KHAIDIR MUHAJ BLOG'SITE
Tempat Asuhan Keperawatan dan Materi Kuliah Keperawatan

Cegah Stroke dengan Mengenal Faktor Risikonya

10:59
Khaidirmuhaj.blogspot.com - Stroke merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Di perkirakan 2-3 juta orang di negeri ini menderita stroke. Meski stroke sering diidentikkan dengan usia lanjut, nyatanya makin banyak orang berusia awal 30 tahun yang terserang stroke. Selain dapat menyebabkan kecacatan, stroke juga bisa menimbulkan kematian.

Akan tetapi, jika Anda bersiap diri dari sekarang, Anda bisa memangksa sebagian besar faktor risiko Anda. "Penyakit ini bisa dicegah," demikian menurut dr.Sutarto Prodjo Disastro, Sp.S, ketua bidang humas dan penyuluhan Yayasan Stroke Indonesia di acara Kontrol Hidup Kontrol Kolesterol yang diadakano leh Pfizer di Jakarta.

Stroke adalah serangan otak yang timbul mendadak akibat terganggunya aliran darah karena sumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak sehingga sel-sel otak kekurangan darah, oksigen atau zat-zat makanan sehingga terjadi kematian sel dalam waktu singkat. "Kalau sudah mati, sel-sel otak tidak bisa beregenerasi atau tumbuh kembali, sehingga berhati-hatilah dengan stroke," kata Sutarto.

Pria memang memiliki risiko lebih besar terkena stroke, namun dalam beberapa dasawarsa terakhir peluangnya menjadi sama pada wanita. "Wanita cenderung lebih stres karena memiliki dua peran, yakni wanita karir dan ibu rumah tangga," kata dr. Arieska Ann Soenarto, Sp.JP (K), dari RS.Jantung Harapan Kita Jakarta.

Untuk membantu menurunkan risiko terkena stroke, cobalah lakukan pemeriksaan berikut:
- Cek tekanan darah
Banyak orang yang tidak tahu mereka mengidap hipertensi, karena penyakit ini tidak menunjukkan gejala dari luar. Periksakan tekanan darah Anda setidaknya sekali setahun karena mengendalikan hipertensi adalah hal yang tidak bisa ditawar dalam pencegahan stroke.

- Periksakan kolesterol
Banyak alasan mengapa kadar kolesterol dalam darah tinggi, termasuk di antaranya adalah pola makan, kegemukan dan kebiasaan merokok. Menurunkan kadar kolesterol sangat penting, berapa pun usia dan kondisi kesehatan Anda. Batas aman yang disarankan adalah kurang dari 160 mg/dl. Pilihlah jenis makanan dengan kandungan lemak rendah.

- Diabetes melitus
Perhatikan pula kadar gula darah Anda. "Orang yang diabetes biasanya pembuluh darahnya sangat jelek sehingga beresiko terkena penyakit jantung atau stroke," kata dr.Arieska Ann

- Sempatkan diri berolahraga
Tubuh kurang gerak menambah faktor risiko terkena stroke, tetapi olahraga sekurangnya 30 menit sehari, tiga kali seminggu, dapat membantu memangkas risiko tersebut.

- Faktor risiko lain
Yang juga merupakan faktor risiko stroke adalah usia lanjut, stres, obesitas, kebiasaan merokok, konsumsi lemak yang tinggi, dan penyakit jantung, terutama penyakit jantung dengan gejala gangguan irama jantung.

Source: Kompas.com
Read On 3 komentar

Kenapa Gugup Bisa Bikin Sakit Perut?

21:51
Khaidirmuhaj.blogspot.com - Sebagian besar orang pasti pernah merasakan sakit perut saat sedang gugup, panik atau stres ketika mau tampil di muka umum atau menjelang wawancara penting. Kenapa kondisi tersebut bisa memicu sakit perut?

Kebanyakan orang yang mengalami stres secara harfiah juga merasakannya di dalam usus. Seperti dijelaskan dalam Harvard Mental Health Letter pada Agustus 2010, bahwa ada sistem saraf informal yang dikenal sebagai 'brain-gut axis' atau sumbu otak-usus diduga sebagai penyebabnya.

Pada dasarnya otak berinteraksi dengan seluruh tubuh melalui sistem saraf yang memiliki beberapa komponen utama. Salah satunya adalah sistem saraf enterik yang membantu mengatur proses pencernaan.

Dikutip dari Health.harvard.edu, Sabtu (21/8/2010) saat tubuh mengalami stres, gugup atau panik, maka proses pencernaan akan melambat atau berhenti sama sekali. Sehingga tubuh dapat memfokuskan seluruh energi internal untuk menghadapi ancaman atau gangguan psikologis tersebut. Gangguan proses pencernaan inilah yang menyebabkan timbulnya sakit perut.

Identifikasi penyebab sakit perut ini akan dikenal dengan nama perut gugup (nervous stomach). Nervous stomach adalah sumber dari adanya gangguan pada perut yang bisa disebabkan oleh stres atau gugup.

Seseorang yang sedang merasa tertekan baik oleh stres, panik atau gugup, maka otak akan melepaskan asam lebih banyak ke dalam perut. Hal inilah yang mempengaruhi adanya gangguan pada perut seperti sakit perut, perut merasa kembung, bersendawa, perut terasa perih, tiba-tiba merasa ingin buang air besar atau kecil, mual dan juga mulas.

Nervous stomach
tidak bisa dikategorikan sebagai penyakit tertentu. Karena pada umumnya dokter akan menggunakan istilah ini setelah pemeriksaan diagnostik tidak bisa mengungkap apa penyebabnya dan juga setelah menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan lain.

Kondisi ini ternyata juga bisa dialami oleh anak-anak, misalnya saat anak merasa adanya tekanan dari teman sebaya atau dalam hal akademisnya seperti ketika ujian sekolah.

Dr Michael Miller selaku editor dari Harvard Mental Health Letter menjelaskan bahwa beberapa intervensi psikologis bisa dilakukan untuk mengurasi sakit perut akibat stres.

Terapi perilaku kognitif untuk mengubah stres dan merangsang pemikiran, teknik relaksasi yang diarahkan untuk menenangkan tubuh dan usus serta pikiran positif.bagai penyebabnya.

Source : HealthDetik
Read On 1 komentar

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PEMASANGAN W.S.D

07:39
1. DEFINISI
Adalah suatu tindakan untuk mengalirkan udara, cairan secara bertahap dari rongga pleura, dengan cara memasukkan pipa/ selang WSD.

2. ETIOLOGI
Membuang udara, cairan atau darah dari area pleura.
Mengembalikan tekanan negatif pada area pleura.
Mengembangkan kembali paru yang kolaps/ kolaps sebagian.
Mencegah reflux drainase kembali ke dalam dada.



3. SISTEM DRAINASE SELANG DADA
a. Satu Botol
Keuntungan:
- Penyusunan sederhana.
- Mudah untuk klien yang dapat jalan.
Kerugian:
- Saat drainase dada mengisi botol lebih banyak kekuatan diperlukan untuk memungkinkan udara dan cairan pleural untuk keluar dari dada masuk ke botol.
- Campuran darah drainase dan udara menimbulkan campuran busa dalam botol yang membatasi garis permukaan drainase.
- Untuk terjadinya aliran, tekanan pleura harus lebih tinggi dari tekanan botol.


b. Dua Botol
Keuntungan:
- Mempertahankan unit water seal pada tingkat konstan.
- Memungkinkan observasi dan pengukuran drainase yang lebih baik.
Kerugian:
- Menambah area mati pada sistem drainase yang mempunyai potensial untuk masuk ke dalam area pleura.
- Untuk terjadinya aliran, tekanan pleura harus lebih tinggi dari tekanan botol.
- Mempunyai batas kelebihan kapasitas aliran udara pada adanya kebocoran pleura.

c. Tiga Botol
Keuntungan:
- Sistem paling aman untuk mengatur penghisapan.
Kerugian:
- Lebih kompleks.
- Lebih banyak kesempatan untuk terjadinya kesalahan dalam perakitan dan pemeliharaan.

d. Unit Water Seal Sekali Pakai
Keuntungan:
- Plastik dan tidak mudah pecah seperti botol.
Kerugian:
- Mahal.
- Kehilangan water seal dan keakuratan pengukuran drainase ba unit terbalik.

4. INDIKASI PEMASANGAN SELANG DADA
a) Hemotoraks, yang disebabkan oleh:
• Trauma dada.
• Neoplasma.
• Robekan pleura.
• Kelebihan antikoagulan.
• Pasca bedah toraks.

b) Pnemotoraks
• Spontan: > 20% (klien simtomatik, adanya penyakit paru).
Yang disebabkan oleh:
Ruptur bleb

c) 1. Desakan:
Yang disebabkan oleh
• Ventilasi mekanis.
• Luka tusuk tembus.
• Klem selang dada terlalu dalam.
• Kerusakan segel pada sistem drainase selang dada.
2. Desakan Fistula Bronkopleural
Yang disebabkan oleh
• Kerusakan jaringan.
• Tumor.
• Aspirasi bahan mekanik toksik.

d) Efusi pleura.
1) Perapnemonia terkomplikasi
Pus banyak (empiema)
Pewarnaan gram positif/ kultur bakteri.
Glukosa < 40 mg/dl pH < 7,0 pH 7,0 – 7,2 dan LDH > 1000 i /L
Yang disebabkan oleh
 Penyakit kardiopulmoner serius.
 Kondisi implamasi.
2) Chilotoraks.
Yang disebabkan oleh
 Trauma.
 Malignasi.
 Abnormalitas kongenital.

5. INDIKASI PENGANGKATAN SELANG DADA
• 1 hari setelah berhentinya kebocoran udara.
• Drainase < 50 – 100 cc cairan /hari.
• 1 – 3 hari pasca bedah jantung.
• 2 – 6 hari pasca bedah toraks.
• Obliterasi rongga empiema.
• Drainase serosanguinosa dari sekitar sisi pemasangan selang dada.

 Untuk SELENGKAPNYA sILAHKAN DOWNLOAD DISINI
Read On 0 komentar

5 Kalimat Sakti Perusak Hubungan

11:46
Khaidirmuhaj.blogspot.com - Sejumlah kalimat tertentu yang Anda pikir sepele bisa berubah menjadi bumerang yang menghancurkan suatu hubungan. Setiap kali bertengkar, berhati-hatilah bersilat lidah jika tidak ingin kehilangan orang yang sesungguhnya masih Anda sayangi.

Nah, berikut ini adalah sejumlah kalimat yang sebaiknya dihindari, agar tidak merusak hubungan Anda dengan kekasih:

1. ''Kita putus!''
Anda pasti tidak akan mengatakan kepada atasan bahwa Anda berhenti, jika tidak berniat mengundurkan diri. Nah, hal yang sama seharusnya juga berlaku dalam sebuah hubungan kasih. Tapi, kadang orang tergoda mengucapkan kata 'putus', meski pun hanya ditujukan sebagai ancaman.

Simpan kata 'putus' hanya jika Anda benar-benar memaksudkannya, bukan sekadar gertak sambal. Bagaimana jika si dia ternyata mengiyakan ancaman tersebut dan meninggalkan Anda?

2. ''Kenapa sih kamu (tidak) seperti mantanku?''
Anda mungkin memiliki beberapa mantan kekasih dengan sejumlah sifat yang Anda suka dan benci. Namun, jangan pernah membanding-bandingkan kekasih baru Anda dengan lelaki dari masa lalu. Hal itu hanya akan menyakitkan hatinya. Setiap orang ingin dianggap spesial, dan tidak dibanding-bandingkan.

3. ''Kamu memang payah!''
Anda mungkin merasa frustrasi dengan kekasih yang tidak bisa memenuhi semua tuntutan Anda dengan sempurna. Namun, hal itu tidak dapat dijadikan alasan untuk meledak dan menyebutnya payah. Umpatan tersebut hanya akan melukai harga diri dan hubungan Anda.

4. ''Sudah dari sananya.''
Sebelum Anda dan kekasih bertemu lantas menjalin hubungan, Anda mungkin memiliki sejumlah kebiasaan lama yang ternyata tidak berkenan di hatinya. Misalnya keras kepala, sering terlambat, membatalkan janji tiba-tiba, atau terlalu boros. Jika kekasih mengkritik salah satu kebiasaan buruk Anda, jangan langsung bersikap defensif dan mengatakan itu sudah jadi sifat Anda dari dulu. Setiap orang secara alami berubah seiring bertambahnya usia. Membela diri dengan mengatakan, ''Sudah dari sananya,'' hanya membuktikan betapa piciknya Anda.

5. ''Kamu juga dulu begitu!''
Tidak bijaksana mengungkit-ungkit masa lalu dan menjadikannya pembenaran atas apa yang Anda lakukan sekarang. Jika kekasih marah karena Anda ketahuan jalan dengan lelaki lain, Anda tidak bisa membela diri dengan mengatakan, ''Kamu juga dulu selingkuh!'' Perbuatannya dulu salah, namun Anda menerimanya kembali. Hal itu adalah konsekuensi atas keputusan Anda sendiri, namun tetap tidak dapat dijadikan pembenaran atas apa yang kini dilakukan.

Source : Media Indonesia
Read On 4 komentar

Bikin Anak Tahan Stress Dengan Akrab bersama Ayahnya

13:03
Khaidirmuhaj.blogspot.com — Cara seorang pria menghadapi stres rutin, seperti kemacetan dan tengat pekerjaan, ternyata bergantung pada pola hubungannya dengan sang ayah di masa kanak-kanak. Ini merupakan salah satu hasil penelitian yang dipublikasikan dalam pertemuan American Psychological Association.

Beberapa waktu lalu, sebuah penelitian menunjukkan bahwa ibu yang kurang menunjukkan kasih sayang berpengaruh besar pada kestabilan emosi seorang anak. Sementara itu, hanya sedikit studi yang terkait dengan hubungan antara ayah dan anak laki-lakinya.

"Hubungan ayah dan anak laki-lakinya memiliki pengaruh yang luar biasa dalam hidup seseorang. Bila hubungan itu sehat, pengaruhnya akan sangat positif pada si anak," kata Melanie Mallers, peneliti dari California State University, AS.

Dalam risetnya, Mallers dan timnya melakukan survei terhadap 912 pria dan wanita berusia 25-74 tahun mengenai kadar stres mereka selama 8 hari terakhir. Para responden juga ditanya mengenai hubungan mereka dengan orangtuanya pada masa kecil.

Mayoritas responden menjawab bahwa mereka memiliki hubungan yang lebih manis dengan ibu mereka ketimbang dengan ayah. Kebanyakan anak laki-laki mengaku mereka lebih dekat dengan ibunya dibandingkan dengan anak perempuan.

"Ibu memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam kestabilan emosi seorang anak, baik pada pria maupun wanita. Anak yang punya hubungan buruk dengan ibunya cenderung memiliki emosi yang negatif pada masa dewasa," kata Mallers.

Namun, bagaimana dengan pihak ayah? Tim peneliti menemukan bahwa pria yang memiliki hubungan kurang hangat dengan ayahnya cenderung lebih sulit dalam menghadapi stres sehari-hari. Mereka juga relatif lebih mudah tertekan, mudah marah, dan gampang sakit akibat stres yang mereka hadapi.

Sumber: Kompas.com
Read On 0 komentar

ASKEP ARTRITIS PIRAI (GOUT)

11:21
I. KONSEP DASAR

A. Pengertian
Artritis pirai (Gout) adalah suatu proses inflamasi yang terjadi karena deposisi kristal asam urat pada jaringan sekitar sendi. gout terjadi sebagai akibat dari hyperuricemia yang berlangsung lama (asam urat serum meningkat) disebabkn karena penumpukan purin atau ekresi asam urat yang kurang dari ginjal. Gout mungkin primer atau sekunder.
- Gout primer
Merupkan akibat langsung pembentukan asam urat tubuh yang berlebih atau akibat penurunan ekresi asam urat
- Gout sekunder
Disebabkan karena pembentukan asam urat yang berlebih atau ekresi asam urat yang bekurang akibat proses penyakit lain atau pemakaian obat tertentu.

C. Etiologi
Gout disebabkan oleh adanya kelainan metabolik dalam pembentukan purin atau ekresi asam urat yang kurang dari ginjal yang menyebakan hyperuricemia.
Hyperuricemia pada penyakit ini disebabakan oleh :
 Pembentukan asam urat yang berlebih.
• Gout primer metabolik disebabkan sistensi langsung yang bertambah.
• Gout sekunder metabolik disebabkan pembentukan asam urat berlebih karana penyakit lain, seperti leukimia.


 Kurang asam urat melalui ginjal.
• Gout primer renal terjadi karena ekresi asam urat di tubulus distal ginjal yang sehat. Penyabab tidak diketahui
• Gout sekunder renal disebabkan oleh karena kerusakan ginjal, misalnya glumeronefritis kronik atau gagal ginjal kronik.

D. Patofisiologi
Banyak faktor yng berperan dalam mekanisme serangan gout. Salah satunya yang telah diketahui peranannya adalah kosentrasi asam urat dalam darah. Mekanisme serangan gout akut berlangsung melalui beberapa fase secara berurutan.
1. Presipitasi kristal monosodium urat.
Presipitasi monosodium urat dapat terjadi di jaringan bila kosentrasi dalam plasma lebih dari 9 mg/dl. Presipitasi ini terjadi di rawan, sonovium, jaringan para- artikuler misalnya bursa, tendon, dan selaputnya. Kristal urat yang bermuatan negatif akan dibungkus (coate) oleh berbagai macam protein. Pembungkusan dengan IgG akan merangsang netrofil untuk berespon terhadap pembentukan kristal.
2. Respon leukosit polimorfonukuler (PMN)
Pembentukan kristal menghasilkan faktor kemotaksis yang menimbulkan respon leukosit PMN dan selanjutnya akan terjadi fagositosis kristal oleh leukosit.
3. Fagositosis
Kristal difagositosis olah leukosit membentuk fagolisosom dan akhirnya membram vakuala disekeliling kristal bersatu dan membram leukositik lisosom.
4. Kerusakan lisosom
Terjadi kerusakn lisosom, sesudah selaput protein dirusak, terjadi ikatan hidrogen antara permukan kristal membram lisosom, peristiwa ini menyebabkan robekan membram dan pelepasan enzim-enzim dan oksidase radikal kedalam sitoplasma.
5. Kerusakan sel
Setelah terjadi kerusakan sel, enzim-enzim lisosom dilepaskan kedalam cairan sinovial, yang menyebabkan kenaikan intensitas inflamasi dan kerusakan jaringan.

E. Gambaran klinis
 Fase akut
Biasanya timbul tiba-tiba, tanda-tanda awitan serangan gout adalah rasa sakit yang hebat dan peradangan lokal. Kulit diatasnya mengkilat dengan reaksi sistemik berupa demam, menggigil, malaise dan sakit kepala. Yang paling sering terserang mula-mula adalah ibu jari kaki (sendi metatarsofalangeal) tapi sendi lainnya juga dapat terserang. Serangan ini cenderung sembuh spontan dalam waktu 10-14 hari meskipun tanpa terapi.
 Fase kronis
Timbul dalam jangka waktu beberapa tahun dan ditandai dengan rasa nyeri, kaku, dan pegal. Akidat adanya kristal-kristal urat maka terjadi peradangan kronik. Sendi yang bengkak akibai gout kronik sering besar dan berbentuk noduler. Tanda yang mungkin muncul :
- Tampak deformitas dan tofus subkutan.
- Terjadi pemimbunan kristal urat pada sendi-sendi dan juga pada ginjal.
- Terjadi uremi akibat penimbunan urat pada ginjal
- Mikroskofik tanpak kristal-kristal urat disekitar daerah nekrosisi.

F. Faktor yang berperan
- Diet tinggi purin, karen asam urat dibentuk dari purin.
- Kelaparan dan intake etil alkohol yang berlebih.
- Penggunaan obat diuritik, anti hipertensi, salisilat dosis rendah.
G. Penatalaksanaan
 Penatalaksanaan non medik.
a. Diet rendah purin.
Hindarkan alkohol dan makanan tinggi purin (hati, ginjal, ikan sarden, daging kambing) serta banyak minum.
b. Tirah baring.
Merupakan suatu keharusan dan di teruskan sampai 24 jam setelah serangan menghilang. Gout dapat kambuh bila terlalu cepat bergerak.
 Penatalaksanaan medik.
a. Fase akut.
Obat yang digunakan :
1. Colchicine (0,6 mg)
2. Indometasin ( 50 mg 3 X sehari selama 4-7 hari)
3. Fenilbutazon.
b. Pengobatan jangka panjang terhadap hyperuricemia untuk mencegah komplikasi.
1. Golongan urikosurik
- Probenasid, adalah jenis obat yang berfungsi menurunkan asam urat dalam serum.
- Sulfinpirazon, merupakan dirivat pirazolon dosis 200-400 mg perhari.
- Azapropazon, dosisi sehari 4 X 300 mg.
- Benzbromaron.
2. Inhibitor xantin (alopurinol).
Adalah suatu inhibitor oksidase poten, bekerja mencegah konversi hipoxantin menjadi xantin, dan konversi xantin menjadi asam urat.


II. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian.
a. Identitas pasien.
b. Keluhan utama.
Nyeri pada daerah persendian.
c. Riwayat kesehatan.
Riwayat adanya faktor resiko :
- Peningkatan kadar asam urat serum.
- Riwayat keluarga positif.

B. Pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan fisik berdasarkan pengkajin fungsi muskuluskletal dapat menunjukan :
- Ukuran sendi normal dengan mobilitas penuh bila pada remisi.
- Tofu dengan gout kronis. Ini temuan paling bermakna.
- Laporan episode serangan gout.

C. Pemeriksaan diagnostik.
- Kadar asam urat serum meningkat.
- Laju sedimentasi eritrosit (LSE) meningkat.
- Kadar asam urat urine dapat normal atau meningkat.
- Analisis cairan sinovial dari sendi terinflamasi atau tofi menunjukan kristal urat monosodium yang membuat diagnosis.
- Sinar X sendi menunjukan massa tofaseus dan destruksi tulang dan perubahan sendi.


D. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri behubungan dengan kerusakan integritas jaringan sekunder tehadap gout ditandai dengan pasien mengunkapkan ketidak nyamanan, merintih, melindungi sisi yang sakit, meringis.

Kreteria evaluasi : nyeri berkurang
Intervensi :
1. Pantau kadar asam urat serum.
2. Berikan istirahat dengan kaki ditnggikan.
3. Berikan kantung es atau panas basah.
4. Berikan analgesik yang diprogramkan.
5. Berikan obat anti gout yang diresepkan dan evaluasi keefektifannya.
6. Instruksikan pasien untuk minim2-3 liter cairan setiap hari dan meningkatkan masukn makanan pembuat alkalis seperti susu, buah sitrun dan daging.

2. Resiko tinggi terhadap perubahan penatalaksanaan pemeliharaan di rumah berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi, dan rencana tindakan, koping tidak efektif pada kondisi kronis, ditandai dengan pasien mengungkapkan ketidak pahaman dan meminta informasi.

Kreteria evaluasi : mengunkapakan pemahaman tentang instruksi perawatan diri dan rencana perawatan dan pengobatan.
Intervensi :
1. Berikan informasi tentang kondisi, proses penyakit dan rencana pengobatan.
2. Ajarkan pasien apa yang harus dilakukan selama serangan, instruksi meliputi :
- Mengistirahatkan sendi yang nyeri.
- Tinggikan eksrtemitas dan berikan kantung es atau panas basah.
- Hindarkan aktivitas yang meningkatkan ketidak nyamanan.
3. Ajarkn pasien bagaimana mengontrol serangan gout, instruksi harus meliputi :
- Menghidarkan faktor pencetus.
- Mengunakan obat anti gout sesuai resep.

Diagnosa keperawatan lain yang mungkin muncul.
1. Gangguan body image berhubungan dengan perubahan penampilan, sendi benkok, deformitas.
2. Resiko cidera berhubungan dengan hilangnya kekuatan otot, rasa nyeri.
3. Ganguan aktivitas sehari-hari berhubungandengan terbatasnya gerakan sekunder akibat nyeri pada persendian.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & suddath. Buku Ajar Bedah Medikal Bedah. Vol 3. Penerbit Buku Kedokteran. EGC. Jakarta. 2001
Engram, Barbara. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Vol.2. Penerbit Buku Kedokteran. EGC. Jakarta. 1998
Long, Barbara C. Keperawatan Medikal Bedah 3. Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran. Bandung. 1996
Price, Sylvia Anderson. Patologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta. EGC. 1990
Soeparman. Waspadji, Sarwono. Ilmu Penyakit Dalam. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 1998
Staf Pengajar Bagian Patologik Akademik. Patologi. Fakultas Kedokteran UI. Jakarta. 1994
Read On 1 komentar

ASKEP INKONTENINSIA URINE

10:43
A. Pengertian
 Inkonteninsia urine merupakan eliminasi urinedari kandung kemih yang tidak terkendali atau terjadi diluar keinginan
 Ketidak mampuan menahan urine dalam kandung kemih setelah usia dari toelit training

B. Etiologi
Penyebab utama dari inkonteninsia urine diantaranya:
- infeksi
- cerebral clauding
- gangguan jalur dari syaraf pusat(lesi kortek)
- lesi neuron atas
- lesi motor neuron bawah
- kerusakan jaringan

C. Manifestasi klinis
 Perkemihan diluar keinginan/inkonteninsia sebelum atau selama usaha mencapai toilet
 Kontraksi kandung kemih yang tidak di hambat
 Tidak mempunyai kontrol yang tinggi untuk mengeluarkan urine
 Peningkatan tekanan intra abdomen berhubungan inkonteninsia urine
 Kelemahan otot pelvis
 Disertai ketidakmampuan fisik
 Nokturia lebih dari 2x selama tidur


E. Bentuk-bentuk inkontinensia
Ada 5 tipe inkonteninsia urine, yaitu:
 Inkonteninsia stres yaitu kehilangan urine yang tidak disadari kurang dari 50 ml akibat dari peningkatan mendadak pada tekanan intra abdomen.
dengan Faktor yang berhubungan dengan inkonteninsia jenis ini adalah relaksasi otot pelvis yang berhubungan usia lanjut, kegemukan, ketidakmampuan jalan keluar dari kandung kemih.

 Inkonteninsia reflek yaitu kehilangan urine yang tidak disadari bila volumetertentu telah dicapai, terjadi pada interval yang diperkirakan.
Faktor yang mempengaruhinya yaitu gangguan neurologi seperti pada lesi sumsum tulang belakang.

 Inkonteninsia didesak (overflow) yaitu kehilangan urine yang tidakdisadari terjadi segera setelah terjadi desakan harus segera berkemih.
Faktor yang berhubungan yaitu penurunan kapasitas visica urinaria, infeksi kandung kemih, peningkatan intake cairan, peningkatan konsentrasi urine, distensi berlebihan dari kandung kemih.

 Inkonteninsia fungsional yaitu kehilangan yang tidak disadari dan tidak dapat diperkirakan dari urine.
Faktor yang ada hubungannya dengan inkonteninsia jenis ini adalah sensori koknitif atau defisit mobilitas.

 Inkonteninsia total yaitu kehilangan urine yang terus menerus dan tidak dapat diperkirakan.
Faktor yang berhubungan yaitu disfungsi neurologik, kontraksi independendari otot destresor sebagai akibat bedah, trauma atau penyakit yang mempengaruhi saraf sumsum belakang, berbagai fistula.

F. Penanganan/perawatan secara umum
Penanganan inkonteninsia urine bergantung pada faktor penyebab yang mandasarinya. Tindakan keperawatan yang dilakukan dan efektif sering hanya berupa tindakan sederhana, seperti:
♫ Beri dukungan klien secara rutin untuk membuat suatu usaha perkemihan yang singkat setelah minum cairan. Usaha-usaha yang disadari salah satunya mengontrol atau memulai kencing mungkin cukup.
♫ Menciptakan lingkungan yang memudahkan klien untuk kekamar mandi.
♫ Bantu klien inkonteninsia pada orang tua untuk menuju kamar mandi atau menawarkan sebuah pispot di tempat tidur atau urinal setiap 2-3 jam. Latihan ini kadang membantu memulai mengakhiri beberapa inkonteninsia yang kesulitan dikontrol.
♫ Menganjurkan kepada klien untuk membiarkan lampu menyala dikamar tidur yang gelap.
♫ Menasehati klien agar memilih pakaian yang mudah ditanggalkan ketika ingin menggunakan kloset.
♫ Gunakan bantalan penyerap atau kain penahan air (softek) untuk klien wanita. Bantalan penyerap atau kain penahan air sekarang tersedia untuk klien inkonteninsia dan terbukti berefek bagi klien wanita
♫ Latihan perineum dapat menolong pada inkonteninsia stres ringan, latihan ini terdiri dari mengencangkan dan mengendurkan perineum dan otot glotimus dan dapat dilakukan dalam berbagai cara:

 Kencangkan otot perineum seperti mencegah berkemih ,tahan dalam hitungan 10 kemudian kendurkan.
 Tarik nafas sambil bibir dilipat bagaikan dompet pada waktu mengencangkan otot-otot perineum.
 Berjongkok seperti akan BAB, kendurkan dan kemudian kencangkan otot perineum
 Letakkan sebuah pensil diantara lipatan paha dan pantat.
 Duduk pada toilet dengan dengkul direntangkan kesamping , alirkan dan hentikan berkemih.
♫ Mendorong klien untuk meningkatkan asupan cairan untuk mencegah konstipasi dan pengerasan feces yang sering menjadi factor penyebab inkonteninsia urine pada seorang klien yang sedenterik.
♫ Mengajarkan individu untuk mengidentifikasi otot dinding pelvis dan kekuatannya dengan latihan (latihan kegel)
 Untuk dinding pelvis posterior, bayangkan anda mencoba untuk menghentikan jalannya feces dan perkuat otot anal tanpa menguatkan pangkal bawah atau otot abdominal anda.
 Untuk otot dinding pelvis anterior, bayangkan anda mencoba untuk menghentikan jalannya urine, perkuat otot (belakang dan depan) selama 4 detik dan lepaskan, ulangi 10-4 x sehari dalam satu jam jika diindikasikan.
 Intruksikan individu untuk menghentikan dan memulai aliran urine beberapa kali selama berkemih.


ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
INKONTENINSIA URINE

I. PENGKAJIAN
a. Identitas klien
- Nama
- Umur
- Jenis kelamin
- Agama
- Pendidikan
- Pekerjaan
- Status perkawinan
- Alamat
b. Riwayat kesehatan
- Riwayat kesehatan keluarga
Tanyakan apakah ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit serupa dengan klien dan apakah ada riwayat penyakit bawaan atau keturunan, penyakit ginjal bawaan/bukan bawaan.
- Riwayat kesehatan klien
Tanyakan pada klien apakah klien pernah mengalami penyakit serupa sebelumnya, riwayat urinasi dan catatan eliminasi klien, apakah pernah terjadi trauma/cedera genitourinarius, pembedahan ginjal, infeksi saluran kemih dan apakah dirawat dirumah sakit.
- Riwayat kesehatan sekarang
Meliputi gangguan yang berhubungan dengan gangguan yang dirasakan saat ini.
Berapakah frekuensi inkonteninsianya, apakah ada sesuatu yang mendahului inkonteninsia(stres, ketakutan, tertawa, gerakan), masukan cairan, usia/kondisi fisik,kekuatan dorongan/aliran jumlah cairan berkenaan dengan waktu miksi. Apakah ada penggunaan diuretik, terasa ingin berkemih sebelumterjadi inkontenin, apakah terjadi ketidakmampuan.
c. Pengkajian fisik
- Ginjal(palpasi adanya massa perut, pinggul, nyeri tekan sudut koostovertebral)
- Kandung kemih(palpasi adanya nyeri, distensi)
- Uretra(drainase)infeksi adanya pemasangan drainase urine.
- Vagina(inflamasu, kemerahan)
- Genetalia eksterna(kemerahan, luka, ulkus/lesi, inflamasi, nyeri)
- Skrotum/testis(pembesaran, nyeri tekan, massa)
- Prostat melalui rectum(ukuran, konsistensi, indurasi)
- Perubahan warna kulit dan turgor kulit yang jelek untuk kemungkinan terjadinya ketidakseimbangan cairan dan elektolit akibat dari inkontenin.

d. Data penunjang
- Urinalisis dan kultur urine
- Elektrolit urine, urea, nitrogen darah.
- Keratin serum dan keratin clearen ct
- Sistem uretrogam
- Tes urodinamik
- IVP
- Uretrogramretrogat
- Sistokopi
- Biopsy kandung kemih
- Tes betside(volume urine dan sisa sesudah urinasi)manuper stress untuk menentukan tipe inkonteninsia.

II. ANALISA DATA
1. DS:
- Klien mengatakan bahwa dia sering kencing dan tidak mampu menahannya tanpa disadari.
DO:
- Urine involunter kurang dari 50 ml
Etiologi : kelemahan otot pelvis dan struktur dasar penyokong
Masalah : inkonteninsia stress
2. DS:
i. Klien mengatakan bingung dan tidak bisa mengatasi gangguan itu.
DO:
- wajah klien tampak bingung dan tegang.
Etiologi : kurang informasi tentang penatalaksanaan inkonteninsia.
Masalah : kurang pengetahuan.
3. DS:
ii. Klien mengatakan malu dengan keadaanya.
DO:
iii. Klien mengatakan malu dengan keadaanya.
Etiologi : inkonteninsia
Masalah : gangguan citra tubuh.
4. DS:
iv. Klien mengatakan malas beribadah.
DO: -
Etiologi : keadaan yang memalukan(inkonteninsia) pada saat melakukan ritual keagamaan.
Masalah : gangguan spiritual.


DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Inkonteninsia stress berhubungan dengan kelemahan otot pelvis dan struktur dasar penyokongnya.
Tujuan :
 Klien akan bisa melaporkan suatu pengurangan / penghilangan inkonteninsia stress.
 Klien dapat menjelaskan penyebab inkonteninsia dan rasional penatalaksanaan.
Intervensi :
 Kaji kebiasaan pola berkemih dan dan gunakan catatan berkemih sehari, pertahankan catatan harian untuk mengkaji efektifitas program yang direncanakan.
 Obserpasi meatus perkemihan untuk memeriksa kebocoran saat kandung kemih penuh
 Intruksikan klien batuk dalam posisi litotomi, jika tidak ada kebocoran , ulangi dengan posisi klien membentuk sudut 45, lanjutkan dengan klien berdiri jika tidak ada kebocoranyang lebih dulu.
 Pantau masukan dan pengeluaran, pastikan klien mendapat masukan cairan 2000 ml, kecuali harus dibatasi.
 Anjurkan klien bahwa mengurangi masukan cairan bukan untuk menurunkan inkonteninsia.
 Ajarkan klien untuk mengidentifikasi otot dinding pelvis dan kekuatannya dengan latihan
 Kolaborasi dengan dokter dalam mengkaji efek medikasi dan tentukan kemungkinan perubahan obat, dosis / jadwal pemberian obat untuk menurunkan frekuensi inkonteninsia.

2. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang pelaksanaan inkonteninsia.
Tujuan :
 Klien dapat mengetahui tentang inkonteninsia urine dan penatalaksanaanya.
 Klien dapat menjelaskan pengertian, penyebab inkonteninsia.
Intervensi :
 Diskusikan perlunya masukan cairan 2000-2500 ml/hari, dan tingkatkan jika klien dapat mengontrol berkemih dengan baik.
 Berikan fakta tentang inkonteninsia dan banyaknya orang-orang yang mengalami.
 Beri dorongan untuk komonikasi lanjutan dengan anggota keluarga, kegunaan kelompok pendukung dan profesi kesehatan lainnya.
 Diskusikan kebutuhan untuk melakukan aktifitas sehari-hari dan perawatan diri selama mungkin.
 Ajarkan nama obat, dosis, efek samping, dan toksik obat dan perlunya makan obat sesuai jadwal.
 Tekankan kebutuhan pemeriksaan secara teratur dan kontrol sesuai tujuan.
 Diskusikan tentang tersedianya pembalut, pempers, popok yang menyerap/ celana dalam.
 Ajarkan tanda kerusakan kulit, tindakan pertama yang harus dilakukan dan tanda yang harus dilaporkan.

3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan inkonteninsia.
Tujuan :
 Mengimplimasikan pola pengamanan baru.
 Mengawali/ memantapkan kembali pendukung yang ada.
 Mendemontrasikan keinginan dan kemampuan untuk mengambil perawatan diri/tanggung jawab peran.
Intervensi :
 Berikan situasi suasana yang menerima dan mendukung klien.
 Tentukan bagaimana inkonteninsia mempengaruhi aktifitas sehari-hari dan kehidupan seksual klien.
 Anjurkan untuk mengekpresikan perasaan ansietas, takut, bingung, marah, dan tak berdaya.
 Dukung perasaan positif klien.
 Kembangkan perasaan menghargai diri sendiri dengan menekankan segi positif dalam kehidupan klien.
 Jangan berkomen saat membantu membersihkan klien setelah terjadi inkonteninsia.
 Anjurkan klien berkomunikasi dengan anggota keluarga yang lain dengan minta bantuan dari profesi lain untuk membantu masalah pasien dengan perubahan emosi.

4. Gangguan spiritual berhubungan dengan keadaan yang memalukan(inkonteninsia urine)pada saat melakukan ritual keagamaan yang ditandai klien mengatakan malas beribadah.
Tujuan :
 Melanjutkan latihan spiritual yang tidak mengganggu kesehatan.
 Mengekpresikan pengurangan perasaan bersalah dan asietas.
 Mengekpresikan kepuasaan dengan kondisi spiritual.


Intervensi :
 Komonikasi penerimaan berbagai keyakinan spiritual dan praktisnya.
 Nyatakan pentingnya kebutuhan spiritual.
 Berikan privasi dan ketenangan seperti yang dibutuhkan untuk orang yang berdoa setiap hari, untuk kunjungan spiritual dan membaca buku spiritual.
 Hubungi pemimpin spiritual untuk mengklarifikasi praktis spiritual dan melaksanakan pelayanan keagamaan / jika diinginkan.
 Anjurkan klien ritual keagamaan yang tak merusak kesehatan.
 Selalu bersedia dan berkeinginan untuk mendengarkan sewaktu klien mengekpresikan keraguan diri, rasa bersalah, atau perasaan negatif lainnya.
 Berikan kesempatan individu berdoa dengan orang lain atau dibacakan doa oleh anggota kelompok keagamaan /anggota tim perawatan kesehatan yang dapat leluasa dengan aktifitas ini.

DAFTAR PUSTAKA

v. Bahasa Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan keperawatan, bandung, 1996

vi. Long, Barbara C, Perawatan Medikal Bedah edisi III, alih Carpenito, Lynda jual, Diagnosa Keperawatan edisi b, jakarta Egc, 1998

vii. Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner, Sudourth

viii. Puspenkes Asuhan keperawatan Urogenital, jilid I, jakarta Depkes Ri, 1990
Read On 0 komentar

ASKEP DIABETES INSIPIDUS

10:14
A. Pengertian
Diabetes insipidus adalah suatu penyakit yang jarang ditemukan, penyakit ini diakibatkan oleh berbagai penyebab yang dapat mengganggu mekanisme neurohypophyseal-renal reflex sehingga mengakibatkan kegagalan tubuh dalam mengkonversi air. Kebanyakan kasus-kasus yang pernah ditemui merupakan kasus yang idiopatik yang dapat bermanifestasi pada berbagai tingkatan umur dan jenis kelamin. Diabetes insipidus terbagi 2 macam, yaitu Diabetes Insipidus Sentral (CDI) dan Diabetes Insipidus Nefrogenik (NDI).

B. Etiologi

Diabetes Insipidus Sentral
A. Bentuk idiopatik
1. Bentuk non-familiar
2. Bentuk Familiar
B. Paska hipofisektomi
C. Trauma (fraktur dasar tulang tengkorak)
D. Tumor
1. Karsinoma metastasis
2. Kraniofaringioma
3. Kista supraselar
4. Pinealoma
E. Granuloma
1. Sarkoid
2. TBC
3. Sifilis
F. Infeksi
1. Meningitis
2. Ensefalitis
3. Landry-Guillain-Barre’s syndrome
G. Vaskular
1. Trombosis atau perdarahan serebral
2. Aneurisme serebral
3. Post partum necrosis (Sheehan’s syndrome)
H. Histiocytosis
1. Granuloma eosinofilik
2. Penyakit Schuller-Christian


Diabetes Insipidus Nefrogenik
A. Penyakit ginjal kronik
1. Penyakit ginjal polikistik
2. Medullary systic disease
3. Pielonefritis
4. Obstruksi ureteral
5. Gagal ginjal lanjut
B. Gangguan Elektrolit
1. Hipokalemia
2. Hiperkalsemia
C. Obat-obatan
1. Litium
2. Demeklosiklin
3. Asetoheksamid
4. Tolazamid
5. Glikurid
6. Propoksifen
7, Amfolarisin
8. Vinblastin
9. Kolkisin
D. Penyakit Sickle Cell
E. Gangguan Diet
1. Intake air yang berlebihan
2. Penurunan intake NaCl
3. Penurunan intake protein
F. Lain-lain
1. Multipel mieloma
2. Amiloidosis
3. Penyakit Sjogren’s
4. Sarkoidosis

C. Patofisiologi

a). Diabetes Insipidus Sentral
Diabetes insipidus sentralis disebabkan oleh kegagalan pelepasan ADH yang secara fisiologis dapat merupakan kegagalan sintesis atau penyimpanan secara anatomis, keadaan ini terjadi akibat kerusakan nukleus supra optik, paraventrikular dan filiformis hypotalamus yang mensintesis ADH. Selain itu diabetes insipidus sentral juga timbul karena gangguan pengangkutan ADH polifisealis dan akson hipofisis posterior dimana ADH disimpan untuk sewaktu-waktu dilepaskan kedalam sirkulasi jika dibutuhkan.
Secara biokimia, diabetes insipidus sentral terjadi karena tidak adanya sintesis ADH dan sintesis ADH yang kuantitatif tidak mencukupi kebutuhan, atau kuantitatif cukup tapi merupakan ADH yang tidak dapat berfungsi sebagaimana ADH yang normal. Sintesis neorufisin suatu binding protein yang abnormal, juga menggangu pelepasan ADH. Selain itu diduga terdapat pula diabetes insipidus sentral akibat adanya antibody terhadap ADH. Karena pada pengukuran kadar ADH dalam serum secara radio immunoassay, yang menjadi marker bagi ADH adalah neurofisisn yang secara fisiologis tidak berfungsi, maka kadar ADH yang normal atau meningkat belum dapat memastikan bahwa fungsi ADH itu adalah normal atau meningkat. Dengan demikian pengukuran kadar ADH sering kurang bermakna dalam menjelaskan patofisiologi diabetes insipidus sentral.
Termasuk dalam klasifikasi CDI adalah diabetes insipidus yang diakibatkan oleh kerusakan osmoreseptor yang terdapat pada hypotalamus anterior dan disebut Verney’s osmareseptor cells yang berada di luar sawar daerah otak

b). Diabetes Insipidus Nefrogenik
Istilah diabetes insipidus nefrogenik (NDI) dipakai pada diabetes insipidus yang tidak responsif terhadap ADH eksogen. Secara fisiologis NDI dapat disebabkan oleh :
1. Kegagalan pembentukan dan pemeliharaan gradient osmotik dalam medulla
renalis
2. Kegagalan utilisasi gradient pada keadaan di mana ADH berada dalam jumlah
yang cukup dan berfungsi normal

D. Tanda dan Gejala
Keluhan dan gejala utama diabetes insipidus adalah :
E. Poliuri 5-15 liter / hari
F. Polidipsi
G. Berat jenis urine sangat rendah 1001-1005/50-200 miliosmol/kg BB
H. Peningkatan osmolaritas serum > 300 m. Osm/kg
I. Penurunan osmolaritas urine < 50-200m. Osm/kg


E. Diagnosa dan Intervensi
1. Kekurangan cairan berhubungan dengan ketidakmampuan tubulus ginjal mengkonsentrasikan urine karena tidak terdapat ADH.
Tujuan : Volume cairan klien cukup atau terpenuhi
Intervensi :
 Berikan cairan yang cukup sesuai dengan kebutuhan untuk mempertahankan masukan dan keluaran yang seimbang / jam.
 Tambahkan masukan parenteral dengan cairan IV sesuai pesanan.
 Pantau masukan dan keluaran / 2 jam.
 Timbang BB klien tiap hari.
 Kaji terhadap tanda dan gejala hypovolemia.
 Observasi terhadap efek samping terapi pengganti ADH.
 Pantau terhadap dehidrasi berlebihan.
 Periksa BJ urine. Kirim urine untuk pemriksaan osmolaritas harian, laporkan BJ < 1,007.
 Laporkan temuan abnormal.


Evaluasi :
 Masukan dan keluaran seimbang
 Masukan < 2500 ml/hari
 Keluaran < 100 ml/hari
 Kulit lembab dengan turgor yang baik
 BB dalam batas normal
 TTV dalam batas normal
 BJ urine dalam batas normal

2. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi mengenai proses penyakit, pengobatan dan perawatan diri.
Tujuan : Klien mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit, pengobatan dan perawatan diri.
Intervensi :
 Jelaskan konsep dasar proses penyakit.
 Jelaskan mengenai obat-obatan.
 Tekankan pentingnya mempertahankan masukan dan keluaran cairan yang seimbang.
 Jelaskan pentingnya tindak lanjut rawat jalan yang teratur.
 Jelaskan perlunya untuk menghindari obat yang dijual bebas.
 Berikan informasi untuk mendapatkan gelang atau waspada medis.

Evaluasi :
Klien dapat mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit, pengarahan obat-obatan, gejala untuk dilaporkan dan perlunya mendapatkan gelang waspada medis.

3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan diabetes insipidus
Tujuan : - Mengimplementasikan pola pengamanan baru.
- Mengawali atau memantapkan kembali pendukung yang ada.
- Mendemonstasikan keinginan dan kemampuan untuk mengambil perawatan diri/ anggung jawab peran.
Intervensi :
 Berikan suasana yang menerima dan mendukung klien.
 Tentukan bagaimana diabetes insipidus mempengaruhi aktifitas sehari-hari.
 Anjurkan untuk mengekspresikan perasaan ansietas, takut, bingung, marah, dan tak berdaya.
 Dukung perasaan positif klien.
 Kembangkan perasaan menghargai diri sendiri dengan menekankan segi positif dalam kehidupan klien.
 Anjurkan untuk berkomunikasi dengan keluarga yang lain dan minta bantuan dari profesi lain untuk membantu masalah klien dengan perubahan emosi.
Evaluasi :
 Klien mendapatkan perasaan positif pada dirinya.
 Klien dapat beraktifitas.

4. Gangguan spiritual berhubungan dengan keadaan yang memalukan (dibetes insipidus) pada saat melakukan ritual keagamaan yang ditandai klien mengatakan malas beribadah.
Tujuan : - Melanjutkan latihan spiritual yang tidak mengganggu
kesehatan.
-Mengekspresikan pengurangan perasaan bersalah dan ansietas.
- Mengekspresikan kepuasan dengan kondisi spiritual.
Intervensi :
 Komunikasi penerimaan berbagai keyakinan spiritual dan praktisnya.
 Nyatakan pentingnya kebutuhan spiritual.
 Berikan privasi dan ketenangan seperti yang dibutuhkan untuk orang yang berdo’a setiap hari untuk kunjungan spiritual dan membaca buku spiritual.
 Hubungi pimpinan spiritual untuk mengklarifikasi praktis spiritual dan malaksanakan pelayanan keagamaan atau jikan diinginkan.
 Anjurkan ritual keagamaan yang tidak merusak kesehatan.
 Selalu bersedia dan berkeinginan untuk mewndengarkan sewaktu klien mengekspresikan keraguan diri, rasa bersalah atau perasaan negatif lainnya.
 Berikan kesempatan individu berdo’a dengan orang lain atau dibacakan do’a oleh anggota kelompok keagamaan atau anggota tim perawatan kesehatan yang dapat dengan leluasa dengan aktifitas ini.
Evaluasi :
 Klien mendapatka privasi dan ketenangan dalam menjalankan kegiatan spiritual.
 Klien dalam menjalankan ritual keagamaan tidak merusak kesehatan.
 Klien dapat mengekspresikan perasaan bersalah, keraguan diri, atau perasaan negatif lainnya.


DAFTAR PUSTAKA

1. Suparman. 1987. Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I Edisi II: Jakarta. Penerbit Balai FKUI
2. Susan Martin Tucker (et-al). 1998. Standar Perawatan Pasien, volume 2: Jakarta. Penerbit Buku Kedoteran EGC
3. Hudak and Gallo. 1996 .Perawatan Kritis, Edisi 2: Jakarta . Penerbit Buku Kedokteran EGC
4. Dr. Hasjim Effendi. 1981. Fisiologi Sistem Hormonal dan Reproduksi dan Patofisiologinya: Bandung. Penerbit Alumni anggota IKAPI Bandung
5. Barbara. C. Long, 1996. Perawatan Medikal Bedah 3: Bandung. Penerbit Yayasan IAPK Padjajaran Bandung
6. Guyton. C. Arthur. 1992. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit : Jakarta Penerbit Buku Kedokteran EGC
7. A. Price Sylva and M. Wilsol Lorraine. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 4. Penerbit Buku Kedokteran EGC
8. Bruner dan Sudart. 2000. Buku Saku Keperawatan Medikal Bedah. EGC. 2000
Read On 2 komentar

ASKEP EPILEPSY

09:31
1. Pengertian
Epilepsy adalah merupakan sindrom yang ditandai oleh kejang yang terjadi berulang-ulang. Diagnosa ditegakkan paling tidak dua kali kejang tanpa penyebab (Jastremski, 1988).
Bangkitan epilepsi adalah manifestasi gangguan otak dengan berbagai gejala klinis, disebabkan oleh lepasnya muatan listrik dari neuron-neuron otak secara berlebihan dan berkala tetapi reversibel dengan berbagai etiologi.
Ada dua klasifikasi kejang: umum dan parsial (atau juga disebut fokal) masing-masing ditandai oleh jenis kejang yang berbeda.

Kejang Umum
Kejang grand mal ditandai oleh empat fase:
1. Fase aura, seseorang mengalami berbagai sensasi sebelum kejadian kejang klonik. Sensasi ini merupakan tanda akan datangnya kejang. Sensasi mungkin merupakan penciuman, pusing, cahaya, rasa tertentu, baal atau getaran pada tangan.
2. Fase tonik, ditandai oleh hilangnya kesadaran, jeritan (suara bernada tinggi disebabkan lewatnya udara melalui laring yang menutup disertai kontraksi maksimal otot-otot dan perut), tubuh kaku karena kontraksi yang tiba-tiba dari seluruh otot volunter (tangan fleksi, kaki ekstensi dan gigi rapat).
3. Fase klonik, ditandai oleh gerakan-gerakan kejang agitasi seluruh tubuh karena pergantian relaksasi dan kontraksi yang cepat dari seluruh otot volunter. Pernafasan terhenti dan terjadi sianosis. Mungkin disertai mulut berbusa karena banyaknya saliva yang mungkin berwarna merah bila terjadi perdarahan karena tergigitnya lidah.
4. Fase pemulihan atau postiktal, ditandai oleh berhentinya gerakan – gerakan kejang. Individu tidak sadar. Kesadaran dan semua gerakan volunter perlahan kembali. Kebingungan, agitasi dan peka rangsang mungkin muncul. Individu akan merasa lelah. Mungkin mengalami inkontinensia urine. Individu juga lupa akan kejang yang dialaminya.
Kejang petit-mal (juga disebut takada kejang) ditandai hilangnya kesadaran singkat yang terjadi tiba-tiba tanpa disertai hilangnya tonus otot. Selama serangan, mungkin muncul lip smacking, pandangan kosong dan lurus ke depan, atau kelopak mata berkedip secara ritmis.

Kejang Parsia atau fokal
Kejang fokal sederhana ditandai dengan kejang pada bagian tubuh tertentu yang merupakan tempat di mana konduksi neural abnormal terjadi guncangan pada satu sisi wajah meluas kepada otot-otot tubuh pada sisi yang sama. Gejala somatosensori bisa terjadi misalnya kesemutan, rasa logam, halusinasi visual; gejala otonom juga dapat terjadi seperti mual, berkeringat, individu tidak mengalami kehilangan kesadaran.
Kejang fokal kompleks ditandai oleh adanya kehilangan kesadaran, disertai tingkah laku kacau seperti lip smacking, menarik-narik pakaian, atau menunjukkan jari. Kemudian kacau mental dan peka rangsang terjadi kemudian. Kejang parsial dapat berkembang menjadi kejang umum. Dengan kejang pertama, seseorang dirawat dan mengalami pemeriksaan diagnostik lengkap untuk menentukan penyebab kejang.

2. Patogenesis
sampai saat ini patofisiologi epileptik diketahui dengan jelas. Ada hipotesis yang menduga bahwa suatu epileptogenesis dapat terjadi karena adanya sekelompok neuron yang secara intriksik mempunyai kelainan pada membrannya, ini bisa didapat atau diturunkan. Neuron abnormal tersebut akan menunjukkan depolarisasi berkelanjutan dan sangat besar, kemudian melalui hubungan yang efisien akan mengimbas depolarisasi pada sebagian besar neuron-neuron karena suatu cedera, hipotesis iskemia atau genesis akibat gangguan mutasi, maka kumpulan neuron abnormal yang di imbasnya melepaskan potensial aksinya, sehingga terjadilah sawan.

3. Etiologi
Etiologi epilepsi dapat dibagi atas 2 kelompok:
a. Epilepsi idiopatik yang penyebabnya tidak diketahui meliputi  505 dari penderita epilepsi anak, awitan biasanya pada usia lebih dari 3 tahun. Dengan perkembangan ilmu dan ditemukannya alat-alat diagnostik yang canggih, kelompok ini makin kecil.
b. Epilepsi simtomatik yang penyebabnya sangat bervariasi, tergantung pada usia awitan.
Secara umum penyebab utama dari kejang ini dapat dibagi menjadi enam kelompok besar, yaitu:
Obat-obatan; racun, alkohol, obat yang diminum berlebihan (tapak lajak) baik yang diresepkan maupun obat yang dibeli sendiri. Obat terjadi terbesar sebagai penyebab kejang.
Ketidakseimbangan kimia; hiperkalemia, hipoglikemia, dan asidosis.
Demam; paling sering terjadi pada usia anak-anak (balita)
Patologis otak; sebagai akibat dari cedera kepala, trauma, infeksi, peningkatan tekanan intra kranial
Eklamsia; hipertensi pranatal/toksemia saat kehamilan.
Idiopatik; penyebabnya tidak diketahui.

4. Gejala-Gejala Klinik
Flasid, simetris paralisis asending dengan cepat berkembang. Otot pernapasan dapat saja terkena; mengakibatkan insufisiensi pernafasan.
Gangguan otonomi seperti retensi urin dan hipotensi postural kadang terjadi. Reflek-reflek superfisial dan tendon dalam dapat hilang. Biasanya tidak terjadi kehilangan massa otot karena paralisis flasid terjadi dengan cepat. Ada pasien yang mengalami nyeri tekan dan nyeri pada tekanan dalam atau gerakkan beberapa otot.
Gejala-gejala parestesia termasuk semutan “jarum dan peniti” dan kebas dapat terjadi secara sementara. Jika saraf kranial terkena, maka saraf fasial (VII) lebih sering terkena. Tanda dan gejala disfungsi saraf facial termasuk ketidakmampuan untuk tersenyum, bersiul, dan cemberut. Guillain-Barre tidak mengenai LOC (tingkat kesadaran), tanda-tanda pupil, atau fungsi serebral.
Gejala biasanya memuncak dalam satu minggu, tetapi dapat berkembang selama beberapa minggu. Tingkat paralisis dapat saja terhenti setiap saat. Fungsi motorik kembali dalam gaya desending. Demielinisasi terjadi dengan cepat, tetapi kecepatan remielinisasi hanya sekitar satu sampai dua jam per hari.

5. Pemeriksaan laboratorium/ diagnostik
• EEG
• Scan CT atau MRI (magnetic resonance imaging)
• Pemeriksaan metabolisme menggambarkan kondisi keadaan patologis
Kadar antikonvulsan serum (bila digunakan) diperiksa untuk menentukan adekuat-tidaknya terapi obat.

6. Penatalaksanaan / Therapy
a. Antikonvulsan
- Untuk kejang umum: karbamazepin (tegretol), fenitoin (dilantin), fenobarbital.
- Untuk kejang fokal : atosuksimid (zarontin) atau valproik aid (depakene)
b. Bedah saraf (reseksi lobus temporal atau mengangkat jaringan otak yang merupakan asal kejang) untuk orang-orang yang tidak puas dengan terapi obat.

7. Pengkajian
Observasi/ temuan
• Riwayat adanya faktor-faktor penyebab :
- Idiopatik-tidak ada penyebab yang dapat diidentifikasi.
- Pasca trauma-cedera kepala, lesi otak yang menyebabkan desak ruang (tumor, aneurisma, hematoma), inflamasi selaput otak, demam tinggi, dan gangguan metabolik.
• Dapatkan riwayat kejang. Pasien mungkin tidak dapat memberikan informasi tentang perilakunya selama atau setelah kejang kecuali ada saksi yang memberitahu pasien. Bila mungkin, bicaralah dengan orang yang menyaksikan. Tanya pasien hal-hal berikut:
- Berkaitan dengan kejang:
• Pernahkah anda mengalami kejang? Jika Ya apa yang terjadi selama kejang dan berapa lama berakhir?
• Apakah anda mengalami aura (sensasi atau tingkah laku yang tidak biasa) sebelum kejang?
• Apakah yang terjadi setelah kejang?
• Seberapa seringkah anda mengalami kejang?
• Adakah sesuatu yang khusus yang menyebabkan kejang?
• Kapan kejang terakhir yang anda alami?
• Apakah setelah kejang berakhir, anda menyadari kalau baru saja mengalami kejang?
• Apakah anda juga rasakan setelah kejang?
- Berkaitan dengan obat-obatan:
• Obat apakah yang anda gunakan untuk mengontrol aktivitas kejang?
• Kapan obat terakhir digunakan untuk mengontrol aktivitas kejang?
• Apakah anda juga menggunakan obat-obatan yang lain?
• Gali informasi tentang perubahan gaya hidup yang mungkin mencetuskan kejang / serangan.
• Kaji pemahamannya tentang kondisi, pengobatan dan kemandirian-nya setelah pulang.
• Kaji perasaan tentang kondisinya dan dampaknya terhadap gaya hidup.

8. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko tinggi terhadap cedera
Berhubungan dengan faktor; aktivitas kejang
Batasan karakteristik; laporan jatuh pada saat kejang terjadi, memar, aktivitas jejak keras saat kejang.
Kriteria evaluasi; tidak memar, tidak jatuh
Intervensi
1. Pantau:
- Hasil darah menunjukkan terapi antikonvulsan
- Status neurologis setiap 8 jam.
2. Lakukan kewaspadaan yang tepat bila terjadi kejang.
- Kaji fungsi saluran pernafasan. Gunakan ambu-bag bila perlu sebagai ventilasi. Masukan alat untuk pernafasan mulut hanya bila serangan dengan status epileptikus reda sejenak. Lakukan penghisapan bila perlu.
- Pasang infus untuk sarana pengobatan, berikan antikonvulsan sesuai program.
3. Segera beritahu dokter bila kejang melebihi 10 menit dan individu tak sadar.
4. Apabila kejang berakhir:
- Catat lamanya kejang, uraikan pergerakan tubuh selama kejang, dan perilaku pasien setelah kejang.
- Ukur tanda vital.
- Berikan kesempatan pada pasien untuk istirahat, khususnya setelah kejang umum.
- Tanyakan pasien bila ada perasaan yang tidak biasa yang dialami beberapa saat sebelum kejang.
- Beri tahu pasien tentang kejadian kejang.
5. Bila pasien dirawat di rumah sakit dengan kejang yang tidak terkontrol;
- Pasang penghalang tempat tidur.
- Tempelkan tulisan pada tempat tidur “kewaspadaan kejang “.
- Pastikan alat penghisap lendir siap dipergunakan bila pasien mengalami serangan grand-mal.
- Pastikan bahwa infus terpasang atau heparin-lok terpasang.
- Siapkan spatel lidah atau mayo di samping tempat tidur.
6. Bila pasien dirawat dengan serangan kejang berikan pada kardex atau status, pastikan pasien mendapatkan program pengobatan untuk mengontrol kejang bila individu sudah berobat sebelum dirawat.
7. Berikan antikonvulsan sesuai program. Beritahu dokter bila aktivitas kejang masih tetap atau memburuk.

2. Resiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan di rumah.
Berhubungan dengan faktor: kurangnya pengetahuan tentang kondisi dan rencana penanganannya, tidak efektifnya koping terhadap kondisi kroniknya.
Batasan karakteristik: ungkapan kurangnya pemahaman, keluhan, tidak mampu mengatasi masalah-masalah pada saat yang lalu, mengungkapkan kesulitan koping terhadap kondisi kronisnya.
Hasil yang diharapkan: mengungkapkan pemahaman terhadap kondisinya, pengobatan, tindakan pencegahan; mengungkapkan kepuasannya dengan rencana terapi; mengungkapkan rencana yang realistis.

Intervensi
1. Berikan informasi tentang:
• Mekanisme patologi yang mengakibatkan aktivitas kejang.
• Tujuan dari program penanganan.
• Program pengobatan termasuk Nama, dosis, jadwal, tujuan dan kemungkinan, efek samping.
• Pemeriksaan diagnostik termasuk:
- Uraian singkat.
- Tujuan pemeriksaan.
- Persiapan sebelum pemeriksaan.
- Perawatan sebelum pemeriksaan.
2. Ajarkan pada pasien untuk perawatan mandiri terhadap kejang.
• Pada saat akan terjadi serangan cari tempat yang man dan berbaring.
• Gunakan obat sesuai program.
• Pakai gelang dan kalung Waspada Medis.
• Hindari konsumsi alkohol, sementara sedang dalam pengobatan antikonvulsan.
• Pekerjaan tetap dilakukan apabila keamanannya terjamin. Hindari pekerjaan-pekerjaan yang berada di tempat ketinggian atau air.
• Taati peraturan mengemudi di banyak daerah mengharuskan seseorang bebas dari serangan kejang paling tidak dalam dua tahun terakhir untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi.
3. Ajarkan kepada anggota keluarga apa yang harus dilakukan bila terjadi kejang. Jelaskan bahwa perlu untuk mencari bantuan darurat setiap serangan karena polanya selalu sama. Anjurkan untuk menghubungi dokter bila kejang menjadi lebih kuat dan sering.
4. Berikan kesempatan pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya tentang perawatan kejang. Koreksi bila ada kekeliruan konsep


Daftar Pustaka

Doengoes, Marilynn E. Et al. 1999, Rencana Asuhan Keperawatan. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta
Engram, Barbara.1998, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Volume 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta
Hudak & Gallo, 1996, Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik Vol 2 EdisiVI, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta
Read On 0 komentar

ASKEP ENDOKARDITIS

11:22
1. DEFINISI
Endokarditis adalah peradangan endokardium atau katup jantung.
Endokarditis ada dua yaitu:
a. Endokarditis akut: Staphylococcus aureus.
b. Endokarditis sub akut: Streptococcus viridans.

2. ETIOLOGI
 Streptococcus viridans.
 Staphylococcus.
 Enterococcus.
 Penyakit katup.
 Prosedur invasif.
 Ketergantungan obat.

3. PATOFISIOLOGI
a. Inflamasi  jaringan parut  insufisiensi/ stenosis valvular  gangguan jantung.
b. Bakterial akut  demam meningkat, menggigil, diaporesis, leukositosis, mur-mur.
c. Emboli  otak  stroke.
 Gangguan ginjal
d. Sub akut  malaise, demam, menggigil, respirasi meningkat, nyeri persendian, petachie.

4. TANDA DAN GEJALA
 Peningkatan suhu berulang.
 Akut: 39C - 40C.
 Sub akut: 39C.
 Menggigil dan diaforesis bergantian; dapat terjadi pada malam hari.
 Malaise.
 Artragia.
 Tanda embolisasi.
 Petechie.
 Konjungtiva.
 Palatum, mukosa mulut.
 Ekstremitas.
 Nodus osler’s.
 Kompleksitas “cafe – au – lait”.
 Anoreksia.
 Penurunan berat badan.
 Sakit kepala.
 Splenomegali.
 Bunyi jantung.
 Awal: normal (biasa).
 Lanjut: mur-mur.

5. POTENSIAL KOMPLIKASI

 Jantung:
- Abses.
- Penyakit katup jantung.
- Miokarditis.

- Embilisasi
-Serebral
-ginjal
-Splenik
-koroner
 Aneurisme mikotik


6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
 EKG: dapat menunjukkan iskemia, hipertrofi, blok konduksi, disritmia.
 Ekokardiogram: dapat menunjukkan efusi perikardial, hipertrofi jantung, disfungsi katup, dilatasi ruang.
 Enzim jantung: CPK mungkin tinggi, tetapi iso enzim tidak ada.
 Sinar X dada: dapat menunjukkan pembesaran jantung, infiltrasi pulmonal.
 JDL: dapat menunjukkan proses infeksi akut/ kronis; anemia.
 Kultur darah: dilakukan untuk mengisolasi bakteri, virus dan jamur penyebab.
 LED: umumnya meningkat.
 Titer ISO: peningkatan pada demam rheumatik (kemungkinan pencetus).
 Titer ANA: (+) pada penyakit autoimun.

7. PENATALAKSANAAN MEDIS
 Terapi parenteral.
 Obat-obatan.
 Antibiotik IV.
 Antipiretik = salisilat.
 Analgesik
 Antikoagulasi.
 Insisi dan drainase abses.
 Pergantian katup.
 Istirahat di tempat tidur.


DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan efek-efek sistemik dari infeksi.
INTERVENSI:
MANDIRI:
• Selidiki keluhan nyeri dada.
• Perhatikan faktor pemberat/penurun.
• Perhatikan petunjuk nonverbal dari ketidaknyamanan.
• Berikan lingkungan yang tenang dan tindakan kenyamanan, misal: perubahan posisi, gosokkan punggung, penggunaan kompres hangat/dingin.
• Berikan aktivitas hiburan yang tepat.
KOLABORATIF:
• Berikan obat-obatan sesuai indikasi.
• Berikan O2 suplemen sesuai indikasi.

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan faktor biologi (demam, infeksi).
INTERVENSI:
MANDIRI:
• Pantau masukan kalori setiap hari.
• Berikan makanan tambahan TKTP.
• Jamin klien merasa nyaman saat makan.
KOLABORATIF:
• Konsultasi dengan ahli gizi.

3. Perubahan suhu tubuh yang berhubungan dengan proses infeksi.
INTERVENSI:
MANDIRI:
• Kaji adanya dehidrasi, diaforesis, turgor kulit jelek, membran mukosa kering.
• Ukur suhu tubuh 4 – 8 jam.
• Pantau masukan dan haluaran cairan setiap 8 jam.
• Catat kehilangan cairan yang diakibatkan dari perspirasi.
• Pantau sisi IV adanya kemerahan dan bengkak, ganti tempat setiap 24 jam.

KOLABORATIF:
• Berikan antibiotik sesuai pesanan, pastikan obat diberikan sesuai pada waktunya.
• Berikan antipiretik sesuai pesanan.
• Pantau hasil laboratorium terhadap ADALAH dengan deferensial dan kultur darah.

4. Potensial perubahan perfusi jaringan serebral yang berhubungan dengan embolisasi
INTERVENSI:
MANDIRI:
• Kaji adanya tanda embolisasi setiap shift, laporkan adanya tanda embolisasi pada dokter dengan segera.
• Lakukan pemeriksaan neurologis setiap shift atau sesuai kondisi klien.
• Instruksikan klien tentang perlunya meneruskan antikoagulan, jika dipesankan untuk mencegah periode embolik lanjut.
KOLABORATIF:
• Berikan terapi antikoagulan.

5. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang proses penyakit.
INTERVENSI:
MANDIRI:
• Jelaskan pentingnya menghindari kelelahan, perlu merencanakan periode istirahat sebelum dan sesudah aktivitas.
• Diskusikan gejala-gejala kambuh untuk dilaporkan ke dokter.
 Kelelahan.
 Peningkatan suhu.
 Menggigil.
 Penurunan berat badan.
 Hanya merasa tidak enak.
• Diskusikan kebutuhan untuk menghindari orang dengan infeksi, khususnya infeksi pernapasan atas (ISPA) dan untuk melaporkan gejala (misal: dingin, flu, batuk).
• Diskusikan pentingnya melaporkan ke dokter beberapa kejadian yang cenderung menghasilkan bakterimia, terapi gusi/gigi.

EVALUASI
1. Nyeri berhubungan dengan efek-efek sistemik dari infeksi.
• Melaporkan nyeri hilang/terkontrol.
• Mendemonstrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas pengalih sesuai indikasi untuk situasi individual.
• Mengidentifikasi metide yang memberi penghilangan.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan faktor biologi (demam, infeksi).
• Status nutrisi dipertahankan/ diperbaiki.
• Pencapaian perbaikan berat badan sesuai usia, jenis kelamin.
• Klien mengungkapkan nafsu makan meningkat.
3. Perubahan suhu tubuh yang berhubungan dengan proses infeksi.
• Proses inflamasi telah hilang.
• Kulit lembab dan kering.
4. Potensial perubahan perfusi jaringan serebral yang berhubungan dengan embolisasi
• Perfusi jaringan serebral dipertahankan.
- Klien sadar dan berorientasi.
- Tidak ada tanda-tanda embolisasi.
5. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang proses penyakit.
• Menyatakan pemahaman tentang proses inflamasi, kebutuhan pengobatan, dan kemungkinan komplikasi.
• Mengidentifikasi /melakukan pola hidup yang perlu atau perubahan perilaku untuk mencegah terulangnya / terjadinya komplikasi.

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marilynn E. Et al. 1999, Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Hudak & Gallo, 1996, Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik Vol 1 Edisi VI, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta
Mansjoer, Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran
Read On 0 komentar

ASKEP EMPIEMA

10:17
DEFINISI
Empiema adalah adanya eksudat purulent dalam cavum pelura. Pus dalam rongga pleura yang disebabkan oleh infeksi seperti pneumonia atau abses paru-paru terjadi setelah operasi atau akibat luka tusuk dada.
Empiema terdiri dari tiga bentuk, yaitu: empiema torakal, empiema tuberkulosis, empiema pneumoni.

ETIOLOGI
Empiema disebabkan oleh:
 Pneumonia,
 Abses paru-paru,
 Bronkiektasis,
 Infeksi intraabdominal,
 Atau langsung dari pengotoran pleura,
 Tuberkulosis,
 Jamur aktinomikosis,
 Emboli metastasis dari fokus jauh,
 Karsinoma bronkogenik,
 Osteomielitis,
 Trauma tembus.

FASE-FASE PADA EMPIEMA
1. Fase eksudatif terjadi sebagai reaksi terhadap inflamasi atau infeksi, dan ini ditandai dengan efusi pleura eksudatif.
2. Fase fibrinopurulen ditandai khas dengan adanya nanah intrapelural dan deposisi fibrin pada permukaan pleura. Cairan akan lebih kental dan cenderung mengadakan lukolasi. Paru-paru-paru-paru menjadi terfixer.
3. Fase organisasi ditandai khas dengan perlekatan paru-paru dan terjadinya paru-paru-paru-paru reskriktif karena terbentuknya jaringan fibroblastik. Sequelae yang sering terjadi adalah fistula bronchopleural atau pleurocutancus.

GEJALA KLINIS
Karena penyakit ini merupakan komplikasi, maka terdapat gejala dari penyakit primernya disertai rasa nyeri dada, batuk dan tanda-tanda tosik seperti keluarnya dahak. Pada torakosintesis: keluar pus, dengan pembiakan dan tes resistensi dapat diketahui penyebabnya dan terapi yang sesuai.

PENGOBATAN
˜ Tergantung penyebab. Bila karena cocus, berikan penisilin, streptomisin, sefalotin atau kanamisin. Bila telah ada hasil kultur, beri antibiotik yang sesuai. Bila karena tuberkulosis beri obat-obat tuberkulosis.
˜ Cara konservatif,
Aspirasi dengan jarum berulang-berulang. Keluarkan sebanyak-banyaknya, kemudian cuci rongga pleura dengan larutan garam fisiologis. Misalnya dapat dikeluarkan cairan 400 cc, masukkan larutan garam fisiologis sebanyak 200 cc, keluarkan lagi, masukkan lagi larutan garam fisiologis 100 cc dan seterusnya.
˜ Aspirasi terus-menerus secara menutup (water sealed draibage).
Bila cairan tidak keluar lagi, penderita harus mengejan atau dikeluarkan dengan pompa. Boleh dilakukan pencucian setiap hari dengan larutan garam fisiologis atau ditambahkan obat-obatan (Lugol dan Jodonasin 2%). Setelah itu masukan obat, misalnya larutan penicillin dalam aqua sampai 1 juta unit.
Kadang-kadang cairan empiema ini sangat kental sehingga perlu dihancurkan terlebih dahulu dengan obat-obat mukolitik seperti:
- streptokinase + streptodormase. Masukan ke cavum pleura selama 12 jam, kemudian lakukan lagi.
- Bisolvon.
- Danzen.
Aspirasi boleh dilakukan selama 2-3 minggu. Bila cairan tidak mungkin berkurang perlu tindakan bedah yaitu reseksi iga. Iga dipotong 2-3 cm, supaya bisa dimasukkan drain yang lebih besar dan lanjutkan dengan WSD.
Bila setelah 6-8 minggu tidak ada perbaikan, perlu diadakan operasi torakotomi dan dekortikasi (mengangkat pleura dan kemudian jaringan paru-paru dilekatkan pad dinding toraks). Kadang-kadang jaringan paru-paru telah rusak (terutama pada empiema tuberkulosa) sehingga sukar sembuh, karena itu perlu pleuro-pneumonektomi.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kasus dengan empiema torakal, antara lain:
1. Ketidakefektifan pola pernafasan yang berhubungan dengan penurunan ekspansi paru-paru sekunder terhadap dorongan dalam rongga pleura.
Intervensi
- Kaji pernafasan, catat perubahan, frekuensi, kedalaman, dan kualitasnya.
- Kaji gerakan dada, perhatian tanda simetris.
- Auskultasi bunyi dada setiap 2 sampai 4 jam.
- Baringkan pada dalam posisi duduk, dengan bagian kepala tempat tidur ditinggikan 60-90.
- Berikan oksigen per nasal kanul dengan 2-6 liter/menit sesuai pesanan kecuali terdapat kontra indikasi.
- Kaji pemasangan selang dada.
- Berikan oksigen dan IPPB sesuai pesanan.
- Pantau TD, S, P, dan nadi apikal setiap 2 jam sampai 4 jam.
- Berikan obat-obatan sesuai pesanan.
- Tinjau ulang seri pemeriksaan sinar x dada dan GDA sesuai pesanan.
- Bantu dan ajarkan pasien untuk:
a. Nafas dalam setiap 2-4 jam; baringkan pasien pada bagian yang terkena; gunakan pernafasan diafragmatik, segmental.
b. Berikan dorongan untuk menggunakan spirometer ansentif.
c. Lakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif pada ekstremitas setiap 4 jam.
- Berikan dorongan untuk batuk: bantu pasien untuk membebat bagian yang terkena ketika batuk.
- Hindari peregangan, penjuluran atau gerakan yang tiba-tiba.

2. Nyeri dada yang berhubungan dengan faktor-faktor biologis (trauma jaringan) dan faktor-faktor fisik (pemasangan selang dada).
Intervensi
- Kaji terhadap adanya nyeri (verbal dan nor verbal).
- Berikan analgesik sesuai pesanan.
- Kaji keefektifan tindakan penurunan rasa nyeri.
- Berikan obat pada pasien sebe-lum latihan batuk /bernapas.
- Instruksikan pasien pada teknik pembebatan.
- Amankan selang dada untuk membatasi gerakan dan menghindari iritasi.

3. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit dan penatalaksanaan perawatan diri.
Intervensi
- Kaji tingkat pengertian tentang proses penyakit.
- Diskusikan gejala untuk dilaporkan pada dokter: kesulitan bernapas, nyeri dada saat inspirasi, peningkatan suhu tubuh, batuk menetap, batuk dengan banyak mengandung sputum.
- Jelaskan pentingnya untuk menghindari orang dengan infeksi terutama ISPA.
- Diskusikan gejala demam atau flu untuk dilaporkan pada dokter.
- Diskusikan pentingnya batuk dan nafas dalam.
- Jelaskan pentingnya melakukan latihan toleransi: rencanakan waktu istirahat dan hindari keletihan.
- Jelaskan pentingnya vaksinasi influenza sesuai pesanan.
- Diskusikan obat-obatan: nama, dosis, waktu pemberian, tujuan, dan efek sampingnya.
- Jelaskan pentingnya menghindari obat-obatan yang dijual bebas tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengan dokter.

DAFTAR PUSTAKA

Junaidi, P. ---. Kapita Selekta Kedokteran Edisi II. Jakarta: Media Aesoulapius, FKU.
Tucker, Susan Martin et al.1999, Standar Perawatan Pasien Edisi V Vol 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC
------. Pedoman Pengobatan. Jakarta: Yayasan Essensia Medika
Read On 0 komentar

ASKEP EMFISEMA

09:12
1) Definisi
Emfisema didefinisikan sebagai suatu distensi abnormal ruang udara di luar bronkiolus terminal dengan kerusakan dinding alveoli.

2) Klasifikasi Emfisema Berdasarkan Morfologi
a. Centrilobural Emfisema (CLE)
Terdapat pelebaran dan kerusakan brokiolus respiratorius tertentu. Dinding bronkiolus terbuka dan menjadi membesar dan bersatu cenderung membentuk sebuah ruangan bersamaan dengan membesarnya dinding. Cenderung tidak seluruh paru, namun lebih berat pada daerah atas.

b. Panlobular Emfisema (PLE)
Pembesaran lebih seragam dan perusakan alveoli dalam asinus paru-paru, Biasanya lebih difus dan lebih berat pada paru-paru bawah. Ditemukan pada orang tua yang tidak ada tanda bronchitis kronis atau gangguan fungsi paru. Khas ditemukan pada orang dengan defisiensi 1- antitripsin homozigot.

3) Etiologi
Merokok belum diketahui pasti sebagai penyebab emfisema, tetapi merokok diduga merupakan penyebab utama dari penyakit emfisema. Selain itu, penyebab emfisema pada sedikit pasien yaitu diakibatkan oleh adanya predisposisi familial berkaitan dengan abnormalitas protein plasma, defisiensi antitripsin - 1 yang merupakan enzim inhibitor. Tanpa enzim inhibitor ini, enzim tertentu akan menghancurkan jaringan paru.

4) Patofisiologi
Karena dinding alveoli terus mengalami kerusakan, area permukaan alveolar yang kontak langsung dengan kapiler paru secara kontinu berkurang, menyebabkan peningkatan ruang rugi (area paru dimana tidak ada pertukaran gas yang dapat terjadi) dan mengakibatkan kerusakan difusi oksigen sehingga mengakibatkan hipoksemia. Pada tahap akhir penyakit, eliminasi karbon dioksida mengalami kerusakan, mengakibatkan peningkatan tekanan karbon dioksida dalam darah arteri dan menyebabkan asidosis respiratoris.
Sekresi meningkat dan tertahan menyebabakan individu tidak mampu untuk membangkitkan batuk yang kuat untuk mengeluarkan sekresi. Infeksi akut dan kronis dengan demikian menetap dalam paru-paru yang mengalami emfisema.

5) Pemeriksaan diagnostik
 Rontgen dada
Menunjukkan hiperinflasi, pendataran diafragama, pelebaran margin intercosta, dan jantung normal.

 Spirometri
Pemeriksaan fungsi pulmonary, biasanya menunjukkan peningkatan kapasitas paru total dan volume residual, penurunan dalam kapsitas vital dan volume ekspirasi kuat.
 Pemeriksaan gas-gas darah arteri
Dapat menunjukkan hipoksia ringan dengan hiperkapnia.

 Hitung darah lengkap (HDL).

6) Penatalaksanaan Medis
 Bronkodilator
Untuk mendilatasi jalan nafas. Mencakup agonis -adrenergik dan metilxantin, yang menghasilkan dilatasi bronchial melalui mekanisme yang berbeda.

 Terapi Aerosol
Aerosolisasi dari bronkodilator salin dan mukolitik sering kali digunakan untuk membantu dalam bronkodilatasi.
Aerosol yang dinebuliser menghilangkan brokospasme, menurunkan edema mukosa, dan mengencerkan sekresi bronchial. Hal ini memudahkan proses pembersihan bronkiolus, membantu mengendalikan proses inflamasi, dan memperbaiki fungsi ventilasi.

 Pengobatan Infeksi
Pasien dengan emfisema rentan terjadap infeksi paru dan harus diobati pada saat awal timbulnya tanda-tanda infeksi. Terapi antimikroba dengan tetrasiklin, ampisilin, amoksisilin, atau trimetroprim-sulfametoxazol biasanya diresepkan.

 Kortikosteroid
Digunakan setelah tindakan lain untuk melebarkan bronkiolus dan membuang sekresi. Prednison biasanya diresepkan.

 Oksigenasi
Terapi oksigen dapat meningkatkan kelangsungan hidup pada pasien dengan emfisema berat.

7) Diagnosa Keperawatan
 Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan ketidaksamaan ventilasi-perfusi.

Tujuan: Perbaikan dalam pertukaran gas.

Intervensi :
1) Berikan bronkodilator sesuai yang diresepkan.
2) Evaluasi tindakan nebuliser, inhaler dosis terukur, atau IPPB.
3) Instruksikan dan berikan dorongan pada pasien pada pernapasan diafragmatik dan batuk efektif.
4) Berikan oksigen dengan metode yang diharuskan.

Rasional:
1) Bronkodilator mendilatasi jalan napas dan membantu melawan edema mukosa bronchial dan spasme muscular.
2) Mengkombinasikan medikasi dengan aerosolized bronkodsilator nebulisasi biasanya digunakan untuk mengendalikan bronkokonstriksi.
3) Teknik ini memperbaiki ventilasi dengan membuka jalan napas dan membersihkan jalan napas dari sputum. Pertukaran gas diperbaiki.
4) Oksigen akan memperbaiki hipoksemia.


Evaluasi:
 Mengungkapkan pentingnya bronkodilator.
 Melaporkan penurunan dispnea.
 Menunjukkan perbaikan dalam laju aliran ekspirasi.
 Menunjukkan gas-gas darah arteri yang normal.

 Bersihan jalan nafas tidak efektif yang berhubungan dengan bronkokontriksi, peningkatan produksi lendir, batuk tidak efektif, dan infeksi bronkopulmonal.

Tujuan : Pencapaian klirens jalan napas.

Intervensi :
1) Beri pasien 6-8 gelas cairan/hari, kecuali terdapat kor pulmonal.
2) Ajarkan dan berikan dorongan penggunaan teknik pernapasan diafragmaik dan batuk.
3) Bantu dalam pemberian tindakan nebuliser, inhaler, atau IPPB.
4) Lakukan drainage postural dengan perkusi dan vibrasi pada pagi hari dan malam hari sesuai yang diharuskan.
5) Instruksikan pasien untuk menghindari iritan, seperti asap rokok, aerosol, dan asap pembakaran.
6) Berikan antibiotik sesuai yang diresepkan.

RASIONAL :
1) Hidrasi sistemik menjaga sekresi tetap lembab dan memudahkan untuk pengeluaran.
2) Teknik ini akan membantu memperbaiki ventilasi dan untuk menghasilkan sekresi tanpa harus menyebabakan sesak napas dan keletihan.
3) Tindakan ini menambahakan air ke dalam percabangan bronchial dan pada sputum menurunkan kekentalannya, sehingga memudahkan evakuasi sekresi.
4) Menggunakan gaya gravitasi untuk membantu membangkitkan sekresi sehingga sekresi dapat lebih mudah dibatukkan atau diisap.
5) Iritan bronkial menyebabkan bronkokonstriksi dan meningkatkan pembentukan lendir, yang kemudian mengganggu klirens jalan napas.
6) Antibiotik mungkin diresepkan untuk mencegah atau mengatasi infeksi.

Evaluasi :
 Mengungkapkan pentingnya untuk minum 6-8 gelas per hari.
 Batuk berkurang.
 Jalan napas kembali efektif.

 Pola pernapasan tidak efektif yang berhubungan dengan napas pendek, lendir, bronkokonstriksi, dan iritan jalan napas.
Tujuan : perbaikan dalam pola pernapasan.

Intervensi :
1) Ajarkan pasien pernapasan diafragmatik dan pernapasan bibir dirapatkan.
2) Berikan dorongan untuk menyelingi aktivitas dengan periode istirahat.
3) Berikan dorongan penggunaan pelatihan otot-otot pernapasan jika diharuskan.

Rasional :
1) Membantu pasien memperpanjang waktu ekspirasi. Dengan teknik ini pasien akan bernapas lebih efisien dan efektif.
2) Memberikan jeda aktivias akan memungkinkan pasien untuk melakukan aktivitas tanpa distres berlebihan.
3) Menguatkan dan mengkoordinasiakn otot-otot pernapasan.

Evaluasi :
 Melatih pernapasan bibir dirapatkan dan diafragmatik serta menggunakannya ketika sesak napas dan saat melakukan aktivitas.
 Memperlihatkan tanda-tanda penurunan upaya bernapas dan membuat jarak dalam aktivitas.
 Menggunakan pelatihan otot-otot inspirasi, seperti yang diharuskan.

 Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan keletihan sekunder akibat peningkatan upaya pernapasan dan insufisiensi ventilasi dan oksigenasi.

Tujuan : kemandirian dalam aktivitas perawatn diri.

Intervensi :
1) Ajarkan pasien untuk mengkoordinasikan pernapasan diafragmatik dengan aktivitas.
2) Berikan pasien dorongan untuk mulai mandi sendiri, berpakaian sendiri, berjalan.
3) Ajarkan tentang drainase postural bila memungkinkan.

Rasional :
1) Akan memungkinkan pasien untuk lebih aktif dan untuk menghindari keletihan yang berlebihan atau dispnea selama aktivitas.
2) Sejalan dengan teratasinya kondisi, pasien akan mampu melakukan lebih banyak namun perlu didorong untuk menghindari peningkatan ketergantungan.
3) Memberikan dorongan pada pasien untuk terlibat dalam perawtan dirinya.

Evaluasi :
 Menggunakan pernapasan terkontrol ketika beraktivitas.
 Menguraikan strategi penghematan energi.
 Melakukan aktivitas perawatan diri seperti sebelumnya.

 Intoleran aktivitas akibat keletihan, hipoksemia, dan pola pernapasan tidak efektif.

Tujuan: perbaikan dalam toleran aktivitas.

Intervensi:
1) Dukungan pasien dalam menegakkan regimen latihan teratur.

Rasional:
1) Otot-otot yang mengalami kontaminasi membutuhkan lebih banyak oksigen dan memberikan beban tambahan pada paru-paru. Melalui latihan yang teratur, kelompok otot menjadi lebih terkondisi.

Evaluasi:
 Melakukan aktivitas dengan napas pendek lebih sedikit.
 Berjalan secara bertahap meningkatkan waktu dan jarak berjalan untuk memperbaiki kondisi fisik.

 Koping individu tidak efektif yang berhubungan dengan kurang sosialisasi, ansietas, depresi, tingkat aktivitas rendah, dan ketidakmampuan untuk bekerja.

Tujuan: pencapaian tingkat koping yang optimal.

Intervensi:
1) Mengadopsi sikap yang penuh harapan dan memberikan semangat yng ditujukan kepada pasien.
2) Dorongan aktivitas sampai tingkat toleransi gejala.
3) Ajarkan teknik relaksasi atau berikan rekaman untuk relaksasi bagi pasien.

Rasional:
1) Suatu perasaan harapan akan memberikan pasien sesuatu yang dapat dikerjakan.
2) Aktivitas mengurangi ketegangan dan mengurangi tingkat dispnea sejalan dengan pasien menjadi terkondisi.
3) Relaksasi mengurangi stres dan ansietas dan membantu pasien untuk mengatasi ketidakmampuannya.

Evaluasi :
 Mengekspresikan minat di masa depan.
 Mendiskusikan aktivitas dan metode yang dapat dilakukan untuk menghilangkan sesak napas.
 Menggunakan teknik relaksasi dengan sesuai.


 Defisit pengetahuan tentang prosedur perawatan diri yang akan dilakukan di rumah.

Tujuan: kepatuhan dengan program terapeutik dan perawatan di rumah.

Intervensi:
1) Bantu pasien mengerti tentang tujuan-tujuan jangka pendek dan jangka panjang.
2) Diskusikan keperluan untuk berhenti merokok.

Rasional:
1) Pasien harus mengetahui bahwa ada metoda dan rencana dimana ia memainkan peranan yang besar.
2) Asap tembakau menyebabkan kerusakan pasti pada paru dan menghilangkan mekanisme proteksi paru-paru. Aliran udara terhambat dan kapasitas paru menurun.

Evaluasi:
 Mengerti tentang penyakitnya dan apa yang mempengarukinya.
 Berhenti merokok.

DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Suzanne. C, 1997, BUKU AJAR KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH, EDISI 8, EGC : Jakarta
Read On 1 komentar

ASKEP ATRESIA BILIARY

08:00
I. Pengertian
Atresia Biliary adalah merupakan suatu keadaan dimana saluran empedu yang utuh dengan sumbatan dibagian distalnya atau kelainan yang terjadi dibagian atas porta hepatic.

Suatu defek kongenital yang merupakan hasil dari tidak adanya / obstruksi satu / lebih saluran empedu pada ekstra hepatik atau intrahepatik ( Suriadi, 2001: 17 )

Sumbatan saluran empedu mengenai seluruh atau sebagian dari saluran empedu ekstrahepatik atau intrahepatik, ekstrahepatik bila sumbatan terjadi didalam duktus koledokus, dan intrahepatik bila penyumbatan terjadi antara sel hati dan duktus koledokus. (Ilmu kesehatan anak , 1985 : 542)

II. Etiologi
 Belum diketahui secara pasti
 Diduga kelainan kongenital
 Didapat dari proses-proses peradangan
 Kemungkinan infeksi virus dalam intrauterin

III. Patofisiologi
 Obstruksi pada saluran empedu ekstrahepatik menyebabkan obstruksi aliran normal empedu keluar hati dan kantong empedu dan usus. Akhirnya terbentuk sumbatan dan menyebabkan empedu balik ke hati ini akan menyebabkan peradangan, edema, degenerasi hati. Bahkan hati menjadi fibrosis dan cirrhosis. Dan hipertensi portal sehingga akan mengakibatkan gagal hati.
 Degerasi secara gradual pada hati menyebabkan joundice, ikterik dan hepatomegaly
 Karena tidak ada empedu dalam usus, lemak dan vitamin larut lemak tidak dapat diabsorbsi, kekurangan vitamin larut lemak dan gagal tumbuh.

IV. Komplikasi
 Cirosis hepatis
 Gagal hati
 Gagal tumbuh
 Hipertensi portal
 Varises Esophagus
 Asites

V. Tipe- tipe Atresia Biliary
Secara empiris dapat dikelompokkan dalam 2 tipe:
a. Tipe yang dapat dioperasi (yang dapat diperbaiki)
Jika kelainan/sumbatan terdapat dibagian distalnya
b. Tipe yang tidak dapat dioperasi
Jika kelainan / sumbatan terdapat dibagian atas porta hepatic, tetapi akhir-akhir ini dapat dipertimbangakan untuk suatu operasi porto enterostoma hati radikal.

VI. Manifestasi klinik
 Warna tinja pucat
 Distensi abdomen
 Hepatomegaly
 Lemah
 Pruritus / gatal
 Anoreksia
 Letargi
 Jaundice dalam 2 minggu sampai 2 bulan


VII. Pemeriksaan diagnostik
 Fungsi hati : bilirubin, aminotranferase dan faktor pembekuan : protombin time, partial thromboplastin time.
 Pemeriksaan urine : pemeriksaan urobilinogen penting artinya pada pasien yang mengalami ikterus. Tetapi urobilin dalam urine negatif. Hal ini menunjukkan adanya bendungan saluran empedu total.
 Pemeriksaan feces : warna tinja pucat karena yang memberi warna pada tinja / stercobilin dalam tinja berkurang karena adanya sumbatan.
 Biopsi hati : untuk mengetahui seberapa besar sumbatan dari hati yang dilakukan dengan pengambilan jaringan hati.

VIII. Penatalaksanaan
- Medik
Penanganan atresia biliary harus segera dilakukan laparotomi eksplorasi, sekaligus dilakukan kolangiografi pada saat melakukan operasi untuk mengetahui adanya dan letak obstruksi yang tepat. Tahap berikutnya tergantung dari jenis kelainan yang tampak, dapat dikoreksi atau tidak dapat dikoreksi. Terhadap atresia yang dapat dikoreksi dilakukan pemasangan Salin, bila diduga tidak mungkin dilakukan tindakan koreksi harus dibuat sendian beku, untuk menentukan adanya sisa saluran empedu dan besarnya penyempitan. Dalam kasus demikian tidak dibenarkan untuk melakukan tindakan bedah seperti transeksi atau diseksi jaringan hepar sampai ke porta hepatic. Diantara kasus yang tidak dapat dikoreksi pada beberapa bayi masih mungkin dilakukan hepatoportoonterostomi.
Terapi pengobatan yang dapat diberikan
• Feno barbital 5 mg / kg / BB (dibagi 2 kali pemberian)
• Kolesteramin 1 gr / kg / BB (dibagi 6 kali pemberian)


- Keperawatan
Pertahankan kesehatan bayi (pemberian makan cukup gizi sesuai dengan kebutuhan serta menghindarkan kontak infeksi). Berikan penjelasan kepada orang tua bahwa keadaan kuning pada bayinya berbeda dengan bayi lain yang kuning karena hiperbilirubinemia biasa yang dapat hanya dengan terapi sinar / terapi lain. Pada bayi ini perlu tindakan bedah karena terdapatnya penyumbatan.

IX. Asuhan Keperawatan
Diagnosa Keperawatan
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan absorbsi
Tujuan : mendemonstrasikan keseimbangan cairan
Intervensi :
- Kaji intake dan output
- Ukur lilitan atau lingkar abdomen
2. Gangguan tumbuh kembang berhubungan dengan kondisi kronik.
Tujuan : mempertahankan tumbuh kembang secara normal
Intervensi :
- Lakukan stimulasi yang dapat dipakai sesuai dengan usia, gerakan motor halus dan kasar, ROM, posisi duduk, memberikan benda-benda yang dapat dicapai.
- Jelaskan pada orang tua pentingnya melakukan stimulasi tumbuh kembang dengan menyesuaikan kondisi anak ; seperti perlu istirahat
3. Resiko perdarahan dan infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan.
Tujuan : perdarahan dan infeksi dapat teratasi
Intervensi :
- Pantau tanda-tanda vital
- Pantau perdarahan dan tanda infeksi
- Hindari pergerakan yang berlebihan yang menambah ketegangan
- Pantau distensi abdomen
- Monitor bising usus
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan absorbsi dan tidak mau makan
Tujuan : anak akan menunjukan nutrisi yang adekuat yang ditandai dengan
nafsu makan baik dan berat badan sesuai
Intervensi :
- Pertahankan nutrisi parenteral
- Pertahankan nutrisi yang adekuat, vitamin, mineral, suplemen
- Timbang Berat Badan setiap hari
- Monitor intake dan output

5. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan perawatan dirumah
Tujuan : meningkatkan pemahaman orang tua tentang perawatan pada anak
yang sakit
Intervensi :
- Jelaskan tentang pengobatan yang diberikan, dosis, reaksi obat dan tujuannya
- Jelaskan pentingnya stimulasi pada anak, pendengaran, visual, sentuhan
- Jelaskan pentingnya monitor adanya muntah, mual, keram otot, dan diare.

6. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan pruritus
Tujuan : mempertahankan keutuhan kulit
Intervensi :
- Kaji tanda-tanda keutuhan kulit
- Rubah posisi anak setiap 2 jam sesuai kondisi
- Gunakan matras yang lembut


DAFTAR PUSTAKA

Dardjat. 1987. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah Khusus. Jakarta : Salemba
Hassan, Rusepno. 1985. Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Infomedika
Suriadi. Skp Dan Rita Yuliani. 2001. Asuhan Keperawatan Anak. Jakarta
Wong. Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik.Ed 4. Jakarta : EGC
Read On 2 komentar

ASKEP ALDOSTERONISME

14:00
A. Pengertian
Aldosteronisme adalah keadaan klinis yang diakibatkan oleh produksi aldosteron “suatu hormon steroid mineralokortikoid korteks adrenal “ secara berlebih. Efek metabolik aldosteron berkaitan dengan keseimbangan elektrolit dan cairan. Aldosteron meningkatkan reabsorsi natrium tubulus proksimal ginjal dan menyebabkan ekskresi kalium dan ion hidrogen. Konsekuensi klinis kelebihan aldosteron adalah retensi natrium dan air.
 Aldosteronisme Primer yaitu keadaan klinis yang disebabkan oleh produksi aldosteron (hormon steroid mineralokortikoid korteks adrenal ) secara berlebihan sebagai akibat dari adenoma/tumor/hiperplasia pada kortek adrenal.
 Aldosteronisme Sekunder yaitu pengeluaran aldosteron oleh karena rangsangan dari sistem renin angiotensin

B. Etiologi
1. Aldosteronisme Primer
 Adenoma adrenal (sindroma conu)
 Hiperplasia adrenal
 Karsinoma adrenal
2. Aldosteronisme Skunder
 Hipertensi
- Esensiel
- “Accelerated”
 Terapi Diuretik
 Sindroma Nefrotik
 Sirosis
 Gagal Jantung Kongestif
 “Salt – Losing Nephropathy”
 Asidosis Tubular Ginjal
 Sindroma Bartter
 Hipersekresi Renin
 Tumor Ginjal
 Hipokalemi

C. Patofisiologi
Peningkatan aldosteron menyebabkan peningkatan reabsorbsi natrium, jumlah total natrium dalam tubuh dan hiperpolemia. Edema jarang ditemukan karena adanya mekanisme pengalihan, dimana terjadi reabsorbsi natrium pada tubulus proksimal terhalang dengan adanya sitem regulator ginjal.
Hipertensi arteri terjadi karena peningkatan volume cairan, kadar natrium pada arterior dan pembuluh darah serta reaktifitas simfatis penurunan kalium pada intra dan ekstra seluler terjadai karena peningkatan ekresi kalium pada tubulus ginjal. Hipokalemiaberakibat kelemahan otot, patique. Polinuktoria (karena peningkatan konsentrasi urin). Perubahan konduktifitas elektrik pada miokard dan penurunan toleeransi glukosa. Sekresi ion hiidrogen meningkat dengan adanya hiper aldosteronisme sehingga mengakibatkan alkalosis metabolik. Alkalosis berhubungan dengan derajat hipokalemia. Alkalosis ditunjukan dengan tanda chvostek dan trousseav (+), aktivitas renin plasma ditekan. Pemeriksaan lab akan menunjukan derajat penurunan renin setelah pasien berada pada kondisi hiperaldosteronisme. Peningkatan serentak dari sekresi aldosteron juga dapat terlihat pada pasien ini :

D. Tanda dan Gejala
 Hipertensi dengan tekanan diastolik antara 100-130 mmHg
 Hipokalemia
 Alkalosis Metabolik
 Nyeri Kepala, Edema
 Kelemahan Otot Berat
 Polinukturia, Haus
 Tampak bingung dan sering kesemutan

II. Asuhan Keperawatan dengan pasien/klien aldosteronisme
A. Keluhan Utama
Klien dengan aldosteronisme biasanya mengeluh badan terasa lemah, banyak minum, banyak kencing, sering kencing malam, sakit kepala.
B. Riwayat kesehatan
 Riwayat kesehatan sekarang
Tanyakan sejak kapan klien merasakan keluhan seperti yang ada pada keluhan utama dan tindakan yang dilakukan untuk menanggulanginya.

 Riwayat penyakit dahulu
Tanyakan tentang adanya riwayat penyakit atau pemakai obat-obatan bebas yang bisa mempengaruhi.


 Riwayat kesehatan keluarga
Tanyakan apakah ada keluarga yang pernah menderita penyakit yang sama (aldosteronisme)
C. Pengkajian
1. Observasi atau temuan
Neurologis
 Kelemahan otot
 Keletihan
 Parestesi
 Paravisis lengan dan tungkai
 Tanda chvestek (+)
 Tetani dan disfungsi autoimun

Kardiovasculer
 Hipertensi
 Hipotensi postural tanpa reflek tachicardi
 Peningkatan nadi ketika berjongkok
 Cardiomegali
 Penurunan konduksi melalui myocardium

Ginjal
 Poliuri
 Polidipsi
 Azotemia
2. Pemeriksaan diagnostik atau laboratorium
 Peningakata aldosteron plasma
 Aktivitas renin plasma ditekan atau tidak dapt dirangsang
 Gagal untuk menekan aldosteron dengan manuver biasa
 Hipernatremia (normal : 135 – 150 mEg/L)
 Hipokalemia (normal : 3,5 –5 mEg/L)
 Hiperpolemia
 Alkolosis metabolik
 Eksresi urine (24 jam) 18 – glukoronid
 EKG
♦ Segmen ST dan gelombang T tertekan, terlihat gelombang U
♦ Kontraksi ventrikel prematur
 Scan lodokolesterol
 Scan CT kelenjar adrenal untuk menentukan letak adenoma atau untuk membedakan hiperplasia dari adenoma
 Kateterisasi vena adrenal


D. Diagnosa keperawatan
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan hipernatremia sekunder terhadap hiperaldosteronisme.

Intervensi
♦ Timbang pasien tiap hari pada waktu yang sama, timbangan pakaian yang sama, laporkan bila terjadi penambahan berat badan > 0,5 kg / hari.
♦ Ukur intake dan output setiap 8 jam.
♦ Pertahankan diet rendah natrium.
♦ Pantau kadar natrium serum setiap 8 jam.
♦ Pantau tanda dan gejala kelebihan cairan, edema pulmoner (dipsnea, ortopnea, krekels pada lapang paru).
♦ Pantau hasil pemeriksaan sinar X dada.
♦ Pantau tanda vital setiap 4 jam, observasi peningkatan nadi, perkembangan gallop S3 dn pernapasan labored.
♦ Pantau efektivitas dan efek samping diuretic.

Rasional
 Untuk mengetahui adanya penambahan berat badan karena udema
 Mengetahui apakah masukan dan keluaran cairan seimbang
 Menghindari terjadinya hipernatremia
 Mengetahui keseimbangan kadar natrium di dalam tubuh
 Mengetahui apakah ada udema pulmoner
 Mengetahui apakah ada kelainan pada daerah dada
 Memastikan tanda vital stabil
 Mengetahui apakah ada efek tertentu dari diuretik
Evaluasi
Dalam waktu 2 x 24 jam kelebihan volume cairan teratasi dengan kriteria :
 Edema berkurang
 Intake dan output seimbang
 Tanda-tanda vital stabil
 Hasil penyinaran sinar X dada tidak ada kelainan.

2. Perubahan kenyamanan yang berhubungan dengan ekskresi urine berlebih dan polidipsia.

Intervensi
♦ Ukur intake dan output setiap 8 jam
♦ Anjurkan klien untuk miksi dalam 1 jam sekali
♦ Anjurkan klien untuk makan dengan pola seimbang
♦ Berikan susana senyaman mungkin pada klien pada saat miksi


Rasionalisasi
 Mengetahui apakah masukan dan keluaran cairan seimbang
 Memastikan pola nutrisi klien teratur untuk kenyamanan
 Menghindari terjadinya obesitas pada klien
 Memberi rasa nyaman pada klien

Evaluasi
Dalam waktu 2 x 24 jam perubahan kenyamana dapat teratasi dengan kriteria :
 Intake dan output seimbang
 Klien miksi dalam 1 jam sekali
 Klien dapat makan dengan pola seimbang
 Klien merasakan kenyamanan saat miksi

3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi mengenai proses penyakit, pengobatan dan perawatan diri.

Intervensi
♦ Jelaskan konsep dasar proses penyakit
♦ Jelaskan mengenai obat-obatan
♦ Jelaskan perlunya untuk menghindari obat-obatan yang dijual bebas
♦ Berikan pendidikan kesehatan yang berhubungan dengan proses penyakit.

Rasional
 Agar klien mengetahui proses dan penyebab terjadinya penyakit
 Agar klien mengetahui jenis obat yang boleh di konsumsi dan tidak untuk penyakitnya
 agar klien tidak menemukan masalah yang berhubungan dengan pemberian obat yang salah
 klien dapat memahami pentingnya penkes bagi kesembuhannya

Evaluasi
 Klien dapat mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit
 Klien mengetahui jenis obat-obatan yang baik untuk penyakit yang diderita

4. Resiko terhadap perubahan perfusi jaringan, kardiovaskuler berhubungan dengan disritmia karena hipokalemia.

Intervensi
♦ Pertahankan diet tinggi kalium
♦ Berikan kalium dan suplemen sesuai pesanan
♦ Pantau kadar kalium serum setiap 8 jam
♦ Pantau terhadap tanda dan gejala hipokalemia
♦ Antisipasi kebutuhan untuk memberikan bantuan saat melakukan aktivitas
♦ Bantu saat melakukan latihan rentang gerak setiap 8 jam sekali bila pasien menjalani tirah baring

Rasional
 Agar kadar kalium dalam tubuh normal
 Untuk menambah masuk kalium yang tidak di dapatkan
 Mengetahui kadar kalium normal
 Mengetahui adanya gejala hipokalemia
 Agar klien tidak mengalami kerusakan jaringan tubuh karenatirah baring yang lama.

Evaluasi
 Kadar kalium dalam tubuh normal
 Tidak ada tanda dan gejala hipokalemia
 Terpenuhinya diet tinggi kalium

5. Resiko terhadap cedera berhubungan dengan kelemahan otot, parestesi, disfungsi autonomik dan tetani.



Intervensi
♦ Kaji fungsi neuromuskular setiap 4 – 8 jam, laporkan perubahan yang menandakan potensial terjadinya tetani, peningkatan kelamahan / parastesi
♦ Bantu dan berikan dorongan untuk melakukan ambulasi bila pasien mampu
♦ Berikan bantuan untuk memberikan ambulasi
♦ Pertahankan tempat tidur dalam posisi rendah dan pagar tempat tidur tetap terpasang
♦ Singkirkan benda-benda dan objek lain yang secara potensial membahayakan diri lingkungan pasien

Rasional
 Agar mengetahui lebih awal terhadap terjadinya kelemahan otot
 Agar klien tidaak merasa lelah daaan bosan dalam posisi yang sama pada proses penyembuhan
 Untik menghindari terjadinya cedera atau trauma yang akan terjadi saat klien menjalani proses penyembuhan
 Menjaga agar terjadi hal-hal yang membahayakan bagi klien

Evaluasi
 Tidak terjadi cedera yang berhubungan dengan kelemahan otot
 Mobilitas terpenuhi
 Tidak terjadi intoleren aktivitas

6. Resiko terhadap katidak efektifan penata laksanaan program terapeutik berhubungn dengan ketidakcukupan pengetahuan tentang kondisi tindakan bedah dan efek terapi.

Intervensi
♦ Tekankan pentingnya latihan secara teratur dibarengi dengan waktu istirahat
♦ Ajarkan nama-nama obat-obatan, dosis, waktu dan cara pemberian
♦ Berikan informasi diet terapeutik rendah natrium, tinggi kalium.

Rasional
 Agar tidak terjadi kelemahan otot yang berakibat terbatas ruang geraknya
 Agar klien dapat memahami dosis, waktu dan cara pemberian obat.
Evaluasi
 Klien mengetahui pentingnya latihan secara teratur
 Klien mengetahui tentang diet terapeutik
 Klien dapat memahami dan mengerti jenis obat-obatan, dosis, waktu dan cara pemberian.

DAFTAR PUSTAKA

C.Long, Barbara . 1996 . Perawatan Medikal Bedah . Bandung : I APK
Pajajaran Bandung.
Carpenito, Lynda Juall . 2001 . Diagnosa Keperawatan Edisi 8 . Jakarta : EGC
C. Pearce, Evelyn . 2002 . Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis .
Jakarta : Gramedia.
Effendi, Dr. Harjim . 1981 . Fisiologi Sistem Hormonal dan Reproduksi dengan Patofisiologinya . Bandung : Alumni.
S Teverson, John c . dan Pripal Chahal . 1993 . Segi Praktis Endokrinologi . Jakarta : Bina Rupa Aksara.
Price, Sylvia A . dan Lorrane M. Wilson . 1995 . Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit . Jakarta : EGC.
Read On 0 komentar
[Make Your Own] by Khaidir Muhaj | [Close]

Selamat Datang !!

selamat berkunjung di blog saya yang sederhana ini, semoga yang teman cari ada disini, silahkan copy paste artikel dalam blog ini, dgn menyertakan atau tdk menyertakan sumbernya, dan jangan lupa sebagai tanda persahabatan & terimakasih isilah buku tamu.

My Family

My Family
Alumni SPK Kesdam VI/TPR Banjarmasin. Alumnus Politeknik kesehatan Banjarmasin program khusus PKM Rantau. Seorang PNS PemKab. Tapin, Unit Kerja Puskesmas Lokpaikat - Rantau - Kalsel .

Yang Sedang Berkunjung

Anda Pengunjung Yang Ke

TERIMA KASIH

Telah berkunjung, mohon maaf jika terdapat kekurangan dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dan tidak dapat memenuhi permintaan & pertanyaan teman teman, karena saya juga dalam proses pembelajaran dan terus akan belajar. dan seandainya artikel ini bermanfaat itu semata-mata hanya karena Allah SWT guna tercapainya keperawatan yang profesional. serta jangan lupa isi buku tamu, semoga sukses!

Pengikut