KHAIDIR MUHAJ BLOG'SITE
Tempat Asuhan Keperawatan dan Materi Kuliah Keperawatan

ASKEP ENDOKARDITIS

11:22
1. DEFINISI
Endokarditis adalah peradangan endokardium atau katup jantung.
Endokarditis ada dua yaitu:
a. Endokarditis akut: Staphylococcus aureus.
b. Endokarditis sub akut: Streptococcus viridans.

2. ETIOLOGI
 Streptococcus viridans.
 Staphylococcus.
 Enterococcus.
 Penyakit katup.
 Prosedur invasif.
 Ketergantungan obat.

3. PATOFISIOLOGI
a. Inflamasi  jaringan parut  insufisiensi/ stenosis valvular  gangguan jantung.
b. Bakterial akut  demam meningkat, menggigil, diaporesis, leukositosis, mur-mur.
c. Emboli  otak  stroke.
 Gangguan ginjal
d. Sub akut  malaise, demam, menggigil, respirasi meningkat, nyeri persendian, petachie.

4. TANDA DAN GEJALA
 Peningkatan suhu berulang.
 Akut: 39C - 40C.
 Sub akut: 39C.
 Menggigil dan diaforesis bergantian; dapat terjadi pada malam hari.
 Malaise.
 Artragia.
 Tanda embolisasi.
 Petechie.
 Konjungtiva.
 Palatum, mukosa mulut.
 Ekstremitas.
 Nodus osler’s.
 Kompleksitas “cafe – au – lait”.
 Anoreksia.
 Penurunan berat badan.
 Sakit kepala.
 Splenomegali.
 Bunyi jantung.
 Awal: normal (biasa).
 Lanjut: mur-mur.

5. POTENSIAL KOMPLIKASI

 Jantung:
- Abses.
- Penyakit katup jantung.
- Miokarditis.

- Embilisasi
-Serebral
-ginjal
-Splenik
-koroner
 Aneurisme mikotik


6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
 EKG: dapat menunjukkan iskemia, hipertrofi, blok konduksi, disritmia.
 Ekokardiogram: dapat menunjukkan efusi perikardial, hipertrofi jantung, disfungsi katup, dilatasi ruang.
 Enzim jantung: CPK mungkin tinggi, tetapi iso enzim tidak ada.
 Sinar X dada: dapat menunjukkan pembesaran jantung, infiltrasi pulmonal.
 JDL: dapat menunjukkan proses infeksi akut/ kronis; anemia.
 Kultur darah: dilakukan untuk mengisolasi bakteri, virus dan jamur penyebab.
 LED: umumnya meningkat.
 Titer ISO: peningkatan pada demam rheumatik (kemungkinan pencetus).
 Titer ANA: (+) pada penyakit autoimun.

7. PENATALAKSANAAN MEDIS
 Terapi parenteral.
 Obat-obatan.
 Antibiotik IV.
 Antipiretik = salisilat.
 Analgesik
 Antikoagulasi.
 Insisi dan drainase abses.
 Pergantian katup.
 Istirahat di tempat tidur.


DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan efek-efek sistemik dari infeksi.
INTERVENSI:
MANDIRI:
• Selidiki keluhan nyeri dada.
• Perhatikan faktor pemberat/penurun.
• Perhatikan petunjuk nonverbal dari ketidaknyamanan.
• Berikan lingkungan yang tenang dan tindakan kenyamanan, misal: perubahan posisi, gosokkan punggung, penggunaan kompres hangat/dingin.
• Berikan aktivitas hiburan yang tepat.
KOLABORATIF:
• Berikan obat-obatan sesuai indikasi.
• Berikan O2 suplemen sesuai indikasi.

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan faktor biologi (demam, infeksi).
INTERVENSI:
MANDIRI:
• Pantau masukan kalori setiap hari.
• Berikan makanan tambahan TKTP.
• Jamin klien merasa nyaman saat makan.
KOLABORATIF:
• Konsultasi dengan ahli gizi.

3. Perubahan suhu tubuh yang berhubungan dengan proses infeksi.
INTERVENSI:
MANDIRI:
• Kaji adanya dehidrasi, diaforesis, turgor kulit jelek, membran mukosa kering.
• Ukur suhu tubuh 4 – 8 jam.
• Pantau masukan dan haluaran cairan setiap 8 jam.
• Catat kehilangan cairan yang diakibatkan dari perspirasi.
• Pantau sisi IV adanya kemerahan dan bengkak, ganti tempat setiap 24 jam.

KOLABORATIF:
• Berikan antibiotik sesuai pesanan, pastikan obat diberikan sesuai pada waktunya.
• Berikan antipiretik sesuai pesanan.
• Pantau hasil laboratorium terhadap ADALAH dengan deferensial dan kultur darah.

4. Potensial perubahan perfusi jaringan serebral yang berhubungan dengan embolisasi
INTERVENSI:
MANDIRI:
• Kaji adanya tanda embolisasi setiap shift, laporkan adanya tanda embolisasi pada dokter dengan segera.
• Lakukan pemeriksaan neurologis setiap shift atau sesuai kondisi klien.
• Instruksikan klien tentang perlunya meneruskan antikoagulan, jika dipesankan untuk mencegah periode embolik lanjut.
KOLABORATIF:
• Berikan terapi antikoagulan.

5. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang proses penyakit.
INTERVENSI:
MANDIRI:
• Jelaskan pentingnya menghindari kelelahan, perlu merencanakan periode istirahat sebelum dan sesudah aktivitas.
• Diskusikan gejala-gejala kambuh untuk dilaporkan ke dokter.
 Kelelahan.
 Peningkatan suhu.
 Menggigil.
 Penurunan berat badan.
 Hanya merasa tidak enak.
• Diskusikan kebutuhan untuk menghindari orang dengan infeksi, khususnya infeksi pernapasan atas (ISPA) dan untuk melaporkan gejala (misal: dingin, flu, batuk).
• Diskusikan pentingnya melaporkan ke dokter beberapa kejadian yang cenderung menghasilkan bakterimia, terapi gusi/gigi.

EVALUASI
1. Nyeri berhubungan dengan efek-efek sistemik dari infeksi.
• Melaporkan nyeri hilang/terkontrol.
• Mendemonstrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas pengalih sesuai indikasi untuk situasi individual.
• Mengidentifikasi metide yang memberi penghilangan.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan faktor biologi (demam, infeksi).
• Status nutrisi dipertahankan/ diperbaiki.
• Pencapaian perbaikan berat badan sesuai usia, jenis kelamin.
• Klien mengungkapkan nafsu makan meningkat.
3. Perubahan suhu tubuh yang berhubungan dengan proses infeksi.
• Proses inflamasi telah hilang.
• Kulit lembab dan kering.
4. Potensial perubahan perfusi jaringan serebral yang berhubungan dengan embolisasi
• Perfusi jaringan serebral dipertahankan.
- Klien sadar dan berorientasi.
- Tidak ada tanda-tanda embolisasi.
5. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang proses penyakit.
• Menyatakan pemahaman tentang proses inflamasi, kebutuhan pengobatan, dan kemungkinan komplikasi.
• Mengidentifikasi /melakukan pola hidup yang perlu atau perubahan perilaku untuk mencegah terulangnya / terjadinya komplikasi.

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marilynn E. Et al. 1999, Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Hudak & Gallo, 1996, Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik Vol 1 Edisi VI, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta
Mansjoer, Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran
Read On 0 komentar

ASKEP EMPIEMA

10:17
DEFINISI
Empiema adalah adanya eksudat purulent dalam cavum pelura. Pus dalam rongga pleura yang disebabkan oleh infeksi seperti pneumonia atau abses paru-paru terjadi setelah operasi atau akibat luka tusuk dada.
Empiema terdiri dari tiga bentuk, yaitu: empiema torakal, empiema tuberkulosis, empiema pneumoni.

ETIOLOGI
Empiema disebabkan oleh:
 Pneumonia,
 Abses paru-paru,
 Bronkiektasis,
 Infeksi intraabdominal,
 Atau langsung dari pengotoran pleura,
 Tuberkulosis,
 Jamur aktinomikosis,
 Emboli metastasis dari fokus jauh,
 Karsinoma bronkogenik,
 Osteomielitis,
 Trauma tembus.

FASE-FASE PADA EMPIEMA
1. Fase eksudatif terjadi sebagai reaksi terhadap inflamasi atau infeksi, dan ini ditandai dengan efusi pleura eksudatif.
2. Fase fibrinopurulen ditandai khas dengan adanya nanah intrapelural dan deposisi fibrin pada permukaan pleura. Cairan akan lebih kental dan cenderung mengadakan lukolasi. Paru-paru-paru-paru menjadi terfixer.
3. Fase organisasi ditandai khas dengan perlekatan paru-paru dan terjadinya paru-paru-paru-paru reskriktif karena terbentuknya jaringan fibroblastik. Sequelae yang sering terjadi adalah fistula bronchopleural atau pleurocutancus.

GEJALA KLINIS
Karena penyakit ini merupakan komplikasi, maka terdapat gejala dari penyakit primernya disertai rasa nyeri dada, batuk dan tanda-tanda tosik seperti keluarnya dahak. Pada torakosintesis: keluar pus, dengan pembiakan dan tes resistensi dapat diketahui penyebabnya dan terapi yang sesuai.

PENGOBATAN
˜ Tergantung penyebab. Bila karena cocus, berikan penisilin, streptomisin, sefalotin atau kanamisin. Bila telah ada hasil kultur, beri antibiotik yang sesuai. Bila karena tuberkulosis beri obat-obat tuberkulosis.
˜ Cara konservatif,
Aspirasi dengan jarum berulang-berulang. Keluarkan sebanyak-banyaknya, kemudian cuci rongga pleura dengan larutan garam fisiologis. Misalnya dapat dikeluarkan cairan 400 cc, masukkan larutan garam fisiologis sebanyak 200 cc, keluarkan lagi, masukkan lagi larutan garam fisiologis 100 cc dan seterusnya.
˜ Aspirasi terus-menerus secara menutup (water sealed draibage).
Bila cairan tidak keluar lagi, penderita harus mengejan atau dikeluarkan dengan pompa. Boleh dilakukan pencucian setiap hari dengan larutan garam fisiologis atau ditambahkan obat-obatan (Lugol dan Jodonasin 2%). Setelah itu masukan obat, misalnya larutan penicillin dalam aqua sampai 1 juta unit.
Kadang-kadang cairan empiema ini sangat kental sehingga perlu dihancurkan terlebih dahulu dengan obat-obat mukolitik seperti:
- streptokinase + streptodormase. Masukan ke cavum pleura selama 12 jam, kemudian lakukan lagi.
- Bisolvon.
- Danzen.
Aspirasi boleh dilakukan selama 2-3 minggu. Bila cairan tidak mungkin berkurang perlu tindakan bedah yaitu reseksi iga. Iga dipotong 2-3 cm, supaya bisa dimasukkan drain yang lebih besar dan lanjutkan dengan WSD.
Bila setelah 6-8 minggu tidak ada perbaikan, perlu diadakan operasi torakotomi dan dekortikasi (mengangkat pleura dan kemudian jaringan paru-paru dilekatkan pad dinding toraks). Kadang-kadang jaringan paru-paru telah rusak (terutama pada empiema tuberkulosa) sehingga sukar sembuh, karena itu perlu pleuro-pneumonektomi.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kasus dengan empiema torakal, antara lain:
1. Ketidakefektifan pola pernafasan yang berhubungan dengan penurunan ekspansi paru-paru sekunder terhadap dorongan dalam rongga pleura.
Intervensi
- Kaji pernafasan, catat perubahan, frekuensi, kedalaman, dan kualitasnya.
- Kaji gerakan dada, perhatian tanda simetris.
- Auskultasi bunyi dada setiap 2 sampai 4 jam.
- Baringkan pada dalam posisi duduk, dengan bagian kepala tempat tidur ditinggikan 60-90.
- Berikan oksigen per nasal kanul dengan 2-6 liter/menit sesuai pesanan kecuali terdapat kontra indikasi.
- Kaji pemasangan selang dada.
- Berikan oksigen dan IPPB sesuai pesanan.
- Pantau TD, S, P, dan nadi apikal setiap 2 jam sampai 4 jam.
- Berikan obat-obatan sesuai pesanan.
- Tinjau ulang seri pemeriksaan sinar x dada dan GDA sesuai pesanan.
- Bantu dan ajarkan pasien untuk:
a. Nafas dalam setiap 2-4 jam; baringkan pasien pada bagian yang terkena; gunakan pernafasan diafragmatik, segmental.
b. Berikan dorongan untuk menggunakan spirometer ansentif.
c. Lakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif pada ekstremitas setiap 4 jam.
- Berikan dorongan untuk batuk: bantu pasien untuk membebat bagian yang terkena ketika batuk.
- Hindari peregangan, penjuluran atau gerakan yang tiba-tiba.

2. Nyeri dada yang berhubungan dengan faktor-faktor biologis (trauma jaringan) dan faktor-faktor fisik (pemasangan selang dada).
Intervensi
- Kaji terhadap adanya nyeri (verbal dan nor verbal).
- Berikan analgesik sesuai pesanan.
- Kaji keefektifan tindakan penurunan rasa nyeri.
- Berikan obat pada pasien sebe-lum latihan batuk /bernapas.
- Instruksikan pasien pada teknik pembebatan.
- Amankan selang dada untuk membatasi gerakan dan menghindari iritasi.

3. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit dan penatalaksanaan perawatan diri.
Intervensi
- Kaji tingkat pengertian tentang proses penyakit.
- Diskusikan gejala untuk dilaporkan pada dokter: kesulitan bernapas, nyeri dada saat inspirasi, peningkatan suhu tubuh, batuk menetap, batuk dengan banyak mengandung sputum.
- Jelaskan pentingnya untuk menghindari orang dengan infeksi terutama ISPA.
- Diskusikan gejala demam atau flu untuk dilaporkan pada dokter.
- Diskusikan pentingnya batuk dan nafas dalam.
- Jelaskan pentingnya melakukan latihan toleransi: rencanakan waktu istirahat dan hindari keletihan.
- Jelaskan pentingnya vaksinasi influenza sesuai pesanan.
- Diskusikan obat-obatan: nama, dosis, waktu pemberian, tujuan, dan efek sampingnya.
- Jelaskan pentingnya menghindari obat-obatan yang dijual bebas tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengan dokter.

DAFTAR PUSTAKA

Junaidi, P. ---. Kapita Selekta Kedokteran Edisi II. Jakarta: Media Aesoulapius, FKU.
Tucker, Susan Martin et al.1999, Standar Perawatan Pasien Edisi V Vol 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC
------. Pedoman Pengobatan. Jakarta: Yayasan Essensia Medika
Read On 0 komentar

ASKEP EMFISEMA

09:12
1) Definisi
Emfisema didefinisikan sebagai suatu distensi abnormal ruang udara di luar bronkiolus terminal dengan kerusakan dinding alveoli.

2) Klasifikasi Emfisema Berdasarkan Morfologi
a. Centrilobural Emfisema (CLE)
Terdapat pelebaran dan kerusakan brokiolus respiratorius tertentu. Dinding bronkiolus terbuka dan menjadi membesar dan bersatu cenderung membentuk sebuah ruangan bersamaan dengan membesarnya dinding. Cenderung tidak seluruh paru, namun lebih berat pada daerah atas.

b. Panlobular Emfisema (PLE)
Pembesaran lebih seragam dan perusakan alveoli dalam asinus paru-paru, Biasanya lebih difus dan lebih berat pada paru-paru bawah. Ditemukan pada orang tua yang tidak ada tanda bronchitis kronis atau gangguan fungsi paru. Khas ditemukan pada orang dengan defisiensi 1- antitripsin homozigot.

3) Etiologi
Merokok belum diketahui pasti sebagai penyebab emfisema, tetapi merokok diduga merupakan penyebab utama dari penyakit emfisema. Selain itu, penyebab emfisema pada sedikit pasien yaitu diakibatkan oleh adanya predisposisi familial berkaitan dengan abnormalitas protein plasma, defisiensi antitripsin - 1 yang merupakan enzim inhibitor. Tanpa enzim inhibitor ini, enzim tertentu akan menghancurkan jaringan paru.

4) Patofisiologi
Karena dinding alveoli terus mengalami kerusakan, area permukaan alveolar yang kontak langsung dengan kapiler paru secara kontinu berkurang, menyebabkan peningkatan ruang rugi (area paru dimana tidak ada pertukaran gas yang dapat terjadi) dan mengakibatkan kerusakan difusi oksigen sehingga mengakibatkan hipoksemia. Pada tahap akhir penyakit, eliminasi karbon dioksida mengalami kerusakan, mengakibatkan peningkatan tekanan karbon dioksida dalam darah arteri dan menyebabkan asidosis respiratoris.
Sekresi meningkat dan tertahan menyebabakan individu tidak mampu untuk membangkitkan batuk yang kuat untuk mengeluarkan sekresi. Infeksi akut dan kronis dengan demikian menetap dalam paru-paru yang mengalami emfisema.

5) Pemeriksaan diagnostik
 Rontgen dada
Menunjukkan hiperinflasi, pendataran diafragama, pelebaran margin intercosta, dan jantung normal.

 Spirometri
Pemeriksaan fungsi pulmonary, biasanya menunjukkan peningkatan kapasitas paru total dan volume residual, penurunan dalam kapsitas vital dan volume ekspirasi kuat.
 Pemeriksaan gas-gas darah arteri
Dapat menunjukkan hipoksia ringan dengan hiperkapnia.

 Hitung darah lengkap (HDL).

6) Penatalaksanaan Medis
 Bronkodilator
Untuk mendilatasi jalan nafas. Mencakup agonis -adrenergik dan metilxantin, yang menghasilkan dilatasi bronchial melalui mekanisme yang berbeda.

 Terapi Aerosol
Aerosolisasi dari bronkodilator salin dan mukolitik sering kali digunakan untuk membantu dalam bronkodilatasi.
Aerosol yang dinebuliser menghilangkan brokospasme, menurunkan edema mukosa, dan mengencerkan sekresi bronchial. Hal ini memudahkan proses pembersihan bronkiolus, membantu mengendalikan proses inflamasi, dan memperbaiki fungsi ventilasi.

 Pengobatan Infeksi
Pasien dengan emfisema rentan terjadap infeksi paru dan harus diobati pada saat awal timbulnya tanda-tanda infeksi. Terapi antimikroba dengan tetrasiklin, ampisilin, amoksisilin, atau trimetroprim-sulfametoxazol biasanya diresepkan.

 Kortikosteroid
Digunakan setelah tindakan lain untuk melebarkan bronkiolus dan membuang sekresi. Prednison biasanya diresepkan.

 Oksigenasi
Terapi oksigen dapat meningkatkan kelangsungan hidup pada pasien dengan emfisema berat.

7) Diagnosa Keperawatan
 Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan ketidaksamaan ventilasi-perfusi.

Tujuan: Perbaikan dalam pertukaran gas.

Intervensi :
1) Berikan bronkodilator sesuai yang diresepkan.
2) Evaluasi tindakan nebuliser, inhaler dosis terukur, atau IPPB.
3) Instruksikan dan berikan dorongan pada pasien pada pernapasan diafragmatik dan batuk efektif.
4) Berikan oksigen dengan metode yang diharuskan.

Rasional:
1) Bronkodilator mendilatasi jalan napas dan membantu melawan edema mukosa bronchial dan spasme muscular.
2) Mengkombinasikan medikasi dengan aerosolized bronkodsilator nebulisasi biasanya digunakan untuk mengendalikan bronkokonstriksi.
3) Teknik ini memperbaiki ventilasi dengan membuka jalan napas dan membersihkan jalan napas dari sputum. Pertukaran gas diperbaiki.
4) Oksigen akan memperbaiki hipoksemia.


Evaluasi:
 Mengungkapkan pentingnya bronkodilator.
 Melaporkan penurunan dispnea.
 Menunjukkan perbaikan dalam laju aliran ekspirasi.
 Menunjukkan gas-gas darah arteri yang normal.

 Bersihan jalan nafas tidak efektif yang berhubungan dengan bronkokontriksi, peningkatan produksi lendir, batuk tidak efektif, dan infeksi bronkopulmonal.

Tujuan : Pencapaian klirens jalan napas.

Intervensi :
1) Beri pasien 6-8 gelas cairan/hari, kecuali terdapat kor pulmonal.
2) Ajarkan dan berikan dorongan penggunaan teknik pernapasan diafragmaik dan batuk.
3) Bantu dalam pemberian tindakan nebuliser, inhaler, atau IPPB.
4) Lakukan drainage postural dengan perkusi dan vibrasi pada pagi hari dan malam hari sesuai yang diharuskan.
5) Instruksikan pasien untuk menghindari iritan, seperti asap rokok, aerosol, dan asap pembakaran.
6) Berikan antibiotik sesuai yang diresepkan.

RASIONAL :
1) Hidrasi sistemik menjaga sekresi tetap lembab dan memudahkan untuk pengeluaran.
2) Teknik ini akan membantu memperbaiki ventilasi dan untuk menghasilkan sekresi tanpa harus menyebabakan sesak napas dan keletihan.
3) Tindakan ini menambahakan air ke dalam percabangan bronchial dan pada sputum menurunkan kekentalannya, sehingga memudahkan evakuasi sekresi.
4) Menggunakan gaya gravitasi untuk membantu membangkitkan sekresi sehingga sekresi dapat lebih mudah dibatukkan atau diisap.
5) Iritan bronkial menyebabkan bronkokonstriksi dan meningkatkan pembentukan lendir, yang kemudian mengganggu klirens jalan napas.
6) Antibiotik mungkin diresepkan untuk mencegah atau mengatasi infeksi.

Evaluasi :
 Mengungkapkan pentingnya untuk minum 6-8 gelas per hari.
 Batuk berkurang.
 Jalan napas kembali efektif.

 Pola pernapasan tidak efektif yang berhubungan dengan napas pendek, lendir, bronkokonstriksi, dan iritan jalan napas.
Tujuan : perbaikan dalam pola pernapasan.

Intervensi :
1) Ajarkan pasien pernapasan diafragmatik dan pernapasan bibir dirapatkan.
2) Berikan dorongan untuk menyelingi aktivitas dengan periode istirahat.
3) Berikan dorongan penggunaan pelatihan otot-otot pernapasan jika diharuskan.

Rasional :
1) Membantu pasien memperpanjang waktu ekspirasi. Dengan teknik ini pasien akan bernapas lebih efisien dan efektif.
2) Memberikan jeda aktivias akan memungkinkan pasien untuk melakukan aktivitas tanpa distres berlebihan.
3) Menguatkan dan mengkoordinasiakn otot-otot pernapasan.

Evaluasi :
 Melatih pernapasan bibir dirapatkan dan diafragmatik serta menggunakannya ketika sesak napas dan saat melakukan aktivitas.
 Memperlihatkan tanda-tanda penurunan upaya bernapas dan membuat jarak dalam aktivitas.
 Menggunakan pelatihan otot-otot inspirasi, seperti yang diharuskan.

 Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan keletihan sekunder akibat peningkatan upaya pernapasan dan insufisiensi ventilasi dan oksigenasi.

Tujuan : kemandirian dalam aktivitas perawatn diri.

Intervensi :
1) Ajarkan pasien untuk mengkoordinasikan pernapasan diafragmatik dengan aktivitas.
2) Berikan pasien dorongan untuk mulai mandi sendiri, berpakaian sendiri, berjalan.
3) Ajarkan tentang drainase postural bila memungkinkan.

Rasional :
1) Akan memungkinkan pasien untuk lebih aktif dan untuk menghindari keletihan yang berlebihan atau dispnea selama aktivitas.
2) Sejalan dengan teratasinya kondisi, pasien akan mampu melakukan lebih banyak namun perlu didorong untuk menghindari peningkatan ketergantungan.
3) Memberikan dorongan pada pasien untuk terlibat dalam perawtan dirinya.

Evaluasi :
 Menggunakan pernapasan terkontrol ketika beraktivitas.
 Menguraikan strategi penghematan energi.
 Melakukan aktivitas perawatan diri seperti sebelumnya.

 Intoleran aktivitas akibat keletihan, hipoksemia, dan pola pernapasan tidak efektif.

Tujuan: perbaikan dalam toleran aktivitas.

Intervensi:
1) Dukungan pasien dalam menegakkan regimen latihan teratur.

Rasional:
1) Otot-otot yang mengalami kontaminasi membutuhkan lebih banyak oksigen dan memberikan beban tambahan pada paru-paru. Melalui latihan yang teratur, kelompok otot menjadi lebih terkondisi.

Evaluasi:
 Melakukan aktivitas dengan napas pendek lebih sedikit.
 Berjalan secara bertahap meningkatkan waktu dan jarak berjalan untuk memperbaiki kondisi fisik.

 Koping individu tidak efektif yang berhubungan dengan kurang sosialisasi, ansietas, depresi, tingkat aktivitas rendah, dan ketidakmampuan untuk bekerja.

Tujuan: pencapaian tingkat koping yang optimal.

Intervensi:
1) Mengadopsi sikap yang penuh harapan dan memberikan semangat yng ditujukan kepada pasien.
2) Dorongan aktivitas sampai tingkat toleransi gejala.
3) Ajarkan teknik relaksasi atau berikan rekaman untuk relaksasi bagi pasien.

Rasional:
1) Suatu perasaan harapan akan memberikan pasien sesuatu yang dapat dikerjakan.
2) Aktivitas mengurangi ketegangan dan mengurangi tingkat dispnea sejalan dengan pasien menjadi terkondisi.
3) Relaksasi mengurangi stres dan ansietas dan membantu pasien untuk mengatasi ketidakmampuannya.

Evaluasi :
 Mengekspresikan minat di masa depan.
 Mendiskusikan aktivitas dan metode yang dapat dilakukan untuk menghilangkan sesak napas.
 Menggunakan teknik relaksasi dengan sesuai.


 Defisit pengetahuan tentang prosedur perawatan diri yang akan dilakukan di rumah.

Tujuan: kepatuhan dengan program terapeutik dan perawatan di rumah.

Intervensi:
1) Bantu pasien mengerti tentang tujuan-tujuan jangka pendek dan jangka panjang.
2) Diskusikan keperluan untuk berhenti merokok.

Rasional:
1) Pasien harus mengetahui bahwa ada metoda dan rencana dimana ia memainkan peranan yang besar.
2) Asap tembakau menyebabkan kerusakan pasti pada paru dan menghilangkan mekanisme proteksi paru-paru. Aliran udara terhambat dan kapasitas paru menurun.

Evaluasi:
 Mengerti tentang penyakitnya dan apa yang mempengarukinya.
 Berhenti merokok.

DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Suzanne. C, 1997, BUKU AJAR KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH, EDISI 8, EGC : Jakarta
Read On 1 komentar

ASKEP ATRESIA BILIARY

08:00
I. Pengertian
Atresia Biliary adalah merupakan suatu keadaan dimana saluran empedu yang utuh dengan sumbatan dibagian distalnya atau kelainan yang terjadi dibagian atas porta hepatic.

Suatu defek kongenital yang merupakan hasil dari tidak adanya / obstruksi satu / lebih saluran empedu pada ekstra hepatik atau intrahepatik ( Suriadi, 2001: 17 )

Sumbatan saluran empedu mengenai seluruh atau sebagian dari saluran empedu ekstrahepatik atau intrahepatik, ekstrahepatik bila sumbatan terjadi didalam duktus koledokus, dan intrahepatik bila penyumbatan terjadi antara sel hati dan duktus koledokus. (Ilmu kesehatan anak , 1985 : 542)

II. Etiologi
 Belum diketahui secara pasti
 Diduga kelainan kongenital
 Didapat dari proses-proses peradangan
 Kemungkinan infeksi virus dalam intrauterin

III. Patofisiologi
 Obstruksi pada saluran empedu ekstrahepatik menyebabkan obstruksi aliran normal empedu keluar hati dan kantong empedu dan usus. Akhirnya terbentuk sumbatan dan menyebabkan empedu balik ke hati ini akan menyebabkan peradangan, edema, degenerasi hati. Bahkan hati menjadi fibrosis dan cirrhosis. Dan hipertensi portal sehingga akan mengakibatkan gagal hati.
 Degerasi secara gradual pada hati menyebabkan joundice, ikterik dan hepatomegaly
 Karena tidak ada empedu dalam usus, lemak dan vitamin larut lemak tidak dapat diabsorbsi, kekurangan vitamin larut lemak dan gagal tumbuh.

IV. Komplikasi
 Cirosis hepatis
 Gagal hati
 Gagal tumbuh
 Hipertensi portal
 Varises Esophagus
 Asites

V. Tipe- tipe Atresia Biliary
Secara empiris dapat dikelompokkan dalam 2 tipe:
a. Tipe yang dapat dioperasi (yang dapat diperbaiki)
Jika kelainan/sumbatan terdapat dibagian distalnya
b. Tipe yang tidak dapat dioperasi
Jika kelainan / sumbatan terdapat dibagian atas porta hepatic, tetapi akhir-akhir ini dapat dipertimbangakan untuk suatu operasi porto enterostoma hati radikal.

VI. Manifestasi klinik
 Warna tinja pucat
 Distensi abdomen
 Hepatomegaly
 Lemah
 Pruritus / gatal
 Anoreksia
 Letargi
 Jaundice dalam 2 minggu sampai 2 bulan


VII. Pemeriksaan diagnostik
 Fungsi hati : bilirubin, aminotranferase dan faktor pembekuan : protombin time, partial thromboplastin time.
 Pemeriksaan urine : pemeriksaan urobilinogen penting artinya pada pasien yang mengalami ikterus. Tetapi urobilin dalam urine negatif. Hal ini menunjukkan adanya bendungan saluran empedu total.
 Pemeriksaan feces : warna tinja pucat karena yang memberi warna pada tinja / stercobilin dalam tinja berkurang karena adanya sumbatan.
 Biopsi hati : untuk mengetahui seberapa besar sumbatan dari hati yang dilakukan dengan pengambilan jaringan hati.

VIII. Penatalaksanaan
- Medik
Penanganan atresia biliary harus segera dilakukan laparotomi eksplorasi, sekaligus dilakukan kolangiografi pada saat melakukan operasi untuk mengetahui adanya dan letak obstruksi yang tepat. Tahap berikutnya tergantung dari jenis kelainan yang tampak, dapat dikoreksi atau tidak dapat dikoreksi. Terhadap atresia yang dapat dikoreksi dilakukan pemasangan Salin, bila diduga tidak mungkin dilakukan tindakan koreksi harus dibuat sendian beku, untuk menentukan adanya sisa saluran empedu dan besarnya penyempitan. Dalam kasus demikian tidak dibenarkan untuk melakukan tindakan bedah seperti transeksi atau diseksi jaringan hepar sampai ke porta hepatic. Diantara kasus yang tidak dapat dikoreksi pada beberapa bayi masih mungkin dilakukan hepatoportoonterostomi.
Terapi pengobatan yang dapat diberikan
• Feno barbital 5 mg / kg / BB (dibagi 2 kali pemberian)
• Kolesteramin 1 gr / kg / BB (dibagi 6 kali pemberian)


- Keperawatan
Pertahankan kesehatan bayi (pemberian makan cukup gizi sesuai dengan kebutuhan serta menghindarkan kontak infeksi). Berikan penjelasan kepada orang tua bahwa keadaan kuning pada bayinya berbeda dengan bayi lain yang kuning karena hiperbilirubinemia biasa yang dapat hanya dengan terapi sinar / terapi lain. Pada bayi ini perlu tindakan bedah karena terdapatnya penyumbatan.

IX. Asuhan Keperawatan
Diagnosa Keperawatan
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan absorbsi
Tujuan : mendemonstrasikan keseimbangan cairan
Intervensi :
- Kaji intake dan output
- Ukur lilitan atau lingkar abdomen
2. Gangguan tumbuh kembang berhubungan dengan kondisi kronik.
Tujuan : mempertahankan tumbuh kembang secara normal
Intervensi :
- Lakukan stimulasi yang dapat dipakai sesuai dengan usia, gerakan motor halus dan kasar, ROM, posisi duduk, memberikan benda-benda yang dapat dicapai.
- Jelaskan pada orang tua pentingnya melakukan stimulasi tumbuh kembang dengan menyesuaikan kondisi anak ; seperti perlu istirahat
3. Resiko perdarahan dan infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan.
Tujuan : perdarahan dan infeksi dapat teratasi
Intervensi :
- Pantau tanda-tanda vital
- Pantau perdarahan dan tanda infeksi
- Hindari pergerakan yang berlebihan yang menambah ketegangan
- Pantau distensi abdomen
- Monitor bising usus
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan absorbsi dan tidak mau makan
Tujuan : anak akan menunjukan nutrisi yang adekuat yang ditandai dengan
nafsu makan baik dan berat badan sesuai
Intervensi :
- Pertahankan nutrisi parenteral
- Pertahankan nutrisi yang adekuat, vitamin, mineral, suplemen
- Timbang Berat Badan setiap hari
- Monitor intake dan output

5. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan perawatan dirumah
Tujuan : meningkatkan pemahaman orang tua tentang perawatan pada anak
yang sakit
Intervensi :
- Jelaskan tentang pengobatan yang diberikan, dosis, reaksi obat dan tujuannya
- Jelaskan pentingnya stimulasi pada anak, pendengaran, visual, sentuhan
- Jelaskan pentingnya monitor adanya muntah, mual, keram otot, dan diare.

6. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan pruritus
Tujuan : mempertahankan keutuhan kulit
Intervensi :
- Kaji tanda-tanda keutuhan kulit
- Rubah posisi anak setiap 2 jam sesuai kondisi
- Gunakan matras yang lembut


DAFTAR PUSTAKA

Dardjat. 1987. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah Khusus. Jakarta : Salemba
Hassan, Rusepno. 1985. Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Infomedika
Suriadi. Skp Dan Rita Yuliani. 2001. Asuhan Keperawatan Anak. Jakarta
Wong. Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik.Ed 4. Jakarta : EGC
Read On 2 komentar

ASKEP ALDOSTERONISME

14:00
A. Pengertian
Aldosteronisme adalah keadaan klinis yang diakibatkan oleh produksi aldosteron “suatu hormon steroid mineralokortikoid korteks adrenal “ secara berlebih. Efek metabolik aldosteron berkaitan dengan keseimbangan elektrolit dan cairan. Aldosteron meningkatkan reabsorsi natrium tubulus proksimal ginjal dan menyebabkan ekskresi kalium dan ion hidrogen. Konsekuensi klinis kelebihan aldosteron adalah retensi natrium dan air.
 Aldosteronisme Primer yaitu keadaan klinis yang disebabkan oleh produksi aldosteron (hormon steroid mineralokortikoid korteks adrenal ) secara berlebihan sebagai akibat dari adenoma/tumor/hiperplasia pada kortek adrenal.
 Aldosteronisme Sekunder yaitu pengeluaran aldosteron oleh karena rangsangan dari sistem renin angiotensin

B. Etiologi
1. Aldosteronisme Primer
 Adenoma adrenal (sindroma conu)
 Hiperplasia adrenal
 Karsinoma adrenal
2. Aldosteronisme Skunder
 Hipertensi
- Esensiel
- “Accelerated”
 Terapi Diuretik
 Sindroma Nefrotik
 Sirosis
 Gagal Jantung Kongestif
 “Salt – Losing Nephropathy”
 Asidosis Tubular Ginjal
 Sindroma Bartter
 Hipersekresi Renin
 Tumor Ginjal
 Hipokalemi

C. Patofisiologi
Peningkatan aldosteron menyebabkan peningkatan reabsorbsi natrium, jumlah total natrium dalam tubuh dan hiperpolemia. Edema jarang ditemukan karena adanya mekanisme pengalihan, dimana terjadi reabsorbsi natrium pada tubulus proksimal terhalang dengan adanya sitem regulator ginjal.
Hipertensi arteri terjadi karena peningkatan volume cairan, kadar natrium pada arterior dan pembuluh darah serta reaktifitas simfatis penurunan kalium pada intra dan ekstra seluler terjadai karena peningkatan ekresi kalium pada tubulus ginjal. Hipokalemiaberakibat kelemahan otot, patique. Polinuktoria (karena peningkatan konsentrasi urin). Perubahan konduktifitas elektrik pada miokard dan penurunan toleeransi glukosa. Sekresi ion hiidrogen meningkat dengan adanya hiper aldosteronisme sehingga mengakibatkan alkalosis metabolik. Alkalosis berhubungan dengan derajat hipokalemia. Alkalosis ditunjukan dengan tanda chvostek dan trousseav (+), aktivitas renin plasma ditekan. Pemeriksaan lab akan menunjukan derajat penurunan renin setelah pasien berada pada kondisi hiperaldosteronisme. Peningkatan serentak dari sekresi aldosteron juga dapat terlihat pada pasien ini :

D. Tanda dan Gejala
 Hipertensi dengan tekanan diastolik antara 100-130 mmHg
 Hipokalemia
 Alkalosis Metabolik
 Nyeri Kepala, Edema
 Kelemahan Otot Berat
 Polinukturia, Haus
 Tampak bingung dan sering kesemutan

II. Asuhan Keperawatan dengan pasien/klien aldosteronisme
A. Keluhan Utama
Klien dengan aldosteronisme biasanya mengeluh badan terasa lemah, banyak minum, banyak kencing, sering kencing malam, sakit kepala.
B. Riwayat kesehatan
 Riwayat kesehatan sekarang
Tanyakan sejak kapan klien merasakan keluhan seperti yang ada pada keluhan utama dan tindakan yang dilakukan untuk menanggulanginya.

 Riwayat penyakit dahulu
Tanyakan tentang adanya riwayat penyakit atau pemakai obat-obatan bebas yang bisa mempengaruhi.


 Riwayat kesehatan keluarga
Tanyakan apakah ada keluarga yang pernah menderita penyakit yang sama (aldosteronisme)
C. Pengkajian
1. Observasi atau temuan
Neurologis
 Kelemahan otot
 Keletihan
 Parestesi
 Paravisis lengan dan tungkai
 Tanda chvestek (+)
 Tetani dan disfungsi autoimun

Kardiovasculer
 Hipertensi
 Hipotensi postural tanpa reflek tachicardi
 Peningkatan nadi ketika berjongkok
 Cardiomegali
 Penurunan konduksi melalui myocardium

Ginjal
 Poliuri
 Polidipsi
 Azotemia
2. Pemeriksaan diagnostik atau laboratorium
 Peningakata aldosteron plasma
 Aktivitas renin plasma ditekan atau tidak dapt dirangsang
 Gagal untuk menekan aldosteron dengan manuver biasa
 Hipernatremia (normal : 135 – 150 mEg/L)
 Hipokalemia (normal : 3,5 –5 mEg/L)
 Hiperpolemia
 Alkolosis metabolik
 Eksresi urine (24 jam) 18 – glukoronid
 EKG
♦ Segmen ST dan gelombang T tertekan, terlihat gelombang U
♦ Kontraksi ventrikel prematur
 Scan lodokolesterol
 Scan CT kelenjar adrenal untuk menentukan letak adenoma atau untuk membedakan hiperplasia dari adenoma
 Kateterisasi vena adrenal


D. Diagnosa keperawatan
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan hipernatremia sekunder terhadap hiperaldosteronisme.

Intervensi
♦ Timbang pasien tiap hari pada waktu yang sama, timbangan pakaian yang sama, laporkan bila terjadi penambahan berat badan > 0,5 kg / hari.
♦ Ukur intake dan output setiap 8 jam.
♦ Pertahankan diet rendah natrium.
♦ Pantau kadar natrium serum setiap 8 jam.
♦ Pantau tanda dan gejala kelebihan cairan, edema pulmoner (dipsnea, ortopnea, krekels pada lapang paru).
♦ Pantau hasil pemeriksaan sinar X dada.
♦ Pantau tanda vital setiap 4 jam, observasi peningkatan nadi, perkembangan gallop S3 dn pernapasan labored.
♦ Pantau efektivitas dan efek samping diuretic.

Rasional
 Untuk mengetahui adanya penambahan berat badan karena udema
 Mengetahui apakah masukan dan keluaran cairan seimbang
 Menghindari terjadinya hipernatremia
 Mengetahui keseimbangan kadar natrium di dalam tubuh
 Mengetahui apakah ada udema pulmoner
 Mengetahui apakah ada kelainan pada daerah dada
 Memastikan tanda vital stabil
 Mengetahui apakah ada efek tertentu dari diuretik
Evaluasi
Dalam waktu 2 x 24 jam kelebihan volume cairan teratasi dengan kriteria :
 Edema berkurang
 Intake dan output seimbang
 Tanda-tanda vital stabil
 Hasil penyinaran sinar X dada tidak ada kelainan.

2. Perubahan kenyamanan yang berhubungan dengan ekskresi urine berlebih dan polidipsia.

Intervensi
♦ Ukur intake dan output setiap 8 jam
♦ Anjurkan klien untuk miksi dalam 1 jam sekali
♦ Anjurkan klien untuk makan dengan pola seimbang
♦ Berikan susana senyaman mungkin pada klien pada saat miksi


Rasionalisasi
 Mengetahui apakah masukan dan keluaran cairan seimbang
 Memastikan pola nutrisi klien teratur untuk kenyamanan
 Menghindari terjadinya obesitas pada klien
 Memberi rasa nyaman pada klien

Evaluasi
Dalam waktu 2 x 24 jam perubahan kenyamana dapat teratasi dengan kriteria :
 Intake dan output seimbang
 Klien miksi dalam 1 jam sekali
 Klien dapat makan dengan pola seimbang
 Klien merasakan kenyamanan saat miksi

3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi mengenai proses penyakit, pengobatan dan perawatan diri.

Intervensi
♦ Jelaskan konsep dasar proses penyakit
♦ Jelaskan mengenai obat-obatan
♦ Jelaskan perlunya untuk menghindari obat-obatan yang dijual bebas
♦ Berikan pendidikan kesehatan yang berhubungan dengan proses penyakit.

Rasional
 Agar klien mengetahui proses dan penyebab terjadinya penyakit
 Agar klien mengetahui jenis obat yang boleh di konsumsi dan tidak untuk penyakitnya
 agar klien tidak menemukan masalah yang berhubungan dengan pemberian obat yang salah
 klien dapat memahami pentingnya penkes bagi kesembuhannya

Evaluasi
 Klien dapat mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit
 Klien mengetahui jenis obat-obatan yang baik untuk penyakit yang diderita

4. Resiko terhadap perubahan perfusi jaringan, kardiovaskuler berhubungan dengan disritmia karena hipokalemia.

Intervensi
♦ Pertahankan diet tinggi kalium
♦ Berikan kalium dan suplemen sesuai pesanan
♦ Pantau kadar kalium serum setiap 8 jam
♦ Pantau terhadap tanda dan gejala hipokalemia
♦ Antisipasi kebutuhan untuk memberikan bantuan saat melakukan aktivitas
♦ Bantu saat melakukan latihan rentang gerak setiap 8 jam sekali bila pasien menjalani tirah baring

Rasional
 Agar kadar kalium dalam tubuh normal
 Untuk menambah masuk kalium yang tidak di dapatkan
 Mengetahui kadar kalium normal
 Mengetahui adanya gejala hipokalemia
 Agar klien tidak mengalami kerusakan jaringan tubuh karenatirah baring yang lama.

Evaluasi
 Kadar kalium dalam tubuh normal
 Tidak ada tanda dan gejala hipokalemia
 Terpenuhinya diet tinggi kalium

5. Resiko terhadap cedera berhubungan dengan kelemahan otot, parestesi, disfungsi autonomik dan tetani.



Intervensi
♦ Kaji fungsi neuromuskular setiap 4 – 8 jam, laporkan perubahan yang menandakan potensial terjadinya tetani, peningkatan kelamahan / parastesi
♦ Bantu dan berikan dorongan untuk melakukan ambulasi bila pasien mampu
♦ Berikan bantuan untuk memberikan ambulasi
♦ Pertahankan tempat tidur dalam posisi rendah dan pagar tempat tidur tetap terpasang
♦ Singkirkan benda-benda dan objek lain yang secara potensial membahayakan diri lingkungan pasien

Rasional
 Agar mengetahui lebih awal terhadap terjadinya kelemahan otot
 Agar klien tidaak merasa lelah daaan bosan dalam posisi yang sama pada proses penyembuhan
 Untik menghindari terjadinya cedera atau trauma yang akan terjadi saat klien menjalani proses penyembuhan
 Menjaga agar terjadi hal-hal yang membahayakan bagi klien

Evaluasi
 Tidak terjadi cedera yang berhubungan dengan kelemahan otot
 Mobilitas terpenuhi
 Tidak terjadi intoleren aktivitas

6. Resiko terhadap katidak efektifan penata laksanaan program terapeutik berhubungn dengan ketidakcukupan pengetahuan tentang kondisi tindakan bedah dan efek terapi.

Intervensi
♦ Tekankan pentingnya latihan secara teratur dibarengi dengan waktu istirahat
♦ Ajarkan nama-nama obat-obatan, dosis, waktu dan cara pemberian
♦ Berikan informasi diet terapeutik rendah natrium, tinggi kalium.

Rasional
 Agar tidak terjadi kelemahan otot yang berakibat terbatas ruang geraknya
 Agar klien dapat memahami dosis, waktu dan cara pemberian obat.
Evaluasi
 Klien mengetahui pentingnya latihan secara teratur
 Klien mengetahui tentang diet terapeutik
 Klien dapat memahami dan mengerti jenis obat-obatan, dosis, waktu dan cara pemberian.

DAFTAR PUSTAKA

C.Long, Barbara . 1996 . Perawatan Medikal Bedah . Bandung : I APK
Pajajaran Bandung.
Carpenito, Lynda Juall . 2001 . Diagnosa Keperawatan Edisi 8 . Jakarta : EGC
C. Pearce, Evelyn . 2002 . Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis .
Jakarta : Gramedia.
Effendi, Dr. Harjim . 1981 . Fisiologi Sistem Hormonal dan Reproduksi dengan Patofisiologinya . Bandung : Alumni.
S Teverson, John c . dan Pripal Chahal . 1993 . Segi Praktis Endokrinologi . Jakarta : Bina Rupa Aksara.
Price, Sylvia A . dan Lorrane M. Wilson . 1995 . Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit . Jakarta : EGC.
Read On 0 komentar

ASKEP ACNE VULGARIS

09:39
A. PENGERTIAN.
Peradangan kronik (menahun) folikel pilosebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri. dengan gambaran khas komedo, papul, pustul, nodus dan kista pada tempat-tempat predeliksinya, biasanya pada punggung, dada dan wajah.

B. ETIOLOGI.
Etiologi dari penyakit ini belum jelas, berbagai penyelidikan yang lebih medium untuk mengetahui penyebabnya yang pasti masih banyak dilakukan, beberapa faktor yang disangka menjadi penyebab timbulnya acne vulgaris adalah :
 Faktor genetik herediter.
 Faktor ras, dimana orang kulit berwarna lebih jarang terkena daripada orang kulit putih.
 Faktor iklim/musim dimana pada daerah beriklim tropis lebih banyak karena sinar UV, temperatur dan kelembaban udara mempengaruhi aktivitas kelenjar sebasea.
 Faktor makanan, namun masih diperdebatkan.
 Stress emosional.
 Hormonal
Kadar hormon androgen pada kulit pasien ternyata lebih tinggi daripada kadar orang normal. Yang disangka mempunyai peran pada proses keratinitis sel epidermis, komposisi sebum-sebum permeabelitas saluran pilosebasea.
 Infeksi bakteri corybacreium acnes, staphylococcus albus / pytyrosporum ovale mempengaruhi banyak terbentuknya lipase yang penting dalam pembentukkan komedo.
 Keaktivan kelenjar sebasea sendiri menentukan timbulnya penyakit, kebanyakan pada orang dengan kulit berminyak.

C. TANDA DAN GEJALA.
 Erupsi pada kulit ditempat predileksi yaitu muka, bahu, punggung bagian atas, leher, dada dan lengan bagian atas.
 Dapat disertai rasa gatal.
 Erupsi kulit berupa komedo, papul, pustula, nodus atau kista. Isi komedo ialah sebum yang kental dan padat sedang isi kista adalah pus dan darah.

D. PATOFISIOLOGI.
Dipengaruhi oleh banyak faktor dan kadang-kadang masih kontroversial, asam lemak bebas masih terbentuk dari trigliserida dalam sebum sehingga kekentalan sebum bertambah dan menimbulkan sumbatan saluran pilosebasea serta reaksi radang disekitarnya {komedogenik}. Pembentukkan pus, nodus, dan kista terjadi sesudahnya.

E. PENGOBATAN
1. Topikal :
 Bahan-bahan iritasi, misalnya resorsinol 3%, asam salisilat 3-5%, asam vit. A 0,05%.
 Anti bakteri, misal : tetrasiklin 1%, eritromisin 1%, peroksida benzoil 2,5%.
 Lain-lain : sulfur 4-20%, kortikosteroid, etil laktat 10% dalam gliserin 5-10% dan etanol 80%.
2. Sistemik :
 Anti bakteri : tetrasiklin, minosiklin, kotrimoksasol, lingkomisin, klindamisin.
 Hormon : estrogen, anti androgen, kortikosteroid { intolesi }.
 Retinol dan vitamin A.
 Lain-lain : anti inflamasi non steroid { ibuprofen }, dapson.

Perawatan kebersihan kulit dan diet bagi yang memerlukan dapat dianjurkan.


D. DIAGNOSA KEPERAWATAN.
1. kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya destruksi jaringan kulit ditandai dengan :
 Adanya papul,pustul, nodus dan kista padatempet-tempat predileksi.
Intervensi :
 Observasi terhadap eritema dan palpasi area sekitar terhadap kehangatan
 Kurangi atau hilangkan faktor yang menunjang perluasan kerusakan ; jangan lakukan masase pada setiap area kemerahan.
 Hindarkan memecahkan nodul.
 Motivasi pasien untuk tetap mengkonsumsi obat dan makanan yang baik guna memperlancar proses penyembuhan.
 Anjurkan pasien untuk dapat merawat kulit dengan bersih dan benar.

2. Ganguan konsep diri berhubungan dengan penampilan dan respon orang lain ditandai dengan :
 Pasien mengeluh adanya jerawat.
Intervensi :
 Dorong klien untuk mengungkapkan perasaan dan persepsi tentang efek penyakitnya.
 Dorong individu untuk bertanya masalah, penanganan, perkembangan dan prognosa kesehatan.
 Berikan informasi yang dapat dipercaya dan diperkuat informasi yang telah diberikan.
 Siapkan orang terdekat terhadap perubahan fisik dan emosional. Dukung keluarga ketika mereka berupaya untuk beradaptasi.
 Dorong kunjungan dari teman sebaya dan orang terdekat, anjurkan untuk berbagi dengan individu tentang nilai-nilai dan hal-hal yang penting untuk mereka

3. Resiko infeksi berhubungan dengan kurangnya pengetahuan mengenai penatalaksanaan perawatan kulit.
Intervensi :
 Ajarkan pasien agar dapat mengidentifikasikan perubahan yang terjadi pada klit sedini mungkin.
 Demonstrasikan perawatan kulit dan tekankan pentingnya tehnik aseptik.
 Tekankan pentingnya diet nutrisi untuk meningkatkan pemulihan.
 Jelaskan hal-hal yang dapat menimbulkan infeksi lain.

DAFTAR PUSTAKA

 Sularsito, et all, 1986, Dermatologis Praktis Edisi 1, Perkumpulan Ahli Dermato – Venerelogi Indonesia, Jakarta.
 Carpenito, Lynda Juall, 2000, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, EGC, Jakarta.
 Bagian Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin, 1983, Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin Edisi III, FKUI, Jakarta.
 Harahap, Mawarli, 1990. Penyakit Kulit. Jakarta.
Read On 2 komentar

ASKEP KLIEN TERMINAL

08:35
Tujuan Instruksional :
Setelah mempelajari materi ini, peserta didik keperawatan diharapkan memiliki kemampuan :
1. Memahami dan dapat melaksanakan pengkajian pada klien terminal
2. Memahami dan dapat merumuskan diagnosa keperawatan pada klien terminal
3. Memahami dan dapat menyusun rencana tindakan pada klien terminal
4. Memahami dan dapat melaksanakan evaluasi pada klien terminal

PENGKAJIAN PADA KLIEN TERMINAL
Pengkajian pada klien yang sakit terminal, meliputi :
1. Pengkajian Tingkat Kesadaran
• Closed Awareness, suatu keadaan dimana klien dan keluarga tidak sadar akan kemungkinan kematian, tidak dapat mengerti mengapa klien sakit dan mereka yakin akan sembuh.
• Mutual Pretense, suatu kondisi dimana klien, keluarga dan tenaga kesehatan telah mengetahui prognosis penyakit dalam keadaan terminal, namun mereka berusaha untuk tidak membicarakan atau menyinggung tentang penyakitnya.
• Open Awareness, suatu keadaan dimana klien dan orang sekitarnya mengetahui akan adanya kematian dan merasa tenang untuk mendiskusikannya walaupun itu dirasakan sulit, pada keadaan ini klien diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam menentukan saat terakhirnya.

Pengkajian yang harus dilakukan dari tingkat kesadaran ini, adalah :
- Kaji apakah klien dan keluarga sadar bahwa klien dalam keadaan terminal?
- Kaji tingkat kesadaran klien, apakah klien dan keluarga dalam tingkatan closed awareness, mutual pretense, open awareness?
- Kaji dalam tahap manakah pada proses kematian tersebut?
- Kaji support sistem klien, misalnya keluarga atau orang terdekat?
- Apakah klien masih mengekspresikan sesuatu yang belum diselesaikan, finansial, emosional, legal?
- Apakah koping yang positif pada klien?

2. Pengkajian Tanda – Tanda Klinis Menjelang Kematian
Tanda klinis menjelang kematian, adalah :
• Kehilangan tonus otot, sehingga terjadi :
- Relaksasi otot muka, sehingga dagu menjadi turun.
- Kesulitan dalam berbicara, proses menelan, hilangnya reflek menelan.
- Gerakan tubuh yang terbatas (tidak mampu bergerak).
- Penurunan kegiatan GI Tract seperti nausea, vomiting, perut kembung, konstipasi.
- Penurunan kontrol spinkter urinari dan rectal.
• Kelambatan dalam sirkulasi, berupa :
- Kemunduran dalam sensasi.
- Sianosis pada daerah ekstrimitas.
- Kulit dingin, mula-mula daerah kaki, tangan, telinga dan kemudian hidung.
• Perubahan – perubahan tanda – tanda vital berupa :
- Nadi lambat dan lemah (saat ajal nadi cepat dan kecil).
- Penurunan tekanan darah (saat ajal tekanan darah sangat rendah).
- Pernafasan cepat, dangkal, tidak teratur atau pernafasan dengan mulut.
• Gangguan sensori berupa :
- Penglihatan kabur (saat ajal pupil melebar).
- Gangguan dalam penciuman dan perabaan.




3. Pengkajian Tanda – Tanda Klinis Saat Ajal
Pupil melebar, tidak mampu bergerak, kehilangan refleks – refleks, nadi cepat dan kecil, pernafasan cheyne stokes dan ngorok, tekanan darah sangat rendah, mata dapat tertutup dan agak terbuka.

4. Pengkajian Tanda – Tanda Mati Secara Klinis
Tidak ada respon terhadap rangsangan dari luar secara total, tidak adanya gerakan dari otot khususnya pernafasan, tidak ada refleks, gambaran mendatar pada EKG.

5. Pengkajian Individu atau Anggota Keluarga Pada Saat Klien Dengan Dying
• Reaksi kehilangan, ditandai dengan dada merasa tertekan, bernafas pendek dan rasa tercekik.
• Faktor yang mempengaruhi terhadap reaksi kehilangan :
- Arti dari kehilangan yang tergantung kepada persepsi individu tentang pengalaman kehilangan.
- Umur berpengaruh terhadap tingkat pengertian dan reaksi terhadap kehilangan serta kematian.
- Kultur pada setiap suku/bangsa terhadap kehilangan berbeda-beda.
- Keyakinan spiritual, anggota keluarga dengan sakaratul maut melakukan praktek spiritual dengan tata cara yang dilakukan sesuaI dengan agama dan keyakinannya.
- Peranan seks, untuk laki-laki diharapkan kuat dan tidak memperlihatkan kesedihan dan perempauan dianggap wajar atau dibolehkan untuk mengekspresikan perasaannya atau kesedihannya (menangis) sepanjang tidak mengganggu lingkungan sekitar (menangis dengan meraung – raung atau merusak).
- Status sosial ekonomi, berpengaruh terhadap sistem penunjang, sehingga akan berpengaruh pula terhadap rekasi kehilanga akibat adanya kematian.



6. Pengkajian Terhadap Reaksi Kematian dan Kehilangan ; Berduka Cita
• Karakteristik dari duka cita :
- Individu mengalami kesedihan dan merupakan reaksi dari shock dan keyakinannya terhadap kehilangannya.
- Merasa hampa dan sedih.
- Ada rasa ketidak nyamanan, misalnya rasa tercekik dan tertekan pada daerah dada.
- Membayangkan yang telah meninggal, merasa berdosa.
- Ada kecenderungan mudah marah.
• Tingkatan dari duka cita :
- Shock dan ketidak yakinan, karena salah satu anggota keluarga akan meninggal, bahkan menolak seolah-olah masih hidup.
- Berkembangnya kesadaran akan kehilangan dengan perilaku sedih, marah pada diri sendiri atau pada orang lain.
- Pemulihan, dimana individu sudah dapat menerima dan mau mengikuti upacara keagamaan berhubungan dengan kematian.
- Mengatasi kehilangan yaitu dengan cara mengisi kegiatan sehari – hari atau berdiskusi dengan orang lain mengenai permasalahannya.
- Idealisasi, dimana individu menyesal karena kurang memperhatikan almarhum selama masih hidup dan berusaha menekan segala kejelekan dari almarhum.
- Keberhasilan, tergantung dari seberapa jauh menilai dari obyek yang hilang, tingkat ketergantungan kepada orang lain, tingkat hubungan sosial dengan orang lain dan banyaknya pengalaman kesedihan yang pernah dialami.

DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI (RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN)
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan terakumulasinya sekret di tenggorokan, ditandai dengan frekuensi nafas yang cepat, kadang – kadang terdapat sianosis

Tujuan :
Pola nafas efektif
Intervensi :
- Kaji pola nafas klien.
- Observasi tanda – tanda vital setiap 1 jam (TD, nadi, respirasi).
- Lakukan suction bilamana perlu.
- Kolaborasi dalam pemberian oksigen dan obat ekspectoran.

2. Merasa kehilangan harapan hidup dan terisolasi dari lingkungan sosial berhubungan dengan kondisi sakit terminal
Tujuan :
Klien merasa tenang menghadapi sakaratul maut sehubungan dengan sakit terminal
Intervensi :
- Dengarkan dengan penuh empati setiap pertanyaan dan berikan respon jika dIbutuhkan klien dan gali perasaan klien.
- Berikan klien harapan untuk dapat bertahan hidup.
- Bantu klien menerima keadaannya sehubungan dengan ajal yang akan menjelang.
- Usahakan klien untuk dapat berkomunikasi dan selalu ada teman di dekatnya.
- Perhatikan kenyamanan fisik klien.

3. Kehilangan harga diri berhubungan dengan penurunan dan kehilangan fungsi
Tujuan :
Mempertahankan rasa aman, tenteram, percaya diri, harga diri dan martabat klien
Intervensi :
- Gali perasaan klien sehubungan dengan kehilangan.
- Perhatikan penampilan klien saat bertemu dengan orang lain.
- Bantu dan penuhi kebutuhan dasar klien antara lain hygiene, eliminasi.
- Anjurkan keluarga dan teman dekat untuk saling berkunjung dan melakukan hal – hal yang disenangi klien.
- Beri klien support dan biarkan klien memutuskan sesuatu untuk dirinya, misalnya dalam hal perawatan.
4. Depresi berhubungan dengan kesedihan tentang dirinya dalam keadaan terminal
Tujuan :
Mengurangi rasa takut, depresi dan kesepian
Intervensi :
- Bantu klien untuk mengungkapkan perasaan sedih, marah dan lain – lain.
- Perhatikan empati sebagai wujud bahwa perawat turut merasakan apa yang dirasakan klien.
- Bantu klien untuk mengidentifikasi sumber koping, misalnya dari teman dekat, keluarga ataupun keyakinan klien.
- Berikan klien waktu dan kesempatan untuk mencerminkan arti penderitaan, kematian dan sekarat.
- Gunakan sentuhan ketika klien menunjukkan tingkah laku sedih, takut ataupun depresi, yakinkan bahwa perawat selalu siap membantu.
- Lakukan hubungan interpersonal yang baik dan berkomunikasi tentag pengalaman – pengalaman klien yang menyenangkan.

5. Cemas berhubungan dengan kemungkinan sembuh yang tidak pasti, ditandai dengan klien selalu bertanya tentang penyakitnya, adakah perubahan atau tidak (fisik), raut muka klien yang cemas
Tujuan :
Klien tidak cemas lagi dan klien memiliki suatu harapan serta semangat hidup
Intervensi :
- Kaji tingkat kecemasan klien.
- Jelaskan kepada klien tentang penyakitnya.
- Tetap mitivasi (beri dukungan) kepada klien agar tidak kehilangan harapan hidup dengan tetap mengikuti dan mematuhi petunjuk perawatan dan pengobatan.
- Anjurkan kepada klien untuk tetap berserah diri kepada Tuhan.
- Datangkan seorang klien yang lain yang memiliki penyakit yang sama dengan klien.
- Ajarkan kepada klien dalam melakukan teknik distraksi, misal dengan mendengarkan musik kesukaan klien atau dengan teknik relaksasi, misal dengan menarik nafas dalam.
- Beritahukan kepada klien mengenai perkembangan penyakitnya.
- Ikut sertakan klien dalam rencana perawatan dan pengobatan.

6. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan tidak menerima akan kematian, ditandai dengan klien yang selalu mengeluh tentang keadaan dirinya, menyalahkan Tuhan atas penyakit yang dideritanya, menghindari kontak sosial dengan keluarga/teman, marah terhadap orang lain maupun perawat
Tujuan :
Koping individu positif
Intervensi :
- Gali koping individu yang positif yang pernah dilakukan oleh klien.
- Jelaskan kepada klien bahwa setiap manusia itu pasti akan mengalami suatu kematian dan itu telah ditentukan oleh Tuhan.
- Anjurkan kepada klien untuk tetap berserah diri kepada Tuhan.
- Perawat maupun keluarga haruslah tetap mendampingi klien dan mendengarkan segala keluhan dengan rasa empati dan penuh perhatian.
- Hindari barang – barang yang mungkin dapat membahayakan klien.
- Tetap memotivasi klien agar tidak kehilangan harapan untuk hidup.
- Kaji keinginan klien mengenai harapa untuk hidup/keinginan sebelum menjelang ajal.
- Bantu klien dalam mengekspresikan perasaannya.

7. Distress spiritual berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien dalam melaksanakan alternatif ibadah sholat dalam keadaan sakit ditandai dengan klien merasa lemah dan tidak berdaya dalam melakukan ibadah sholat
Tujuan :
Kebutuhan spiritual dapat terpenuhi yaitu dapat melakukan sholat dalam keadaan sakit
Intervensi :
- Kaji tingkat pengetahuan klien mengenai ibadah sholat.
- Ajarkan pada klien cara sholat dalam keadaan berbaring.
- Ajarkan tata cara tayamum.
- Ajarkan kepada klien untuk berzikir.
- Datangkan seorang ahli agama.

8. Inefektif koping keluarga berhubungan dengan kehilangan
Tujuan :
Membantu individu menangani kesedihan secara efektif
Intervensi :
- Motivasi keluarga untuk menverbalisasikan perasaan – perasaan antara lain : sedih, marah dan lain – lain.
- Beri pengertian dan klarifikasi terhadap perasaan – perasaan anggota keluarga.
- Dukung keluarga untuk tetap melakukan aktivitas sehari – hari yang dapat dilakukan.
- Bantu keluarga agar mempunyai pengaharapan yang realistis.
- Berikan rasa empati dan rasa aman dan tenteram dengan cara duduk disamping keluarga, mendengarkan keluhan dengan tetap menghormati klien serta keluarga.
- Berikan kesempatan pada keluarga untuk melakukan upacara keagamaan menjelang saat – saat kematian.

Diagnosa yang Mungkin Muncul Berhubungan Dengan Penyakit :
• Gangguan Konsep Diri (peran) berhubungan dengan pathologis penyakit dan kelemahan
• Anorexia dan nausea berhubungan dengan pemberian obat kemoterapi
• Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
• Konstipasi berhubungan dengan pemberian obat penurun rasa sakit

EVALUASI
Terhadap Klien
• Klien bebas dari rasa sakit.
• Klien dapat berpartisipasi dalam perawatan dan pengobatan baik pada tahap perencanaan maupun pelaksanaannya.
• Klien dapat mengekspresikan perasaannya (marah, sedih dan kehilangan).
• Klien dapat berkomunikasi dengan keluarga, perawat dan tim kesehatan lainnya.

Terhadap keluarga
• Keluarga dapat mengekspresikan perasaannya.
• Keluarga dapat mengutarakan pengalaman – pengalaman emosionalnya.
• Keluarga dapat melakukan kegiatan yang bisa dilakukan.
• Keluarga dapat membentuk hubungan baru dengan orang lain.


DAFTAR PUSTAKA


Ali Hasan Andul Hamid (1995). “Nasehat Untuk Yang Akan Mati”, Jakarta, Gema Insani Press

Carpenito, L. J. 1998. “Buku Saku Diagnosa Keperawatan”, Ed. 6, EGC. Jakarta

Pusdiknakes Depkes RI. 1990. “Asuhan Keperawatan Pasa Pasien Yang Tidak Ada Harapan Sembuh Perawatan Pasien II”, Jilid IV. Edisi I. Pusdiknakes. Jakarta

Pusdiknakes Depkes RI. 2000. “Tindakan Keperawatan Pada Sakaratul Maut”, Jilid I Edisi 1. Pusdiknakes. Jakarta.
Read On 0 komentar

FRAKTUR FEMUR

12:50
DEFENISI

Rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi tulang / osteoporosis.

FISIOLOGI / ANATOMI

Persendian panggul merupakan bola dan mangkok sendi dengan acetabulum bagian dari femur, terdiri dari : kepala, leher, bagian terbesar dan kecil, trokhanter dan batang, bagian terjauh dari femur berakhir pada kedua kondilas. Kepala femur masuk acetabulum. Sendi panggul dikelilingi oleh kapsula fibrosa, ligamen dan otot. Suplai darah ke kepala femoral merupakan hal yang penting pada faktur hip. Suplai darah ke femur bervariasi menurut usia. Sumber utamanya arteri retikuler posterior, nutrisi dari pembuluh darah dari batang femur meluas menuju daerah tronkhanter dan bagian bawah dari leher femur.

KLASIFIKASI

Ada 2 type dari fraktur femur, yaitu :

1. Fraktur Intrakapsuler; femur yang terjadi di dalam tulang sendi, panggul dan kapsula.

· Melalui kepala femur (capital fraktur)

· Hanya di bawah kepala femur

· Melalui leher dari femur


2. Fraktur Ekstrakapsuler;

· Terjadi di luar sendi dan kapsul, melalui trokhanter femur yang lebih besar/yang lebih kecil /pada daerah intertrokhanter.

· Terjadi di bagian distal menuju leher femur tetapi tidak lebih dari 2 inci di bawah trokhanter kecil.

PATOFISIOLOGI

Penyebab fraktur adalah trauma

Fraktur patologis; fraktur yang diakibatkan oleh trauma minimal atau tanpa trauma berupa

yang disebabkan oleh suatu proses., yaitu :

· Osteoporosis Imperfekta

· Osteoporosis

· Penyakit metabolik

TRAUMA

Dibagi menjadi dua, yaitu :

Trauma langsung, yaitu benturan pada tulang. Biasanya penderita terjatuh dengan posisi miring dimana daerah trokhanter mayor langsung terbentur dengan benda keras (jalanan).

Trauma tak langsung, yaitu titik tumpuan benturan dan fraktur berjauhan, misalnya jatuh terpeleset di kamar mandi pada orangtua.


TANDA DAN GEJALA

· Nyeri hebat di tempat fraktur

· Tak mampu menggerakkan ekstremitas bawah

· Rotasi luar dari kaki lebih pendek

· Diikuti tanda gejala fraktur secara umum, seperti : fungsi berubah, bengkak, kripitasi, sepsis pada fraktur terbuka, deformitas.


PENATALAKSANAAN MEDIK

· X.Ray

· Bone scans, Tomogram, atau MRI Scans

· Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler.

· CCT kalau banyak kerusakan otot.



TRAKSI

Penyembuhan fraktur bertujuan mengembalikan fungsi tulang yang patah dalam jangka waktu sesingkat mungkin

Metode Pemasangan traksi:

Traksi Manual

Tujuan : Perbaikan dislokasi, Mengurangi fraktur, Pada keadaan Emergency.

Dilakukan dengan menarik bagian tubuh.


Traksi Mekanik

Ada dua macam, yaitu :

Traksi Kulit

Dipasang pada dasar sistem skeletal untuk struktur yang lain, misalnya: otot. Traksi kulit terbatas

untuk 4 minggu dan beban < 5 kg.

Untuk anak-anak waktu beban tersebut mencukupi untuk dipakai sebagai fraksi definitif, bila tidak diteruskan dengan pemasangan gips.


Traksi Skeletal

Merupakan traksi definitif pada orang dewasa yang merupakan balanced traction. Dilakukan untuk menyempurnakan luka operasi dengan kawat metal atau penjepit melalui tulang/jaringan metal.


KEGUNAAN PEMASANGAN TRAKSI

Traksi yang dipasang pada leher, di tungkai, lengan atau panggul, kegunaannya :

· Mengurangi nyeri akibat spasme otot

· Memperbaiki dan mencegah deformitas

· Immobilisasi

· Difraksi penyakit (dengan penekanan untuk nyeri tulang sendi).

· Mengencangkan pada perlekatannya.



MACAM - MACAM TRAKSI

Traksi Panggul

Disempurnakan dengan pemasangan sebuah ikat pinggang di atas untuk mengikat puncak iliaka.


Traksi Ekstension (Buck’s Extention)

Lebih sederhana dari traksi kulit dengan menekan lurus satu kaki ke dua kaki. Digunakan untuk immibilisasi tungkai lengan untuk waktu yang singkat atau untuk mengurangi spasme otot.


Traksi Cervikal

Digunakan untuk menahan kepala extensi pada keseleo, kejang dan spasme. Traksi ini biasa dipasang dengan halter kepala.


Traksi Russell’s

Traksi ini digunakan untuk frakstur batang femur. Kadang-kadang juga digunakan untuk terapi nyeri punggung bagian bawah. Traksi kulit untuk skeletal yang biasa digunakan.

Traksi ini dibuat sebuah bagian depan dan atas untuk menekan kaki dengan pemasangan vertikal pada lutut secara horisontal pada tibia atau fibula.


Traksi khusus untuk anak-anak

Penderita tidur terlentang 1-2 jam, di bawah tuberositas tibia dibor dengan steinman pen, dipasang staples pada steiman pen. Paha ditopang dengan thomas splint, sedang tungkai bawah ditopang atau Pearson attachment. Tarikan dipertahankan sampai 2 minggu atau lebih, sampai tulangnya membentuk callus yang cukup. Sementara itu otot-otot paha dapat dilatih secara aktif.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Doenges M.E. (1989) Nursing Care Plan, Guidlines for Planning Patient Care (2 nd ed ). Philadelpia, F.A. Davis Company.


Long; BC and Phipps WJ (1985) Essential of Medical Surgical Nursing : A Nursing Process Approach St. Louis. Cv. Mosby Company.
Read On 0 komentar

Minum Waktu Makan Tidak Membikin Gemuk

23:38
Khaidirmuhaj.blogspot.com - Banyak orang meyakini, minum saat sedang makan bisa mengganggu pencernaan dan memicu kegemukan. Faktanya tidak selalu demikian, sebab makan yang diselingi minum air putih justru dapat membantu menurunkan berat badan.

Selama tidak ditambah sirup atau gula, air putih (H2O) merupakan senyawa bebas kalori. Sekalipun diminum bersama dengan makanan, air putih tidak akan memberikan kalori tambahan sehingga tidak akan menyebabkan kegemukan.

Tidak hanya itu, minum air justru menyebabkan perut lebih cepat terasa penuh. Dikutip dari MSN Health, Rabu (4/8/2010), hal ini menyebabkan nafsu makan berkurang sehingga terhindar dari kemungkinan makan dengan porsi berlebihan.

Teori ini dibuktikan dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Obesity pada tahun 2007. Pada orang berusia 55 tahun ke atas, kebiasaan minum 0,5 liter air putih sebelum makan dapat mengurangi berat badan sebesar 44 persen dalam waktu 12 pekan.

Penelitian lain mengatakan, air putih dapat meningkatkan termogenesis atau metabolisme kalori menjadi energi. Tidak peduli sebelum atau sesudah makan, minum 0,5 liter dalam suhu ruangan efektif meningkatkan metabolisme hingga 30 persen pada 10-30 menit pertama sesudahnya.

Terkait hal ini, spekulasi yang dikembangkan para ahli adalah bahwa tubuh menjadi perlu energi lebih banyak untuk menaikkan suhu air yang diminum pada suhu ruangan agar sesuai dengan suhu tubuh. Pada orang dewasa, proses ini rata-rata membutuhkan energi sebesar 29 kalori.

Sementara bagi sistem pencernaan, belum ada bukti ilmiah bahwa air putih dapat memicu gangguan. Dalam proses memecah makanan menjadi nutrisi yang bisa diserap tubuh, adanya air di saluran pencernaan justru akan membantu.

Air menjadi media untuk melarutkan beberapa komponen nutrisi makanan, sehingga lebih mudah diserap oleh dinding usus. Asal diimbangi dengan diet yang tepat, minum air putih saat makan justru baik untuk menurunkan berat badan.

Sumber: HealthDetik
Read On 0 komentar

ASKEP AMPUTASI

21:30
Pendahuluan

Keperawatan sebagai salah satu profesi, memiliki peran spesifik dalam kegiatan pencapaian kesehatan individu secara optimal, yaitu memiliki tanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan dasar manuisa yang terganggu sebagai akibat perubahan status/derajad kesehatan, baik pada individu maupun pada masyarakat umum. Perawat memiliki peran praktis untuk memberikan bantuan kepada klien menemukan masalah, memilih dan melakukan tindakan baik secara mandiri maupun dengan bantuan untuk mengatasi masalah kesehatan tertentu ( Kozier; 1991 ).

Klien yang mendapatkan tindakan amputasi organ tubuhnya, merupakan salah satu bentuk masalah yang tersendiri yang juga menjadi objek penyelenggaraan asuhan keperawatan. Keperawatan secara holistik akan memandang masalah yang dihadapi klien melalui berbagai aspek hidup yaitu biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Masalah yang dihadapi oleh klien yang mengalami amputasi tidak hanya pada upaya memnuhi kebutuhan fisik semata, tetapi lebih dari itu, perawat berusaha untuk mempertahankan integritas diri klien secara utuh, sehingga tidak menibulkan komplikasi fisik selama kegiatan intraoperatif, tidak mengakibatkan gangguan mental, klien dapat menerima dirinya secara utuh dan diterima dalam masyarakat, yang akhirnya klien mampu mencapai kesehatan yang optimal dalam pengertian klien produktif bagi diri, keluarga dan masyarakat.

Dalam prakteknya, perawat tentu saja tidak dapat terpisah dengan tim kesehatan lainnya yang memberikan kontribusi yang berbeda untuk mencapai keadaan sehat optimal pada klien. Sehingga perlu bagi perawat untuk memahami tanggungjawabnya secara pebuh dalam penanganan klien yang mendapatkan tindakan amputasi sekaligus memahami tugas dan peran dari anggota kesehatan lain untuk melakukan kegiatan kerjasama dalam menciptakan kesehatan optimal klien yang diamputasi.
Pengertian Amputasi

Amputasi berasal dari kata “amputare” yang kurang lebih diartikan “pancung”.

Amputasi dapat diartikan sebagai tindakan memisahkan bagian tubuh sebagian atau seluruh bagian ekstremitas. Tindakan ini merupakan tindakan yang dilakukan dalam kondisi pilihan terakhir manakala masalah organ yang terjadi pada ekstremitas sudah tidak mungkin dapat diperbaiki dengan menggunakan teknik lain, atau manakala kondisi organ dapat membahayakan keselamatan tubuh klien secara utuh atau merusak organ tubuh yang lain seperti dapat menimbulkan komplikasi infeksi.

Kegiatan amputasi merupakan tindakan yang melibatkan beberapa sistem tubuh seperti sistem integumen, sistem persyarafan, sistem muskuloskeletal dan sisten cardiovaskuler. Labih lanjut ia dapat menimbulkan madsalah psikologis bagi klien atau keluarga berupa penurunan citra diri dan penurunan produktifitas.


Penyebab / faktor predisposisi terjadinya amputasi

Tindakan amputasi dapat dilakukan pada kondisi :

1. Fraktur multiple organ tubuh yang tidak mungkin dapat diperbaiki.

2. Kehancuran jaringan kulit yang tidak mungkin diperbaiki.

3. Gangguan vaskuler/sirkulasi pada ekstremitas yang berat.

4. Infeksi yang berat atau beresiko tinggi menyebar ke anggota tubuh lainnya.

5. Adanya tumor pada organ yang tidak mungkin diterapi secara konservatif.

6. Deformitas organ.
Jenis Amputasi

Berdasarkan pelaksanaan amputasi, dibedakan menjadi :

1. amputasi selektif/terencana

Amputasi jenis ini dilakukan pada penyakit yang terdiagnosis dan mendapat penanganan yang baik serta terpantau secara terus-menerus. Amputasi dilakukan sebagai salah satu tindakan alternatif terakhir

2. amputasi akibat trauma

Merupakan amputasi yang terjadi sebagai akibat trauma dan tidak direncanakan. Kegiatan tim kesehatan adalah memperbaiki kondisi lokasi amputasi serta memperbaiki kondisi umum klien.

3. amputasi darurat

Kegiatan amputasi dilakukan secara darurat oleh tim kesehatan. Biasanya merupakan tindakan yang memerlukan kerja yang cepat seperti pada trauma dengan patah tulang multiple dan kerusakan/kehilangan kulit yang luas.

Jenis amputasi yang dikenal adalah :

1. amputasi terbuka

2. amputasi tertutup.

Amputasi terbuka dilakukan pada kondisi infeksi yang berat dimana pemotongan pada tulang dan otot pada tingkat yang sama. Amputasi tertutup dilakukan dalam kondisi yang lebih memungkinkan dimana dibuat skaif kulit untuk menutup luka yang dibuat dengan memotong kurang lebih 5 sentimeter dibawah potongan otot dan tulang.

Setelah dilakukan tindakan pemotongan, maka kegiatan selanjutnya meliputi perawatan luka operasi/mencegah terjadinya infeksi, menjaga kekuatan otot/mencegah kontraktur, mempertahankan intaks jaringan, dan persiapan untuk penggunaan protese ( mungkin ).

Berdasarkan pada gambaran prosedur tindakan pada klien yang mengalami amputasi maka perawat memberikan asuhan keperawatan pada klien sesuai dengan kompetensinya.
Manajemen Keperawatan

Kegiatan keperawatan yang dilakukan pada klien dapat dibagi dalam tiga tahap yaitu pada tahap preoperatif, tahap intraoperatif, dan pada tahap postoperatif.

a. Pre Operatif

Pada tahap praoperatif, tindakan keperawatan lebih ditekankan pada upaya untuk mempersiapkan kondisi fisik dan psikolgis klien dalam menghadapi kegiatan operasi.

Pada tahap ini, perawat melakukan pengkajian yang erkaitan dengan kondisi fisik, khususnya yang berkaitan erat dengan kesiapan tubuh untuk menjalani operasi.
Pengkajian Riwayat Kesehatan

Perawat memfokuskan pada riwayat penyakit terdahulu yang mungkin dapat mempengaruhi resiko pembedahan seperti adanya penyakit diabetes mellitus, penyakit jantung, penyakit ginjal dan penyakit paru. Perawat juga mengkaji riwayat penggunaan rokok dan obat-obatan.
Pengkajian Fisik

Pengkajian fisik dilaksanakan untuk meninjau secara umum kondisi tubuh klien secara utuh untuk kesiapan dilaksanakannya tindakan operasi manakala tindakan amputasi merupakan tindakan terencana/selektif, dan untuk mempersiapkan kondisi tubuh sebaik mungkin manakala merupakan trauma/ tindakan darurat.

Kondisi fisik yang harus dikaji meliputi :

SISTEM TUBUH


KEGIATAN

Integumen :

Kulit secara umum.

Lokasi amputasi


Mengkaji kondisi umum kulit untuk meninjau tingkat hidrasi.

Lokasi amputasi mungkin mengalami keradangan akut atau kondisi semakin buruk, perdarahan atau kerusakan progesif. Kaji kondisi jaringan diatas lokasi amputasi terhadap terjadinya stasis vena atau gangguan venus return.

Sistem Cardiovaskuler :

Cardiac reserve

Pembuluh darah

Mengkaji tingkat aktivitas harian yang dapat dilakukan pada klien sebelum operasi sebagai salah satu indikator fungsi jantung.

Mengkaji kemungkinan atherosklerosis melalui penilaian terhadap elastisitas pembuluh darah.

Sistem Respirasi

Mengkaji kemampuan suplai oksigen dengan menilai adanya sianosis, riwayat gangguan nafas.

Sistem Urinari


Mengkaji jumlah urine 24 jam.

Menkaji adanya perubahan warna, BJ urine.

Cairan dan elektrolit

Mengkaji tingkat hidrasi.

Memonitor intake dan output cairan.

Sistem Neurologis


Mengkaji tingkat kesadaran klien.

Mengkaji sistem persyarafan, khususnya sistem motorik dan sensorik daerah yang akan diamputasi.

Sistem Mukuloskeletal

Mengkaji kemampuan otot kontralateral.

Pengkajian Psikologis, Sosial, Spiritual

Disamping pengkajian secara fisik perawat melakukan pengkajian pada kondisi psikologis ( respon emosi ) klien yaitu adanya kemungkinan terjadi kecemasan pada klien melalui penilaian klien terhadap amputasi yang akan dilakukan, penerimaan klien pada amputasi dan dampak amputasi terhadap gaya hidup. Kaji juga tingkat kecemasan akibat operasi itu sendiri. Disamping itu juga dilakukan pengkajian yang mengarah pada antisipasi terhadap nyeri yang mungkin timbul.

Perawat melakukan pengkajian pada gambaran diri klien dengan memperhatikan tingkatr persepsi klien terhadap dirinya, menilai gambaran ideal diri klien dengan meninjau persepsi klien terhadap perilaku yang telah dilaksanakan dan dibandingkan dengan standar yang dibuat oleh klien sendiri, pandangan klien terhadap rendah diri antisipasif, gangguan penampilan peran dan gangguan identitas.

Adanya gangguan konsep diri antisipasif harus diperhatikan secara seksama dan bersama-sama dengan klien melakukan pemilihan tujuan tindakan dan pemilihan koping konstruktif.

Adanya masalah kesehatan yang timbul secara umum seperti terjadinya gangguan fungsi jantung dan sebagainya perlu didiskusikan dengan klien setelah klien benar-benar siap untuk menjalani operasi amputasi itu sendiri. Kesadaran yang penuh pada diri klien untuk berusaha berbuat yang terbaik bagi kesehatan dirinya, sehingga memungkinkan bagi perawat untuk melakukan tindakan intervensi dalam mengatasi masalah umum pada saat pre operatif. Asuhan keperawatan pada klien preoperatif secara umum tidak dibahas pada makalah ini.


Laboratorik

Tindakan pengkajian dilakukan juga dengan penilaian secara laboratorik atau melalui pemeriksaan penunjang lain secara rutin dilakukan pada klien yang akan dioperasi yang meliputi penilaian terhadap fungsi paru, fungsi ginjal, fungsi hepar dan fungsi jantung.
Diagnosa Keperawatan dan Perencanaan

Dari pengkajian yang telah dilakukan, maka diagnosa keperawatan yang dapat timbul antara lain :

1. Kecemasan berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kegiatan perioperatif.

Karakteristik penentu :

- Mengungkapkan rasa tajut akan pembedahan.

- Menyatakan kurang pemahaman.

- Meminta informasi.

Tujuan : Kecemasan pada klien berkurang.

Kriteria evaluasi :

- Sedikit melaporkan tentang gugup atau cemas.

- Mengungkapkan pemahaman tentang operasi.

INTERVENSI


RASIONAL

Memberikan bantuan secara fisik dan psikologis, memberikan dukungan moral.


Menerangkan prosedur operasi dengan sebaik-baiknya.


Mengatur waktu khusus dengan klien untuk berdiskusi tentang kecemasan klien.


Secara psikologis meningkatkan rasa aman dan meningkatkan rasa saling percaya.


Meningkatkan/memperbaiki pengetahuan/ persepsi klien.


Meningkatkan rasa aman dan memungkinkan klien melakukan komunikasi secara lebih terbuka dan lebih akurat.


2. Berduka yang antisipasi (anticipated griefing) berhubungan dengan kehilangan akibat amputasi.

Karakteristik penentu :

- Mengungkapkan rasa takut kehilangan kemandirian.

- Takut kecacatan.

- Rendah diri, menarik diri.

Tujuan : Klien mampu mendemontrasikan kesadaran akan dampak pembedahan pada citra diri.

Kriteria evaluasi :

- mengungkapkan perasaan bebas, tidak takut.

- Menyatakan perlunya membuat penilaian akan gaya hidup yangbaru.

INTERVENSI


RASIONAL

Anjurkan klien untuk mengekspresikan perasaan tentang dampak pembedahan pada gaya hidup.


Berikan informasi yang adekuat dan rasional tentang alasan pemilihan tindakan pemilihan amputasi.


Berikan informasi bahwa amputasi merupakan tindakan untuk memperbaiki kondisi klien dan merupakan langkah awal untuk menghindari ketidakmampuan atau kondisi yang lebih parah.


Fasilitasi untuk bertemu dengan orang dengan amputasi yang telah berhasil dalam penerimaan terhadap situasi amputasi.


Mengurangi rasa tertekan dalam diri klien, menghindarkan depresi, meningkatkan dukungan mental.


Membantu klien mengapai penerimaan terhadap kondisinya melalui teknik rasionalisasi.


Meningkatkan dukungan mental.

Strategi untuk meningkatkan adaptasi terhadap perubahan citra diri.


Selain masalah diatas, maka terdapat beberapa tindakan keperawatan preoperatif antara lain :

þ Mengatasi nyeri

- Menganjurkan klien untuk menggunakan teknik dalam mengatsi nyeri.

- Menginformasikan tersdianya obat untuk mengatasi nyeri.

- Menerangkan pada klien bahwa klien akan “merasakan” adanya kaki untuk beberapa waktu lamanya, sensasi ini membantu dalam menggunakan kaki protese atau ketika belajar mengenakan kaki protese.

þ Mengupayakan pengubahan posisi tubuh efektif

- Menganjurkan klien untuk mengubah posisi sendiri setiap 1 – 2 jam untuk mencegah kontraktur.

- Membantu klien mempertahankan kekuatan otot kaki ( yang sehat ), perut dan dada sebagai persiapan untuk penggunaan alat penyangga/kruk.

- Mengajarkan klien untuk menggunakan alat bantu ambulasi preoperasi, untuk membantu meningkatkan kemampuan mobilitas posoperasi, memprtahankan fungsi dan kemampuan dari organ tubuh lain.

þ Mempersiapkan kebutuhan untuk penyembuhan

- Mengklarifikasi rencana pembedahan yang akan dilaksanakan kepada tim bedah.

- Meyakinkan bahwa klien mendapatkan protese/alat bantu ( karena tidak semua klien yang mengalami operasi amputasi mendapatkan protese seperti pada penyakit DM, penyakit jantung, CVA, infeksi, dan penyakit vaskuler perifer, luka yang terbuka ).

- Semangati klien dalam persiapan mental dan fisik dalam penggunaan protese.

- Ajarkan tindakan-tindakan rutin postoperatif : batuk, nafas dalam.


b. Intra Operatif

Pada masa ini perawat berusaha untuk tetap mempertahankan kondisi terbaik klie. Tujuan utama dari manajemen (asuhan) perawatan saat ini adalah untuk menciptakan kondisi opyimal klien dan menghindari komplikasi pembedahan.

Perawat berperan untuk tetap mempertahankan kondisi hidrasi cairan, pemasukan oksigen yang adekuat dan mempertahankan kepatenan jalan nafas, pencegahan injuri selama operasi dan dimasa pemulihan kesadaran. Khusus untuktindakan perawatan luka, perawat membuat catatan tentang prosedur operasi yang dilakukan dan kondisi luka, posisi jahitan dan pemasangan drainage. Hal ini berguna untuk perawatan luka selanjutnya dimasa postoperatif.

Makalah ini tidak membahas secara detail kegiatan intraoperasi.


c. Post Operatif

Pada masa post operatif, perawat harus berusaha untuk mempertahankan tanda-tanda vital, karena pada amputasi, khususnya amputasi ekstremitas bawah diatas lutut merupakan tindakan yang mengancam jiwa.

Perawat melakukan pengkajian tanda-tanda vital selama klien belum sadar secara rutin dan tetap mempertahankan kepatenan jalas nafas, mempertahankan oksigenisasi jaringan, memenuhi kebutuhan cairan darah yang hilang selama operasi dan mencegah injuri.

Daerah luka diperhatikan secara khusus untuk mengidentifikasi adanya perdarahan masif atau kemungkinan balutan yang basah, terlepas atau terlalu ketat. Selang drainase benar-benar tertutup. Kaji kemungkinan saluran drain tersumbat oleh clot darah.

Awal masa postoperatif, perawat lebih memfokuskan tindakan perawatan secara umum yaitu menstabilkan kondisi klien dan mempertahankan kondisi optimum klien.

Perawat bertanggungjawab dalam pemenuhan kebutuhan dasar klien, khususnya yang dapat menyebabkan gangguan atau mengancam kehidupan klien.

Berikutnya fokus perawatan lebih ditekankan pada peningkatan kemampuan klien untuk membentuk pola hidup yang baru serta mempercepat penyembuhan luka. Tindakan keperawatan yang lain adalah mengatasi adanya nyeri yang dapat timbul pada klien seperti nyeri Panthom Limb dimana klien merasakan seolah-olah nyeri terjadi pada daerah yang sudah hilang akibat amputasi. Kondisi ini dapat menimbulkan adanya depresi pada klien karena membuat klien seolah-olah merasa ‘tidak sehat akal’ karena merasakan nyeri pada daerah yang sudah hilang. Dalam masalah ini perawat harus membantu klien mengidentifikasi nyeri dan menyatakan bahwa apa yang dirasakan oleh klien benar adanya.

Diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan antara lain adalah :

1. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan insisi bedah sekunder terhadap amputasi

Karakteristik penentu :

- Menyatakan nyeri.

- Merintih, meringis.

Tujuan : nyeri hilang / berkurang.

Kriteria evaluasi :

- Menyatakan nyeri hilang.

- Ekspresi wajah rileks.

INTERVENSI


RASIONAL

Evaluasi nyeri : berasal dari sensasi panthom limb atau dari luka insisi. Bila terjadi nyeri panthom limb




Beri analgesik ( kolaboratif ).


Ajarkan klien memberikan tekanan lembut dengan menempatkan puntung pada handuk dan menarik handuk dengan berlahan.


Sensasi panthom limb memerlukan waktu yang lama untuk sembuh daripada nyeri akibat insisi.

Klien sering bingung membedakan nyeri insisi dengan nyeri panthom limb.


Untuk menghilangkan nyeri


Mengurangi nyeri akibat nyeri panthom limb


2. Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan citra tubuh sekunder terhadap amputasi

Karakteristik penentu :

- Menyatakan berduka tentang kehilangan bagian tubuh.

- Mengungkapkan negatif tentang tubuhnya.

- Depresi.

Tujuan : Mendemontrasikan penerimaan diri pada situasi yang baru.

Kriteria evaluasi :

- Menyatakan penerimaan terhadap penerimaan diri.

- Membuat rencana untuk melanjutkan gaya hidup.

INTERVENSI


RASIONAL

Validasi masalah yang dialami klien.


Libatkan klien dalam melakukan perawatan diri yang langsung menggunakan putung :

- Perawatan luka.

- Mandi.

- Menggunakan pakaian.


Berikan dukungan moral.


Hadirkan orang yang pernah amputasi yang telah menerima diri.


Meninjau perkembangan klien.


Mendorong antisipasi meningkatkan adaptasi pada perubahan citra tubuh.






Meningkatkan status mental klien.


Memfasilitasi penerimaan terhadap diri.


3. Resiko tinggi terhadap komplikasi : Infeksi, hemorragi, kontraktur, emboli lemak berhubungan dengan amputasi

Karakteristik penentu :

- Terdapat tanda resiko infeksi, perdarahan berlebih, atau emboli lemak.

Tujuan : tidak terjadi komplikasi.

Kriteria evaluasi : tidak ada infeksi, hemorragi dan emboli lemak.

INTERVENSI


RASIONAL
Infeksi

Lakukan perawatan luka adekuat.



Mencegah terjadinya infeksi.
Perdarahan

Pantau :

-Masukan dan pengeluaran cairan.


- Tanda-tanda vital tiap 4 jam.


- Kondisi balutan tiap 4-8 jam.

-



Menghindari resiko kehilangan cairan dan resiko terjadinya perdarahan pada daerah amputasi.


Sebagai monitor status hemodinamik


Indikator adanya perdaraham masif


Emboli lemak

Monitor pernafasan.



Persiapkan oksigen



Pertahankan posisi flower atau tetap tirah baring selama beberapa waktu



Memantau tanda emboli lemak sedini mungkin


Untuk mempercepat tindakan bila sewaktu-waktu dperlukan untuk tindakan yang cepat.


Mengurangi kebutuhan oksigen jaringan atau memudahkan pernafasan.


Beberapa kegiatan keperawatan lain yang dilakukan adalah :

þ Melakukan perawatan luka postoperasi

- Mengganti balutan dan melakukan inspeksi luka.

- Terangkan bahwa balutan mungkin akan digunakan hingga protese yang digunakan telah tepat dengan kondisi daerah amputasi (6 bulan –1 tahun).

þ Membantu klien beradaptasi dengan perubahan citra diri

- Memberi dukungan psikologis.

- Memulai melakukan perawatan diri atau aktivitas dengan kondisi saat ini.

þ Mencegah kontraktur

- Menganjurkan klien untuk melakukan gerakan aktif pada daerah amputasi segera setelah pembatasan gerak tidak diberlakukan lagi.

- Menerangkan bahwa gerakan pada organ yang diamputasi berguna untuk meningkatkan kekuatan untuk penggunaan protese, menghindari terjadinya kontraktur.

þ Aktivitas perawatan diri

- Diskusikan ketersediaan protese ( dengan terapis fisik, ortotis ).

- Mengajari klien cara menggunakan dan melepas protese.

- Menyatakan bahwa klien idealnya mencari bantuan/superfisi dari tim rehabilitasi kesehatan selama penggunaan protese.

- Mendemontrasikan alat-alat bantu khusus.

- Mengajarkan cara mengkaji adanya gangguan kulit akibat penggunaan protese.
Kesimpulan

Asuhan keperawatan pada klien yang mengalami amputasi merupakan bentuk asuhan kompleks yang melibatkan aspek biologis, spiritual dan sosial dalam proporsi yang cukup besar ke seluruh aspek tersebut perlu benar-benar diperhatikan sebaik-baiknya.

Tindakan amputasi merupakan bentuk operasi dengan resiko yang cukup besar bagi klien sehingga asuhan keperawatan perioperatif harus benar-benar adekuat untuk memcapai tingkat homeostatis maksimal tubuh. Manajemen keperawatan harus benar-benar ditegagkkan untuk membantu klien mencapai tingkat optimal dalam menghadapi perubahan fisik dan psikologis akibat amputasi.(anas)


DAFTAR PUSTAKA

Engram, Barbara ( 1999 ), Rencana Asuhan Keperawatan Medikal – Bedah, edisi Indonesia, EGC, Jakarta.


Brunner, Lillian S; Suddarth, Doris S ( 1986 ), Manual of Nursing Practice, 4th edition, J.B. Lippincott Co. Philadelphia.


Kozier, erb; Oliveri ( 1991 ), Fundamentals of Nursing, Concepts, Process and Practice, Addison-Wesley Co. California.


Reksoprodjo, S; dkk ( 1995 ), Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Bina Rupa Aksara, Jakarta.
Read On 0 komentar

Bahaya Dibalik Sunat Perempuan

15:42
Khaidirmuhaj.blogspot.com — Kalau dalam postingan terdahulu Apakah perempuan boleh disunat? sekarang kita harus tahu juga gimana sih bahayanya kalau perempuan itu disunat. Berbeda dengan sunat atau khitan pada laki-laki yang jelas mendatangkan manfaat, antara lain mencegah terjadinya infeksi dan kanker, khitan perempuan sama sekali tidak memiliki manfaat kesehatan; yang ada justru membahayakan dan dapat berisiko kematian.

"Khitan bagi perempuan tidak ada manfaatnya sama sekali. Karena itu, fakultas kedokteran tidak ada yang mengajarkan khitan untuk wanita. Kecil atau tidaknya tindakan yang dilakukan, karena berada dalam area sensitif wanita, hal itu dinilai sangat berbahaya. Mulai dari pembedahan sampai anastesi, yang paling parah dari khitan bisa menimbulkan kematian," kata dr Artha Budi Susila Duarsa, M Kes, dari Lembaga Studi Kependudukan dan Gender Universitas YARSI di sela-sela peluncuran buku Khitan Perempuan: Dari Sudut Pandang Sosial, Budaya,Kesehatan, dan Agama, Selasa (27/7/2010) di Jakarta.

Khitan perempuan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terbagi atas empat. Tipe 1, yaitu memotong seluruh bagian klitoris (bagian mirip penis pada tubuh pria). Tipe 2, memotong sebagian klitoris. Tipe 3, menjahit atau menyempitkan mulut vagina (infibulasi) dan, tipe 4, menindik, menggores jaringan sekitar lubang vagina, atau memasukkan sesuatu ke dalam vagina agar terjadi perdarahan dengan tujuan memperkencang atau mempersempit vagina.

Meskipun pemberlakuan khitan perempuan di Indonesia hanya pada batas tipe 4, menurut dr Artha, pemotongan klitoris sendiri tidak boleh terjadi.

"Karena klitoris memainkan peran penting dalam meningkatkan kenikmatan seksual seorang perempuan. Selain itu, melalui klitoris, ekskresi kelenjar dapat terjadi di sekitar vagina," kata dr Artha.

Tidak mengubah bentuk klitoris dinilai dr Artha sangat penting karena letak klitoris yang dikelilingi oleh saraf menyebabkannya menjadi sangat peka secara seksual.

"Menghilangkan klitoris akan menurunkan kepekaan perempuan terhadap rangsangan seksual. Klitoris juga berefek pada lubrikasi vagina. Semakin banyak lubrikasi pada vagina, perempuan akan semakin siap ketika penis dimasukkan. Jika tidak ada klitoris, maka vagina akan kering dan masuknya penis akan menyebabkan rasa sakit pada vagina sehingga timbul ketakutan pada perempuan untuk melakukan hubungan badan berikutnya," kata dr Artha.

Hal yang sama juga terjadi jika yang dilakukan adalah infibulasi. Labia minora (kulit luar) juga dipenuhi dengan saraf yang membuat bagian ini sensitif terhadap rangsangan seksual. Seperti klitoris, memotong labia minora juga akan membuat perempuan kurang peka terhadap stimulasi seksual.

"Semuanya ini menyulitkan perempuan untuk mencapai orgasme. Menjahit mulut vagina akan menghambat masuknya penis. Rasa sakit yang dialami perempuan akan mengerikan dan jika penis berhasil melakukan penetrasi, akan menyebabkan pendarahan," kata dr Artha.

Tingginya risiko kematian pada khitan perempuan membuat Pemerintah Indonesia secara tegas melarang khitan bagi perempuan karena melanggar UU Kekerasan terhadap Perempuan.

Peraturan serupa juga diberlakukan parlemen Mesir yang mengesahkan UU tentang pelarangan khitan perempuan. Bagi yang melanggar akan dikenai denda 185 dollar AS sampai 900 dollar AS dan kurungan penjara antara 3 bulan dan 2 tahun. Namun, di Asia, praktik khitan sendiri hingga saat ini masih dilakukan di Pakistan, India, Banglades, dan Malaysia.

Dampak jangka pendek khitan pada perempuan:
1. Perdarahan yang mengakibatkan shock atau kematian
2. Infeksi pada seluruh organ panggul yang mengarah pada sepsis
3. Tetanus yang menyebabkan kematian
4. Gangrene yang dapat menyebabkan kematian
5. Sakit kepala yang luar biasa mengakibatkan shock
6. Retensi urine karena pembengkakan dan sumbatan pada uretra.

Dampak jangka panjang adalah :
1. Rasa sakit berkepanjangan pada saat berhubungan seks
2. Penis tidak dapat masuk dalam vagina sehingga memerlukan tindakan operasi
3. Disfungsi seksual (tidak dapat mencapai orgasme pada saat berhubungan seks)
4. Disfungsi haid yang mengakibatkan hematocolpos (akumulasi darah haid dalam vagina), hematometra (akumulasi darh haid dalam rahim), dan hematosalpinx (akumulasi darah haid dalam saluran tuba)
5. Infeksi saluran kemih kronis
6. Inkontinensi urine (tidak dapat menahan kencing)
7. Bisa terjadi abses, kista dermoid, dan keloid (jaringan parut mengeras).

Kalau sudah terlanjur ya mau gimana lagi....

Sumber : Kompas.Com
Read On 2 komentar

PRESBIOPI

22:45
A. PENGERTIAN

Adalah suatu bentuk gangguan refraksi, dimana makin berkurangnya kemampuan akomodasi mata sesuai dengan makin meningkatnya umur.

Makin bertambahnya umur maka setiap lensa akan menglami kemunduran kemampuan untuk mencembung. Berkurangnya kemampuan mencembung ini akan memberikan kesukaran melihat dekat, sedang untuk melihat jauh tetap normal.


B. PATOFISIOLOGI

Pada mekanisme akomodasi yang normal terjadi peningkatan daya refraksi mata karena adanya perubahan keseimbangan antara elastisitas matriks lensa dan kapsul sehingga lensa menjadi cembung. Dengan meningkatnya umur kaka lensa menjadi lebih keras (sklerosis) dan kehilangan elastisitasnya untuk menjadi cembung, dengan demikian kemampuan melihat dekat makin berkurang.


Gangguan akomodasi pada usia lanjut dapat terjadi akibat :

* Kelemahan otot akomodasi

* Lensa mata tidak kenyal atau berkurang elastisitasnya akibat sklerosis lensa.


C. GEJALA

Karena daya akomodasi berkurang maka titik dekat mata makin menjauh dan pada awalnya penderita akan kesulitan pada waktu membaca dekat huruf dengan cetakan kecil. Dalam upayanya untuk membaca lebih jelas maka penderita cenderung menegakkan punggungnya atau menjauhkan obyek yang dibacanya sehingga mencapai titik dekatnya dengan demikian objek dapat dibaca dengan lebih jelas.

Presbiopia timbul pada usia 45 tahun untuk ras Kaukasia, dan 35 tahun untuk ras lainnya.


D. CARA PEMERIKSAAN

1. Penderita lebih dahulu dikoreksi penglihatan jauhnya dengan metode rial and error hingga visus mencapai 6/6.

2. Dengan menggunakan koreksi jauhnya kemudian secara binokuler ditambahkan lensa sferis positif dan diperiksa dengan menggunakan kartu jaeger pada jarak 0,33 meter (33 cm).


E. PENATALAKSANAAN

Diberikan penambahan lensa sferis positif sesuai dengan pedoman umur yaitu : umur 40 tahun (umur rata-rata) diberikan tambahan sferis + 1.00 dan setiap 5 tahun diatasnya ditambahkan lagi lensa Sferis + 0.50.

Lensa sferis (+) yang ditambahkandapat diberikan dalam berbagai cara :

1. Kacamata baca untuk melihat dekat saja.

2. Kacamata bifocal untuk melihat jauh dan dekat.

Jika koreksi jauhnya tidak dapat mencapai 6/6 maka penambahan lensa sferis (+) tidak terikat pada pedoman umur, tetapi boleh diberikan seberapapun sampai dapat membaca cukup memuaskan.


DAFTAR PUSTAKA

Ilyas, Sidarta. Prof. Dr. 1988, Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Balai Penerbit FK-UI, Jakarta

LAB/UPF Ilmu Penyakit Mata, 1994, Pedoman Diagnosis Dan Terapi, RSUD dr. Soetomo, Surabaya
Read On 1 komentar

KRISIS ADRENAL (ADDISON’S)

10:42
I. Pengertian

Krisis adrenal adalah suatu keadaan insufisiensi adrenal akut, tanpa tanda klinis yang khas

Diagnosis krisis adrenal hanya berdasarkan kemungkinan saja, dan pengobatannya harus segera diberikan tanpa menunggu hasil laboratorium. (Soeparman, dkk, Ilmu Penyakit Dalam Jilid I, Edisi 2, FKUI, Jakarta, 1987)


II. Etiologi :

- Perdarahan

- Trombosis

- Trauma dibagian pinggang

- Infeksi (sindroma water house friderichsen)

- Komplikasi venografi adrenal

- Stadium akhir insufisiensi adrenal kronik

- Stres

- Keadaan defisiensi kortisol dan aldosteron


Predisposisi :

- Pasien yang pernah menderta penyakit addison’s sebelumnya

- Pasien yang pernah dilakukan adrenalektomi bilateral

- Pasien yang mendapat pengobatan steroid adrenal kurang lebih 6 bulan


I. Tanda dan Gejala

- Hiperpigmentasi

- Shock

- Rasa mual dan muntah

- Dehidrasi

- Frustasi

- Rasa lelah

- Kehilangan rambut tubuh (lebih jelas pada wanita)

- Gangguan mental progresif yang menjurus ke delirium dan coma

Pemeriksaan laboratorium :

- Hiponatremia

- Hiperkalemia

- Hipoglikemia

- Adotemia

- Hemokonsentrasi


II. Pengobatan :

· Hari I

- Bertindak secepat mungkin, ambil darah untuk pemeriksaan kadar kolesterol

- Periksa Ht, Gula darah, BUN, Na, K, CO2 dan Cl

- Berikan suntikan 100 mg hidrokortison IV, infus 1000 ml larutan garam yang mengandung 5 % dextrose

- Jika ada hiponatremia berat, berikan 3 % NaCl parenteral

- Beri suntikan 50 mg hidrokortison /6 jam. (Total steroid/hari 300 – 400 mg)

- Boleh diberikan norefinefrin/metaraminol, darah plasma, albumin b/p

- Secepatnya beri cairan dan kortison secara oral

· Hari II

Berikan kortison 50 mg/8 jam oral

· Hari III

Berikan kortison 25 mg/6 jam oral

· Hari IV

Berikan hirokortison 0,50 – 0,1 mg/hari

· Hari V – VIII

Pemberian kortison dikurangi


Sumber :

· Sylvia Anderson Price, Lorraine M. Wilson, Patofisiologi – Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit, Edisi 4, EGC, Jakarta, 1995

· Keperawatan Medikal Bedah Untuk AKPER (MA. 320), Sapto Harnowo, Fitri, H.Susanto, Jakarta, Widya Medika, 2001

· Soeparman, dkk, Ilmu Penyakit Dalam Jilid I, Edisi 2, FKUI, Jakarta, 1987
Read On 0 komentar
blog-indonesia.com
Health Blogs
SANG JUARA PERINGKAT WEBLOGS INDONESIA
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
blogarama - the blog directory
[Make Your Own] by Khaidir Muhaj | [Close]

Selamat Datang !!

selamat berkunjung di blog saya yang sederhana ini, semoga yang teman cari ada disini, silahkan copy paste artikel dalam blog ini, dgn menyertakan atau tdk menyertakan sumbernya, dan jangan lupa sebagai tanda persahabatan & terimakasih isilah buku tamu.

My Family

My Family
Alumni SPK Kesdam VI/TPR Banjarmasin. Alumnus Politeknik kesehatan Banjarmasin program khusus PKM Rantau. Seorang PNS PemKab. Tapin, Unit Kerja Puskesmas Lokpaikat - Rantau - Kalsel .

Yang Sedang Berkunjung

Anda Pengunjung Yang Ke

TERIMA KASIH

Telah berkunjung, mohon maaf jika terdapat kekurangan dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dan tidak dapat memenuhi permintaan & pertanyaan teman teman, karena saya juga dalam proses pembelajaran dan terus akan belajar. dan seandainya artikel ini bermanfaat itu semata-mata hanya karena Allah SWT guna tercapainya keperawatan yang profesional. serta jangan lupa isi buku tamu, semoga sukses!

Pengikut