkan peningkatan pengosongan lambung pada adanya penurunan motilitas gastrik, yang terjadi setelah vagotomi).
F. Pertimbangan Pembedahan
1. Perfurasi.
2. Obstruksi organis
3. Perdarahan masif.
4. Ulkus yang besar sekali.
G. Pertimbangan Pemulangan
1. Perawatan lanjutan.
2. Tanda dan gejala yang dapat dilaporkan.
3. Obat-obatan untuk dilanjutkan di rumah.
4. Penatalaksanaan stres.
ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian
1. Identitas Pasien.
Nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama, status marital, suku, keluarga/orang terdekat, alamat, nomor register.
2. Riwayat Atau Adanya Faktor Resiko.
Riwayat garis pertama keluarga tentang ulkus peptikum.
Penggunaan kronis obat yang mengiritasi mukosa lambung (misal, aspirin, steroid atau indometasin).
Perokok berat.
Stres emosi kronis.
3. Pengkajian Fisik.
Nyeri epigastrik. Ini gejala paling menonjol selama periode eksaserbasi. Pada ulkus duodenal, nyeri terjadi 2-3 jam setelah makan dan sering disertai dengan mual dan muntah. Pada ulkus gastrik, nyeri terjadi dengan segera setelah makan. Nyeri dapat digambarkan sebagai nangging, tumpul, sakit, atau rasa terbakar. Ini sering hilang dengan makanan dan meningkat dengan merokok dan stres emosi.
Selama remisi pasien asimtomatik
Penurunan berat badan.
Perdarahan sebagai hematemesis atau melena (bila ulkus aktif).
4. Pemeriksaan diagnostik.
Seri gastro intestinal menunjukkan lubang ulkus tetapi tidak menandakan bila ini benigna atau maligna. Ulkus maligna dan benigna menghasilkan gejala yang sama. Sering ulkus benigna sembuh dengan terapi medis dalam beberapa minggu, sedangkan ulkus maligna tidak sembuh dengan terapi.
Endoskopi dengan apusan sistologi dilakukan dengan tepat membedakan antara ulkus benigna dan maligna bila gejala menetap.
Guaiak feses mungkin positif untuk darah samar bila ulkus aktif.
5. Kaji diet khusus dan pola makan selama 72 jam pra-perawatan di rumah sakit.
6. Kaji respons emosi pasien dan pemahaman tentang kondisi, rencana tindakan, pemeriksaan diagnostik, dan tindakan perawatan diri preventif.
7. Kaji metode pasien dalam menerima peristiwa yang menimbulkan stres dan persepsi tentang dampak penyakit pada gaya hidup.
Diagnosa Keperawatan.
1. Nyeri berhubungan dengan faktor penyakit ulkus peptikum aktif. Batasan karakteristik mengungkapkan ketidaknyamanan, merintih, perilaku melindungi, meringis.
Tujuan : Mendemonstrasikan ketidaknyamanan hilang.
Kriteria :
- Menyangkal nyeri
- Ekspresi wajah rileks
- Tak ada merintih
Intervensi :
Berikan obat-obat yang diresepkan (antagonis reseptor histamin, Carafate, antasida atau kolinergik) dan evaluasi keefektifannya.
Beri tahu dokter bila nyeri gaster menetap atau memburuk. Tes guaiak semua fesses bila nyeri menetap. Laporkan fesses guaiak positif.
Pertahankan puasa sesuai program bila perdarahan aktif terjadi.
Anjurkan perawatan oral:
Sikat gigi kit dan mencuci mulut dengan air dingin
Melumasi bibir dengan salep petrohum PRN
Mempertahankan kasa lembab di sisi tempat tidur untuk digunakan pasien membasahi mulut
Bila diare berdarah terjadi, berikan perawatan perineal setelah setiap defekasi - bersihkan dengan air hangat dan sabun ringan. Dengan izin dokter, berikan salep anastesi seperti dibukain HCl (Nupercainal), Pada anus bila pasien mengeluh sakit. Gunakan pengharum ruangan untuk mengontrol bau.
Rasionalisasi :
- Antasida dan carafate menyaluti ulkus. Antagonis reseptor histamin mengurangi asiditas gastrik dengan menyekat sekresi histamin, suatu stimulan sam gastrik. Antikolinergik mengurangi sekresi asam hidroklorida dan memperlambat motilitas saluran gastro intestinal.
- Temuan ini, menandakan kebutuhan perhatian medis segera.
- Menyikat gigi menghilangkan plak. Pembatasan makanan per oral menyebabkan mulut dan bibir kering. Pembasahan sering membantu menghilangkan kekeringan.
- Diare yang sering menyebabkan iritasi pada anus. Fees berdarah dapat menghasilkan bau tak sedap.
2. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan faktor kehilangan darah berlebihan sekunder terhadap penyakit ulkus peptikum. Batasan karakteristik: feses guaiak positif, pasase feses hitam, emesis berwarna kopi, tekanan darah turun disertai dengan takikardi, takipnea, kulit lembab basah, menyatakan haus, penurunan haluaran urine.
Tujuan : Mendemonstrasikan tak ada tanda peradangan akut.
Kriteria : Pasase feses coklat lunak, hemoglobin dan hematokrit dalam batas normal.
Intervensi :
Pantau:
Tanda vital setiap 4 jam, bila feses guaiak positif
Warna dan konsistensi feses (guaiak semua feses bila perdarahan tidak tampak)
Warna emesis berwarna kopi
Hasil laporan JDL
Beri tahu dokter tentang emesis berwarna kopi, feses hitam, emesis atau feses merah terang, penurunan TD disertai dengan takikardi dan takipnea, kulit lembab dingin, atau nilai hemoglobin dan hematokrit di bawah rentang normal. Berikan transfusi darah sesuai program dan pantau reaksi merugikan.
Untuk mengontrol perdarahan, berikan obat yang diresepkan yang meliputi :
Vitamin K (aqua MEPHYTON) bila masa protrombin memanjang
Antagonis reseptor histamin seperti simetidine (Targamet), ranitidi (Zantac), femotidin (Pepcid)
Vasopresin (Pitressin Synthetic, Pitressin Tannate)
Evaluasi keefektifan obat. Gunakan pompa infus bila memberikan obat ini dengan drip kontinu.
Pasang selang NG dan sambungkan pada pengisap intermiten sesuai program bila terjadi emesis merah terang. Pertahankan kepatenan selang dengan mengiritasi dengan salin normal dingin, prn.
Berikan lavase gastrik sesuai program:
Masukkan kira-kira 60-100 ml agen yang diresepkan (salin es, antasida, atau vasopresin)
Klem selang selama 10-15 menit, kemudian sambungkan pada penghisap
Ulangi lavase pada interval yang diprogramkan
Inspeksi warna haluaran gastrik bila penghisapan dilakukan
Pertahankan puasa sesuai pesanan bila terjadi muntah. Berikan terapi intravena sesuai program. Gunakan jarum 18-G untuk memulai penginfusan intravena bila transfusi darah diperlukan.
Bila pasien mengalami kelemahan dan pusing, tempatkan pispot di samping tempat tidur dan bantu dalam toileting sesuai kebutuhan. Instruksikan pasien untuk memberi tanda minta bantuan bila turun dari tempat tidur.
Pertahankan tirah baring bila perdarahan aktif terjadi.
Siapkan pasien untuk pembedahan atau sklerosing sesuai pesanan.
Rasionalisasi:
- Untuk mengevaluasi keefektifan terapi.
- Emesis warna kopi menunjukkan darah tercampur dengan getah lambung. Feses hitam (melena) menandakan perdarahan saluran gastro intestinal. Emesis atau feses merah terang menandakan perdarahan aktif. Kehilangan darah berlebihan dapat menimbulkan anemia, dibuktikan oleh hemoglobin dan hematokrit rendah dan gejala syok.
- Vitamin K membantu memperbaiki faktor pembekuan. Antagonis reseptor histamin mengurangi produksi asam gastrik. Vasopresin menyebabkan kontriksi pembuluh darah sehingga membantu mengontrol perdarahan.
- Intubasi NG memberi rute untuk lavase gastrik. Larutan dingin dan vasopresin menyebabkan vasokontriksi. Antasida menyaluti lapisan lambung untuk mencegah erosi lanjut dengan pemajanan pada asam hidroklorida.
- Kehilangan darah cepat menimbulkan hipovolemi. Cairan intravena membantu memperbaiki volume intravaskuler sampai perdarahan dapat terkontrol. Transfusi darah harus diberikan melalui jarum berdiameter besar karena viskositasnya tinggi.
- Tirah baring mengurangi penggunaan energi dan aktivitas saluran gastrointestinal.
- Pembedahan diperlukan bila terapi obat tidak efektif dalam mengontrol perdarahan berat setelah 24 jam.
3. Resiko tinggi terhadap perubahan dalam penatalaksanaan pemeliharaan di rumah berhubungan dengan faktor kurang pengetahuan tentang kondisi, rencana tindakan dan perawatan diri pencegahan. Batasan karakteristik: melaporkan kesulitan dalam koping terhadap penyakit kronis, riwayat ketidakpatuhan, mengungkapkan kurang pemahaman, meminta informasi, mengungkapkan takut perdarahan menyebabkan kematian.
Tujuan : Mendemonstrasikan keinginan untuk memenuhi perawatan diri, pencegahan dan tindakan pemeliharaan pada saat pulang.
Kriteria : Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi dan tindakan yang direncanakan, mengungkapkan rencana untuk mengubah gaya hidup untuk mengurangi resiko eksaserbasi.
Intervensi :
Evaluasi pemahaman pasien tentang kondisi dan rencana therapeutic. Perbaiki adanya kesalahan konsep. Tekankan bahwa terapi membantu memulihkannya. Biarkan pasien mengetahui bahwa ulkus peptikum dapat kambuh bila rencana tindakan tidak diikuti. Tinjau ulang tujuan tindakan yang diprogramkan.
Berikan instruksi tentang modifikasi diet untuk mencegah kekambuhan. Instruksi harus meliputi menghindari makanan yang menyebabkan ketidaknyamanan. Beberapa makanan yang menyebabkan ketidaknyamanan adalah coklat, caffeine, bumbu pedas, alkohol, makanan gorengan, aspirin, dan produk yang mengandung aspirin. Makan tiga makanan seimbang setiap hari, dengan kudapan pada interval reguler sering. Rujuk pasien pada ahli diet untuk bantuan dalam perencanaan diet seimbang bila riwayat diet menunjukkan ketidakadekuatan. Hindari masukan jumlah besar dari produk susu.
Anjurkan pasien yang merokok untuk mengambil langkah untuk berhenti.
Tekankan pentingnya menggunakan obat yang diresepkan. Anjurkan untuk menggunakan antasida atau antagonis reseptor hidramin dengan makan.
Bantu pasien dalam mengidentifikasi stress dan mengembangkan rencana untuk mengubah gaya hidup untuk mengurangi stres. Tekankan pentingnya mengekspresikan perasaan dengan seseorang. Rujuk pasien pada kelas penatalaksanaan stres. Anjurkan pasien untuk mengikuti program latihan reguler dan menggunakan waktu untuk aktivitas menyenangkan.
Berikan instruksi untuk menghilangkan konstipasi. Bila menggunakan antasida aluminium hidroksida, minum sedikitnya delapan gelas cairan setiap hari dan makan makanan tinggi serat.
Anjurkan pasien untuk mencari pertolongan medis bila hal berikut terjadi:
Awitan tiba-tiba dari nyeri gastrik yang tak hilang dengan obat yang diresepkan
Emesis berwarna kopi atau berdarah
Fesses hitam
Rasionalisasi :
- Pemahaman tentang kondisi dan terapi yang diprogramkan meningkatkan kepatuhan.
- Tidak terdapat bukti ilmiah bahwa diet khusus meningkatkan pemulihan. Makanan tertentu merangsang sekresi gastrik dan mencetuskan ketidaknyamanan. Aspirin mencegah adhesi trombosit dan dapat mencetuskan perdarahan. Kelebihan kalsium dan protein dari masukan besar susu dan produk susu merangsang produksi asam lambung. Ahli diet adalah spesialis nutrisi dan dapat membantu pasien dalam perencanaan makan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi setiap hari sesuai dengan status keuangan dan penyakit.
- Nikotin merangsang sekresi asam lambung yang mempengaruhi pemulihan ulkus.
- Makanan memperlambat pengosongan gastrik, sehingga meningkatkan keefektifan obat.
- Stres emosi mengaktifasi respons adrenergik. Sekresi asam hidroklorik meningkat, yang selanjutnya meningkatkan mukosa gastrik yang telah terinflamasi.
- Konstipasi adalah efek samping utama dari antasida aluminium hidroksida.
4. Ansietas berhubungan dengan faktor rasa takut mati karena perdarahan, kehilangan beberapa aspek kemandirian karena penyakit kronis. Batas karakteristik: mengeluh sulit menerima kondisi, melaporkan perasaan gugup atau cemas, ekspresi wajah tegang.
Tujuan : Mendemonstrasikan ansietas hilang.
Kriteria : Ekspresi wajah rileks, perasaan cemas atau gugup berkurang.
Mengungkapkan pemahaman tentang rencana terapeutik
Intervensi :
Gunakan pendekatan tenang, menenangkan bila memberi informasi.
Beri dorongan untuk bertanya.
Jelaskan tujuan semua tindakan yang diprogramkan dan pemeriksaan diagnostik yang meliputi :
Gambaran singkat tentang tes
Tujuan tes
Persiapan yang diperlukan sebelum tes
Perawatan setelah tes
Rasionalisasi :
- Pemecahan masalah sulit untuk orang yang cemas karena ansietas merusak belajar dan persepsi. Penjelasan yang jelas, sederhana paling baik dipahami. Istilah medis dan keperawatan dapat membingungkan pasien dan meningkatkan ansietas.
- Pengetahuan tentang apa yang diharapkan membantu mengurangi ansietas.
DAFTAR PUSTAKA
A, Price, Silvya. Patofisiologi. Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1991: Jakarta.
Engram Barbara. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Volume 1. Penerbit Buku Penerbit Kedokteran. 1994: Jakarta
Soeparman. Dkk. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Balai Penerbit FKUI. 1990: Jakarta
A. Pengertian
Ulkus peptikum adalah erosi mukosa gastro intestinal yang disebabkan oleh terlalu banyaknya asam hidroklorida dan pepsin. Meskipun ulkus dapat terjadi pada osofagus, lokasi paling umum adalah duodenum dan lambung (Wardell, 1990).
Ulkus kronis dapat menembus dinding muskular. Pemulihan mengakibatkan pembentukan jaringan fibrosa dan akhirnya jaringan parut permanen. Ulkus dapat pulih atau sembuh beberapa kali sepanjang hidup seseorang.
Komplikasi utama yang berkenaan dengan penyakit ulkus peptikum, pada umumnya adalah:
1. Hemoragi, dibuktikan oleh hematemesis dan guaiak fesses positif.
2. Perporasi, dibuktikan oleh awitan tiba-tiba nyeri hebat disertai dengan abdomen kaku seperti papan dan gejala syok.
3. Obstruksi. Komplikasi ini lebih umum pada ulkus duodenal yang terletak dekat pilorus. Ini disebabkan oleh kontriksi jalan keluar gastrik sebagai akibat dari edema dan jaringan parut dari ulkus yang berulang.
Pasien secara umum dapat rawat jalan. Perawatan di rumah sakit diperlukan untuk mengatasi komplikasi.
B. Etiologi
1. Meningkatnya produksi asam lambung.
2. Stres.
3. Golongan darah.
4. Asap rokok.
5. Daya tahan lambung yang rendah.
C. Patofisiologi
Asam lambung dalam kondisi yang normal akan membantu dalam pencernaan dengan produksi yang sesuai dengan keperluan sehingga akan berfungsi secara fisiologis tapi dalam keadaan sekresi yang berlebihan akan menjadikan lambung teriritasi atau walaupun sekresi asam lambung normal tapi daya tahan mukosa lambung rendah juga akan menyebabkan iritasi.
D. Tanda Dan Gejala
1. Nyeri yang dirasakan setelah makan.
2. Nyeri tengah malam.
3. Hilang setelah makan.
4. Adanya perdarahan bila ulkus aktif.
E. Penatalaksanaan
Farmakoterapi:
Antagonis reseptor histamin seperti simetidin (Tagamet), ranitidin (Zantac), famotidin (Pepcid), Nizatidin (Axid).
Antasida seperti antasida magnesium hidroksida (Maalox atau Mylanta), atau antasida aluminium hidroksida (Amphojel atau Alternangel).
Sukralfat (Carafate).
Antikolinergik seperti propantelin bromida (Pro-Banthinne).
Penurunan atau penghilangan faktor ulserogenik, seperti merokok penghentian obat ulserogenik sementara ulkus masih aktif.
Modifikasi diet.
Penatalaksanaan stres.
Pembedahan bila komplikasi terjadi:
Gastrektomi subtotal (pengangkatan bagian lambung).
Vagotomi (memotong saraf vagus untuk mengurangi sekresi asamhidroklorik) dengan piroloplasti (pembesaran bedah terhadap sphincter pilorik untuk memungkinkan peningkatan pengosongan lambung pada adanya penurunan motilitas gastrik, yang terjadi setelah vagotomi).
F. Pertimbangan Pembedahan
1. Perfurasi.
2. Obstruksi organis
3. Perdarahan masif.
4. Ulkus yang besar sekali.
G. Pertimbangan Pemulangan
1. Perawatan lanjutan.
2. Tanda dan gejala yang dapat dilaporkan.
3. Obat-obatan untuk dilanjutkan di rumah.
4. Penatalaksanaan stres.
ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian
1. Identitas Pasien.
Nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama, status marital, suku, keluarga/orang terdekat, alamat, nomor register.
2. Riwayat Atau Adanya Faktor Resiko.
Riwayat garis pertama keluarga tentang ulkus peptikum.
Penggunaan kronis obat yang mengiritasi mukosa lambung (misal, aspirin, steroid atau indometasin).
Perokok berat.
Stres emosi kronis.
3. Pengkajian Fisik.
Nyeri epigastrik. Ini gejala paling menonjol selama periode eksaserbasi. Pada ulkus duodenal, nyeri terjadi 2-3 jam setelah makan dan sering disertai dengan mual dan muntah. Pada ulkus gastrik, nyeri terjadi dengan segera setelah makan. Nyeri dapat digambarkan sebagai nangging, tumpul, sakit, atau rasa terbakar. Ini sering hilang dengan makanan dan meningkat dengan merokok dan stres emosi.
Selama remisi pasien asimtomatik
Penurunan berat badan.
Perdarahan sebagai hematemesis atau melena (bila ulkus aktif).
4. Pemeriksaan diagnostik.
Seri gastro intestinal menunjukkan lubang ulkus tetapi tidak menandakan bila ini benigna atau maligna. Ulkus maligna dan benigna menghasilkan gejala yang sama. Sering ulkus benigna sembuh dengan terapi medis dalam beberapa minggu, sedangkan ulkus maligna tidak sembuh dengan terapi.
Endoskopi dengan apusan sistologi dilakukan dengan tepat membedakan antara ulkus benigna dan maligna bila gejala menetap.
Guaiak feses mungkin positif untuk darah samar bila ulkus aktif.
5. Kaji diet khusus dan pola makan selama 72 jam pra-perawatan di rumah sakit.
6. Kaji respons emosi pasien dan pemahaman tentang kondisi, rencana tindakan, pemeriksaan diagnostik, dan tindakan perawatan diri preventif.
7. Kaji metode pasien dalam menerima peristiwa yang menimbulkan stres dan persepsi tentang dampak penyakit pada gaya hidup.
Diagnosa Keperawatan.
1. Nyeri berhubungan dengan faktor penyakit ulkus peptikum aktif. Batasan karakteristik mengungkapkan ketidaknyamanan, merintih, perilaku melindungi, meringis.
Tujuan : Mendemonstrasikan ketidaknyamanan hilang.
Kriteria :
- Menyangkal nyeri
- Ekspresi wajah rileks
- Tak ada merintih
Intervensi :
Berikan obat-obat yang diresepkan (antagonis reseptor histamin, Carafate, antasida atau kolinergik) dan evaluasi keefektifannya.
Beri tahu dokter bila nyeri gaster menetap atau memburuk. Tes guaiak semua fesses bila nyeri menetap. Laporkan fesses guaiak positif.
Pertahankan puasa sesuai program bila perdarahan aktif terjadi.
Anjurkan perawatan oral:
Sikat gigi kit dan mencuci mulut dengan air dingin
Melumasi bibir dengan salep petrohum PRN
Mempertahankan kasa lembab di sisi tempat tidur untuk digunakan pasien membasahi mulut
Bila diare berdarah terjadi, berikan perawatan perineal setelah setiap defekasi - bersihkan dengan air hangat dan sabun ringan. Dengan izin dokter, berikan salep anastesi seperti dibukain HCl (Nupercainal), Pada anus bila pasien mengeluh sakit. Gunakan pengharum ruangan untuk mengontrol bau.
Rasionalisasi :
- Antasida dan carafate menyaluti ulkus. Antagonis reseptor histamin mengurangi asiditas gastrik dengan menyekat sekresi histamin, suatu stimulan sam gastrik. Antikolinergik mengurangi sekresi asam hidroklorida dan memperlambat motilitas saluran gastro intestinal.
- Temuan ini, menandakan kebutuhan perhatian medis segera.
- Menyikat gigi menghilangkan plak. Pembatasan makanan per oral menyebabkan mulut dan bibir kering. Pembasahan sering membantu menghilangkan kekeringan.
- Diare yang sering menyebabkan iritasi pada anus. Fees berdarah dapat menghasilkan bau tak sedap.
2. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan faktor kehilangan darah berlebihan sekunder terhadap penyakit ulkus peptikum. Batasan karakteristik: feses guaiak positif, pasase feses hitam, emesis berwarna kopi, tekanan darah turun disertai dengan takikardi, takipnea, kulit lembab basah, menyatakan haus, penurunan haluaran urine.
Tujuan : Mendemonstrasikan tak ada tanda peradangan akut.
Kriteria : Pasase feses coklat lunak, hemoglobin dan hematokrit dalam batas normal.
Intervensi :
Pantau:
Tanda vital setiap 4 jam, bila feses guaiak positif
Warna dan konsistensi feses (guaiak semua feses bila perdarahan tidak tampak)
Warna emesis berwarna kopi
Hasil laporan JDL
Beri tahu dokter tentang emesis berwarna kopi, feses hitam, emesis atau feses merah terang, penurunan TD disertai dengan takikardi dan takipnea, kulit lembab dingin, atau nilai hemoglobin dan hematokrit di bawah rentang normal. Berikan transfusi darah sesuai program dan pantau reaksi merugikan.
Untuk mengontrol perdarahan, berikan obat yang diresepkan yang meliputi :
Vitamin K (aqua MEPHYTON) bila masa protrombin memanjang
Antagonis reseptor histamin seperti simetidine (Targamet), ranitidi (Zantac), femotidin (Pepcid)
Vasopresin (Pitressin Synthetic, Pitressin Tannate)
Evaluasi keefektifan obat. Gunakan pompa infus bila memberikan obat ini dengan drip kontinu.
Pasang selang NG dan sambungkan pada pengisap intermiten sesuai program bila terjadi emesis merah terang. Pertahankan kepatenan selang dengan mengiritasi dengan salin normal dingin, prn.
Berikan lavase gastrik sesuai program:
Masukkan kira-kira 60-100 ml agen yang diresepkan (salin es, antasida, atau vasopresin)
Klem selang selama 10-15 menit, kemudian sambungkan pada penghisap
Ulangi lavase pada interval yang diprogramkan
Inspeksi warna haluaran gastrik bila penghisapan dilakukan
Pertahankan puasa sesuai pesanan bila terjadi muntah. Berikan terapi intravena sesuai program. Gunakan jarum 18-G untuk memulai penginfusan intravena bila transfusi darah diperlukan.
Bila pasien mengalami kelemahan dan pusing, tempatkan pispot di samping tempat tidur dan bantu dalam toileting sesuai kebutuhan. Instruksikan pasien untuk memberi tanda minta bantuan bila turun dari tempat tidur.
Pertahankan tirah baring bila perdarahan aktif terjadi.
Siapkan pasien untuk pembedahan atau sklerosing sesuai pesanan.
Rasionalisasi:
- Untuk mengevaluasi keefektifan terapi.
- Emesis warna kopi menunjukkan darah tercampur dengan getah lambung. Feses hitam (melena) menandakan perdarahan saluran gastro intestinal. Emesis atau feses merah terang menandakan perdarahan aktif. Kehilangan darah berlebihan dapat menimbulkan anemia, dibuktikan oleh hemoglobin dan hematokrit rendah dan gejala syok.
- Vitamin K membantu memperbaiki faktor pembekuan. Antagonis reseptor histamin mengurangi produksi asam gastrik. Vasopresin menyebabkan kontriksi pembuluh darah sehingga membantu mengontrol perdarahan.
- Intubasi NG memberi rute untuk lavase gastrik. Larutan dingin dan vasopresin menyebabkan vasokontriksi. Antasida menyaluti lapisan lambung untuk mencegah erosi lanjut dengan pemajanan pada asam hidroklorida.
- Kehilangan darah cepat menimbulkan hipovolemi. Cairan intravena membantu memperbaiki volume intravaskuler sampai perdarahan dapat terkontrol. Transfusi darah harus diberikan melalui jarum berdiameter besar karena viskositasnya tinggi.
- Tirah baring mengurangi penggunaan energi dan aktivitas saluran gastrointestinal.
- Pembedahan diperlukan bila terapi obat tidak efektif dalam mengontrol perdarahan berat setelah 24 jam.
3. Resiko tinggi terhadap perubahan dalam penatalaksanaan pemeliharaan di rumah berhubungan dengan faktor kurang pengetahuan tentang kondisi, rencana tindakan dan perawatan diri pencegahan. Batasan karakteristik: melaporkan kesulitan dalam koping terhadap penyakit kronis, riwayat ketidakpatuhan, mengungkapkan kurang pemahaman, meminta informasi, mengungkapkan takut perdarahan menyebabkan kematian.
Tujuan : Mendemonstrasikan keinginan untuk memenuhi perawatan diri, pencegahan dan tindakan pemeliharaan pada saat pulang.
Kriteria : Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi dan tindakan yang direncanakan, mengungkapkan rencana untuk mengubah gaya hidup untuk mengurangi resiko eksaserbasi.
Intervensi :
Evaluasi pemahaman pasien tentang kondisi dan rencana therapeutic. Perbaiki adanya kesalahan konsep. Tekankan bahwa terapi membantu memulihkannya. Biarkan pasien mengetahui bahwa ulkus peptikum dapat kambuh bila rencana tindakan tidak diikuti. Tinjau ulang tujuan tindakan yang diprogramkan.
Berikan instruksi tentang modifikasi diet untuk mencegah kekambuhan. Instruksi harus meliputi menghindari makanan yang menyebabkan ketidaknyamanan. Beberapa makanan yang menyebabkan ketidaknyamanan adalah coklat, caffeine, bumbu pedas, alkohol, makanan gorengan, aspirin, dan produk yang mengandung aspirin. Makan tiga makanan seimbang setiap hari, dengan kudapan pada interval reguler sering. Rujuk pasien pada ahli diet untuk bantuan dalam perencanaan diet seimbang bila riwayat diet menunjukkan ketidakadekuatan. Hindari masukan jumlah besar dari produk susu.
Anjurkan pasien yang merokok untuk mengambil langkah untuk berhenti.
Tekankan pentingnya menggunakan obat yang diresepkan. Anjurkan untuk menggunakan antasida atau antagonis reseptor hidramin dengan makan.
Bantu pasien dalam mengidentifikasi stress dan mengembangkan rencana untuk mengubah gaya hidup untuk mengurangi stres. Tekankan pentingnya mengekspresikan perasaan dengan seseorang. Rujuk pasien pada kelas penatalaksanaan stres. Anjurkan pasien untuk mengikuti program latihan reguler dan menggunakan waktu untuk aktivitas menyenangkan.
Berikan instruksi untuk menghilangkan konstipasi. Bila menggunakan antasida aluminium hidroksida, minum sedikitnya delapan gelas cairan setiap hari dan makan makanan tinggi serat.
Anjurkan pasien untuk mencari pertolongan medis bila hal berikut terjadi:
Awitan tiba-tiba dari nyeri gastrik yang tak hilang dengan obat yang diresepkan
Emesis berwarna kopi atau berdarah
Fesses hitam
Rasionalisasi :
- Pemahaman tentang kondisi dan terapi yang diprogramkan meningkatkan kepatuhan.
- Tidak terdapat bukti ilmiah bahwa diet khusus meningkatkan pemulihan. Makanan tertentu merangsang sekresi gastrik dan mencetuskan ketidaknyamanan. Aspirin mencegah adhesi trombosit dan dapat mencetuskan perdarahan. Kelebihan kalsium dan protein dari masukan besar susu dan produk susu merangsang produksi asam lambung. Ahli diet adalah spesialis nutrisi dan dapat membantu pasien dalam perencanaan makan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi setiap hari sesuai dengan status keuangan dan penyakit.
- Nikotin merangsang sekresi asam lambung yang mempengaruhi pemulihan ulkus.
- Makanan memperlambat pengosongan gastrik, sehingga meningkatkan keefektifan obat.
- Stres emosi mengaktifasi respons adrenergik. Sekresi asam hidroklorik meningkat, yang selanjutnya meningkatkan mukosa gastrik yang telah terinflamasi.
- Konstipasi adalah efek samping utama dari antasida aluminium hidroksida.
4. Ansietas berhubungan dengan faktor rasa takut mati karena perdarahan, kehilangan beberapa aspek kemandirian karena penyakit kronis. Batas karakteristik: mengeluh sulit menerima kondisi, melaporkan perasaan gugup atau cemas, ekspresi wajah tegang.
Tujuan : Mendemonstrasikan ansietas hilang.
Kriteria : Ekspresi wajah rileks, perasaan cemas atau gugup berkurang.
Mengungkapkan pemahaman tentang rencana terapeutik
Intervensi :
Gunakan pendekatan tenang, menenangkan bila memberi informasi.
Beri dorongan untuk bertanya.
Jelaskan tujuan semua tindakan yang diprogramkan dan pemeriksaan diagnostik yang meliputi :
Gambaran singkat tentang tes
Tujuan tes
Persiapan yang diperlukan sebelum tes
Perawatan setelah tes
Rasionalisasi :
- Pemecahan masalah sulit untuk orang yang cemas karena ansietas merusak belajar dan persepsi. Penjelasan yang jelas, sederhana paling baik dipahami. Istilah medis dan keperawatan dapat membingungkan pasien dan meningkatkan ansietas.
- Pengetahuan tentang apa yang diharapkan membantu mengurangi ansietas.
DAFTAR PUSTAKA
A, Price, Silvya. Patofisiologi. Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1991: Jakarta.
Engram Barbara. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Volume 1. Penerbit Buku Penerbit Kedokteran. 1994: Jakarta
Soeparman. Dkk. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Balai Penerbit FKUI. 1990: Jakarta
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1431 H
07:00
Khaidirmuhaj.blogspot.com - Terkadang cinta, membuat orang berubah total. terkadang cinta juga
membuat orang jadi sakit hati. mungkin terucap kata2 maniz. terkadang berujung pedih
HaRi deMi hari teLah di rasakn,,
mingGu deMi mingGu tLah terlewati,,
buLan dMi buLan tLah d lalui,,
taHun dMi taHun tLah berGanti.
seiring berjalan nY waKtu,,
sGala nY bSa tRjadi.
mungkin d jLn iTu pernah tRjadi ke khilafan / kSalahan.
naMun tak ada sLh nY qT saLing mMaafkan d hari yG fitri ni,,
miNal aidin walfaizin,,moHon maAf lahir bathin.
mEt hari raya iDul fitri 1431 H.
membuat orang jadi sakit hati. mungkin terucap kata2 maniz. terkadang berujung pedih
HaRi deMi hari teLah di rasakn,,
mingGu deMi mingGu tLah terlewati,,
buLan dMi buLan tLah d lalui,,
taHun dMi taHun tLah berGanti.
seiring berjalan nY waKtu,,
sGala nY bSa tRjadi.
mungkin d jLn iTu pernah tRjadi ke khilafan / kSalahan.
naMun tak ada sLh nY qT saLing mMaafkan d hari yG fitri ni,,
miNal aidin walfaizin,,moHon maAf lahir bathin.
mEt hari raya iDul fitri 1431 H.
KUMPULAN SMS LEBARAN
13:01
Lebaran tinggal menghitung hari lagi, jadi pingin bagi bagi ucapan sms lebaran, aku juga sudah lupa dari mana aku dapat, karena sms lebaran ini aku dapat setahun yang lalu dari pada dikoleksi sendiri ada baiknya aku bagikan semoga saja bermanfaat bagi sahabat semua, format awalnya zip jadi tinggal diexstrac dan dalam foldernya formatnya txt jadi tidak susah susah menulis lagi di hp sahabat, tinggal masukan foldernya di hp ya mungkin lewat kabel data atau pakai card reader ya terserahlah pakai apa saja yang penting kalau sudah foldernya masuk hp jadi gampang tinggal di buka dan kirim sms ke keluarga,pacar,sahabat....
Silahkan Download dari Ziddu
Atau Download dari 4shared
Silahkan Download dari Ziddu
Atau Download dari 4shared
Manfaat Buah Semangka
10:47Khaidirmuhaj.blogspot.com - Buah semangka termasuk buah favorit di musim panas. Kandungan airnya yang tinggi serta rasanya yang manis segar membuatnya jadi pilihan penutup mulut. Semangka juga kaya akan kandungan antioksidan, glutathione yang memang banyak terdapat di buah dan sayur berwarna merah. Antioksidan telah terbukti efektif mencegah berbagai jenis penyakit.
Tidak diketahui secara pasti sejak kapan Semangka (Citrullus lanatus) mulai dikembangbiakkan, tapi menurut catatan sejarah, buah ini sudah dikenal ribuan tahun yang lalu oleh bangsa Mesir (terlihat dari gambar-gambar yang ada pada hierogliph di makam pharaoh).
Yang menarik dari buah semangka ini, ternyata bukan hanya daging buahnya saja yang bermanfaat. Bagian putih semangka mengandung senyawa yang berperan menyehatkan ginjal, seperti mencegah dan menghancurkan batu ginjal.
Menyantap potongan-potongan buah ini juga akan meningkatkan pembakaran lemak dan glukosa. Paling tidak hal itu terbukti pada tikus percobaan. Kandungan asam amino arginie dalam semangka efektif mengurangi lemak pada tikus-tikus yang kelebihan berat badan.
Untuk bisa menikmati manfaat secara maksimal, maka pemilihan semangka yang segar patut dilakukan. Untuk memilihnya, tinggal menepuk bagian luar dan dengarkan bunyi yang keluar. Jika suara yang terdengar terasa berisi maka boleh jadi itu adalah semangka yang baik.
Source : kompas.com
ASKEP TYPHUS ABDOMINALIS
09:37
KONSEP DASAR MEDIS
1. Pengertian
Typhus abdominalis merupakan infeksi akut yang terjadi pada usus halus. Sinonim dari typhus abdominalis adalah demam typhoid, typhoid dan para typhoid dan enteric fever.
2. Etiologi
Typhus abdominalis disebabkan oleh salmonella typhi, salmonella paratyphi A, salmonella paratyphi B dan salmonella paratyphi C.
3. Insiden
Di daerah endemic typhoid, insiden tertinggi pada anak-anak. Orang dewasa sering mengalami infeksi yang sembuh sendiri dan dapat menjadi kebal. Insiden 70 – 80 % pada usia 12 – 30 tahun, 10 –2- % pada usia 30 – 40 tahun, dan 5 – 10 % pada usia di atas 40 tahun, sedangkan insiden jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan yang jelas.
4. Gambaran Klinis
Masa tunas typhus abdominalis 10 –14 hari. Gejala-gejala yang timbul bervariasi, dalam minggu pertama penyakit keluhan dan gejala serupa dengan infeksi akut seperti demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak pada perut, batuk dan epistaksis. Pada minggu kedua gejala lebih jelas berupa demam, bradikardi relatif, lidah yang khas (kotor ditengah, tepi dan ujung merah dan tremor), hepatomegali, splenomegali, meteorismus, gangguan mental berupa samnolen, stupor, koma, delirium atau psikis.
5. Patogenesis dan Patofisiologi
Penularan salmonella typhi terjadi melalui mulut oleh makanan yang tercemar. Sebagian kuman mati oleh asam lambung dan sebagian masuk ke usus halus mencapai jaringan limfoid lalu berkembang biak, kuman kemudian masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikoloendotealial hati, limpa dan organ-organ lain. Diduga proses ini terjadi proses tunas, yang berakhir dengan pelepasan kuman ke peredaran darah dan menimbulkan bakterimia ke–2 kalinya. Kuman kemudian masuk ke organ tubuh terutama limpa, usus dan kandung empedu. Semula demam diduga karena gejala toksemia dari typhoid, yang disebabkan indotoksemia tapi dari penelitian ekspremental dapat disimpulkan indotoksemia bukan penyebab utama demam dan gejala-gejala toksemia pada typhoid. Indotoksin salmonella typhi berperan pada patogenesis typhoid karena membantu terjadinya proses inflamasi local. Demam typhoid disesbkan karena salmonella typhi dan indotoksin merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.
6. Laboratorium
a. Leukosit : Leukopenia dan limfositosis relatif
b. Reaksi widal :
• Agglutinin O : rangsangan oleh antigen O (dari tubuh kuman)
• Agglutinin H : rangsangan oleh antigen H (dari tubuh flagel kuman)
• Agglutinin VI : rangsangan oleh antigen VI (dari tubuh simpai kuman)
7. Komplikasi
1) Komplikasi interstinal
a. Perdarahan usus
b. Perforasi usus
c. Ileus paralitik
2) Komplikasi ekstra-interstinal
a. Komplikasi kardiovaskular: kegagalan sirkulasi perifer (rejatan sepsis), miokarditis, trombosis dan tromboplebitis.
b. Komplikasi darah: anemia haemolitik, trombositopenia dan sindrom uremia haemolitik.
c. Komplikasi paru: pneumonia, empiema dan pleuritis.
d. Komplikasi hepar: hepatitis dan koleksitis.
e. Komplikasi ginjal: glomerolonefritis, pyelonofretis dan perinefritis.
f. Komplikasi tulang: osteomielitis, periosstitis, spondalitis dan arthritis.
g. Komplikasi syaraf: delerium, meningismus, meningitis.
h. Komplikasi psikiatrik : sindroma katatonia.
8. Penatalaksanaan
a. Perawatan
Dirawat di rumah sakit untuk diisolasi, observasi dan pengobatan penderita tirah baring absolut 7 – 14 hari bebas kuman, untuk mencegah komplikasi dan mobilisasi dilakukan secara bertahap, defekasi dan buang air kecil perlu diperhatikan.
b. Diet
Untuk diet awal pasien diberi bubur saring, kemudian bubur kasar, nasi lembik dan akhirnya nasi biasa sesuai kesembuhan penderita. Hal ini untuk menghindari komplikasi.
c. Pengobatan
1) Kloramfenikol
Dosis 4 x 500 mg/hari sampai 7 hari bebas kuman. Demam dapat turun rata-rata setelah 5 hari.
2) Tiamfenikol
Dosis sama dengan kloramfenikol dan demam turun kurang lebih 5 – 6 hari.
3) Kotrimoksazol
Efektivitas hampir sama dengan kloramfenikol, dosis dewasa 2 x 2 tab/hari sampai bebas kuman, demam turun kurang lebih 5 – 6 hari.
4) Ampicillin dan Amoxillin
Efektivitas lebih kecil dari kloramfenikol, dosis antara 75 – 150 mg/kg/BB, demam turun kurang lebih 7 – 9 hari.
d. Pencegahan
1) Usaha terhadap lingkungan hidup
• Penyediaan air minum yang memenuhi syarat
• Pembuangan kotoran manusia yang higienis
• Pemberantasan lalat
• Pengentasan terhadap rumah-rumah makan dan penjual makanan
2) Usaha terhadap individu
• Imunisasi
• Menemukan dan mengawasi carrier typhoid
• Pendidikan kesehatan kepada masyarakat
9. Prognosis
Prognosis tergantung pada umur, keadaan umum, derajat kekebalan penderita, jumlah dan virulensi salmonella, serta cepat dan tepat pengobatan.
KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Pengumpulan data
1) Identitas klien
Meliputi nama,, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, suku/bangsa, agama, status perkawinan, tanggal masuk rumah sakit, nomor register dan diagnosa medik.
2) Keluhan utama
Keluhan utama demam tifoid adalah panas atau demam yang tidak turun-turun, nyeri perut, pusing kepala, mual, muntah, anoreksia, diare serta penurunan kesadaran.
3) Riwayat penyakit sekarang
Peningkatan suhu tubuh karena masuknya kuman salmonella typhi ke dalam tubuh.
4) Riwayat penyakit dahulu
Apakah sebelumnya pernah sakit demam tifoid.
5) Riwayat penyakit keluarga
Apakah keluarga pernah menderita hipertensi, diabetes melitus.
6) Riwayat psikososial dan spiritual
Biasanya klien cemas, bagaimana koping mekanisme yang digunakan. Gangguan dalam beribadat karena klien tirah baring total dan lemah.
7) Pola-pola fungsi kesehatan
a) Pola nutrisi dan metabolisme
Klien akan mengalami penurunan nafsu makan karena mual dan muntah saat makan sehingga makan hanya sedikit bahkan tidak makan sama sekali.
b) Pola eliminasi
Eliminasi alvi. Klien dapat mengalami konstipasi oleh karena tirah baring lama. Sedangkan eliminasi urine tidak mengalami gangguan, hanya warna urine menjadi kuning kecoklatan. Klien dengan demam tifoid terjadi peningkatan suhu tubuh yang berakibat keringat banyak keluar dan merasa haus, sehingga dapat meningkatkan kebutuhan cairan tubuh.
c) Pola aktivitas dan latihan
Aktivitas klien akan terganggu karena harus tirah baring total, agar tidak terjadi komplikasi maka segala kebutuhan klien dibantu.
d) Pola tidur dan istirahat
Pola tidur dan istirahat terganggu sehubungan peningkatan suhu tubuh.
e) Pola persepsi dan konsep diri
Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan penyakitnya dan ketakutan merupakan dampak psikologi klien.
f) Pola sensori dan kognitif
Pada penciuman, perabaan, perasaan, pendengaran dan penglihatan umumnya tidak mengalami kelainan serta tidak terdapat suatu waham pad klien.
g) Pola hubungan dan peran
Hubungan dengan orang lain terganggu sehubungan klien di rawat di rumah sakit dan klien harus bed rest total.
h) Pola reproduksi dan seksual
Gangguan pola ini terjadi pada klien yang sudah menikah karena harus dirawat di rumah sakit sedangkan yang belum menikah tidak mengalami gangguan.
i) Pola penanggulangan stress
Biasanya klien sering melamun dan merasa sedih karena keadaan sakitnya.
j) Pola tatanilai dan kepercayaan
Dalam hal beribadah biasanya terganggu karena bedrest total dan tidak boleh melakukan aktivitas karena penyakit yang dideritanya saat ini.
8) Pemeriksaan fisik
a) Keadaan umum
Didapatkan klien tampak lemah, suhu tubuh meningkat 38 – 410 C, muka kemerahan.
b) Tingkat kesadaran
Dapat terjadi penurunan kesadaran (apatis).
c) Sistem respirasi
Pernafasan rata-rata ada peningkatan, nafas cepat dan dalam dengan gambaran seperti bronchitis.
d) Sistem kardiovaskuler
Terjadi penurunan tekanan darah, bradikardi relatif, hemoglobin rendah.
e) Sistem integumen
Kulit kering, turgor kullit menurun, muka tampak pucat, rambut agak kusam
f) Sistem gastrointestinal
Bibir kering pecah-pecah, mukosa mulut kering, lidah kotor (khas), mual, muntah, anoreksia, dan konstipasi, nyeri perut, perut terasa tidak enak, peristaltik usus meningkat.
g) Sistem muskuloskeletal
Klien lemah, terasa lelah tapi tidak didapatkan adanya kelainan.
h) Sistem abdomen
Saat palpasi didapatkan limpa dan hati membesar dengan konsistensi lunak serta nyeri tekan pada abdomen. Pada perkusi didapatkan perut kembung serta pada auskultasi peristaltik usus meningkat.
9) Pemeriksaan penunjang
a) Pemeriksaan darah tepi
Didapatkan adanya anemi oleh karena intake makanan yang terbatas, terjadi gangguan absorbsi, hambatan pembentukan darah dalam sumsum dan penghancuran sel darah merah dalam peredaran darah. Leukopenia dengan jumlah lekosit antara 3000 – 4000 /mm3 ditemukan pada fase demam. Hal ini diakibatkan oleh penghancuran lekosit oleh endotoksin. Aneosinofilia yaitu hilangnya eosinofil dari darah tepi. Trombositopenia terjadi pada stadium panas yaitu pada minggu pertama. Limfositosis umumnya jumlah limfosit meningkat akibat rangsangan endotoksin. Laju endap darah meningkat.
b) Pemeriksaan urine
Didaparkan proteinuria ringan ( < 2 gr/liter) juga didapatkan peningkatan lekosit dalam urine.
c) Pemeriksaan tinja
Didapatkan adanya lendir dan darah, dicurigai akan bahaya perdarahan usus dan perforasi.
d) Pemeriksaan bakteriologis
Diagnosa pasti ditegakkan apabila ditemukan kuman salmonella dan biakan darah tinja, urine, cairan empedu atau sumsum tulang.
e) Pemeriksaan serologis
Yaitu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin ). Adapun antibodi yang dihasilkan tubuh akibat infeksi kuman salmonella adalah antobodi O dan H. Apabila titer antibodi O adalah 1 : 20 atau lebih pada minggu pertama atau terjadi peningkatan titer antibodi yang progresif (lebih dari 4 kali). Pada pemeriksaan ulangan 1 atau 2 minggu kemudian menunjukkan diagnosa positif dari infeksi Salmonella typhi.
f) Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan ini untuk mengetahui apakah ada kelainan atau komplikasi akibat demam tifoid.
b. Analisa data
Data yang sudah terkumpul dikelompokkan dan dianalisis untuk menentukan masalah klien. Untuk mengelompokkan data ini dilihat dari jenis data yang meliputi data subyek dan dan data obyek. Data subyek adalah data yang diambil dari ungkapan klien atau keluarga klien sedangkan data obyek adalah data yang didapat dari suatu pengamatan atau pendapat yang digunakan untuk menentukan diagnosis keperawatan. Data tersebut juga bisa diperoleh dari keadaan klien yang tidak sesuai dengan standart kriteria yang sudah ada. Untuk perawat harus jeli dan memahami tentang standart keperawatan sebagai bahan perbandingan apakah keadaan kesehatan klien sesuai tidak dengan standart yang sudah ada. (Lismidar, 1990)
c. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan suatu pernyataan yang jelas tentang masalah kesehatan klien yang dapat diatasi dengan tindakan keperawatan. Diagnosa keperawatan ditetapkan berdasarkan analisa dan interpretasi data yang diperoleh dari pengkajian data. Demam menggambarkan tentang masalah kesehatan yang nyata atau potensial dan pemecahannya membutuhkan tindakan keperawatan sebagai masalah klien yang dapat ditanggulangi. (Lismidar, 1990)
Dari analisa data yang diperoleh maka diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus demam tifoid dengan masalah peningkatan suhu tubuh adalah sebagai berikut.
1) Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan proses infeksi kuman Salmonella typhi
2) Gangguan keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan) sehubungan dengan pengeluaran cairan yang berlebihan.
3) Gangguan rasa nyaman (kebutuhan tidur dan istirahat) sehubungan dengan peningkatan suhu tubuh.
4) Kecemasan sehubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.
5) Potensial terjadinya gangguan intregitas kulit sehubungan dengan peningkatan suhu tubuh.
6) Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan pemasangan infus.
2. Perencanaan
Pada tahap perencanaan ini meliputi penentuan prioritas diagnosa keperawatan, menetapkan tujuan dan kriteria hasil, merumuskan rencana tindakan dan mengemukakan rasional dari rencana tindakan. Setelah itu dilakukan pendokumentasian diagnosa aktual atau potensial, kriteria hasil dan rencana tindakan. ( Lismidar, 1990 : 34&44)
Rencana keperawatan yang digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan klien pada dasarnya sesuai dengan masalah yang ditemukan pada klien dengan demam tifoid dan hal ini sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah ada. Perencanaan berisi suatu tujuan pelayanan keperawatan dan rencana tindakan yang akan digunakan itu untuk mencapai tujuan, kriteria hasil dan rasionalisai berdasarkan susunan diagnosa keperawatan diatas, maka perencanaan yang dibuat sebagai berikut :
a. Diagnosa keperawatan I
Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan proses infeksi
1) Tujuan : suhu tubuh turun sampai batas normal
2) Kriteria hasil :
a) Suhu tubuh dalam batas normal 36 – 37 0 C
b) Klien bebas demam
3) Rencana tindakan
a) Bina hubungan baik dengan klien dan keluarga
b) Berikan kompres dingin dan ajarkan cara untuk memakai es atau handuk pada tubu, khususnya pada aksila atau lipatan paha.
c) Peningkatan kalori dan beri banyak minuman (cairan)
d) Anjurkan memakai baju tipis yang menyerap keringat.
e) Observasi tanda-tanda vital terutama suhu dan denyut nadi
f) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat-obatan terutama anti piretik.
4) Rasional
a) Dengan hubungan yang baik dapat meningkatkan kerjasama dengan klien sehingga pengobatan dan perawatan mudah dilaksanakan.
b) Pemberian kompres dingin merangsang penurunan suhu tubuh.
c) Air merupakan pangatur suhu tubuh. Setiap ada kenaikan suhu melebihi normal, kebutuhan metabolisme air juga meningkat dari kebutuhan setiap ada kenaikan suhu tubuh.
d) Baju yang tipis akan mudah untuk menyerap keringat yang keluar.
e) Observasi tanda-tanda vital merupakan deteksi dini untuk mengetahui komplikasi yang terjadi sehingga cepat mengambil tindakan
f) Pemberian obat-obatan terutama antibiotik akan membunuh kuman Salmonella typhi sehingga mempercepat proses penyembuhan sedangkan antipiretik untuk menurunkan suhu tubuh.
b. Diagnosa keperawatan II
Gangguan keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan) sehubungan dengan pengeluaran cairan yang berlebihan.
1) Tujuan : kekurangan
2) Kriteria hasil :
a) Mukosa mulut dan bibir tetap basah, turgor kulit normal.
b) Tanda-tanda vital ( suhu, nadi, tekanan darah, pernafasan) dalam batas normal.
3) Rencana tindakan
a) Monitor intake atau output tiap 6 jam
b) Beri cairan (minum banyak 2 – 3 liter perhari) dan elektrolit setiap hari.
c) Masukan cairan diregulasi pertama kali karena adanya rasa haus.
d) Hindarkan sebagian besar gula alkohol, kafein.
e) Timbang berat badan secara efektif.
f) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian cairan secara intravena.
4) Rasional :
a) Pemenuhan cairan (input) dan koreksi terhadap kekurangan cairan yang keluar serta deteksi dini terhadap keseimbangan cairan.
b) Cairan yang terpenuhi dapat membantu metabolisme dalam keseimbangan suhu tubuh.
c) Haluaran cairan di regulasi oleh kemampuan ginjal untuk memekatkan urine.
d) Gula, alkohol dan kafein mengandung diuretik meningkatkan produksi urine dan menyebabkan dehidrasi.
e) Kehilangan berat badan 2-5 % menunjukkan dehidrasi ringan, 5-9 % menunjukkan dehidrasi sedang.
f) Sebagai perawat melakukan fungsinya (independen) sebaik-baiknya.
c. Diagnosa keperawatan III
Gangguan rasa nyaman (kebutuhan istirahat dan tidur) sehubungan dengan peningkatan suhu tubuh.
1) Tujuan : kebutuhan rasa nyaman (istirahat dan tidur) terpenuhi
2) Kriteria hasil :
a) Klien dapat/mampu mengekspresikan kemampuan untuk istirahat dan tidur.
b) Kebutuhan istirahat dan tidur tidak terganggu.
3) Rencana tindakan
a) Pertahankan tempat tidur yang hangat dan bersih dan nyaman.
b) Kebersihan diri (cuci mulut, gosok gig, mandi sebagian)
c) Mengkaji rutinitas istirahat dan tidur klien sebelum dan sesudah masuk rumah sakit.
d) Kurangi atau hilangkan distraksi lingkungan atau kebisingan.
e) Batasi pengunjung selama peroide istirahat dan tidur.
f) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi (antipiretik).
4) Rasional :
a) Tempat tidur yang nyaman dapat memberi kenyamanan dalam masa istirahat klien.
b) Kebersihan diri juga dapat memberikan rasa nyaman dan dapat membantu kenyamanan klien dalam istirahat dan tidur.
c) Dapat memantau gangguan pola tidur dan istirahat yang dirasakan.
d) Lingkungan yang tidak tenang, bagi klien akan cepat menambah beban atau penderitaannya.
e) Pengunjung yang banyak akan mengganggu istirahat dan tidur klien.
f) Antipiretik dapat menurunkan suhu yang tinggi sehingga kebutuhan istirahat dan tidur klien terpenuhi atau gangguan yang selama ini dialami akan berkurang.
d. Diagnosa keperawatan IV
Cemas sehubungan dengan kurangnya pengetahuan klien tentang penyakitnya.
1) Tujuan : cemas berkurang atau hilang
2) Kriteria hasil :
a) Klien mengerti tentang penyakitnya, kecemasan hilang atau berkurang.
b) Klien menerima akan keadaan penyakit yang dideritanya.
3) Rencana tindakan
a) Beri penjelasan pada klien tentang penyakitnya
b) Kaji tingkat kecemasan klien
c) Dampingi klien terutama saat-saat cemas.
d) Tempatkan pada ruangan yang tenang, kurangi kontak dengan orang lain, klien lain dan keluarga yang menimbulkan cemas.
4) Rasional :
a) Klien mengerti dan merespon dari penjelasan secara kooperatif.
b) Dapat memberi gambaran yang jelas apa yang menjadi alternatif tindakan yang direncanakan.
c) Klien merasa diperhatikan dan dapat menurunkan tingkat kecemasan.
d) Dengan ruangan yang tenang dapat mengurangi kecemasannya
e. Diagnosa keperawatan V
Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan pemasangan infus.
1) Tujuan : tidak terjadi infeksi pada daerah pemasangan infus.
2) Kriteria hasil :
a) Tidak terdapat tanda-tanda infeksi
b) Infeksi tidak terjadi.
3) Rencana tindakan
a) Beri penjelasan pada klien dan keluarga tentang tanda-tanda infeksi.
b) Mengganti atau merawat daerah pemasangan infus.
c) Lakukan pemasangan infus secara steril dan jangan lupa mencuci tangan sebelum dan sesudah pemasangan.
d) Cabut infus bila terdapat pembengkakan atau plebitis.
e) Observasi tanda-tanda vital dan tand-tanda infeksi di daerah pemasangan infus.
4) Rasional :
a) Klien dapat mengetahui tanda-tanda infeksi dn melaporkan segera bila terasa sakit di daerah pemasangan infus.
b) Mencegah terjadinya infeksi karena pemasangan infus yang lama.
c) Dengan cara steril adalah tindakan preventif terhadap kemungkinan terjadinya infeksi.
d) Mencegah atau menghindari kondisi yang lebih buruk lagi akibat infeksi.
e) Dengan observasi yang dilakukan akan dapat mengetahui secara dini gejala atau tanda-tanda infeksi dan keadaan umum klien.
f. Diagnosa keperawatan VI
Potensial terjadi gangguan integritas kulit sehubungan dengan peningkatan suhu tubuh
1) Tujuan : tidak terjadi gangguan intregitas kulit.
2) Kriteria hasil :
a) Tidak terdapat tanda-tanda gangguan integritas kulit (kemerahan, lecet).
b) Tidak terjadi luka lecet.
3) Rencana tindakan
a) Tingkatkan latihan rentang gerak dan mengangkat berat badan jika mungkin.
b) Ubah posisi tubuh tiap 2 jam sekali.
c) Anjurkan menjaga kulit tetap bersih dan kering.
d) Jaga suhu dan kelembaban lingkungan yang berlebihan.
4) Rasional :
a) Memperbaiki sirkulasi darah dan mengurangi penekanan yang berlebihan .
b) Merubah posisi tidur dapat memperbaiki sirkulasi darah dan mengurangi penekanan yang berlebihan di daerah yang menonjol.
c) Menjaga kulit tetap bersih dan kering dapat mengurangi masuknya penyakit yang menyebabkan infeksi.
d) Panas tubuh / demam dengan kelembaban lingkungan yang baik akan turun sesuai keadaan lingkungannya serta dapat mencegah terjadinya infeksi.
3. Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan kepada perawat untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Adapun tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan meliputi peningkatan kesehatan atau pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dari fasilitas yang dimiliki.
Perencanaan tindakan keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan baik jika klien mempunyai keinginan untuk berpartisiasi dalam pelaksanaan tindakan keperawatan. Selama perawatan atau pelaksanaan perawat terus melakukan pengumpulan data dan memilih tindakan perawatan yang paling sesuai dengan kebutuhan klien. dan meprioritaskannya. Semua tindakan keperawatan dicatat ke dalam format yang telah ditetapkan institusi.
4. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir proses keperewatan untuk melengkapi proses keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaan telah berhasil dicapai, melalui evaluasi memungkinkan perawatan untuk memonitor kealpaan yang terjadi selama tahap pengkajian, analisa perencanaan dan pelaksanaan tindakan. Meskipun tahap evaluasi diletakkan pada akhir proses keperawatan , tetapi evaluasi merupakan bagian integral pada setiap tahap proses keperawatan. Diagnosa juga perlu dievaluasi untuk menentukan apakah realistik dapat dicapai dan efektif.
DAFTAR PUSTAKA:
Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I, Edisi Ketiga, Media Aesculapius, FKUI, 1999. Jakarta.
Pemeriksaan Klinis, Pedoman Diagnostik Fisik. Nicholas J. Talley, Simon O’Connor, Binaruoam Akasara, 1994.
Buku Ajar Penyakit Dalam, Jilid I, Edisi Ketiga, Balai Penerbit FKUI, 1996. Jakarta.
Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Doenges, Marilynn E, dkk, EGC, Jakarta, 2000.
1. Pengertian
Typhus abdominalis merupakan infeksi akut yang terjadi pada usus halus. Sinonim dari typhus abdominalis adalah demam typhoid, typhoid dan para typhoid dan enteric fever.
2. Etiologi
Typhus abdominalis disebabkan oleh salmonella typhi, salmonella paratyphi A, salmonella paratyphi B dan salmonella paratyphi C.
3. Insiden
Di daerah endemic typhoid, insiden tertinggi pada anak-anak. Orang dewasa sering mengalami infeksi yang sembuh sendiri dan dapat menjadi kebal. Insiden 70 – 80 % pada usia 12 – 30 tahun, 10 –2- % pada usia 30 – 40 tahun, dan 5 – 10 % pada usia di atas 40 tahun, sedangkan insiden jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan yang jelas.
4. Gambaran Klinis
Masa tunas typhus abdominalis 10 –14 hari. Gejala-gejala yang timbul bervariasi, dalam minggu pertama penyakit keluhan dan gejala serupa dengan infeksi akut seperti demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak pada perut, batuk dan epistaksis. Pada minggu kedua gejala lebih jelas berupa demam, bradikardi relatif, lidah yang khas (kotor ditengah, tepi dan ujung merah dan tremor), hepatomegali, splenomegali, meteorismus, gangguan mental berupa samnolen, stupor, koma, delirium atau psikis.
5. Patogenesis dan Patofisiologi
Penularan salmonella typhi terjadi melalui mulut oleh makanan yang tercemar. Sebagian kuman mati oleh asam lambung dan sebagian masuk ke usus halus mencapai jaringan limfoid lalu berkembang biak, kuman kemudian masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikoloendotealial hati, limpa dan organ-organ lain. Diduga proses ini terjadi proses tunas, yang berakhir dengan pelepasan kuman ke peredaran darah dan menimbulkan bakterimia ke–2 kalinya. Kuman kemudian masuk ke organ tubuh terutama limpa, usus dan kandung empedu. Semula demam diduga karena gejala toksemia dari typhoid, yang disebabkan indotoksemia tapi dari penelitian ekspremental dapat disimpulkan indotoksemia bukan penyebab utama demam dan gejala-gejala toksemia pada typhoid. Indotoksin salmonella typhi berperan pada patogenesis typhoid karena membantu terjadinya proses inflamasi local. Demam typhoid disesbkan karena salmonella typhi dan indotoksin merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.
6. Laboratorium
a. Leukosit : Leukopenia dan limfositosis relatif
b. Reaksi widal :
• Agglutinin O : rangsangan oleh antigen O (dari tubuh kuman)
• Agglutinin H : rangsangan oleh antigen H (dari tubuh flagel kuman)
• Agglutinin VI : rangsangan oleh antigen VI (dari tubuh simpai kuman)
7. Komplikasi
1) Komplikasi interstinal
a. Perdarahan usus
b. Perforasi usus
c. Ileus paralitik
2) Komplikasi ekstra-interstinal
a. Komplikasi kardiovaskular: kegagalan sirkulasi perifer (rejatan sepsis), miokarditis, trombosis dan tromboplebitis.
b. Komplikasi darah: anemia haemolitik, trombositopenia dan sindrom uremia haemolitik.
c. Komplikasi paru: pneumonia, empiema dan pleuritis.
d. Komplikasi hepar: hepatitis dan koleksitis.
e. Komplikasi ginjal: glomerolonefritis, pyelonofretis dan perinefritis.
f. Komplikasi tulang: osteomielitis, periosstitis, spondalitis dan arthritis.
g. Komplikasi syaraf: delerium, meningismus, meningitis.
h. Komplikasi psikiatrik : sindroma katatonia.
8. Penatalaksanaan
a. Perawatan
Dirawat di rumah sakit untuk diisolasi, observasi dan pengobatan penderita tirah baring absolut 7 – 14 hari bebas kuman, untuk mencegah komplikasi dan mobilisasi dilakukan secara bertahap, defekasi dan buang air kecil perlu diperhatikan.
b. Diet
Untuk diet awal pasien diberi bubur saring, kemudian bubur kasar, nasi lembik dan akhirnya nasi biasa sesuai kesembuhan penderita. Hal ini untuk menghindari komplikasi.
c. Pengobatan
1) Kloramfenikol
Dosis 4 x 500 mg/hari sampai 7 hari bebas kuman. Demam dapat turun rata-rata setelah 5 hari.
2) Tiamfenikol
Dosis sama dengan kloramfenikol dan demam turun kurang lebih 5 – 6 hari.
3) Kotrimoksazol
Efektivitas hampir sama dengan kloramfenikol, dosis dewasa 2 x 2 tab/hari sampai bebas kuman, demam turun kurang lebih 5 – 6 hari.
4) Ampicillin dan Amoxillin
Efektivitas lebih kecil dari kloramfenikol, dosis antara 75 – 150 mg/kg/BB, demam turun kurang lebih 7 – 9 hari.
d. Pencegahan
1) Usaha terhadap lingkungan hidup
• Penyediaan air minum yang memenuhi syarat
• Pembuangan kotoran manusia yang higienis
• Pemberantasan lalat
• Pengentasan terhadap rumah-rumah makan dan penjual makanan
2) Usaha terhadap individu
• Imunisasi
• Menemukan dan mengawasi carrier typhoid
• Pendidikan kesehatan kepada masyarakat
9. Prognosis
Prognosis tergantung pada umur, keadaan umum, derajat kekebalan penderita, jumlah dan virulensi salmonella, serta cepat dan tepat pengobatan.
KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Pengumpulan data
1) Identitas klien
Meliputi nama,, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, suku/bangsa, agama, status perkawinan, tanggal masuk rumah sakit, nomor register dan diagnosa medik.
2) Keluhan utama
Keluhan utama demam tifoid adalah panas atau demam yang tidak turun-turun, nyeri perut, pusing kepala, mual, muntah, anoreksia, diare serta penurunan kesadaran.
3) Riwayat penyakit sekarang
Peningkatan suhu tubuh karena masuknya kuman salmonella typhi ke dalam tubuh.
4) Riwayat penyakit dahulu
Apakah sebelumnya pernah sakit demam tifoid.
5) Riwayat penyakit keluarga
Apakah keluarga pernah menderita hipertensi, diabetes melitus.
6) Riwayat psikososial dan spiritual
Biasanya klien cemas, bagaimana koping mekanisme yang digunakan. Gangguan dalam beribadat karena klien tirah baring total dan lemah.
7) Pola-pola fungsi kesehatan
a) Pola nutrisi dan metabolisme
Klien akan mengalami penurunan nafsu makan karena mual dan muntah saat makan sehingga makan hanya sedikit bahkan tidak makan sama sekali.
b) Pola eliminasi
Eliminasi alvi. Klien dapat mengalami konstipasi oleh karena tirah baring lama. Sedangkan eliminasi urine tidak mengalami gangguan, hanya warna urine menjadi kuning kecoklatan. Klien dengan demam tifoid terjadi peningkatan suhu tubuh yang berakibat keringat banyak keluar dan merasa haus, sehingga dapat meningkatkan kebutuhan cairan tubuh.
c) Pola aktivitas dan latihan
Aktivitas klien akan terganggu karena harus tirah baring total, agar tidak terjadi komplikasi maka segala kebutuhan klien dibantu.
d) Pola tidur dan istirahat
Pola tidur dan istirahat terganggu sehubungan peningkatan suhu tubuh.
e) Pola persepsi dan konsep diri
Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan penyakitnya dan ketakutan merupakan dampak psikologi klien.
f) Pola sensori dan kognitif
Pada penciuman, perabaan, perasaan, pendengaran dan penglihatan umumnya tidak mengalami kelainan serta tidak terdapat suatu waham pad klien.
g) Pola hubungan dan peran
Hubungan dengan orang lain terganggu sehubungan klien di rawat di rumah sakit dan klien harus bed rest total.
h) Pola reproduksi dan seksual
Gangguan pola ini terjadi pada klien yang sudah menikah karena harus dirawat di rumah sakit sedangkan yang belum menikah tidak mengalami gangguan.
i) Pola penanggulangan stress
Biasanya klien sering melamun dan merasa sedih karena keadaan sakitnya.
j) Pola tatanilai dan kepercayaan
Dalam hal beribadah biasanya terganggu karena bedrest total dan tidak boleh melakukan aktivitas karena penyakit yang dideritanya saat ini.
8) Pemeriksaan fisik
a) Keadaan umum
Didapatkan klien tampak lemah, suhu tubuh meningkat 38 – 410 C, muka kemerahan.
b) Tingkat kesadaran
Dapat terjadi penurunan kesadaran (apatis).
c) Sistem respirasi
Pernafasan rata-rata ada peningkatan, nafas cepat dan dalam dengan gambaran seperti bronchitis.
d) Sistem kardiovaskuler
Terjadi penurunan tekanan darah, bradikardi relatif, hemoglobin rendah.
e) Sistem integumen
Kulit kering, turgor kullit menurun, muka tampak pucat, rambut agak kusam
f) Sistem gastrointestinal
Bibir kering pecah-pecah, mukosa mulut kering, lidah kotor (khas), mual, muntah, anoreksia, dan konstipasi, nyeri perut, perut terasa tidak enak, peristaltik usus meningkat.
g) Sistem muskuloskeletal
Klien lemah, terasa lelah tapi tidak didapatkan adanya kelainan.
h) Sistem abdomen
Saat palpasi didapatkan limpa dan hati membesar dengan konsistensi lunak serta nyeri tekan pada abdomen. Pada perkusi didapatkan perut kembung serta pada auskultasi peristaltik usus meningkat.
9) Pemeriksaan penunjang
a) Pemeriksaan darah tepi
Didapatkan adanya anemi oleh karena intake makanan yang terbatas, terjadi gangguan absorbsi, hambatan pembentukan darah dalam sumsum dan penghancuran sel darah merah dalam peredaran darah. Leukopenia dengan jumlah lekosit antara 3000 – 4000 /mm3 ditemukan pada fase demam. Hal ini diakibatkan oleh penghancuran lekosit oleh endotoksin. Aneosinofilia yaitu hilangnya eosinofil dari darah tepi. Trombositopenia terjadi pada stadium panas yaitu pada minggu pertama. Limfositosis umumnya jumlah limfosit meningkat akibat rangsangan endotoksin. Laju endap darah meningkat.
b) Pemeriksaan urine
Didaparkan proteinuria ringan ( < 2 gr/liter) juga didapatkan peningkatan lekosit dalam urine.
c) Pemeriksaan tinja
Didapatkan adanya lendir dan darah, dicurigai akan bahaya perdarahan usus dan perforasi.
d) Pemeriksaan bakteriologis
Diagnosa pasti ditegakkan apabila ditemukan kuman salmonella dan biakan darah tinja, urine, cairan empedu atau sumsum tulang.
e) Pemeriksaan serologis
Yaitu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin ). Adapun antibodi yang dihasilkan tubuh akibat infeksi kuman salmonella adalah antobodi O dan H. Apabila titer antibodi O adalah 1 : 20 atau lebih pada minggu pertama atau terjadi peningkatan titer antibodi yang progresif (lebih dari 4 kali). Pada pemeriksaan ulangan 1 atau 2 minggu kemudian menunjukkan diagnosa positif dari infeksi Salmonella typhi.
f) Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan ini untuk mengetahui apakah ada kelainan atau komplikasi akibat demam tifoid.
b. Analisa data
Data yang sudah terkumpul dikelompokkan dan dianalisis untuk menentukan masalah klien. Untuk mengelompokkan data ini dilihat dari jenis data yang meliputi data subyek dan dan data obyek. Data subyek adalah data yang diambil dari ungkapan klien atau keluarga klien sedangkan data obyek adalah data yang didapat dari suatu pengamatan atau pendapat yang digunakan untuk menentukan diagnosis keperawatan. Data tersebut juga bisa diperoleh dari keadaan klien yang tidak sesuai dengan standart kriteria yang sudah ada. Untuk perawat harus jeli dan memahami tentang standart keperawatan sebagai bahan perbandingan apakah keadaan kesehatan klien sesuai tidak dengan standart yang sudah ada. (Lismidar, 1990)
c. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan suatu pernyataan yang jelas tentang masalah kesehatan klien yang dapat diatasi dengan tindakan keperawatan. Diagnosa keperawatan ditetapkan berdasarkan analisa dan interpretasi data yang diperoleh dari pengkajian data. Demam menggambarkan tentang masalah kesehatan yang nyata atau potensial dan pemecahannya membutuhkan tindakan keperawatan sebagai masalah klien yang dapat ditanggulangi. (Lismidar, 1990)
Dari analisa data yang diperoleh maka diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus demam tifoid dengan masalah peningkatan suhu tubuh adalah sebagai berikut.
1) Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan proses infeksi kuman Salmonella typhi
2) Gangguan keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan) sehubungan dengan pengeluaran cairan yang berlebihan.
3) Gangguan rasa nyaman (kebutuhan tidur dan istirahat) sehubungan dengan peningkatan suhu tubuh.
4) Kecemasan sehubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.
5) Potensial terjadinya gangguan intregitas kulit sehubungan dengan peningkatan suhu tubuh.
6) Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan pemasangan infus.
2. Perencanaan
Pada tahap perencanaan ini meliputi penentuan prioritas diagnosa keperawatan, menetapkan tujuan dan kriteria hasil, merumuskan rencana tindakan dan mengemukakan rasional dari rencana tindakan. Setelah itu dilakukan pendokumentasian diagnosa aktual atau potensial, kriteria hasil dan rencana tindakan. ( Lismidar, 1990 : 34&44)
Rencana keperawatan yang digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan klien pada dasarnya sesuai dengan masalah yang ditemukan pada klien dengan demam tifoid dan hal ini sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah ada. Perencanaan berisi suatu tujuan pelayanan keperawatan dan rencana tindakan yang akan digunakan itu untuk mencapai tujuan, kriteria hasil dan rasionalisai berdasarkan susunan diagnosa keperawatan diatas, maka perencanaan yang dibuat sebagai berikut :
a. Diagnosa keperawatan I
Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan proses infeksi
1) Tujuan : suhu tubuh turun sampai batas normal
2) Kriteria hasil :
a) Suhu tubuh dalam batas normal 36 – 37 0 C
b) Klien bebas demam
3) Rencana tindakan
a) Bina hubungan baik dengan klien dan keluarga
b) Berikan kompres dingin dan ajarkan cara untuk memakai es atau handuk pada tubu, khususnya pada aksila atau lipatan paha.
c) Peningkatan kalori dan beri banyak minuman (cairan)
d) Anjurkan memakai baju tipis yang menyerap keringat.
e) Observasi tanda-tanda vital terutama suhu dan denyut nadi
f) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat-obatan terutama anti piretik.
4) Rasional
a) Dengan hubungan yang baik dapat meningkatkan kerjasama dengan klien sehingga pengobatan dan perawatan mudah dilaksanakan.
b) Pemberian kompres dingin merangsang penurunan suhu tubuh.
c) Air merupakan pangatur suhu tubuh. Setiap ada kenaikan suhu melebihi normal, kebutuhan metabolisme air juga meningkat dari kebutuhan setiap ada kenaikan suhu tubuh.
d) Baju yang tipis akan mudah untuk menyerap keringat yang keluar.
e) Observasi tanda-tanda vital merupakan deteksi dini untuk mengetahui komplikasi yang terjadi sehingga cepat mengambil tindakan
f) Pemberian obat-obatan terutama antibiotik akan membunuh kuman Salmonella typhi sehingga mempercepat proses penyembuhan sedangkan antipiretik untuk menurunkan suhu tubuh.
b. Diagnosa keperawatan II
Gangguan keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan) sehubungan dengan pengeluaran cairan yang berlebihan.
1) Tujuan : kekurangan
2) Kriteria hasil :
a) Mukosa mulut dan bibir tetap basah, turgor kulit normal.
b) Tanda-tanda vital ( suhu, nadi, tekanan darah, pernafasan) dalam batas normal.
3) Rencana tindakan
a) Monitor intake atau output tiap 6 jam
b) Beri cairan (minum banyak 2 – 3 liter perhari) dan elektrolit setiap hari.
c) Masukan cairan diregulasi pertama kali karena adanya rasa haus.
d) Hindarkan sebagian besar gula alkohol, kafein.
e) Timbang berat badan secara efektif.
f) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian cairan secara intravena.
4) Rasional :
a) Pemenuhan cairan (input) dan koreksi terhadap kekurangan cairan yang keluar serta deteksi dini terhadap keseimbangan cairan.
b) Cairan yang terpenuhi dapat membantu metabolisme dalam keseimbangan suhu tubuh.
c) Haluaran cairan di regulasi oleh kemampuan ginjal untuk memekatkan urine.
d) Gula, alkohol dan kafein mengandung diuretik meningkatkan produksi urine dan menyebabkan dehidrasi.
e) Kehilangan berat badan 2-5 % menunjukkan dehidrasi ringan, 5-9 % menunjukkan dehidrasi sedang.
f) Sebagai perawat melakukan fungsinya (independen) sebaik-baiknya.
c. Diagnosa keperawatan III
Gangguan rasa nyaman (kebutuhan istirahat dan tidur) sehubungan dengan peningkatan suhu tubuh.
1) Tujuan : kebutuhan rasa nyaman (istirahat dan tidur) terpenuhi
2) Kriteria hasil :
a) Klien dapat/mampu mengekspresikan kemampuan untuk istirahat dan tidur.
b) Kebutuhan istirahat dan tidur tidak terganggu.
3) Rencana tindakan
a) Pertahankan tempat tidur yang hangat dan bersih dan nyaman.
b) Kebersihan diri (cuci mulut, gosok gig, mandi sebagian)
c) Mengkaji rutinitas istirahat dan tidur klien sebelum dan sesudah masuk rumah sakit.
d) Kurangi atau hilangkan distraksi lingkungan atau kebisingan.
e) Batasi pengunjung selama peroide istirahat dan tidur.
f) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi (antipiretik).
4) Rasional :
a) Tempat tidur yang nyaman dapat memberi kenyamanan dalam masa istirahat klien.
b) Kebersihan diri juga dapat memberikan rasa nyaman dan dapat membantu kenyamanan klien dalam istirahat dan tidur.
c) Dapat memantau gangguan pola tidur dan istirahat yang dirasakan.
d) Lingkungan yang tidak tenang, bagi klien akan cepat menambah beban atau penderitaannya.
e) Pengunjung yang banyak akan mengganggu istirahat dan tidur klien.
f) Antipiretik dapat menurunkan suhu yang tinggi sehingga kebutuhan istirahat dan tidur klien terpenuhi atau gangguan yang selama ini dialami akan berkurang.
d. Diagnosa keperawatan IV
Cemas sehubungan dengan kurangnya pengetahuan klien tentang penyakitnya.
1) Tujuan : cemas berkurang atau hilang
2) Kriteria hasil :
a) Klien mengerti tentang penyakitnya, kecemasan hilang atau berkurang.
b) Klien menerima akan keadaan penyakit yang dideritanya.
3) Rencana tindakan
a) Beri penjelasan pada klien tentang penyakitnya
b) Kaji tingkat kecemasan klien
c) Dampingi klien terutama saat-saat cemas.
d) Tempatkan pada ruangan yang tenang, kurangi kontak dengan orang lain, klien lain dan keluarga yang menimbulkan cemas.
4) Rasional :
a) Klien mengerti dan merespon dari penjelasan secara kooperatif.
b) Dapat memberi gambaran yang jelas apa yang menjadi alternatif tindakan yang direncanakan.
c) Klien merasa diperhatikan dan dapat menurunkan tingkat kecemasan.
d) Dengan ruangan yang tenang dapat mengurangi kecemasannya
e. Diagnosa keperawatan V
Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan pemasangan infus.
1) Tujuan : tidak terjadi infeksi pada daerah pemasangan infus.
2) Kriteria hasil :
a) Tidak terdapat tanda-tanda infeksi
b) Infeksi tidak terjadi.
3) Rencana tindakan
a) Beri penjelasan pada klien dan keluarga tentang tanda-tanda infeksi.
b) Mengganti atau merawat daerah pemasangan infus.
c) Lakukan pemasangan infus secara steril dan jangan lupa mencuci tangan sebelum dan sesudah pemasangan.
d) Cabut infus bila terdapat pembengkakan atau plebitis.
e) Observasi tanda-tanda vital dan tand-tanda infeksi di daerah pemasangan infus.
4) Rasional :
a) Klien dapat mengetahui tanda-tanda infeksi dn melaporkan segera bila terasa sakit di daerah pemasangan infus.
b) Mencegah terjadinya infeksi karena pemasangan infus yang lama.
c) Dengan cara steril adalah tindakan preventif terhadap kemungkinan terjadinya infeksi.
d) Mencegah atau menghindari kondisi yang lebih buruk lagi akibat infeksi.
e) Dengan observasi yang dilakukan akan dapat mengetahui secara dini gejala atau tanda-tanda infeksi dan keadaan umum klien.
f. Diagnosa keperawatan VI
Potensial terjadi gangguan integritas kulit sehubungan dengan peningkatan suhu tubuh
1) Tujuan : tidak terjadi gangguan intregitas kulit.
2) Kriteria hasil :
a) Tidak terdapat tanda-tanda gangguan integritas kulit (kemerahan, lecet).
b) Tidak terjadi luka lecet.
3) Rencana tindakan
a) Tingkatkan latihan rentang gerak dan mengangkat berat badan jika mungkin.
b) Ubah posisi tubuh tiap 2 jam sekali.
c) Anjurkan menjaga kulit tetap bersih dan kering.
d) Jaga suhu dan kelembaban lingkungan yang berlebihan.
4) Rasional :
a) Memperbaiki sirkulasi darah dan mengurangi penekanan yang berlebihan .
b) Merubah posisi tidur dapat memperbaiki sirkulasi darah dan mengurangi penekanan yang berlebihan di daerah yang menonjol.
c) Menjaga kulit tetap bersih dan kering dapat mengurangi masuknya penyakit yang menyebabkan infeksi.
d) Panas tubuh / demam dengan kelembaban lingkungan yang baik akan turun sesuai keadaan lingkungannya serta dapat mencegah terjadinya infeksi.
3. Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan kepada perawat untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Adapun tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan meliputi peningkatan kesehatan atau pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dari fasilitas yang dimiliki.
Perencanaan tindakan keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan baik jika klien mempunyai keinginan untuk berpartisiasi dalam pelaksanaan tindakan keperawatan. Selama perawatan atau pelaksanaan perawat terus melakukan pengumpulan data dan memilih tindakan perawatan yang paling sesuai dengan kebutuhan klien. dan meprioritaskannya. Semua tindakan keperawatan dicatat ke dalam format yang telah ditetapkan institusi.
4. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir proses keperewatan untuk melengkapi proses keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaan telah berhasil dicapai, melalui evaluasi memungkinkan perawatan untuk memonitor kealpaan yang terjadi selama tahap pengkajian, analisa perencanaan dan pelaksanaan tindakan. Meskipun tahap evaluasi diletakkan pada akhir proses keperawatan , tetapi evaluasi merupakan bagian integral pada setiap tahap proses keperawatan. Diagnosa juga perlu dievaluasi untuk menentukan apakah realistik dapat dicapai dan efektif.
DAFTAR PUSTAKA:
Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I, Edisi Ketiga, Media Aesculapius, FKUI, 1999. Jakarta.
Pemeriksaan Klinis, Pedoman Diagnostik Fisik. Nicholas J. Talley, Simon O’Connor, Binaruoam Akasara, 1994.
Buku Ajar Penyakit Dalam, Jilid I, Edisi Ketiga, Balai Penerbit FKUI, 1996. Jakarta.
Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Doenges, Marilynn E, dkk, EGC, Jakarta, 2000.
ASKEP UVEITIS
09:50
1. GANGGUAN TRAKTUS UVEA
Traktus uvea, yang terdiri dari iris, badan siliaris, dan khoroid, bisa menderita karena penyakit sistemik maupun infeksi. Diabetes menyebabkan neovaskularisasi pada iris, yang akan tanpa sebagai pembuluh darah yang berkelok-kelok (rubeosis irides). Juga ada kelainan kongenital traktur uvea; tidak mempunyai iris sama sekali (aniridia) atau sebagian (koloboma), tidak ada sebagian lapisan khoroid, dan perbedaan warna merupakan beberapa contoh.
2. DEFINISI
Uveitis adalah inflamasi salah satu struktur traktus uvea. Karena uvea mengandung banyak pembuluh darah yang memberi nutrisi mata dan karena membatasi bagian mata yang lain, maka inflamasi lapisan ini dapat mengancam penglihatan.
3. ETIOLOGI
Penyebab eksogen seperti trauma uvea atau invasi mikroorganisme atau agen lain dari luar. Secara endogen, dapat disebabkan idiopatik, autoimun, keganasan, mikroorganisme, atau agen lain dari dalam tubuh pasien, misalnya infeksi tuberkulosis, Herpes simpleks, dan sebagainya.
4. PATOFISIOLOGI
Reaksi imunologi terhadap jaringan uvea.
5. KOMPLIKASI
Sinekia posterior dan sinekia anterior perifer dapat mengakibatkan glaukoma sekunder.
6. MANIFESTASI KLINIS & PENATALAKSANAAN
Uveitis anterior kronis (iritis) merupakan jenis yang paling sering, dan ditandai dengan riwayat nyeri, fotofobia, pandangan kabur, dan mata merah. Obat tetes mata dilator harus diberikan segera untuk mencegah pembentukan jaringan parut dan adesi ke lensa (sinekia), yang dapat menyebabkan glaukoma dengan menghambat aliran keluar aqueous. Kortikosteroid lokal dipergunakan untuk mengurangi peradangan, dan kaca mata hitam dan penatalaksanaannyeri dapat memberikan pengurangan gejala.
Uveitis intermediat (pars planis, siklitis kronis) ditandai dengan: floating spot” dalam lapang pandang. Diberikan steroid topikal atau injeksi untuk kasus berat.
Uveitis posterior (peradangan yang mengenai khoroid atau retina) biasanya berhubungan dengan berbagai macam penyakit sistemik, seperti AIDS, herpes simpleks atau zoster, toksoplasmosis, tuberkulosis, atau sarkoidosis. Klien mengeluh penurunan atau distorsi penglihatan ada kemerahan dan nyeri. Kortikosteroid sistemik diindikasikan untuk mengurangi peradangan bersama dengan terapi terhadap keadaan sistemik yang mendasarinya.
7. BANTUAN DIAGNOSTIK
Lapang pandang dan ketajaman penglihatan
8. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Riwayat nyeri,
Fotofobia,
Pandangan kabur, mengeluh penurunan atau distorsi penglihatan,
Mata merah
Floating spot” dalam lapang pandang,
9. LATAR BELAKANG YANG BERHUBUNGAN
Berbagai macam penyakit sistemik, seperti:
Diabetes Mellitus,
AIDS,
Herpes simpleks atau zoster,
Toksoplasmosis,
Tuberkulosis, atau
Sarkoidosis
10. DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
DK: Perubahan persepsi sensori yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan.
Intervensi:
1) Perkenalkan klien dengan lingkungan sekitarnya.
a. Tempatkan seluruh peralatan makan dan barang pribadi dalam jangkauan yang mudah di raih dan pertahankan penempatan konsisten.
b. Gunakan indra sentuhan dan pendengaran klien selama orientasi.
c. Jelaskan lokasi pintu, jendela, perabot rumah, kamar mandi dan klien lainnya.
2) Buat komunikasi yang efektif
a. Selalu identifikasi sewaktu mendekati atau menyentuh klien.
b. Panggil nama klien.
c. Jelaskan kunjungan dan kunjungan yang berulang kali, khususnya pada malam hari.
d. Gunakan alat bantu penglihatan.
3) Dorong dan bantu dalam kemandirian
a. Jelaskan posisi tempat makanan dan siapkan makanan jika perlu, gunakan urutan waktu (contoh makan nasi arah jam 6, buah pada jam 10, susu pada jam 1), bantuan hanya jika dibutuhkan
4) Mulai prosedur perawatan jika di toleransi
5) Kurangi bantuan setiap saat
Hasil yang diharapkan/evaluasi:
Klien melaksanakan perawatan diri dalam batasan kerusakan.
Klien berkomunikasi secara efektif menggunakan keterampilan yang dipelajari.
DK: Potensial cidera, trauma yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan.
Intervensi:
1) Pertahankan keamanan lingkungan.
a. Pertahankan keamanan pada pagar tempat tidur selama klien tidur.
b. Pertahankan tempat tidur pada posisi rendah.
c. Pertahankan pintu benar dalam keadaan terbuka atau tertutup.
2) Dorong klien untuk memanggil perawat sebelum ambulasi, bantu dengan jalan berdiri pada sisi yang dipengaruhi.
3) Instruksikan untuk menghindari penggunaan benda-benda tajam seperti pisau cukur, gunting dan kaca tanpa pengawasan.
Hasil yang diharapkan/evaluasi:
Klien mendemonstrasikan kemampuan untuk melaksanakan aktivitas dalam cara yang aman.
Klien mengungkapkan pemahaman tentang pembatasan yang dibutuhkan.
DK: Ansietas yang berhubungan dengan tingkat kerusakan penglihatan
Intervensi:
1) Kaji tingkat ansietas dan penanganan yang normal.
2) Dorong dan sediakan untuk mengungkapkan perasaan.
3) Jelaskan rencana perawatan dan prosedur setiap hari.
4) Biarkan klien berada dalam kemandirian sebanyak mungkin jika keamanan memungkinkan.
5) Identifikasi dan per kuat penggunaan dari mekanisme penanganan adaptif.
6) Tunjukkan sikap dan perhatian yang tenang.
7) Berikan aktivitas pengalihan.
Hasil yang diharapkan/evaluasi:
Klien mengidentifikasi faktor penyebab dari ansietas.
Klien menerima pembatasan dan mencari cara-cara untuk menggunakan sisa penglihatan.
Klien mencari bantuan yang sesuai.
DK: Gangguan citra diri yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan.
Intervensi:
1) Diskusikan dengan klien dan orang terdekat tentang alternatif dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari.
2) Kaji mekanisme penanganan sebelumnya yang telah berhasil.
3) Sediakan waktu untuk klien mengungkapkan perasaan.
4) Berikan lingkungan yang tenang dan memfasilitasi.
5) Diskusikan tujuan jangka pendek dan nyata.
6) Berikan penghargaan dan dorongan.
7) Tingkatkan dukungan melalui orang terdekat.
8) Bantu klien dalam diskusi dan penerimaan perubahan ketajaman penglihatan.
9) Dorong kemandirian jika di toleransi.
10) Dorong penggunaan indera lain: sentuhan, penciuman, pendengaran.
Hasil yang diharapkan/evaluasi:
Klien mendemonstrasikan respons adaptif terhadap perubahan citra diri.
Ke mengekspresikan kesadaran tentang perubahan dan perkembangan ke arah penerimaan.
DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Marilynn E. Et al. 1999, Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Mansjoer, Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran edisi Ketiga, jilid 1. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran
Smeltzer, Suzanne C. Buku Ajar Medikal-Bedah Brunner & Suddarth; alih bahasa, Agung Waluyo ... [el al] ; editor edisi bahasa Indonesia, Monika Ester. – Ed. 8 – Jakarta: EGC, 2001
Tucker, Susan Martin et al.1999, Standar Perawatan Pasien Edisi V Vol 1, Penerbit Buku Kedokteran EGC
Traktus uvea, yang terdiri dari iris, badan siliaris, dan khoroid, bisa menderita karena penyakit sistemik maupun infeksi. Diabetes menyebabkan neovaskularisasi pada iris, yang akan tanpa sebagai pembuluh darah yang berkelok-kelok (rubeosis irides). Juga ada kelainan kongenital traktur uvea; tidak mempunyai iris sama sekali (aniridia) atau sebagian (koloboma), tidak ada sebagian lapisan khoroid, dan perbedaan warna merupakan beberapa contoh.
2. DEFINISI
Uveitis adalah inflamasi salah satu struktur traktus uvea. Karena uvea mengandung banyak pembuluh darah yang memberi nutrisi mata dan karena membatasi bagian mata yang lain, maka inflamasi lapisan ini dapat mengancam penglihatan.
3. ETIOLOGI
Penyebab eksogen seperti trauma uvea atau invasi mikroorganisme atau agen lain dari luar. Secara endogen, dapat disebabkan idiopatik, autoimun, keganasan, mikroorganisme, atau agen lain dari dalam tubuh pasien, misalnya infeksi tuberkulosis, Herpes simpleks, dan sebagainya.
4. PATOFISIOLOGI
Reaksi imunologi terhadap jaringan uvea.
5. KOMPLIKASI
Sinekia posterior dan sinekia anterior perifer dapat mengakibatkan glaukoma sekunder.
6. MANIFESTASI KLINIS & PENATALAKSANAAN
Uveitis anterior kronis (iritis) merupakan jenis yang paling sering, dan ditandai dengan riwayat nyeri, fotofobia, pandangan kabur, dan mata merah. Obat tetes mata dilator harus diberikan segera untuk mencegah pembentukan jaringan parut dan adesi ke lensa (sinekia), yang dapat menyebabkan glaukoma dengan menghambat aliran keluar aqueous. Kortikosteroid lokal dipergunakan untuk mengurangi peradangan, dan kaca mata hitam dan penatalaksanaannyeri dapat memberikan pengurangan gejala.
Uveitis intermediat (pars planis, siklitis kronis) ditandai dengan: floating spot” dalam lapang pandang. Diberikan steroid topikal atau injeksi untuk kasus berat.
Uveitis posterior (peradangan yang mengenai khoroid atau retina) biasanya berhubungan dengan berbagai macam penyakit sistemik, seperti AIDS, herpes simpleks atau zoster, toksoplasmosis, tuberkulosis, atau sarkoidosis. Klien mengeluh penurunan atau distorsi penglihatan ada kemerahan dan nyeri. Kortikosteroid sistemik diindikasikan untuk mengurangi peradangan bersama dengan terapi terhadap keadaan sistemik yang mendasarinya.
7. BANTUAN DIAGNOSTIK
Lapang pandang dan ketajaman penglihatan
8. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Riwayat nyeri,
Fotofobia,
Pandangan kabur, mengeluh penurunan atau distorsi penglihatan,
Mata merah
Floating spot” dalam lapang pandang,
9. LATAR BELAKANG YANG BERHUBUNGAN
Berbagai macam penyakit sistemik, seperti:
Diabetes Mellitus,
AIDS,
Herpes simpleks atau zoster,
Toksoplasmosis,
Tuberkulosis, atau
Sarkoidosis
10. DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
DK: Perubahan persepsi sensori yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan.
Intervensi:
1) Perkenalkan klien dengan lingkungan sekitarnya.
a. Tempatkan seluruh peralatan makan dan barang pribadi dalam jangkauan yang mudah di raih dan pertahankan penempatan konsisten.
b. Gunakan indra sentuhan dan pendengaran klien selama orientasi.
c. Jelaskan lokasi pintu, jendela, perabot rumah, kamar mandi dan klien lainnya.
2) Buat komunikasi yang efektif
a. Selalu identifikasi sewaktu mendekati atau menyentuh klien.
b. Panggil nama klien.
c. Jelaskan kunjungan dan kunjungan yang berulang kali, khususnya pada malam hari.
d. Gunakan alat bantu penglihatan.
3) Dorong dan bantu dalam kemandirian
a. Jelaskan posisi tempat makanan dan siapkan makanan jika perlu, gunakan urutan waktu (contoh makan nasi arah jam 6, buah pada jam 10, susu pada jam 1), bantuan hanya jika dibutuhkan
4) Mulai prosedur perawatan jika di toleransi
5) Kurangi bantuan setiap saat
Hasil yang diharapkan/evaluasi:
Klien melaksanakan perawatan diri dalam batasan kerusakan.
Klien berkomunikasi secara efektif menggunakan keterampilan yang dipelajari.
DK: Potensial cidera, trauma yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan.
Intervensi:
1) Pertahankan keamanan lingkungan.
a. Pertahankan keamanan pada pagar tempat tidur selama klien tidur.
b. Pertahankan tempat tidur pada posisi rendah.
c. Pertahankan pintu benar dalam keadaan terbuka atau tertutup.
2) Dorong klien untuk memanggil perawat sebelum ambulasi, bantu dengan jalan berdiri pada sisi yang dipengaruhi.
3) Instruksikan untuk menghindari penggunaan benda-benda tajam seperti pisau cukur, gunting dan kaca tanpa pengawasan.
Hasil yang diharapkan/evaluasi:
Klien mendemonstrasikan kemampuan untuk melaksanakan aktivitas dalam cara yang aman.
Klien mengungkapkan pemahaman tentang pembatasan yang dibutuhkan.
DK: Ansietas yang berhubungan dengan tingkat kerusakan penglihatan
Intervensi:
1) Kaji tingkat ansietas dan penanganan yang normal.
2) Dorong dan sediakan untuk mengungkapkan perasaan.
3) Jelaskan rencana perawatan dan prosedur setiap hari.
4) Biarkan klien berada dalam kemandirian sebanyak mungkin jika keamanan memungkinkan.
5) Identifikasi dan per kuat penggunaan dari mekanisme penanganan adaptif.
6) Tunjukkan sikap dan perhatian yang tenang.
7) Berikan aktivitas pengalihan.
Hasil yang diharapkan/evaluasi:
Klien mengidentifikasi faktor penyebab dari ansietas.
Klien menerima pembatasan dan mencari cara-cara untuk menggunakan sisa penglihatan.
Klien mencari bantuan yang sesuai.
DK: Gangguan citra diri yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan.
Intervensi:
1) Diskusikan dengan klien dan orang terdekat tentang alternatif dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari.
2) Kaji mekanisme penanganan sebelumnya yang telah berhasil.
3) Sediakan waktu untuk klien mengungkapkan perasaan.
4) Berikan lingkungan yang tenang dan memfasilitasi.
5) Diskusikan tujuan jangka pendek dan nyata.
6) Berikan penghargaan dan dorongan.
7) Tingkatkan dukungan melalui orang terdekat.
8) Bantu klien dalam diskusi dan penerimaan perubahan ketajaman penglihatan.
9) Dorong kemandirian jika di toleransi.
10) Dorong penggunaan indera lain: sentuhan, penciuman, pendengaran.
Hasil yang diharapkan/evaluasi:
Klien mendemonstrasikan respons adaptif terhadap perubahan citra diri.
Ke mengekspresikan kesadaran tentang perubahan dan perkembangan ke arah penerimaan.
DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Marilynn E. Et al. 1999, Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Mansjoer, Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran edisi Ketiga, jilid 1. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran
Smeltzer, Suzanne C. Buku Ajar Medikal-Bedah Brunner & Suddarth; alih bahasa, Agung Waluyo ... [el al] ; editor edisi bahasa Indonesia, Monika Ester. – Ed. 8 – Jakarta: EGC, 2001
Tucker, Susan Martin et al.1999, Standar Perawatan Pasien Edisi V Vol 1, Penerbit Buku Kedokteran EGC
Cegah Stroke dengan Mengenal Faktor Risikonya
10:59
Khaidirmuhaj.blogspot.com - Stroke merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Di perkirakan 2-3 juta orang di negeri ini menderita stroke. Meski stroke sering diidentikkan dengan usia lanjut, nyatanya makin banyak orang berusia awal 30 tahun yang terserang stroke. Selain dapat menyebabkan kecacatan, stroke juga bisa menimbulkan kematian.
Akan tetapi, jika Anda bersiap diri dari sekarang, Anda bisa memangksa sebagian besar faktor risiko Anda. "Penyakit ini bisa dicegah," demikian menurut dr.Sutarto Prodjo Disastro, Sp.S, ketua bidang humas dan penyuluhan Yayasan Stroke Indonesia di acara Kontrol Hidup Kontrol Kolesterol yang diadakano leh Pfizer di Jakarta.
Stroke adalah serangan otak yang timbul mendadak akibat terganggunya aliran darah karena sumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak sehingga sel-sel otak kekurangan darah, oksigen atau zat-zat makanan sehingga terjadi kematian sel dalam waktu singkat. "Kalau sudah mati, sel-sel otak tidak bisa beregenerasi atau tumbuh kembali, sehingga berhati-hatilah dengan stroke," kata Sutarto.
Pria memang memiliki risiko lebih besar terkena stroke, namun dalam beberapa dasawarsa terakhir peluangnya menjadi sama pada wanita. "Wanita cenderung lebih stres karena memiliki dua peran, yakni wanita karir dan ibu rumah tangga," kata dr. Arieska Ann Soenarto, Sp.JP (K), dari RS.Jantung Harapan Kita Jakarta.
Untuk membantu menurunkan risiko terkena stroke, cobalah lakukan pemeriksaan berikut:
- Cek tekanan darah
Banyak orang yang tidak tahu mereka mengidap hipertensi, karena penyakit ini tidak menunjukkan gejala dari luar. Periksakan tekanan darah Anda setidaknya sekali setahun karena mengendalikan hipertensi adalah hal yang tidak bisa ditawar dalam pencegahan stroke.
- Periksakan kolesterol
Banyak alasan mengapa kadar kolesterol dalam darah tinggi, termasuk di antaranya adalah pola makan, kegemukan dan kebiasaan merokok. Menurunkan kadar kolesterol sangat penting, berapa pun usia dan kondisi kesehatan Anda. Batas aman yang disarankan adalah kurang dari 160 mg/dl. Pilihlah jenis makanan dengan kandungan lemak rendah.
- Diabetes melitus
Perhatikan pula kadar gula darah Anda. "Orang yang diabetes biasanya pembuluh darahnya sangat jelek sehingga beresiko terkena penyakit jantung atau stroke," kata dr.Arieska Ann
- Sempatkan diri berolahraga
Tubuh kurang gerak menambah faktor risiko terkena stroke, tetapi olahraga sekurangnya 30 menit sehari, tiga kali seminggu, dapat membantu memangkas risiko tersebut.
- Faktor risiko lain
Yang juga merupakan faktor risiko stroke adalah usia lanjut, stres, obesitas, kebiasaan merokok, konsumsi lemak yang tinggi, dan penyakit jantung, terutama penyakit jantung dengan gejala gangguan irama jantung.
Source: Kompas.com
Akan tetapi, jika Anda bersiap diri dari sekarang, Anda bisa memangksa sebagian besar faktor risiko Anda. "Penyakit ini bisa dicegah," demikian menurut dr.Sutarto Prodjo Disastro, Sp.S, ketua bidang humas dan penyuluhan Yayasan Stroke Indonesia di acara Kontrol Hidup Kontrol Kolesterol yang diadakano leh Pfizer di Jakarta.
Stroke adalah serangan otak yang timbul mendadak akibat terganggunya aliran darah karena sumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak sehingga sel-sel otak kekurangan darah, oksigen atau zat-zat makanan sehingga terjadi kematian sel dalam waktu singkat. "Kalau sudah mati, sel-sel otak tidak bisa beregenerasi atau tumbuh kembali, sehingga berhati-hatilah dengan stroke," kata Sutarto.
Pria memang memiliki risiko lebih besar terkena stroke, namun dalam beberapa dasawarsa terakhir peluangnya menjadi sama pada wanita. "Wanita cenderung lebih stres karena memiliki dua peran, yakni wanita karir dan ibu rumah tangga," kata dr. Arieska Ann Soenarto, Sp.JP (K), dari RS.Jantung Harapan Kita Jakarta.
Untuk membantu menurunkan risiko terkena stroke, cobalah lakukan pemeriksaan berikut:
- Cek tekanan darah
Banyak orang yang tidak tahu mereka mengidap hipertensi, karena penyakit ini tidak menunjukkan gejala dari luar. Periksakan tekanan darah Anda setidaknya sekali setahun karena mengendalikan hipertensi adalah hal yang tidak bisa ditawar dalam pencegahan stroke.
- Periksakan kolesterol
Banyak alasan mengapa kadar kolesterol dalam darah tinggi, termasuk di antaranya adalah pola makan, kegemukan dan kebiasaan merokok. Menurunkan kadar kolesterol sangat penting, berapa pun usia dan kondisi kesehatan Anda. Batas aman yang disarankan adalah kurang dari 160 mg/dl. Pilihlah jenis makanan dengan kandungan lemak rendah.
- Diabetes melitus
Perhatikan pula kadar gula darah Anda. "Orang yang diabetes biasanya pembuluh darahnya sangat jelek sehingga beresiko terkena penyakit jantung atau stroke," kata dr.Arieska Ann
- Sempatkan diri berolahraga
Tubuh kurang gerak menambah faktor risiko terkena stroke, tetapi olahraga sekurangnya 30 menit sehari, tiga kali seminggu, dapat membantu memangkas risiko tersebut.
- Faktor risiko lain
Yang juga merupakan faktor risiko stroke adalah usia lanjut, stres, obesitas, kebiasaan merokok, konsumsi lemak yang tinggi, dan penyakit jantung, terutama penyakit jantung dengan gejala gangguan irama jantung.
Source: Kompas.com
Kenapa Gugup Bisa Bikin Sakit Perut?
21:51
Khaidirmuhaj.blogspot.com - Sebagian besar orang pasti pernah merasakan sakit perut saat sedang gugup, panik atau stres ketika mau tampil di muka umum atau menjelang wawancara penting. Kenapa kondisi tersebut bisa memicu sakit perut?
Kebanyakan orang yang mengalami stres secara harfiah juga merasakannya di dalam usus. Seperti dijelaskan dalam Harvard Mental Health Letter pada Agustus 2010, bahwa ada sistem saraf informal yang dikenal sebagai 'brain-gut axis' atau sumbu otak-usus diduga sebagai penyebabnya.
Pada dasarnya otak berinteraksi dengan seluruh tubuh melalui sistem saraf yang memiliki beberapa komponen utama. Salah satunya adalah sistem saraf enterik yang membantu mengatur proses pencernaan.
Dikutip dari Health.harvard.edu, Sabtu (21/8/2010) saat tubuh mengalami stres, gugup atau panik, maka proses pencernaan akan melambat atau berhenti sama sekali. Sehingga tubuh dapat memfokuskan seluruh energi internal untuk menghadapi ancaman atau gangguan psikologis tersebut. Gangguan proses pencernaan inilah yang menyebabkan timbulnya sakit perut.
Identifikasi penyebab sakit perut ini akan dikenal dengan nama perut gugup (nervous stomach). Nervous stomach adalah sumber dari adanya gangguan pada perut yang bisa disebabkan oleh stres atau gugup.
Seseorang yang sedang merasa tertekan baik oleh stres, panik atau gugup, maka otak akan melepaskan asam lebih banyak ke dalam perut. Hal inilah yang mempengaruhi adanya gangguan pada perut seperti sakit perut, perut merasa kembung, bersendawa, perut terasa perih, tiba-tiba merasa ingin buang air besar atau kecil, mual dan juga mulas.
Nervous stomach tidak bisa dikategorikan sebagai penyakit tertentu. Karena pada umumnya dokter akan menggunakan istilah ini setelah pemeriksaan diagnostik tidak bisa mengungkap apa penyebabnya dan juga setelah menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan lain.
Kondisi ini ternyata juga bisa dialami oleh anak-anak, misalnya saat anak merasa adanya tekanan dari teman sebaya atau dalam hal akademisnya seperti ketika ujian sekolah.
Dr Michael Miller selaku editor dari Harvard Mental Health Letter menjelaskan bahwa beberapa intervensi psikologis bisa dilakukan untuk mengurasi sakit perut akibat stres.
Terapi perilaku kognitif untuk mengubah stres dan merangsang pemikiran, teknik relaksasi yang diarahkan untuk menenangkan tubuh dan usus serta pikiran positif.bagai penyebabnya.
Source : HealthDetik
Kebanyakan orang yang mengalami stres secara harfiah juga merasakannya di dalam usus. Seperti dijelaskan dalam Harvard Mental Health Letter pada Agustus 2010, bahwa ada sistem saraf informal yang dikenal sebagai 'brain-gut axis' atau sumbu otak-usus diduga sebagai penyebabnya.
Pada dasarnya otak berinteraksi dengan seluruh tubuh melalui sistem saraf yang memiliki beberapa komponen utama. Salah satunya adalah sistem saraf enterik yang membantu mengatur proses pencernaan.
Dikutip dari Health.harvard.edu, Sabtu (21/8/2010) saat tubuh mengalami stres, gugup atau panik, maka proses pencernaan akan melambat atau berhenti sama sekali. Sehingga tubuh dapat memfokuskan seluruh energi internal untuk menghadapi ancaman atau gangguan psikologis tersebut. Gangguan proses pencernaan inilah yang menyebabkan timbulnya sakit perut.
Identifikasi penyebab sakit perut ini akan dikenal dengan nama perut gugup (nervous stomach). Nervous stomach adalah sumber dari adanya gangguan pada perut yang bisa disebabkan oleh stres atau gugup.
Seseorang yang sedang merasa tertekan baik oleh stres, panik atau gugup, maka otak akan melepaskan asam lebih banyak ke dalam perut. Hal inilah yang mempengaruhi adanya gangguan pada perut seperti sakit perut, perut merasa kembung, bersendawa, perut terasa perih, tiba-tiba merasa ingin buang air besar atau kecil, mual dan juga mulas.
Nervous stomach tidak bisa dikategorikan sebagai penyakit tertentu. Karena pada umumnya dokter akan menggunakan istilah ini setelah pemeriksaan diagnostik tidak bisa mengungkap apa penyebabnya dan juga setelah menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan lain.
Kondisi ini ternyata juga bisa dialami oleh anak-anak, misalnya saat anak merasa adanya tekanan dari teman sebaya atau dalam hal akademisnya seperti ketika ujian sekolah.
Dr Michael Miller selaku editor dari Harvard Mental Health Letter menjelaskan bahwa beberapa intervensi psikologis bisa dilakukan untuk mengurasi sakit perut akibat stres.
Terapi perilaku kognitif untuk mengubah stres dan merangsang pemikiran, teknik relaksasi yang diarahkan untuk menenangkan tubuh dan usus serta pikiran positif.bagai penyebabnya.
Source : HealthDetik
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PEMASANGAN W.S.D
07:39
1. DEFINISI
Adalah suatu tindakan untuk mengalirkan udara, cairan secara bertahap dari rongga pleura, dengan cara memasukkan pipa/ selang WSD.
2. ETIOLOGI
Membuang udara, cairan atau darah dari area pleura.
Mengembalikan tekanan negatif pada area pleura.
Mengembangkan kembali paru yang kolaps/ kolaps sebagian.
Mencegah reflux drainase kembali ke dalam dada.
3. SISTEM DRAINASE SELANG DADA
a. Satu Botol
Keuntungan:
- Penyusunan sederhana.
- Mudah untuk klien yang dapat jalan.
Kerugian:
- Saat drainase dada mengisi botol lebih banyak kekuatan diperlukan untuk memungkinkan udara dan cairan pleural untuk keluar dari dada masuk ke botol.
- Campuran darah drainase dan udara menimbulkan campuran busa dalam botol yang membatasi garis permukaan drainase.
- Untuk terjadinya aliran, tekanan pleura harus lebih tinggi dari tekanan botol.
b. Dua Botol
Keuntungan:
- Mempertahankan unit water seal pada tingkat konstan.
- Memungkinkan observasi dan pengukuran drainase yang lebih baik.
Kerugian:
- Menambah area mati pada sistem drainase yang mempunyai potensial untuk masuk ke dalam area pleura.
- Untuk terjadinya aliran, tekanan pleura harus lebih tinggi dari tekanan botol.
- Mempunyai batas kelebihan kapasitas aliran udara pada adanya kebocoran pleura.
c. Tiga Botol
Keuntungan:
- Sistem paling aman untuk mengatur penghisapan.
Kerugian:
- Lebih kompleks.
- Lebih banyak kesempatan untuk terjadinya kesalahan dalam perakitan dan pemeliharaan.
d. Unit Water Seal Sekali Pakai
Keuntungan:
- Plastik dan tidak mudah pecah seperti botol.
Kerugian:
- Mahal.
- Kehilangan water seal dan keakuratan pengukuran drainase ba unit terbalik.
4. INDIKASI PEMASANGAN SELANG DADA
a) Hemotoraks, yang disebabkan oleh:
• Trauma dada.
• Neoplasma.
• Robekan pleura.
• Kelebihan antikoagulan.
• Pasca bedah toraks.
b) Pnemotoraks
• Spontan: > 20% (klien simtomatik, adanya penyakit paru).
Yang disebabkan oleh:
Ruptur bleb
c) 1. Desakan:
Yang disebabkan oleh
• Ventilasi mekanis.
• Luka tusuk tembus.
• Klem selang dada terlalu dalam.
• Kerusakan segel pada sistem drainase selang dada.
2. Desakan Fistula Bronkopleural
Yang disebabkan oleh
• Kerusakan jaringan.
• Tumor.
• Aspirasi bahan mekanik toksik.
d) Efusi pleura.
1) Perapnemonia terkomplikasi
Pus banyak (empiema)
Pewarnaan gram positif/ kultur bakteri.
Glukosa < 40 mg/dl pH < 7,0 pH 7,0 – 7,2 dan LDH > 1000 i /L
Yang disebabkan oleh
Penyakit kardiopulmoner serius.
Kondisi implamasi.
2) Chilotoraks.
Yang disebabkan oleh
Trauma.
Malignasi.
Abnormalitas kongenital.
5. INDIKASI PENGANGKATAN SELANG DADA
• 1 hari setelah berhentinya kebocoran udara.
• Drainase < 50 – 100 cc cairan /hari.
• 1 – 3 hari pasca bedah jantung.
• 2 – 6 hari pasca bedah toraks.
• Obliterasi rongga empiema.
• Drainase serosanguinosa dari sekitar sisi pemasangan selang dada.
Untuk SELENGKAPNYA sILAHKAN DOWNLOAD DISINI
Adalah suatu tindakan untuk mengalirkan udara, cairan secara bertahap dari rongga pleura, dengan cara memasukkan pipa/ selang WSD.
2. ETIOLOGI
Membuang udara, cairan atau darah dari area pleura.
Mengembalikan tekanan negatif pada area pleura.
Mengembangkan kembali paru yang kolaps/ kolaps sebagian.
Mencegah reflux drainase kembali ke dalam dada.
3. SISTEM DRAINASE SELANG DADA
a. Satu Botol
Keuntungan:
- Penyusunan sederhana.
- Mudah untuk klien yang dapat jalan.
Kerugian:
- Saat drainase dada mengisi botol lebih banyak kekuatan diperlukan untuk memungkinkan udara dan cairan pleural untuk keluar dari dada masuk ke botol.
- Campuran darah drainase dan udara menimbulkan campuran busa dalam botol yang membatasi garis permukaan drainase.
- Untuk terjadinya aliran, tekanan pleura harus lebih tinggi dari tekanan botol.
b. Dua Botol
Keuntungan:
- Mempertahankan unit water seal pada tingkat konstan.
- Memungkinkan observasi dan pengukuran drainase yang lebih baik.
Kerugian:
- Menambah area mati pada sistem drainase yang mempunyai potensial untuk masuk ke dalam area pleura.
- Untuk terjadinya aliran, tekanan pleura harus lebih tinggi dari tekanan botol.
- Mempunyai batas kelebihan kapasitas aliran udara pada adanya kebocoran pleura.
c. Tiga Botol
Keuntungan:
- Sistem paling aman untuk mengatur penghisapan.
Kerugian:
- Lebih kompleks.
- Lebih banyak kesempatan untuk terjadinya kesalahan dalam perakitan dan pemeliharaan.
d. Unit Water Seal Sekali Pakai
Keuntungan:
- Plastik dan tidak mudah pecah seperti botol.
Kerugian:
- Mahal.
- Kehilangan water seal dan keakuratan pengukuran drainase ba unit terbalik.
4. INDIKASI PEMASANGAN SELANG DADA
a) Hemotoraks, yang disebabkan oleh:
• Trauma dada.
• Neoplasma.
• Robekan pleura.
• Kelebihan antikoagulan.
• Pasca bedah toraks.
b) Pnemotoraks
• Spontan: > 20% (klien simtomatik, adanya penyakit paru).
Yang disebabkan oleh:
Ruptur bleb
c) 1. Desakan:
Yang disebabkan oleh
• Ventilasi mekanis.
• Luka tusuk tembus.
• Klem selang dada terlalu dalam.
• Kerusakan segel pada sistem drainase selang dada.
2. Desakan Fistula Bronkopleural
Yang disebabkan oleh
• Kerusakan jaringan.
• Tumor.
• Aspirasi bahan mekanik toksik.
d) Efusi pleura.
1) Perapnemonia terkomplikasi
Pus banyak (empiema)
Pewarnaan gram positif/ kultur bakteri.
Glukosa < 40 mg/dl pH < 7,0 pH 7,0 – 7,2 dan LDH > 1000 i /L
Yang disebabkan oleh
Penyakit kardiopulmoner serius.
Kondisi implamasi.
2) Chilotoraks.
Yang disebabkan oleh
Trauma.
Malignasi.
Abnormalitas kongenital.
5. INDIKASI PENGANGKATAN SELANG DADA
• 1 hari setelah berhentinya kebocoran udara.
• Drainase < 50 – 100 cc cairan /hari.
• 1 – 3 hari pasca bedah jantung.
• 2 – 6 hari pasca bedah toraks.
• Obliterasi rongga empiema.
• Drainase serosanguinosa dari sekitar sisi pemasangan selang dada.
Untuk SELENGKAPNYA sILAHKAN DOWNLOAD DISINI
5 Kalimat Sakti Perusak Hubungan
11:46
Khaidirmuhaj.blogspot.com - Sejumlah kalimat tertentu yang Anda pikir sepele bisa berubah menjadi bumerang yang menghancurkan suatu hubungan. Setiap kali bertengkar, berhati-hatilah bersilat lidah jika tidak ingin kehilangan orang yang sesungguhnya masih Anda sayangi.
Nah, berikut ini adalah sejumlah kalimat yang sebaiknya dihindari, agar tidak merusak hubungan Anda dengan kekasih:
1. ''Kita putus!''
Anda pasti tidak akan mengatakan kepada atasan bahwa Anda berhenti, jika tidak berniat mengundurkan diri. Nah, hal yang sama seharusnya juga berlaku dalam sebuah hubungan kasih. Tapi, kadang orang tergoda mengucapkan kata 'putus', meski pun hanya ditujukan sebagai ancaman.
Simpan kata 'putus' hanya jika Anda benar-benar memaksudkannya, bukan sekadar gertak sambal. Bagaimana jika si dia ternyata mengiyakan ancaman tersebut dan meninggalkan Anda?
2. ''Kenapa sih kamu (tidak) seperti mantanku?''
Anda mungkin memiliki beberapa mantan kekasih dengan sejumlah sifat yang Anda suka dan benci. Namun, jangan pernah membanding-bandingkan kekasih baru Anda dengan lelaki dari masa lalu. Hal itu hanya akan menyakitkan hatinya. Setiap orang ingin dianggap spesial, dan tidak dibanding-bandingkan.
3. ''Kamu memang payah!''
Anda mungkin merasa frustrasi dengan kekasih yang tidak bisa memenuhi semua tuntutan Anda dengan sempurna. Namun, hal itu tidak dapat dijadikan alasan untuk meledak dan menyebutnya payah. Umpatan tersebut hanya akan melukai harga diri dan hubungan Anda.
4. ''Sudah dari sananya.''
Sebelum Anda dan kekasih bertemu lantas menjalin hubungan, Anda mungkin memiliki sejumlah kebiasaan lama yang ternyata tidak berkenan di hatinya. Misalnya keras kepala, sering terlambat, membatalkan janji tiba-tiba, atau terlalu boros. Jika kekasih mengkritik salah satu kebiasaan buruk Anda, jangan langsung bersikap defensif dan mengatakan itu sudah jadi sifat Anda dari dulu. Setiap orang secara alami berubah seiring bertambahnya usia. Membela diri dengan mengatakan, ''Sudah dari sananya,'' hanya membuktikan betapa piciknya Anda.
5. ''Kamu juga dulu begitu!''
Tidak bijaksana mengungkit-ungkit masa lalu dan menjadikannya pembenaran atas apa yang Anda lakukan sekarang. Jika kekasih marah karena Anda ketahuan jalan dengan lelaki lain, Anda tidak bisa membela diri dengan mengatakan, ''Kamu juga dulu selingkuh!'' Perbuatannya dulu salah, namun Anda menerimanya kembali. Hal itu adalah konsekuensi atas keputusan Anda sendiri, namun tetap tidak dapat dijadikan pembenaran atas apa yang kini dilakukan.
Source : Media Indonesia
Nah, berikut ini adalah sejumlah kalimat yang sebaiknya dihindari, agar tidak merusak hubungan Anda dengan kekasih:
1. ''Kita putus!''
Anda pasti tidak akan mengatakan kepada atasan bahwa Anda berhenti, jika tidak berniat mengundurkan diri. Nah, hal yang sama seharusnya juga berlaku dalam sebuah hubungan kasih. Tapi, kadang orang tergoda mengucapkan kata 'putus', meski pun hanya ditujukan sebagai ancaman.
Simpan kata 'putus' hanya jika Anda benar-benar memaksudkannya, bukan sekadar gertak sambal. Bagaimana jika si dia ternyata mengiyakan ancaman tersebut dan meninggalkan Anda?
2. ''Kenapa sih kamu (tidak) seperti mantanku?''
Anda mungkin memiliki beberapa mantan kekasih dengan sejumlah sifat yang Anda suka dan benci. Namun, jangan pernah membanding-bandingkan kekasih baru Anda dengan lelaki dari masa lalu. Hal itu hanya akan menyakitkan hatinya. Setiap orang ingin dianggap spesial, dan tidak dibanding-bandingkan.
3. ''Kamu memang payah!''
Anda mungkin merasa frustrasi dengan kekasih yang tidak bisa memenuhi semua tuntutan Anda dengan sempurna. Namun, hal itu tidak dapat dijadikan alasan untuk meledak dan menyebutnya payah. Umpatan tersebut hanya akan melukai harga diri dan hubungan Anda.
4. ''Sudah dari sananya.''
Sebelum Anda dan kekasih bertemu lantas menjalin hubungan, Anda mungkin memiliki sejumlah kebiasaan lama yang ternyata tidak berkenan di hatinya. Misalnya keras kepala, sering terlambat, membatalkan janji tiba-tiba, atau terlalu boros. Jika kekasih mengkritik salah satu kebiasaan buruk Anda, jangan langsung bersikap defensif dan mengatakan itu sudah jadi sifat Anda dari dulu. Setiap orang secara alami berubah seiring bertambahnya usia. Membela diri dengan mengatakan, ''Sudah dari sananya,'' hanya membuktikan betapa piciknya Anda.
5. ''Kamu juga dulu begitu!''
Tidak bijaksana mengungkit-ungkit masa lalu dan menjadikannya pembenaran atas apa yang Anda lakukan sekarang. Jika kekasih marah karena Anda ketahuan jalan dengan lelaki lain, Anda tidak bisa membela diri dengan mengatakan, ''Kamu juga dulu selingkuh!'' Perbuatannya dulu salah, namun Anda menerimanya kembali. Hal itu adalah konsekuensi atas keputusan Anda sendiri, namun tetap tidak dapat dijadikan pembenaran atas apa yang kini dilakukan.
Source : Media Indonesia
Bikin Anak Tahan Stress Dengan Akrab bersama Ayahnya
13:03
Khaidirmuhaj.blogspot.com — Cara seorang pria menghadapi stres rutin, seperti kemacetan dan tengat pekerjaan, ternyata bergantung pada pola hubungannya dengan sang ayah di masa kanak-kanak. Ini merupakan salah satu hasil penelitian yang dipublikasikan dalam pertemuan American Psychological Association.
Beberapa waktu lalu, sebuah penelitian menunjukkan bahwa ibu yang kurang menunjukkan kasih sayang berpengaruh besar pada kestabilan emosi seorang anak. Sementara itu, hanya sedikit studi yang terkait dengan hubungan antara ayah dan anak laki-lakinya.
"Hubungan ayah dan anak laki-lakinya memiliki pengaruh yang luar biasa dalam hidup seseorang. Bila hubungan itu sehat, pengaruhnya akan sangat positif pada si anak," kata Melanie Mallers, peneliti dari California State University, AS.
Dalam risetnya, Mallers dan timnya melakukan survei terhadap 912 pria dan wanita berusia 25-74 tahun mengenai kadar stres mereka selama 8 hari terakhir. Para responden juga ditanya mengenai hubungan mereka dengan orangtuanya pada masa kecil.
Mayoritas responden menjawab bahwa mereka memiliki hubungan yang lebih manis dengan ibu mereka ketimbang dengan ayah. Kebanyakan anak laki-laki mengaku mereka lebih dekat dengan ibunya dibandingkan dengan anak perempuan.
"Ibu memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam kestabilan emosi seorang anak, baik pada pria maupun wanita. Anak yang punya hubungan buruk dengan ibunya cenderung memiliki emosi yang negatif pada masa dewasa," kata Mallers.
Namun, bagaimana dengan pihak ayah? Tim peneliti menemukan bahwa pria yang memiliki hubungan kurang hangat dengan ayahnya cenderung lebih sulit dalam menghadapi stres sehari-hari. Mereka juga relatif lebih mudah tertekan, mudah marah, dan gampang sakit akibat stres yang mereka hadapi.
Sumber: Kompas.com
Beberapa waktu lalu, sebuah penelitian menunjukkan bahwa ibu yang kurang menunjukkan kasih sayang berpengaruh besar pada kestabilan emosi seorang anak. Sementara itu, hanya sedikit studi yang terkait dengan hubungan antara ayah dan anak laki-lakinya.
"Hubungan ayah dan anak laki-lakinya memiliki pengaruh yang luar biasa dalam hidup seseorang. Bila hubungan itu sehat, pengaruhnya akan sangat positif pada si anak," kata Melanie Mallers, peneliti dari California State University, AS.
Dalam risetnya, Mallers dan timnya melakukan survei terhadap 912 pria dan wanita berusia 25-74 tahun mengenai kadar stres mereka selama 8 hari terakhir. Para responden juga ditanya mengenai hubungan mereka dengan orangtuanya pada masa kecil.
Mayoritas responden menjawab bahwa mereka memiliki hubungan yang lebih manis dengan ibu mereka ketimbang dengan ayah. Kebanyakan anak laki-laki mengaku mereka lebih dekat dengan ibunya dibandingkan dengan anak perempuan.
"Ibu memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam kestabilan emosi seorang anak, baik pada pria maupun wanita. Anak yang punya hubungan buruk dengan ibunya cenderung memiliki emosi yang negatif pada masa dewasa," kata Mallers.
Namun, bagaimana dengan pihak ayah? Tim peneliti menemukan bahwa pria yang memiliki hubungan kurang hangat dengan ayahnya cenderung lebih sulit dalam menghadapi stres sehari-hari. Mereka juga relatif lebih mudah tertekan, mudah marah, dan gampang sakit akibat stres yang mereka hadapi.
Sumber: Kompas.com
ASKEP ARTRITIS PIRAI (GOUT)
11:21
I. KONSEP DASAR
A. Pengertian
Artritis pirai (Gout) adalah suatu proses inflamasi yang terjadi karena deposisi kristal asam urat pada jaringan sekitar sendi. gout terjadi sebagai akibat dari hyperuricemia yang berlangsung lama (asam urat serum meningkat) disebabkn karena penumpukan purin atau ekresi asam urat yang kurang dari ginjal. Gout mungkin primer atau sekunder.
- Gout primer
Merupkan akibat langsung pembentukan asam urat tubuh yang berlebih atau akibat penurunan ekresi asam urat
- Gout sekunder
Disebabkan karena pembentukan asam urat yang berlebih atau ekresi asam urat yang bekurang akibat proses penyakit lain atau pemakaian obat tertentu.
C. Etiologi
Gout disebabkan oleh adanya kelainan metabolik dalam pembentukan purin atau ekresi asam urat yang kurang dari ginjal yang menyebakan hyperuricemia.
Hyperuricemia pada penyakit ini disebabakan oleh :
Pembentukan asam urat yang berlebih.
• Gout primer metabolik disebabkan sistensi langsung yang bertambah.
• Gout sekunder metabolik disebabkan pembentukan asam urat berlebih karana penyakit lain, seperti leukimia.
Kurang asam urat melalui ginjal.
• Gout primer renal terjadi karena ekresi asam urat di tubulus distal ginjal yang sehat. Penyabab tidak diketahui
• Gout sekunder renal disebabkan oleh karena kerusakan ginjal, misalnya glumeronefritis kronik atau gagal ginjal kronik.
D. Patofisiologi
Banyak faktor yng berperan dalam mekanisme serangan gout. Salah satunya yang telah diketahui peranannya adalah kosentrasi asam urat dalam darah. Mekanisme serangan gout akut berlangsung melalui beberapa fase secara berurutan.
1. Presipitasi kristal monosodium urat.
Presipitasi monosodium urat dapat terjadi di jaringan bila kosentrasi dalam plasma lebih dari 9 mg/dl. Presipitasi ini terjadi di rawan, sonovium, jaringan para- artikuler misalnya bursa, tendon, dan selaputnya. Kristal urat yang bermuatan negatif akan dibungkus (coate) oleh berbagai macam protein. Pembungkusan dengan IgG akan merangsang netrofil untuk berespon terhadap pembentukan kristal.
2. Respon leukosit polimorfonukuler (PMN)
Pembentukan kristal menghasilkan faktor kemotaksis yang menimbulkan respon leukosit PMN dan selanjutnya akan terjadi fagositosis kristal oleh leukosit.
3. Fagositosis
Kristal difagositosis olah leukosit membentuk fagolisosom dan akhirnya membram vakuala disekeliling kristal bersatu dan membram leukositik lisosom.
4. Kerusakan lisosom
Terjadi kerusakn lisosom, sesudah selaput protein dirusak, terjadi ikatan hidrogen antara permukan kristal membram lisosom, peristiwa ini menyebabkan robekan membram dan pelepasan enzim-enzim dan oksidase radikal kedalam sitoplasma.
5. Kerusakan sel
Setelah terjadi kerusakan sel, enzim-enzim lisosom dilepaskan kedalam cairan sinovial, yang menyebabkan kenaikan intensitas inflamasi dan kerusakan jaringan.
E. Gambaran klinis
Fase akut
Biasanya timbul tiba-tiba, tanda-tanda awitan serangan gout adalah rasa sakit yang hebat dan peradangan lokal. Kulit diatasnya mengkilat dengan reaksi sistemik berupa demam, menggigil, malaise dan sakit kepala. Yang paling sering terserang mula-mula adalah ibu jari kaki (sendi metatarsofalangeal) tapi sendi lainnya juga dapat terserang. Serangan ini cenderung sembuh spontan dalam waktu 10-14 hari meskipun tanpa terapi.
Fase kronis
Timbul dalam jangka waktu beberapa tahun dan ditandai dengan rasa nyeri, kaku, dan pegal. Akidat adanya kristal-kristal urat maka terjadi peradangan kronik. Sendi yang bengkak akibai gout kronik sering besar dan berbentuk noduler. Tanda yang mungkin muncul :
- Tampak deformitas dan tofus subkutan.
- Terjadi pemimbunan kristal urat pada sendi-sendi dan juga pada ginjal.
- Terjadi uremi akibat penimbunan urat pada ginjal
- Mikroskofik tanpak kristal-kristal urat disekitar daerah nekrosisi.
F. Faktor yang berperan
- Diet tinggi purin, karen asam urat dibentuk dari purin.
- Kelaparan dan intake etil alkohol yang berlebih.
- Penggunaan obat diuritik, anti hipertensi, salisilat dosis rendah.
G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan non medik.
a. Diet rendah purin.
Hindarkan alkohol dan makanan tinggi purin (hati, ginjal, ikan sarden, daging kambing) serta banyak minum.
b. Tirah baring.
Merupakan suatu keharusan dan di teruskan sampai 24 jam setelah serangan menghilang. Gout dapat kambuh bila terlalu cepat bergerak.
Penatalaksanaan medik.
a. Fase akut.
Obat yang digunakan :
1. Colchicine (0,6 mg)
2. Indometasin ( 50 mg 3 X sehari selama 4-7 hari)
3. Fenilbutazon.
b. Pengobatan jangka panjang terhadap hyperuricemia untuk mencegah komplikasi.
1. Golongan urikosurik
- Probenasid, adalah jenis obat yang berfungsi menurunkan asam urat dalam serum.
- Sulfinpirazon, merupakan dirivat pirazolon dosis 200-400 mg perhari.
- Azapropazon, dosisi sehari 4 X 300 mg.
- Benzbromaron.
2. Inhibitor xantin (alopurinol).
Adalah suatu inhibitor oksidase poten, bekerja mencegah konversi hipoxantin menjadi xantin, dan konversi xantin menjadi asam urat.
II. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian.
a. Identitas pasien.
b. Keluhan utama.
Nyeri pada daerah persendian.
c. Riwayat kesehatan.
Riwayat adanya faktor resiko :
- Peningkatan kadar asam urat serum.
- Riwayat keluarga positif.
B. Pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan fisik berdasarkan pengkajin fungsi muskuluskletal dapat menunjukan :
- Ukuran sendi normal dengan mobilitas penuh bila pada remisi.
- Tofu dengan gout kronis. Ini temuan paling bermakna.
- Laporan episode serangan gout.
C. Pemeriksaan diagnostik.
- Kadar asam urat serum meningkat.
- Laju sedimentasi eritrosit (LSE) meningkat.
- Kadar asam urat urine dapat normal atau meningkat.
- Analisis cairan sinovial dari sendi terinflamasi atau tofi menunjukan kristal urat monosodium yang membuat diagnosis.
- Sinar X sendi menunjukan massa tofaseus dan destruksi tulang dan perubahan sendi.
D. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri behubungan dengan kerusakan integritas jaringan sekunder tehadap gout ditandai dengan pasien mengunkapkan ketidak nyamanan, merintih, melindungi sisi yang sakit, meringis.
Kreteria evaluasi : nyeri berkurang
Intervensi :
1. Pantau kadar asam urat serum.
2. Berikan istirahat dengan kaki ditnggikan.
3. Berikan kantung es atau panas basah.
4. Berikan analgesik yang diprogramkan.
5. Berikan obat anti gout yang diresepkan dan evaluasi keefektifannya.
6. Instruksikan pasien untuk minim2-3 liter cairan setiap hari dan meningkatkan masukn makanan pembuat alkalis seperti susu, buah sitrun dan daging.
2. Resiko tinggi terhadap perubahan penatalaksanaan pemeliharaan di rumah berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi, dan rencana tindakan, koping tidak efektif pada kondisi kronis, ditandai dengan pasien mengungkapkan ketidak pahaman dan meminta informasi.
Kreteria evaluasi : mengunkapakan pemahaman tentang instruksi perawatan diri dan rencana perawatan dan pengobatan.
Intervensi :
1. Berikan informasi tentang kondisi, proses penyakit dan rencana pengobatan.
2. Ajarkan pasien apa yang harus dilakukan selama serangan, instruksi meliputi :
- Mengistirahatkan sendi yang nyeri.
- Tinggikan eksrtemitas dan berikan kantung es atau panas basah.
- Hindarkan aktivitas yang meningkatkan ketidak nyamanan.
3. Ajarkn pasien bagaimana mengontrol serangan gout, instruksi harus meliputi :
- Menghidarkan faktor pencetus.
- Mengunakan obat anti gout sesuai resep.
Diagnosa keperawatan lain yang mungkin muncul.
1. Gangguan body image berhubungan dengan perubahan penampilan, sendi benkok, deformitas.
2. Resiko cidera berhubungan dengan hilangnya kekuatan otot, rasa nyeri.
3. Ganguan aktivitas sehari-hari berhubungandengan terbatasnya gerakan sekunder akibat nyeri pada persendian.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & suddath. Buku Ajar Bedah Medikal Bedah. Vol 3. Penerbit Buku Kedokteran. EGC. Jakarta. 2001
Engram, Barbara. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Vol.2. Penerbit Buku Kedokteran. EGC. Jakarta. 1998
Long, Barbara C. Keperawatan Medikal Bedah 3. Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran. Bandung. 1996
Price, Sylvia Anderson. Patologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta. EGC. 1990
Soeparman. Waspadji, Sarwono. Ilmu Penyakit Dalam. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 1998
Staf Pengajar Bagian Patologik Akademik. Patologi. Fakultas Kedokteran UI. Jakarta. 1994
A. Pengertian
Artritis pirai (Gout) adalah suatu proses inflamasi yang terjadi karena deposisi kristal asam urat pada jaringan sekitar sendi. gout terjadi sebagai akibat dari hyperuricemia yang berlangsung lama (asam urat serum meningkat) disebabkn karena penumpukan purin atau ekresi asam urat yang kurang dari ginjal. Gout mungkin primer atau sekunder.
- Gout primer
Merupkan akibat langsung pembentukan asam urat tubuh yang berlebih atau akibat penurunan ekresi asam urat
- Gout sekunder
Disebabkan karena pembentukan asam urat yang berlebih atau ekresi asam urat yang bekurang akibat proses penyakit lain atau pemakaian obat tertentu.
C. Etiologi
Gout disebabkan oleh adanya kelainan metabolik dalam pembentukan purin atau ekresi asam urat yang kurang dari ginjal yang menyebakan hyperuricemia.
Hyperuricemia pada penyakit ini disebabakan oleh :
Pembentukan asam urat yang berlebih.
• Gout primer metabolik disebabkan sistensi langsung yang bertambah.
• Gout sekunder metabolik disebabkan pembentukan asam urat berlebih karana penyakit lain, seperti leukimia.
Kurang asam urat melalui ginjal.
• Gout primer renal terjadi karena ekresi asam urat di tubulus distal ginjal yang sehat. Penyabab tidak diketahui
• Gout sekunder renal disebabkan oleh karena kerusakan ginjal, misalnya glumeronefritis kronik atau gagal ginjal kronik.
D. Patofisiologi
Banyak faktor yng berperan dalam mekanisme serangan gout. Salah satunya yang telah diketahui peranannya adalah kosentrasi asam urat dalam darah. Mekanisme serangan gout akut berlangsung melalui beberapa fase secara berurutan.
1. Presipitasi kristal monosodium urat.
Presipitasi monosodium urat dapat terjadi di jaringan bila kosentrasi dalam plasma lebih dari 9 mg/dl. Presipitasi ini terjadi di rawan, sonovium, jaringan para- artikuler misalnya bursa, tendon, dan selaputnya. Kristal urat yang bermuatan negatif akan dibungkus (coate) oleh berbagai macam protein. Pembungkusan dengan IgG akan merangsang netrofil untuk berespon terhadap pembentukan kristal.
2. Respon leukosit polimorfonukuler (PMN)
Pembentukan kristal menghasilkan faktor kemotaksis yang menimbulkan respon leukosit PMN dan selanjutnya akan terjadi fagositosis kristal oleh leukosit.
3. Fagositosis
Kristal difagositosis olah leukosit membentuk fagolisosom dan akhirnya membram vakuala disekeliling kristal bersatu dan membram leukositik lisosom.
4. Kerusakan lisosom
Terjadi kerusakn lisosom, sesudah selaput protein dirusak, terjadi ikatan hidrogen antara permukan kristal membram lisosom, peristiwa ini menyebabkan robekan membram dan pelepasan enzim-enzim dan oksidase radikal kedalam sitoplasma.
5. Kerusakan sel
Setelah terjadi kerusakan sel, enzim-enzim lisosom dilepaskan kedalam cairan sinovial, yang menyebabkan kenaikan intensitas inflamasi dan kerusakan jaringan.
E. Gambaran klinis
Fase akut
Biasanya timbul tiba-tiba, tanda-tanda awitan serangan gout adalah rasa sakit yang hebat dan peradangan lokal. Kulit diatasnya mengkilat dengan reaksi sistemik berupa demam, menggigil, malaise dan sakit kepala. Yang paling sering terserang mula-mula adalah ibu jari kaki (sendi metatarsofalangeal) tapi sendi lainnya juga dapat terserang. Serangan ini cenderung sembuh spontan dalam waktu 10-14 hari meskipun tanpa terapi.
Fase kronis
Timbul dalam jangka waktu beberapa tahun dan ditandai dengan rasa nyeri, kaku, dan pegal. Akidat adanya kristal-kristal urat maka terjadi peradangan kronik. Sendi yang bengkak akibai gout kronik sering besar dan berbentuk noduler. Tanda yang mungkin muncul :
- Tampak deformitas dan tofus subkutan.
- Terjadi pemimbunan kristal urat pada sendi-sendi dan juga pada ginjal.
- Terjadi uremi akibat penimbunan urat pada ginjal
- Mikroskofik tanpak kristal-kristal urat disekitar daerah nekrosisi.
F. Faktor yang berperan
- Diet tinggi purin, karen asam urat dibentuk dari purin.
- Kelaparan dan intake etil alkohol yang berlebih.
- Penggunaan obat diuritik, anti hipertensi, salisilat dosis rendah.
G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan non medik.
a. Diet rendah purin.
Hindarkan alkohol dan makanan tinggi purin (hati, ginjal, ikan sarden, daging kambing) serta banyak minum.
b. Tirah baring.
Merupakan suatu keharusan dan di teruskan sampai 24 jam setelah serangan menghilang. Gout dapat kambuh bila terlalu cepat bergerak.
Penatalaksanaan medik.
a. Fase akut.
Obat yang digunakan :
1. Colchicine (0,6 mg)
2. Indometasin ( 50 mg 3 X sehari selama 4-7 hari)
3. Fenilbutazon.
b. Pengobatan jangka panjang terhadap hyperuricemia untuk mencegah komplikasi.
1. Golongan urikosurik
- Probenasid, adalah jenis obat yang berfungsi menurunkan asam urat dalam serum.
- Sulfinpirazon, merupakan dirivat pirazolon dosis 200-400 mg perhari.
- Azapropazon, dosisi sehari 4 X 300 mg.
- Benzbromaron.
2. Inhibitor xantin (alopurinol).
Adalah suatu inhibitor oksidase poten, bekerja mencegah konversi hipoxantin menjadi xantin, dan konversi xantin menjadi asam urat.
II. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian.
a. Identitas pasien.
b. Keluhan utama.
Nyeri pada daerah persendian.
c. Riwayat kesehatan.
Riwayat adanya faktor resiko :
- Peningkatan kadar asam urat serum.
- Riwayat keluarga positif.
B. Pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan fisik berdasarkan pengkajin fungsi muskuluskletal dapat menunjukan :
- Ukuran sendi normal dengan mobilitas penuh bila pada remisi.
- Tofu dengan gout kronis. Ini temuan paling bermakna.
- Laporan episode serangan gout.
C. Pemeriksaan diagnostik.
- Kadar asam urat serum meningkat.
- Laju sedimentasi eritrosit (LSE) meningkat.
- Kadar asam urat urine dapat normal atau meningkat.
- Analisis cairan sinovial dari sendi terinflamasi atau tofi menunjukan kristal urat monosodium yang membuat diagnosis.
- Sinar X sendi menunjukan massa tofaseus dan destruksi tulang dan perubahan sendi.
D. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri behubungan dengan kerusakan integritas jaringan sekunder tehadap gout ditandai dengan pasien mengunkapkan ketidak nyamanan, merintih, melindungi sisi yang sakit, meringis.
Kreteria evaluasi : nyeri berkurang
Intervensi :
1. Pantau kadar asam urat serum.
2. Berikan istirahat dengan kaki ditnggikan.
3. Berikan kantung es atau panas basah.
4. Berikan analgesik yang diprogramkan.
5. Berikan obat anti gout yang diresepkan dan evaluasi keefektifannya.
6. Instruksikan pasien untuk minim2-3 liter cairan setiap hari dan meningkatkan masukn makanan pembuat alkalis seperti susu, buah sitrun dan daging.
2. Resiko tinggi terhadap perubahan penatalaksanaan pemeliharaan di rumah berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi, dan rencana tindakan, koping tidak efektif pada kondisi kronis, ditandai dengan pasien mengungkapkan ketidak pahaman dan meminta informasi.
Kreteria evaluasi : mengunkapakan pemahaman tentang instruksi perawatan diri dan rencana perawatan dan pengobatan.
Intervensi :
1. Berikan informasi tentang kondisi, proses penyakit dan rencana pengobatan.
2. Ajarkan pasien apa yang harus dilakukan selama serangan, instruksi meliputi :
- Mengistirahatkan sendi yang nyeri.
- Tinggikan eksrtemitas dan berikan kantung es atau panas basah.
- Hindarkan aktivitas yang meningkatkan ketidak nyamanan.
3. Ajarkn pasien bagaimana mengontrol serangan gout, instruksi harus meliputi :
- Menghidarkan faktor pencetus.
- Mengunakan obat anti gout sesuai resep.
Diagnosa keperawatan lain yang mungkin muncul.
1. Gangguan body image berhubungan dengan perubahan penampilan, sendi benkok, deformitas.
2. Resiko cidera berhubungan dengan hilangnya kekuatan otot, rasa nyeri.
3. Ganguan aktivitas sehari-hari berhubungandengan terbatasnya gerakan sekunder akibat nyeri pada persendian.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & suddath. Buku Ajar Bedah Medikal Bedah. Vol 3. Penerbit Buku Kedokteran. EGC. Jakarta. 2001
Engram, Barbara. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Vol.2. Penerbit Buku Kedokteran. EGC. Jakarta. 1998
Long, Barbara C. Keperawatan Medikal Bedah 3. Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran. Bandung. 1996
Price, Sylvia Anderson. Patologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta. EGC. 1990
Soeparman. Waspadji, Sarwono. Ilmu Penyakit Dalam. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 1998
Staf Pengajar Bagian Patologik Akademik. Patologi. Fakultas Kedokteran UI. Jakarta. 1994
ASKEP INKONTENINSIA URINE
10:43
A. Pengertian
Inkonteninsia urine merupakan eliminasi urinedari kandung kemih yang tidak terkendali atau terjadi diluar keinginan
Ketidak mampuan menahan urine dalam kandung kemih setelah usia dari toelit training
B. Etiologi
Penyebab utama dari inkonteninsia urine diantaranya:
- infeksi
- cerebral clauding
- gangguan jalur dari syaraf pusat(lesi kortek)
- lesi neuron atas
- lesi motor neuron bawah
- kerusakan jaringan
C. Manifestasi klinis
Perkemihan diluar keinginan/inkonteninsia sebelum atau selama usaha mencapai toilet
Kontraksi kandung kemih yang tidak di hambat
Tidak mempunyai kontrol yang tinggi untuk mengeluarkan urine
Peningkatan tekanan intra abdomen berhubungan inkonteninsia urine
Kelemahan otot pelvis
Disertai ketidakmampuan fisik
Nokturia lebih dari 2x selama tidur
E. Bentuk-bentuk inkontinensia
Ada 5 tipe inkonteninsia urine, yaitu:
Inkonteninsia stres yaitu kehilangan urine yang tidak disadari kurang dari 50 ml akibat dari peningkatan mendadak pada tekanan intra abdomen.
dengan Faktor yang berhubungan dengan inkonteninsia jenis ini adalah relaksasi otot pelvis yang berhubungan usia lanjut, kegemukan, ketidakmampuan jalan keluar dari kandung kemih.
Inkonteninsia reflek yaitu kehilangan urine yang tidak disadari bila volumetertentu telah dicapai, terjadi pada interval yang diperkirakan.
Faktor yang mempengaruhinya yaitu gangguan neurologi seperti pada lesi sumsum tulang belakang.
Inkonteninsia didesak (overflow) yaitu kehilangan urine yang tidakdisadari terjadi segera setelah terjadi desakan harus segera berkemih.
Faktor yang berhubungan yaitu penurunan kapasitas visica urinaria, infeksi kandung kemih, peningkatan intake cairan, peningkatan konsentrasi urine, distensi berlebihan dari kandung kemih.
Inkonteninsia fungsional yaitu kehilangan yang tidak disadari dan tidak dapat diperkirakan dari urine.
Faktor yang ada hubungannya dengan inkonteninsia jenis ini adalah sensori koknitif atau defisit mobilitas.
Inkonteninsia total yaitu kehilangan urine yang terus menerus dan tidak dapat diperkirakan.
Faktor yang berhubungan yaitu disfungsi neurologik, kontraksi independendari otot destresor sebagai akibat bedah, trauma atau penyakit yang mempengaruhi saraf sumsum belakang, berbagai fistula.
F. Penanganan/perawatan secara umum
Penanganan inkonteninsia urine bergantung pada faktor penyebab yang mandasarinya. Tindakan keperawatan yang dilakukan dan efektif sering hanya berupa tindakan sederhana, seperti:
♫ Beri dukungan klien secara rutin untuk membuat suatu usaha perkemihan yang singkat setelah minum cairan. Usaha-usaha yang disadari salah satunya mengontrol atau memulai kencing mungkin cukup.
♫ Menciptakan lingkungan yang memudahkan klien untuk kekamar mandi.
♫ Bantu klien inkonteninsia pada orang tua untuk menuju kamar mandi atau menawarkan sebuah pispot di tempat tidur atau urinal setiap 2-3 jam. Latihan ini kadang membantu memulai mengakhiri beberapa inkonteninsia yang kesulitan dikontrol.
♫ Menganjurkan kepada klien untuk membiarkan lampu menyala dikamar tidur yang gelap.
♫ Menasehati klien agar memilih pakaian yang mudah ditanggalkan ketika ingin menggunakan kloset.
♫ Gunakan bantalan penyerap atau kain penahan air (softek) untuk klien wanita. Bantalan penyerap atau kain penahan air sekarang tersedia untuk klien inkonteninsia dan terbukti berefek bagi klien wanita
♫ Latihan perineum dapat menolong pada inkonteninsia stres ringan, latihan ini terdiri dari mengencangkan dan mengendurkan perineum dan otot glotimus dan dapat dilakukan dalam berbagai cara:
Kencangkan otot perineum seperti mencegah berkemih ,tahan dalam hitungan 10 kemudian kendurkan.
Tarik nafas sambil bibir dilipat bagaikan dompet pada waktu mengencangkan otot-otot perineum.
Berjongkok seperti akan BAB, kendurkan dan kemudian kencangkan otot perineum
Letakkan sebuah pensil diantara lipatan paha dan pantat.
Duduk pada toilet dengan dengkul direntangkan kesamping , alirkan dan hentikan berkemih.
♫ Mendorong klien untuk meningkatkan asupan cairan untuk mencegah konstipasi dan pengerasan feces yang sering menjadi factor penyebab inkonteninsia urine pada seorang klien yang sedenterik.
♫ Mengajarkan individu untuk mengidentifikasi otot dinding pelvis dan kekuatannya dengan latihan (latihan kegel)
Untuk dinding pelvis posterior, bayangkan anda mencoba untuk menghentikan jalannya feces dan perkuat otot anal tanpa menguatkan pangkal bawah atau otot abdominal anda.
Untuk otot dinding pelvis anterior, bayangkan anda mencoba untuk menghentikan jalannya urine, perkuat otot (belakang dan depan) selama 4 detik dan lepaskan, ulangi 10-4 x sehari dalam satu jam jika diindikasikan.
Intruksikan individu untuk menghentikan dan memulai aliran urine beberapa kali selama berkemih.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
INKONTENINSIA URINE
I. PENGKAJIAN
a. Identitas klien
- Nama
- Umur
- Jenis kelamin
- Agama
- Pendidikan
- Pekerjaan
- Status perkawinan
- Alamat
b. Riwayat kesehatan
- Riwayat kesehatan keluarga
Tanyakan apakah ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit serupa dengan klien dan apakah ada riwayat penyakit bawaan atau keturunan, penyakit ginjal bawaan/bukan bawaan.
- Riwayat kesehatan klien
Tanyakan pada klien apakah klien pernah mengalami penyakit serupa sebelumnya, riwayat urinasi dan catatan eliminasi klien, apakah pernah terjadi trauma/cedera genitourinarius, pembedahan ginjal, infeksi saluran kemih dan apakah dirawat dirumah sakit.
- Riwayat kesehatan sekarang
Meliputi gangguan yang berhubungan dengan gangguan yang dirasakan saat ini.
Berapakah frekuensi inkonteninsianya, apakah ada sesuatu yang mendahului inkonteninsia(stres, ketakutan, tertawa, gerakan), masukan cairan, usia/kondisi fisik,kekuatan dorongan/aliran jumlah cairan berkenaan dengan waktu miksi. Apakah ada penggunaan diuretik, terasa ingin berkemih sebelumterjadi inkontenin, apakah terjadi ketidakmampuan.
c. Pengkajian fisik
- Ginjal(palpasi adanya massa perut, pinggul, nyeri tekan sudut koostovertebral)
- Kandung kemih(palpasi adanya nyeri, distensi)
- Uretra(drainase)infeksi adanya pemasangan drainase urine.
- Vagina(inflamasu, kemerahan)
- Genetalia eksterna(kemerahan, luka, ulkus/lesi, inflamasi, nyeri)
- Skrotum/testis(pembesaran, nyeri tekan, massa)
- Prostat melalui rectum(ukuran, konsistensi, indurasi)
- Perubahan warna kulit dan turgor kulit yang jelek untuk kemungkinan terjadinya ketidakseimbangan cairan dan elektolit akibat dari inkontenin.
d. Data penunjang
- Urinalisis dan kultur urine
- Elektrolit urine, urea, nitrogen darah.
- Keratin serum dan keratin clearen ct
- Sistem uretrogam
- Tes urodinamik
- IVP
- Uretrogramretrogat
- Sistokopi
- Biopsy kandung kemih
- Tes betside(volume urine dan sisa sesudah urinasi)manuper stress untuk menentukan tipe inkonteninsia.
II. ANALISA DATA
1. DS:
- Klien mengatakan bahwa dia sering kencing dan tidak mampu menahannya tanpa disadari.
DO:
- Urine involunter kurang dari 50 ml
Etiologi : kelemahan otot pelvis dan struktur dasar penyokong
Masalah : inkonteninsia stress
2. DS:
i. Klien mengatakan bingung dan tidak bisa mengatasi gangguan itu.
DO:
- wajah klien tampak bingung dan tegang.
Etiologi : kurang informasi tentang penatalaksanaan inkonteninsia.
Masalah : kurang pengetahuan.
3. DS:
ii. Klien mengatakan malu dengan keadaanya.
DO:
iii. Klien mengatakan malu dengan keadaanya.
Etiologi : inkonteninsia
Masalah : gangguan citra tubuh.
4. DS:
iv. Klien mengatakan malas beribadah.
DO: -
Etiologi : keadaan yang memalukan(inkonteninsia) pada saat melakukan ritual keagamaan.
Masalah : gangguan spiritual.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Inkonteninsia stress berhubungan dengan kelemahan otot pelvis dan struktur dasar penyokongnya.
Tujuan :
Klien akan bisa melaporkan suatu pengurangan / penghilangan inkonteninsia stress.
Klien dapat menjelaskan penyebab inkonteninsia dan rasional penatalaksanaan.
Intervensi :
Kaji kebiasaan pola berkemih dan dan gunakan catatan berkemih sehari, pertahankan catatan harian untuk mengkaji efektifitas program yang direncanakan.
Obserpasi meatus perkemihan untuk memeriksa kebocoran saat kandung kemih penuh
Intruksikan klien batuk dalam posisi litotomi, jika tidak ada kebocoran , ulangi dengan posisi klien membentuk sudut 45, lanjutkan dengan klien berdiri jika tidak ada kebocoranyang lebih dulu.
Pantau masukan dan pengeluaran, pastikan klien mendapat masukan cairan 2000 ml, kecuali harus dibatasi.
Anjurkan klien bahwa mengurangi masukan cairan bukan untuk menurunkan inkonteninsia.
Ajarkan klien untuk mengidentifikasi otot dinding pelvis dan kekuatannya dengan latihan
Kolaborasi dengan dokter dalam mengkaji efek medikasi dan tentukan kemungkinan perubahan obat, dosis / jadwal pemberian obat untuk menurunkan frekuensi inkonteninsia.
2. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang pelaksanaan inkonteninsia.
Tujuan :
Klien dapat mengetahui tentang inkonteninsia urine dan penatalaksanaanya.
Klien dapat menjelaskan pengertian, penyebab inkonteninsia.
Intervensi :
Diskusikan perlunya masukan cairan 2000-2500 ml/hari, dan tingkatkan jika klien dapat mengontrol berkemih dengan baik.
Berikan fakta tentang inkonteninsia dan banyaknya orang-orang yang mengalami.
Beri dorongan untuk komonikasi lanjutan dengan anggota keluarga, kegunaan kelompok pendukung dan profesi kesehatan lainnya.
Diskusikan kebutuhan untuk melakukan aktifitas sehari-hari dan perawatan diri selama mungkin.
Ajarkan nama obat, dosis, efek samping, dan toksik obat dan perlunya makan obat sesuai jadwal.
Tekankan kebutuhan pemeriksaan secara teratur dan kontrol sesuai tujuan.
Diskusikan tentang tersedianya pembalut, pempers, popok yang menyerap/ celana dalam.
Ajarkan tanda kerusakan kulit, tindakan pertama yang harus dilakukan dan tanda yang harus dilaporkan.
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan inkonteninsia.
Tujuan :
Mengimplimasikan pola pengamanan baru.
Mengawali/ memantapkan kembali pendukung yang ada.
Mendemontrasikan keinginan dan kemampuan untuk mengambil perawatan diri/tanggung jawab peran.
Intervensi :
Berikan situasi suasana yang menerima dan mendukung klien.
Tentukan bagaimana inkonteninsia mempengaruhi aktifitas sehari-hari dan kehidupan seksual klien.
Anjurkan untuk mengekpresikan perasaan ansietas, takut, bingung, marah, dan tak berdaya.
Dukung perasaan positif klien.
Kembangkan perasaan menghargai diri sendiri dengan menekankan segi positif dalam kehidupan klien.
Jangan berkomen saat membantu membersihkan klien setelah terjadi inkonteninsia.
Anjurkan klien berkomunikasi dengan anggota keluarga yang lain dengan minta bantuan dari profesi lain untuk membantu masalah pasien dengan perubahan emosi.
4. Gangguan spiritual berhubungan dengan keadaan yang memalukan(inkonteninsia urine)pada saat melakukan ritual keagamaan yang ditandai klien mengatakan malas beribadah.
Tujuan :
Melanjutkan latihan spiritual yang tidak mengganggu kesehatan.
Mengekpresikan pengurangan perasaan bersalah dan asietas.
Mengekpresikan kepuasaan dengan kondisi spiritual.
Intervensi :
Komonikasi penerimaan berbagai keyakinan spiritual dan praktisnya.
Nyatakan pentingnya kebutuhan spiritual.
Berikan privasi dan ketenangan seperti yang dibutuhkan untuk orang yang berdoa setiap hari, untuk kunjungan spiritual dan membaca buku spiritual.
Hubungi pemimpin spiritual untuk mengklarifikasi praktis spiritual dan melaksanakan pelayanan keagamaan / jika diinginkan.
Anjurkan klien ritual keagamaan yang tak merusak kesehatan.
Selalu bersedia dan berkeinginan untuk mendengarkan sewaktu klien mengekpresikan keraguan diri, rasa bersalah, atau perasaan negatif lainnya.
Berikan kesempatan individu berdoa dengan orang lain atau dibacakan doa oleh anggota kelompok keagamaan /anggota tim perawatan kesehatan yang dapat leluasa dengan aktifitas ini.
DAFTAR PUSTAKA
v. Bahasa Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan keperawatan, bandung, 1996
vi. Long, Barbara C, Perawatan Medikal Bedah edisi III, alih Carpenito, Lynda jual, Diagnosa Keperawatan edisi b, jakarta Egc, 1998
vii. Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner, Sudourth
viii. Puspenkes Asuhan keperawatan Urogenital, jilid I, jakarta Depkes Ri, 1990
Inkonteninsia urine merupakan eliminasi urinedari kandung kemih yang tidak terkendali atau terjadi diluar keinginan
Ketidak mampuan menahan urine dalam kandung kemih setelah usia dari toelit training
B. Etiologi
Penyebab utama dari inkonteninsia urine diantaranya:
- infeksi
- cerebral clauding
- gangguan jalur dari syaraf pusat(lesi kortek)
- lesi neuron atas
- lesi motor neuron bawah
- kerusakan jaringan
C. Manifestasi klinis
Perkemihan diluar keinginan/inkonteninsia sebelum atau selama usaha mencapai toilet
Kontraksi kandung kemih yang tidak di hambat
Tidak mempunyai kontrol yang tinggi untuk mengeluarkan urine
Peningkatan tekanan intra abdomen berhubungan inkonteninsia urine
Kelemahan otot pelvis
Disertai ketidakmampuan fisik
Nokturia lebih dari 2x selama tidur
E. Bentuk-bentuk inkontinensia
Ada 5 tipe inkonteninsia urine, yaitu:
Inkonteninsia stres yaitu kehilangan urine yang tidak disadari kurang dari 50 ml akibat dari peningkatan mendadak pada tekanan intra abdomen.
dengan Faktor yang berhubungan dengan inkonteninsia jenis ini adalah relaksasi otot pelvis yang berhubungan usia lanjut, kegemukan, ketidakmampuan jalan keluar dari kandung kemih.
Inkonteninsia reflek yaitu kehilangan urine yang tidak disadari bila volumetertentu telah dicapai, terjadi pada interval yang diperkirakan.
Faktor yang mempengaruhinya yaitu gangguan neurologi seperti pada lesi sumsum tulang belakang.
Inkonteninsia didesak (overflow) yaitu kehilangan urine yang tidakdisadari terjadi segera setelah terjadi desakan harus segera berkemih.
Faktor yang berhubungan yaitu penurunan kapasitas visica urinaria, infeksi kandung kemih, peningkatan intake cairan, peningkatan konsentrasi urine, distensi berlebihan dari kandung kemih.
Inkonteninsia fungsional yaitu kehilangan yang tidak disadari dan tidak dapat diperkirakan dari urine.
Faktor yang ada hubungannya dengan inkonteninsia jenis ini adalah sensori koknitif atau defisit mobilitas.
Inkonteninsia total yaitu kehilangan urine yang terus menerus dan tidak dapat diperkirakan.
Faktor yang berhubungan yaitu disfungsi neurologik, kontraksi independendari otot destresor sebagai akibat bedah, trauma atau penyakit yang mempengaruhi saraf sumsum belakang, berbagai fistula.
F. Penanganan/perawatan secara umum
Penanganan inkonteninsia urine bergantung pada faktor penyebab yang mandasarinya. Tindakan keperawatan yang dilakukan dan efektif sering hanya berupa tindakan sederhana, seperti:
♫ Beri dukungan klien secara rutin untuk membuat suatu usaha perkemihan yang singkat setelah minum cairan. Usaha-usaha yang disadari salah satunya mengontrol atau memulai kencing mungkin cukup.
♫ Menciptakan lingkungan yang memudahkan klien untuk kekamar mandi.
♫ Bantu klien inkonteninsia pada orang tua untuk menuju kamar mandi atau menawarkan sebuah pispot di tempat tidur atau urinal setiap 2-3 jam. Latihan ini kadang membantu memulai mengakhiri beberapa inkonteninsia yang kesulitan dikontrol.
♫ Menganjurkan kepada klien untuk membiarkan lampu menyala dikamar tidur yang gelap.
♫ Menasehati klien agar memilih pakaian yang mudah ditanggalkan ketika ingin menggunakan kloset.
♫ Gunakan bantalan penyerap atau kain penahan air (softek) untuk klien wanita. Bantalan penyerap atau kain penahan air sekarang tersedia untuk klien inkonteninsia dan terbukti berefek bagi klien wanita
♫ Latihan perineum dapat menolong pada inkonteninsia stres ringan, latihan ini terdiri dari mengencangkan dan mengendurkan perineum dan otot glotimus dan dapat dilakukan dalam berbagai cara:
Kencangkan otot perineum seperti mencegah berkemih ,tahan dalam hitungan 10 kemudian kendurkan.
Tarik nafas sambil bibir dilipat bagaikan dompet pada waktu mengencangkan otot-otot perineum.
Berjongkok seperti akan BAB, kendurkan dan kemudian kencangkan otot perineum
Letakkan sebuah pensil diantara lipatan paha dan pantat.
Duduk pada toilet dengan dengkul direntangkan kesamping , alirkan dan hentikan berkemih.
♫ Mendorong klien untuk meningkatkan asupan cairan untuk mencegah konstipasi dan pengerasan feces yang sering menjadi factor penyebab inkonteninsia urine pada seorang klien yang sedenterik.
♫ Mengajarkan individu untuk mengidentifikasi otot dinding pelvis dan kekuatannya dengan latihan (latihan kegel)
Untuk dinding pelvis posterior, bayangkan anda mencoba untuk menghentikan jalannya feces dan perkuat otot anal tanpa menguatkan pangkal bawah atau otot abdominal anda.
Untuk otot dinding pelvis anterior, bayangkan anda mencoba untuk menghentikan jalannya urine, perkuat otot (belakang dan depan) selama 4 detik dan lepaskan, ulangi 10-4 x sehari dalam satu jam jika diindikasikan.
Intruksikan individu untuk menghentikan dan memulai aliran urine beberapa kali selama berkemih.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
INKONTENINSIA URINE
I. PENGKAJIAN
a. Identitas klien
- Nama
- Umur
- Jenis kelamin
- Agama
- Pendidikan
- Pekerjaan
- Status perkawinan
- Alamat
b. Riwayat kesehatan
- Riwayat kesehatan keluarga
Tanyakan apakah ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit serupa dengan klien dan apakah ada riwayat penyakit bawaan atau keturunan, penyakit ginjal bawaan/bukan bawaan.
- Riwayat kesehatan klien
Tanyakan pada klien apakah klien pernah mengalami penyakit serupa sebelumnya, riwayat urinasi dan catatan eliminasi klien, apakah pernah terjadi trauma/cedera genitourinarius, pembedahan ginjal, infeksi saluran kemih dan apakah dirawat dirumah sakit.
- Riwayat kesehatan sekarang
Meliputi gangguan yang berhubungan dengan gangguan yang dirasakan saat ini.
Berapakah frekuensi inkonteninsianya, apakah ada sesuatu yang mendahului inkonteninsia(stres, ketakutan, tertawa, gerakan), masukan cairan, usia/kondisi fisik,kekuatan dorongan/aliran jumlah cairan berkenaan dengan waktu miksi. Apakah ada penggunaan diuretik, terasa ingin berkemih sebelumterjadi inkontenin, apakah terjadi ketidakmampuan.
c. Pengkajian fisik
- Ginjal(palpasi adanya massa perut, pinggul, nyeri tekan sudut koostovertebral)
- Kandung kemih(palpasi adanya nyeri, distensi)
- Uretra(drainase)infeksi adanya pemasangan drainase urine.
- Vagina(inflamasu, kemerahan)
- Genetalia eksterna(kemerahan, luka, ulkus/lesi, inflamasi, nyeri)
- Skrotum/testis(pembesaran, nyeri tekan, massa)
- Prostat melalui rectum(ukuran, konsistensi, indurasi)
- Perubahan warna kulit dan turgor kulit yang jelek untuk kemungkinan terjadinya ketidakseimbangan cairan dan elektolit akibat dari inkontenin.
d. Data penunjang
- Urinalisis dan kultur urine
- Elektrolit urine, urea, nitrogen darah.
- Keratin serum dan keratin clearen ct
- Sistem uretrogam
- Tes urodinamik
- IVP
- Uretrogramretrogat
- Sistokopi
- Biopsy kandung kemih
- Tes betside(volume urine dan sisa sesudah urinasi)manuper stress untuk menentukan tipe inkonteninsia.
II. ANALISA DATA
1. DS:
- Klien mengatakan bahwa dia sering kencing dan tidak mampu menahannya tanpa disadari.
DO:
- Urine involunter kurang dari 50 ml
Etiologi : kelemahan otot pelvis dan struktur dasar penyokong
Masalah : inkonteninsia stress
2. DS:
i. Klien mengatakan bingung dan tidak bisa mengatasi gangguan itu.
DO:
- wajah klien tampak bingung dan tegang.
Etiologi : kurang informasi tentang penatalaksanaan inkonteninsia.
Masalah : kurang pengetahuan.
3. DS:
ii. Klien mengatakan malu dengan keadaanya.
DO:
iii. Klien mengatakan malu dengan keadaanya.
Etiologi : inkonteninsia
Masalah : gangguan citra tubuh.
4. DS:
iv. Klien mengatakan malas beribadah.
DO: -
Etiologi : keadaan yang memalukan(inkonteninsia) pada saat melakukan ritual keagamaan.
Masalah : gangguan spiritual.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Inkonteninsia stress berhubungan dengan kelemahan otot pelvis dan struktur dasar penyokongnya.
Tujuan :
Klien akan bisa melaporkan suatu pengurangan / penghilangan inkonteninsia stress.
Klien dapat menjelaskan penyebab inkonteninsia dan rasional penatalaksanaan.
Intervensi :
Kaji kebiasaan pola berkemih dan dan gunakan catatan berkemih sehari, pertahankan catatan harian untuk mengkaji efektifitas program yang direncanakan.
Obserpasi meatus perkemihan untuk memeriksa kebocoran saat kandung kemih penuh
Intruksikan klien batuk dalam posisi litotomi, jika tidak ada kebocoran , ulangi dengan posisi klien membentuk sudut 45, lanjutkan dengan klien berdiri jika tidak ada kebocoranyang lebih dulu.
Pantau masukan dan pengeluaran, pastikan klien mendapat masukan cairan 2000 ml, kecuali harus dibatasi.
Anjurkan klien bahwa mengurangi masukan cairan bukan untuk menurunkan inkonteninsia.
Ajarkan klien untuk mengidentifikasi otot dinding pelvis dan kekuatannya dengan latihan
Kolaborasi dengan dokter dalam mengkaji efek medikasi dan tentukan kemungkinan perubahan obat, dosis / jadwal pemberian obat untuk menurunkan frekuensi inkonteninsia.
2. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang pelaksanaan inkonteninsia.
Tujuan :
Klien dapat mengetahui tentang inkonteninsia urine dan penatalaksanaanya.
Klien dapat menjelaskan pengertian, penyebab inkonteninsia.
Intervensi :
Diskusikan perlunya masukan cairan 2000-2500 ml/hari, dan tingkatkan jika klien dapat mengontrol berkemih dengan baik.
Berikan fakta tentang inkonteninsia dan banyaknya orang-orang yang mengalami.
Beri dorongan untuk komonikasi lanjutan dengan anggota keluarga, kegunaan kelompok pendukung dan profesi kesehatan lainnya.
Diskusikan kebutuhan untuk melakukan aktifitas sehari-hari dan perawatan diri selama mungkin.
Ajarkan nama obat, dosis, efek samping, dan toksik obat dan perlunya makan obat sesuai jadwal.
Tekankan kebutuhan pemeriksaan secara teratur dan kontrol sesuai tujuan.
Diskusikan tentang tersedianya pembalut, pempers, popok yang menyerap/ celana dalam.
Ajarkan tanda kerusakan kulit, tindakan pertama yang harus dilakukan dan tanda yang harus dilaporkan.
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan inkonteninsia.
Tujuan :
Mengimplimasikan pola pengamanan baru.
Mengawali/ memantapkan kembali pendukung yang ada.
Mendemontrasikan keinginan dan kemampuan untuk mengambil perawatan diri/tanggung jawab peran.
Intervensi :
Berikan situasi suasana yang menerima dan mendukung klien.
Tentukan bagaimana inkonteninsia mempengaruhi aktifitas sehari-hari dan kehidupan seksual klien.
Anjurkan untuk mengekpresikan perasaan ansietas, takut, bingung, marah, dan tak berdaya.
Dukung perasaan positif klien.
Kembangkan perasaan menghargai diri sendiri dengan menekankan segi positif dalam kehidupan klien.
Jangan berkomen saat membantu membersihkan klien setelah terjadi inkonteninsia.
Anjurkan klien berkomunikasi dengan anggota keluarga yang lain dengan minta bantuan dari profesi lain untuk membantu masalah pasien dengan perubahan emosi.
4. Gangguan spiritual berhubungan dengan keadaan yang memalukan(inkonteninsia urine)pada saat melakukan ritual keagamaan yang ditandai klien mengatakan malas beribadah.
Tujuan :
Melanjutkan latihan spiritual yang tidak mengganggu kesehatan.
Mengekpresikan pengurangan perasaan bersalah dan asietas.
Mengekpresikan kepuasaan dengan kondisi spiritual.
Intervensi :
Komonikasi penerimaan berbagai keyakinan spiritual dan praktisnya.
Nyatakan pentingnya kebutuhan spiritual.
Berikan privasi dan ketenangan seperti yang dibutuhkan untuk orang yang berdoa setiap hari, untuk kunjungan spiritual dan membaca buku spiritual.
Hubungi pemimpin spiritual untuk mengklarifikasi praktis spiritual dan melaksanakan pelayanan keagamaan / jika diinginkan.
Anjurkan klien ritual keagamaan yang tak merusak kesehatan.
Selalu bersedia dan berkeinginan untuk mendengarkan sewaktu klien mengekpresikan keraguan diri, rasa bersalah, atau perasaan negatif lainnya.
Berikan kesempatan individu berdoa dengan orang lain atau dibacakan doa oleh anggota kelompok keagamaan /anggota tim perawatan kesehatan yang dapat leluasa dengan aktifitas ini.
DAFTAR PUSTAKA
v. Bahasa Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan keperawatan, bandung, 1996
vi. Long, Barbara C, Perawatan Medikal Bedah edisi III, alih Carpenito, Lynda jual, Diagnosa Keperawatan edisi b, jakarta Egc, 1998
vii. Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner, Sudourth
viii. Puspenkes Asuhan keperawatan Urogenital, jilid I, jakarta Depkes Ri, 1990
ASKEP DIABETES INSIPIDUS
10:14
A. Pengertian
Diabetes insipidus adalah suatu penyakit yang jarang ditemukan, penyakit ini diakibatkan oleh berbagai penyebab yang dapat mengganggu mekanisme neurohypophyseal-renal reflex sehingga mengakibatkan kegagalan tubuh dalam mengkonversi air. Kebanyakan kasus-kasus yang pernah ditemui merupakan kasus yang idiopatik yang dapat bermanifestasi pada berbagai tingkatan umur dan jenis kelamin. Diabetes insipidus terbagi 2 macam, yaitu Diabetes Insipidus Sentral (CDI) dan Diabetes Insipidus Nefrogenik (NDI).
B. Etiologi
Diabetes Insipidus Sentral
A. Bentuk idiopatik
1. Bentuk non-familiar
2. Bentuk Familiar
B. Paska hipofisektomi
C. Trauma (fraktur dasar tulang tengkorak)
D. Tumor
1. Karsinoma metastasis
2. Kraniofaringioma
3. Kista supraselar
4. Pinealoma
E. Granuloma
1. Sarkoid
2. TBC
3. Sifilis
F. Infeksi
1. Meningitis
2. Ensefalitis
3. Landry-Guillain-Barre’s syndrome
G. Vaskular
1. Trombosis atau perdarahan serebral
2. Aneurisme serebral
3. Post partum necrosis (Sheehan’s syndrome)
H. Histiocytosis
1. Granuloma eosinofilik
2. Penyakit Schuller-Christian
Diabetes Insipidus Nefrogenik
A. Penyakit ginjal kronik
1. Penyakit ginjal polikistik
2. Medullary systic disease
3. Pielonefritis
4. Obstruksi ureteral
5. Gagal ginjal lanjut
B. Gangguan Elektrolit
1. Hipokalemia
2. Hiperkalsemia
C. Obat-obatan
1. Litium
2. Demeklosiklin
3. Asetoheksamid
4. Tolazamid
5. Glikurid
6. Propoksifen
7, Amfolarisin
8. Vinblastin
9. Kolkisin
D. Penyakit Sickle Cell
E. Gangguan Diet
1. Intake air yang berlebihan
2. Penurunan intake NaCl
3. Penurunan intake protein
F. Lain-lain
1. Multipel mieloma
2. Amiloidosis
3. Penyakit Sjogren’s
4. Sarkoidosis
C. Patofisiologi
a). Diabetes Insipidus Sentral
Diabetes insipidus sentralis disebabkan oleh kegagalan pelepasan ADH yang secara fisiologis dapat merupakan kegagalan sintesis atau penyimpanan secara anatomis, keadaan ini terjadi akibat kerusakan nukleus supra optik, paraventrikular dan filiformis hypotalamus yang mensintesis ADH. Selain itu diabetes insipidus sentral juga timbul karena gangguan pengangkutan ADH polifisealis dan akson hipofisis posterior dimana ADH disimpan untuk sewaktu-waktu dilepaskan kedalam sirkulasi jika dibutuhkan.
Secara biokimia, diabetes insipidus sentral terjadi karena tidak adanya sintesis ADH dan sintesis ADH yang kuantitatif tidak mencukupi kebutuhan, atau kuantitatif cukup tapi merupakan ADH yang tidak dapat berfungsi sebagaimana ADH yang normal. Sintesis neorufisin suatu binding protein yang abnormal, juga menggangu pelepasan ADH. Selain itu diduga terdapat pula diabetes insipidus sentral akibat adanya antibody terhadap ADH. Karena pada pengukuran kadar ADH dalam serum secara radio immunoassay, yang menjadi marker bagi ADH adalah neurofisisn yang secara fisiologis tidak berfungsi, maka kadar ADH yang normal atau meningkat belum dapat memastikan bahwa fungsi ADH itu adalah normal atau meningkat. Dengan demikian pengukuran kadar ADH sering kurang bermakna dalam menjelaskan patofisiologi diabetes insipidus sentral.
Termasuk dalam klasifikasi CDI adalah diabetes insipidus yang diakibatkan oleh kerusakan osmoreseptor yang terdapat pada hypotalamus anterior dan disebut Verney’s osmareseptor cells yang berada di luar sawar daerah otak
b). Diabetes Insipidus Nefrogenik
Istilah diabetes insipidus nefrogenik (NDI) dipakai pada diabetes insipidus yang tidak responsif terhadap ADH eksogen. Secara fisiologis NDI dapat disebabkan oleh :
1. Kegagalan pembentukan dan pemeliharaan gradient osmotik dalam medulla
renalis
2. Kegagalan utilisasi gradient pada keadaan di mana ADH berada dalam jumlah
yang cukup dan berfungsi normal
D. Tanda dan Gejala
Keluhan dan gejala utama diabetes insipidus adalah :
E. Poliuri 5-15 liter / hari
F. Polidipsi
G. Berat jenis urine sangat rendah 1001-1005/50-200 miliosmol/kg BB
H. Peningkatan osmolaritas serum > 300 m. Osm/kg
I. Penurunan osmolaritas urine < 50-200m. Osm/kg
E. Diagnosa dan Intervensi
1. Kekurangan cairan berhubungan dengan ketidakmampuan tubulus ginjal mengkonsentrasikan urine karena tidak terdapat ADH.
Tujuan : Volume cairan klien cukup atau terpenuhi
Intervensi :
Berikan cairan yang cukup sesuai dengan kebutuhan untuk mempertahankan masukan dan keluaran yang seimbang / jam.
Tambahkan masukan parenteral dengan cairan IV sesuai pesanan.
Pantau masukan dan keluaran / 2 jam.
Timbang BB klien tiap hari.
Kaji terhadap tanda dan gejala hypovolemia.
Observasi terhadap efek samping terapi pengganti ADH.
Pantau terhadap dehidrasi berlebihan.
Periksa BJ urine. Kirim urine untuk pemriksaan osmolaritas harian, laporkan BJ < 1,007.
Laporkan temuan abnormal.
Evaluasi :
Masukan dan keluaran seimbang
Masukan < 2500 ml/hari
Keluaran < 100 ml/hari
Kulit lembab dengan turgor yang baik
BB dalam batas normal
TTV dalam batas normal
BJ urine dalam batas normal
2. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi mengenai proses penyakit, pengobatan dan perawatan diri.
Tujuan : Klien mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit, pengobatan dan perawatan diri.
Intervensi :
Jelaskan konsep dasar proses penyakit.
Jelaskan mengenai obat-obatan.
Tekankan pentingnya mempertahankan masukan dan keluaran cairan yang seimbang.
Jelaskan pentingnya tindak lanjut rawat jalan yang teratur.
Jelaskan perlunya untuk menghindari obat yang dijual bebas.
Berikan informasi untuk mendapatkan gelang atau waspada medis.
Evaluasi :
Klien dapat mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit, pengarahan obat-obatan, gejala untuk dilaporkan dan perlunya mendapatkan gelang waspada medis.
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan diabetes insipidus
Tujuan : - Mengimplementasikan pola pengamanan baru.
- Mengawali atau memantapkan kembali pendukung yang ada.
- Mendemonstasikan keinginan dan kemampuan untuk mengambil perawatan diri/ anggung jawab peran.
Intervensi :
Berikan suasana yang menerima dan mendukung klien.
Tentukan bagaimana diabetes insipidus mempengaruhi aktifitas sehari-hari.
Anjurkan untuk mengekspresikan perasaan ansietas, takut, bingung, marah, dan tak berdaya.
Dukung perasaan positif klien.
Kembangkan perasaan menghargai diri sendiri dengan menekankan segi positif dalam kehidupan klien.
Anjurkan untuk berkomunikasi dengan keluarga yang lain dan minta bantuan dari profesi lain untuk membantu masalah klien dengan perubahan emosi.
Evaluasi :
Klien mendapatkan perasaan positif pada dirinya.
Klien dapat beraktifitas.
4. Gangguan spiritual berhubungan dengan keadaan yang memalukan (dibetes insipidus) pada saat melakukan ritual keagamaan yang ditandai klien mengatakan malas beribadah.
Tujuan : - Melanjutkan latihan spiritual yang tidak mengganggu
kesehatan.
-Mengekspresikan pengurangan perasaan bersalah dan ansietas.
- Mengekspresikan kepuasan dengan kondisi spiritual.
Intervensi :
Komunikasi penerimaan berbagai keyakinan spiritual dan praktisnya.
Nyatakan pentingnya kebutuhan spiritual.
Berikan privasi dan ketenangan seperti yang dibutuhkan untuk orang yang berdo’a setiap hari untuk kunjungan spiritual dan membaca buku spiritual.
Hubungi pimpinan spiritual untuk mengklarifikasi praktis spiritual dan malaksanakan pelayanan keagamaan atau jikan diinginkan.
Anjurkan ritual keagamaan yang tidak merusak kesehatan.
Selalu bersedia dan berkeinginan untuk mewndengarkan sewaktu klien mengekspresikan keraguan diri, rasa bersalah atau perasaan negatif lainnya.
Berikan kesempatan individu berdo’a dengan orang lain atau dibacakan do’a oleh anggota kelompok keagamaan atau anggota tim perawatan kesehatan yang dapat dengan leluasa dengan aktifitas ini.
Evaluasi :
Klien mendapatka privasi dan ketenangan dalam menjalankan kegiatan spiritual.
Klien dalam menjalankan ritual keagamaan tidak merusak kesehatan.
Klien dapat mengekspresikan perasaan bersalah, keraguan diri, atau perasaan negatif lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Suparman. 1987. Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I Edisi II: Jakarta. Penerbit Balai FKUI
2. Susan Martin Tucker (et-al). 1998. Standar Perawatan Pasien, volume 2: Jakarta. Penerbit Buku Kedoteran EGC
3. Hudak and Gallo. 1996 .Perawatan Kritis, Edisi 2: Jakarta . Penerbit Buku Kedokteran EGC
4. Dr. Hasjim Effendi. 1981. Fisiologi Sistem Hormonal dan Reproduksi dan Patofisiologinya: Bandung. Penerbit Alumni anggota IKAPI Bandung
5. Barbara. C. Long, 1996. Perawatan Medikal Bedah 3: Bandung. Penerbit Yayasan IAPK Padjajaran Bandung
6. Guyton. C. Arthur. 1992. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit : Jakarta Penerbit Buku Kedokteran EGC
7. A. Price Sylva and M. Wilsol Lorraine. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 4. Penerbit Buku Kedokteran EGC
8. Bruner dan Sudart. 2000. Buku Saku Keperawatan Medikal Bedah. EGC. 2000
Diabetes insipidus adalah suatu penyakit yang jarang ditemukan, penyakit ini diakibatkan oleh berbagai penyebab yang dapat mengganggu mekanisme neurohypophyseal-renal reflex sehingga mengakibatkan kegagalan tubuh dalam mengkonversi air. Kebanyakan kasus-kasus yang pernah ditemui merupakan kasus yang idiopatik yang dapat bermanifestasi pada berbagai tingkatan umur dan jenis kelamin. Diabetes insipidus terbagi 2 macam, yaitu Diabetes Insipidus Sentral (CDI) dan Diabetes Insipidus Nefrogenik (NDI).
B. Etiologi
Diabetes Insipidus Sentral
A. Bentuk idiopatik
1. Bentuk non-familiar
2. Bentuk Familiar
B. Paska hipofisektomi
C. Trauma (fraktur dasar tulang tengkorak)
D. Tumor
1. Karsinoma metastasis
2. Kraniofaringioma
3. Kista supraselar
4. Pinealoma
E. Granuloma
1. Sarkoid
2. TBC
3. Sifilis
F. Infeksi
1. Meningitis
2. Ensefalitis
3. Landry-Guillain-Barre’s syndrome
G. Vaskular
1. Trombosis atau perdarahan serebral
2. Aneurisme serebral
3. Post partum necrosis (Sheehan’s syndrome)
H. Histiocytosis
1. Granuloma eosinofilik
2. Penyakit Schuller-Christian
Diabetes Insipidus Nefrogenik
A. Penyakit ginjal kronik
1. Penyakit ginjal polikistik
2. Medullary systic disease
3. Pielonefritis
4. Obstruksi ureteral
5. Gagal ginjal lanjut
B. Gangguan Elektrolit
1. Hipokalemia
2. Hiperkalsemia
C. Obat-obatan
1. Litium
2. Demeklosiklin
3. Asetoheksamid
4. Tolazamid
5. Glikurid
6. Propoksifen
7, Amfolarisin
8. Vinblastin
9. Kolkisin
D. Penyakit Sickle Cell
E. Gangguan Diet
1. Intake air yang berlebihan
2. Penurunan intake NaCl
3. Penurunan intake protein
F. Lain-lain
1. Multipel mieloma
2. Amiloidosis
3. Penyakit Sjogren’s
4. Sarkoidosis
C. Patofisiologi
a). Diabetes Insipidus Sentral
Diabetes insipidus sentralis disebabkan oleh kegagalan pelepasan ADH yang secara fisiologis dapat merupakan kegagalan sintesis atau penyimpanan secara anatomis, keadaan ini terjadi akibat kerusakan nukleus supra optik, paraventrikular dan filiformis hypotalamus yang mensintesis ADH. Selain itu diabetes insipidus sentral juga timbul karena gangguan pengangkutan ADH polifisealis dan akson hipofisis posterior dimana ADH disimpan untuk sewaktu-waktu dilepaskan kedalam sirkulasi jika dibutuhkan.
Secara biokimia, diabetes insipidus sentral terjadi karena tidak adanya sintesis ADH dan sintesis ADH yang kuantitatif tidak mencukupi kebutuhan, atau kuantitatif cukup tapi merupakan ADH yang tidak dapat berfungsi sebagaimana ADH yang normal. Sintesis neorufisin suatu binding protein yang abnormal, juga menggangu pelepasan ADH. Selain itu diduga terdapat pula diabetes insipidus sentral akibat adanya antibody terhadap ADH. Karena pada pengukuran kadar ADH dalam serum secara radio immunoassay, yang menjadi marker bagi ADH adalah neurofisisn yang secara fisiologis tidak berfungsi, maka kadar ADH yang normal atau meningkat belum dapat memastikan bahwa fungsi ADH itu adalah normal atau meningkat. Dengan demikian pengukuran kadar ADH sering kurang bermakna dalam menjelaskan patofisiologi diabetes insipidus sentral.
Termasuk dalam klasifikasi CDI adalah diabetes insipidus yang diakibatkan oleh kerusakan osmoreseptor yang terdapat pada hypotalamus anterior dan disebut Verney’s osmareseptor cells yang berada di luar sawar daerah otak
b). Diabetes Insipidus Nefrogenik
Istilah diabetes insipidus nefrogenik (NDI) dipakai pada diabetes insipidus yang tidak responsif terhadap ADH eksogen. Secara fisiologis NDI dapat disebabkan oleh :
1. Kegagalan pembentukan dan pemeliharaan gradient osmotik dalam medulla
renalis
2. Kegagalan utilisasi gradient pada keadaan di mana ADH berada dalam jumlah
yang cukup dan berfungsi normal
D. Tanda dan Gejala
Keluhan dan gejala utama diabetes insipidus adalah :
E. Poliuri 5-15 liter / hari
F. Polidipsi
G. Berat jenis urine sangat rendah 1001-1005/50-200 miliosmol/kg BB
H. Peningkatan osmolaritas serum > 300 m. Osm/kg
I. Penurunan osmolaritas urine < 50-200m. Osm/kg
E. Diagnosa dan Intervensi
1. Kekurangan cairan berhubungan dengan ketidakmampuan tubulus ginjal mengkonsentrasikan urine karena tidak terdapat ADH.
Tujuan : Volume cairan klien cukup atau terpenuhi
Intervensi :
Berikan cairan yang cukup sesuai dengan kebutuhan untuk mempertahankan masukan dan keluaran yang seimbang / jam.
Tambahkan masukan parenteral dengan cairan IV sesuai pesanan.
Pantau masukan dan keluaran / 2 jam.
Timbang BB klien tiap hari.
Kaji terhadap tanda dan gejala hypovolemia.
Observasi terhadap efek samping terapi pengganti ADH.
Pantau terhadap dehidrasi berlebihan.
Periksa BJ urine. Kirim urine untuk pemriksaan osmolaritas harian, laporkan BJ < 1,007.
Laporkan temuan abnormal.
Evaluasi :
Masukan dan keluaran seimbang
Masukan < 2500 ml/hari
Keluaran < 100 ml/hari
Kulit lembab dengan turgor yang baik
BB dalam batas normal
TTV dalam batas normal
BJ urine dalam batas normal
2. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi mengenai proses penyakit, pengobatan dan perawatan diri.
Tujuan : Klien mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit, pengobatan dan perawatan diri.
Intervensi :
Jelaskan konsep dasar proses penyakit.
Jelaskan mengenai obat-obatan.
Tekankan pentingnya mempertahankan masukan dan keluaran cairan yang seimbang.
Jelaskan pentingnya tindak lanjut rawat jalan yang teratur.
Jelaskan perlunya untuk menghindari obat yang dijual bebas.
Berikan informasi untuk mendapatkan gelang atau waspada medis.
Evaluasi :
Klien dapat mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit, pengarahan obat-obatan, gejala untuk dilaporkan dan perlunya mendapatkan gelang waspada medis.
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan diabetes insipidus
Tujuan : - Mengimplementasikan pola pengamanan baru.
- Mengawali atau memantapkan kembali pendukung yang ada.
- Mendemonstasikan keinginan dan kemampuan untuk mengambil perawatan diri/ anggung jawab peran.
Intervensi :
Berikan suasana yang menerima dan mendukung klien.
Tentukan bagaimana diabetes insipidus mempengaruhi aktifitas sehari-hari.
Anjurkan untuk mengekspresikan perasaan ansietas, takut, bingung, marah, dan tak berdaya.
Dukung perasaan positif klien.
Kembangkan perasaan menghargai diri sendiri dengan menekankan segi positif dalam kehidupan klien.
Anjurkan untuk berkomunikasi dengan keluarga yang lain dan minta bantuan dari profesi lain untuk membantu masalah klien dengan perubahan emosi.
Evaluasi :
Klien mendapatkan perasaan positif pada dirinya.
Klien dapat beraktifitas.
4. Gangguan spiritual berhubungan dengan keadaan yang memalukan (dibetes insipidus) pada saat melakukan ritual keagamaan yang ditandai klien mengatakan malas beribadah.
Tujuan : - Melanjutkan latihan spiritual yang tidak mengganggu
kesehatan.
-Mengekspresikan pengurangan perasaan bersalah dan ansietas.
- Mengekspresikan kepuasan dengan kondisi spiritual.
Intervensi :
Komunikasi penerimaan berbagai keyakinan spiritual dan praktisnya.
Nyatakan pentingnya kebutuhan spiritual.
Berikan privasi dan ketenangan seperti yang dibutuhkan untuk orang yang berdo’a setiap hari untuk kunjungan spiritual dan membaca buku spiritual.
Hubungi pimpinan spiritual untuk mengklarifikasi praktis spiritual dan malaksanakan pelayanan keagamaan atau jikan diinginkan.
Anjurkan ritual keagamaan yang tidak merusak kesehatan.
Selalu bersedia dan berkeinginan untuk mewndengarkan sewaktu klien mengekspresikan keraguan diri, rasa bersalah atau perasaan negatif lainnya.
Berikan kesempatan individu berdo’a dengan orang lain atau dibacakan do’a oleh anggota kelompok keagamaan atau anggota tim perawatan kesehatan yang dapat dengan leluasa dengan aktifitas ini.
Evaluasi :
Klien mendapatka privasi dan ketenangan dalam menjalankan kegiatan spiritual.
Klien dalam menjalankan ritual keagamaan tidak merusak kesehatan.
Klien dapat mengekspresikan perasaan bersalah, keraguan diri, atau perasaan negatif lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Suparman. 1987. Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I Edisi II: Jakarta. Penerbit Balai FKUI
2. Susan Martin Tucker (et-al). 1998. Standar Perawatan Pasien, volume 2: Jakarta. Penerbit Buku Kedoteran EGC
3. Hudak and Gallo. 1996 .Perawatan Kritis, Edisi 2: Jakarta . Penerbit Buku Kedokteran EGC
4. Dr. Hasjim Effendi. 1981. Fisiologi Sistem Hormonal dan Reproduksi dan Patofisiologinya: Bandung. Penerbit Alumni anggota IKAPI Bandung
5. Barbara. C. Long, 1996. Perawatan Medikal Bedah 3: Bandung. Penerbit Yayasan IAPK Padjajaran Bandung
6. Guyton. C. Arthur. 1992. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit : Jakarta Penerbit Buku Kedokteran EGC
7. A. Price Sylva and M. Wilsol Lorraine. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 4. Penerbit Buku Kedokteran EGC
8. Bruner dan Sudart. 2000. Buku Saku Keperawatan Medikal Bedah. EGC. 2000
ASKEP EPILEPSY
09:31
1. Pengertian
Epilepsy adalah merupakan sindrom yang ditandai oleh kejang yang terjadi berulang-ulang. Diagnosa ditegakkan paling tidak dua kali kejang tanpa penyebab (Jastremski, 1988).
Bangkitan epilepsi adalah manifestasi gangguan otak dengan berbagai gejala klinis, disebabkan oleh lepasnya muatan listrik dari neuron-neuron otak secara berlebihan dan berkala tetapi reversibel dengan berbagai etiologi.
Ada dua klasifikasi kejang: umum dan parsial (atau juga disebut fokal) masing-masing ditandai oleh jenis kejang yang berbeda.
Kejang Umum
Kejang grand mal ditandai oleh empat fase:
1. Fase aura, seseorang mengalami berbagai sensasi sebelum kejadian kejang klonik. Sensasi ini merupakan tanda akan datangnya kejang. Sensasi mungkin merupakan penciuman, pusing, cahaya, rasa tertentu, baal atau getaran pada tangan.
2. Fase tonik, ditandai oleh hilangnya kesadaran, jeritan (suara bernada tinggi disebabkan lewatnya udara melalui laring yang menutup disertai kontraksi maksimal otot-otot dan perut), tubuh kaku karena kontraksi yang tiba-tiba dari seluruh otot volunter (tangan fleksi, kaki ekstensi dan gigi rapat).
3. Fase klonik, ditandai oleh gerakan-gerakan kejang agitasi seluruh tubuh karena pergantian relaksasi dan kontraksi yang cepat dari seluruh otot volunter. Pernafasan terhenti dan terjadi sianosis. Mungkin disertai mulut berbusa karena banyaknya saliva yang mungkin berwarna merah bila terjadi perdarahan karena tergigitnya lidah.
4. Fase pemulihan atau postiktal, ditandai oleh berhentinya gerakan – gerakan kejang. Individu tidak sadar. Kesadaran dan semua gerakan volunter perlahan kembali. Kebingungan, agitasi dan peka rangsang mungkin muncul. Individu akan merasa lelah. Mungkin mengalami inkontinensia urine. Individu juga lupa akan kejang yang dialaminya.
Kejang petit-mal (juga disebut takada kejang) ditandai hilangnya kesadaran singkat yang terjadi tiba-tiba tanpa disertai hilangnya tonus otot. Selama serangan, mungkin muncul lip smacking, pandangan kosong dan lurus ke depan, atau kelopak mata berkedip secara ritmis.
Kejang Parsia atau fokal
Kejang fokal sederhana ditandai dengan kejang pada bagian tubuh tertentu yang merupakan tempat di mana konduksi neural abnormal terjadi guncangan pada satu sisi wajah meluas kepada otot-otot tubuh pada sisi yang sama. Gejala somatosensori bisa terjadi misalnya kesemutan, rasa logam, halusinasi visual; gejala otonom juga dapat terjadi seperti mual, berkeringat, individu tidak mengalami kehilangan kesadaran.
Kejang fokal kompleks ditandai oleh adanya kehilangan kesadaran, disertai tingkah laku kacau seperti lip smacking, menarik-narik pakaian, atau menunjukkan jari. Kemudian kacau mental dan peka rangsang terjadi kemudian. Kejang parsial dapat berkembang menjadi kejang umum. Dengan kejang pertama, seseorang dirawat dan mengalami pemeriksaan diagnostik lengkap untuk menentukan penyebab kejang.
2. Patogenesis
sampai saat ini patofisiologi epileptik diketahui dengan jelas. Ada hipotesis yang menduga bahwa suatu epileptogenesis dapat terjadi karena adanya sekelompok neuron yang secara intriksik mempunyai kelainan pada membrannya, ini bisa didapat atau diturunkan. Neuron abnormal tersebut akan menunjukkan depolarisasi berkelanjutan dan sangat besar, kemudian melalui hubungan yang efisien akan mengimbas depolarisasi pada sebagian besar neuron-neuron karena suatu cedera, hipotesis iskemia atau genesis akibat gangguan mutasi, maka kumpulan neuron abnormal yang di imbasnya melepaskan potensial aksinya, sehingga terjadilah sawan.
3. Etiologi
Etiologi epilepsi dapat dibagi atas 2 kelompok:
a. Epilepsi idiopatik yang penyebabnya tidak diketahui meliputi 505 dari penderita epilepsi anak, awitan biasanya pada usia lebih dari 3 tahun. Dengan perkembangan ilmu dan ditemukannya alat-alat diagnostik yang canggih, kelompok ini makin kecil.
b. Epilepsi simtomatik yang penyebabnya sangat bervariasi, tergantung pada usia awitan.
Secara umum penyebab utama dari kejang ini dapat dibagi menjadi enam kelompok besar, yaitu:
Obat-obatan; racun, alkohol, obat yang diminum berlebihan (tapak lajak) baik yang diresepkan maupun obat yang dibeli sendiri. Obat terjadi terbesar sebagai penyebab kejang.
Ketidakseimbangan kimia; hiperkalemia, hipoglikemia, dan asidosis.
Demam; paling sering terjadi pada usia anak-anak (balita)
Patologis otak; sebagai akibat dari cedera kepala, trauma, infeksi, peningkatan tekanan intra kranial
Eklamsia; hipertensi pranatal/toksemia saat kehamilan.
Idiopatik; penyebabnya tidak diketahui.
4. Gejala-Gejala Klinik
Flasid, simetris paralisis asending dengan cepat berkembang. Otot pernapasan dapat saja terkena; mengakibatkan insufisiensi pernafasan.
Gangguan otonomi seperti retensi urin dan hipotensi postural kadang terjadi. Reflek-reflek superfisial dan tendon dalam dapat hilang. Biasanya tidak terjadi kehilangan massa otot karena paralisis flasid terjadi dengan cepat. Ada pasien yang mengalami nyeri tekan dan nyeri pada tekanan dalam atau gerakkan beberapa otot.
Gejala-gejala parestesia termasuk semutan “jarum dan peniti” dan kebas dapat terjadi secara sementara. Jika saraf kranial terkena, maka saraf fasial (VII) lebih sering terkena. Tanda dan gejala disfungsi saraf facial termasuk ketidakmampuan untuk tersenyum, bersiul, dan cemberut. Guillain-Barre tidak mengenai LOC (tingkat kesadaran), tanda-tanda pupil, atau fungsi serebral.
Gejala biasanya memuncak dalam satu minggu, tetapi dapat berkembang selama beberapa minggu. Tingkat paralisis dapat saja terhenti setiap saat. Fungsi motorik kembali dalam gaya desending. Demielinisasi terjadi dengan cepat, tetapi kecepatan remielinisasi hanya sekitar satu sampai dua jam per hari.
5. Pemeriksaan laboratorium/ diagnostik
• EEG
• Scan CT atau MRI (magnetic resonance imaging)
• Pemeriksaan metabolisme menggambarkan kondisi keadaan patologis
Kadar antikonvulsan serum (bila digunakan) diperiksa untuk menentukan adekuat-tidaknya terapi obat.
6. Penatalaksanaan / Therapy
a. Antikonvulsan
- Untuk kejang umum: karbamazepin (tegretol), fenitoin (dilantin), fenobarbital.
- Untuk kejang fokal : atosuksimid (zarontin) atau valproik aid (depakene)
b. Bedah saraf (reseksi lobus temporal atau mengangkat jaringan otak yang merupakan asal kejang) untuk orang-orang yang tidak puas dengan terapi obat.
7. Pengkajian
Observasi/ temuan
• Riwayat adanya faktor-faktor penyebab :
- Idiopatik-tidak ada penyebab yang dapat diidentifikasi.
- Pasca trauma-cedera kepala, lesi otak yang menyebabkan desak ruang (tumor, aneurisma, hematoma), inflamasi selaput otak, demam tinggi, dan gangguan metabolik.
• Dapatkan riwayat kejang. Pasien mungkin tidak dapat memberikan informasi tentang perilakunya selama atau setelah kejang kecuali ada saksi yang memberitahu pasien. Bila mungkin, bicaralah dengan orang yang menyaksikan. Tanya pasien hal-hal berikut:
- Berkaitan dengan kejang:
• Pernahkah anda mengalami kejang? Jika Ya apa yang terjadi selama kejang dan berapa lama berakhir?
• Apakah anda mengalami aura (sensasi atau tingkah laku yang tidak biasa) sebelum kejang?
• Apakah yang terjadi setelah kejang?
• Seberapa seringkah anda mengalami kejang?
• Adakah sesuatu yang khusus yang menyebabkan kejang?
• Kapan kejang terakhir yang anda alami?
• Apakah setelah kejang berakhir, anda menyadari kalau baru saja mengalami kejang?
• Apakah anda juga rasakan setelah kejang?
- Berkaitan dengan obat-obatan:
• Obat apakah yang anda gunakan untuk mengontrol aktivitas kejang?
• Kapan obat terakhir digunakan untuk mengontrol aktivitas kejang?
• Apakah anda juga menggunakan obat-obatan yang lain?
• Gali informasi tentang perubahan gaya hidup yang mungkin mencetuskan kejang / serangan.
• Kaji pemahamannya tentang kondisi, pengobatan dan kemandirian-nya setelah pulang.
• Kaji perasaan tentang kondisinya dan dampaknya terhadap gaya hidup.
8. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko tinggi terhadap cedera
Berhubungan dengan faktor; aktivitas kejang
Batasan karakteristik; laporan jatuh pada saat kejang terjadi, memar, aktivitas jejak keras saat kejang.
Kriteria evaluasi; tidak memar, tidak jatuh
Intervensi
1. Pantau:
- Hasil darah menunjukkan terapi antikonvulsan
- Status neurologis setiap 8 jam.
2. Lakukan kewaspadaan yang tepat bila terjadi kejang.
- Kaji fungsi saluran pernafasan. Gunakan ambu-bag bila perlu sebagai ventilasi. Masukan alat untuk pernafasan mulut hanya bila serangan dengan status epileptikus reda sejenak. Lakukan penghisapan bila perlu.
- Pasang infus untuk sarana pengobatan, berikan antikonvulsan sesuai program.
3. Segera beritahu dokter bila kejang melebihi 10 menit dan individu tak sadar.
4. Apabila kejang berakhir:
- Catat lamanya kejang, uraikan pergerakan tubuh selama kejang, dan perilaku pasien setelah kejang.
- Ukur tanda vital.
- Berikan kesempatan pada pasien untuk istirahat, khususnya setelah kejang umum.
- Tanyakan pasien bila ada perasaan yang tidak biasa yang dialami beberapa saat sebelum kejang.
- Beri tahu pasien tentang kejadian kejang.
5. Bila pasien dirawat di rumah sakit dengan kejang yang tidak terkontrol;
- Pasang penghalang tempat tidur.
- Tempelkan tulisan pada tempat tidur “kewaspadaan kejang “.
- Pastikan alat penghisap lendir siap dipergunakan bila pasien mengalami serangan grand-mal.
- Pastikan bahwa infus terpasang atau heparin-lok terpasang.
- Siapkan spatel lidah atau mayo di samping tempat tidur.
6. Bila pasien dirawat dengan serangan kejang berikan pada kardex atau status, pastikan pasien mendapatkan program pengobatan untuk mengontrol kejang bila individu sudah berobat sebelum dirawat.
7. Berikan antikonvulsan sesuai program. Beritahu dokter bila aktivitas kejang masih tetap atau memburuk.
2. Resiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan di rumah.
Berhubungan dengan faktor: kurangnya pengetahuan tentang kondisi dan rencana penanganannya, tidak efektifnya koping terhadap kondisi kroniknya.
Batasan karakteristik: ungkapan kurangnya pemahaman, keluhan, tidak mampu mengatasi masalah-masalah pada saat yang lalu, mengungkapkan kesulitan koping terhadap kondisi kronisnya.
Hasil yang diharapkan: mengungkapkan pemahaman terhadap kondisinya, pengobatan, tindakan pencegahan; mengungkapkan kepuasannya dengan rencana terapi; mengungkapkan rencana yang realistis.
Intervensi
1. Berikan informasi tentang:
• Mekanisme patologi yang mengakibatkan aktivitas kejang.
• Tujuan dari program penanganan.
• Program pengobatan termasuk Nama, dosis, jadwal, tujuan dan kemungkinan, efek samping.
• Pemeriksaan diagnostik termasuk:
- Uraian singkat.
- Tujuan pemeriksaan.
- Persiapan sebelum pemeriksaan.
- Perawatan sebelum pemeriksaan.
2. Ajarkan pada pasien untuk perawatan mandiri terhadap kejang.
• Pada saat akan terjadi serangan cari tempat yang man dan berbaring.
• Gunakan obat sesuai program.
• Pakai gelang dan kalung Waspada Medis.
• Hindari konsumsi alkohol, sementara sedang dalam pengobatan antikonvulsan.
• Pekerjaan tetap dilakukan apabila keamanannya terjamin. Hindari pekerjaan-pekerjaan yang berada di tempat ketinggian atau air.
• Taati peraturan mengemudi di banyak daerah mengharuskan seseorang bebas dari serangan kejang paling tidak dalam dua tahun terakhir untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi.
3. Ajarkan kepada anggota keluarga apa yang harus dilakukan bila terjadi kejang. Jelaskan bahwa perlu untuk mencari bantuan darurat setiap serangan karena polanya selalu sama. Anjurkan untuk menghubungi dokter bila kejang menjadi lebih kuat dan sering.
4. Berikan kesempatan pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya tentang perawatan kejang. Koreksi bila ada kekeliruan konsep
Daftar Pustaka
Doengoes, Marilynn E. Et al. 1999, Rencana Asuhan Keperawatan. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta
Engram, Barbara.1998, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Volume 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta
Hudak & Gallo, 1996, Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik Vol 2 EdisiVI, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta
Epilepsy adalah merupakan sindrom yang ditandai oleh kejang yang terjadi berulang-ulang. Diagnosa ditegakkan paling tidak dua kali kejang tanpa penyebab (Jastremski, 1988).
Bangkitan epilepsi adalah manifestasi gangguan otak dengan berbagai gejala klinis, disebabkan oleh lepasnya muatan listrik dari neuron-neuron otak secara berlebihan dan berkala tetapi reversibel dengan berbagai etiologi.
Ada dua klasifikasi kejang: umum dan parsial (atau juga disebut fokal) masing-masing ditandai oleh jenis kejang yang berbeda.
Kejang Umum
Kejang grand mal ditandai oleh empat fase:
1. Fase aura, seseorang mengalami berbagai sensasi sebelum kejadian kejang klonik. Sensasi ini merupakan tanda akan datangnya kejang. Sensasi mungkin merupakan penciuman, pusing, cahaya, rasa tertentu, baal atau getaran pada tangan.
2. Fase tonik, ditandai oleh hilangnya kesadaran, jeritan (suara bernada tinggi disebabkan lewatnya udara melalui laring yang menutup disertai kontraksi maksimal otot-otot dan perut), tubuh kaku karena kontraksi yang tiba-tiba dari seluruh otot volunter (tangan fleksi, kaki ekstensi dan gigi rapat).
3. Fase klonik, ditandai oleh gerakan-gerakan kejang agitasi seluruh tubuh karena pergantian relaksasi dan kontraksi yang cepat dari seluruh otot volunter. Pernafasan terhenti dan terjadi sianosis. Mungkin disertai mulut berbusa karena banyaknya saliva yang mungkin berwarna merah bila terjadi perdarahan karena tergigitnya lidah.
4. Fase pemulihan atau postiktal, ditandai oleh berhentinya gerakan – gerakan kejang. Individu tidak sadar. Kesadaran dan semua gerakan volunter perlahan kembali. Kebingungan, agitasi dan peka rangsang mungkin muncul. Individu akan merasa lelah. Mungkin mengalami inkontinensia urine. Individu juga lupa akan kejang yang dialaminya.
Kejang petit-mal (juga disebut takada kejang) ditandai hilangnya kesadaran singkat yang terjadi tiba-tiba tanpa disertai hilangnya tonus otot. Selama serangan, mungkin muncul lip smacking, pandangan kosong dan lurus ke depan, atau kelopak mata berkedip secara ritmis.
Kejang Parsia atau fokal
Kejang fokal sederhana ditandai dengan kejang pada bagian tubuh tertentu yang merupakan tempat di mana konduksi neural abnormal terjadi guncangan pada satu sisi wajah meluas kepada otot-otot tubuh pada sisi yang sama. Gejala somatosensori bisa terjadi misalnya kesemutan, rasa logam, halusinasi visual; gejala otonom juga dapat terjadi seperti mual, berkeringat, individu tidak mengalami kehilangan kesadaran.
Kejang fokal kompleks ditandai oleh adanya kehilangan kesadaran, disertai tingkah laku kacau seperti lip smacking, menarik-narik pakaian, atau menunjukkan jari. Kemudian kacau mental dan peka rangsang terjadi kemudian. Kejang parsial dapat berkembang menjadi kejang umum. Dengan kejang pertama, seseorang dirawat dan mengalami pemeriksaan diagnostik lengkap untuk menentukan penyebab kejang.
2. Patogenesis
sampai saat ini patofisiologi epileptik diketahui dengan jelas. Ada hipotesis yang menduga bahwa suatu epileptogenesis dapat terjadi karena adanya sekelompok neuron yang secara intriksik mempunyai kelainan pada membrannya, ini bisa didapat atau diturunkan. Neuron abnormal tersebut akan menunjukkan depolarisasi berkelanjutan dan sangat besar, kemudian melalui hubungan yang efisien akan mengimbas depolarisasi pada sebagian besar neuron-neuron karena suatu cedera, hipotesis iskemia atau genesis akibat gangguan mutasi, maka kumpulan neuron abnormal yang di imbasnya melepaskan potensial aksinya, sehingga terjadilah sawan.
3. Etiologi
Etiologi epilepsi dapat dibagi atas 2 kelompok:
a. Epilepsi idiopatik yang penyebabnya tidak diketahui meliputi 505 dari penderita epilepsi anak, awitan biasanya pada usia lebih dari 3 tahun. Dengan perkembangan ilmu dan ditemukannya alat-alat diagnostik yang canggih, kelompok ini makin kecil.
b. Epilepsi simtomatik yang penyebabnya sangat bervariasi, tergantung pada usia awitan.
Secara umum penyebab utama dari kejang ini dapat dibagi menjadi enam kelompok besar, yaitu:
Obat-obatan; racun, alkohol, obat yang diminum berlebihan (tapak lajak) baik yang diresepkan maupun obat yang dibeli sendiri. Obat terjadi terbesar sebagai penyebab kejang.
Ketidakseimbangan kimia; hiperkalemia, hipoglikemia, dan asidosis.
Demam; paling sering terjadi pada usia anak-anak (balita)
Patologis otak; sebagai akibat dari cedera kepala, trauma, infeksi, peningkatan tekanan intra kranial
Eklamsia; hipertensi pranatal/toksemia saat kehamilan.
Idiopatik; penyebabnya tidak diketahui.
4. Gejala-Gejala Klinik
Flasid, simetris paralisis asending dengan cepat berkembang. Otot pernapasan dapat saja terkena; mengakibatkan insufisiensi pernafasan.
Gangguan otonomi seperti retensi urin dan hipotensi postural kadang terjadi. Reflek-reflek superfisial dan tendon dalam dapat hilang. Biasanya tidak terjadi kehilangan massa otot karena paralisis flasid terjadi dengan cepat. Ada pasien yang mengalami nyeri tekan dan nyeri pada tekanan dalam atau gerakkan beberapa otot.
Gejala-gejala parestesia termasuk semutan “jarum dan peniti” dan kebas dapat terjadi secara sementara. Jika saraf kranial terkena, maka saraf fasial (VII) lebih sering terkena. Tanda dan gejala disfungsi saraf facial termasuk ketidakmampuan untuk tersenyum, bersiul, dan cemberut. Guillain-Barre tidak mengenai LOC (tingkat kesadaran), tanda-tanda pupil, atau fungsi serebral.
Gejala biasanya memuncak dalam satu minggu, tetapi dapat berkembang selama beberapa minggu. Tingkat paralisis dapat saja terhenti setiap saat. Fungsi motorik kembali dalam gaya desending. Demielinisasi terjadi dengan cepat, tetapi kecepatan remielinisasi hanya sekitar satu sampai dua jam per hari.
5. Pemeriksaan laboratorium/ diagnostik
• EEG
• Scan CT atau MRI (magnetic resonance imaging)
• Pemeriksaan metabolisme menggambarkan kondisi keadaan patologis
Kadar antikonvulsan serum (bila digunakan) diperiksa untuk menentukan adekuat-tidaknya terapi obat.
6. Penatalaksanaan / Therapy
a. Antikonvulsan
- Untuk kejang umum: karbamazepin (tegretol), fenitoin (dilantin), fenobarbital.
- Untuk kejang fokal : atosuksimid (zarontin) atau valproik aid (depakene)
b. Bedah saraf (reseksi lobus temporal atau mengangkat jaringan otak yang merupakan asal kejang) untuk orang-orang yang tidak puas dengan terapi obat.
7. Pengkajian
Observasi/ temuan
• Riwayat adanya faktor-faktor penyebab :
- Idiopatik-tidak ada penyebab yang dapat diidentifikasi.
- Pasca trauma-cedera kepala, lesi otak yang menyebabkan desak ruang (tumor, aneurisma, hematoma), inflamasi selaput otak, demam tinggi, dan gangguan metabolik.
• Dapatkan riwayat kejang. Pasien mungkin tidak dapat memberikan informasi tentang perilakunya selama atau setelah kejang kecuali ada saksi yang memberitahu pasien. Bila mungkin, bicaralah dengan orang yang menyaksikan. Tanya pasien hal-hal berikut:
- Berkaitan dengan kejang:
• Pernahkah anda mengalami kejang? Jika Ya apa yang terjadi selama kejang dan berapa lama berakhir?
• Apakah anda mengalami aura (sensasi atau tingkah laku yang tidak biasa) sebelum kejang?
• Apakah yang terjadi setelah kejang?
• Seberapa seringkah anda mengalami kejang?
• Adakah sesuatu yang khusus yang menyebabkan kejang?
• Kapan kejang terakhir yang anda alami?
• Apakah setelah kejang berakhir, anda menyadari kalau baru saja mengalami kejang?
• Apakah anda juga rasakan setelah kejang?
- Berkaitan dengan obat-obatan:
• Obat apakah yang anda gunakan untuk mengontrol aktivitas kejang?
• Kapan obat terakhir digunakan untuk mengontrol aktivitas kejang?
• Apakah anda juga menggunakan obat-obatan yang lain?
• Gali informasi tentang perubahan gaya hidup yang mungkin mencetuskan kejang / serangan.
• Kaji pemahamannya tentang kondisi, pengobatan dan kemandirian-nya setelah pulang.
• Kaji perasaan tentang kondisinya dan dampaknya terhadap gaya hidup.
8. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko tinggi terhadap cedera
Berhubungan dengan faktor; aktivitas kejang
Batasan karakteristik; laporan jatuh pada saat kejang terjadi, memar, aktivitas jejak keras saat kejang.
Kriteria evaluasi; tidak memar, tidak jatuh
Intervensi
1. Pantau:
- Hasil darah menunjukkan terapi antikonvulsan
- Status neurologis setiap 8 jam.
2. Lakukan kewaspadaan yang tepat bila terjadi kejang.
- Kaji fungsi saluran pernafasan. Gunakan ambu-bag bila perlu sebagai ventilasi. Masukan alat untuk pernafasan mulut hanya bila serangan dengan status epileptikus reda sejenak. Lakukan penghisapan bila perlu.
- Pasang infus untuk sarana pengobatan, berikan antikonvulsan sesuai program.
3. Segera beritahu dokter bila kejang melebihi 10 menit dan individu tak sadar.
4. Apabila kejang berakhir:
- Catat lamanya kejang, uraikan pergerakan tubuh selama kejang, dan perilaku pasien setelah kejang.
- Ukur tanda vital.
- Berikan kesempatan pada pasien untuk istirahat, khususnya setelah kejang umum.
- Tanyakan pasien bila ada perasaan yang tidak biasa yang dialami beberapa saat sebelum kejang.
- Beri tahu pasien tentang kejadian kejang.
5. Bila pasien dirawat di rumah sakit dengan kejang yang tidak terkontrol;
- Pasang penghalang tempat tidur.
- Tempelkan tulisan pada tempat tidur “kewaspadaan kejang “.
- Pastikan alat penghisap lendir siap dipergunakan bila pasien mengalami serangan grand-mal.
- Pastikan bahwa infus terpasang atau heparin-lok terpasang.
- Siapkan spatel lidah atau mayo di samping tempat tidur.
6. Bila pasien dirawat dengan serangan kejang berikan pada kardex atau status, pastikan pasien mendapatkan program pengobatan untuk mengontrol kejang bila individu sudah berobat sebelum dirawat.
7. Berikan antikonvulsan sesuai program. Beritahu dokter bila aktivitas kejang masih tetap atau memburuk.
2. Resiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan di rumah.
Berhubungan dengan faktor: kurangnya pengetahuan tentang kondisi dan rencana penanganannya, tidak efektifnya koping terhadap kondisi kroniknya.
Batasan karakteristik: ungkapan kurangnya pemahaman, keluhan, tidak mampu mengatasi masalah-masalah pada saat yang lalu, mengungkapkan kesulitan koping terhadap kondisi kronisnya.
Hasil yang diharapkan: mengungkapkan pemahaman terhadap kondisinya, pengobatan, tindakan pencegahan; mengungkapkan kepuasannya dengan rencana terapi; mengungkapkan rencana yang realistis.
Intervensi
1. Berikan informasi tentang:
• Mekanisme patologi yang mengakibatkan aktivitas kejang.
• Tujuan dari program penanganan.
• Program pengobatan termasuk Nama, dosis, jadwal, tujuan dan kemungkinan, efek samping.
• Pemeriksaan diagnostik termasuk:
- Uraian singkat.
- Tujuan pemeriksaan.
- Persiapan sebelum pemeriksaan.
- Perawatan sebelum pemeriksaan.
2. Ajarkan pada pasien untuk perawatan mandiri terhadap kejang.
• Pada saat akan terjadi serangan cari tempat yang man dan berbaring.
• Gunakan obat sesuai program.
• Pakai gelang dan kalung Waspada Medis.
• Hindari konsumsi alkohol, sementara sedang dalam pengobatan antikonvulsan.
• Pekerjaan tetap dilakukan apabila keamanannya terjamin. Hindari pekerjaan-pekerjaan yang berada di tempat ketinggian atau air.
• Taati peraturan mengemudi di banyak daerah mengharuskan seseorang bebas dari serangan kejang paling tidak dalam dua tahun terakhir untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi.
3. Ajarkan kepada anggota keluarga apa yang harus dilakukan bila terjadi kejang. Jelaskan bahwa perlu untuk mencari bantuan darurat setiap serangan karena polanya selalu sama. Anjurkan untuk menghubungi dokter bila kejang menjadi lebih kuat dan sering.
4. Berikan kesempatan pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya tentang perawatan kejang. Koreksi bila ada kekeliruan konsep
Daftar Pustaka
Doengoes, Marilynn E. Et al. 1999, Rencana Asuhan Keperawatan. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta
Engram, Barbara.1998, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Volume 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta
Hudak & Gallo, 1996, Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik Vol 2 EdisiVI, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta





.jpg)